بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 36
Makna ”Kecaman
Keras” Allah Swt. Terhadap Para “Penyembah” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan
Ibunya (Maryam) & Nubuatan Lenyapnya Fitnah Dajjal - Pendusta Besar
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai hadits Nabi
Besar Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir
Zaman inilah saat yang dimaksudkan dalam Al-Quran dan hadits Nabi
Besar Muhammad saw. itu.
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad
saw. menubuatkan juga mengenai akan
adanya persamaan
antara umat Islam sepeninggal beliau
saw. – terutama di masa kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6) -- dengan
golongan Ahli Kitab (Yahudi dan
Nashrani) bagaikan persamaan sepasang
sepatu:
Abdullah ibnu Umar r.a.
berkata: "Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Pasti akan datang pada umatku sebagaimana yang telah terjadi
pada umat Bani Israil, seperti sepasang sepatu, hingga kalau umat Bani Israel berzina dengan
ibunya secara terang-terangan maka umatku
juga akan berbuat demikian. Ketahuilah bahwa umat Bani Israel akan pecah belah hingga 72 firqah dan umatku akan berpecah belah hingga 73 firqah. Kesemuanya akan menjadi bahan
api neraka terkecuali satu golongan”.
Sahabat-sahabat bertanya: “Golongan
yang manakah itu wahai Rasulullah?' Beliau menjawab dengan bersabda: “Yang mengamalkan apa yang aku dan
sahabat-sahabatku amalkan".........(Tirmidzi, Kitabul Iman).
Kedua Al-Masih Mendapat Perlakuan Zalim
dari Kaumnya
Pengutusan Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- misinya sama dengan misi kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan Bani Israil yang sudah menyimpang jauh dari ajaran Taurat, firman-Nya:
وَ لَمَّا
جَآءَ عِیۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ قَالَ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِالۡحِکۡمَۃِ وَ لِاُبَیِّنَ لَکُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ تَخۡتَلِفُوۡنَ فِیۡہِ
ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ وَ اَطِیۡعُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ رَبِّیۡ
وَ رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡہُ ؕ
ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala
Isa datang dengan Tanda-tanda yang
nyata ia berkata: "Sungguh aku datang kepada kamu dengan hikmah, dan menjelaskan beberapa hal kepada kamu yang mengenainya kamu berselisih,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. "Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhan-ku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, inilah jalan
yang lurus." (Az-Zukhruf [43]:64-65).
Namun sudah merupakan Sunnatullah, karena setiap Rasul Allah oleh kaumnya
dianggap membawa ajaran yang gharib (asing) -- yang bertentangan
dengan keingian hawa-nafsu mereka (QS.88:91) -- demikian pula halnya ketika Al-Masih Ibnu Maryam a.s. mau pun Al-Masih Mau’ud a.s. datang menggenapi nubuatan sebelumnya, maka
kedua Rasul Allah tersebut
mendapat perlakuan buruk yang sama
dari kaumnya masing-masing,
firman-Nya:
فَاخۡتَلَفَ
الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ بَیۡنِہِمۡ ۚ
فَوَیۡلٌ لِّلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡ
عَذَابِ یَوۡمٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ
اِلَّا السَّاعَۃَ اَنۡ
تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً وَّ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ اَلۡاَخِلَّآءُ
یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ
اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ؕ٪﴾
Tetapi golongan-golongan
di antara mereka berselisih, maka celakalah
bagi orang-orang zalim karena azab Hari yang pedih. ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ اِلَّا
السَّاعَۃَ اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ
بَغۡتَۃً وَّ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu selain Saat yang akan datang kepada mereka secara
tiba-tiba dan mereka tidak menyadari. اَلۡاَخِلَّآءُ یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ -- kawan-kawan pada hari itu sebagian akan
bermusuhan dengan sebagian lain, kecuali orang-orang bertakwa. (Az-Zukhruf
[43]:66-68).
Pada saat derita
sengsara akibat turunya azab Ilahi,
segala persahabatan dilupakan. Kawan-kawan
saling menjauhi, bahkan berubah menjadi musuh.
Di tempat lain Al-Quran memberikan penjelasan yang terinci mengenai keadaan orang-orang berdosa, bila mereka
diharapkan kepada akibat-akibat buruk
dari perbuatan buruk mereka
(QS.70:11-15; QS.80:35-38).
Golongan
Persekutuan
(Al-Ahzab) akan Saling Menyalahkan
Perbuatan Zalim yang Mereka Lakukan Terhadap
Rasul Allah dan Para
Pengikutnya
Makna lain dari ayat اَلۡاَخِلَّآءُ یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ -- Kawan-kawan pada hari itu sebagian akan
bermusuhan dengan sebagian lain, kecuali orang-orang bertakwa”, bahwa golongan
persekutuan yang jumlahnya mayoritas serta sepakat
menyatakan bahwa Rasul
Allah yang diutus kepada mereka membawa ajaran
yang sesat dan menyesatkan, pada akhirnya mereka satu sama lain akan saling bermusuhan dan saling menyalahkan akan perbuatan zalim yang mereka lakukan terhadap Rasul Allah dan para pengikutnya berupa “pembakaran”
orang-orang beriman dalam “parit-parit
api” kezaliman yang mereka kobarkan
-- termasuk di Akhir Zaman ini
terhadap Jemaat Muslim Ahmadiyah -- firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ
الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا
فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ
الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ اِنَّ بَطۡشَ
رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang menyiksa orang-orang
beriman laki-laki dan perempuan
kemudian mereka tidak bertaubat, فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ
عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ -- maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar. Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ
-- sesungguhnya cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat
keras. (Al-Burūj [85]:11-13).
Di akhirat, para penentang
Rasul Allah itulah yang akan menjadi para penghuni “parit api” -- yakni neraka
jahannam – dan mereka di dalamnya akan saling menyalahkan perbuatan zalim yang mereka lakukan di dunia terhadap Rasul Allah dan para pengikutnya.
Bahkan perbantahan tersebut bukan saja antara para pemimpin
kekafiran dengan para pengikut mereka yang secara membabi-buta menaati mereka dalam melakukan
penentangan terhadap Rasul Allah,
tetapi juga terjadi perbantahan
antara wujud yang “dipertuhankan” (dipersekutukan
dengan Tuhan) dengan para penyembahnya, berikut
firman-Nya mengenai
kedustaan penyembahan terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam:
وَ اِنَّ
مِنۡہُمۡ لَفَرِیۡقًا یَّلۡوٗنَ اَلۡسِنَتَہُمۡ بِالۡکِتٰبِ لِتَحۡسَبُوۡہُ مِنَ
الۡکِتٰبِ وَ مَا ہُوَ مِنَ الۡکِتٰبِ ۚ وَ یَقُوۡلُوۡنَ ہُوَ مِنۡ عِنۡدِ
اللّٰہِ وَ مَا ہُوَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ۚ وَ یَقُوۡلُوۡنَ عَلَی
اللّٰہِ الۡکَذِبَ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ
﴿﴾ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا
عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا
کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ
وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ﴿٪﴾
Dan sesungguhnya
di kalangan mereka niscaya ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya
dengan membaca Kitab,
supaya kamu menyangka hal itu dari
Kitab, padahal itu
sekali-kali bukan dari Kitab. Dan
mereka berkata: “Itu adalah dari sisi Allah,”
padahal itu sekali-kali bukan dari sisi Allah, dan mereka berkata dusta terhadap Allah,
padahal mereka mengetahui. مَا کَانَ لِبَشَرٍ
اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ
لِلنَّاسِ -- Sekali-kali
tidak mungkin bagi seorang
manusia yang kepadanya Allah memberi Kitab, Kekuasaan, dan kenabian, kemudian ia berkata kepada manusia: کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ -- “Jadilah
kamu hamba-hamba-Ku, bukannya hamba-hamba Allah”, وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا
رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ -- tetapi
ia akan berkata: “Jadilah kamu orang yang berbakti hanya
kepada Allah, karena kamu senantiasa
mengajarkan Kitab, kamu senan-tiasa
mempelajarinya, dan kamu senantiasa
membacanya.” وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا
الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا -- Dan tidak pula ia akan menyuruh kamu supaya kamu
menja-dikan malaikat-malaikat dan nabi-nabi
sebagai tuhan-tuhan. اَیَاۡمُرُکُمۡ
بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- Apakah ia
akan menyuruhmu kafir setelah kamu
menjadi orang-orang yang berserah diri kepada
Allah? (Ali ‘Imran [3]:79-81).
Kebiasaan Buruk di Kalangan Sebagian Golongan Ahli Kitab & Celaan Keras Allah Swt.
Firman Allah Swt. dalam
ayat 79 merupakan suatu sindiran
terhadap kebiasaan jahat sebagian orang
Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw.. Mereka membaca suatu kalimat dalam bahasa Ibrani dengan cara bacaan demikian rupa, sehingga para
pendengar akan terpedaya dan menyangka bahwa Taurat yang sedang dibacakan
itu, padahal bukan (QS.2:76-81; QS.4:47;
QS.5:42).
Kata “Alkitab” yang dipakai tiga
kali dalam ayat 79 maksudnya “sebuah
kalimat dalam bahasa Ibrani” di tempat yang pertama dan “Taurat” di tempat yang kedua dan ketiga.
Kalimat itu disebut “Alkitab”, sebab orang-orang Yahudi berusaha membuatnya
nampak seperti dari Al-Kitab padahal bukan.
Ulangan
kalimat mā kāna lahu (tidak
mungkin baginya) dalam ayat 80 dipakai dalam tiga pengertian: (a) tidak layak
baginya (rasul Allah) berbuat demikian;
(b) tidak mungkin baginya berbuat demikian; atau tidak masuk akal ia sampai
berbuat demikian; (c) tidak ada kemungkinan ia dapat berbuat demikian, yakni
secara fisik mustahil seorang Rasul Allah berbuat
demikian.
Makna Rabbaniyyīn
dalam ayat 80 jamak dari Rabbaniy
yang berarti: (1) orang yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati agama atau
menyediakan dirinya untuk menjalankan ibadah; (2) orang yang memiliki ilmu
Ilahiyyat (Ketuhanan); (3) orang yang ahli dalam pengetahuan agama, atau seorang
yang baik dan bertakwa; (4) guru yang mulai mem-berikan kepada orang-orang
pengetahuan atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke ilmu-ilmu yang
berat-berat; (5) induk semang atau majikan atau pemimpin; (6) seorang Mushlih
(pembaharu). (Lexicon Lane; Sibawaih; dan Kitab-ul
Kamil oleh Al-Mubarrad).
Kata-kata: “Karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan
senantiasa mempelajarinya”, menunjukkan bahwa telah menjadi kewajiban bagi semua yang telah meraih ilmu keruhanian (makrifat Ilahi) agar mereka meneruskannya kepada orang-orang
lain dan jangan membiarkan orang-orang meraba-raba dalam kegelapan, kejahilan atau kebodohan.
Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt menggunakan “kalimat yang keras” mengenai kedustaan
penyembahan terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan
terhadap Maryam, ibunya..
لَقَدۡ
کَفَرَ الَّذِیۡنَ قَالُوۡۤا اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ ؕ
قُلۡ فَمَنۡ یَّمۡلِکُ مِنَ اللّٰہِ
شَیۡئًا اِنۡ اَرَادَ اَنۡ یُّہۡلِکَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ
اُمَّہٗ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ؕ وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ؕ یَخۡلُقُ مَا یَشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Sungguh benar-benar telah kafir orang-orang
yang berkata: “Sesungguhnya Allah dialah
Al-Masih ibnu Maryam.” قُلۡ فَمَنۡ یَّمۡلِکُ مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا اِنۡ
اَرَادَ اَنۡ یُّہۡلِکَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ
اُمَّہٗ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا -- Katakanlah: “Siapakah yang memiliki kekuasaan melawan Allah, jika Dia berkehendak membinasakan Al-Masih ibnu
Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi ini?” وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا -- Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara
keduanya. یَخۡلُقُ مَا یَشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ -- Dia menciptakan apa pun yang Dia kehendaki,
dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. (Al-Maidah [5]:18).
Bahasa sangat pedas yang digunakan di sini -- Katakanlah: “Siapakah yang memiliki kekuasaan
melawan Allah, jika Dia berkehendak membinasakan Al-Masih ibnu Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi ini?” -- dimaksud untuk membeberkan kekeliruan dan mencela akidah
mengerikan bahwa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. adalah anak Allah (QS.9:30-31).
Demikian pula bahasa yang sangat
pedas itu digunakan dalam ayat QS.19:89-92 mengenai kedustaan akidah tersebut
serta keburukan yang
ditimbulkannya terhadap akhlak dan ruhani manusia yang disebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai
fitnah Dajjal, dan menurut beliau saw. Dajjal
tersebut yang ditakdirkan Allah Swt.
secara bertahap akan lenyap -- bagaikan garam disiram air – ketika berhadapan dengan Imam
Mahdi a.s. atau Al-Masih
Mau’ud a.s..
Nubuatan Kehancuran Gog
(Ya’juj} dan Magog (Ma’juj) Serta Fitnah Dajjal
Dengan
demikian jelaslah, bahwa sebenarnya dalam kalimat قُلۡ
فَمَنۡ یَّمۡلِکُ مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا اِنۡ اَرَادَ اَنۡ
یُّہۡلِکَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ
جَمِیۡعًا -- “Katakanlah: “Siapakah yang memiliki kekuasaan melawan Allah, jika Dia berkehendak membinasakan Al-Masih ibnu
Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi ini?”
bukan hanya sekedar celaan yang sangat
keras, tetapi juga merupakan nubuatan
bahwa -- sesuai dengan makna lain dari kata dhāllīn (sesat) dalam Surah Al-Fatihah ayat 7 – kata dhāllīn pun berarti akan binasa atau akan lenyap.
Yakni, berdasarkan makna lain dari kata dhāllīn dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah, itikad sesat tersebut benar-benar akan lenyap dari muka bumi, sebab akan terbukti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang mereka “pertuhankan” bersama ibunya (Maryam) benar-benar telah wafat, sebagaimana halnya semua Rasul
Allah yang diutus sebelum Nabi Besar
Muhammad saw. telah wafat,
(QS.21:35-36), firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ
تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ
اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- Jadikanlah aku dan ibuku se-bagai dua tuhan
selain Allah?"
قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ -- Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang
sekali-kali bukan hakku.
Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb
(Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi (penjaga) atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau
mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka
adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau
mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).
Ayat “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah
berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan
selain Allah?" menunjuk kepada kebiasaan Gereja Kristen yang menisbahkan kekuatan-kekuatan Uluhiyyah
(Ketuhanan) kepada Maryam.
Pertolongan Maryam dimohon dalam Litania
(suatu bentuk sembahyang), sedangkan dalam Katakisma (Cathechism,
yakni, dasar-dasar ajaran agama berupa tanya-jawab) Gereja Romawi
ditanamkan akidah bahwa beliau itu bunda
Tuhan.
Gerejawan-gerejawan di zaman
lampau menganggap Maryam, ibunda Nabi isa ibnu Maryam a.s. mempunyai sifat-sifat Tuhan dan hanya beberapa
tahun yang silam, Paus Pius XII telah memasukkan paham kenaikan Maryam ke langit
dalam ajaran Gereja. Semua ini sama
halnya dengan menaikkan beliau ke jenjang Ketuhanan dan inilah apa yang dicela
oleh umat Protestan dan disebut
sebagai Mariolatry (Pemujaan Dara Maria).
Munculnya
Golongan Protestan
Jawaban
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berupa ungkapan bahasa Arab dalam teks yang
diterjemahkan sebagai “tidak layak bagiku” dapat ditafsirkan sebagai: “Tidak patut bagiku” atau “tidak mungkin bagiku” atau “aku
tidak berhak berbuat demikian”, dan sebagainya sebagaimana dikemukakan
sebelumnya dalam Surah Ali
‘Imran ayat 80-81. Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengajarkan menyembah hanya kepada satu
Tuhan yakni Allah Swt. (Matius 4:10 dan Lukas 4:8).
Dalam
ayat selanjutnya Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. menjelaskan bahwa selama hidupnya
beliau mengamati dengan cermat
pengikut-pengikut beliau dan menjaga agar mereka tidak menyimpang dari jalan
yang benar, tetapi setelah beliau wafat, beliau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat
dan akidah-akidah
palsu apa yang dianut mereka:
وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
“Dan aku menjadi saksi (penjaga) atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.”
Kini, karena dalam
kenyataannya mereka yang mengaku sebagai pengikut-pengikut
beliau telah sesat dari Tauhid Ilahi yang beliau ajarkan, maka
dapat diambil kesimpulan pasti bahwa Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat,
sebab sebagaimana ditunjukkan oleh ayat itu, sesudah wafatnyalah beliau disembah
sebagai Tuhan.
Dengan demikian ayat itu membuktikan
secara positif bahwa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. telah wafat
dan beliau sekali-kali tidak akan kembali ke dunia ini. Lebih-lebih menurut
hadits yang termasyhur, Nabi Besar
Muhammad saw. akan menggunakan kata-kata seperti itu pada Hari Kebangkitan, sebagaimana kata-kata itu diletakkan di sini pada
mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bila
kelak beliau saw. melihat mereka yang
mengaku sebagai pengikut beliau saw. digiring ke neraka. Ini memberikan dukungan lebih lanjut pada kenyataan, bahwa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat seperti halnya Nabi Besar
Muhammad saw. juga telah wafat (QS.21:35-36).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 18 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar