Senin, 12 Januari 2015

Kemunculan Blok Kapitalisme (Jin) dan Blok Sosialisme (Ins) & Hubungan Riba dengan Peperangan di Kalangan Bangsa-bangsa Penganut Sistem Riba di Akhir Zaman





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 29

  
Kemunculan Blok Kapitalisme (Jin) dan Blok Sosialisme   (Ins)  & Hubungan  Riba dengan Peperangan di Kalangan Bangsa-bangsa Penganut Sistem Riba di Akhir zaman

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai kata al-mahrūm, dalam pengertian imbuhannya bukan hanya mencakup orang-orang miskin, yang karena rasa harga dirinya atau rasa malunya tidak mau meminta  sedekah (QS.2:274), akan tetapi juga binatang-binatang yang memang tidak bisa bicara.             
       Kata mahrum (luput) itu telah dianggap di sini mempunyai arti  seseorang yang terhalang dari mencari nafkah oleh kelemahan jasmani   atau beberapa sebab lain yang serupa, firman-Nya:
لِلۡفُقَرَآءِ الَّذِیۡنَ اُحۡصِرُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ ضَرۡبًا فِی الۡاَرۡضِ ۫ یَحۡسَبُہُمُ الۡجَاہِلُ اَغۡنِیَآءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ تَعۡرِفُہُمۡ بِسِیۡمٰہُمۡ ۚ لَا یَسۡـَٔلُوۡنَ النَّاسَ اِلۡحَافًا ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ بِہٖ عَلِیۡمٌ ﴿﴾٪
Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi. یَحۡسَبُہُمُ الۡجَاہِلُ اَغۡنِیَآءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ تَعۡرِفُہُمۡ بِسِیۡمٰہُمۡ  --   Orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta.    engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya, لَا یَسۡـَٔلُوۡنَ النَّاسَ اِلۡحَافًا --  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak. وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ بِہٖ عَلِیۡمٌ  --   Dan harta apa pun yang kamu belanjakan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.   (Al-Baqarah [2]:274).

Dua Alasan  Ahli Shuffah Tidak Dapat Mencari Rezeki

        Keadaan kadang-kadang memaksa orang untuk diam terkurung dalam satu tempat sehingga mereka tidak mampu mencari rezeki. Orang-orang demikian khususnya layak mendapatkan pertolongan dari anggota-anggota masyarakat yang lebih baik keadaannya. Ada dua macam manusia  yang  termasuk dalam golongan ini:
       (a) Mereka yang dengan sukarela berkhidmat kepada seorang hamba pilihan Allah (Rasul Allah) dan tak pernah pisah dari pergaulannya agar mendapat faedah ruhani dari pergaulan itu.   Contohnya adalah  para ahli shufah yang tinggal di emperan mesjid Nabi Besar Muhammad saw. di Medinah, salah satu diantara mereka adalan Abu Hurairah r.a..
      (b) Mereka yang karena terkurung dalam lingkungan yang tidak bersahabat, menjadi mahrum (luput) dari sarana keperluan hidup, terutama karena alasan mereka telah beriman kepada Rasul Allah yang dijanjikan.
        Sima berarti tanda atau ciri yang membedakan, atau raut wajah  yang menjadi tanda atau ciri yang memperbedakan (Aqrab-al-Mawarid).  Ayat ini secara sepintas lalu memuji orang-orang yang memelihara rasa-harga-diri dengan mencegah diri dari minta-minta dan mengandung arti ketidakpantasan kebiasaan meminta-minta, seperti nampak dari kata-kata ta’affuf (mencegah diri dari hal-hal yang kurang pantas atau haram) dan ilhaf (dengan mendesak-desak). Nabi Besar Muhammad saw. mencela kebiasaan meminta-minta.
       Sehubungan dengan  pengembalian “hak” orang-orang miskin oleh orang-orang kaya  malalui pembayaran zakat dan  dan pemberian sedekah,  Allah Swt. berfirman dalam  surah lainnya:
اَوَ لَمۡ  یَرَوۡا  اَنَّ اللّٰہَ  یَبۡسُطُ الرِّزۡقَ  لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یَقۡدِرُ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ﴿﴾   فَاٰتِ ذَاالۡقُرۡبٰی حَقَّہٗ  وَ الۡمِسۡکِیۡنَ وَ ابۡنَ‌السَّبِیۡلِ ؕ ذٰلِکَ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ وَجۡہَ اللّٰہِ ۫ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ 
Apakah mereka tidak melihat, bahwasanya  Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia menyempitkan? Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda-tanda bagi kaum yang beriman.     فَاٰتِ ذَاالۡقُرۡبٰی حَقَّہٗ  وَ الۡمِسۡکِیۡنَ وَ ابۡنَ‌السَّبِیۡلِ   --  maka berikanlah  hanya kepada kaum kerabat,  orang miskin, dan orang musafir,  ذٰلِکَ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یُرِیۡدُوۡنَ وَجۡہَ اللّٰہِ ۫ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ --  yang demikian itu paling baik bagi orang-orang yang mengharapkan keridhaan Allah, وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ  -- dan mereka itulah orang-orang yang akan   memperoleh keberhasilan. (Ar-Rūm [30]:38-39).

Perbedaan Makna Kata Ati dan ‘Ithi   & Larangan Mengambil Riba

      Sebagaimana telah dikemukakan dalam akhir Bab sebelumnya bahwa kata “haknya” mengandung suatu asas yang halus, yakni bahwa bantuan keuangan yang diberikan orang-orang kaya kepada saudara-saudaranya yang miskin dalam bentuk zakat, merupakan hak dan milik saudara-saudaranya yang miskin itu, sebab mereka memberikan sumbangan yang penting kepada usaha (bisnis) orang-orang kaya dalam memperoleh kekayaannya, berupa jerih payah kerja mereka (QS.51:20).
      Manakala Al-Quran memerintahkan orang-orang beriman untuk memberikan bantuan keuangan kepada orang-orang fakir dan miskin, maka Al-Quran tetap mempergunakan kata āti dan bukan i’thi: ابۡنَ‌السَّبِیۡلِ فَاٰتِ ذَاالۡقُرۡبٰی حَقَّہٗ  وَ الۡمِسۡکِیۡنَ وَ --  ”maka berikanlah  hanya kepada kaum kerabat,  orang miskin, dan orang musafir”, dengan demikian Al-Quran berusaha melindungi rasa hargadiri orang-orang miskin yang menerima sedekah, sebab di mana kata i’thi menyatakan pengertian memberi, maka kata āti menyatakan pengertian menghadiahkan (Al-Kasysyaf ‘an Ghawamidh an-Tanzil oleh Imam Mahmud Ibnu ‘Umar Zamakhsyari).
    Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai  alasan melarang  riba  dan  memerintahkan membayar   zakat  bagi orang-orang  kaya:
وَ مَاۤ  اٰتَیۡتُمۡ مِّنۡ رِّبًا لِّیَرۡبُوَا۠ فِیۡۤ  اَمۡوَالِ النَّاسِ فَلَا یَرۡبُوۡا عِنۡدَ اللّٰہِ ۚ وَ مَاۤ  اٰتَیۡتُمۡ  مِّنۡ زَکٰوۃٍ  تُرِیۡدُوۡنَ وَجۡہَ اللّٰہِ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡمُضۡعِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan apa yang kamu berikan untuk memperoleh riba supaya harta manusia bertambah banyak,  padahal harta itu tidak bertambah banyak di sisi Allah, tetapi apa yang kamu berikan sebagai zakat dengan menginginkan keridhaan Allah maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapat be-lipat-ganda. (Ar-Rum [30]:38-40).
       Ayat ini mengadakan perbedaan yang tajam antara zakat dan riba. Sementara dengan jalan zakat itu Islam berusaha mengadakan perbaikan nasib buruk orang-orang miskin, maka seketika itu melindungi kehormatan dan rasa harga diri mereka, sedangkan pengambilan  riba bukan hanya tidak memperbaiki keadaan ekonomi orang-orang miskin, malahan sebenarnya cenderung membuat yang kaya bertambah kaya, dan yang miskin bertambah miskin lagi, sehingga “jurang pemisah” antara orang-orang kaya  (golongan kapitalis) dengan orang-orang miskin  (golongan sosialis)  semakin lebar dan dalam.
      Akibat dari adanya “jurang pemisah” yang semakin lebar dan dalam tersebut kemudian timbul  konfrontasi hebat   antara kedua belah pihak tersebut, yang kemudian memunculkan dua blok besar   -- yaitu penganut paham Kapitalisme dan penganut paham Sosialisme   -- yang  dalam Al-Quran disebut golongan  jin  dan ins  (QS.55:34-46), yang masih-masing pihak di Akhir Zaman ini diwakili oleh Amerika Serikat dan Uni Sovyet (Rusia).

Konfrontasi  Internasional Akibat Tidak Memenuhi Hak “Orang-orang Miskin”

      Selama  zakat  tidak dilaksanakan untuk menggantikan riba,  maka benih-benih konfrontasi tersebut akan terus bermunculan antara pihak majikan   dengan pihak buruh,  atau antara orang kaya dengan orang miskin , atau antara  golongan jin dan  dengan golongan ins  sebagaimana firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ یَمۡحَقُ اللّٰہُ الرِّبٰوا وَ یُرۡبِی الصَّدَقٰتِ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یُحِبُّ کُلَّ  کَفَّارٍ اَثِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang memakan riba  tidak berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya dengan penyakit gila.  Hal demikian adalah karena mereka berkata: اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا --  “Sesungguhnya jual-beli  pun sama dengan riba”,  وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا --  padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba.  Karena itu  barangsiapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Rabb-Nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari pelanggaran itu  maka untuknya  apa yang diterimanya di masa lalu, sedangkan urusannya terse-rah kepada Allah.  وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ   --  Dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka mereka adalah penghuni Api, mereka  kekal di dalamnyaیَمۡحَقُ اللّٰہُ الرِّبٰوا وَ یُرۡبِی الصَّدَقٰتِ  --  Allah akan menghapuskan  riba dan  mengembangkan sedekah-sedekah, وَ اللّٰہُ  لَا یُحِبُّ کُلَّ  کَفَّارٍ اَثِیۡمٍ  --  dan Allah tidak menyukai setiap orang  yang tetap dalam kekafiran lagi berdosa. اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ   --    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal shalih,  mendirikan shalat dan membayar zakat, bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhannya),  وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ  -- tidak ada ketakutan pada me-reka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah [2]:276-178). Lihat pula QS.3:131-132; QS.4:161
      Riba secara harfiah berarti suatu kelebihan atau imbuhan, menunjukkan tambahan yang melebihi dan di atas jumlah pokok (Lexicon Lane). Riba meliputi renten atau bunga uang. Menurut hadits “tiap-tiap pinjaman yang diberikan guna menarik keuntungan”, termasuk batasan ini.
        Pengertian-tambahan (konotasi) kata riba tidak betul-betul sama dengan “bunga uang” seperti biasa dipahami oleh umum. Tetapi karena tidak ada kata-kata yang lebih cocok, maka “bunga uang” dapat dipakai secara kasar sebagai kata padanannya.
        Pada hakikatnya setiap jumlah yang ditetapkan akan diterima atau dibayarkan lebih dari dan di atas apa yang dipinjamkan atau diterima sebagai pinjaman itu, ialah, “bunga uang,” apakah berurusannya itu dengan perseorangan atau dengan bank atau perkumpulan atau kantor pos atau organisasi lainnya.
      “Bunga uang” (riba) tak terbatas pada uang saja, “bunga uang” (riba) punmeliputi tiap-tiap barang dagangan yang diberikan sebagai pinjaman dengan syarat bahwa benda itu akan dikembalikan dengan kelebihan yang telah disepakati.

Pengaruh Buruk Riba Terhadap  Pihak Pemberi Pinjaman dan Pihak Peminjam   Hubungan Riba dengan Peperangan

        Kata-kata  اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ  -- “Orang-orang  yang memakan riba  tidak berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya dengan penyakit gila,   berarti bahwa seperti halnya seorang-orang gila tidak peduli  akan akibat perbuatannya, demikian pula halnya lintah darat (rentenir) dengan tidak ada belas kasihan  tidak menghiraukan kemudaratan dalam akhlak dan ekonomi yang ditimpakan mereka atas perseorangan-perseorangan, masyarakat, dan malahan atas khalayak dunia pada umumnya.
       Riba menyebabkan pula semacam kegilaan dalam diri si lintah darat (rentenir) dalam artian bahwa seluruh kesibukannya dalam mencari untung menjadikan dia menjadi tidak peka terhadap segala maksud baik atau amal shaleh.   Riba dilarang dalam Islam sebab membuka kesempatan menarik kekayaan ke dalam tangan satu lingkungan kecil dan karenanya membawa pengaruh buruk dalam pembagiannya secara adil dan merata.
       Riba menambah kemalasan di kalangan orang-orang yang meminjamkan uang, dan membunuh dalam dirinya segala perangsang untuk menolong orang lain, dan menyumbat segala sumber tindakan kasih-sayang. Peminjam uang mengambil kesempatan dan mengeruk keuntungan dari keperluan dan kesusahan orang-orang lain.
      Sementara di satu pihak riba menyebabkan siapa (pihak) yang meminjamkan memeras keperluan orang lain, di pihak lain riba menimbulkan pada si peminjam ada kecenderungan mengerjakan segala sesuatu dengan ceroboh dan mengambil utang dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan kesanggupannya membayar kembali, dengan demikian mencederai akhlaknya sendiri dan akhlak pribadi yang meminjamkan.
     Riba menjuruskan pula kepada peperangan. Tiada peperangan yang berlarut-larut terjadi tanpa bantuan pinjaman yang bunganya membawa kepada keruntuhan ekonomi bagi pihak yang menang dan pihak yang kalah kedua-duanya. Sistem riba yang memudahkan mengambil pinjaman, membuka kemungkinan bagi pemerintah-pemerintah meneruskan peperangan yang merusak itu, sebab mereka mendapatkan angin untuk berperang tanpa mengadakan pemungutan pajak dengan langsung. Itulah sebabnya Islam (Al-Quran) melarang segala bentuk riba.
      Sehubungan dengan hal tersebut, berikut firman  Allah Swt.   mengenai ancaman-Nya terhadap orang atau bangsa yang mempertahankan sistim riba dalam perekonomiannya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ ذَرُوۡا مَا بَقِیَ مِنَ الرِّبٰۤوا اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا فَاۡذَنُوۡا بِحَرۡبٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُبۡتُمۡ  فَلَکُمۡ رُءُوۡسُ اَمۡوَالِکُمۡ ۚ لَا تَظۡلِمُوۡنَ وَ لَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah yang masih tersisa dari riba jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman. فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا فَاۡذَنُوۡا بِحَرۡبٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ    -- Tetapi jika kamu tidak  mengerjakannya maka waspadalah terhadap perang dari Allah dan Rasul-Nya, وَ  اِنۡ تُبۡتُمۡ  فَلَکُمۡ رُءُوۡسُ اَمۡوَالِکُمۡ ۚ لَا تَظۡلِمُوۡنَ وَ لَا تُظۡلَمُوۡنَ   -- dan  jika kamu bertaubat maka untukmu harta pokokmu dengan demikian kamu tidak akan menzalimi  dan tidak pula kamu akan dizalimi. (Al-Baqarah [2]:279-280).

“Langit baru dan Bumi Baru” Kejayaan Islam Kedua Kali di  Akhir Zaman

        Di zaman modern ini perniagaan telah begitu terikat oleh dan tak terpisahkan dari rantai riba,  sehingga seolah-olah hampir tidak mungkin menghindarkannya sama sekali. Tetapi bila diadakan perubahan dalam sistem dan dalam lingkungan serta keadaan, maka perniagaan tanpa riba dapat diselenggarakan seperti halnya pada hari-hari ketika Islam (umat Islam) berada di masa  keemasannya  selama 3 abad, sebelum mengalami masa kemunduran pada abad berikutnya secara berangsur-angsur selama 1000 tahun (QS.32:6).
      Ayat   یَمۡحَقُ اللّٰہُ الرِّبٰوا وَ یُرۡبِی الصَّدَقٰتِ  --  Allah akan menghapuskan  riba dan  mengembangkan sedekah-sedekah,” Hal itu merupakan nubuatan bahwa ekonomi berdasarkan  riba akhirnya akan lenyap atau akan binasa, yaitu di masa  kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir  Zaman ini melalui Rasul Akhir Zaman yang dibangkitkan di kalangan umat Islam, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaff [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih Mau’ud a.s. (Al-Masih yang dijanjikan),  sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam kedua kali di atas semua agama akan menjadi kepastian. Rasul Akhir Zaman  yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam tersebut pada hakikatnya adalah pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani, sebagai bukti keabadian kerasulan beliau saw. (QS.3:32; QS.4:70-71; QS.33:22), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾      وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam ke-sesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan me-reka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).   

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 11 Januari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar