Senin, 19 Januari 2015

Kemunculan Islam yang "Gharib" (Asing) di Akhir Zaman yang Sama dengan Ajaran Islam yang "Gharib" di Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 35

  
 Kemunculan   Islam  yang Gharib (Asing) di Akhir Zaman yang Sama dengan  Ajaran Islam yang Dianggap Gharib di Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.    

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  firman  Allah Swt.   mengenai jihad bahwa jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri  (QS.29:70),  (b) Jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri (QS.22:40-41).
       Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad di jalan Allah”.  Nabi Besar Muhammad saw.  telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir), firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjihad  untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan se-sungguhnya Allāh beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabūt [20]:70).
       Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.” Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan. وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ -- Dan berjihadlah kamu di jalan Allah  dengan jihad  yang sebenar-benarnya,  ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ  -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  --   Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ  --      supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia.  فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ  -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).

Petunjuk Ke-Muslim-an Sempurna Berada Dalam Agama Islam (Al-Quran)

        Kata-kata “Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15)
        Isyarat dalam kata-kata “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa  Nabi Ibrahim a.s. . yang dikutip dalam Al-Quran ketika bersama Nabi Isma’il meninggikan pondasi   Ka’bah (QS.2:128-130) yaitu:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ  اِبۡرٰہٖمُ  الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan146  dasar-dasar yakni pondasi Rumah itu sambil mendoa: “Ya Rabb (Tuhan) kami,  terimalah   amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ  --     Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah  diri kepada Engkau, وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ --  dan juga  dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ  --  perlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang. Ya  Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).

Ajaran Islam yang Hakiki adalah yang Dianggap “Gharib” (Asing)  

       Dari Al-Quran  dan dari sabda Nabi Besar Muhammad saw.  diketahui  bahwa di kalangan  umat Islam  pun ke-Muslim-an yang hakiki  ada pada dua zaman yang terpisah, beliau saw. bersabda:
“Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan gharib (asing) dan akan kembali gharib  (asing) sebagaimana awalnya, maka thūba (beruntunglah) orang-orang gharib (asing)” (HR. Muslim).
      Dua keadaan Islam yang gharib  (asing) tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. mengenai dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., yaitu di masa awal dan di Akhir Zaman di kalangan ākharīna minhum, yaitu dimasa pengutusan Al-Masih Mau’ud a.s., firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾     وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ  --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata,    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan me-reka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ   --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [63]:3-5).
        Ayat 3 mengisyaratkan  zaman jahiliyah  di kalangan bangsa Arab yang penuh dengan kesesatan yang nyata, کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ  --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata.”  Pada waktu   itulah  Allah Swt. sesuai dengan doa Nabi Ibrahim a.s. QS.3:130) telah mengutus (membangkitkan) Nabi Besar Muhammad saw. diutus di kalangan bangsa Arab jahiliyah tersebut, membawa ajaran Islam (Al-Quran) sebagai agama terakhir dan  tersempurna (QS.5:4), yang oleh bangsa Arab dianggap sebagai ajaran yang gharib (asing) karena bertolakbelakang dengan adat-istiadat jahiliyah bangsa Arab.
      Namun walau agama Islam (Al-Quran) yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. mendapat penentangan keras dan zalim   -- bukan saja dari kalangan bangsa Arab Jahiliyah tetapi juga dari golongan Ahli Kitab   --  namun hanya dalam waktu 23 tahun saja di jazirah Arabiya telah tercipta “bumi baru dan langit baru” (QS.14:40) menggantikan “bumi lama dan langit lama” (QS.30:42).

Munculnya Kembali Islam yang Gharib (Asing) di Akhir Zaman

        Cahaya Islam (Al-Quran) bersinar cemerlang selama 3 abad sejak pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., tetapi kemudian secara bertahap dalam waktu 1000 tahun berikutnya cahaya Islam (Al-Quran) semakin meredup serta mencapai puncak kegelapannya pada abad ke-14 Hijriyah, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6). Lihat pula QS.25:46-48.
        Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
     Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
    Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata:   ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  --  “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
       Dalam hadits lain  -- sehubungan diwahyukan-Nya Surah Al-Jumu’ah sebelum ini  -- Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa “iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi” (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir). Dengan kedatangan  Al-Masih Mau’ud a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan  Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku (QS.61:10).
       Jadi, mengisyaratkan kepada  penyebaran agama Islam (Al-Quran) yang diajarkan Allah Swt.  hakikat-hakikatnya kepada Al-Masih Mau’ud a.s.  – yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  -- itulah yang dimaksud  oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai  ajaran  Islam” yang kembali  gharib (asing) dalam pandangan   umumnya umat Islam di Akhir Zaman,  karena mereka pada umumnya telah meninggalkan ajaran serta pemahaman tentang Islam (Al-Quran) yang hakiki, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.   Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
      Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim di Akhir Zaman ini  tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.  Contohnya  telah dikemukakan mengenai kedurhakaan terhadap perintah Allah Swt.  dalam QS.3:103-106  agar mereka berpegang teguh pada Tali Allah dan jangan berpecah-belah.
       Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang  di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan dalam Al-Quran dan hadits Nabi Besar Muhammad saw. itu.

Kedua Al-Masih Mendapat Perlakuan Zalim dari Kaumnya

       Pengutusan Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah  -- tersebut  misinya sama dengan misi kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan Bani Israil yang sudah menyimpang jauh dari ajaran Taurat, firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ عِیۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ قَالَ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ  بِالۡحِکۡمَۃِ وَ لِاُبَیِّنَ  لَکُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ تَخۡتَلِفُوۡنَ فِیۡہِ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ  وَ اَطِیۡعُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ  ہُوَ رَبِّیۡ  وَ رَبُّکُمۡ  فَاعۡبُدُوۡہُ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ  مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  tatkala Isa datang dengan Tanda-tanda yang nyata ia berkata: "Sungguh  aku datang kepada kamu dengan hikmah, dan menjelaskan beberapa hal kepada kamu yang mengenainya kamu berselisih, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. "Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhan-ku dan Tuhan kamu maka sem-bahlah Dia, inilah jalan yang lurus." (Az-Zukhruf [43]:64-65).
        Namun sudah merupakan Sunnatullah,  karena setiap Rasul Allah oleh kaumnya dianggap membawa ajaran yang gharib (asing), yang bertentangan dengan apa yang mereka percayai,  demikian pula halnya ketika Al-Masih Ibnu Maryam a.s. mau pun  Al-Masih Mau’ud a.s.  datang menggenapi nubuatan sebelumnya, maka  kedua Rasul Allah tersebut mendapat perlakuan buruk yang sama dari kaumnya masing-masing, firman-Nya:
فَاخۡتَلَفَ الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ  بَیۡنِہِمۡ ۚ فَوَیۡلٌ  لِّلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡ عَذَابِ یَوۡمٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَّا السَّاعَۃَ  اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً  وَّ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾  اَلۡاَخِلَّآءُ  یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ؕ٪﴾
Tetapi  golongan-golongan di antara mereka berselisih, maka celakalah bagi  orang-orang zalim karena azab Hari yang pedih. ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَّا السَّاعَۃَ  اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً  وَّ ہُمۡ  لَا یَشۡعُرُوۡنَ  --   Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu selain Saat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba dan mereka tidak menyadari.  اَلۡاَخِلَّآءُ  یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ  --  Kawan-kawan pada hari itu sebagian akan bermusuhan dengan sebagian lain,  kecuali orang-orang ber-takwa.  (Az-Zukhruf [43]:66-68).
     Pada saat derita sengsara akibat turunya azab Ilahi,  segala persahabatan dilupakan. Kawan-kawan saling menjauhi, bahkan berubah menjadi musuh. Di tempat lain Al-Quran memberikan penjelasan yang terinci mengenai keadaan orang-orang berdosa, bila mereka diharapkan kepada akibat-akibat buruk dari perbuatan buruk mereka (QS.70:11-15; QS.80:35-38).

Golongan Persekutuan   (Al-Ahzab) Akan Saling Menyalahkan Perbuatan Zalim yang Mereka Terhadap Rasul Allah  dan Para Pengikutnya

       Makna lain dari ayat      اَلۡاَخِلَّآءُ  یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ  اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ  --  Kawan-kawan pada hari itu sebagian akan bermusuhan dengan sebagian lain,  kecuali orang-orang bertakwa”, bahwa golongan persekutuan yang  jumlahnya mayoritas  serta sepakat menyatakan bahwa   Rasul Allah yang diutus kepada mereka membawa ajaran yang sesat dan menyesatkan, mereka satu sama lain akan saling bermusuhan dan saling menyalahkan akan perbuatan zalim yang mereka lakukan terhadap Rasul Allah dan para pengikutnya  berupa “pembakaran” orang-orang beriman   dalam “parit-parit api” kezaliman yang mereka  kobarkan, termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Jemaat Muslim Ahmadiyah, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾   اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ --  maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakarSesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar     اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ  -- sesungguhnya  cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat keras.  (Al-Burūj [85]:11-13).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 17 Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar