بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 39
Manusia Sangat Memerlukan “Maghfirah” (Pengampunan) Allah Swt. dan
Tidak Memerlukan “Penebusan Dosa” Siapa Pun
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai Tuhan
hakiki Yang Maha
Hidup Yang menampakkan Wujud-Nya kepada hamba-hamba-Nya
dengan mengabulkan doa-doa mereka dan
menghibur mereka dalam waktu susah dengan mengucapkan kepada mereka kata-kata penenteraman hati dan hiburan,
berikut firman-Nya mengenai tersebut
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا سَاَلَکَ
عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ
الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada
engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ -- maka sesungguhnya Aku dekat. Aku
mengabulkan doa-doa orang yang berdoa
apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- karena
itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku
dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah
[2]:187).
Maghfirah (Pengampunan) Allah Swt. Meliputi
Kehidupan Dunia dan Akhirat
Demikian pula mengenai Sifat Maha
Pengampun-Nya yang sangat luas sehingga
orang-orang yang berdosa tidak
memerlukan sarana “penebusan dosa” apa pun selain bertaubat
dengan tulus-ikhlas kepada-Nya
(QS.66:9), firman-Nya:
قُلۡ
یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Az-Zumar [39]:54).
Berulang-ulang
Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah Swt. (QS.6:55; QS.7:157;
QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat
hiburan dan menenteramkan hati
yang lebih bagi mereka yang sedang berhati
lara dan masygul lebih besar daripada itu karena banyak melakukan dosa, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan kamu dan akan memasukkanmu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya mereka akan
berlari-lari di hadapan mereka dan di
sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrim
[66]:9).
Manusia Senantiasa Memerlukan Maghfirah Allah Swt.
Dari ayat یَوۡمَ لَا یُخۡزِی
اللّٰہُ النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- “pada hari ketika Allah tidak akan
menghinakan Nabi maupun orang-orang
yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya mereka akan
berlari-lari di hadapan mereka dan di
sebelah kanannya”, mengisyaratkan bahwa keinginan tidak kunjung padam untuk meraih kesempurnaan
pada pihak orang-orang yang beriman di surga
sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata,
رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا
وَ اغۡفِرۡ لَنَا -- “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,“ menunjukkan bahwa
kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur.
Kebalikannya, kemajuan ruhani para penghuni
surga di dalam surga tiada
berhingga, sebab ketika orang-orang
beriman akan mencapai kesempurnaan -- yang menjadi ciri tingkat tertentu kehidupan surgawi -- mereka tidak akan berhenti sampai di situ,
melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan yang lebih
tinggi, dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan
tingkat tertinggi, maka ia akan maju
terus dan seterusnya tanpa berakhir. Itulah makna doa mereka رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا
-- “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami.“
Selanjutnya tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman akan mencapai maghfirah – yakni penutupan kekurangan (Lexicon Lane). Mereka akan
terus-menerus berdoa kepada Allah
Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan
sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi
dan akan terus naik kian menanjak ke
atas dan memandang tiap-tiap tingkat
sebagai ada kekurangan dibandingkan
dengan tingkat lebih tinggi yang
didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa
kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya atau menganugerahkah maghfirah-Nya, sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna
yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”
Pendek kata, Sifat Maha Pengampun Allah Swt. tersebut,
bukan hanya berlaku di dalam kehidupan
di dunia ini saja, bahkan di akhirat pun manusia --
baik para penghuni neraka mau
pun para penghuni surga -- sangat memerlukan maghfirah (pengampunan) Allah Swt.. Jadi, manusia -- baik di dunia mau pun di akhirat -- sama sekali tidak memerlukan “penebusan dosa” siapa pun.
Perumpamaan Kelemahan “Berhala-berhala” yang Dipertuhankan
Itulah sebabnya Allah Swt. telah
mengemukakan perumpamaan mengenai ketidakberdayaan ”tuhan-tuhan
palsu” -- yang keberadaannya direkayasa oleh orang-orang
jahiliyah karena kebodohan
mereka -- termasuk masalah “penebusan
dosa”, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil
itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain
Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya lalat
itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.
مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,
sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hajj [22]:74-75).
Ayat 74 menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan
mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan
dan tidak berdaya, dan betapa
bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan
seperti itu. Sedangkan makna ayat مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- “mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,
sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa,” ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang sangat rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — yakni berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu yang mereka buat
sendiri — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq (Tuhan
Maha Pencipta) Yang Agung.
Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan
seperti halnya manusia. Subhānallāh.
Dalam Surah
berikut ini dikemukakan perumpamaan lainnya mengenai kelemahan tuhan-tuhan palsu serta kesia-siaan menyembahnya, firman-Nya:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾ قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun,
melainkan seperti orang yang mengulurkan
kedua tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia belaka. Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi dengan rela
atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
Katakanlah: “Apakah kamu mengambil
selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan ataupun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta
dan orang-orang yang melihat? Atau samakah
gelap dan terang? Atau apakah
mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya
Allah yang telah menciptakan segala
sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,
Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17).
Kesempurnaan Sifat-sifat
Allah Swt., Tuhan Yang Hakiki
Ungkapan لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ -- “Hanya
Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar)” diterjemahkan sebagai berikut: (1) Allah Swt. sajalah yang layak disembah; (2)
hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt. sajalah yang dapat berguna
dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt. sajalah yang
berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan (4) suara Allah Swt. sajalah yang akan unggul.
Makna
ayat وَ
الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا
یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا
کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ
لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ -- “dan mereka
yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke
air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu
tidak akan sampai kepadanya,
dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia belaka.”
Makna ayat tersebut adaklah bahwa jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat yakni memberikan kedudukan kepada Allah Swt. kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan, yang mereka berhak memilikinya.
Hanya itu saja satu-satunya jalan
untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Makna ayat selanjutnya: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا
وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ -- “Dan
kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi dengan rela
atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari” mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan (diciptakan) Allah Swt. mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum
alam yang diadakan oleh-Nya. Lidah
harus melaksanakan tugas mencicip dan
telinga tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya kepada hukum-hukum alam
itu dapat disebut sebagai dipaksakan.
Tetapi manusia diberi juga kebebasan
tertentu untuk berbuat di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan -- yang untuk melakukannya ia nampaknya
dianugerahi kebebasan -- ia
sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah
Swt. dalam
berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang”
dapat juga mengisyaratkan kepada dua
golongan manusia, yaitu orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada Allah Swt., dan orang-orang
kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu.
Makna “Pertanyaan” yang Dijawab Sendiri & Perbedaan Ahad dan Wahid
Kalimat dalam ayat berikutnya sangat unik, karena Allah Swt. memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw.
untuk mengajukan “pertanyaan” kepada orang-orang
musyrik tersebut, tetapi beliau saw. juga yang diperintahkan “menjawabnya”, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ
اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖۤ
اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ
لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ
الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit
dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan ataupun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta
dan orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau apakah mereka itu menjadikan bagi Allah
sekutu yang telah menciptakan
seperti ciptaan-Nya sehingga kedua
jenis ciptaan itu nampak serupa saja
bagi mereka?” (Ar-Rā’d [13]: 17).
Salah satu makna dari keunikan
ayat tersebut adalah karena jawaban yang akan diberikan oleh orang-orang musyrik terhadap “pertanyaan”
beliau saw. tersebut pasti akan ngawur tidak
keruan, sedang tujuan Allah Swt. mewahyukan Al-Quran
kepada Nabi Besar Muhammad saw. di antaranya adalah untuk memperkenalkan kepada umat
manusia mengenai kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., “Tuhan yang Hakiki” yang harus disembah
oleh umat manusia, firman-Nya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,
sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hajj [22]:75).
Makna ayat surah Ar- Rā’d
selanjutnya: قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ
وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- “Katakanlah:
“Hanya Allah yang telah
menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah
Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk
menyatakan ke-Esa-an Allah Swt.: (1)
Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada Keesaan Tuhan yang mutlak, tanpa
pertalian dengan wujud lain maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai
lanjutannya.
Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt. itu “Sumber”
sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt., sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga dan seterusnya menunjuk kepada yang pertama. Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan
itu, maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Maha Esa dan senantiasa Esa
serta Tunggal dan Yang tidak beranak (QS.112:2).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 24 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar