بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 35
Kemunculan Islam yang Gharib
(Asing) di Akhir Zaman yang Sama dengan
Ajaran
Islam yang Dianggap Gharib di
Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas firman Allah Swt.
mengenai jihad bahwa jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan
buruk manusia sendiri (QS.29:70), (b) Jihad
melawan musuh-musuh kebenaran yang
meliputi pula berperang untuk membela diri (QS.22:40-41).
Jihad
macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad
di jalan Allah”. Nabi Besar Muhammad
saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan
yang kedua sebagai jihad kecil (jihad
saghir), firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ
اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka
pada jalan-jalan Kami, dan se-sungguhnya Allāh beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabūt [20]:70).
Jihad
sebagaimana diperintahkan oleh Islam,
tidak berarti harus membunuh atau
menjadi kurban pembunuhan, melainkan
harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti
“untuk menjumpai Kami.” Firman-Nya
lagi:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ
عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ﴿٪﴾
Hai
orang-orang yang beriman, rukuklah
kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan. وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ -- Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, ہُوَ
اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan
kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
Dia telah memberi kamu nama Muslimin
dahulu dan dalam Kitab ini,
لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ
تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat,
dan berpegang teguhlah kepada Allah.
Dia Pelindung kamu maka Dia-lah
sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Petunjuk Ke-Muslim-an Sempurna Berada Dalam Agama
Islam (Al-Quran)
Kata-kata “Dia telah memberi kamu nama
Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “maka
engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman
Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15)
Isyarat
dalam kata-kata “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa Nabi Ibrahim a.s. . yang dikutip
dalam Al-Quran ketika bersama Nabi Isma’il meninggikan pondasi Ka’bah
(QS.2:128-130) yaitu:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ اِبۡرٰہٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا
تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ
مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ
اَنۡتَ
التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ
ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ
الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan146 dasar-dasar
yakni pondasi Rumah itu
sambil mendoa: “Ya Rabb (Tuhan)
kami, terimalah amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا
مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
orang yang berserah diri kepada
Engkau, وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ -- dan juga dari
antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, وَ اَرِنَا
مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ -- perlihatkanlah
kepada kami cara-cara ibadah kami
dan terimalah taubat kami, sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat,
Maha Penyayang. Ya Rabb
(Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang
rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka,
yang mengajarkan Kitab dan hikmah
kepada mereka serta akan
mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).
Ajaran Islam yang Hakiki adalah yang Dianggap “Gharib” (Asing)
Dari Al-Quran
dan dari sabda Nabi Besar Muhammad saw.
diketahui bahwa di kalangan umat
Islam pun ke-Muslim-an yang hakiki ada
pada dua zaman yang terpisah, beliau saw. bersabda:
“Sesungguhnya Islam dimulai dalam
keadaan gharib (asing) dan akan
kembali gharib (asing) sebagaimana
awalnya, maka thūba (beruntunglah)
orang-orang gharib (asing)” (HR. Muslim).
Dua keadaan Islam yang gharib (asing) tersebut sesuai dengan firman
Allah Swt. mengenai dua kali pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw., yaitu di masa
awal dan di Akhir Zaman di
kalangan ākharīna minhum, yaitu
dimasa pengutusan Al-Masih Mau’ud a.s.,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ -- walaupun sebelumnya
mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain
dari antara mereka, yang belum bertemu dengan me-reka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
ذٰلِکَ
فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah
karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa
yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [63]:3-5).
Ayat
3 mengisyaratkan zaman jahiliyah di kalangan bangsa Arab yang penuh dengan kesesatan yang nyata, کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ
مُّبِیۡنٍ ۙ -- “walaupun sebelumnya
mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata.” Pada waktu itulah Allah Swt. sesuai dengan doa Nabi Ibrahim a.s. QS.3:130) telah mengutus (membangkitkan) Nabi
Besar Muhammad saw. diutus di kalangan bangsa
Arab jahiliyah tersebut, membawa ajaran
Islam (Al-Quran) sebagai agama
terakhir dan tersempurna (QS.5:4), yang oleh bangsa
Arab dianggap sebagai ajaran yang
gharib (asing) karena bertolakbelakang dengan adat-istiadat jahiliyah bangsa Arab.
Namun walau agama Islam (Al-Quran) yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.
mendapat penentangan keras dan zalim
-- bukan saja dari kalangan bangsa
Arab Jahiliyah tetapi juga dari golongan Ahli Kitab -- namun hanya dalam waktu 23 tahun saja di jazirah Arabiya telah tercipta “bumi baru dan langit baru” (QS.14:40) menggantikan “bumi lama dan langit lama”
(QS.30:42).
Munculnya Kembali Islam
yang Gharib (Asing) di Akhir Zaman
Cahaya Islam (Al-Quran) bersinar cemerlang selama 3 abad sejak pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., tetapi kemudian secara bertahap dalam waktu 1000 tahun
berikutnya cahaya Islam (Al-Quran) semakin meredup serta mencapai puncak kegelapannya pada abad ke-14
Hijriyah, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ
اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun
dari apa yang kamu hitung.
(As-Sajdah
[32]:6). Lihat pula QS.25:46-48.
Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan
akan menimpa Islam dalam
perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan
dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup,
kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai mundur sesudah 3 abad
pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya.
Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan
dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya
dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
Dalam hadits lain -- sehubungan diwahyukan-Nya Surah Al-Jumu’ah sebelum ini -- Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa “iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan
seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi” (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir). Dengan
kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah,
laju kemerosotan Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku
(QS.61:10).
Jadi, mengisyaratkan kepada penyebaran agama Islam (Al-Quran) yang diajarkan Allah Swt. hakikat-hakikatnya
kepada Al-Masih Mau’ud a.s. –
yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- itulah yang dimaksud oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “ajaran Islam” yang kembali gharib
(asing) dalam pandangan umumnya umat
Islam di Akhir Zaman, karena mereka pada umumnya telah meninggalkan ajaran serta pemahaman tentang Islam
(Al-Quran) yang hakiki, firman-Nya:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. Dan demikianlah Kami telah menjadikan
musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau
sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat
dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang
Muslim di Akhir Zaman ini tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama
14 abad ini di mana Al-Quran demikian
rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini. Contohnya
telah dikemukakan mengenai kedurhakaan terhadap perintah Allah Swt. dalam
QS.3:103-106 agar mereka berpegang teguh
pada Tali Allah dan jangan berpecah-belah.
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari
Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh
masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan
dalam Al-Quran dan hadits Nabi Besar Muhammad saw. itu.
Kedua Al-Masih Mendapat Perlakuan
Zalim dari Kaumnya
Pengutusan Al-Masih Mau’ud a.s.
atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) – yakni Mirza Ghulam Ahmad
a.s., pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- tersebut
misinya sama dengan misi kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. di kalangan Bani Israil yang
sudah menyimpang jauh dari ajaran Taurat, firman-Nya:
وَ لَمَّا
جَآءَ عِیۡسٰی بِالۡبَیِّنٰتِ قَالَ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِالۡحِکۡمَۃِ وَ لِاُبَیِّنَ لَکُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ تَخۡتَلِفُوۡنَ فِیۡہِ
ۚ فَاتَّقُوا اللّٰہَ وَ اَطِیۡعُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ رَبِّیۡ
وَ رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡہُ ؕ
ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala
Isa datang dengan Tanda-tanda yang
nyata ia berkata: "Sungguh aku datang kepada kamu dengan hikmah, dan menjelaskan beberapa hal kepada kamu yang mengenainya kamu berselisih,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. "Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhan-ku dan Tuhan kamu maka sem-bahlah Dia, inilah jalan
yang lurus." (Az-Zukhruf [43]:64-65).
Namun sudah merupakan Sunnatullah, karena setiap Rasul Allah oleh kaumnya dianggap membawa ajaran
yang gharib (asing), yang bertentangan dengan apa yang mereka percayai, demikian pula halnya ketika Al-Masih Ibnu Maryam a.s. mau pun Al-Masih Mau’ud a.s. datang menggenapi nubuatan sebelumnya, maka kedua Rasul
Allah tersebut mendapat perlakuan
buruk yang sama dari kaumnya masing-masing,
firman-Nya:
فَاخۡتَلَفَ
الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ بَیۡنِہِمۡ ۚ
فَوَیۡلٌ لِّلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا مِنۡ
عَذَابِ یَوۡمٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ
اِلَّا السَّاعَۃَ اَنۡ
تَاۡتِیَہُمۡ بَغۡتَۃً وَّ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ اَلۡاَخِلَّآءُ
یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ
اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ؕ٪﴾
Tetapi golongan-golongan
di antara mereka berselisih, maka celakalah
bagi orang-orang zalim karena azab Hari yang pedih. ہَلۡ یَنۡظُرُوۡنَ اِلَّا
السَّاعَۃَ اَنۡ تَاۡتِیَہُمۡ
بَغۡتَۃً وَّ ہُمۡ لَا یَشۡعُرُوۡنَ -- Tidaklah yang mereka tunggu-tunggu selain Saat yang akan datang kepada mereka secara
tiba-tiba dan mereka tidak menyadari. اَلۡاَخِلَّآءُ یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ -- Kawan-kawan pada hari itu sebagian akan
bermusuhan dengan sebagian lain, kecuali orang-orang ber-takwa. (Az-Zukhruf
[43]:66-68).
Pada saat derita
sengsara akibat turunya azab Ilahi,
segala persahabatan dilupakan. Kawan-kawan
saling menjauhi, bahkan berubah menjadi musuh.
Di tempat lain Al-Quran memberikan penjelasan yang terinci mengenai keadaan orang-orang berdosa, bila mereka
diharapkan kepada akibat-akibat buruk
dari perbuatan buruk mereka
(QS.70:11-15; QS.80:35-38).
Golongan
Persekutuan (Al-Ahzab) Akan Saling Menyalahkan Perbuatan Zalim
yang Mereka Terhadap Rasul Allah dan Para
Pengikutnya
Makna lain dari ayat اَلۡاَخِلَّآءُ یَوۡمَئِذٍۭ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الۡمُتَّقِیۡنَ -- Kawan-kawan pada hari itu sebagian akan
bermusuhan dengan sebagian lain, kecuali orang-orang bertakwa”, bahwa golongan
persekutuan yang jumlahnya mayoritas serta sepakat menyatakan bahwa Rasul
Allah yang diutus kepada mereka membawa ajaran
yang sesat dan menyesatkan, mereka satu sama lain akan saling bermusuhan dan
saling menyalahkan akan perbuatan zalim yang mereka lakukan
terhadap Rasul Allah dan para pengikutnya berupa “pembakaran” orang-orang beriman dalam “parit-parit
api” kezaliman yang mereka kobarkan, termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Jemaat Muslim
Ahmadiyah, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ
الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا
فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ
الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ اِنَّ بَطۡشَ
رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang menyiksa orang-orang
beriman laki-laki dan perempuan
kemudian mereka tidak bertaubat, فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ
عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ -- maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar. Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ -- sesungguhnya
cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat
keras. (Al-Burūj [85]:11-13).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 17 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar