Rabu, 28 Januari 2015

Kesamaan "Postur" dan "Struktur" Tubuh Manusia Mengisyaratkan Kepada "Satu Tuhan Pencipta" yaitu Allah Swt.






بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 41

  
Kesamaan Postur dan Struktur Tubuh Manusia Mengisyaratkan Kepada Satu  Tuhan Pencipta   yaitu Allah Swt.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai  ayat terakhir Surah Al-Ikhlash:   وَ لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.”  Ayat ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat-ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah   Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, atau taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah Allah   Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.    Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,     dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [111]:1-5).
   Ayat    وَ لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara  dengan-Nya”  ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah Swt.. Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya.  Firman-Nya:
فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ  اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا ۚ یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ ؕ لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Dia  Pencipta seluruh langit dan bumi.  جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ  اَزۡوَاجًا  -- Dia menjadikan pasangan-pasangan  bagi kamu dari jenismu,  dan dari binatang ternak pun pasangan-pasangan,  یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ -- Dia mengembangbiakkan kamu di dalamnya. لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ  -- Tidak  ada sesuatu pun semisal-Nya وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ  -- dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy-Syūra [42]:12).
     Allah Swt. mengembangbiakkan umat manusia dengan jalan menjalin perhu-bungan di antara suami-istri, yang merupakan makhluk “sejenis” – yakni sesama manusia:  جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ  اَزۡوَاجًا  -- “Dia menjadikan pasangan-pasangan  bagi kamu dari jenismu Itulah makna ayat  یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ – “Dia mengembangbiakkan kamu di dalamnya.”
     Kata-kata, لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ    --  "Tidak ada semisal-Nya sesuatu pun," melenyapkan kesalahfahaman yang mungkin timbul disebabkan kalimat "Tuhan telah membuat segala sesuatu berpasangan," yaitu  bahwa Allah Swt. juga memerlukan istri untuk dijadikan pasangan.
   Kata-kata itu berarti bahwa tidaklah mungkin mengkhayalkan sesuatu sebagai Allah Swt. karena Tuhan itu jauh di atas pengamatan dan pengertian manusia. Karena itu sungguh bodoh  mencoba menemukan kesamaan antara Sifat-sifat Ilahi dengan sifat-sifat manusia, meskipun kedua-duanya mungkin mempunyai suatu persamaan yang jauh dan tidak sempurna dalam hal  Sifat-sifat Mutasyabihat-Nya. Itulah makna ayat: :   وَ لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.”  (Al-Ikhlash [111]:5).

Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta Membantah Kemusyrikan

   Sistem kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam semesta pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan  bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan ke-Esa-an Sang Pencipta, yakni Allah Swt., firman-Nya:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾  لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya,  maka Maha Suci Allah  Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan.  لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ --   Dia tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan,  sedangkan mereka  akan ditanya. (Al-Anbiya [21]:23).
         Ayat ini merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak kenyataan, bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam raya., bahwa tertib  sempurna yamng demikian menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan ke-Esa-an Wujud Pencipta dan Pengatur alam raya, yakni Allah Swt..
        Seandainya ada Tuhan lebih dari satu,  tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam semesta — sebab adalah perlu bagi suatu wujud tuhan untuk menciptakan alam-semesta ciptaannya  dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai akibatnya niscaya akan terjadi kekalutan dan kekacauan yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur berantakan. Karena itu sungguh janggal faham “Trinitas” yang mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi, bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi alam raya.
         Firman Allah Swt. selanjutnya:  لَا  یُسۡـَٔلُ  عَمَّا  یَفۡعَلُ  وَ  ہُمۡ  یُسۡـَٔلُوۡنَ  -- “Dia tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan,  sedangkan mereka  akan ditanya   menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya tata-tertib alam semesta, sebab hal itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya serta mengisyaratkan pula kepada ke-Esa-an-Nya.
Ayat ini berarti bahwa kekuasaan Allah Swt.  mengatasi segala sesuatu, sedang semua wujud dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan,  sehubungan dengan hal tersebut  Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk bertanya kepada orang-orang musyrik:
قُلۡ لِّمَنِ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہَاۤ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  سَیَقُوۡلُوۡنَ  لِلّٰہِ ؕ قُلۡ  اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ﴿﴾  قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ السَّبۡعِ وَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾  سَیَقُوۡلُوۡنَ  لِلّٰہِ ؕ قُلۡ  اَفَلَا تَتَّقُوۡنَ﴿﴾  قُلۡ مَنۡۢ بِیَدِہٖ مَلَکُوۡتُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ یُجِیۡرُ وَ لَا یُجَارُ عَلَیۡہِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ سَیَقُوۡلُوۡنَ لِلّٰہِ ؕ قُلۡ فَاَنّٰی تُسۡحَرُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: "Milik  siapakah bumi ini dan siapa pun  yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?"   Mereka pasti akan berkata: "Milik Allah." Katakanlah: "Ti-dakkah kamu mengambil pelajaran?"   Katakanlah: "Siapakah Rabb (Tuhan) tujuh langit dan Rabb (Tuhan) `Arasy yang agung?"  Mereka pasti akan berkata: "Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak mau bertakwa?"  Katakanlah:  "Siapakah yang ada di tangan-Nya terletak ke­kuasaan segala sesuatu dan Dia melindungi semuanya  tetapi tidak ada yang dapat dilindungi  terhadap azab-Nya,  jika kamu mengetahui?"   Mereka akan berkata: "Milik Allah." Katakanlah: "Maka bagaimana kamu bisa tertipu?" (Al-Mu’minūn [23]:85-90).

Jawaban Jujur “Fitrat Manusia Mengenai Tauhid Ilahi

       Jadi, fitrat orang-orang musyrik tidak akan dapat berdusta mengenai adanya hubungan yang pasti  tentang kesempurnaan tatanan alam semesta dengan  keberadaan serta kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., Tuhan  Yang Maha Esa  sebagai Penciptanya, sebab jika tidak demikian pasti tatanan alam semesta ini  kacau-balau keadaannya, itulah salah satu makna ayat:  قُلۡ فَاَنّٰی تُسۡحَرُوۡنَ  -- “Katakanlah: "Maka bagaimana kamu bisa tertipu?"
        Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kedustaan  faham kemusyrikan jenis apa pun:
بَلۡ اَتَیۡنٰہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ  اِنَّہُمۡ  لَکٰذِبُوۡنَ ﴿﴾  مَا اتَّخَذَ اللّٰہُ مِنۡ وَّلَدٍ وَّ مَا کَانَ مَعَہٗ مِنۡ  اِلٰہٍ  اِذًا  لَّذَہَبَ  کُلُّ   اِلٰہٍۭ  بِمَا خَلَقَ وَ لَعَلَا بَعۡضُہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ؕ سُبۡحٰنَ  اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿ۙ﴾  عٰلِمِ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  فَتَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿٪﴾
Bahkan sebenarnya Kami telah mendatangkan Ayat-ayat kepada mereka dengan haq, dan sesungguhnya mereka itu benar-benar pendusta.   Allah  sekali-kali tidak mengambil seorang anak laki-laki, dan tidak ada tuhan beserta Dia,     اِذًا  لَّذَہَبَ  کُلُّ   اِلٰہٍۭ  بِمَا خَلَقَ وَ لَعَلَا بَعۡضُہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ --  jika demikian  niscaya   setiap tuhan  akan membawa yang apa telah ia ciptakan, dan niscaya   sebagian dari mereka itu akan menguasai se­bagian yang lain. سُبۡحٰنَ  اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ  -- Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, عٰلِمِ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  فَتَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ  --    Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nampak, maka Maha Luhur Dia di atas apa yang mereka sekutukan. (Al-Mu’minun [23]:91-93).
    Bantahan Allah Swt. dalam ayat 92:  مَا اتَّخَذَ اللّٰہُ مِنۡ وَّلَدٍ وَّ مَا کَانَ مَعَہٗ مِنۡ  اِلٰہٍ  اِذًا  لَّذَہَبَ  کُلُّ   اِلٰہٍۭ  بِمَا خَلَقَ وَ لَعَلَا بَعۡضُہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ؕ --  Allah  sekali-kali tidak mengambil seorang anak laki-laki, dan tidak ada tuhan beserta Dia,  jika demikian    setiap tuhan pasti akan membawa yang apa telah ia ciptakan, dan pasti sebagian dari mereka itu akan menguasai se­bagian yang lain. سُبۡحٰنَ  اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ  -- Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,”  ayat tersebut dengan sangat jitu melukiskan kesia-siaan dan kepalsuan  itikad Kristen  bahwa Isa a.s. itu anak Allah atau membantah  Trinitas.
     Ayat ini bermaksud mengemukakan,  bahwa seorang anak dibutuhkan oleh  seorang ayah untuk membantu  melaksanakan urusan­-urusannya, tetapi karena Allah Swt. itu Pencipta seluruh langit dan bumi, dan hanya Dia Penguasa dan Penjaga alam semesta  karena itu Dia tidak memerlukan pertolongan atau bantuan apa pun dari seorang pembantu atau anak.
     Lagi pula seluruh alam nampak tunduk kepada satu hukum yang sama, dan kesatuan dalam rencana, tujuan, dan  penjagaan itu menunjuk kepada ke-Esa-an Sang Perencana dan Penjaga, yakni Allah Swt.. Adanya dua pengawas dan penguasa – sebagaimana yang dipercayai orang-orang musyrik  -- dapat menimbulkan kekacauan dan keadaan yang tidak teratur.

 Kesamaan Postur dan Struktur Tubuh Manusia Mengisyaratkan Kepada Satu Tuhan Pencipta 

   Salah satu contoh dari sekian banyak contoh bahwa Pencipta tatanan alam semesta dan isinya – termasuk umat manusia – hanyalah Allah Swt., yakni sekali pun umat manusia terdiri dari  bermacam-macam  bangsa dan suku bangsa (QS.49:11) serta berbeda-beda agama  dan  kepercayaan  -- bahkan ada yang mengaku tidak mempercayai keberadaan Tuhan --tetapi  postur dan struktur tubuh manusia semuanya sama.
  Tidak ada  suatu bangsa atau kaum  atau suatu penganut agama dan kepercayaan  yang berbeda-beda kepercayaannya mengenai “Tuhan”,  yang  posisi kepalanya, atau posisi  matanya atau posisi hidungnya atau pun posisi  tangan dan kakinya berbeda-beda, sehingga dapat dijadikan dalil  oleh orang-orang musyrik sebagai bukti  keberadaan  tuhan-tuhan  pencipta  lainnya  selain Allah Swt..
    Contoh lainnya, dewasa ini banyak dibuat film-film animasi  yang menampilkan makhluk-makhluk selain manusia,  akan tetapi sampai saat ini belum ada seorang pun pembuat film-film animasi tersebut ytang dapat menampilkan  atau menggambarkan suatu sosok makhluk  yang lebih sempurna daripada sosok manusia ciptaan Allah Swt., sehingga dengan demikian benarlah firman Allah Swt.:  لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ    sungguh  Kami benar benar-benar telah menciptaan insan  (manusia) dalam penciptaan yang sebaik-baiknya” (QS.95:5).
 Tetapi mengenai ayat selanjutnya:   ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ    -- “kemudian jika berbuat jahat Kami mengemblikannya ke tinglat yang  paling rendah,” mungkin  para pembuat film animasi dengan mudah akan dapat menampilkan sosok-sosok yang buruk  mengenainya, walau pun belum tentu seperti itu keadaan sebenarnya  dari sosok para pendosa tersebut di akhirat nanti, karena di luar  jangkauan imajinasi manusia, berikut  firman-Nya mengenai nikmat-nikmat surgawi di akhirat:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi ba-gi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.   (As-Sajdah [32]:18).
   Pendek kata, kesempurnaan     manusia   pun merupakan dalil yang tak terbantahkan bahwa Pencipta alam semesta ini adalah Allah Swt.  Itulah sebabnya dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt. menantang para pelaku kemusyrikan untuk mendatangkan ciptaan-ciptaan yang diciptakan oleh “tuhan-tuhan sembahan” mereka selain makhluk yang ada di alam semesta ini, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ   -- Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan   orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,  Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).    Allah Swt. berfirman: 
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ     قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar),  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.   Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ   -- Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan   orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,  Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17).

Keserasian Sempurna Tatanan Alam Semerta Jasmani

     Mengenai kesempurnaan tatanan alam semesta yang membuktikan Ke-Esa-an Penciptanya, yakni Allah Swt., dalam Surah lain berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  تَبٰرَکَ الَّذِیۡ  بِیَدِہِ  الۡمُلۡکُ ۫ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ قَدِیۡرُۨ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ  خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَ الۡحَیٰوۃَ لِیَبۡلُوَکُمۡ  اَیُّکُمۡ  اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ  الۡغَفُوۡرُ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ؕ مَا تَرٰی فِیۡ  خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ  تَفٰوُتٍ ؕ فَارۡجِعِ  الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ  تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ ﴿﴾  ثُمَّ  ارۡجِعِ  الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ  یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ  الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Maha Berbarkat  Dia Yang di Tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,  Yang menciptakan kematian dan kehidupan,  supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang terbaik amalnya, dan   Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,  الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا --  Yang telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi. مَا تَرٰی فِیۡ  خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ  تَفٰوُتٍ --  Engkau tidak akan melihat di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah ketidakselarasan,  فَارۡجِعِ  الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ  تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ -- maka lihatlah berulang-ulang, apakah engkau melihat sesuatu  cacat?  ثُمَّ  ارۡجِعِ  الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ  یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ  الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ  -- Kemudian pandanglah untuk kedua kali,  penglihatan engkau akan kembali kepada engkau dengan tunduk dan  ia letih. (Al-Mulk [67]:1-5). 
 Kata thibāq  dalam ayat الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا --    Yang telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi”   bersamaan arti dengan thabāq dan dengan jamaknya athbāq. Orang mengatakan sesuatu ini thabāq atau thibāq bagi  sesuatu itu, yakni sesuatu ini berpasangan dengan itu atau sejenis itu dalam ukuran atau mutunya, dan sebagainya. Thibāq berarti juga tingkat (Lexicon Lane).
    Makna ayat selanjutnya:  مَا تَرٰی فِیۡ  خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ  تَفٰوُتٍ --  Engkau tidak akan melihat di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah ketidakselarasan,  فَارۡجِعِ  الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ  تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ -- maka lihatlah berulang-ulang, apakah engkau melihat sesuatu  cacat?  ثُمَّ  ارۡجِعِ  الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ  یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ  الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ  -- Kemudian pandanglah untuk kedua kali,  penglihatan engkau akan kembali kepada engkau dengan tunduk dan  ia letih.”

Keberadaan “Tiang Penunjang” Alam Semesta yang Tidak Kelihatan

    Sungguh menakjubkan tatanan alam semesta ciptaan Allah Swt. itu, tatasurya yang di didalamnya bumi kita hanya merupakan anggota kecil itu sangat luas, bermacam-macam dan teratur susunannya, namun demikian tatasurya itu hanyalah merupakan salah satu dari ratusan juta  bahkan milyaran tatasurya yang beberapa di antaranya jauh lebih besar lagi daripada tatasurya kita ini.  Namun milyaran matahari dan bintang itu begitu rupa diatur dan disebar dalam hubungan satu sama lain sehingga di mana-mana menimbulkan keserasian dan keindahan.
    Kesempurnaan tertib (keteraturan) yang menutupi dan meliputi  alam semesta itu  jelas nampak kepada mata tanpa bantuan alat apa pun dan tersebar jauh melewati jangkauan pandangan yang dibantu oleh segala macam alat dan perkakas yang dunia ilmu dan teknik telah mampu menciptakannya, seperti telescope Hubble dan sebagainya.   
    Benarlah firman Allah Swt.  berikut ini mengenai  keberadaan “tiang penunjang  bangunan alam semesta yang tidak tampak oleh mata:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  الٓـمّٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ ؕ وَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ الۡحَقُّ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾   اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا ثُمَّ  اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  الٓـمّٓرٰ   --   Aku Allah Yang Maha Mengetahui Maha Melihat. تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ  --     Inilah ayat-ayat kitab yang sempurna, وَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ الۡحَقُّ  -- dan Al-Quran yang telah diturunkan kepada engkau dari Rabb (Tuhan) engkau adalah haq (kebenaran) وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ -- tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا  -- Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya,  ثُمَّ  اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ  -- kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی  --     Dan Dia  telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut arah perjalanannya  hingga suatu masa yang telah ditetapkan. یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ  --   Dia mengatur segala urusan dan Dia menjelaskan Tanda-tanda itu, supaya kamu berkeyakinan teguh mengenai pertemuan dengan Rabb (Tuhan) kamu  (Ar-Rā’d [13]:1-3).

 Keberadaan “Tiang Penunjang” Alam Semesta  yang Gaib (Tidak Nampak)

    Kata-kata   اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا  -- “Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya”,  itu berarti:  (1) Kamu  melihat bahwa seluruh langit berdiri tanpa tiang-tiang; (2) bahwa seluruh langit berdiri tidak atas tiang-tiang yang dapat kamu lihat; artinya, seluruh langit itu mempunyai pendukung, tetapi kamu tidak dapat melihatnya.
        Secara harfiah ayat itu berarti  bahwa seluruh langit berdiri tanpa ditunjang oleh tiang-tiang. Secara kiasan ayat itu berarti, bahwa seluruh langit atau benda-benda langit memang memerlukan penopang, tetapi penopang-penopang itu tidak nampak kepada mata manusia, umpamanya daya tarik atau tenaga magnetis atau gerakan-gerakan khusus planit-planit atau cara-cara lain, yang ilmu pengetahuan telah menemukannya hingga saat ini atau yang mungkin akan ditemukan lagi di hari depan.
       Kata ‘Arsy (singgasana) dalam ayat  ثُمَّ  اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ  -- kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy”,  telah dipakai dalam Al-Quran untuk menyatakan proses membawa hukum-hukum ruhani atau jasmani kepada kesempurnaannya. Penggunaan ungkapan itu selaras dengan kebiasaan raja-raja dunia, mereka itu menyatakan proklamasi-proklamasi penting “dari singgasana”.
       Jadi, kembali kepada ayat وَ لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.”  Ayat terakhir Surah Al-Ikhlash  ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah Allah   Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.    Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,     dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [111]:1-5).
   Dengan demikian Surah Al-Ikhlash  mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak lagi tuhan-tuhan rekaan  lainnya dan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 26  Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar