بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 24
Dua
Kalimah Syahadat Menentang Penyembahan Terhadap “Anak Allah” & Nubuatan Kehancuran Gog
(Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) Dalam Surah
Al-Fatihah
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya
mengenai Surah Al-Kahf ayat
1-10 telah dikemukakan celaan
keras Allah Swt. terhadap “Trinitas” sehubungan dengan ayat وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ
وَلَدًا --
dan supaya memperingatkan
orang-orang yang
berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki.” مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ -- mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا -- mereka tidak
mengucapkan kecuali kedustaan.”
Sehubungan dengan kepercayaan sesat
tersebut dalam Surah Maryam
Allah Swt. berfirman:
وَ قَالُوا اتَّخَذَ
الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ
جِئۡتُمۡ شَیۡئًا اِدًّا ﴿ۙ﴾ تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ
تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ دَعَوۡا
لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدًا ﴿ۚ﴾ وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ یَّتَّخِذَ
وَلَدًا ﴿ؕ﴾ اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی
الرَّحۡمٰنِ عَبۡدًا﴿ؕ﴾ لَقَدۡ
اَحۡصٰہُمۡ وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا ﴿ؕ﴾ وَ
کُلُّہُمۡ اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka
berkata: اتَّخَذَ الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا
-- "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil seorang anak laki-laki." Sungguh
kamu benar-benar telah mengucapkan
sesuatu yang sangat mengerikan. تَکَادُ السَّمٰوٰتُ
یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا -- Hampir-hampir seluruh langit pecah
karenanya, bumi terbelah, dan
gunung-gunung runtuh berkeping-keping,
karena mereka menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ
اَنۡ یَّتَّخِذَ وَلَدًا -- Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil seorang anak laki-laki, اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی الرَّحۡمٰنِ
عَبۡدًا -- Tidak ada seorang pun di seluruh langit
dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah sebagai hamba. لَقَدۡ اَحۡصٰہُمۡ
وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا --
Sungguh Dia benar-benar mengetahui jumlah mereka dan menghitung mereka dengan
menyeluruh. وَ کُلُّہُمۡ اٰتِیۡہِ
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا -- Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada
Hari Kiamat sendiri-sendiri. (Maryam [19]:89-96).
“Fitnah Dajjal” & Bertentangan dengan Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.
Paham bahwa Yesus anak Allah
itu begitu mengerikan, sehingga seluruh langit,
bumi, dan gunung-gunung dapat hancur
berkeping-keping dan rebah ke
tanah karena kejinya kepercayaan itu.
Kepercayaan itu sangat menjijikkan wujud-wujud
samawi (as-samawat) -- yakni para malaikat yang senantiasa bertasbih kepada Allah Swt. (QS.2:31) --
oleh karena berlawanan dengan Sifat-sifat Ilahi dan bertentangan dengan segala yang wujud-wujud samawi itu bela dan muliakan.
Kepercayaan ini menjijikkan
manusia yang mendiami bumi (al-ardh) sebab hal ini bertentangan
dengan tuntutan fitrat serta kecerdasan otak manusia sejati, dan akal manusia menolak dengan perasaan
kecewa terhadap paham demikian
itu. Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi
dan mulia seperti para nabi Allah dan para pilihan Tuhan (al-jibal) menentangnya juga menolaknya,
sebab anggapan bahwa manusia memerlukan pengurbanan orang lain untuk memperoleh keselamatan dan mencapai tingkat akhlak tinggi adalah bertentangan dengan pengalaman ruhani mereka sendiri.
Jadi,
Surah ini berisikan pencelaan
yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad Kristen, terutama kepercayaan mereka yang pokok
bahwa Yesus anak Allah, satu kepercayaan
yang darinya terbit semua 'itikad sesat lainnya; tekanan istimewa telah
diberikan kepada penolakan dan pencelaan terhadap kepercayaan dusta ini.
Perlu
mendapat perhatian khusus bahwa sifat Ar-Rahmān (Yang maha Pemurah) telah berulang-ulang disinggung dalam Surah
Maryam ini — sifat itu telah disebutkan sebanyak 16 kali, karena 'itikad Kristen yang pokok ialah
pengakuan kepada Yesus sebagai anak Allah dan akibat-akibatnya yaitu 'itikad penebusan dosa mengandung
arti penolakan terhadap sifat Ar-Rahmān
(Maha Pemurah) Allah Swt., dan karena
pokok pembahasan utama Surah Maryam
ini ialah pembantahan terhadap ‘itikad
dusta ini maka sudah seharusnya Sifat-sifat
Ilahi itu disebut dengan berulang-ulang.
'Itikad penebusan
dosa yang mengandung arti bahwa Allah Swt. tidak dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal sifat Ar-Rahmān (Yang
Maha Pemurah) menghendaki
bahwa Dia dapat dan memang sering mengampuni mereka, itulah
sebabnya sifat Ar-Rahmān berulang kah disebut dalam Surah Maryam ini. Dalam Surah Ar-Rahmān bukti-bukti sifat
Maha Pemurah Allah Swt. dijelaskan
secara terinci.
Allah Swt.,
Tuhan Yang bersifat Rahmān (Maha
Pemurah) itu tidak memerlukan anak
untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit serta bumi dan kerajaan-Nya meliputi seluruh alam, dan
juga karena semua orang adalah hamba-Nya,
dan Yesus adalah salah seorang dari
antara mereka.
Itulah makna
ayat: اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی الرَّحۡمٰنِ
عَبۡدًا – “Tidak ada seorang pun di seluruh langit
dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah sebagai hamba.” لَقَدۡ اَحۡصٰہُمۡ
وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا --
Sungguh Dia benar-benar mengetahui jumlah mereka dan menghitung mereka dengan
menyeluruh. وَ کُلُّہُمۡ اٰتِیۡہِ
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا -- Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada
Hari Kiamat sendiri-sendiri. (Maryam [19]:94-96).
Makna Dua Kalimah Syahadat
Sehubungan dengan itikad dusta “Trinitas”
tersebut Allah Swt. berfirman kepada
Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا
اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ
﴿﴾
Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ -- maka
akulah yang pertama di antara
para penyembah." سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ -- Maha
Suci Rabb (Tuhan) seluruh la-ngit dan bumi, Rabb
(Tuhan) ‘Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan. (Az-Zukhruf
[43]:82-83).
Makna kata
'abid dalam ayat فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ -- “maka
akulah yang pertama di antara
para penyembah," adalah isim fa'il dari 'abada, yang
berarti: ia menyembah; dan dari 'abida, yang berarti: ia marah; ia
menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia bersikap menghinakan (Lexicon Lane). Maka ayat ini
berarti:
(a)
“Jika Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān) beranak, maka akulah orangnya
yang pertama-tama menyembahnya (anak
itu) sebab sebagai abdi Allah yang paling taat dan patuh aku niscaya tidak akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya (anak itu).”
(b) “Jika mungkin Tuhan
Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān) mempunyai seorang
anak, maka akulah yang paling berhak
memperoleh kedudukan itu, sebab akulah
yang paling banyak menyembah Tuhan dan yang
paling banyak pula berbakti kepada-Nya.”
(c)
Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān) pasti
tidak mempunyai seorang anak ("in" berarti,
"tidak"), dan akulah yang pertama-tama menjadi saksi atas kenyataan
ini”, sebab kata 'abidin berarti syahidin, yaitu saksi-saksi.
(d)
“Tuhan Yang Maha Pemurah
(Ar-Rahmān) tidak mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan,
bahwa Dia memiliki anak.”
Di
antara seluruh Rasul Allah, orang yang paling dekat kedudukannya dengan Allah Swt. adalah Nabi Besar Muhammad saw. (QS.53:1-19; QS.3:32;
QS.33:22; QS.4:70-71), itulah sebabnya Allah Swt. telah mengabadikan nama Nabi Besar Muhammad saw. berdampingan
dengan Allah Swt. dalam Dua
Kalimah Syahadat yang merupakan Rukun
Islam yang pertama:
Aku bersaksi bahwa tidak
ada tuhan kecuali Allah,
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.
Mengisyaratkan kepada makna 2
Kalimah Syahadat itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran [3]:32).
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan
memperoleh kecintaan Ilahi, sejak
diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. tidak mungkin terlaksana kecuali yang
direkayasa mengenai “penebusan dosa” melalui
“kematian terkutuk Yesus di atas salib”,
sebab Allah Swt. sejak diutus-Nya nabi (rasul) Allah yang pertama diutus hingga Hari Kiamat tetap Tuhan
yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, serta bersifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah), sebagaimana
dijelaskan secara terinci dalam Surah Ar-Rahmān.
Makna “Ashabul Kahf” (Penghunia
Gua) dan Raqim (Prasasti)
Kembali keoada peringatan Allah Swt. yang dikemukakan dalam awal Surah Al-Kahf, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ
وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ
عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾ اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا عَجَبًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Yang Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Segala
puji bagi Allah Yang telah
menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan, قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ -- sebagai penjaga untuk memberi peringatan mengenai siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا -- dan memberikan kabar
gembira kepada orang-orang beriman yang beramal
saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka
ada ganjaran yang baik, مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا
-- mereka menetap di dalamnya
selama-lamanya. وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ
وَلَدًا --
dan supaya memperingatkan
orang-orang yang
berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki.” مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ -- mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا -- mereka tidak
mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ
عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا --
maka sangat mungkin engkau
akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا -- dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang
ada di atasnya menjadi tanah-rata
yang tandus. اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا عَجَبًا
-- atau engkau menyangka bahwa penghuni gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?
(Al-Kahf [18]:1-10).
Makna ayat اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا عَجَبًا
-- atau engkau menyangka bahwa penghuni gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?” Ungkapan ashhāb
al-kahf, telah diberi banyak arti, seperti:
kaum gua; orang-orang gua; teman-teman segua; penghuni gua; dan penduduk gua.
Ayat ini menyatakan bahwa para penghuni gua itu bukanlah wuju‑wujud aneh. Tidak ada sifat mereka yang dianggap menyimpang dari hukum alam biasa. Tetapi sungguh amat aneh bahwa banyak dongengan-dongengan khayali telah terjalin sekitar mereka. Kisah yang
tersohor mengenai "Seven Sleepers" (Tujuh penidur) seperti
diuraikan oleh Gibbon dalam karyanya "Decline and fall of the Roman
Em-pire" (Kemunduran dan jatuhnya kerajaan Romawi), memberi suatu
kunci penting untuk menyingkapkan kabut
rahasia yang menyelubungi para penghuni
gua itu.
Dua Keadaan Kaum Nasrani di Masa Awal (Al-Kahf) dan di Masa Akhir (Ar-Raqīm)
"Gua" (kahf) dan
"prasasti" (raqim)
merupakan dua segi yang sangat penting dalam kepercayaan Kristen, yang
berarti bahwa agama Kristen itu mulai
sebagai agama yang melepaskan dan menarik diri dari keramaian
dunia, dan berakhir dengan
menjadi suatu agama yang memusatkan perhatian kepada urusan dunia; suatu agama perdagangan dan perniagaan dalam dunia tulis-menulis
dan prasastiprasasti (tulisan-tulisan
pada dinding dan benda-benda), berikut firman-Nya mengenai perubahan yang terjadi di kalangan
mereka yang mewarisi Kitab Taurat tersebut:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ
یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی
اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا
فِیۡہِ ؕ وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ
اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Maka datang menggantikan
sesudah mereka, suatu generasi pengganti yang mewarisi Kitab Taurat itu, یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا
الۡاَدۡنٰی
-- mereka mengambil harta dunia yang rendah
ini وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ
لَنَا --
dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni.” وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ
-- dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ
مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ -- bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی
اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا
فِیۡہِ --
bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu
terhadap Allah kecuali yang haq, وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ -- dan
mereka telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya? وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ
-- padahal
kampung akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang
yang bertakwa, اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- apakah kamu tidak mau mengerti? (Al-Arāf [7]:170).
'Aradha dalam ayat یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا
الۡاَدۡنٰی
-- mereka mengambil harta dunia yang rendah
ini” artinya: barang yang tidak kekal, barang-barang
duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi
duniawi; benda atau sesuatu (Lexicon
Lane).
Darasa dalam ayat وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ -- “dan
mereka telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya?” berarti: (1) ia membaca atau menelaah buku; (2) ia
meniadakan, menghapuskan atau melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).
Pendek kata nubuatan mengenai kehancuran
kekuasaan duniawi yang telah diraih bangsa-bangsa
Kristen dari barat – yakni Gog
(Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) -- pasti
akan terjadi di Akhir Zaman ini,
sebab merupakan Sunnatullah yang
telah menimpa kaum-kaum purbakala,
mulai dari kaum Nabi Nuh a.s. sampai
dengan Fir’aun dan kaumnya di zaman
Nabi Musa a.s., yang pada zamannya
masing-masing mereka telah mencapai kesuksesan dalam bidang kehidupan
duniawi mereka, namun karena mereka melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt.
dan Rasul Allah yang diutus kepada mereka maka Allah Swt. membinasakan mereka dengan berbagai bentuk azab
Ilahi yang sangat mengerikan
(QS.29:41-44), firman-Nya:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَاۤ اَنَّہُمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَا فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ
ہُمۡ مِّنۡ کُلِّ
حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ
شَاخِصَۃٌ اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
ؕ یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ
مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا
ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan diharamkan
(terlarang) bagi penduduk suatu
negeri yang telah Kami bina-sakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali. حَتّٰۤی اِذَا فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ
ہُمۡ مِّنۡ کُلِّ
حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ -- hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan Ya’juj dan Ma’juj, وَ ہُمۡ مِّنۡ
کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ -- dan mereka
turun dengan cepat dari setiap ketinggian. وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ
فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ اَبۡصَارُ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- sudah
mendekat janji yang benar
maka sekonyong-konyong akan terbelalak mata
orang-orang kafir, یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ
غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ -- mereka berseru, “Aduhai, celaka kami! Sungguh kami
dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!” (An-Anbiyā [21]:96-98).
Nubuatan Kehancuran Kekuasaan Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) di Akhir Zaman Dalam Surah Al-Fatihah
Makna ayat -- “Dan diharamkan
(terlarang) bagi penduduk suatu
negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali.” Bahwa orang mati
– baiuk secara perorangan mau pun
secara kaum (bangsa) -- sekali-kali tidak akan dikembalikan lagi ke dunia,
merupakan hukum Ilahi yang tidak
dapat dielakkan dan dihindarkan. Mereka yang meninggalkan dunia ini meninggalkannya untuk selama-lamanya
(QS.23:100-101).
Jika dibaca
bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat حَتّٰۤی اِذَا
فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ مِّنۡ
کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ -- “hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan Ya’juj dan Ma’juj, وَ ہُمۡ مِّنۡ
کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ -- dan
mereka turun dengan cepat dari setiap
ketinggian,” makna ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa,
sehingga sekali bila suatu hukum —
sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya — mengalami kebinasaan dan kehancuran mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang
itu.
Demikian pula Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) pun dengan kejayaan
dan kemuliaan besar dalam kebendaan (kehidupan duniawi) tidak
dapat mengelakkan diri dari hukum alam. Mereka akan jatuh dan tidak akan bangkit kembali untuk selama-lamanya. Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa
Kristen barat telah mencapai segala puncak
kekuasaan politik dan telah menyebar
ke seluruh dunia. Ungkapan Al-Quran berarti, bahwa mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai seluruh dunia.
Makna ayat وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ
فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ اَبۡصَارُ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- “sudah
mendekat janji yang benar
maka sekonyong-konyong akan terbelalak mata
orang-orang kafir, یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ
غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ -- mereka berseru, “Aduhai, celaka kami! Sungguh kami
dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!” Kekuasaan Ya’juj dan Majuj akan
diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang
membawa bencana di dunia, yang
akhirnya akan menyebabkan kejayaan dan kemenangan
Islam (QS.61:10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan
kepalsuan dan kebendaan yang
menjelma dalam wujud Ya’juj dan Ma’juj itu musnah.
Sebenarnya nubuatan mengenai kehancuran kekuasaan duniawi bangsa-bangsa yang
disebut Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari
Barat --
tercantum pada kata dhāllīn
dalam ayat terakhir Surah
Al-Fatihah, yakni:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ
اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Hanya Engkau-lah
Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ
-- Tunjukilah kami jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,
غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ -- bukan jalan mereka yang
dimurkai وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪ -- dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (Al-Fatihah
[1]:5-7).
Makna Maghdhūb dan Dhāllīn
Para ulama salaf (ulama terdahulu) sependapat bahwa yang dimaksud dengan kata maghdhūb dan dhāllīn dalam Surah Al-Fatihah ayat 7 adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mengarti makna maghdhūb (yang dimurkai) tersebut
berkenan dengan orang-orang Yahudi
dijelaskan dalam QS.2:62 & 88-91; QS.3:111-113; QS.5:61; QS.7:167-169);
sedang kata dhāllīn (yang sesat)
adalah orang-orang Nasrani dijelaskan
dalam QS.2:117-118; QS.4:172-173; QS.6:101-102; QS.7:170; QS.9:30-31; QS.10:69;
QS.17:112; QS.18:5; QS.19:36 &
89-93; QS.21:27; QS.25:3; QS.39:5; QS.43:82.
Ari lain dhāllīn selain sesat adalah “akan
binasa” atau “akan hilang”,
seperti firman-Nya berikut ini:
وَ یَوۡمَ نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾ فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اِنۡ کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari
itu ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan: مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ -- “Tetaplah di tempat kamu, kamu beserta sekutu-sekutumu.” فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ -- Lalu Kami
memisahkan di antara mereka. وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ -- maka sekutu-sekutu mereka ber-kata: ”Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah, فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ -- “Maka cukuplah Allah sebagai saksi di antara kami dan kamu, اِنۡ کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ لَغٰفِلِیۡنَ -- sesungguhnya kami
tidak tahu-menahu mengenai penyembahan kamu.” ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ -- Di sanalah tiap-tiap
jiwa merasakan penderitaan akibat
apa yang telah dikerjakannya dahulu
dan mereka akan dikembalikan kepada
Allah Pelindung mereka yang haq
(sebenarnya), وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ
-- dan
lenyaplah dari mereka apa yang
telah mereka ada-adakan itu. (Yunus [10]:29-31).
Jadi, ayat وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ
-- dan
lenyaplah dari mereka apa yang
telah mereka ada-adakan itu” menjelaskan bahwa arti lain kata dhalla atau dhāllīn
selain sesat, juga berarti akan lenyap
atau akan binasa (QS.7:54; QS.11:22; QS.16:88; QS.17:67-68; QS.18:103-105;
QS.28:75-76; QS.41:48-49).
Itulah nubuatan mengenai keadaan
akhir yang akan dialami oleh agama Kristen dalam Surah Al-Fatihah, sebab selain bertentangan dengan ajaran
asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
beliau juga sudah wafat (QS.5:117-119), sebagaimana semua nabi
Allah lainnya yang diutus sebelum
Nabi Besar Muhammad saw. telah wafat
(QS.3: 56 & 145; QS.QS.21:35-36).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 6 Januari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar