Selasa, 27 Januari 2015

Definisi "Tuhan Yang Hakiki" - Wujud Yang Wajib Disembah Seluruh Umat Manusia, yakni Allah Swt.





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 40

  
   Definisi  Tuhan Yang Hakiki” --  Wujud Yang Wajib Disembah Seluruh Umat Manusia  yakni Allah Swt. 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai  kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., Tuhan Yang Hakiki, firman-Nya: 
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ     قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar),  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.   Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari.    Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan   orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,  Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17).

Kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. Sebagai “Tuhan Yang Hakiki

      Ungkapan لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ  -- “Hanya Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar)”  diterjemahkan sebagai berikut: (1)  Allah Swt.  sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt. sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) Suara Allah Swt. sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan (4) Suara Allah Swt.   sajalah yang akan unggul.
         Makna ayat   وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ   -- “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.”
        Makna ayat tersebut adalah bahwa jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat yakni  memberikan kedudukan kepada Allah Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan, yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
          Makna ayat selanjutnya:  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan (diciptakan) Allah Swt.  mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan oleh-Nya. Lidah harus melaksanakan tugas mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar.
        Tunduknya kepada hukum-hukum alam itu dapat disebut sebagai dipaksakan. Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat  di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan  --  yang untuk melakukannya manusia nampaknya dianugerahi kebebasan    (QS.18:30) -- ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
    Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  --   “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, yaitu  orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt.,    dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dengan menggerutu.

Makna “Pertanyaan  yang Dijawab Sendiri & Perbedaan Ahad dan Wahid

       Kalimat dalam ayat  berikutnya sangat unik,  karena Allah Swt. memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw. untuk mengajukan “pertanyaan” kepada orang-orang musyrik tersebut, tetapi beliau saw. juga yang diperintahkan  menjawabnya”, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?”  (Ar-Rā’d [13]: 17).
        Salah satu makna dari   keunikan ayat tersebut adalah karena jawaban  yang akan diberikan oleh orang-orang musyrik terhadap “pertanyaan” beliau saw. tersebut pasti akan ngawur  tidak keruan, sedang tujuan Allah Swt.  mewahyukan  Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. di antaranya adalah untuk memperkenalkan kepada umat manusia mengenai kesempurnaan  Sifat-sifat  Allah Swt., “Tuhan yang Hakiki” yang harus disembah oleh umat manusia, firman-Nya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ   --   Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hajj [22]:75).
       Makna ayat surah Ar- Rā’d  selanjutnya: قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ  --  “Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,  Maha Perkasa.”  Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk menyatakan ke-Esa-an Allah Swt.: (1) Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada Keesaan Tuhan yang mutlak, tanpa pertalian dengan wujud lain maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai lanjutannya.

Kriteria “Tuhan Yang Hakiki” Menurut Surah Al-Ikhlash

         Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt.  itu “Sumber” sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt.,  sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga dan seterusnya menunjuk kepada yang pertama. Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan itu, maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Maha Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak beranak (QS.112:2).
        Mengenai hal tersebut Allah Swt. menjelaskannya secara khusus dalam Surah Al-Ikhlash, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: “Dia-lah Allah   Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.    Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,     dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [111]:1-5).
   Surah ini dinamakan Al-Ikhlash sebab dengan membaca Surah ini dan merenungkan isinya, pasti akan menimbulkan dalam hati si pembaca suatu pertautan mendalam dengan Tuhan Yang Hakiki, yakni Allah Swt.. Ada pun yang menambah amat pentingnya bobot Surah ini ialah kenyataan bahwa sementara Al-Fatihah dianggap sebagai ikhtisar seluruh Al-Quran, dengan mengemukakan empat Sifat  Tasybihiyyah utama Allah Swt – Rabbubiyyat, Rahmāniyat, Rahīmiyyat dan Māliki yaumid-Dīn) , Surah  Al-Ikhlash sekarang ini bersama-sama dengan dua Surah berikutnya  (Al-Falāq dan An-Nās) mengulangi lagi isi yang terkandung dalam Al-Fatihah.
   Surah ini membahas keempat sifat Tanzihiyah Allah yang utama dan mem-bawahi semua Sifat Ilahi lainnya, sedang Surah Al-Fatihah membahas keempat sifat Tasybihiyah Allah yang pokok. Sifat Tasybihiyyah adalah Sifat-sifat Allah Swt. yang sampai batas tertentu dapat dimiliki atau dapat ditiru   -- atau dianugerahkan Allah Swt.  – kepada makhluk-Nya, terutama manusia; sedangkan Sifat Tanzhihiyyah adalah Sifat-sifat yang khusus hanya dimiliki Allah Swt., dan menjadi kriteria   Tuhan Yang Hakiki.
     Dengan demikian siapa pun atau apa pun yang  dianggap sebagai “Tuhan sembahan” tetapi tidak  memenuhi kriteria “Tuhan Sembahan” dalam Surah Al-Ikhlash maka pasti bukan  Al-Khāliq (Tuhan Maha Pencipta) melainkan makhluq  (wujud yang diciptakan), termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. (Yesus Kristus).

Makna “Ahad” dan “Wahid” &  Ash-Shamad

   Kata qul (katakan) dalam ayat  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ    -- “Katakanlah: “Dia-lah Allah   Yang Maha Esa  mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa.”  Kata  Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti  Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173-175; QS.30:31-33).
    Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan. Lihat pula catatan nomor 3.
  Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane). Sementara Ahad berarti Keesaan Tuhan dalam Wujud-Nya – sehingga gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya.
    Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wahidun akan berarti, bahwa “Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk”; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa “Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal” dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti. Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.
  Shamad  dalam ayat  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ  -- “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya,berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
    Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu Sifat Tuhan, berarti:  Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
Dalam ayat yang mendahuluinya telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa (Ahad) Tunggal, dan Mandiri. Ayat sekarang ini mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan kepada Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun. Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.

Makna  Allah Swt. “Tidak Beranak” dan “Tidak Diperanakan” & Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta

    Makna ayat  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   -- “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”  Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pemyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat ini sifat لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ     -- “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan), sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran, Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, sebab semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain, tunduk kepada hukum kematian. Sedangkan  Allah Swt. tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak.
   Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.”  Ayat ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
   Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah Swt.. Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan ke-Esa-an Sang Pencipta, firman-Nya:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾  لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya,  maka Maha Suci Allah  Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan.    Dia tidak akan ditanya me-ngenai apa yang Dia kerjakan,  sedangkan mereka  akan ditanya. (Al-Anbiya [21]:23).
        Ayat ini merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak, bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam raya. Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan ke-Esa-an Wujud Pencipta dan Pengatur alam raya, yakni Allah Swt..
        Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam — sebab adalah perlu bagi suatu wujud tuhan untuk menciptakan alam-semesta ciptaannya dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur berantakan. Karena itu sungguh janggal faham “Trinitas” yang mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi, bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi alam raya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 26  Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar