Sabtu, 03 Januari 2015

Aalasan Para Pemuka Kaum Musyrik Mempertahankan "Kemusyrikan" Mereka & Perumpamaan "Pohon yang Buruk"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 21

 Alasan Para Pemuka Kaum Mempertahankan “Kemusyrikan” Mereka    & Perumpamaan “Pohon yang Buruk


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai misal (perumpamaan) sembahan orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan seperti  itu, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu.   ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --  sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).
       Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat  Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung.

Dalil-dalil Akurat Nabi Ibrahim a.s. Dibalas dengan ”Kobaran Api

      Mengenai hal tersebut dalil-dalil yang dikemukakan Nabi Ibrahim a.s. mengenai kejahilan penyembahan berhala yang dilakukan ayah mertua beliau dan kaumnya benar-benar  membuat mereka  tidak dapat menjawab, kecuali  melemparkan Nabi Ibrahim a.s. ke dalam kobaran api (QS.2:259; QS.6:75-84; QS.19:42-51; QS.21:52-71;  QS.26:70-90), namun  Allah Swt. telahg menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s. dari makar buruk mereka, firman-Nya:
قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۙ﴾  وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ ﴿ۚ﴾
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu.  قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ  --   Kami berfirman: “Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan  atas Ibrahim!”    وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ --  Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi. (An-Anbiyā [21]:69-71).
       Bagaimana caranya api itu menjadi dingin kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt.  memang menimbulkan keadaan yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s. dari bahaya. Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar.
       Dalam salah satu Bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna mukjizat para rasul Allah bahwa   banyak di antaranya yang berhubungan erat dengan peristiwa alam yang bersifat khusus, sebagaimana azab Ilahi yang membinasakan kaum-kaum purbakala, sebagai salah satu perwujudan dari “sujudnya  para malaikat kepada Adam (Khalifah Allah) yakni Rasul Allah (QS.2:35; QS. 15:30-31; QS.17:62; QS.18:51; QS.10:117; QS.38:73-75).
     Bahwa Nabi Ibrahim a.s. telah dilemparkan ke dalam api diakui bukan saja orang-orang Yahudi, tetapi oleh orang-orang Kristen juga dari Timur, buktinya ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari dikhususkan dalam penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa tersebut (Hyde, De Rel. Vet Pers. p. 73). Lihat pula Mdr. Rabbah on Gen. Per. 17; Schalacheleth Hakabala, 2; Maimon de Idol, Ch. I; dan Jad Hachazakah Vet, 6).

Tidak Memiliki Makrifat Ilahi yang Benar &  Alasan Mempertahankan “Kemusyrikan 

     Berikut  perkataan Nabi Ibrahim a.s. kepada kaumnya mengenai alasan bertahannya mereka pada kemusyrikan mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ  اِنَّمَا اتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡثَانًا ۙ مَّوَدَّۃَ بَیۡنِکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ ثُمَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یَکۡفُرُ بَعۡضُکُمۡ بِبَعۡضٍ وَّ یَلۡعَنُ بَعۡضُکُمۡ بَعۡضًا ۫ وَّ مَاۡوٰىکُمُ النَّارُ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ  نّٰصِرِیۡنَ ﴿٭ۙ﴾  
Dan ia, Ibrahim, berkata:  اِنَّمَا اتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡثَانًا ۙ    -- “Sesungguhnya kamu telah mengambil berhala-berhala selain Allah  sebagai sembahan مَّوَدَّۃَ بَیۡنِکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- atas kecintaan di antara kamu  dalam kehidupan dunia. Kemudian pada Hari Kiamat sebagian dari kamu akan menolak  sebagian yang lain, dan sebagian kamu melaknati sebagian yang lain, dan tempat tinggal jamu adalah Api, dan tidak akan ada bagi kamu seorang penolong.” (Al-Ankabūt [29]:26).
      Ungkapan mawaddata bainikum, dapat diartikan: (1) Hubungan kemasyarakatan atau keinginan untuk memperoleh cinta setiap orang lain adalah landasan cita-cita dan perbuatan-perbuatan musyrikmu. (2) Kamu telah membuat kepercayaan-kepercayaan dan perbuatan-perbuatan musyrikmu menjadi dasar kecintaan kamu antara satu sama lain; yakni  kamu telah membuat ciri kepercayaan-kepercayaan musyrikmu menjadi sarana untuk memelihara keutuhan masyarakatmu.
     Pada hakikatnya, semua kepercayaan (kemusyrikan) yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia, itulah makna ayat: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --  sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” (Al-Hājj [22]:75).
   Kesesatan tersebut terjadi karena mereka menganut ajaran (agama) yang tidak mendapat jaminan pemeliharaan  Allah Swt. seperti Al-Quran (QS.15:10), yang diumpamakan seperti  keadaan “pohon yang buruk”, firman-Nya: 
وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk  adalah seperti  pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia sekali-kali tidak   memiliki kemantapan.    یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   -- Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,  وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ  -- dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim  [14]:27-28).

Pembukaan Rahasia “Khazanah Ruhani” Baru Al-Quran     

        Jadi, berbeda dari pohon yang baik, kitab yang diciptakan (dibuat) oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam. Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
       Kitab seperti itu  merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan.  Kitab semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt..  Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran.
       Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya,  Allah Swt. bukan saja telah memberikan jaminan pemeliharaan abadi  terhadap Al-Quran (QS.15:;10), tetapi juga  sesuai kebutuhan umat manusia di setiap zaman yang berbeda maka  Allah Swt. akan membukakan rahasia-rahasia baru dari khazanah ruhani Al-Quran yang tak terbatas (QS.31:28), firman-Nya:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ  قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ لَوۡ  جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ  مَدَدًا ﴿﴾
Katakanlah: "'Seandainya lautan menjadi tinta untuk me­nuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku), niscaya  lautan itu akan habis se­belum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya."  (Al-Kahf [18]:110).
   Bangsa-bangsa Kristen dari barat membanggakan diri atas penemuan­-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan duniawi, dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru  bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq (penciptaan) itu sendiri. Hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka.
  Rahasia-rahasia  Allah Swt. tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang, dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah, jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah Swt. belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera.
   Setelah menjelaskan ketidakterbatasan khazanah yang terkandung dalam tatanan alam semesta jasmani dan Al-Quran, selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنَّمَاۤ  اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا﴿﴾
Katakanlah:  ”Sesungguh­nya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa  Rabb (Tuhan) kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa,   maka barangsiapa mengharap akan bertemu  dengan  Rabb-nya (Tuhan-nya) hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan  memper­sekutukan siapa pun dalam ber­ibadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)."  (Al-Kahf [18]:111).  

Fitnah Dajjal (Ya’juj & Ma’juj) yang Sangat Berbahaya

   Diriwayatkan Nabi Besar Muhammad saw.  telah bersabda,  bahwa pembacaan sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf ini menjamin keselamatan seseorang terhadap serangan-serangan ruhani dari Dajjal   -- yang disebut fitnah Dajjal.
 Hal itu menunjukkan bahwa Dajjal dan Ya’juj-M’ajuj adalah bangsa itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat yang  bermata biru (QS.20:103-105). kata Dajjal menggambarkan propaganda keagamanan mereka yang membawa kemudaratan kepada Islam, sedangkan Ya’juj-Ma’juj menggambarkan kekuatan dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾ اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan, قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ -- sebagai penjaga   untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya,  وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا -- dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik, مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا --  mereka menetap di dalamnya selama-lamanya.  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا --  dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata:    "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.” مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ --   mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.  کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ  --   sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا  --   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا   --  maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا     -- sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا    --    dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus. اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا --  atau engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tan-da-tanda Kami yang menakjubkan? (Al-Kahf [18]:1-10). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  3 Januari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar