Sabtu, 10 Januari 2015

Penyebab "Kaum Pilihan Tuhan" Menjadi "Kaum yang Dimurkai Tuhan" & Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Kepada Orang-orang Kafir Bani Israil






بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 27

  
Penyebab “Kaum Pilihan Tuhan” Menjadi “Kaum yang Dimurkai Tuhan” & Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  Kepada Orang-orang Kafir di Kalangan Bani Israil


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  maksud kata “kemenangan” dalam ayat   اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ – “apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan  adalah kemenangan yang dijanjikan. Dan karena janji Allah  Swt.   telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka  Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat ini  diperintahkan agar bersyukur kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya: فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ   -- “Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau,” firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾   وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong,   Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau,  dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).

Makna Perintah Istighfar    Pada  Waktu Terwujudnya  Kemenangan Islam

 Ada pun makna ayat selanjutnya وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat,” di sini dikatakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. bahwa   karena kemenangan telah datang kepada beliau saw. dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri serta  musuh-musuh dahulu telah saw. menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa supaya Allah Swt.  memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw.  pada masa lampau.  Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah kepada Nabi Besar Muhammad saw.  supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.  وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.
    Atau artinya ialah bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah sangat bermakna  bahwa manakala di dalam Al-Quran disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya. Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun  beliau  saw. diperintahkan agar  memohon ampunan Allah Swt.  dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang lain, yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau saw. menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Allah Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
  Jadi,  maka ayat  وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat    sama sekali bukan berarti bahwa, Nabi Besar Muhammad saw.  beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Sebab menurut Allah Swt. dalam Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus  (QS.3:32; QS.33:22; QS.53:1-19; QS.68:1-7), melainkan erat hubungannya dengan  pengabulan   doa orang-orang yang mendapat petunjuk  ke “jalan  yang lurus” dalam Surah Al-Fatihah,  yaitu  orang-orang yang mendapat nikmat-nikmat ruhani  dari  Allah Swt (QS.4:70-71), firman-Nya:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾   صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                                
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah  dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ --  Tunjukilah kami   jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ   -- yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ  --   bukan jalan mereka  yang dimurkai  وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪  -- dan bukan pula jalan mereka  yang sesat.  (Al-Fatihah [1]:5-7).

Penyebab  Kaum Pilihan Tuhan” Menjadi “Kaum  yang Dimurkai Tuhan

      Mengenai nikmat-nikmat ruhani  yang dijanjikan kepada para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw. tersebut (QS.3:32) Allah Swt. Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini  فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ  -- maka mereka akan termasuk di antara   orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا  --   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
     Penyebab utama kaum Yahudi    dari bangsa “pilihan Allah Swt.” pada zaman mereka (QS.2:48 & 123; QS.3:34; QS.5:31; QS.6”87; QS.7:141; QS.45:17) kemudian menjadi golongan maghdhūb (yang dimurkai) dan dhāllīn (yang sesat), karena mereka senantiasa mendustakan   -- bahkan berusaha membunuh -- rasul-rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka, mulai Nabi Musa a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:88-91; QS.4:156-159; QS.5:47), sehingga mereka mendapat kutukan dari para Rasul Allah tersebut, terutama Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.   Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang di-kerjakannya, benar-benar sangat  bu-ruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ   -- Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ  --  yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal (Al-Maidah [5]:79-81).
         Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi. Penzaliman orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.   mencapai puncaknya, ketika beliau dipakukan pada  kayu salib (QS.4:156-159), dan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s.  dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu, tercermin di dalam Mazmurnya yang sangat merawankan hati. Dari lubuk hati yang penuh kepedihan, Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengutuk mereka.

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

       Kutukan Nabi Daud a.s.  mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar dari kerajaan Babilonia yang menghancurluluhkan Yerusalem (QS.2:260; QS.17:5-6;  Ulangan 28:15-68) dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi, sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena panglima Titus dari kerajaan Romawi yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu (QS.17:7-8; QS. Matius 23:37-39 )
        Salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan kemurkaan Allah Swt atas kaum Yahudi ialah, mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang begitu merajalela di tengah-tengah mereka, sebagaimana tergambar dari kecaman keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas mereka (Matius 23:1-39).
      Mengisyaratkan kepada golongan jin --  yakni para pemuka kaum atau para pemuka agama – yang bernasib malang  karena mendustakan dan menentang Rasul Allah  yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka itulah (QS.7:35-37), firman Allah Swt.  berikut ini, sehingga kemudian mereka menjadi golongan maghdhūb dan dhāllīn (QS.1:7):
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ  --   Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡ  -- akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya, فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ  -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan,  اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ   -- jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ --   Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ  --    Sangat buruk misal aorang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sen-dirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).
  Sebagaimana telah dikemukakan bahwa yang dimaksudkan ayat 176   bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi  Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka  (QS.7:35-37) tetapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).

Orang-orang yang Terusir dari “Surga Keridhaan Ilahi

    Ayat 177  telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.    dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran di setiap zaman Rasul Allah, termasuk di Akhir Zaman ini.
 Makna ayat   وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ  -- “tetapi ia cenderung ke bumi” adalah hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan akan uang dan kehormatan serta keuntungan duniawi lainnya. Yalhats dari lahatsa yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
   Hal seperti itu  terjadi karena mereka sangat mencintai kehidupan duniawi, berikut firman-Nya mengenai orang-orang Yahudi:
قُلۡ  اِنۡ کَانَتۡ لَکُمُ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ عِنۡدَ اللّٰہِ خَالِصَۃً مِّنۡ دُوۡنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الۡمَوۡتَ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَنۡ یَّتَمَنَّوۡہُ اَبَدًۢا بِمَا قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡہِمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَتَجِدَنَّہُمۡ اَحۡرَصَ النَّاسِ عَلٰی حَیٰوۃٍ  ۚۛ وَ مِنَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا  ۚۛ یَوَدُّ  اَحَدُہُمۡ لَوۡ یُعَمَّرُ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ وَ مَا ہُوَ بِمُزَحۡزِحِہٖ مِنَ الۡعَذَابِ اَنۡ یُّعَمَّرَ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:  ”Jika tempat kediaman akhirat di sisi Allah  khusus untuk kamu, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian olehmu, jika kamu sungguh orang-orang yang  benar.”  Dan mereka  tidak akan pernah menginginkan kematian   itu selama-lamanya disebabkan apa yang telah dikerjakan tangan mereka, dan Allah Maha Mengetahui orang-orang zalim.   Dan niscaya engkau benar-benar akan mendapati mereka sebagai manusia paling tamak kepada  kehi-dupan dunia dan bahkan lebih daripada orang-orang musyrik,  masing-masing mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal diberi umur selama itu  tidak dapat menjauhkannya dari azab, dan Allāh Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah [2]:95-97).
        Ayat 95 artinya ialah bahwa jika orang-orang Yahudi telah yakin bahwa mereka itu dibenarkan dalam pengakuan mereka bahwa Allah Swt.  akan menganugerahkan rahmat-Nya hanya kepada mereka – karena mereka mengaku sebagai bangsa kesayangan Allah Swt. dan para pewaris surga (QS.2:112) --  dan kalau pengakuan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “nabi yang seperti Musa” (QS.46:11) itu palsu maka mereka itu harus memohonkan kematian dan kebinasaan atas si pendusta.
       Makna ayat وَ لَتَجِدَنَّہُمۡ اَحۡرَصَ النَّاسِ عَلٰی حَیٰوۃٍ  ۚۛ وَ مِنَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا  -- “Dan niscaya engkau benar-benar akan mendapati mereka sebagai manusia paling tamak kepada  kehidupan dunia dan bahkan lebih daripada orang-orang musyrik.” Orang-orang musyrik tidak begitu lekat ikatan mereka kepada kehidupan di dunia  ketimbang orang-orang Yahudi karena, beda dari kaum Yahudi, mereka tak beriman kepada kehidupan sesudah mati (akhirat) dan oleh karena itu orang-orang musyrik  tidak punya rasa takut akan siksaan sesudah mati.

Menghalalkan Riba yang Diharamkan Allah Swt.

      Kecintaan berlebihan terhadap kehidupan duniawi serta keuntungan duniawi itu pulalah penyebab utama mereka  bukan saja menghalalkan riba yang diharamkan Allah Swt. (QS.2:276; QS.3:131-132; QS.30:40), bahkan menjadikannya sebagai sarana utama dalam memperoleh keuntungan duniawi  dalam berbagai bentuk kegiatan ekonomi  dan politik, misalnya berupa pemberian  pinjaman untuk membiayai peperangan  di kalangan negara-negara yang bersengketa. 


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 9  Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar