بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 21
Alasan Para Pemuka Kaum Mempertahankan “Kemusyrikan” Mereka &
Perumpamaan “Pohon yang Buruk”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai misal
(perumpamaan) sembahan orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan seperti itu,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan
maka dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk
itu. Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka,
mereka tidak akan dapat merebutnya
kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ
وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat
lemah yang meminta dan yang diminta.
مَا
قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.
(Al-Hājj
[22]:74-75).
Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat
mereka sendiri ke tingkat yang begitu
rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung.
Dalil-dalil
Akurat Nabi Ibrahim a.s. Dibalas dengan
”Kobaran Api”
Mengenai hal tersebut dalil-dalil yang dikemukakan Nabi
Ibrahim a.s. mengenai kejahilan
penyembahan berhala yang dilakukan ayah mertua beliau dan kaumnya benar-benar membuat mereka tidak dapat menjawab, kecuali melemparkan Nabi Ibrahim a.s. ke dalam kobaran api (QS.2:259; QS.6:75-84;
QS.19:42-51; QS.21:52-71; QS.26:70-90),
namun Allah Swt. telahg menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari makar buruk mereka, firman-Nya:
قَالُوۡا
حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ
اِنۡ کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی
اِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۙ﴾ وَ اَرَادُوۡا بِہٖ
کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ ﴿ۚ﴾
Mereka
berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.”
قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ -- Kami
berfirman: “Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan atas Ibrahim!”
وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا
فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ -- Dan
mereka bermaksud akan melakukan
tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang
paling rugi. (An-Anbiyā [21]:69-71).
Bagaimana caranya api itu menjadi dingin
kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan
yang turun tepat pada waktu itu atau angin
badai telah memadamkan api itu.
Bagaimana pun Allah Swt. memang
menimbulkan keadaan yang membawa
kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s.
dari bahaya. Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya
terdapat unsur gaib, dan cara Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar.
Dalam salah satu Bab sebelumnya
telah dijelaskan mengenai makna mukjizat
para rasul Allah bahwa banyak di antaranya yang berhubungan erat
dengan peristiwa alam yang bersifat khusus, sebagaimana azab Ilahi yang membinasakan kaum-kaum purbakala, sebagai salah satu
perwujudan dari “sujudnya” para malaikat
kepada Adam (Khalifah Allah) yakni Rasul
Allah (QS.2:35; QS. 15:30-31; QS.17:62; QS.18:51; QS.10:117; QS.38:73-75).
Bahwa
Nabi Ibrahim a.s. telah dilemparkan
ke dalam api diakui bukan saja
orang-orang Yahudi, tetapi oleh orang-orang Kristen juga dari Timur, buktinya
ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari dikhususkan dalam
penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa tersebut (Hyde, De Rel. Vet Pers.
p. 73). Lihat pula Mdr. Rabbah on Gen.
Per. 17; Schalacheleth Hakabala,
2; Maimon de Idol, Ch. I; dan
Jad Hachazakah Vet, 6).
Tidak Memiliki Makrifat Ilahi yang Benar & Alasan Mempertahankan “Kemusyrikan”
Berikut
perkataan Nabi Ibrahim a.s. kepada kaumnya mengenai alasan bertahannya mereka pada kemusyrikan
mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ اِنَّمَا اتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
اَوۡثَانًا ۙ مَّوَدَّۃَ بَیۡنِکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ ثُمَّ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ یَکۡفُرُ بَعۡضُکُمۡ بِبَعۡضٍ وَّ یَلۡعَنُ بَعۡضُکُمۡ بَعۡضًا ۫ وَّ
مَاۡوٰىکُمُ النَّارُ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ
نّٰصِرِیۡنَ ﴿٭ۙ﴾
Dan ia, Ibrahim,
berkata: اِنَّمَا
اتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡثَانًا ۙ -- “Sesungguhnya kamu telah mengambil berhala-berhala selain Allah sebagai sembahan مَّوَدَّۃَ
بَیۡنِکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- atas kecintaan di antara kamu dalam kehidupan dunia. Kemudian pada Hari Kiamat sebagian dari kamu akan menolak sebagian yang lain, dan sebagian kamu melaknati sebagian yang lain,
dan tempat tinggal jamu adalah Api,
dan tidak akan ada bagi kamu seorang
penolong.” (Al-Ankabūt [29]:26).
Ungkapan mawaddata
bainikum, dapat diartikan: (1) Hubungan kemasyarakatan atau keinginan
untuk memperoleh cinta setiap orang lain adalah landasan cita-cita
dan perbuatan-perbuatan musyrikmu. (2)
Kamu telah membuat kepercayaan-kepercayaan
dan perbuatan-perbuatan musyrikmu
menjadi dasar kecintaan kamu antara
satu sama lain; yakni kamu telah membuat
ciri kepercayaan-kepercayaan musyrikmu
menjadi sarana untuk memelihara keutuhan masyarakatmu.
Pada hakikatnya, semua kepercayaan (kemusyrikan) yang mengakui
adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan
dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia,
itulah makna ayat: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.”
(Al-Hājj
[22]:75).
Kesesatan tersebut terjadi karena mereka menganut ajaran (agama) yang tidak mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. seperti Al-Quran (QS.15:10), yang diumpamakan
seperti keadaan “pohon yang buruk”, firman-Nya:
وَ مَثَلُ
کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ
فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا لَہَا مِنۡ قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ اللّٰہُ
مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk adalah seperti pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia sekali-kali tidak
memiliki kemantapan. یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Allah
meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ اللّٰہُ
مَا یَشَآءُ -- dan
Allah menyesatkan orang-orang zalim,
dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
(Ibrahim [14]:27-28).
Pembukaan Rahasia “Khazanah
Ruhani” Baru Al-Quran
Jadi, berbeda dari pohon yang baik, kitab yang diciptakan (dibuat) oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam.
Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas
serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
Kitab seperti itu merupakan ajaran
yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan. Kitab semacam itu
tidak bisa melahirkan orang-orang yang
dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt.. Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi
dan selamanya terancam keruntuhan dan
kemunduran.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, Allah Swt. bukan saja telah memberikan
jaminan pemeliharaan abadi
terhadap Al-Quran (QS.15:;10), tetapi juga sesuai kebutuhan
umat manusia di setiap zaman yang
berbeda maka Allah Swt. akan membukakan rahasia-rahasia baru dari khazanah ruhani Al-Quran yang tak
terbatas (QS.31:28), firman-Nya:
قُلۡ لَّوۡ
کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ
الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ
لَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah:
"'Seandainya lautan menjadi tinta
untuk menuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku), niscaya lautan
itu akan habis sebelum kalimat-kalimat
Tuhan-ku habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya." (Al-Kahf
[18]:110).
Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan
diri atas penemuan-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan duniawi, dan nampaknya
mereka dikuasai anggapan keliru bahwa mereka telah berhasil mengetahui
seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq
(penciptaan) itu sendiri. Hal itu hanya pembualan
yang sia-sia belaka.
Rahasia-rahasia
Allah
Swt. tidak ada habisnya dan tidak
dapat diselami sehingga apa yang
telah mereka temukan sampai sekarang, dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah
payah, jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia
Allah Swt. belumlah merupakan setitik pun
air dalam samudera.
Setelah
menjelaskan ketidakterbatasan khazanah
yang terkandung dalam tatanan alam
semesta jasmani dan Al-Quran, selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ
عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا﴿﴾
Katakanlah:
”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti
kamu, tetapi telah diwahyukan
kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu
adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka barangsiapa mengharap akan bertemu
dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) hendaklah
ia beramal saleh dan ia jangan
mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)." (Al-Kahf
[18]:111).
Fitnah
Dajjal (Ya’juj & Ma’juj) yang Sangat
Berbahaya
Diriwayatkan
Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda,
bahwa pembacaan sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf
ini menjamin keselamatan seseorang
terhadap serangan-serangan ruhani
dari Dajjal -- yang disebut fitnah Dajjal.
Hal itu
menunjukkan bahwa Dajjal dan Ya’juj-M’ajuj adalah bangsa itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat yang bermata
biru (QS.20:103-105). kata Dajjal menggambarkan
propaganda keagamanan mereka yang
membawa kemudaratan kepada Islam, sedangkan Ya’juj-Ma’juj menggambarkan kekuatan
dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ
لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا
اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ
عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ
کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ
نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ
یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ
اَحۡسَنُ
عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا
عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾ اَمۡ حَسِبۡتَ
اَنَّ اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا عَجَبًا ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah Yang Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Segala
puji bagi Allah Yang telah
menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan, قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ -- sebagai penjaga
untuk memberi peringatan mengenai siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا -- dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman
yang beramal saleh bahwa
sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran
yang baik, مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا -- mereka menetap di
dalamnya selama-lamanya. وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا -- dan supaya memperingatkan orang-orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki.” مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ -- mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا -- mereka tidak
mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ
نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا -- maka
sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- sesungguhnya
Kami telah menjadikan apa yang ada di
bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا -- dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang
ada di atasnya menjadi tanah-rata
yang tandus. اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا
مِنۡ اٰیٰتِنَا عَجَبًا -- atau engkau
menyangka bahwa penghuni gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tan-da-tanda Kami yang menakjubkan?
(Al-Kahf [18]:1-10).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 3 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar