Minggu, 25 Januari 2015

Berbagai Perumpamaan Ketidakberdayaan "Tuhan-tuhan Palsu" dan Kejahilan Para "Penyembahannya"






بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 38

  
Berbagai  Perumpamaan  Ketidakberdayaan   Tuhan-tuhan Palsu” dan Kejahilan Para “Penyembahnya

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai tujuan Allah Swt. memperingatkan manusia melalui  pengutusan Rasul Allah sebelum turunnya azab Ilahi yang dijanjikan kepada mereka, karena  mereka  harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi, firman-Nya:
اَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾  بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ  وُجُوۡہُہُمۡ  مُّسۡوَدَّۃٌ ؕ اَلَیۡسَ فِیۡ  جَہَنَّمَ مَثۡوًی  لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Supaya jangan ada orang yang mengatakan:  ”Wahai sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok rasul-Nya.”   Atau  ia berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”  Atau ia berkata ketika ia melihat azab: “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka  aku akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” Tidak, bahkan sungguh telah datang kepada engkau Tanda-tanda-Ku, tetapi engkau telah mendustakannya serta berlaku sombong dan eng-kau termasuk  orang-orang kafir. Dan pada Hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang telah berdusta terhadap Allah  wajah mereka menjadi hitam. Bukankah dalam Jahannam  adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang sombong? (Az-Zumar [39]:57-61).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ  تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ  مَا فِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿﴾  وَ لَوۡ اَنَّـاۤ  اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ  اَرۡسَلۡتَ  اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ  نَّذِلَّ  وَ  نَخۡزٰی  ﴿﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ  اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ  وَ مَنِ  اہۡتَدٰی ﴿﴾٪
Dan mereka berkata: "Mengapakah ia (Rasul) tidak mendatang­kan kepada kami suatu Tanda dari Rabb-nya (Tuhan-nya)?" Bukankah telah datang kepada mereka bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran terdahulu? Dan seandainya Kami membinasakan mereka dengan azab sebelum ini  niscaya mereka akan berkata: "Ya Rabb (Tuhan) kami, me­ngapakah   Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang rasul supaya kami mengikuti Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan dan dihinakan?"    Katakanlah: "Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun  tunggulah, lalu segera kamu akan me-ngetahui siapakah yang ada pada jalan yang lurus dan siapa yang mengikuti petunjuk dan siapa yang sesat. (Thā Hā [20]:134-136).

Menyia-nyiakan Kesempatan Untuk Beriman dan Beramal Shaleh

     Banyak kesempatan diberikan kepada manusia yang berkecimpung dalam kancah dosa untuk bertaubat dan mengadakan perubahan dalam dirinya. Bila penolakan kebenaran dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan bila ia melampaui batas yang sah dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bila hari perhitungan atas dia telah berlaku  maka pada hari itu keluh kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi bagi dia, sebagaimana  yang terjadi dengan Fir’aun ketika tenggelam di laut, firman-Nya:
وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam  قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”    آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ   --  ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.   فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً  --  maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau,  وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ  -- dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
   Cara berimannya Fir’aun   yang terlambat  seperti   itu  pada saat azab Ilahi yang diperingatkan  oleh  Nabi Musa a.s. sebelumnya,  pada hakikatnya merupakan  pengulangan dari  kebodohan orang-orang yang bersikap takabbur terhadap Rasul Allah yang diutus kepada mereka, firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ اَتٰىکُمۡ عَذَابُہٗ بَیَاتًا اَوۡ نَہَارًا مَّاذَا یَسۡتَعۡجِلُ مِنۡہُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾  اَثُمَّ  اِذَا مَا وَقَعَ اٰمَنۡتُمۡ  بِہٖ ؕ آٰلۡـٰٔنَ  وَ قَدۡ کُنۡتُمۡ  بِہٖ  تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ  قِیۡلَ  لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡخُلۡدِ ۚ ہَلۡ تُجۡزَوۡنَ اِلَّا بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَسۡتَنۡۢبِئُوۡنَکَ اَحَقٌّ ہُوَ ؕؔ قُلۡ اِیۡ وَ رَبِّیۡۤ  اِنَّہٗ  لَحَقٌّ ۚؕؔ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُعۡجِزِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: “Bagaimanakah pendapat kamu   jika azab-Nya datang kepadamu di waktu malam atau siang hari, bagaimanakah orang-orang yang berdosa itu dapat melarikan diri  darinya?   Apakah  kemudian apabila   azab itu  terjadi  pada waktunya barulah kamu mempercayainya? ”Apakah baru sekarang kamu percaya padahal sebelum ini kamu senantiasa meminta mempercepat kedatangannya.” Kemudian akan dikatakan kepada orang-orang yang berbuat zalim itu: “Rasakanlah oleh kamu azab yang kekal itu,  tidaklah kamu dibalas melainkan sesuai  dengan  apa yang telah kamu kerjakan.”   Dan mereka menanyakan ke-pada engkau: “Apakah itu benar?”  Katakanlah: “Ya, demi Rabb-ku (Tuhan-ku),   sesungguhnya itu  benar, dan kamu sama sekali tidak dapat menggagalkannya.”  (Yunus [10]51-54).

Celaan Allah yang Paling Keras terhadap Faham “Trinitas” dan “Penebusan Dosa

 Jadi,  Surah  Maryam ayat 89-96,    berisikan pencelaan yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad Kristen, terutama kepercayaan mereka yang pokok bahwa Yesus anak Allah, satu kepercayaan yang darinya terbit semua 'itikad  sesat lainnya; tekanan istimewa telah diberikan kepada penolakan dan pencelaan terhadap kepercayaan dusta  ini, firman-Nya:
وَ قَالُوا  اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾  لَقَدۡ  جِئۡتُمۡ  شَیۡئًا  اِدًّا ﴿ۙ﴾  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا ﴿ۚ﴾  وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾  اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا﴿ؕ﴾  لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا ﴿ؕ﴾  وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka  berkata: اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا --  "Tuhan Yang Maha Pemurah telah meng­ambil seorang anak laki-laki."   Sungguh  kamu benar-benar telah mengucapkan sesuatu  yang  sangat mengerikan.  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا -- Hampir-hampir seluruh langit pecah   karenanya, bumi terbelah, dan gunung­-gunung runtuh berkeping-keping,  karena mereka menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya  anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا  --    Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang  Maha Pemurah  mengambil seorang anak laki-laki,    اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا --    Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.   لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا   -- Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan menghitung mereka dengan   menyeluruh. وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا --  Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri. (Maryam [19]:89-96).
   Perlu mendapat perhatian khusus bahwa sifat Ar-Rahmān (Yang maha Pemurah) telah berulang-ulang disinggung dalam Surah Maryam ini — sifat itu telah disebutkan sebanyak 16 kali, karena 'itikad Kristen yang pokok ialah pengakuan kepada Yesus sebagai anak Allah dan akibat-akibatnya yaitu 'itikad penebusan dosa mengandung arti penolakan terhadap sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.,  dan karena pokok pembahasan utama Surah Maryam ini ialah pembantahan terhadap ‘itikad  dusta ini maka sudah seharusnya Sifat-sifat Ilahi itu disebut dengan berulang-ulang.
 'Itikad penebusan dosa yang mengandung arti bahwa Allah Swt.  tidak dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal sifat Ar-Rahmān  (Yang Maha Pemurah)  menghendaki bahwa Dia dapat dan memang sering mengampuni mereka, itulah sebabnya sifat Ar-Rahmān berulang kah disebut dalam Surah Maryam  ini. Dalam Surah Ar-Rahmān   bukti-bukti sifat Maha Pemurah Allah Swt. dijelaskan secara terinci.
        Allah Swt., Tuhan Yang bersifat Rahmān (Maha Pemurah) itu tidak memerlukan anak untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit serta  bumi dan kerajaan-Nya meliputi seluruh alam, dan juga karena semua orang adalah hamba-Nya, dan Yesus adalah salah seorang dari antara mereka.
       Itulah makna ayat:  اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا   Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.”  لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا   -- Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan menghitung mereka dengan   menyeluruh. وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا --  Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri. (Maryam [19]:94-96).

Yang Disembah” dan “Yang Menyembah” Akan Saling Menyalahkan

    Sebagaimana halnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) dalam QS.5:117-119) telah menyatakan berlepas diri  dari tanggungjawab atas terjadinya penyembahan terhadap beliau dan ibu beliau (Maryam) dari orang-orang yang mendakwakan  diri sebagai pengikut beliau, demikian pula “tuhan-tuhan” lainnya yang  oleh para penyembahnya dianggap  sebagai sekutu  Allah Swt pun  akan melakukan   penolakan yang sama dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ  اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾  فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اِنۡ  کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ  لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾  ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya  kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan:  Tetaplah di tempatmu, kamu beserta sekutu-sekutumu.” Lalu Kami memisahkan di antara mereka وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ  اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ  -- maka   sekutu-sekutu mereka berkata:   Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah, فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اِنۡ  کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ  لَغٰفِلِیۡنَ  --  maka cukuplah Allah sebagai saksi di antara kami dan kamu, sesungguhnya kami tidak tahu-menahu  mengenai penyembahan kamu.”  ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ  --   Di sanalah  tiap-tiap jiwa  merasakan penderitaan  akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka akan dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang haq (sebenarnya), dan  lenyaplah dari mereka apa yang telah  mereka ada-adakan itu.  (Yunus [10]:29-31).
       Makna ayat   ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ  --   Di sanalah  tiap-tiap jiwa  merasakan penderitaan  akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka akan dikembalikan kepada Allāh Pelindung mereka yang haq (sebenarnya), dan  lenyaplah dari mereka apa yang telah  mereka ada-adakan itu,”  bahwa di dunia ini,  manusia tidak diberi kemampuan sepenuhnya untuk memahami dan mengetahui hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu (QS.32:6).
        Hanya nanti di akhirat sajalah segala hijab (tirai) akan sepenuhnya disingkapkan, dan hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu akan menjadi terang dan jelas, termasuk nikmat-nikmat surgamau pun siksaan-siksaan dalam neraka.
       Berikut ini beberapa firman Allah Swt.  lainnya mengenai pertengkaran atau perbantahan antara  pihak “yang disembah” dengan para “penyembah mereka”., firman-Nya:
وَ مَنۡ اَضَلُّ  مِمَّنۡ یَّدۡعُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَنۡ  لَّا یَسۡتَجِیۡبُ لَہٗۤ  اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  وَ  ہُمۡ عَنۡ دُعَآئِہِمۡ  غٰفِلُوۡنَ ﴿۵﴾  وَ  اِذَا حُشِرَ  النَّاسُ کَانُوۡا لَہُمۡ  اَعۡدَآءً وَّ  کَانُوۡا بِعِبَادَتِہِمۡ کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru  selain Allah yang tidak dapat mengabulkannya sampai Hari Kiamat,  dan  mereka yakni tuhan-tukan palsu  itu lalai dari mengabulkan doa mereka?   Dan apabila umat manusia dibangkitkan,   mereka  yakni tuhan-tuhan palsu itu   akan menjadi musuh-musuh bagi mereka dan akan mengingkari ibadah mereka. (Al-Ahqaf [46]:6-7).

Kelemahan “Tuhan-tuhan Palsu” dan Kejahilan Para “Penyembahnya”

  Islam mengemukakan Tuhan Yang Hidup, Yang menampakkan Wujud-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan mengabulkan doa-doa mereka dan menghibur  mereka dalam waktu susah dengan mengucapkan kepada mereka kata-kata penenteraman hati dan hiburan, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ    --   maka sesungguhnya Aku dekat.  Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ  -- karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:187).
     Sedang mengenai ketidakberdayaan  tuhan-tuhan palsu” yang  keberadaannya direkayasa oleh orang-orang jahiliyah Allah Swt. mengemukakan perumpamaan mengenai  berhala-berhala  khayali” tersebut:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾   مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu.  ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ   --   Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hajj [22]:74-75).
       Ayat  74  menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu.  Sedangkan makna ayat    مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ   --   “mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa,” menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang sangat rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — yakni berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu yang mereka buat sendiri — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq (Tuhan Maha Pencipta) Yang Agung.
       Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia. Subhānallāh.

Kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., Tuhan Yang Hakiki

      Dalam Surah  berikut ini   dikemukakan perumpamaan  lainnya mengenai kelemahan tuhan-tuhan palsu serta kesia-siaan menyembahnya, firman-Nya:  
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ     قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar),  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.   Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari.    Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah:  Apakah sama keadaan orang-orang buta dan   orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya \sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,  Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 22 Januari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar