Selasa, 13 Januari 2015

"Perniagaan" dengan Allah Swt. dan Rasul-Nya di Akhir Zaman yang Dapat Menghindarkan Manusia dari Azab yang Pedih & "Hawaariyyiin" Al-Masih Mau'ud a.s.






بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 31

  
 Nubuatan  Terjadinya Pembangkangan Terhadap Perintah Allah Swt. berkenaan Kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. atau Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  firman  Allah Swt.   mengenai perintah Allah Swt. untuk mengikuti sikap terpuji  para Hawari  (pengikut) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal, yaitu  pentingnya umat manusia  atau umat beragama – terutama sekali umat Islam  yang beriman kepada  Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran  --    untuk beriman kepada Rasul Akhir Zaman yaitu Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ  -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata  kepada  pengikut-pengikutnya, مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ -- “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  --  Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Ka-milah penolong-penolong Allah.”   فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- maka segolongan dari Bani Israil beriman  sedangkan segolongan lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ    -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ   -- lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang. (Ash-Shaff [61]:15).
      Perintah Allah Swt. kepada  orang-orang beriman – terutama umat Islam  -- untuk meniru sikap terpuji para hawari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut  merupakan peringatan dan juga nubuatan  bahwa mereka jangan sampai meniru sikap buruk  para pemuka kaum Yahudi yang bukan saja mendustakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili, bahkan mereka  berusaha membunuhnya  melalui penyaliban (QS.156-159), yang mengundang kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas mereka, sebagaimana sebelumnya Nabi Daud a.s. juga telah mengutuk mereka   (QS.5:79-81).
       Dari ketiga golongan (sekte) agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa a.s.  menyampaikan tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  termasuk golongan Essenes sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
     Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum Essenes inilah berasal bagian besar dari para pengikut beliau di masa permulaan  yaitu  golongan hawariyyin (“The Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para  Penolong” oleh Eusephus.
     Kata-kata penutup Surah ini sungguh sarat dengan nubuatan. Sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   – walau pun telah menyimpang jauh dari ajaran asli beliau dalam Injil  (QS.5:117-119) yakni  umat Kristen --   telah menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum yang cerai-berai sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”).

Nubuatan Terjadinya Pembangkangan Terhadap Perintah Allah Swt.

       Namun merupakan kekhasan Al-Quran,  jika Allah Swt. menekankan suatu perintah  berkenaan  pelaksanaan (pengamalan)  sesuatu kepada suatu umat (kaum), maka di dalamnya terkandung pula nubuatan mengenai akan adanya pembangkangan terhadap perintah Allah Swt. tersebut dari umat yang bersangkutan..
       Contohnya adalah perintah  kepada orang-orang yang mengaku beriman dalam firman-Nya tersebut yaitu untuk  menjadi para penolong Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh para Hawari (pengikut) Nabi isa Ibnu Maryam a.s.). Mengisyaratkan kepada  kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ  --  tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan    terhadapnya,   dan mereka berkata:  اءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ --  "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --   Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
   Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid). Kedatangan Al-Masih a.s.  yang dilahirkan tanpa ayah merupakan tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya.
      Karena matsal berarti sesuatu yang semacam (serupa) dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum  Nabi Besar Muhammad saw.    yaitu kaum Muslimin  di Akhir Zaman — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili  akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka mereka bukannya  bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes.
      Jadi, ayat  وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ – “dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ  --  tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan    terhadapnya”   dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya, dalam wujud misal (orang yang seperti) beliau yang dibangkitkan dari kalangan  Bani Isma’il atau umat Islam  (QS.11:18; QS.61:6-77; QS. 62:3-4), yakni Al-Masih Mau’ud a.s.. Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s., firman-Nya:
 اَفَمَنۡ کَانَ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ  کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ  رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka  apakah orang yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya) وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ  -- dan  ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya untuk memuktikan kebenarannya, dan yang sebelumnya telah didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat dikatakan seorang penipu? اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ  -- mereka itu beriman kepadanya,  وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ   --  dan barangsiapa dari golongan  itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan baginya. فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ --   karena itu  janganlah engkau ragu-ragu mengenainya,  اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ  -- sesungguhnya itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ  --  tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).

Al-Masih Mau’ud a.s.  Sebagai   Syāhid  Mengenai   Kebenaran Nabi Besar Muhammad Saw.  

   Tiga dalil telah dikemukakan dalam ayat ini untuk mendukung kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul Allah yang seperti (misal) Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:15-19; QS.46:11)  dengan kata-kata: (a) “Yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya), (b) “Ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya”, dan (c) “Yang sebelumnya di dahului oleh Kitab Musa”.
      (1) “Dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya)” ialah revolusi besar dalam akhlak dan ruhani  yang telah diwujudkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.   dalam kehidupan kaumnya yang sebelum itu bobrok dan mundur keadaannya; 
      (2)   dan  ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya”, saksi-saksi yang membuktikan kebenaran beliau saw.  ialah imam-imam rabbani --  terutama para mujaddid yang dibangkitkan di setiap awal abad   -- dari antara pengikut beliau saw., yang dengan ajaran dan perbuatannya akan menegakkan kebenaran Islam dan Al-Quran di tiap-tiap abad, dan saksi yang paling sempurna ialah  Al-Masih Mau’ud a.s.,   pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang selain sebagai mujaddid ‘azham  juga sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.43:58).
       (3)  kata-kata “yang sebelumnya didahului oleh Kitab Musa” menunjuk kepada nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Bible tentang  Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ  نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ  عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ    وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ 
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.   نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ  --  telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya,   عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ  -- atas kalbu engkau  supaya engkau termasuk di antara para pem-beri peringatan.  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ  --    dengan bahasa Arab yang jelas. وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ --  dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab2135 terdahulu.  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā [26]:193-198).
   Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala baru. Seperti amanat-amanat para nabi tersebut di atas, amanat Al-Quran juga telah diwahyukan oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada kaum masing-masing, sedang Al-Quran diturunkan untuk seluruh bangsa di dunia, sebab Al-Quran “diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.”

Al-Quran Diwahyukan  Melalui Ruhul Amin (Malaikat Jibril a.s.) kepada Al-Amin
(Nabi Besar Muhammad saw.)

        Dalam ayat 194   malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut rūhul-amīn, yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir dipergunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya. (QS.15:10).
        Nama kehormatan (Rūhul-Amīn)  ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya; dan kata-kata dalam kitab suci terdahulu itu, oleh karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
         Sungguh mengherankan, bahwa di Mekkah Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibrail a.s. kepada seorang amin yakni Nabi Besar Muhammad saw..
  Kata-kata “atas kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk mengatakan  bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan   gagasan yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw.    dengan perkataan beliau saw. sendiri, melainkan benar-benar Kalam Allah Swt. Sendiri, yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibrail a.s.. (QS.53:1-19).
        Hal diutusnya Nabi Besar Muhammad saw.  dan hal turunnya Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu.   Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible — yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya  konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat — mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian.
         Mengenai nubutan-nubuatan dalam Bible tersebut lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14,dengan demikian benarlah pernyataan Allah Swt. dalam  ayat:  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ --  dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?” (Asy-Syu’arā [26]:197-198).

“Hari-hari yang Dijanjikan” & Para pembuat “Parit Api” di Akhir Zaman

       Jadi,  kembali kepada  kedatangan  seorang saksi  yang mendukung kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. yang muncul di kalangan umat Islam di Akhir Zaman   -- yakni Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yaitu Mirza Ghulam Ahmad a.s.  – dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai kebenaran seorang “saksi” (syahid) dan “orang yang diberi kesaksian” (masyhud)  olehnya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾  وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾  قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾  النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾  اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾  وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  ؕ﴿﴾  وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  -- Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang, وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ --   dan demi Hari yang dijanjikan,  وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ  -- dan demi saksi  dan yang disaksikan, قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ -- binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ  --   yaitu Api yang dinyalakan dengan bahan bakar, اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ --  ketika mereka duduk3311 di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  -- dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ   dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ    -- Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ  -- dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. (Al-Burūj [85]:1-10).
     Mujaddid-mujaddid Islam  yang muncul di setiap awal abad atau 12  gugusan bintang di cakrawala ruhani Islam, yang akan membuat cahaya Islam berkilauan terus sesudah matahari ruhani terbenam, yaitu, sesudah 3 abad Islam paling baik berlalu (QS.32:6), sehingga membawa akibat tersebarnya kegelapan ruhani di seluruh dunia. Para mujaddid itu akan memberikan kesaksian mengenai kebesaran Islam, kebenaran Al-Quran dan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimaa dikemukakan dalam QS.11:18 sebelum ini.
   “Hari yang dijanjikan” itu dapat berarti hari ketika  Al-Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  akan dibangkitkan untuk mendatangkan kebangkitan kembali Islam yanag kedua kali (QS.61:10; QS.62:3-5). Pada hakikatnya banyak hari semacam itu dalam sejarah Islam yang dapat disebut “Hari yang dijanjikan”, seperti hari Pertempuran Badar, hari ketika Pertempuran Khandak berkesudahan dengan kejayaan besar, dan hari jatuhnya Mekkah.
    Tetapi “Hari yang dijanjikan” yang paripurna itu ialah masa kebangkitan kedua-kalinya  Nabi Besar Muhammad saw. di mAkhir Zaman ini dalam pribadi wakil beliau saw. pada abad ke-14 Hijrah (QS.62:3-5), ketika agama Islam akan memperoleh kehidupan baru dan akan menang atas semua agama lainnya (QS.61:10).
   Hari yang dijanjikan” itu dapat pula berarti  hari ketika orang-orang bertakwa akan merasakan kelezatan nikmat pertemuan dengan Tuhan mereka  pada saat mereka mencapai derajat ruhani  nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang tentram - (QS.89:27-31).

Masyhūd  (Yang Diberi Kesaksian)  dan Syāhid (Yang Memberi Kesaksian)

      Makna ayat وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ  -- “dan demi saksi  dan yang disaksikan” yaitu bahwa tiap nabi Allah atau mushlih rabbani adalah syāhid, yaitu yang  memberi kesaksian, disebabkan beliau seorang saksi hidup akan adanya Allah Swt., dan beliau itu pun masyhūd (yang diberi kesaksian) sebab Allah  Swt.   memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaannya  sebagai rasul Allah  dengan memperlihatkan Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat di tangannya.
   Tetapi di sini, seperti nampak dari teks, syahid saksi) adalah  Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sedangkan   masyhūd (yang diberi kesaksian) adalah Nabi Besar Muhammad saw. , dan ayat ini mengandung arti bahwa Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.     akan memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw.  dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh, dan tulisan-tulisan beliau yang luar-biasa dan dengan Tanda-tanda yang akan ditampakkan Allah Swt. di tangan beliau.
     Al-Masih Mau’ud a.s. akan memberikan kesaksian pula dalam arti bahwa dalam wujud beliau nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri telah memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaan beliau sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. atau sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau sebagai Rasul Akhir Zaman  (QS.61:10; QS.62:3-5). Dengan demikian Nabi Besar Muhammad saw. atau misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11) dan Al-Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  itu bersama-sama merupakan syāhid (saksi) dan masyhūd  (yang diberi kesaksian).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 13 Januari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar