Rabu, 07 Januari 2015

Dua "Kalimah Syahadat" Menentang Penyembahan Terhadap "Anak Allah" & Nubuatan Kehancuran Gog (Ya'juj) dan Magog (Ma'juj) Dalam Surah Al-Fatihah




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 24

  
Dua Kalimah Syahadat    Menentang  Penyembahan Terhadap   Anak Allah” & Nubuatan Kehancuran Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) Dalam Surah Al-Fatihah
  


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya  mengenai Surah Al-Kahf ayat 1-10 telah dikemukakan   celaan  keras Allah Swt. terhadap   Trinitas   sehubungan dengan  ayat وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا --  dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.” مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ --   mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.  کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ  --   sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا  --   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan.”
         Sehubungan dengan kepercayaan sesat   tersebut dalam Surah  Maryam  Allah Swt. berfirman:
وَ قَالُوا  اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾  لَقَدۡ  جِئۡتُمۡ  شَیۡئًا  اِدًّا ﴿ۙ﴾  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا ﴿ۚ﴾  وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾  اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا﴿ؕ﴾  لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا ﴿ؕ﴾  وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka  berkata: اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا --  "Tuhan Yang Maha Pemurah telah meng­ambil seorang anak laki-laki."   Sungguh  kamu benar-benar telah mengucapkan sesuatu  yang  sangat mengerikan.  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا -- Hampir-hampir seluruh langit pecah   karenanya, bumi terbelah, dan gunung­-gunung runtuh berkeping-keping,  karena mereka menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya  anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا  --    Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang  Maha Pemurah  mengambil seorang anak laki-laki,    اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا --    Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.   لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا   -- Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan menghitung mereka dengan   menyeluruh. وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا --  Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri. (Maryam [19]:89-96).

Fitnah Dajjal” & Bertentangan dengan Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.

     Paham bahwa Yesus anak Allah itu begitu mengerikan, sehingga seluruh langit, bumi, dan gunung-gunung dapat hancur berkeping-keping dan rebah ke tanah karena kejinya kepercayaan itu. Kepercayaan itu sangat menjijikkan wujud­-wujud samawi (as-samawat)   -- yakni para malaikat yang senantiasa bertasbih kepada Allah Swt. (QS.2:31) -- oleh karena berlawanan dengan Sifat-sifat Ilahi dan bertentangan dengan segala yang wujud-wujud samawi itu bela dan muliakan.
   Kepercayaan ini menjijikkan manusia yang mendiami bumi (al-ardh) sebab hal ini bertentangan dengan tuntutan fitrat serta kecerdasan otak manusia sejati, dan akal manusia menolak dengan perasaan kecewa terhadap paham demikian itu. Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia seperti para nabi Allah dan para pilihan Tuhan (al-jibal) menentangnya juga   menolaknya,   sebab anggapan bahwa  manusia memerlukan pengurbanan orang lain untuk memperoleh keselamatan dan mencapai tingkat akhlak tinggi  adalah bertentangan dengan pengalaman ruhani mereka sendiri.
 Jadi,  Surah ini berisikan pencelaan yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad Kristen, terutama kepercayaan mereka yang pokok bahwa Yesus anak Allah, satu kepercayaan yang darinya terbit semua 'itikad  sesat lainnya; tekanan istimewa telah diberikan kepada penolakan dan pencelaan terhadap kepercayaan dusta  ini.
  Perlu mendapat perhatian khusus bahwa sifat Ar-Rahmān (Yang maha Pemurah) telah berulang-ulang disinggung dalam Surah Maryam ini — sifat itu telah disebutkan sebanyak 16 kali, karena 'itikad Kristen yang pokok ialah pengakuan kepada Yesus sebagai anak Allah dan akibat-akibatnya yaitu 'itikad penebusan dosa mengandung arti penolakan terhadap sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.,  dan karena pokok pembahasan utama Surah Maryam ini ialah pembantahan terhadap ‘itikad  dusta ini maka sudah seharusnya Sifat-sifat Ilahi itu disebut dengan berulang-ulang.
 'Itikad penebusan dosa yang mengandung arti bahwa Allah Swt.  tidak dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal sifat Ar-Rahmān  (Yang Maha Pemurah)  menghendaki bahwa Dia dapat dan memang sering mengampuni mereka, itulah sebabnya sifat Ar-Rahmān berulang kah disebut dalam Surah Maryam  ini. Dalam Surah Ar-Rahmān   bukti-bukti sifat Maha Pemurah Allah Swt. dijelaskan secara terinci.
        Allah Swt., Tuhan Yang bersifat Rahmān (Maha Pemurah) itu tidak memerlukan anak untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit serta  bumi dan kerajaan-Nya meliputi seluruh alam, dan juga karena semua orang adalah hamba-Nya, dan Yesus adalah salah seorang dari antara mereka.
       Itulah makna ayat:  اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا   Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.”  لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا   -- Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan menghitung mereka dengan   menyeluruh. وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا --  Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri. (Maryam [19]:94-96).

Makna Dua Kalimah  Syahadat

   Sehubungan dengan itikad dusta “Trinitas” tersebut Allah Swt. berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak,  فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ    --   maka   akulah yang pertama di antara para penyembah."  سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ   -- Maha Suci   Rabb (Tuhan) seluruh la-ngit dan bumi, Rabb (Tuhan) ‘Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan. (Az-Zukhruf [43]:82-83).
    Makna kata  'abid  dalam ayat فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ    --   “maka   akulah yang pertama di antara para penyembah,"  adalah isim fa'il dari 'abada, yang berarti: ia menyembah; dan dari 'abida, yang berarti: ia marah; ia menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia bersikap menghinakan (Lexicon Lane). Maka ayat ini berarti:  
    (a) Jika Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān) beranak, maka akulah orangnya yang pertama-tama menyembahnya (anak itu) sebab sebagai abdi Allah yang paling taat dan patuh aku niscaya tidak akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya (anak itu).”
   (b) “Jika  mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān) mempunyai seorang anak, maka akulah yang paling berhak memperoleh kedudukan itu, sebab akulah yang paling banyak menyembah Tuhan dan yang paling banyak pula berbakti kepada-Nya.”
   (c) Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān)  pasti tidak mempunyai seorang anak ("in" berarti, "tidak"), dan akulah yang pertama-tama menjadi saksi atas kenyataan ini”, sebab kata 'abidin berarti syahidin, yaitu saksi-saksi.
    (d) “Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān)  tidak mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan, bahwa Dia memiliki  anak.”
     Di antara seluruh Rasul Allah,   orang yang paling dekat kedudukannya dengan Allah Swt. adalah Nabi Besar Muhammad saw. (QS.53:1-19; QS.3:32; QS.33:22; QS.4:70-71), itulah sebabnya Allah Swt. telah mengabadikan nama Nabi Besar Muhammad saw.  berdampingan dengan Allah Swt. dalam Dua Kalimah Syahadat yang merupakan Rukun Islam yang pertama:
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah,
 dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah   Rasul Allah.
       Mengisyaratkan kepada makna 2 Kalimah Syahadat itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ﴿﴾
Katakanlah:  Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran [3]:32).
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi, sejak diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. tidak mungkin terlaksana kecuali yang direkayasa mengenai “penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk Yesus di atas salib”, sebab Allah Swt. sejak diutus-Nya nabi (rasul) Allah  yang pertama diutus hingga Hari Kiamat   tetap Tuhan yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, serta bersifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah), sebagaimana dijelaskan secara terinci dalam Surah Ar-Rahmān.

Makna “Ashabul Kahf  (Penghunia Gua) dan Raqim (Prasasti)

    Kembali keoada  peringatan Allah Swt.   yang dikemukakan dalam awal Surah Al-Kahf, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾ اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan, قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ --  sebagai penjaga   untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya,  وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا -- dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik, مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا --  mereka menetap di dalamnya selama-lamanya.  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا --  dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata:    "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.” مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ --   mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.  کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ  --   sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا  --   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا   --  maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا     -- sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا    --    dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus. اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا --  atau engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan? (Al-Kahf [18]:1-10).
     Makna ayat    اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا --  atau engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?” Ungkapan ashhāb al-kahf, telah diberi banyak arti, seperti:  kaum gua;  orang-orang gua;   teman-teman segua; penghuni gua; dan  penduduk gua.
    Ayat ini menyatakan  bahwa para penghuni gua itu bukanlah wuju‑wujud aneh. Tidak ada sifat mereka yang dianggap  menyimpang dari hukum alam biasa. Tetapi sungguh amat aneh bahwa banyak dongengan-dongengan khayali  telah terjalin sekitar mereka. Kisah yang tersohor mengenai "Seven Sleepers" (Tujuh penidur) seperti diuraikan oleh Gibbon dalam karyanya "Decline and fall of the Roman Em-pire" (Kemunduran dan jatuhnya kerajaan Romawi), memberi suatu kunci penting untuk menyingkapkan kabut rahasia yang menyelubungi para penghuni gua itu. 

Dua Keadaan Kaum Nasrani di Masa Awal (Al-Kahf) dan di Masa Akhir (Ar-Raqīm)

   "Gua" (kahf) dan "prasasti" (raqim) merupakan dua segi yang sangat penting dalam kepercayaan Kristen,  yang berarti bahwa agama Kristen itu mulai sebagai agama yang melepaskan dan menarik diri dari keramaian dunia, dan berakhir dengan menjadi suatu agama yang memusatkan perhatian kepada urusan dunia; suatu agama perdagangan dan perniagaan dalam dunia tulis-menulis dan prasasti­prasasti (tulisan-tulisan pada dinding dan benda-benda), berikut firman-Nya mengenai    perubahan yang terjadi di kalangan mereka  yang mewarisi Kitab Taurat tersebut:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka, suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی  --  mereka mengambil harta dunia yang rendah ini  وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا --  dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ --  dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya.  اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ  -- bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab  اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  -- bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ    -- dan  mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya?  وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ   -- padahal  kampung  akhirat itu   lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ --  apakah kamu tidak mau mengerti?  (Al-Arāf [7]:170).
'Aradha dalam ayat یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی  --  mereka mengambil harta dunia  yang rendah ini”  artinya:  barang yang tidak kekal, barang-barang duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi duniawi; benda atau sesuatu  (Lexicon Lane).
   Darasa  dalam ayat وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ    -- “dan  mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya?”   berarti: (1) ia  membaca atau menelaah buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).
   Pendek kata nubuatan  mengenai kehancuran kekuasaan duniawi yang telah diraih bangsa-bangsa Kristen  dari barat – yakni  Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj)   -- pasti akan terjadi di Akhir Zaman ini,  sebab   merupakan Sunnatullah  yang  telah menimpa kaum-kaum purbakala, mulai dari kaum Nabi Nuh a.s. sampai dengan   Fir’aun dan kaumnya  di zaman Nabi Musa a.s., yang pada zamannya masing-masing mereka  telah mencapai kesuksesan dalam  bidang kehidupan duniawi mereka, namun karena mereka melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan Rasul Allah yang diutus kepada mereka  maka Allah Swt. membinasakan mereka dengan berbagai bentuk  azab Ilahi yang sangat mengerikan (QS.29:41-44), firman-Nya:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَاۤ  اَنَّہُمۡ لَا  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan diharamkan (terlarang) bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami bina-sakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali. حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  --   hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan  Ya’juj dan Ma’juj,   وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  -- dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian.     وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا --  sudah mendekat janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak   mata orang-orang   kafir,  یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ  -- mereka  berseru, “Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!” (An-Anbiyā [21]:96-98).

Nubuatan Kehancuran Kekuasaan Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) di Akhir Zaman Dalam Surah Al-Fatihah

  Makna ayat   -- “Dan diharamkan (terlarang) bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali.” Bahwa orang mati – baiuk secara perorangan mau pun secara kaum (bangsa)   -- sekali-kali tidak akan dikembalikan lagi ke dunia, merupakan hukum Ilahi yang tidak dapat dielakkan dan dihindarkan. Mereka yang meninggalkan dunia ini meninggalkannya untuk selama-lamanya (QS.23:100-101).
      Jika dibaca bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat   حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  --   “hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan  Ya’juj dan Ma’juj,   وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  --  dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian,”         makna ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa, sehingga sekali bila suatu hukum — sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya — mengalami kebinasaan dan kehancuran mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu.
   Demikian pula Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar dalam kebendaan (kehidupan duniawi) tidak dapat mengelakkan diri dari hukum alam. Mereka akan jatuh dan tidak akan bangkit kembali untuk selama-lamanya. Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa Kristen barat telah mencapai segala puncak kekuasaan politik dan telah menyebar ke seluruh dunia. Ungkapan Al-Quran berarti, bahwa mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai seluruh dunia.
        Makna ayat وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا --  sudah mendekat janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak   mata orang-orang   kafir,  یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ  -- mereka  berseru, “Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!” Kekuasaan Ya’juj dan Majuj akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang membawa bencana di dunia, yang akhirnya akan menyebabkan kejayaan  dan kemenangan Islam (QS.61:10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan kepalsuan dan kebendaan yang menjelma dalam wujud Ya’juj dan Ma’juj itu musnah.
       Sebenarnya nubuatan mengenai kehancuran kekuasaan duniawi bangsa-bangsa yang disebut Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj)   -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat  --  tercantum  pada kata dhāllīn  dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah, yakni:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾   صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                                
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah  dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ --  Tunjukilah kami   jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ   -- yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ  --   bukan jalan mereka  yang dimurkai  وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪  -- dan bukan pula jalan mereka  yang sesat.  (Al-Fatihah [1]:5-7).

Makna Maghdhūb dan Dhāllīn

        Para ulama salaf (ulama terdahulu)  sependapat bahwa yang dimaksud dengan kata maghdhūb dan dhāllīn  dalam Surah Al-Fatihah ayat 7 adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.  Mengarti makna maghdhūb (yang dimurkai)  tersebut  berkenan dengan orang-orang Yahudi dijelaskan dalam QS.2:62 & 88-91; QS.3:111-113; QS.5:61; QS.7:167-169); sedang kata dhāllīn (yang sesat) adalah orang-orang Nasrani dijelaskan dalam QS.2:117-118; QS.4:172-173; QS.6:101-102; QS.7:170; QS.9:30-31; QS.10:69; QS.17:112; QS.18:5; QS.19:36  & 89-93; QS.21:27; QS.25:3;  QS.39:5;  QS.43:82.
       Ari lain dhāllīn  selain sesat   adalah “akan binasa” atau “akan hilang”, seperti firman-Nya berikut ini:
وَ یَوۡمَ نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ  اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾  فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اِنۡ  کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ  لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾  ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu  ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya  kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan:  مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ  --Tetaplah di tempat kamu, kamu beserta sekutu-sekutumu.”   فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ   -- Lalu Kami memisahkan di antara mereka. وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ  اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ --  maka   sekutu-sekutu mereka ber-kata:  Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah,  فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ     -- “Maka cukuplah Allah sebagai saksi di antara kami dan kamu,  اِنۡ  کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ  لَغٰفِلِیۡنَ  -- sesungguhnya  kami tidak tahu-menahu  mengenai penyembahan kamu.”    ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ --   Di sanalah  tiap-tiap jiwa  merasakan penderitaan akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka akan dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang haq (sebenarnya), وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ --  dan  lenyaplah dari mereka apa yang telah  mereka ada-adakan itu.  (Yunus [10]:29-31).
        Jadi, ayat   وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ --  dan  lenyaplah dari mereka apa yang telah  mereka ada-adakan itu”    menjelaskan bahwa  arti lain kata  dhalla   atau dhāllīn selain sesat, juga berarti  akan lenyap  atau akan binasa (QS.7:54; QS.11:22; QS.16:88; QS.17:67-68; QS.18:103-105; QS.28:75-76; QS.41:48-49).
        Itulah nubuatan mengenai  keadaan akhir  yang akan dialami oleh agama Kristen dalam Surah Al-Fatihah, sebab  selain bertentangan  dengan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,   beliau  juga sudah wafat (QS.5:117-119), sebagaimana semua  nabi Allah lainnya yang diutus  sebelum Nabi Besar Muhammad saw. telah wafat (QS.3: 56 & 145; QS.QS.21:35-36).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 6  Januari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar