Rabu, 21 Januari 2015

Makna "Kecaman Keras" Allah Swt. Terhadap Para Penyembah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Ibunya (Maryam) & Nubuatan Lenyapnya Fitnah Dajjal, Pendusta Besar.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 36

  
 Makna  Kecaman Keras Allah Swt. Terhadap Para “Penyembah” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Ibunya (Maryam)  & Nubuatan Lenyapnya Fitnah Dajjal  - Pendusta  Besar 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai   hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang  di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan dalam Al-Quran dan hadits Nabi Besar Muhammad saw. itu.
      Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. menubuatkan juga mengenai akan adanya persamaan antara umat Islam sepeninggal beliau saw. – terutama di masa kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6) -- dengan golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) bagaikan persamaan sepasang sepatu:
Abdullah ibnu Umar r.a. berkata: "Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Pasti akan datang pada umatku sebagaimana yang telah terjadi pada   umat  Bani Israil, seperti sepasang sepatu, hingga kalau umat Bani Israel berzina dengan ibunya secara terang-terangan maka umatku juga akan berbuat demikian. Ketahuilah bahwa umat Bani Israel akan pecah belah hingga 72 firqah dan umatku akan berpecah belah hingga 73 firqahKesemuanya akan menjadi bahan api neraka terkecuali satu golongan”. Sahabat-sahabat bertanya: “Golongan yang manakah itu wahai Rasulullah?' Beliau menjawab dengan bersabda:  “Yang  mengamalkan apa yang aku dan sahabat-sahabatku amalkan".........(Tirmidzi, Kitabul Iman).

Kedua Al-Masih Mendapat Perlakuan Zalim dari Kaumnya

        Pengutusan Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  --  misinya sama dengan misi kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan Bani Israil yang sudah menyimpang jauh dari ajaran Taurat, firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ عِیۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ قَالَ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ  بِالۡحِکۡمَۃِ وَ لِاُبَیِّنَ  لَکُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ تَخۡتَلِفُوۡنَ فِیۡہِ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ  وَ اَطِیۡعُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ  ہُوَ رَبِّیۡ  وَ رَبُّکُمۡ  فَاعۡبُدُوۡہُ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ  مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  tatkala Isa datang dengan Tanda-tanda yang nyata ia berkata: "Sungguh  aku datang kepada kamu dengan hikmah, dan menjelaskan beberapa hal kepada kamu yang mengenainya kamu berselisih, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. "Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhan-ku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus." (Az-Zukhruf [43]:64-65).
        Namun sudah merupakan Sunnatullah,  karena setiap Rasul Allah oleh kaumnya dianggap membawa ajaran yang gharib (asing)  -- yang bertentangan dengan keingian hawa-nafsu  mereka   (QS.88:91)  --  demikian pula halnya ketika Al-Masih Ibnu Maryam a.s. mau pun  Al-Masih Mau’ud a.s.  datang menggenapi nubuatan sebelumnya, maka  kedua Rasul Allah tersebut mendapat perlakuan buruk yang sama dari kaumnya masing-masing, firman-Nya:
فَاخۡتَلَفَ الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ  بَیۡنِہِمۡ ۚ فَوَیۡلٌ  لِّلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡ عَذَابِ یَوۡمٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَّا السَّاعَۃَ  اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً  وَّ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  اَلۡاَخِلَّآءُ  یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ؕ٪﴾
Tetapi  golongan-golongan di antara mereka berselisih, maka celakalah bagi  orang-orang zalim karena azab Hari yang pedih. ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَّا السَّاعَۃَ  اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً  وَّ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ  --    Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu selain Saat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba dan mereka tidak menyadari.  اَلۡاَخِلَّآءُ  یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ  --  kawan-kawan pada hari itu sebagian akan bermusuhan dengan sebagian lain,  kecuali orang-orang bertakwa.  (Az-Zukhruf [43]:66-68).
   Pada saat derita sengsara akibat turunya azab Ilahi,  segala persahabatan dilupakan. Kawan-kawan saling menjauhi, bahkan berubah menjadi musuh. Di tempat lain Al-Quran memberikan penjelasan yang terinci mengenai keadaan orang-orang berdosa, bila mereka diharapkan kepada akibat-akibat buruk dari perbuatan buruk mereka (QS.70:11-15; QS.80:35-38).

Golongan Persekutuan   (Al-Ahzab) akan Saling Menyalahkan Perbuatan Zalim yang Mereka Lakukan Terhadap Rasul Allah  dan Para Pengikutnya

       Makna lain dari ayat      اَلۡاَخِلَّآءُ  یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ  --  Kawan-kawan pada hari itu sebagian akan bermusuhan dengan sebagian lain,  kecuali orang-orang bertakwa”, bahwa golongan persekutuan yang  jumlahnya mayoritas  serta sepakat  menyatakan bahwa   Rasul Allah yang diutus kepada mereka membawa ajaran yang sesat dan menyesatkan, pada akhirnya mereka satu sama lain akan saling bermusuhan dan saling menyalahkan akan perbuatan zalim yang mereka lakukan terhadap Rasul Allah dan para pengikutnya  berupa “pembakaran” orang-orang beriman   dalam “parit-parit api” kezaliman yang mereka  kobarkan  -- termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Jemaat Muslim Ahmadiyah  --  firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾   اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ --  maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.            Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar     اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ  -- sesungguhnya  cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat keras.  (Al-Burūj [85]:11-13).
     Di akhirat,  para penentang Rasul Allah itulah yang akan menjadi para penghuni “parit api  --  yakni neraka jahannam – dan mereka di dalamnya akan saling menyalahkan perbuatan zalim yang mereka lakukan di dunia terhadap Rasul Allah dan para pengikutnya.
       Bahkan perbantahan tersebut bukan saja antara  para pemimpin kekafiran dengan para pengikut  mereka yang secara membabi-buta menaati mereka dalam melakukan penentangan terhadap Rasul Allah, tetapi juga terjadi perbantahan antara wujud yang “dipertuhankan” (dipersekutukan dengan Tuhan)  dengan   para penyembahnya, berikut   firman-Nya mengenai  kedustaan  penyembahan terhadap  Nabi Isa Ibnu Maryam:
وَ اِنَّ مِنۡہُمۡ لَفَرِیۡقًا یَّلۡوٗنَ اَلۡسِنَتَہُمۡ بِالۡکِتٰبِ لِتَحۡسَبُوۡہُ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ مَا ہُوَ مِنَ الۡکِتٰبِ ۚ وَ یَقُوۡلُوۡنَ ہُوَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ  وَ مَا ہُوَ  مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ۚ وَ یَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ الۡکَذِبَ وَ ہُمۡ  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ﴿٪﴾
Dan sesungguhnya di kalangan mereka niscaya  ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya dengan membaca Kitab,  supaya kamu menyangka hal itu dari  Kitab, padahal itu sekali-kali  bukan dari Kitab. Dan mereka berkata:  Itu adalah dari sisi  Allah,” padahal itu   sekali-kali bukan dari sisi Allah, dan mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ  -- Sekali-kali tidak mungkin  bagi seorang manusia yang kepadanya Allah memberi Kitab, Kekuasaan, dan  kenabian,  kemudian ia  berkata kepada manusia:  کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  -- “Jadilah kamu hamba-hamba-Ku, bukannya hamba-hamba Allah”, وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ   --  tetapi ia akan berkata:  Jadilah kamu orang yang berbakti hanya kepada Allah, karena kamu senantiasa mengajarkan Kitab, kamu senan-tiasa mempelajarinya, dan kamu senantiasa membacanya.”    وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا --  Dan tidak  pula ia akan menyuruh kamu supaya kamu menja-dikan malaikat-malaikat dan nabi-nabi sebagai tuhan-tuhan. اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- Apakah  ia akan menyuruhmu  kafir  setelah kamu menjadi  orang-orang yang berserah diri kepada Allah? (Ali ‘Imran [3]:79-81).

Kebiasaan Buruk di Kalangan Sebagian Golongan Ahli Kitab & Celaan Keras Allah Swt.

       Firman Allah Swt. dalam ayat 79 merupakan suatu sindiran terhadap kebiasaan jahat sebagian orang Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw..   Mereka membaca suatu kalimat dalam bahasa Ibrani dengan cara bacaan demikian rupa, sehingga para pendengar akan terpedaya dan menyangka bahwa Taurat  yang sedang dibacakan itu, padahal bukan  (QS.2:76-81; QS.4:47; QS.5:42).
      Kata “Alkitab” yang dipakai tiga kali dalam ayat  79   maksudnya “sebuah kalimat dalam bahasa Ibrani” di tempat yang pertama dan “Taurat” di tempat yang kedua dan ketiga. Kalimat itu disebut “Alkitab”, sebab orang-orang Yahudi berusaha membuatnya nampak seperti dari Al-Kitab padahal bukan.
       Ulangan kalimat  mā kāna lahu (tidak mungkin baginya) dalam ayat 80 dipakai dalam tiga pengertian: (a) tidak layak baginya (rasul Allah)  berbuat demikian; (b) tidak mungkin baginya berbuat demikian; atau tidak masuk akal ia sampai berbuat demikian; (c) tidak ada kemungkinan ia dapat berbuat demikian, yakni secara fisik mustahil  seorang Rasul Allah   berbuat  demikian.
       Makna Rabbaniyyīn dalam ayat 80  jamak dari Rabbaniy yang berarti: (1) orang yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati agama atau menyediakan dirinya untuk menjalankan ibadah; (2) orang yang memiliki ilmu Ilahiyyat (Ketuhanan); (3) orang yang ahli dalam pengetahuan agama, atau seorang yang baik dan bertakwa; (4) guru yang mulai mem-berikan kepada orang-orang pengetahuan atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke ilmu-ilmu yang berat-berat; (5) induk semang atau majikan atau pemimpin; (6) seorang Mushlih (pembaharu). (Lexicon Lane; Sibawaih; dan Kitab-ul Kamil oleh  Al-Mubarrad).
      Kata-kata: “Karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan senantiasa mempelajarinya”, menunjukkan bahwa telah menjadi kewajiban bagi semua yang telah meraih ilmu keruhanian (makrifat Ilahi)  agar mereka meneruskannya kepada orang-orang lain dan jangan membiarkan orang-orang meraba-raba dalam kegelapan, kejahilan atau kebodohan.
       Dalam firman-Nya berikut  ini Allah Swt menggunakan   “kalimat yang keras” mengenai kedustaan penyembahan  terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan terhadap   Maryam, ibunya..
لَقَدۡ کَفَرَ الَّذِیۡنَ قَالُوۡۤا اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ ؕ قُلۡ  فَمَنۡ یَّمۡلِکُ مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا اِنۡ اَرَادَ  اَنۡ  یُّہۡلِکَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ؕ وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ؕ یَخۡلُقُ مَا یَشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾   
Sungguh benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah dialah Al-Masih ibnu Maryam. قُلۡ  فَمَنۡ یَّمۡلِکُ مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا اِنۡ اَرَادَ  اَنۡ  یُّہۡلِکَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا  -- Katakanlah: “Siapakah yang memiliki  kekuasaan melawan Allah, jika Dia berkehendak membinasakan Al-Masih ibnu Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi ini?” وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا   -- Dan kepunyaan   Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun  yang ada di antara keduanya. یَخۡلُقُ مَا یَشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ --  Dia menciptakan apa pun yang Dia kehendaki, dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. (Al-Maidah [5]:18).
      Bahasa sangat pedas yang digunakan di sini    -- Katakanlah: “Siapakah yang memiliki  kekuasaan melawan Allah, jika Dia berkehendak membinasakan Al-Masih ibnu Maryam,  ibunya, dan semua orang yang ada di bumi ini?”   -- dimaksud untuk membeberkan kekeliruan dan mencela akidah  mengerikan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  adalah anak Allah (QS.9:30-31).
       Demikian pula bahasa yang sangat pedas itu digunakan dalam ayat QS.19:89-92 mengenai kedustaan akidah tersebut  serta keburukan yang ditimbulkannya terhadap akhlak dan ruhani manusia  yang disebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai fitnah Dajjal,  dan menurut beliau saw.  Dajjal tersebut yang ditakdirkan Allah Swt. secara bertahap akan lenyap   -- bagaikan garam disiram air – ketika berhadapan dengan Imam Mahdi a.s. atau  Al-Masih Mau’ud a.s..

Nubuatan Kehancuran Gog (Ya’juj} dan Magog (Ma’juj) Serta Fitnah Dajjal

       Dengan demikian jelaslah, bahwa sebenarnya dalam kalimat     قُلۡ  فَمَنۡ یَّمۡلِکُ مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا اِنۡ اَرَادَ  اَنۡ  یُّہۡلِکَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا  -- “Katakanlah: “Siapakah yang memiliki  kekuasaan melawan Allah, jika Dia berkehendak membinasakan Al-Masih ibnu Maryam, ibunya, dan semua orang yang ada di bumi ini?” bukan hanya sekedar celaan yang sangat keras, tetapi juga merupakan nubuatan bahwa   -- sesuai dengan makna lain dari kata dhāllīn (sesat) dalam Surah Al-Fatihah ayat 7 – kata dhāllīn  pun berarti akan binasa atau akan lenyap.
     Yakni,  berdasarkan  makna lain dari kata dhāllīn dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah,  itikad sesat tersebut  benar-benar akan lenyap  dari muka bumi, sebab akan terbukti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang mereka “pertuhankan” bersama ibunya (Maryam)  benar-benar telah wafat, sebagaimana halnya semua Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. telah wafat, (QS.21:35-36), firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  -- Jadikanlah aku dan ibuku se-bagai dua tuhan  selain  Allah?"  قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃    --  Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,   sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.   Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah,  Rabb-ku (Tuhan-ku)  dan Rabb (Tuhan)  kamu.”  Dan aku menjadi saksi (penjaga) atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).
       Ayat     Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia:  “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?"      menunjuk kepada kebiasaan Gereja Kristen yang menisbahkan kekuatan-kekuatan Uluhiyyah (Ketuhanan) kepada   Maryam. Pertolongan  Maryam dimohon dalam Litania (suatu bentuk sembahyang), sedangkan dalam Katakisma (Cathechism, yakni, dasar-dasar ajaran agama berupa tanya-jawab) Gereja Romawi ditanamkan akidah bahwa beliau itu bunda Tuhan.
      Gerejawan-gerejawan di zaman lampau menganggap Maryam, ibunda Nabi isa ibnu Maryam a.s. mempunyai sifat-sifat Tuhan dan hanya beberapa tahun yang silam, Paus Pius XII telah memasukkan paham kenaikan  Maryam ke langit dalam ajaran Gereja. Semua ini sama halnya dengan menaikkan beliau ke jenjang Ketuhanan dan inilah apa yang dicela oleh umat Protestan dan disebut sebagai Mariolatry (Pemujaan Dara Maria).

 Munculnya Golongan Protestan

       Jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berupa ungkapan bahasa Arab dalam teks yang diterjemahkan sebagai “tidak layak bagiku” dapat ditafsirkan sebagai: “Tidak patut bagiku” atau “tidak mungkin bagiku  atau “aku tidak berhak berbuat demikian”, dan sebagainya sebagaimana dikemukakan sebelumnya dalam    Surah Ali ‘Imran  ayat 80-81.  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mengajarkan menyembah hanya kepada satu Tuhan yakni Allah Swt. (Matius 4:10 dan Lukas 4:8).
       Dalam ayat selanjutnya  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menjelaskan bahwa  selama   hidupnya  beliau mengamati dengan cermat pengikut-pengikut beliau dan menjaga agar mereka tidak menyimpang dari jalan yang benar, tetapi  setelah beliau wafat, beliau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat  dan akidah-akidah palsu apa yang dianut mereka:
وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
“Dan aku menjadi saksi (penjaga) atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.”
       Kini,   karena dalam kenyataannya mereka yang mengaku sebagai pengikut-pengikut beliau telah sesat  dari   Tauhid Ilahi yang beliau ajarkan, maka dapat diambil kesimpulan pasti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat, sebab sebagaimana ditunjukkan oleh ayat itu, sesudah wafatnyalah beliau disembah sebagai Tuhan.  
Dengan demikian ayat itu  membuktikan secara positif bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat dan beliau sekali-kali tidak akan kembali ke dunia ini. Lebih-lebih menurut hadits yang termasyhur,  Nabi Besar Muhammad saw. akan menggunakan kata-kata seperti itu pada Hari Kebangkitan, sebagaimana kata-kata itu diletakkan di sini pada mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bila kelak beliau saw. melihat  mereka yang mengaku sebagai pengikut beliau  saw. digiring ke neraka. Ini memberikan dukungan lebih lanjut pada kenyataan, bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  telah wafat seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw.  juga telah wafat (QS.21:35-36).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 18 Januari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar