بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 42
“Kebebasan”
Manusia Tidak Dapat Terhindar dari Hukum “Sebab-Akibat”
yang Ditetapkan Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai keberadaan
“Tiang Penunjang” alam
semesta yang gaib (tidak nampak) dalam firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ الٓـمّٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ ؕ وَ
الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ الۡحَقُّ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ اَللّٰہُ الَّذِیۡ
رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا ثُمَّ اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ
یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. الٓـمّٓرٰ -- Aku
Allah Yang Maha Mengetahui Maha
Melihat. تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ -- Inilah
ayat-ayat kitab yang sempurna,
وَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ
الۡحَقُّ -- dan
Al-Quran yang telah diturunkan kepada
engkau dari Rabb (Tuhan) engkau
adalah haq (kebenaran) وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. اَللّٰہُ الَّذِیۡ
رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا -- Allah,
Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh
langit tanpa suatu tiang pun yang
kamu melihatnya, ثُمَّ اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ -- kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. وَ سَخَّرَ
الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی -- Dan Dia telah menundukkan bagi kamu
matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut arah
perjalanannya hingga suatu masa yang telah ditetapkan. یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ
تُوۡقِنُوۡنَ -- Dia
mengatur segala urusan dan Dia
menjelaskan Tanda-tanda itu, supaya kamu
berkeyakinan teguh mengenai pertemuan
dengan Rabb (Tuhan) kamu (Ar-Rā’d [13]:1-3).
Makna “Tiang Penunjang” yang Gaib & Ke-Maha Esa-an Allah Swt.
Kata-kata اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ
بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا -- “Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya”, itu berarti:
(1) Kamu melihat bahwa seluruh langit berdiri tanpa tiang-tiang; (2) bahwa seluruh
langit berdiri tidak atas tiang-tiang
yang dapat kamu lihat; artinya,
seluruh langit itu mempunyai pendukung,
tetapi kamu tidak dapat melihatnya.
Secara harfiah ayat itu
berarti bahwa seluruh langit berdiri tanpa ditunjang
oleh tiang-tiang. Secara kiasan ayat itu berarti, bahwa seluruh
langit atau benda-benda langit memang memerlukan penopang, tetapi penopang-penopang
itu tidak nampak kepada mata jasmani manusia, umpamanya daya tarik atau tenaga magnetis atau gerakan-gerakan
khusus planit-planit atau cara-cara
lain, yang ilmu pengetahuan telah menemukannya hingga saat ini atau yang
mungkin akan ditemukan lagi di hari depan.
Kata ‘Arsy (singgasana) dalam ayat ثُمَّ
اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ -- kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy”, telah dipakai dalam Al-Quran untuk menyatakan
proses membawa hukum-hukum ruhani
atau jasmani kepada kesempurnaannya.
Penggunaan ungkapan itu selaras dengan kebiasaan raja-raja dunia, mereka itu menyatakan proklamasi-proklamasi penting “dari singgasana”.
Jadi, kembali kepada ayat وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- “dan
tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” Ayat
terakhir Surah Al-Ikhlash ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat
yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah
Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa
bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud
lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki
oleh-Nya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah:
“Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah, adalah
Tuhan Yang segala sesuatu bergantung
pada-Nya. Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [111]:1-5).
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu
bentuk atau lain pada agama lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak lagi tuhan-tuhan rekaan lainnya dan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
Tantangan Allah Swt. kepada Para Pecinta Kemusyrikan
Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat
Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan
definisi yang diberikan oleh Al-Quran mengenai Tuhan Yang Hakiki yakni Allah
Swt., berikut tantangan Allah
Swt. kepada para pecinta kemusyrikan, firman-Nya:
خَلَقَ
السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا وَ اَلۡقٰی فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ تَمِیۡدَ بِکُمۡ وَ بَثَّ فِیۡہَا مِنۡ
کُلِّ دَآبَّۃٍ ؕ وَ اَنۡزَلۡنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَنۡۢبَتۡنَا فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ
زَوۡجٍ کَرِیۡمٍ ﴿﴾ ہٰذَا خَلۡقُ اللّٰہِ
فَاَرُوۡنِیۡ مَاذَا خَلَقَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ ؕ بَلِ الظّٰلِمُوۡنَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ﴿﴾
Dia telah
menciptakan seluruh langit tanpa tiang
yang kamu melihatnya, dan Dia telah menempatkan di bumi
gunung-gunung, supaya bumi ini tidak bergoncang bersama kamu, dan Dia telah menyebarkan di dalamnya segala macam binatang, dan Kami menurunkan air dari awan lalu Kami menumbuhkan padanya segala tumbuhan
yang baik. ہٰذَا خَلۡقُ اللّٰہِ
فَاَرُوۡنِیۡ مَاذَا خَلَقَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ -- Inilah ciptaan Allah maka perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh yang lain selain
Dia. بَلِ الظّٰلِمُوۡنَ
فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- Tidak,
bahkan sebenarnya orang-orang yang zalim itu dalam kesesatan yang nyata. (Luqman [31]:11-12).
Berikut firman-Nya lagi kepada Nabi
Besar Muhammad saw agar orang-orang musyrik
mengemukakan dalil-dalil yang
mendukung kepercayaan syirik mereka:
قُلۡ
یَجۡمَعُ بَیۡنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ
یَفۡتَحُ بَیۡنَنَا بِالۡحَقِّ ؕ وَ ہُوَ الۡفَتَّاحُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ قُلۡ
اَرُوۡنِیَ الَّذِیۡنَ اَلۡحَقۡتُمۡ بِہٖ شُرَکَآءَ کَلَّا ؕ بَلۡ
ہُوَ اللّٰہُ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Rabb (Tuhan) kita akan menghimpun kita semua kemudian
Dia akan memutuskan perselisihan di antara kita dengan benar, dan Dia Maha Pemberi Keputusan, Maha
Mengetahui.” قُلۡ اَرُوۡنِیَ
الَّذِیۡنَ اَلۡحَقۡتُمۡ بِہٖ
شُرَکَآءَ کَلَّا
-- Katakanlah: ”Perlihatkanlah kepadaku mereka yang kamu hubungkan dengan Dia sebagai sekutu-sekutu-Nya.” بَلۡ ہُوَ اللّٰہُ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Tidak, bahkan
Dia-lah Allah, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Saba [34]:27-28).
Dalam firman-Nya berikut ini mereka ditantang agar memperlihatkan “karya
cipta” dari “tuhan-tuhan”
buatan yang mereka persekutukan
dengan Allah Swt.:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ شُرَکَآءَکُمُ الَّذِیۡنَ
تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ
اَرُوۡنِیۡ مَاذَا خَلَقُوۡا مِنَ الۡاَرۡضِ اَمۡ لَہُمۡ شِرۡکٌ فِی السَّمٰوٰتِ ۚ
اَمۡ اٰتَیۡنٰہُمۡ کِتٰبًا فَہُمۡ عَلٰی بَیِّنَتٍ مِّنۡہُ ۚ بَلۡ اِنۡ یَّعِدُ الظّٰلِمُوۡنَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا
اِلَّا غُرُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ
یُمۡسِکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ اَنۡ
تَزُوۡلَا ۬ۚ وَ لَئِنۡ زَالَتَاۤ اِنۡ
اَمۡسَکَہُمَا مِنۡ اَحَدٍ مِّنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ اِنَّہٗ کَانَ حَلِیۡمًا
غَفُوۡرًا ﴿﴾
Katakanlah: ”Apakah kamu melihat tuhan-tuhan sekutumu yang kamu seru selain Allah? اَرُوۡنِیۡ مَاذَا خَلَقُوۡا مِنَ الۡاَرۡضِ اَمۡ لَہُمۡ شِرۡکٌ فِی
السَّمٰوٰتِ -- Perlihatkanlah kepada-Ku apa yang telah mereka ciptakan dari bumi, ataukah mereka punya persekutuan dalam penciptaan
seluruh langit? اَمۡ اٰتَیۡنٰہُمۡ کِتٰبًا فَہُمۡ
عَلٰی بَیِّنَتٍ مِّنۡہُ -- Ataukah Kami
telah memberikan kepada mereka suatu Kitab, sehingga mereka memiliki bukti darinya?” بَلۡ اِنۡ یَّعِدُ الظّٰلِمُوۡنَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا
اِلَّا غُرُوۡرًا -- Tidaklah
demikian! Bahkan orang-orang zalim
itu tidak menjanjikan satu sama lain
melainkan tipuan belaka. اِنَّ
اللّٰہَ یُمۡسِکُ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضَ اَنۡ تَزُوۡلَا -- Sesungguhnya Allah
menahan seluruh langit dan bumi supaya keduanya
jangan menyimpang, وَ لَئِنۡ زَالَتَاۤ اِنۡ اَمۡسَکَہُمَا مِنۡ اَحَدٍ مِّنۡۢ بَعۡدِہ -- dan jika keduanya benar-benar menyimpang juga maka tidak ada seorang pun dapat menahan keduanya selain Dia. اِنَّہٗ
کَانَ حَلِیۡمًا غَفُوۡرًا -- Sesungguhnya Dia Maha Penyantun, Maha
Pengampun. (Al-Fāthir [35]:41-42).
Hanya Allah Swt. yang Wajib Disembah
dan Diminta Pertolongan-Nya
Kedua sistem yang berlaku di langit
dan di bumi terus bekerja dengan keserasian sempurna tanpa sedikit pun menyimpang dari jalan tempuhan mereka yang telah ditetapkan. Keserasian ini memperlihatkan adanya
Wujud Maha Bijaksana dan Maha Kuasa
di belakangnya. Wujud Yang Maha Agung
dan Maha Bijaksana itulah -- yakni Allah
Swt. – Wujud Yang berhak
dan menuntut penyembahan dan pemujaan
dari semua umat manusia, itulah makna
firman-Nya: اِنَّ اللّٰہَ یُمۡسِکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ اَنۡ تَزُوۡلَا -- “Sesungguhnya Allah menahan seluruh langit dan bumi supaya
keduanya jangan menyimpang, وَ لَئِنۡ زَالَتَاۤ اِنۡ اَمۡسَکَہُمَا مِنۡ اَحَدٍ مِّنۡۢ بَعۡدِہ -- dan jika keduanya benar-benar menyimpang juga maka tidak ada seorang pun dapat menahan keduanya selain Dia. اِنَّہٗ
کَانَ حَلِیۡمًا غَفُوۡرًا -- Sesungguhnya Dia Maha Penyantun, Maha
Pengampun” (Al-Fāthir [35]:42).
Berikut firman-Nya mengenai proses dan jangka waktu (periode) tahap-tahap penciptaan seluruh tatanan alam semesta sebagai dalil
lainnya mengenai keberadaan dan kekuasaan Allah
Swt. sebagai satu-satunya Tuhan Maha Pencipta tatanan alam
semesta:
قُلۡ اَئِنَّکُمۡ لَتَکۡفُرُوۡنَ بِالَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ
فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ تَجۡعَلُوۡنَ لَہٗۤ
اَنۡدَادًا ؕ ذٰلِکَ رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۚ﴿﴾ وَ جَعَلَ
فِیۡہَا رَوَاسِیَ مِنۡ فَوۡقِہَا وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ
فِیۡہَاۤ اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ اَرۡبَعَۃِ
اَیَّامٍ ؕ سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾ فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ
سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا ؕ وَ زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ وَ حِفۡظًا ؕ
ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ ﴿﴾ فَاِنۡ
اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ
اَنۡذَرۡتُکُمۡ صٰعِقَۃً مِّثۡلَ
صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ ثَمُوۡدَ﴿ؕ﴾
Katakanlah:
”Apakah kamu benar-benar kafir
kepada Dzat Yang menciptakan bumi dalam dua hari? Dan kamu
menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu?” Itulah Rabb (Tuhan) seluruh alam.
Dan Dia menjadikan
padanya gunung-gunung di
atasnya, dan memberkatinya, dan
Dia menentukan padanya kadar
makanan-makanannya dalam empat hari, سَوَآءً لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- sama
rata bagi orang-orang yang bertanya.
ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ -- Kemudian Dia mengarahkan
perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ
ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا -- lalu Dia berfirman
kepadanya dan kepada bumi: ”Datanglah
kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa.” قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ -- Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.” Maka Dia menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, وَ اَوۡحٰی فِیۡ
کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا -- dan Dia
mewahyukan kepada tiap-tiap langit tugasnya. وَ زَیَّنَّا
السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ -- Dan
Kami menghiasi langit bawah dengan lampu-lampu serta memeliharanya. ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ الۡعَزِیۡزِ
الۡعَلِیۡمِ -- Demikian itu adalah takdir dari Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. (Al-Fushshilat
[41] :10-13).
“Kebebasan” Manusia Bukan Tanpa Akibat
Memang benar bahwa sekali pun Allah Swt. telah menganugerahi
manusia dengan berbagai kemampuan sempurna -- baik secara jasmani mau pun ruhani (QS.95:5) -- serta telah menetapkan tujuan utama diciptakan-Nya mereka yaitu untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57), tetapi Allah Swt. memberi kebebasan kepada mereka untuk mentaati Allah Swt. atau pun untuk melakukan pembangkangan terhadap-Nya (QS.18:30), namun demikian mereka
tidak akan dapat melepaskan diri dari
akibat-akibat dari perbuatan
buruk yang dilakukannya (QS.17:14;
QS.45:29; QS.83:7-10),
sebagaimana firman Allah Swt.
selanjutnya mengenai kaum-kaum purbakala
yang diazab Allah Swt. dengan perantaraan kekuatan-kekuatan alam (QS.29:15-45) akibat kedurhakaan yang mereka lakukan terhadap Allah Swt. dan para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka:
فَاِنۡ اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ اَنۡذَرۡتُکُمۡ صٰعِقَۃً
مِّثۡلَ صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ
ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ اِذۡ
جَآءَتۡہُمُ الرُّسُلُ مِنۡۢ بَیۡنِ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ اَلَّا
تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰہَ ؕ قَالُوۡا
لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَاَنۡزَلَ
مَلٰٓئِکَۃً فَاِنَّا بِمَاۤ اُرۡسِلۡتُمۡ
بِہٖ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ فَاَمَّا عَادٌ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ
الۡحَقِّ وَ قَالُوۡا مَنۡ اَشَدُّ مِنَّا
قُوَّۃً ؕ اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اَنَّ اللّٰہَ
الَّذِیۡ خَلَقَہُمۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُمۡ قُوَّۃً ؕ وَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا
یَجۡحَدُوۡنَ ﴿﴾ فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا صَرۡصَرًا فِیۡۤ اَیَّامٍ نَّحِسَاتٍ
لِّنُذِیۡقَہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَخۡزٰی
وَ ہُمۡ لَا یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا ثَمُوۡدُ فَہَدَیۡنٰہُمۡ فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰی عَلَی الۡہُدٰی
فَاَخَذَتۡہُمۡ صٰعِقَۃُ الۡعَذَابِ الۡہُوۡنِ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ نَجَّیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا
یَتَّقُوۡنَ ﴿٪﴾
Lalu jika
mereka itu berpaling, maka
katakanlah: ”Aku memperingatkan kamu dengan petir yang membinasakan seperti petir yang menimpa kaum 'Ād dan Tsamud.” Ketika datang
kepada mereka rasul-rasul dari depan mereka dan dari belakang mereka seraya berkata: اَلَّا
تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰہَ -- ”Janganlah
kamu menyembah selain Allah.” قَالُوۡا لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَاَنۡزَلَ مَلٰٓئِکَۃً فَاِنَّا بِمَاۤ اُرۡسِلۡتُمۡ
بِہٖ کٰفِرُوۡنَ -- Mereka
berkata: ”Seandainya Rabb (Tuhan)
kami menghendaki niscaya Dia
menurunkan malaikat-malaikat,
maka sesungguhnya kami mengingkari
apa yang dengannya kamu diutus.” فَاَمَّا
عَادٌ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ
بِغَیۡرِ الۡحَقِّ وَ قَالُوۡا مَنۡ
اَشَدُّ مِنَّا قُوَّۃً ؕ -- Adapun
mengenai kaum 'Ād maka mereka berlaku sombong di bumi tanpa
kebenaran وَ قَالُوۡا مَنۡ اَشَدُّ مِنَّا قُوَّۃً -- dan mereka berkata: ”Siapakah
lebih hebat dari kami dalam kekuatan?” اَوَ
لَمۡ یَرَوۡا اَنَّ اللّٰہَ
الَّذِیۡ خَلَقَہُمۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُمۡ قُوَّۃً -- Apakah
mereka tidak melihat bahwa Allah Yang menciptakan mereka Dia lebih
hebat dari-pada mereka dalam kekuatan? وَ کَانُوۡا
بِاٰیٰتِنَا یَجۡحَدُوۡنَ -- Tetapi mereka menolak Tanda-tanda Kami. فَاَرۡسَلۡنَا
عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا صَرۡصَرًا فِیۡۤ
اَیَّامٍ نَّحِسَاتٍ -- Maka
Kami mengirimkan kepada mereka angin
sangat kencang dalam beberapa hari
yang naas itu, لِّنُذِیۡقَہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ
فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- supaya Kami membuat mereka merasakan azab kehinaan
dalam kehidupan di dunia, وَ لَعَذَابُ
الۡاٰخِرَۃِ اَخۡزٰی وَ ہُمۡ
لَا یُنۡصَرُوۡنَ -- dan niscaya azab alam akhirat itu lebih hina dan mereka tidak akan ditolong. وَ اَمَّا ثَمُوۡدُ فَہَدَیۡنٰہُمۡ
فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰی عَلَی الۡہُدٰی -- Dan
adapun mengenai kaum Tsamud maka Kami telah memberi mereka petunjuk, tetapi mereka
lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk,
فَاَخَذَتۡہُمۡ صٰعِقَۃُ الۡعَذَابِ الۡہُوۡنِ بِمَا
کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- lalu azab
yang menghinakan menimpa mereka disebabkan apa yang selalu mereka usahakan. وَ
نَجَّیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman serta bertakwa. (Al-Fushshilat
[41]:14-19).
Pendek
kata, Allah Swt. pasti akan meminta pertanggungjawaban kepada semua pihak yang melakukan pendustaan dan penentangan kepada para Rasul Allah, baik mereka itu sebagai
para pemuka kaum atau jin
mau pun para pengikutnya yakni ins,
firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ۚ یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ ۚ وَ قَالَ اَوۡلِیٰٓؤُہُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ رَبَّنَا
اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ وَّ بَلَغۡنَاۤ اَجَلَنَا
الَّذِیۡۤ اَجَّلۡتَ لَنَا ؕ قَالَ النَّارُ
مَثۡوٰىکُمۡ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ
حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُوَلِّیۡ بَعۡضَ
الظّٰلِمِیۡنَ بَعۡضًۢا
بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan
ingatlah hari ketika Dia akan menghimpun mereka semua, Dia
berfirman: یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ قَدِ
اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ -- “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah menarik banyak dari kalangan ins (manusia)”, dan teman-temannya
dari kalangan ins (manusia) berkata: رَبَّنَا اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ
وَّ بَلَغۡنَاۤ اَجَلَنَا الَّذِیۡۤ اَجَّلۡتَ لَنَا -- “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sebagian kami telah mengambil
keuntungan dari sebagian yang
lainnya, dan kami telah sampai kepada jangka
waktu kami yang telah Engkau tetapkan bagi kami.” قَالَ النَّارُ مَثۡوٰىکُمۡ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰ -- Dia
berfirman: Api itulah tempat tinggal kamu semua, ka-mu kekal di dalamnya, kecuali apa yang Allah kehendaki”. اِنَّ رَبَّکَ حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya Rabb
(Tuhan) engkau Maha Bijaksana, Maha Pengampun. وَ کَذٰلِکَ نُوَلِّیۡ بَعۡضَ الظّٰلِمِیۡنَ بَعۡضًۢا بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- Dan demikianlah Kami menjadikan sebagian orang-orang yang zalim sebagai teman sebagian yang lain disebabkan apa yang senantiasa mereka usahakan. (Al-An’ām
[6]:129-130).
Kata ma’syar dalam ayat یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ -- “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah menarik banyak dari kalangan ins (manusia)”, berarti segolongan
orang yang mempunyai urusan dan kepentingan yang sama (Lexicon
Lane). Dalam ayat ini sebutan jin
jelas menunjukkan orang-orang besar dan
orang-orang kuat atau para pemuka kaum sebagai lawan kata ins,
yakni golongan orang-orang lemah dan miskin (rakyat jelata).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 28 Januari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar