بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 19
Jaminan “Pemeliharaan”
Allah Swt. Terhadap Al-Quran &
Perumpamaan “Kalimah yang Baik” dan “Kalimah yang Buruk”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai tiga
cara Allah Swt. berbicara
atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka, firman-Nya:
وَ مَا
کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ
اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ
وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ
اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ
مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ﴿ۙ﴾ صِرَاطِ اللّٰہِ
الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ اِلَی
اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali
dengan wahyu, atau dari belakang tabir, atau dengan
mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman
ini dengan perintah Kami. Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami, dan
sesungguhnya engkau benar-benar memberi
petunjuk ke jalan lurus, Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.
Ketahuilah, kepada Allah segala perkara
kembali. (Asy-Syurā [42]:52-54).
Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi dengan Manusia
Dari firman-Nya tersebut diketahui bahwa tiga cara Allah Swt. berkomunikasi dengan manusia -- khususnya dengan para rasul (nabi) Allah -- yaitu:
(a) Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara,
sebagaimana contohnya dialog yang
terjadi antara Allah Swt. dengan Nabi Musa a.s. (QS.4:164-165;
QS.28:30-36): وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ
یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ -- Dan sekali-kali
tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah
berbicara kepadanya اِلَّا وَحۡیًا -- “kecuali dengan wahyu.”
(b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), اَوۡ مِنۡ
وَّرَآیِٔ حِجَابٍ -- “atau dari
belakang tabir” yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau
kadang-kadang membuat mereka mendengar
kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud yang berbicara
kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari
belakang tabir" seperti yang dialami oleh Maryam tentang kelahiran
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.3:43-44; 19: 17-22).
(c) Allah Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat
Ilahi (QS.2:98-99; QS.26:193-198): اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ -- “atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya
apa yang Dia kehendaki, اِنَّہٗ
عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ --
sesungguhnya Dia Maha Tinggi, Maha
Bijaksana.”
Al-Quran di dalam ayat selanjutnya disebut rūh
(nafas hidup — Lexicon Lane),
sebab dengan perantaraannya bangsa yang
telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru, itulah makna firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau ruh (firman) ini dengan perintah
Kami.”
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman: وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur,
yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada
siapa yang Kami kehendaki dari
antara hamba-hamba Kami,” yakni bahwa Islam (Al-Quran) adalah kehidupan,
nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt. dan menyadarkan
manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya: صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.”
Jaminan Pemeliharaan
Al-Quran
Makna ayat اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ
تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ – “Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali,”
bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di Tangan Allah Swt., termasuk pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai syariat dan Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) serta jaminan pemeliharaannya,
firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya.” (Al-Hijr
[15]:10).
Dalam
kalimat وَ
اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ -- “dan
sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya”
bukan hanya berupa penegasan Allah Swt. bahwa
Dia akan senantiasa melakukan pemeliharaan terhadap Al-Quran dari
berbagai kerusakan -- baik sebagai akibat berjalannya waktu yang semakin lama, maupun akibat dari
upaya-upaya secara
sengaja mau pun tidak disengaja untuk melakukan pengurangan atau penambahan atau pun penyimpangan makna-makna ayat-ayat
Al-Quran oleh orang-orang yang hatinya bengkok dan beroenyakit (QS.3:8-9) dan lain-lain --
yang akan membuat Al-Quran
mengalami kerusakan seperti yang
dialami oleh Kitab-kitab suci
sebelumnya.
Janji Allah Swt. mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan cara yang sangat menakjubkan, sehingga sekalipun
andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan
ini saja niscaya sudah cukup membuktikan
bahwa Al-Quran itu berasal
dari Allah Swt..
Surah Al-Hijr
diturunkan di Mekkah (Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. beserta para pengikut beliau saw. sangat
morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh
dengan mudah dapat menghancurkan agama baru itu.
Ketika itulah orang-orang kafir ditantang
untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan
bahwa Allah Swt.. akan menggagalkan segala tipu-daya mereka sebab Dia sendirilah Penjaganya. Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan
keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan,
penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna.
Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak
dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan. Sir William Muir, sarjana
ahli kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan
yang paling keras, bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan
gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ......................
Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita
memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan
...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami
perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah
membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
Prof. Noldeke, ahli ketimuran
besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya
sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopaedia Britannica).
Kebalikannya, kegagalan mutlak
dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam
kemurnian teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran da'wa kitab
itu, bahwa di antara semua kitab suci
yang diwahyukan, hanya Al-Quranlah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia,
firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya.” (Al-Hijr
[15]:10).
Perumpamaan “Kalimah yang Baik”
Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt.
bukan saja menggambarkan kesempurnaan
Al-Quran (QS.5:4) serta keterpeliharaannya
dari berbagai kemungkinan mengalami kerusakan, tetapi juga berisi nubuatan mengenai akan munculnya “buah-buahan ruhani” dari “pohon
Al-Quran” yang tidak mengenal musim, yang juga pada hakikatnya
merupakan cara Allah Swt. memelihara serta mengeluarkan khazanah ruhani dari Al-Quran yang tidak terbatas, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ
کَیۡفَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً کَشَجَرَۃٍ
طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾ تُؤۡتِیۡۤ اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ بِاِذۡنِ رَبِّہَا ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ
یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah
engkau melihat, bagaimana Allah
mengemukakan perumpamaan satu kalimat yang baik? Kalimat itu seperti sebatang pohon yang baik, yang akarnya kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau langit?
Ia memberikan buahnya setiap waktu dengan
izin Rabb-nya (Tuhan-Nya), dan Allah
mengemukakan perumpamaan-perumpamaan
itu bagi manusia supaya mereka
mendapat nasihat. (Ibrahim [14]:25-26).
Firman
Allah Swt. dalam wujud wahyu Al-Quran dalam ayat-ayat ini diumpamakan sebatang pohon yang mempunyai empat
macam sifat yang penting:
(a) Kalam
Ilahi itu baik, artinya bersih dari
segala ajaran-ajaran yang bertentangan dengan akal dan kata hati
manusia atau berlawanan dengan perasaan dan kepekaan tabiat manusia.
(b) Seperti sebatang pohon yang baik,
akarnya dalam serta buahnya subur; Kalam Ilahi itu mempunyai dasar
yang kuat dan kokoh, dan menerima hayat serta jaminan hidup yang tetap segar
dari sumbernya; dan laksana sebatang
pohon yang kuat firman Ilahi itu tidak merunduk oleh tiupan angin perlawanan serta kecaman
yang timbul dari rasa permusuhan,
tetapi berdiri tegak di hadapan
segala taufan badai. Firman Allah itu
mendapat hayat dan jaminan hidup hanya dari satu sumber dan oleh karena itu tidak ada ketidak-serasian atau pertentangan dalam prinsip-prinsip dan ajarannya
(QS.4:83; QS.47:25; QS.67:1-5).
(c) Dahan-dahannya menjangkau sampai ke
langit, yang berarti bahwa dengan mengamalkannya, orang dapat menanjak ke puncak-puncak kemuliaan ruhani tertinggi (QS.89:28-31).
(d) Kalam
Ilahi itu menghasilkan buahnya
yang berlimpah-limpah di segala musim,
yang berarti bahwa berkat-berkatnya
nampak di sepanjang masa. Kalam Ilahi
itu di sepanjang abad terus-menerus membuahkan (melahirkan) orang-orang
yang karena beramal sesuai dengan ajaran-ajarannya mencapai perhubungan dengan Allah Swt., dan karena kejujurannya serta kesucian
dalam tingkah lakunya, menjulang tinggi
dan mengatasi orang-orang yang sezaman dengan mereka (QS.4:70-71). Al-Quran memiliki semua sifat itu dalam ukuran yang sepenuhnya.
Perumpamaan “Kalimah yang Buruk”
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa Sumber semua kitab wahyu yang diwahyukan sebelum Al-Quran adalah sama
dengan Sumber wahyu Al-Quran yaitu Allah Swt., tetapi karena
agama-agama serta Kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Quran missinya bersifat sementara -- karena keadaan perkembangan jiwa manusia belum mencapai kepada kedewasaannya (Ulangan 18:15:19; Wahyu
16:12-13) -- karena itu Allah Swt. tidak
memberikan jaminan pemeliharaan
atas agama-agama dan kitab-kitab suci tersebut.
Itulah sebabnya agama-agama atau Kitab-kitab
suci yang diturunkan sebagai agama
Islam (Al-Quran), seiring dengan berlalunya
waktu terus menerus mengalami kerusakan -- baik berupa pengurangan mau pun penambahan
-- karena harus disesuaikan
dengan tuntutan kebutuhan jiwa
manusia yang terus semakin dewasa,
yakni bagaikan pakaian seorang
anak kecil yang harus
mengalami perombakan terus menerus
karena tubuhnya semakin besar dan jiwanya semakin dewasa.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah perumpamaan selanjutnya yang dikemukakan
Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَثَلُ
کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ
فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا لَہَا مِنۡ قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ اللّٰہُ
مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk adalah seperti pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia se-kali-kali tidak
memiliki kemantapan. یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Allah
meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ اللّٰہُ
مَا یَشَآءُ -- dan
Allah menyesatkan orang-orang zalim,
dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
(Ibrahim [14]:27-28).
Jadi, berbeda dari pohon yang baik, kitab yang diciptakan oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam.
Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas
serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
Kitab seperti itu merupakan ajaran
yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan. Kitab semacam itu
tidak bisa melahirkan orang-orang yang
dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt.. Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi
dan selamanya terancam keruntuhan dan
kemunduran.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 1 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar