Senin, 26 Januari 2015

Manusia Sangat Memerlukan "Maghfirah" (Pengampunan) Allah Swt. dan Tidak Memerlukan "Penebusan Dosa" Siapa Pun








بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 39

  
   Manusia Sangat Memerlukan “Maghfirah” (Pengampunan) Allah Swt. dan Tidak Memerlukan    “Penebusan Dosa” Siapa Pun    

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai  Tuhan hakiki  Yang  Maha Hidup   Yang menampakkan Wujud-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan mengabulkan doa-doa mereka dan menghibur  mereka dalam waktu susah dengan mengucapkan kepada mereka kata-kata penenteraman hati dan hiburan, berikut firman-Nya  mengenai tersebut kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   maka sesungguhnya Aku dekat.  Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ  -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).

Maghfirah (Pengampunan) Allah Swt. Meliputi Kehidupan Dunia dan Akhirat

       Demikian pula mengenai  Sifat Maha Pengampun-Nya yang sangat luas sehingga  orang-orang yang berdosa tidak memerlukan  sarana “penebusan dosa” apa pun selain bertaubat dengan tulus-ikhlas kepada-Nya (QS.66:9), firman-Nya:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa  dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Az-Zumar [39]:54).
    Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah Swt. (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan menenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul  lebih besar daripada itu   karena banyak melakukan dosa, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan kamu dan akan memasukkanmu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ   -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya,  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ  -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami,  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).

Manusia Senantiasa Memerlukan Maghfirah Allah Swt.

       Dari ayat یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ     -- “pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ   -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya”,  mengisyaratkan bahwa keinginan tidak kunjung padam untuk meraih  kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata,  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا --  “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,“ menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur.
      Kebalikannya, kemajuan ruhani para penghuni surga di dalam surga tiada berhingga,  sebab ketika orang-orang beriman  akan mencapai kesempurnaan  --  yang menjadi ciri tingkat tertentu  kehidupan surgawi  -- mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi, dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi, maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir. Itulah makna doa mereka رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا --  “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami.“
   Selanjutnya tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirah – yakni penutupan kekurangan (Lexicon Lane). Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas dan memandang tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya  atau menganugerahkah maghfirah-Nya, sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”
   Pendek kata, Sifat Maha Pengampun Allah Swt. tersebut, bukan hanya berlaku di dalam kehidupan di dunia ini saja, bahkan di akhirat pun manusia   --  baik para penghuni neraka mau pun  para penghuni surga  --  sangat memerlukan maghfirah (pengampunan) Allah Swt.. Jadi, manusia   -- baik di dunia mau pun di akhirat   -- sama sekali tidak memerlukan “penebusan dosa” siapa pun.

Perumpamaan Kelemahan “Berhala-berhala” yang Dipertuhankan

     Itulah sebabnya Allah Swt. telah mengemukakan perumpamaan  mengenai ketidakberdayaan  tuhan-tuhan palsu  -- yang  keberadaannya direkayasa oleh orang-orang jahiliyah karena kebodohan mereka  -- termasuk masalah “penebusan dosa”, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾   مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu.  ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ   --   Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hajj [22]:74-75).
       Ayat  74  menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan seperti itu.  Sedangkan makna ayat    مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ   --   “mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa,”   ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang sangat rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — yakni berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu yang mereka buat sendiri — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq (Tuhan Maha Pencipta) Yang Agung.
       Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia. Subhānallāh. 
    Dalam Surah  berikut ini   dikemukakan perumpamaan  lainnya mengenai kelemahan tuhan-tuhan palsu serta kesia-siaan menyembahnya, firman-Nya:  
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ     قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar),  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.   Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hariKatakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan   orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,  Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17).

Kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., Tuhan Yang Hakiki

      Ungkapan لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ  -- “Hanya Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar)”  diterjemahkan sebagai berikut: (1)  Allah Swt.  sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt. sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt. sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan (4) suara Allah Swt.   sajalah yang akan unggul.
          Makna ayat   وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ   -- “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.”
       Makna ayat tersebut adaklah bahwa jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat yakni  memberikan kedudukan kepada Allah Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan, yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
           Makna ayat selanjutnya:  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan (diciptakan) Allah Swt.  mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan oleh-Nya. Lidah harus melaksanakan tugas mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar.
       Tunduknya kepada hukum-hukum alam itu dapat disebut sebagai dipaksakan. Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat  di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan  --  yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan    -- ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
   Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا  --   “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, yaitu  orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt.,    dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dengan menggerutu.

Makna “Pertanyaan yang Dijawab Sendiri & Perbedaan Ahad dan Wahid

         Kalimat dalam ayat  berikutnya sangat unik,  karena Allah Swt. memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw. untuk mengajukan “pertanyaan” kepada orang-orang musyrik tersebut, tetapi beliau saw. juga yang diperintahkan  “menjawabnya”, firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?”  (Ar-Rā’d [13]: 17).
        Salah satu makna dari   keunikan ayat tersebut adalah karena jawaban  yang akan diberikan oleh orang-orang musyrik terhadap “pertanyaan” beliau saw. tersebut pasti akan ngawur  tidak keruan, sedang tujuan Allah Swt.  mewahyukan  Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. di antaranya adalah untuk memperkenalkan kepada umat manusia mengenai kesempurnaan  Sifat-sifat  Allah Swt., “Tuhan yang Hakiki” yang harus disembah oleh umat manusia, firman-Nya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ   --   mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hajj [22]:75).
      Makna ayat surah Ar- Rā’d  selanjutnya: قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ  --  “Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,  Maha Perkasa.”  Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk menyatakan ke-Esa-an Allah Swt.: (1) Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada Keesaan Tuhan yang mutlak, tanpa pertalian dengan wujud lain maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai lanjutannya.
          Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt.  itu “Sumber” sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt.,  sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga dan seterusnya menunjuk kepada yang pertama. Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan itu, maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Maha Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak beranak (QS.112:2).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 24 Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar