بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 38
Berbagai
Perumpamaan
Ketidakberdayaan “Tuhan-tuhan Palsu” dan Kejahilan Para “Penyembahnya”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai
tujuan Allah Swt. memperingatkan manusia
melalui pengutusan Rasul Allah sebelum turunnya azab
Ilahi yang dijanjikan kepada mereka, karena mereka harus membentuk
nasib sendiri dengan mentaati
hukum-hukum Ilahi, firman-Nya:
اَنۡ
تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ
کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ
اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ لَکُنۡتُ مِنَ
الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَقُوۡلَ
حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً
فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ
اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ وُجُوۡہُہُمۡ
مُّسۡوَدَّۃٌ ؕ اَلَیۡسَ فِیۡ
جَہَنَّمَ مَثۡوًی
لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Supaya
jangan ada orang
yang mengatakan: ”Wahai
sangat besar penyesalanku atas kelalaianku
terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok rasul-Nya.”
Atau ia
berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepadaku,
niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” Atau ia
berkata ketika ia melihat azab: “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka
aku akan termasuk orang-orang
yang berbuat ihsan.” Tidak, bahkan sungguh
telah datang kepada engkau Tanda-tanda-Ku, tetapi engkau telah mendustakannya serta berlaku sombong dan eng-kau
termasuk orang-orang kafir. Dan pada Hari
Kiamat engkau akan melihat orang-orang
yang telah berdusta terhadap Allah
wajah mereka menjadi hitam. Bukankah dalam Jahannam adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang
sombong? (Az-Zumar [39]:57-61).
Firman-Nya
lagi:
وَ قَالُوۡا
لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ مَا فِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿﴾ وَ لَوۡ اَنَّـاۤ
اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ
لَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ
قَبۡلِ اَنۡ نَّذِلَّ وَ
نَخۡزٰی ﴿﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ
فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ اَصۡحٰبُ
الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ مَنِ اہۡتَدٰی ﴿﴾٪
Dan
mereka berkata: "Mengapakah ia
(Rasul) tidak mendatangkan kepada kami suatu Tanda dari Rabb-nya (Tuhan-nya)?"
Bukankah telah datang kepada mereka bukti
yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran
terdahulu? Dan seandainya Kami
membinasakan mereka dengan azab sebelum ini
niscaya mereka akan berkata: "Ya Rabb (Tuhan) kami, mengapakah Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang
rasul supaya kami mengikuti
Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan
dan dihinakan?" Katakanlah: "Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun tunggulah, lalu segera kamu akan me-ngetahui siapakah yang
ada pada jalan yang lurus dan siapa
yang mengikuti petunjuk dan siapa yang sesat. (Thā Hā [20]:134-136).
Menyia-nyiakan Kesempatan Untuk Beriman
dan Beramal Shaleh
Banyak kesempatan
diberikan kepada manusia yang berkecimpung dalam kancah dosa untuk bertaubat
dan mengadakan perubahan dalam
dirinya. Bila penolakan kebenaran
dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan bila ia melampaui batas yang sah dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan
bila hari perhitungan atas dia telah
berlaku maka pada hari itu keluh kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi
bagi dia, sebagaimana yang terjadi
dengan Fir’aun ketika tenggelam di laut, firman-Nya:
وَ
جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ
الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ
بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ
اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ
اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun
dan lasykar-lasykarnya mengejar
mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam قَالَ
اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia
tidak ada Tuhan kecuali yang
dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ
وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau
telah membangkang sebelum ini, dan
engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ
لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً -- maka
pada hari ini Kami akan menyelamatkan
engkau hanya badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi
orang-orang sesudah engkau, وَ اِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ
اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ -- dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
Cara berimannya
Fir’aun yang terlambat seperti itu
pada saat azab Ilahi yang diperingatkan oleh
Nabi Musa a.s. sebelumnya, pada
hakikatnya merupakan pengulangan dari kebodohan
orang-orang yang bersikap takabbur
terhadap Rasul Allah yang diutus
kepada mereka, firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ اَتٰىکُمۡ
عَذَابُہٗ بَیَاتًا اَوۡ نَہَارًا
مَّاذَا یَسۡتَعۡجِلُ
مِنۡہُ
الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾ اَثُمَّ اِذَا مَا وَقَعَ اٰمَنۡتُمۡ بِہٖ ؕ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ قِیۡلَ لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذُوۡقُوۡا عَذَابَ
الۡخُلۡدِ ۚ ہَلۡ
تُجۡزَوۡنَ اِلَّا بِمَا کُنۡتُمۡ
تَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَسۡتَنۡۢبِئُوۡنَکَ اَحَقٌّ ہُوَ ؕؔ قُلۡ اِیۡ وَ رَبِّیۡۤ اِنَّہٗ لَحَقٌّ ۚؕؔ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُعۡجِزِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Bagaimanakah pendapat kamu jika azab-Nya datang kepadamu di waktu malam atau siang hari,
bagaimanakah orang-orang yang berdosa
itu dapat melarikan diri darinya? Apakah
kemudian apabila azab
itu terjadi pada waktunya barulah kamu mempercayainya? ”Apakah baru sekarang kamu percaya padahal sebelum ini kamu senantiasa meminta mempercepat
kedatangannya.” Kemudian akan dikatakan kepada orang-orang yang berbuat zalim itu: “Rasakanlah oleh kamu azab yang kekal itu, tidaklah kamu dibalas melainkan sesuai dengan apa
yang telah kamu kerjakan.” Dan mereka menanyakan ke-pada engkau: “Apakah
itu benar?” Katakanlah:
“Ya, demi Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya itu benar, dan kamu sama
sekali tidak dapat menggagalkannya.”
(Yunus [10]51-54).
Celaan Allah yang Paling Keras terhadap Faham “Trinitas”
dan “Penebusan Dosa”
Jadi,
Surah Maryam ayat 89-96, berisikan pencelaan
yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad Kristen, terutama kepercayaan mereka yang pokok bahwa Yesus anak Allah, satu kepercayaan yang darinya terbit semua 'itikad
sesat lainnya; tekanan istimewa telah diberikan kepada penolakan dan pencelaan terhadap kepercayaan
dusta ini, firman-Nya:
وَ قَالُوا اتَّخَذَ
الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ
جِئۡتُمۡ شَیۡئًا اِدًّا ﴿ۙ﴾ تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ
تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ دَعَوۡا
لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدًا ﴿ۚ﴾ وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ یَّتَّخِذَ
وَلَدًا ﴿ؕ﴾ اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی
الرَّحۡمٰنِ عَبۡدًا﴿ؕ﴾ لَقَدۡ
اَحۡصٰہُمۡ وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا ﴿ؕ﴾ وَ
کُلُّہُمۡ اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka
berkata: اتَّخَذَ الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا
-- "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil seorang anak laki-laki." Sungguh
kamu benar-benar telah mengucapkan
sesuatu yang sangat mengerikan. تَکَادُ السَّمٰوٰتُ
یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا -- Hampir-hampir seluruh
langit pecah karenanya, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping, karena mereka
menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ
اَنۡ یَّتَّخِذَ وَلَدًا -- Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil seorang anak laki-laki, اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی الرَّحۡمٰنِ
عَبۡدًا -- Tidak ada seorang pun di seluruh langit
dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah sebagai hamba. لَقَدۡ اَحۡصٰہُمۡ
وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا -- Sungguh Dia benar-benar mengetahui
jumlah mereka dan menghitung mereka dengan menyeluruh. وَ کُلُّہُمۡ
اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا
-- Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri.
(Maryam
[19]:89-96).
Perlu mendapat perhatian khusus bahwa sifat Ar-Rahmān
(Yang maha Pemurah) telah
berulang-ulang disinggung dalam Surah Maryam
ini — sifat itu telah disebutkan sebanyak 16 kali, karena 'itikad Kristen yang pokok ialah pengakuan kepada Yesus sebagai anak Allah dan akibat-akibatnya yaitu
'itikad penebusan dosa mengandung arti penolakan
terhadap sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt., dan karena pokok pembahasan utama Surah Maryam ini ialah pembantahan terhadap ‘itikad dusta ini maka sudah seharusnya Sifat-sifat Ilahi itu disebut dengan
berulang-ulang.
'Itikad penebusan
dosa yang mengandung arti bahwa Allah Swt. tidak dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal sifat Ar-Rahmān (Yang
Maha Pemurah) menghendaki
bahwa Dia dapat dan memang sering mengampuni mereka, itulah
sebabnya sifat Ar-Rahmān berulang kah disebut dalam Surah Maryam ini. Dalam Surah Ar-Rahmān bukti-bukti sifat
Maha Pemurah Allah Swt. dijelaskan
secara terinci.
Allah Swt.,
Tuhan Yang bersifat Rahmān (Maha
Pemurah) itu tidak memerlukan anak
untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit serta bumi dan kerajaan-Nya meliputi seluruh alam, dan
juga karena semua orang adalah hamba-Nya,
dan Yesus adalah salah seorang dari
antara mereka.
Itulah makna
ayat: اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی الرَّحۡمٰنِ
عَبۡدًا – “Tidak ada seorang pun di seluruh langit
dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah sebagai hamba.” لَقَدۡ اَحۡصٰہُمۡ
وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا -- Sungguh Dia benar-benar mengetahui
jumlah mereka dan menghitung mereka dengan menyeluruh. وَ کُلُّہُمۡ
اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا
-- Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri.
(Maryam
[19]:94-96).
“Yang Disembah”
dan “Yang Menyembah” Akan Saling
Menyalahkan
Sebagaimana
halnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) dalam QS.5:117-119) telah
menyatakan berlepas diri dari tanggungjawab
atas terjadinya penyembahan
terhadap beliau dan ibu beliau (Maryam) dari orang-orang
yang mendakwakan diri sebagai pengikut beliau, demikian pula “tuhan-tuhan” lainnya yang oleh para penyembahnya
dianggap sebagai sekutu Allah Swt pun akan melakukan penolakan yang sama dengan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ یَوۡمَ
نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ
نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا
مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ
شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾ فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ
بَیۡنَکُمۡ اِنۡ کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ
وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan: “Tetaplah di tempatmu, kamu beserta
sekutu-sekutumu.” Lalu Kami
memisahkan di antara mereka وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ -- maka
sekutu-sekutu mereka berkata:
”Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah, فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اِنۡ کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ لَغٰفِلِیۡنَ -- maka
cukuplah Allah sebagai saksi di
antara kami dan kamu, sesungguhnya kami
tidak tahu-menahu mengenai penyembahan
kamu.” ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ -- Di sanalah tiap-tiap
jiwa merasakan penderitaan akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka akan dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang haq
(sebenarnya), dan lenyaplah dari mereka apa yang telah
mereka ada-adakan itu. (Yunus
[10]:29-31).
Makna ayat ہُنَالِکَ
تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ -- Di sanalah tiap-tiap
jiwa merasakan penderitaan akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka akan dikembalikan kepada Allāh Pelindung mereka yang haq
(sebenarnya), dan lenyaplah dari mereka apa yang telah
mereka ada-adakan itu,” bahwa
di dunia ini, manusia tidak diberi
kemampuan sepenuhnya untuk memahami
dan mengetahui hakikat yang
sebenarnya mengenai segala sesuatu (QS.32:6).
Hanya nanti di akhirat sajalah
segala hijab (tirai) akan sepenuhnya disingkapkan,
dan hakikat yang sebenarnya mengenai segala sesuatu akan menjadi terang dan
jelas, termasuk nikmat-nikmat surgamau
pun siksaan-siksaan dalam neraka.
Berikut ini beberapa firman Allah Swt. lainnya mengenai pertengkaran atau perbantahan
antara pihak “yang disembah” dengan para “penyembah
mereka”., firman-Nya:
وَ مَنۡ
اَضَلُّ مِمَّنۡ یَّدۡعُوۡا مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ مَنۡ لَّا یَسۡتَجِیۡبُ
لَہٗۤ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ وَ
ہُمۡ عَنۡ دُعَآئِہِمۡ غٰفِلُوۡنَ
﴿۵﴾ وَ اِذَا
حُشِرَ النَّاسُ کَانُوۡا لَہُمۡ اَعۡدَآءً وَّ کَانُوۡا بِعِبَادَتِہِمۡ کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru selain Allah yang tidak dapat mengabulkannya sampai Hari Kiamat, dan mereka
yakni tuhan-tukan palsu itu lalai
dari mengabulkan doa mereka? Dan apabila umat manusia dibangkitkan,
mereka yakni tuhan-tuhan palsu
itu
akan menjadi musuh-musuh
bagi mereka dan akan mengingkari
ibadah mereka. (Al-Ahqaf [46]:6-7).
Kelemahan “Tuhan-tuhan Palsu” dan Kejahilan Para “Penyembahnya”
Islam
mengemukakan Tuhan Yang Hidup, Yang
menampakkan Wujud-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan mengabulkan doa-doa mereka dan menghibur mereka dalam waktu susah dengan mengucapkan kepada mereka kata-kata penenteraman hati dan hiburan,
berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذَا سَاَلَکَ
عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ
الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada
engkau mengenai Aku فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ -- maka sesungguhnya Aku dekat. Aku
mengabulkan doa-doa orang yang berdoa
apabila ia berdoa kepada-Ku, فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ لَعَلَّہُمۡ یَرۡشُدُوۡنَ -- karena
itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku
dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah
[2]:187).
Sedang mengenai ketidakberdayaan ”tuhan-tuhan palsu” yang keberadaannya direkayasa oleh orang-orang
jahiliyah Allah Swt. mengemukakan perumpamaan
mengenai “berhala-berhala khayali” tersebut:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya
mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk
itu. Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka,
mereka tidak akan dapat merebutnya
kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ
وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat
lemah yang meminta dan yang diminta.
مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,
sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hajj [22]:74-75).
Ayat 74 menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa
tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan
betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu. Sedangkan makna ayat مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- “mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,
sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa,” menjelaskan bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat
mereka sendiri ke tingkat yang sangat
rendah, hingga mereka menyembah
patung-patung — yakni berhala-berhala
yang terbuat dari kayu dan batu yang mereka buat sendiri — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq (Tuhan Maha Pencipta) Yang Agung.
Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan
seperti halnya manusia. Subhānallāh.
Kesempurnaan Sifat-sifat
Allah Swt., Tuhan Yang Hakiki
Dalam Surah berikut ini
dikemukakan perumpamaan lainnya mengenai kelemahan tuhan-tuhan palsu serta kesia-siaan menyembahnya, firman-Nya:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾ قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun,
melainkan seperti orang yang mengulurkan
kedua tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia belaka. Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi dengan rela
atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
Katakanlah: “Apakah kamu mengambil
selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan ataupun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta
dan orang-orang yang melihat? Atau samakah
gelap dan terang? Atau apakah
mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya \sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya
Allah yang telah menciptakan segala
sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa,
Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 22 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar