بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 27
Penyebab “Kaum Pilihan Tuhan” Menjadi “Kaum yang Dimurkai Tuhan” & Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Kepada Orang-orang
Kafir di Kalangan Bani Israil
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
alam
akhir Bab sebelumnya telah dibahas maksud kata “kemenangan”
dalam ayat اِذَا
جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ
الۡفَتۡحُ – “apabila datang pertolongan
Allah dan kemenangan” adalah kemenangan
yang dijanjikan. Dan karena janji Allah
Swt. telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat ini diperintahkan agar bersyukur kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya: فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ
-- “Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau,”
firman-Nya:
|
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ
رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ
دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ
بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ
ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apabila datang
pertolongan Allah dan kemenangan,
dan engkau melihat manusia masuk
dalam agama Allah berbondong-bondong,
Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb
(Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
Makna Perintah Istighfar Pada
Waktu Terwujudnya Kemenangan Islam
Ada pun makna ayat selanjutnya وَ
اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat,” di sini dikatakan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. bahwa karena kemenangan
telah datang kepada beliau saw. dan Islam
telah berkuasa di seluruh negeri serta musuh-musuh dahulu telah saw. menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa supaya Allah Swt. memaafkan
kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw.
pada masa lampau. Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah
kepada Nabi Besar Muhammad saw. supaya
memohon ampunan kepada Allah Swt. وَ
اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.”
Atau
artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad
saw. diperintahkan supaya
memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat
menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum
Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah
sangat bermakna bahwa manakala di dalam
Al-Quran disebutkan perihal kemenangan
atau perihal keberhasilan besar
lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. selalu
diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan
dan perlindungan-Nya. Hal itu jelas
menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun beliau saw. diperintahkan agar memohon
ampunan Allah Swt. dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau
saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang
lain, yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya
datang, ketika para pengikut beliau saw. menyimpang
dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Allah
Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
Jadi, maka ayat
وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat” sama sekali bukan berarti bahwa, Nabi Besar
Muhammad saw. beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Sebab menurut
Allah Swt. dalam Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan
dari jalan lurus (QS.3:32; QS.33:22; QS.53:1-19; QS.68:1-7),
melainkan erat hubungannya dengan pengabulan
doa orang-orang yang mendapat petunjuk ke “jalan
yang lurus” dalam Surah Al-Fatihah, yaitu
orang-orang yang mendapat nikmat-nikmat
ruhani dari Allah Swt (QS.4:70-71), firman-Nya:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ
اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Hanya Engkau-lah
Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ
-- Tunjukilah
kami jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,
غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ -- bukan jalan mereka yang
dimurkai وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪ -- dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (Al-Fatihah
[1]:5-7).
Penyebab “Kaum
Pilihan Tuhan” Menjadi “Kaum yang
Dimurkai Tuhan”
Mengenai nikmat-nikmat ruhani yang dijanjikan kepada para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw.
tersebut (QS.3:32) Allah Swt. Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul
ini فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ -- maka
mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, dan mereka
itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا
-- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
Penyebab utama kaum Yahudi dari bangsa “pilihan Allah Swt.” pada zaman mereka (QS.2:48
& 123; QS.3:34; QS.5:31; QS.6”87; QS.7:141; QS.45:17) kemudian menjadi
golongan maghdhūb (yang dimurkai) dan dhāllīn (yang sesat), karena mereka
senantiasa mendustakan -- bahkan berusaha membunuh -- rasul-rasul Allah
yang dibangkitkan di kalangan mereka, mulai Nabi
Musa a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. (QS.2:88-91; QS.4:156-159; QS.5:47), sehingga mereka mendapat kutukan dari para Rasul Allah tersebut, terutama Nabi
Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s., firman-Nya:
لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ
﴿﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ
ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran yang di-kerjakannya, benar-benar
sangat
bu-ruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ
مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ -- Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai
pelindung, dan benar-benar
sangat buruk apa yang telah mereka
dahulukan bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu
bahwa Allah murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal (Al-Maidah
[5]:79-81).
Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s. dan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang
Yahudi. Penzaliman orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mencapai puncaknya, ketika beliau dipakukan pada kayu
salib (QS.4:156-159), dan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s. dari kaum yang tak mengenal terima kasih
itu, tercermin di dalam Mazmurnya yang sangat merawankan hati. Dari
lubuk hati yang penuh kepedihan, Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. mengutuk
mereka.
Kutukan Nabi Daud a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Kutukan Nabi Daud
a.s. mengakibatkan
orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar dari kerajaan Babilonia
yang menghancurluluhkan Yerusalem (QS.2:260;
QS.17:5-6; Ulangan 28:15-68) dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi,
sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibu
Maryam a.s. mereka ditimpa bencana
dahsyat, karena panglima Titus dari kerajaan Romawi yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70
Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat
dibenci oleh orang-orang Yahudi — di
dalam rumah-ibadah itu (QS.17:7-8;
QS. Matius 23:37-39 )
Salah
satu di antara dosa-dosa besar yang
membangkitkan kemurkaan Allah Swt atas kaum Yahudi
ialah, mereka tidak melarang satu
sama lain, terhadap kejahatan yang
begitu merajalela di tengah-tengah mereka, sebagaimana tergambar dari kecaman keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
atas mereka (Matius 23:1-39).
Mengisyaratkan kepada golongan jin -- yakni para pemuka
kaum atau para pemuka agama –
yang bernasib malang karena mendustakan
dan menentang Rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan kepada mereka itulah (QS.7:35-37), firman Allah Swt. berikut ini, sehingga kemudian mereka menjadi
golongan maghdhūb dan dhāllīn (QS.1:7):
وَ اتۡلُ
عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا
لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ
فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ
اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ
تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ
الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا
یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka berita orang-orang
yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ
وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- Dan seandainya
Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan
itu, وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ
ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡ -- akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya, فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang
kehausan, اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ
اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ -- jika engkau
menghalaunya ia menjulurkan lidahnya
dan jika engkau membiarkannya ia tetap
menjulurkan lidahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ
الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ -- Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ -- Sangat buruk misal aorang-orang
yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada
diri mereka sen-dirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa yang
dimaksudkan ayat 176 bukanlah seseorang
tertentu melainkan semua orang
yang kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan
Tanda-tanda melalui seorang nabi
Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka (QS.7:35-37) tetapi mereka
menolaknya. Ungkapan semacam itu
terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).
Orang-orang yang Terusir dari “Surga Keridhaan
Ilahi”
Ayat 177
telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah
pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.
dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan
kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat
pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran di setiap zaman Rasul Allah, termasuk di Akhir
Zaman ini.
Makna ayat وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ -- “tetapi
ia cenderung ke bumi” adalah hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan
akan uang dan kehormatan serta keuntungan
duniawi lainnya. Yalhats dari lahatsa yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya
adalah baik diminta ataupun tidak
untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya
terengah-engah seperti seekor anjing
kehausan, seakan-akan beban pemberian
pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
Hal seperti
itu terjadi karena mereka sangat
mencintai kehidupan duniawi, berikut
firman-Nya mengenai orang-orang Yahudi:
قُلۡ اِنۡ کَانَتۡ لَکُمُ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ
عِنۡدَ اللّٰہِ خَالِصَۃً مِّنۡ دُوۡنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الۡمَوۡتَ اِنۡ
کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَنۡ یَّتَمَنَّوۡہُ اَبَدًۢا بِمَا قَدَّمَتۡ
اَیۡدِیۡہِمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَتَجِدَنَّہُمۡ
اَحۡرَصَ النَّاسِ عَلٰی حَیٰوۃٍ ۚۛ وَ
مِنَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا ۚۛ
یَوَدُّ اَحَدُہُمۡ لَوۡ یُعَمَّرُ اَلۡفَ
سَنَۃٍ ۚ وَ مَا ہُوَ بِمُزَحۡزِحِہٖ مِنَ الۡعَذَابِ اَنۡ یُّعَمَّرَ ؕ وَ
اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: ”Jika tempat kediaman akhirat di sisi Allah
khusus untuk kamu, bukan untuk
orang lain, maka inginkanlah
kematian olehmu, jika kamu sungguh
orang-orang yang benar.” Dan mereka
tidak akan pernah
menginginkan kematian itu selama-lamanya
disebabkan apa yang telah dikerjakan
tangan mereka, dan Allah Maha Mengetahui
orang-orang zalim. Dan niscaya
engkau benar-benar akan mendapati mereka sebagai manusia paling tamak kepada kehi-dupan dunia dan bahkan
lebih daripada orang-orang musyrik,
masing-masing mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal
diberi umur selama itu tidak dapat menjauhkannya dari azab,
dan Allāh Maha Melihat apa yang mereka
kerjakan. (Al-Baqarah [2]:95-97).
Ayat 95 artinya ialah bahwa jika orang-orang
Yahudi telah yakin bahwa mereka
itu dibenarkan dalam pengakuan mereka
bahwa Allah Swt. akan
menganugerahkan rahmat-Nya hanya
kepada mereka – karena mereka mengaku sebagai bangsa kesayangan Allah Swt. dan para pewaris surga (QS.2:112) -- dan
kalau pengakuan Nabi Besar Muhammad
saw. sebagai “nabi yang seperti Musa”
(QS.46:11) itu palsu maka mereka itu
harus memohonkan kematian dan kebinasaan atas si pendusta.
Makna ayat وَ لَتَجِدَنَّہُمۡ اَحۡرَصَ النَّاسِ
عَلٰی حَیٰوۃٍ ۚۛ وَ مِنَ الَّذِیۡنَ
اَشۡرَکُوۡا -- “Dan niscaya engkau benar-benar akan mendapati
mereka sebagai manusia paling
tamak kepada kehidupan dunia
dan bahkan lebih daripada
orang-orang musyrik.” Orang-orang musyrik
tidak begitu lekat ikatan mereka
kepada kehidupan di dunia ketimbang orang-orang
Yahudi karena, beda dari kaum Yahudi, mereka tak beriman kepada kehidupan sesudah mati (akhirat) dan oleh karena
itu orang-orang musyrik tidak punya rasa takut akan siksaan sesudah mati.
Menghalalkan Riba yang
Diharamkan Allah Swt.
Kecintaan berlebihan terhadap kehidupan duniawi serta keuntungan duniawi itu pulalah penyebab
utama mereka bukan saja menghalalkan riba yang diharamkan Allah Swt. (QS.2:276;
QS.3:131-132; QS.30:40), bahkan menjadikannya sebagai sarana utama dalam memperoleh keuntungan
duniawi dalam berbagai bentuk
kegiatan ekonomi dan
politik, misalnya berupa pemberian pinjaman untuk membiayai peperangan di kalangan negara-negara yang bersengketa.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 9 Januari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar