بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 31
Nubuatan
Terjadinya Pembangkangan Terhadap Perintah Allah Swt. berkenaan Kedatangan
Al-Masih Mau’ud a.s. atau Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir
Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya
telah dibahas firman Allah Swt.
mengenai perintah Allah Swt.
untuk mengikuti sikap terpuji para Hawari (pengikut) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal, yaitu pentingnya umat manusia atau umat beragama – terutama sekali umat Islam yang beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran --
untuk beriman kepada Rasul Akhir Zaman yaitu Al-Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58), selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ
اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ
قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ
اللّٰہِ فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی
عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی
ابۡنُ مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada
pengikut-pengikutnya, مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ
اِلَی اللّٰہِ -- “Siapakah penolong-penolongku
di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ
اَنۡصَارُ اللّٰہِ -- Pengikut-pengikut
yang setia itu berkata: “Ka-milah
penolong-penolong Allah.” فَاٰمَنَتۡ
طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan
lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ -- kemudian Kami
membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ -- lalu mereka
menjadi orang-orang yang
menang. (Ash-Shaff [61]:15).
Perintah Allah Swt. kepada orang-orang beriman – terutama umat Islam -- untuk meniru sikap terpuji para hawari
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut
merupakan peringatan dan juga nubuatan bahwa mereka jangan sampai meniru sikap buruk para pemuka kaum Yahudi yang bukan saja mendustakan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili,
bahkan mereka berusaha membunuhnya melalui penyaliban
(QS.156-159), yang mengundang kutukan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas mereka, sebagaimana sebelumnya Nabi Daud a.s. juga telah mengutuk mereka (QS.5:79-81).
Dari ketiga
golongan (sekte) agama di antara kaum
Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa a.s. menyampaikan tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes
– Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. termasuk
golongan Essenes sebelum beliau
diutus sebagai rasul Allah.
Kaum Essenes adalah kaum yang sangat
bertakwa, hidup jauh dari kesibukan
dan keramaian dunia, dan melewatkan
waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama
manusia. Dari kaum Essenes inilah
berasal bagian besar dari para pengikut
beliau di masa permulaan yaitu golongan hawariyyin
(“The Dead Sea Community,”
oleh Kurt Schubert, dan “The
Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para Penolong” oleh
Eusephus.
Kata-kata penutup Surah ini sungguh sarat
dengan nubuatan. Sepanjang zaman para
pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. – walau pun telah menyimpang jauh dari ajaran asli beliau dalam Injil
(QS.5:117-119) yakni umat Kristen -- telah
menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi.
Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum
yang cerai-berai sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”).
Nubuatan Terjadinya Pembangkangan Terhadap
Perintah Allah Swt.
Namun merupakan kekhasan Al-Quran, jika
Allah Swt. menekankan suatu perintah
berkenaan pelaksanaan (pengamalan)
sesuatu kepada suatu umat (kaum), maka di dalamnya terkandung pula nubuatan mengenai akan adanya pembangkangan terhadap perintah Allah Swt. tersebut dari umat
yang bersangkutan..
Contohnya adalah perintah kepada orang-orang
yang mengaku beriman dalam firman-Nya
tersebut yaitu untuk menjadi para penolong Allah, sebagaimana yang
dilakukan oleh para Hawari (pengikut)
Nabi isa Ibnu Maryam a.s.). Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut
ini:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا
ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا
عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ
مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- tiba-tiba kaum engkau meneriakkan
penentangan terhadapnya, dan
mereka berkata: اءَ اٰلِہَتُنَا
خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ -- "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak
menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka
adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا
عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami anugerahi
nikmat kepadanya, dan Kami
menjadikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf
[43]:58-60).
Shadda (yashuddu) berarti: ia
menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).
Kedatangan Al-Masih a.s. yang dilahirkan tanpa ayah merupakan tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan
dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk
selama-lamanya.
Karena matsal berarti sesuatu yang semacam (serupa) dengan atau sejenis
dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat
ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw. – yaitu
kaum Muslimin di Akhir
Zaman — diberitahu bahwa orang lain seperti
dan merupakan sesama Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. Israili akan dibangkitkan di antara mereka untuk
memperbaharui mereka dan
mengembalikan kejayaan ruhani mereka
yang telah hilang, maka mereka bukannya bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak mengajukan protes.
Jadi, ayat وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ – “dan apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai misal
اِذَا
قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- tiba-tiba kaum engkau meneriakkan
penentangan terhadapnya” dapat
dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk kedua kalinya, dalam wujud misal (orang yang seperti) beliau yang dibangkitkan dari kalangan Bani
Isma’il atau umat Islam (QS.11:18; QS.61:6-77; QS. 62:3-4), yakni Al-Masih
Mau’ud a.s.. Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.,
firman-Nya:
اَفَمَنۡ کَانَ
عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ
قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا
وَّ رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ
بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا
تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ
الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah orang yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya)
وَ
یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ -- dan ia
akan disusul pula oleh seorang saksi
dari-Nya untuk memuktikan kebenarannya, dan yang sebelumnya telah
didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat dikatakan seorang penipu? اُولٰٓئِکَ
یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ -- mereka itu beriman kepadanya, وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ
فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ -- dan
barangsiapa dari golongan itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan
baginya. فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭
اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ -- karena itu janganlah
engkau ragu-ragu mengenainya, اِنَّہُ الۡحَقُّ
مِنۡ رَّبِّکَ -- sesungguhnya
itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- tetapi kebanyakan
manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).
Al-Masih Mau’ud a.s. Sebagai Syāhid Mengenai Kebenaran
Nabi Besar Muhammad Saw.
Tiga dalil
telah dikemukakan dalam ayat ini untuk mendukung kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul Allah yang seperti (misal)
Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:15-19;
QS.46:11) dengan kata-kata: (a)
“Yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya), (b) “Ia
akan disusul pula oleh seorang saksi
dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya”, dan (c) “Yang sebelumnya
di dahului oleh Kitab Musa”.
(1) “Dalil yang nyata dari Rabb-nya
(Tuhan-nya)” ialah revolusi besar
dalam akhlak dan ruhani yang telah diwujudkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam kehidupan kaumnya yang sebelum itu bobrok
dan mundur keadaannya;
(2) “dan ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya”, saksi-saksi yang membuktikan kebenaran
beliau saw. ialah imam-imam rabbani --
terutama para mujaddid yang
dibangkitkan di setiap awal abad -- dari
antara pengikut beliau saw., yang dengan ajaran
dan perbuatannya akan menegakkan kebenaran Islam dan Al-Quran di tiap-tiap abad, dan saksi yang paling
sempurna ialah Al-Masih Mau’ud a.s., pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah, yang selain sebagai mujaddid
‘azham juga sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58).
(3) kata-kata “yang
sebelumnya didahului oleh Kitab Musa” menunjuk kepada nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Bible tentang Nabi Besar
Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِنَّہٗ
لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ نَزَلَ
بِہِ الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ؕ وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ اَوَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ
یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya
Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam. نَزَلَ بِہِ
الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ -- telah turun dengannya Ruh
yang terpercaya, عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ
الۡمُنۡذِرِیۡنَ -- atas
kalbu engkau supaya engkau termasuk di antara para pem-beri
peringatan. بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ
مُّبِیۡنٍ -- dengan bahasa
Arab yang jelas. وَ اِنَّہٗ لَفِیۡ
زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar
tercantum di dalam kitab-kitab2135
terdahulu. اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā [26]:193-198).
Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala
baru. Seperti amanat-amanat para nabi tersebut di atas, amanat Al-Quran juga telah diwahyukan
oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada kaum masing-masing, sedang Al-Quran
diturunkan untuk seluruh bangsa di dunia,
sebab Al-Quran “diturunkan oleh Tuhan
seluruh alam.”
Al-Quran Diwahyukan Melalui Ruhul
Amin (Malaikat Jibril a.s.) kepada Al-Amin
(Nabi Besar Muhammad saw.)
Dalam ayat 194 malaikat yang membawa wahyu Al-Quran disebut rūhul-amīn,
yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat
lain disebut Ruhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan terakhir dipergunakan dalam Al-Quran
untuk menunjuk kepada kebebasan yang
kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan
atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn)
mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi
terhadap segala usaha yang merusak
keutuhan teksnya. (QS.15:10).
Nama kehormatan (Rūhul-Amīn) ini secara khusus telah dipergunakan
berkenaan dengan wahyu Al-Quran,
sebab janji pemeliharaan Ilahi yang
kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab
suci lainnya; dan kata-kata dalam
kitab suci terdahulu itu, oleh karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
Sungguh mengherankan, bahwa di
Mekkah Nabi Besar Muhammad saw. sendiri
dikenal sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar
kesaksian mengenai keterpercayaan
Al-Quran, karena wahyu Al-Quran
dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibrail
a.s. kepada seorang amin
yakni Nabi Besar Muhammad saw..
Kata-kata “atas kalbu engkau” telah
dibubuhkan untuk mengatakan bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan gagasan yang dicetuskan Nabi Besar
Muhammad saw. dengan perkataan
beliau saw. sendiri, melainkan benar-benar Kalam
Allah Swt. Sendiri, yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibrail a.s..
(QS.53:1-19).
Hal
diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dan
hal turunnya Al-Quran, kedua-duanya
telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu. Kabar-kabar gaib tentang itu kita dapati
dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible — yang merupakan kitab
suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga
karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat — mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian.
Mengenai nubutan-nubuatan
dalam Bible tersebut lihat Ulangan
18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk
3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14,dengan demikian benarlah
pernyataan Allah Swt. dalam ayat: وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar
tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.
اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya?” (Asy-Syu’arā [26]:197-198).
“Hari-hari yang Dijanjikan” & Para pembuat “Parit Api” di Akhir Zaman
Jadi, kembali
kepada kedatangan seorang saksi
yang mendukung kebenaran pendakwaan Nabi
Besar Muhammad saw. yang muncul di kalangan umat
Islam di Akhir Zaman -- yakni Al-Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58), yaitu Mirza Ghulam Ahmad a.s.
– dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai kebenaran seorang “saksi” (syahid) dan “orang yang diberi kesaksian” (masyhud)
olehnya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ
شُہُوۡدٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ
اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ
الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ -- Demi langit
yang memiliki gugusan-gugusan bintang, وَ الۡیَوۡمِ
الۡمَوۡعُوۡدِ -- dan demi Hari
yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ
مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang
disaksikan, قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ -- binasalah para pemilik parit,
النَّارِ
ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- yaitu
Api yang dinyalakan dengan bahan
bakar, اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ -- ketika mereka
duduk3311 di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ -- dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا
مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ – dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena
mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ -- Yang kepunyaan-Nya
kerajaan seluruh langit dan bumi,
وَ
اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ -- dan Allah
menjadi Saksi atas segala sesuatu. (Al-Burūj [85]:1-10).
Mujaddid-mujaddid
Islam yang muncul di setiap awal abad atau
12
gugusan bintang di cakrawala ruhani
Islam, yang akan membuat cahaya Islam
berkilauan terus sesudah matahari ruhani
terbenam, yaitu, sesudah 3 abad Islam
paling baik berlalu (QS.32:6), sehingga membawa akibat tersebarnya kegelapan ruhani di seluruh dunia. Para mujaddid itu akan memberikan kesaksian mengenai kebesaran Islam, kebenaran Al-Quran
dan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimaa dikemukakan dalam QS.11:18
sebelum ini.
“Hari yang dijanjikan” itu dapat berarti
hari ketika Al-Masih Mau’ud a.s. atau
misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) akan dibangkitkan untuk
mendatangkan kebangkitan kembali Islam
yanag kedua kali (QS.61:10; QS.62:3-5). Pada hakikatnya banyak hari semacam itu dalam sejarah Islam
yang dapat disebut “Hari yang dijanjikan”,
seperti hari Pertempuran Badar, hari
ketika Pertempuran Khandak
berkesudahan dengan kejayaan besar, dan hari jatuhnya Mekkah.
Tetapi “Hari yang dijanjikan” yang paripurna itu
ialah masa kebangkitan kedua-kalinya Nabi Besar Muhammad saw. di mAkhir Zaman ini dalam
pribadi wakil beliau saw. pada abad
ke-14 Hijrah (QS.62:3-5), ketika agama
Islam akan memperoleh kehidupan baru
dan akan menang atas semua agama lainnya
(QS.61:10).
“Hari yang dijanjikan” itu dapat pula berarti hari
ketika orang-orang bertakwa akan
merasakan kelezatan nikmat pertemuan
dengan Tuhan mereka pada saat mereka mencapai derajat ruhani nafs-al-Muthmainnah
(jiwa yang tentram - (QS.89:27-31).
Masyhūd (Yang Diberi Kesaksian) dan Syāhid
(Yang Memberi Kesaksian)
Makna ayat وَ شَاہِدٍ
وَّ مَشۡہُوۡدٍ -- “dan demi saksi dan yang disaksikan” yaitu bahwa tiap nabi Allah atau mushlih rabbani adalah syāhid, yaitu yang memberi kesaksian,
disebabkan beliau seorang saksi hidup
akan adanya Allah Swt., dan beliau
itu pun masyhūd (yang diberi kesaksian) sebab Allah Swt. memberi kesaksian akan kebenaran
pendakwaannya sebagai rasul Allah dengan memperlihatkan Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat
di tangannya.
Tetapi di sini, seperti
nampak dari teks, syahid saksi)
adalah Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sedangkan masyhūd
(yang diberi kesaksian) adalah
Nabi Besar Muhammad saw. , dan ayat ini mengandung arti bahwa Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan memberi kesaksian akan kebenaran
pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh,
dan tulisan-tulisan beliau yang
luar-biasa dan dengan Tanda-tanda
yang akan ditampakkan Allah Swt. di tangan beliau.
Al-Masih Mau’ud a.s.
akan memberikan kesaksian pula dalam
arti bahwa dalam wujud beliau nubuatan
Nabi Besar Muhammad saw. sendiri telah memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaan
beliau sebagai Al-Masih Mau’ud a.s.
atau sebagai misal Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. (QS.43:58) atau sebagai Rasul
Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-5).
Dengan demikian Nabi Besar Muhammad saw.
atau misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11) dan
Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) itu bersama-sama
merupakan syāhid (saksi) dan
masyhūd (yang diberi kesaksian).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 13 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar