بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 41
Kesamaan
Postur dan Struktur Tubuh Manusia Mengisyaratkan Kepada Satu Tuhan
Pencipta yaitu Allah
Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai ayat terakhir Surah Al-Ikhlash: وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- “dan
tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” Ayat ini
menghilangkan suatu keraguan yang
mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat-ayat yang mendahuluinya,
bahwa taruhlah Allah
Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa
bergantung pada wujud lain, atau
taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh
jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki
oleh-Nya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [111]:1-5).
Ayat وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- “dan
tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” ini
menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat
ini mengatakan bahwa tidak ada wujud
lain seperti Allah Swt.. Akal manusia
pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Firman-Nya:
فَاطِرُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا ۚ
یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ ؕ لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ
شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Dia Pencipta
seluruh langit dan bumi. جَعَلَ
لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا -- Dia menjadikan
pasangan-pasangan bagi kamu dari
jenismu, dan dari binatang ternak pun
pasangan-pasangan, یَذۡرَؤُکُمۡ
فِیۡہِ -- Dia mengembangbiakkan kamu
di dalamnya. لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ -- Tidak
ada sesuatu pun semisal-Nya وَ ہُوَ
السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ -- dan
Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy-Syūra [42]:12).
Allah Swt. mengembangbiakkan umat
manusia dengan jalan menjalin perhu-bungan di antara suami-istri, yang merupakan makhluk “sejenis” – yakni sesama manusia: جَعَلَ
لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا -- “Dia menjadikan pasangan-pasangan bagi kamu dari jenismu” Itulah makna
ayat یَذۡرَؤُکُمۡ
فِیۡہِ – “Dia mengembangbiakkan kamu di dalamnya.”
Kata-kata, لَیۡسَ
کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ -- "Tidak ada semisal-Nya sesuatu pun," melenyapkan kesalahfahaman yang mungkin timbul disebabkan kalimat "Tuhan telah membuat segala sesuatu
berpasangan," yaitu bahwa Allah
Swt. juga memerlukan istri untuk
dijadikan pasangan.
Kata-kata itu berarti bahwa tidaklah mungkin
mengkhayalkan sesuatu sebagai Allah Swt. karena Tuhan itu jauh di atas pengamatan
dan pengertian manusia. Karena itu sungguh
bodoh mencoba menemukan kesamaan antara Sifat-sifat
Ilahi dengan sifat-sifat manusia,
meskipun kedua-duanya mungkin mempunyai suatu persamaan yang jauh dan tidak sempurna dalam hal Sifat-sifat Mutasyabihat-Nya. Itulah makna ayat: : وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- “dan
tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash
[111]:5).
Kesempurnaan Tatanan Alam Semesta Membantah Kemusyrikan
Sistem kerja sempurna yang melingkupi dan
meliputi alam semesta pun menuntun
kepada kesimpulan yang tidak dapat
dielakkan bahwa satu hukum yang seragam
harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan ke-Esa-an Sang Pencipta, yakni Allah Swt., firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ لَا یُسۡـَٔلُ
عَمَّا یَفۡعَلُ وَ
ہُمۡ یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi ada
tuhan-tuhan selain Allah pasti
binasalah kedua-duanya, maka Maha
Suci Allah Tuhan ‘Arasy itu, jauh di
atas segala yang mereka sifatkan. لَا یُسۡـَٔلُ عَمَّا
یَفۡعَلُ وَ ہُمۡ
یُسۡـَٔلُوۡنَ -- Dia tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia kerjakan,
sedangkan mereka
akan ditanya. (Al-Anbiya [21]:23).
Ayat ini merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan.
Bahkan mereka yang tidak percaya
kepada Tuhan pun tidak dapat menolak
kenyataan, bahwa suatu tertib yang
sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam raya., bahwa tertib sempurna yamng demikian menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan ke-Esa-an
Wujud Pencipta dan Pengatur alam raya, yakni Allah Swt..
Seandainya ada
Tuhan lebih dari satu, tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam semesta — sebab adalah perlu bagi
suatu wujud tuhan untuk menciptakan
alam-semesta ciptaannya dengan peraturan-peraturannya
yang khusus — dan dengan demikian sebagai akibatnya niscaya akan terjadi kekalutan dan kekacauan yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur
berantakan. Karena itu sungguh janggal faham “Trinitas” yang mengatakan bahwa tiga
tuhan yang sama-sama sempurna
dalam segala segi, bersama-sama
merupakan pencipta dan pengawas bagi alam raya.
Firman
Allah Swt. selanjutnya: لَا یُسۡـَٔلُ عَمَّا
یَفۡعَلُ وَ ہُمۡ
یُسۡـَٔلُوۡنَ -- “Dia
tidak akan ditanya mengenai apa yang Dia
kerjakan, sedangkan mereka
akan ditanya” menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya
tata-tertib alam semesta, sebab hal itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya serta mengisyaratkan pula
kepada ke-Esa-an-Nya.
Ayat ini berarti bahwa kekuasaan Allah Swt. mengatasi segala sesuatu, sedang semua wujud dan barang lainnya tunduk
kepada kekuasaan-Nya. Hal ini
merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan, sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw. untuk bertanya kepada orang-orang musyrik:
قُلۡ لِّمَنِ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہَاۤ اِنۡ
کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ سَیَقُوۡلُوۡنَ لِلّٰہِ ؕ قُلۡ اَفَلَا
تَذَکَّرُوۡنَ﴿﴾ قُلۡ مَنۡ رَّبُّ
السَّمٰوٰتِ السَّبۡعِ وَ رَبُّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ سَیَقُوۡلُوۡنَ لِلّٰہِ ؕ قُلۡ اَفَلَا تَتَّقُوۡنَ﴿﴾ قُلۡ مَنۡۢ بِیَدِہٖ
مَلَکُوۡتُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ یُجِیۡرُ وَ لَا یُجَارُ عَلَیۡہِ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ سَیَقُوۡلُوۡنَ لِلّٰہِ ؕ قُلۡ
فَاَنّٰی تُسۡحَرُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: "Milik siapakah bumi ini dan siapa pun
yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?" Mereka pasti akan berkata: "Milik Allah." Katakanlah:
"Ti-dakkah kamu mengambil pelajaran?"
Katakanlah: "Siapakah Rabb (Tuhan) tujuh langit dan Rabb (Tuhan)
`Arasy yang agung?" Mereka pasti
akan berkata: "Allah."
Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
mau bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang ada di
tangan-Nya terletak kekuasaan segala sesuatu dan Dia melindungi semuanya tetapi tidak
ada yang dapat dilindungi terhadap azab-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan berkata: "Milik Allah." Katakanlah:
"Maka bagaimana kamu bisa tertipu?"
(Al-Mu’minūn
[23]:85-90).
Jawaban
Jujur “Fitrat” Manusia Mengenai Tauhid Ilahi
Jadi, fitrat orang-orang musyrik tidak akan dapat berdusta mengenai adanya hubungan yang pasti tentang kesempurnaan
tatanan alam semesta dengan keberadaan
serta kesempurnaan Sifat-sifat Allah
Swt., Tuhan Yang Maha Esa sebagai Penciptanya,
sebab jika tidak demikian pasti tatanan
alam semesta ini kacau-balau keadaannya, itulah salah
satu makna ayat: قُلۡ فَاَنّٰی تُسۡحَرُوۡنَ -- “Katakanlah: "Maka bagaimana kamu bisa tertipu?"
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kedustaan faham kemusyrikan jenis apa pun:
بَلۡ
اَتَیۡنٰہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ
اِنَّہُمۡ لَکٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ مَا اتَّخَذَ اللّٰہُ مِنۡ وَّلَدٍ وَّ مَا کَانَ
مَعَہٗ مِنۡ اِلٰہٍ اِذًا
لَّذَہَبَ کُلُّ اِلٰہٍۭ
بِمَا خَلَقَ وَ لَعَلَا بَعۡضُہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿ۙ﴾ عٰلِمِ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ فَتَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿٪﴾
Bahkan
sebenarnya Kami telah mendatangkan Ayat-ayat
kepada mereka dengan haq, dan
sesungguhnya mereka itu benar-benar pendusta.
Allah sekali-kali tidak mengambil seorang anak
laki-laki, dan tidak ada tuhan
beserta Dia, اِذًا
لَّذَہَبَ کُلُّ اِلٰہٍۭ
بِمَا خَلَقَ وَ لَعَلَا بَعۡضُہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ -- jika demikian
niscaya setiap tuhan akan membawa yang apa telah ia ciptakan,
dan niscaya sebagian dari mereka itu akan menguasai sebagian
yang lain. سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ -- Maha
Suci Allah dari apa yang mereka
sifatkan, عٰلِمِ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ
فَتَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ
-- Yang
Maha Mengetahui yang gaib dan yang
nampak, maka Maha Luhur Dia di atas
apa yang mereka sekutukan. (Al-Mu’minun
[23]:91-93).
Bantahan
Allah Swt. dalam ayat 92: مَا اتَّخَذَ
اللّٰہُ مِنۡ وَّلَدٍ وَّ مَا کَانَ مَعَہٗ مِنۡ
اِلٰہٍ اِذًا لَّذَہَبَ
کُلُّ اِلٰہٍۭ بِمَا خَلَقَ وَ لَعَلَا بَعۡضُہُمۡ عَلٰی
بَعۡضٍ ؕ -- Allah sekali-kali tidak mengambil seorang anak laki-laki,
dan tidak ada tuhan beserta Dia, jika demikian setiap
tuhan pasti akan membawa yang apa telah ia ciptakan, dan pasti sebagian dari mereka itu akan
menguasai sebagian yang lain. سُبۡحٰنَ
اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ
-- Maha Suci Allah dari apa
yang mereka sifatkan,” ayat tersebut dengan sangat jitu melukiskan kesia-siaan dan kepalsuan itikad Kristen bahwa Isa
a.s. itu anak Allah atau
membantah “Trinitas.”
Ayat ini bermaksud mengemukakan, bahwa seorang anak dibutuhkan oleh seorang
ayah untuk membantu melaksanakan urusan-urusannya, tetapi karena Allah Swt.
itu Pencipta seluruh langit dan bumi,
dan hanya Dia Penguasa dan Penjaga alam semesta karena itu Dia tidak memerlukan pertolongan atau bantuan apa pun dari seorang pembantu
atau anak.
Lagi pula seluruh alam nampak tunduk kepada satu hukum yang sama, dan
kesatuan dalam rencana, tujuan, dan penjagaan
itu menunjuk kepada ke-Esa-an Sang Perencana dan Penjaga, yakni Allah Swt.. Adanya dua pengawas dan penguasa
– sebagaimana yang dipercayai orang-orang musyrik -- dapat menimbulkan kekacauan dan keadaan yang tidak
teratur.
Kesamaan
Postur dan Struktur Tubuh Manusia
Mengisyaratkan Kepada Satu Tuhan
Pencipta
Salah satu
contoh dari sekian banyak contoh bahwa Pencipta
tatanan alam semesta dan isinya – termasuk umat
manusia – hanyalah Allah Swt., yakni
sekali pun umat manusia terdiri dari bermacam-macam bangsa
dan suku bangsa (QS.49:11) serta
berbeda-beda agama dan kepercayaan -- bahkan ada yang mengaku tidak mempercayai keberadaan Tuhan --tetapi postur
dan struktur tubuh manusia semuanya sama.
Tidak ada suatu bangsa
atau kaum atau suatu penganut agama dan kepercayaan yang berbeda-beda
kepercayaannya mengenai “Tuhan”, yang posisi kepalanya, atau posisi matanya
atau posisi hidungnya atau pun
posisi tangan dan kakinya
berbeda-beda, sehingga dapat dijadikan dalil oleh orang-orang
musyrik sebagai bukti
keberadaan tuhan-tuhan pencipta
lainnya selain Allah Swt..
Contoh
lainnya, dewasa ini banyak dibuat film-film animasi yang menampilkan makhluk-makhluk selain manusia,
akan tetapi sampai saat ini belum ada seorang pun pembuat film-film animasi tersebut ytang dapat menampilkan atau menggambarkan
suatu sosok makhluk yang lebih sempurna daripada sosok manusia ciptaan Allah Swt.,
sehingga dengan demikian benarlah firman Allah Swt.: لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ
– sungguh Kami
benar benar-benar telah menciptaan insan (manusia) dalam penciptaan yang sebaik-baiknya” (QS.95:5).
Tetapi mengenai
ayat selanjutnya: ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ
اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ --
“kemudian jika berbuat jahat Kami
mengemblikannya ke tinglat yang paling
rendah,” mungkin para pembuat film animasi dengan mudah akan dapat
menampilkan sosok-sosok yang buruk mengenainya, walau pun belum tentu seperti itu keadaan sebenarnya dari sosok
para pendosa tersebut di akhirat nanti, karena di luar jangkauan imajinasi
manusia, berikut firman-Nya mengenai nikmat-nikmat surgawi di akhirat:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ
اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa
mengetahui apa yang tersembunyi ba-gi mereka dari penyejuk mata
sebagai balasan terhadap apa yang
telah mereka kerjakan. (As-Sajdah
[32]:18).
Pendek kata,
kesempurnaan manusia pun merupakan dalil yang tak terbantahkan bahwa Pencipta alam semesta ini adalah Allah Swt. Itulah sebabnya dalam firman-Nya berikut ini
Allah Swt. menantang para pelaku kemusyrikan untuk mendatangkan ciptaan-ciptaan yang diciptakan oleh “tuhan-tuhan sembahan” mereka selain makhluk yang ada di alam
semesta ini, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی
الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ
اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
-- Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta
dan orang-orang yang melihat? Atau samakah
gelap dan terang? Atau apakah
mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya
Allah yang telah menciptakan segala
sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,
Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17). Allah
Swt. berfirman:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾ قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun,
melainkan seperti orang yang mengulurkan
kedua tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia belaka. Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi dengan rela
atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
Katakanlah: “Apakah kamu mengambil
selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan ataupun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ
اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ
خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ -- Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan orang-orang
yang melihat? Atau samakah gelap
dan terang? Atau apakah
mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya
Allah yang telah menciptakan segala
sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,
Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17).
Keserasian
Sempurna Tatanan Alam Semerta Jasmani
Mengenai kesempurnaan tatanan alam semesta yang membuktikan Ke-Esa-an Penciptanya, yakni Allah Swt., dalam Surah lain
berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ بِیَدِہِ
الۡمُلۡکُ ۫ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرُۨ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَ الۡحَیٰوۃَ
لِیَبۡلُوَکُمۡ اَیُّکُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡغَفُوۡرُ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ
سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ؕ مَا تَرٰی فِیۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ
مِنۡ تَفٰوُتٍ ؕ فَارۡجِعِ الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ ﴿﴾ ثُمَّ
ارۡجِعِ الۡبَصَرَ
کَرَّتَیۡنِ یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Maha
Berbarkat Dia Yang di Tangan-Nya
kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu, Yang menciptakan kematian dan kehidupan,
supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang terbaik amalnya, dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun, الَّذِیۡ خَلَقَ
سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا -- Yang
telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi. مَا تَرٰی فِیۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ
مِنۡ تَفٰوُتٍ -- Engkau
tidak akan melihat di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah ketidakselarasan, فَارۡجِعِ الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ -- maka lihatlah berulang-ulang, apakah engkau melihat sesuatu cacat?
ثُمَّ
ارۡجِعِ الۡبَصَرَ
کَرَّتَیۡنِ یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ -- Kemudian pandanglah untuk kedua kali, penglihatan
engkau akan kembali kepada engkau dengan tunduk dan ia letih. (Al-Mulk
[67]:1-5).
Kata thibāq dalam
ayat الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا -- Yang telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi” bersamaan arti dengan thabāq dan dengan
jamaknya athbāq. Orang mengatakan sesuatu ini thabāq atau thibāq
bagi sesuatu itu, yakni sesuatu ini
berpasangan dengan itu atau sejenis itu dalam ukuran atau mutunya, dan
sebagainya. Thibāq berarti juga tingkat (Lexicon Lane).
Makna ayat selanjutnya: مَا تَرٰی
فِیۡ خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ -- Engkau tidak akan melihat
di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha
Pemurah ketidakselarasan, فَارۡجِعِ الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ -- maka lihatlah berulang-ulang, apakah engkau melihat sesuatu cacat?
ثُمَّ ارۡجِعِ الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ -- Kemudian pandanglah untuk kedua kali, penglihatan
engkau akan kembali kepada engkau dengan tunduk dan ia letih.”
Keberadaan “Tiang Penunjang”
Alam Semesta yang Tidak Kelihatan
Sungguh menakjubkan tatanan alam semesta ciptaan Allah Swt. itu, tatasurya yang di didalamnya bumi kita hanya merupakan anggota kecil
itu sangat luas, bermacam-macam dan teratur
susunannya, namun demikian tatasurya
itu hanyalah merupakan salah satu dari ratusan
juta bahkan milyaran tatasurya yang
beberapa di antaranya jauh lebih besar lagi daripada tatasurya kita ini. Namun milyaran matahari dan bintang itu begitu rupa diatur dan disebar dalam hubungan satu sama lain sehingga di
mana-mana menimbulkan keserasian dan keindahan.
Kesempurnaan tertib (keteraturan) yang menutupi dan meliputi alam
semesta itu jelas nampak kepada mata tanpa bantuan alat apa pun dan
tersebar jauh melewati jangkauan
pandangan yang dibantu oleh segala macam alat dan perkakas yang dunia ilmu dan teknik telah mampu menciptakannya, seperti telescope Hubble dan sebagainya.
Benarlah firman Allah Swt. berikut ini mengenai keberadaan “tiang penunjang” bangunan alam semesta yang tidak tampak oleh
mata:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ الٓـمّٓرٰ ۟ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ ؕ وَ
الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ الۡحَقُّ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ اَللّٰہُ الَّذِیۡ
رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا ثُمَّ اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ
وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ
یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. الٓـمّٓرٰ -- Aku
Allah Yang Maha Mengetahui Maha
Melihat. تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ -- Inilah
ayat-ayat kitab yang sempurna,
وَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ
الۡحَقُّ -- dan
Al-Quran yang telah diturunkan kepada
engkau dari Rabb (Tuhan) engkau
adalah haq (kebenaran) وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. اَللّٰہُ الَّذِیۡ
رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا -- Allah,
Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh
langit tanpa suatu tiang pun yang
kamu melihatnya, ثُمَّ اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ -- kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. وَ سَخَّرَ
الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی -- Dan
Dia
telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, masing-masing beredar
menurut arah perjalanannya hingga suatu masa yang telah ditetapkan. یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ
تُوۡقِنُوۡنَ -- Dia
mengatur segala urusan dan Dia
menjelaskan Tanda-tanda itu, supaya kamu
berkeyakinan teguh mengenai pertemuan
dengan Rabb (Tuhan) kamu (Ar-Rā’d [13]:1-3).
Keberadaan
“Tiang Penunjang” Alam Semesta yang Gaib
(Tidak Nampak)
Kata-kata اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ
بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا -- “Allah,
Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh
langit tanpa suatu tiang pun yang
kamu melihatnya”, itu
berarti: (1) Kamu melihat bahwa seluruh langit berdiri tanpa tiang-tiang;
(2) bahwa seluruh langit berdiri tidak atas tiang-tiang yang dapat kamu
lihat; artinya, seluruh langit itu mempunyai pendukung, tetapi kamu tidak dapat melihatnya.
Secara harfiah ayat itu
berarti bahwa seluruh langit berdiri tanpa ditunjang
oleh tiang-tiang. Secara kiasan ayat itu berarti, bahwa seluruh
langit atau benda-benda langit memang memerlukan penopang, tetapi penopang-penopang
itu tidak nampak kepada mata manusia,
umpamanya daya tarik atau tenaga magnetis atau gerakan-gerakan khusus planit-planit
atau cara-cara lain, yang ilmu
pengetahuan telah menemukannya hingga saat ini atau yang mungkin akan ditemukan
lagi di hari depan.
Kata ‘Arsy (singgasana) dalam ayat ثُمَّ
اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ -- kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy”, telah dipakai dalam Al-Quran untuk menyatakan
proses membawa hukum-hukum ruhani
atau jasmani kepada kesempurnaannya.
Penggunaan ungkapan itu selaras dengan kebiasaan raja-raja dunia, mereka itu menyatakan proklamasi-proklamasi penting “dari singgasana”.
Jadi, kembali kepada ayat وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ -- “dan
tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” Ayat
terakhir Surah Al-Ikhlash ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat
yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah
Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa
bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud
lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki
oleh-Nya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Katakanlah: “Dia-lah
Allah Yang Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia tidak
beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [111]:1-5).
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu
bentuk atau lain pada agama lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak lagi tuhan-tuhan rekaan lainnya dan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 26 Januari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar