بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 40
Definisi “Tuhan
Yang Hakiki” -- Wujud Yang Wajib Disembah Seluruh Umat Manusia yakni Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dibahas
mengenai kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., Tuhan Yang
Hakiki, firman-Nya:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾ قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun,
melainkan seperti orang yang mengulurkan
kedua tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia belaka. Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi dengan rela
atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
Katakanlah: “Apakah kamu mengambil
selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan ataupun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta
dan orang-orang yang melihat? Atau samakah
gelap dan terang? Atau apakah
mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya
Allah yang telah menciptakan segala
sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,
Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17).
Kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. Sebagai “Tuhan
Yang Hakiki”
Ungkapan لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ -- “Hanya
Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar)” diterjemahkan sebagai berikut: (1)
Allah Swt. sajalah
yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada
Allah Swt. sajalah yang dapat berguna
dan berfaedah bagi manusia; (3) Suara Allah Swt. sajalah yang berkumandang untuk
mendukung kebenaran; dan (4) Suara Allah Swt. sajalah
yang akan unggul.
Makna
ayat وَ
الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا
یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا
کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ
لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ -- “dan mereka
yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke
air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu
tidak akan sampai kepadanya,
dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia belaka.”
Makna ayat tersebut adalah bahwa jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat yakni memberikan kedudukan kepada Allah Swt. kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan, yang mereka berhak memilikinya.
Hanya itu saja satu-satunya jalan
untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Makna ayat selanjutnya: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا
وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ -- “Dan
kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi dengan rela
atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari” mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan (diciptakan) Allah Swt. mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum
alam yang diadakan oleh-Nya. Lidah
harus melaksanakan tugas mencicip dan
telinga tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya kepada hukum-hukum alam
itu dapat disebut sebagai dipaksakan.
Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan -- yang untuk melakukannya manusia nampaknya
dianugerahi kebebasan (QS.18:30)
-- ia sedikit-banyak harus tunduk
kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang”
dapat juga mengisyaratkan kepada dua
golongan manusia, yaitu orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada Allah Swt., dan orang-orang
kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu.
Makna “Pertanyaan” yang Dijawab Sendiri & Perbedaan Ahad dan Wahid
Kalimat dalam ayat berikutnya sangat unik, karena Allah Swt. memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw.
untuk mengajukan “pertanyaan” kepada orang-orang musyrik tersebut, tetapi
beliau saw. juga yang diperintahkan “menjawabnya”, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ
اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ
لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ
الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit
dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan ataupun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta
dan orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau apakah mereka itu menjadikan bagi Allah
sekutu yang telah menciptakan
seperti ciptaan-Nya sehingga kedua
jenis ciptaan itu nampak serupa saja
bagi mereka?” (Ar-Rā’d [13]: 17).
Salah satu makna dari keunikan ayat tersebut adalah karena jawaban yang akan diberikan oleh orang-orang musyrik terhadap “pertanyaan”
beliau saw. tersebut pasti akan ngawur tidak
keruan, sedang tujuan Allah Swt. mewahyukan Al-Quran
kepada Nabi Besar Muhammad saw. di antaranya adalah untuk memperkenalkan kepada umat
manusia mengenai kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., “Tuhan yang Hakiki” yang harus disembah
oleh umat manusia, firman-Nya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,
sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hajj [22]:75).
Makna ayat surah Ar- Rā’d selanjutnya: قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- “Katakanlah:
“Hanya Allah yang telah
menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah
Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk
menyatakan ke-Esa-an Allah Swt.: (1)
Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada Keesaan Tuhan yang mutlak, tanpa
pertalian dengan wujud lain maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai
lanjutannya.
Kriteria “Tuhan Yang Hakiki”
Menurut Surah Al-Ikhlash
Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt. itu “Sumber”
sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt., sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga dan seterusnya menunjuk kepada yang pertama. Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan
itu, maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Maha Esa dan senantiasa Esa
serta Tunggal dan Yang tidak beranak (QS.112:2).
Mengenai hal tersebut Allah Swt.
menjelaskannya secara khusus dalam Surah Al-Ikhlash,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah
Yang Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [111]:1-5).
Surah ini dinamakan Al-Ikhlash sebab dengan membaca Surah
ini dan merenungkan isinya, pasti akan menimbulkan dalam hati si pembaca suatu
pertautan mendalam dengan Tuhan Yang Hakiki, yakni Allah Swt.. Ada pun yang
menambah amat pentingnya bobot Surah ini ialah kenyataan bahwa sementara Al-Fatihah dianggap sebagai ikhtisar
seluruh Al-Quran, dengan mengemukakan empat Sifat Tasybihiyyah
utama Allah Swt – Rabbubiyyat, Rahmāniyat, Rahīmiyyat dan Māliki
yaumid-Dīn) , Surah Al-Ikhlash sekarang ini bersama-sama
dengan dua Surah berikutnya (Al-Falāq dan An-Nās) mengulangi lagi isi yang terkandung dalam Al-Fatihah.
Surah ini membahas keempat sifat Tanzihiyah
Allah yang utama dan mem-bawahi semua Sifat
Ilahi lainnya, sedang Surah Al-Fatihah
membahas keempat sifat Tasybihiyah Allah yang pokok. Sifat Tasybihiyyah adalah Sifat-sifat Allah Swt. yang sampai batas
tertentu dapat dimiliki atau dapat ditiru
-- atau dianugerahkan Allah Swt.
– kepada makhluk-Nya, terutama
manusia; sedangkan Sifat Tanzhihiyyah adalah Sifat-sifat yang khusus hanya dimiliki Allah Swt., dan menjadi kriteria “Tuhan Yang Hakiki.”
Dengan demikian siapa pun atau apa pun
yang dianggap sebagai “Tuhan sembahan” tetapi tidak memenuhi kriteria
“Tuhan Sembahan” dalam Surah Al-Ikhlash
maka pasti bukan Al-Khāliq (Tuhan Maha Pencipta)
melainkan makhluq (wujud yang diciptakan), termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus).
Makna “Ahad” dan “Wahid”
& Ash-Shamad
Kata qul (katakan) dalam ayat قُلۡ
ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ -- “Katakanlah: “Dia-lah
Allah Yang
Maha Esa” mengandung perintah
kekal kepada orang-orang Islam
untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa.” Kata Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir
asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan
berarti “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam
di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri
(QS.7:173-175; QS.30:31-33).
Allah
adalah nama khas, dipergunakan
dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa.
Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau
wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan
pula keterangan. Lihat pula catatan nomor 3.
Ahad
adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali
dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam
ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane). Sementara Ahad berarti Keesaan Tuhan dalam Wujud-Nya – sehingga gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya.
Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wahidun akan berarti,
bahwa “Tuhan itu Wujud Tertinggi dan
merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk”; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa “Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal”
dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan
adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti. Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata
rantai terakhir. Tidak ada sesuatu seperti
Dia dan Dia pun tidak seperti benda
apapun. Inilah hakikat Allah menurut
paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.
Shamad
dalam ayat
اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- “Allah, adalah Tuhan Yang
segala sesuatu bergantung pada-Nya,” berarti:
seorang yang menjadi tumpuan memenuhi
segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan;
orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
Karena Ash-Shamad merupakan salah satu Sifat Tuhan, berarti: Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak
bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan
keperluannya; Yang akan terus berwujud
untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang
tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon
Lane).
Dalam ayat
yang mendahuluinya telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa (Ahad) Tunggal, dan Mandiri. Ayat sekarang ini mendukung
pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan kepada Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan
Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun. Dia tidak memerlukan wujud atau zat
apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini
sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada
sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah satu-satunya Wujud Yang tidak
bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya
khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.
Makna Allah Swt. “Tidak Beranak” dan “Tidak
Diperanakan” & Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta
Makna
ayat لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ -- “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.” Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan
tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk
mengukuhkan pemyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada
tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat ini sifat لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- “Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad
(Dia berada di atas segala keperluan), sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari
pikiran, Dia memerlukan bantuan dari
seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan
pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, sebab
semua wujud yang menjadi pengganti
atau yang digantikan wujud lain,
tunduk kepada hukum kematian.
Sedangkan Allah Swt. tidak menggantikan
siapapun dan tidak akan diganti oleh
siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan
mutlak.
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman: وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- “dan
tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” Ayat ini
menghilangkan suatu keraguan yang
mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya.
Taruhlah bahwa Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud
lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki
oleh-Nya.
Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat
ini mengatakan bahwa tidak ada wujud
lain seperti Allah Swt.. Akal manusia
pun menuntut bahwa harus ada hanya satu
Pencipta dan Pengawas seluruh
alam raya. Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun
menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan
serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan ke-Esa-an Sang Pencipta, firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ لَا یُسۡـَٔلُ
عَمَّا یَفۡعَلُ وَ
ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi ada
tuhan-tuhan selain Allah pasti
binasalah kedua-duanya, maka Maha
Suci Allah Tuhan ‘Arasy itu, jauh di
atas segala yang mereka sifatkan. Dia tidak
akan ditanya me-ngenai apa yang Dia kerjakan, sedangkan mereka akan ditanya. (Al-Anbiya
[21]:23).
Ayat ini merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan.
Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak, bahwa
suatu tertib yang sempurna melingkupi
dan meliputi seluruh alam raya. Tertib
ini menunjukkan bahwa ada hukum yang
seragam mengaturnya, dan keseragaman
hukum-hukum membuktikan ke-Esa-an Wujud Pencipta dan Pengatur
alam raya, yakni Allah Swt..
Seandainya ada
Tuhan lebih dari satu tentu lebih
dari satu hukum akan mengatur alam —
sebab adalah perlu bagi suatu wujud tuhan
untuk menciptakan alam-semesta ciptaannya
dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai
akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang
tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam
akan menjadi hancur berantakan.
Karena itu sungguh janggal faham “Trinitas”
yang mengatakan bahwa tiga tuhan yang
sama-sama sempurna dalam segala segi,
bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi alam raya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 26 Januari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar