Jumat, 02 Januari 2015

Jaminan "Pemeliharaan" Allah Swt. Terhadap Al-Quran & Perumpamaan "Kalimah yang Baik" dan "Kalimah yang Buruk"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 19

Jaminan   Pemeliharaan” Allah Swt. Terhadap  Al-Quran   & Perumpamaan “Kalimah yang Baik” dan “Kalimah yang Buruk


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai tiga cara Allah Swt. berbicara atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka, firman-Nya:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu,   atau dari belakang tabir,    atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya  Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini  dengan perintah Kami.    Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami,  dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus,   Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Asy-Syurā [42]:52-54).

Tiga Cara Allah Swt. Berkomunikasi dengan Manusia

      Dari firman-Nya tersebut diketahui  bahwa tiga cara Allah Swt. berkomunikasi  dengan manusia    -- khususnya dengan para rasul (nabi) Allah -- yaitu:
   (a) Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara, sebagaimana contohnya dialog yang terjadi antara  Allah Swt.  dengan Nabi Musa a.s. (QS.4:164-165; QS.28:30-36):  وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ    --  Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya اِلَّا وَحۡیًا  -- “kecuali dengan wahyu.”
   (b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib),  اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ --  “atau dari belakang tabir”  yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir" seperti yang dialami oleh Maryam tentang   kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.3:43-44; 19: 17-22).
   (c) Allah Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi (QS.2:98-99; QS.26:193-198):  اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ  --  “atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ -- sesungguhnya  Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.”
   Al-Quran di dalam ayat selanjutnya disebut rūh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya  bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru, itulah makna firman-Nya: وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا  --  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau ruh (firman) ini  dengan perintah Kami.”  
   Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami,”   yakni bahwa Islam (Al-Quran) adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt.  dan menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya: صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ  --  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.”

Jaminan Pemeliharaan Al-Quran

   Makna ayat اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ – “Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali,”  bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di Tangan Allah  Swt., termasuk pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai syariat dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) serta jaminan pemeliharaannya, firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.”  (Al-Hijr [15]:10).
          Dalam kalimat  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ -- “dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya” bukan hanya berupa  penegasan Allah Swt.  bahwa Dia akan senantiasa melakukan  pemeliharaan terhadap Al-Quran dari berbagai kerusakan  -- baik sebagai akibat berjalannya waktu yang semakin lama, maupun akibat dari upaya-upaya    secara   sengaja mau pun tidak disengaja untuk melakukan pengurangan atau penambahan atau pun  penyimpangan makna-makna ayat-ayat Al-Quran  oleh orang-orang yang hatinya bengkok dan beroenyakit (QS.3:8-9) dan lain-lain  --    yang akan membuat Al-Quran mengalami kerusakan seperti yang dialami oleh Kitab-kitab suci sebelumnya.
        Janji Allah Swt. mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan cara yang sangat menakjubkan, sehingga sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya sudah cukup membuktikan  bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt..
     Surah  Al-Hijr   diturunkan di Mekkah (Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw.  beserta para pengikut beliau saw. sangat morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama  baru itu.
      Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt..  akan menggagalkan segala tipu-daya mereka sebab Dia sendirilah Penjaganya. Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna.
       Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan. Sir William Muir, sarjana ahli kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras, bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ...................... Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan ...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
        Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopaedia Britannica).
Kebalikannya, kegagalan mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab suci yang diwahyukan, hanya Al-Quranlah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia, firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.”  (Al-Hijr [15]:10).

Perumpamaan “Kalimah yang Baik

    Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt. bukan saja menggambarkan kesempurnaan Al-Quran (QS.5:4) serta keterpeliharaannya  dari berbagai kemungkinan mengalami kerusakan,  tetapi juga berisi nubuatan mengenai akan munculnya “buah-buahan ruhani” dari “pohon Al-Quran” yang tidak mengenal musim, yang juga pada hakikatnya merupakan cara Allah Swt. memelihara  serta mengeluarkan  khazanah ruhani  dari Al-Quran yang tidak terbatas, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
 اَلَمۡ تَرَ کَیۡفَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً  کَشَجَرَۃٍ  طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی  السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾ تُؤۡتِیۡۤ  اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ  بِاِذۡنِ رَبِّہَا ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ  الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah engkau melihat, bagaimana Allah mengemukakan perumpamaan satu kalimat yang baik? Kalimat itu seperti sebatang pohon yang baik, yang akarnya kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau  langit?  Ia memberikan buahnya setiap waktu dengan izin Rabb-nya (Tuhan-Nya), dan  Allah mengemukakan perumpamaan-perumpamaan itu bagi manusia  supaya mereka mendapat nasihat. (Ibrahim  [14]:25-26).
       Firman Allah Swt.  dalam wujud wahyu Al-Quran dalam ayat-ayat ini diumpamakan sebatang pohon yang mempunyai empat macam sifat yang penting:
     (a) Kalam Ilahi  itu baik, artinya bersih dari segala ajaran-ajaran yang bertentangan dengan akal dan kata hati manusia atau berlawanan dengan perasaan dan kepekaan tabiat manusia.
       (b) Seperti sebatang pohon yang baik, akarnya dalam serta buahnya subur; Kalam Ilahi itu mempunyai dasar yang kuat dan kokoh, dan menerima hayat serta jaminan hidup yang tetap segar dari sumbernya; dan laksana sebatang pohon yang kuat  firman Ilahi itu tidak merunduk oleh tiupan angin perlawanan serta kecaman yang timbul dari rasa permusuhan, tetapi berdiri tegak di hadapan segala taufan badai. Firman Allah itu mendapat hayat dan jaminan hidup hanya dari satu sumber dan oleh karena itu tidak ada ketidak-serasian atau pertentangan dalam prinsip-prinsip dan ajarannya (QS.4:83; QS.47:25; QS.67:1-5).
         (c) Dahan-dahannya menjangkau sampai ke langit, yang berarti bahwa dengan mengamalkannya, orang dapat menanjak ke puncak-puncak kemuliaan ruhani tertinggi (QS.89:28-31).
       (d) Kalam Ilahi itu menghasilkan buahnya yang berlimpah-limpah di segala musim, yang berarti bahwa berkat-berkatnya nampak di sepanjang masa. Kalam Ilahi itu di sepanjang abad terus-menerus membuahkan (melahirkan)  orang-orang yang karena beramal sesuai dengan ajaran-ajarannya mencapai perhubungan dengan Allah Swt.,  dan karena kejujurannya serta kesucian dalam tingkah lakunya, menjulang tinggi dan mengatasi orang-orang yang sezaman dengan mereka   (QS.4:70-71). Al-Quran memiliki semua sifat itu dalam ukuran yang sepenuhnya.

Perumpamaan   Kalimah yang Buruk

      Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa Sumber semua kitab wahyu  yang diwahyukan sebelum Al-Quran adalah sama dengan Sumber wahyu Al-Quran yaitu Allah Swt., tetapi karena agama-agama serta Kitab-kitab suci  yang diturunkan sebelum Al-Quran missinya bersifat sementara  --  karena keadaan perkembangan jiwa manusia belum mencapai kepada kedewasaannya  (Ulangan 18:15:19; Wahyu 16:12-13) -- karena itu Allah Swt. tidak  memberikan jaminan pemeliharaan atas agama-agama dan kitab-kitab suci tersebut.
       Itulah sebabnya agama-agama atau Kitab-kitab suci yang diturunkan sebagai agama Islam (Al-Quran), seiring dengan berlalunya waktu terus menerus mengalami kerusakan  -- baik berupa pengurangan mau pun penambahan  -- karena  harus disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan jiwa manusia yang terus semakin dewasa, yakni bagaikan pakaian  seorang  anak kecil yang harus mengalami perombakan terus menerus karena tubuhnya semakin besar dan jiwanya semakin dewasa.
    Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah perumpamaan selanjutnya yang dikemukakan Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk  adalah seperti  pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia se-kali-kali tidak   memiliki kemantapan.    یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   -- Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,  وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ  -- dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim  [14]:27-28).
        Jadi, berbeda dari pohon yang baik, kitab yang diciptakan oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam. Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
     Kitab seperti itu  merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan.  Kitab semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt..  Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  1 Januari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar