بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 37
Kepercayaan Mengenai “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” Bertentangan dengan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah)
dan Maha Pengampun Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai
Jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam QS.5:117-119 berupa ungkapan bahasa Arab dalam teks yang
diterjemahkan sebagai “tidak patut bagiku” yakni قَالَ سُبۡحٰنَکَ
مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اَقُوۡلَ مَا
لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ -- Ia
berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut
bagiku mengatakan apa
yang sekali-kali bukan hakku” dapat ditafsirkan sebagai: “Tidak patut bagiku” atau “tidak mungkin bagiku” atau “aku
tidak berhak berbuat demikian”, dan sebagainya sebagaimana dikemukakan
sebelumnya dalam Surah Ali
‘Imran ayat 80-81. Sebab Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. mengajarkan
menyembah hanya kepada satu Tuhan yakni Allah Swt. (Matius
4:10 dan Lukas 4:8), firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ
تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ
اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- Jadikanlah aku dan ibuku se-bagai dua tuhan
selain Allah?" قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ -- Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut
bagiku mengatakan apa yang
sekali-kali bukan hakku.
Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb
(Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi (penjaga) atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau
mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka
adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau
mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).
Meniru-niru Kepercayaan Para Penyembah
Berhala Sebelumnya
Dalam ayat selanjutnya Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. menjelaskan bahwa selama hidupnya beliau mengamati
dengan cermat pengikut-pengikut
beliau dan menjaga agar mereka tidak
menyimpang dari jalan yang benar,
tetapi setelah beliau wafat, beliau tidak mengetahui
apa yang mereka perbuat dan akidah-akidah palsu apa yang dianut
mereka:
وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
“Dan aku menjadi saksi (penjaga) atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.”
Kini, karena dalam
kenyataannya mereka yang mengaku sebagai pengikut-pengikut
beliau telah sesat dari Tauhid Ilahi yang beliau ajarkan, maka
dapat diambil kesimpulan pasti bahwa Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat,
sebab sebagaimana ditunjukkan oleh ayat itu, sesudah wafatnyalah beliau disembah
sebagai Tuhan.
Dengan demikian ayat itu membuktikan
secara positif bahwa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. telah wafat
dan beliau sekali-kali tidak akan kembali ke dunia ini. Lebih-lebih menurut
hadits yang termasyhur, Nabi Besar
Muhammad saw. akan menggunakan kata-kata seperti itu pada Hari Kebangkitan, sebagaimana kata-kata itu diletakkan di sini pada
mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bila
kelak beliau saw. melihat mereka yang
mengaku sebagai pengikut beliau saw. digiring ke neraka. Ini memberikan dukungan lebih lanjut pada kenyataan, bahwa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat seperti halnya Nabi Besar
Muhammad saw. juga telah wafat (QS.21:35-36).
Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt.
menyatakan dengan tegas, bahwa
munculnya faham “Trinitas” dan “penebusan dosa”
yang bertentangan dengan misi Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. hanyalah rekayasa dari orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit atau ada kebengkokan semata-mata demi mencari keuntungan duniawi, firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair
adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ یُؤۡفَکُوۡنَ ۫ اَنّٰی -- mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir
yang terdahulu. Allah membinasakan
mereka, bagaimana mereka sampai
dipalingkan dari Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ -- Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka
dan rahib-rahib mereka sebagai
tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu
juga Al-Masih ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia.
Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. (At Taubah [9]:30-31).
Akibat Buruk “Trinitas”
dan “Penebusan Dosa” & “Fitnah Dajjal”
& Bertentangan dengan Sifat Al-Rahmān
(Maha Pemurah) Allah Swt.
Mengenai sangat berbahayanya akibat buruk yang ditimbulkan oleh kepercayaan sesat yang disebar-luaskan
oleh Dajjal -- si pendusta besar – terhadap Tauhid
Ilahi serta terhadap akhlak dan ruhani umat manusia, dalam
Surah berikut ini Allah Swt. berfirman:
وَ قَالُوا اتَّخَذَ
الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ
جِئۡتُمۡ شَیۡئًا اِدًّا ﴿ۙ﴾ تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ
تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ دَعَوۡا
لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدًا ﴿ۚ﴾ وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ یَّتَّخِذَ
وَلَدًا ﴿ؕ﴾ اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی
الرَّحۡمٰنِ عَبۡدًا﴿ؕ﴾ لَقَدۡ
اَحۡصٰہُمۡ وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا ﴿ؕ﴾ وَ
کُلُّہُمۡ اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka
berkata: اتَّخَذَ الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا
-- "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil seorang anak laki-laki." Sungguh
kamu benar-benar telah mengucapkan
sesuatu yang sangat mengerikan. تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ
مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا --
Hampir-hampir seluruh langit pecah karenanya, bumi terbelah, dan gunung-gunung
runtuh berkeping-keping, karena mereka
menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ
اَنۡ یَّتَّخِذَ وَلَدًا -- Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil seorang anak laki-laki, اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی الرَّحۡمٰنِ
عَبۡدًا -- Tidak
ada seorang pun di seluruh langit
dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah sebagai hamba. لَقَدۡ اَحۡصٰہُمۡ
وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا -- Sungguh Dia benar-benar mengetahui
jumlah mereka dan menghitung mereka dengan menyeluruh. وَ کُلُّہُمۡ
اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا
-- Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri.
(Maryam
[19]:89-96).
Paham bahwa Yesus anak Allah itu begitu mengerikan, sehingga seluruh langit,
bumi, dan gunung-gunung dapat hancur
berkeping-keping dan rebah ke
tanah karena kejinya kepercayaan itu.
Kepercayaan itu sangat menjijikkan wujud-wujud
samawi (as-samawāt) -- yakni para malaikat yang senantiasa bertasbih kepada Allah Swt. (QS.2:31) --
oleh karena berlawanan dengan Sifat-sifat Ilahi dan bertentangan dengan segala kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. yang
wujud-wujud samawi itu bela dan muliakan.
Kepercayaan ini menjijikkan
manusia yang mendiami bumi (al-ardh) sebab hal ini bertentangan
dengan tuntutan fitrat serta kecerdasan otak manusia sejati, dan akal manusia menolak dengan perasaan
kecewa terhadap paham demikian
itu. Orang-orang yang memiliki cita-cita
tinggi dan mulia seperti para nabi Allah dan para pilihan Tuhan (al-jibal)
menentangnya juga menolaknya.
Allah Swt. Maha Pengampun
Mengapa demikian? Sebab anggapan
bahwa untuk memperoleh keselamatan dan mencapai tingkat akhlak tinggi manusia memerlukan pengurbanan orang lain adalah bertentangan
dengan pengalaman ruhani mereka
sendiri, karena dengan penuh kasih-sayang Allah Swt. telah
berfirman mengenai kemahaluasan pengampunan-Nya:
قُلۡ
یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اتَّبِعُوۡۤا
اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً
وَّ اَنۡتُمۡ لَا
تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha
Penyayang. وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ
اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا
تُنۡصَرُوۡنَ -- Dan kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah
kepada-Nya sebelum azab datang
kepadamu kemudian kamu tidak akan
ditolong, وَ
اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ -- “Dan ikutilah
ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu sebelum
datang kepa-damu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.” (Az-Zumar [39]:54-56).
Ayat
54 memberi amanat harapan dan kabar
gembira kepada orang-orang berdosa.
-- Ayat ini membesarkan hati dan
melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa
putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan
kegagalan-kegagalan dalam kehidupan, firman-Nya:
قُلۡ
یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Az-Zumar [39]:54).
Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah Swt. (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57;
QS.18:59), tidak ada amanat hiburan
dan penenteramkan hati yang lebih
bagi mereka yang sedang berhati lara
dan masygul lebih besar daripada itu karena banyak melakukan dosa.
Tujuan Penangguhan Datangnya Azab Ilahi & Pernyataan Iman Fir’aun yang Terlambat
Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira, ayat 55 memperingatkan mereka bahwa mereka akan
harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi, tujuannya
adalah:
اَنۡ
تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ
کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ
اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ لَکُنۡتُ مِنَ
الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَقُوۡلَ
حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً
فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ
اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ وُجُوۡہُہُمۡ
مُّسۡوَدَّۃٌ ؕ اَلَیۡسَ فِیۡ
جَہَنَّمَ مَثۡوًی
لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Supaya jangan
ada orang
yang mengatakan: ”Wahai
sangat besar penyesalanku atas kelalaianku
terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok rasul-Nya.”
Atau ia
berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepada-ku, niscaya
aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” Atau ia berkata ketika ia melihat azab:
“Seandainya bagiku ada kesempatan
kembali lagi ke dunia, maka aku akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” Tidak,
bahkan sungguh telah datang kepada
engkau Tanda-tanda-Ku, tetapi engkau
telah mendustakannya serta berlaku
sombong dan eng-kau termasuk orang-orang kafir. Dan pada Hari
Kiamat engkau akan melihat orang-orang
yang telah berdusta terhadap Allah
wajah mereka menjadi hitam. Bukankah dalam Jahannam adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang
sombong? (Az-Zumar [39]:57-61).
Banyak kesempatan
diberikan kepada manusia yang berkecimpung dalam kancah dosa untuk bertaubat
dan mengadakan perubahan dalam
dirinya. Bila penolakan kebenaran
dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan bila ia melampaui batas yang sah dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bila hari
perhitungan atas dia telah berlaku
maka pada hari itu keluh kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi bagi dia, sebagaimana yang terjadi dengan Fir’aun ketika tenggelam
di laut, firman-Nya:
وَ
جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ
الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡیَوۡمَ
نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ
خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا
لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun
dan lasykar-lasykarnya mengejar
mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam قَالَ
اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia
tidak ada Tuhan kecuali yang
dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ
وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau
telah membangkang sebelum ini, dan
engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ
لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً -- maka
pada hari ini Kami akan menyelamatkan
engkau hanya badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi
orang-orang sesudah engkau, وَ اِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ
اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ -- dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
Cara berimannya
Fir’aun yang terlambat seperti itu
pada saat azab Ilahi yang diperingatkan oleh
Nabi Musa a.s. sebelumnya, pada
hakikatnya merupakan pengulangan dari kebodohan
orang-orang yang bersikap takabbur
terhadap Rasul Allah yang diutus
kepada mereka, firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ اَتٰىکُمۡ
عَذَابُہٗ بَیَاتًا اَوۡ نَہَارًا
مَّاذَا یَسۡتَعۡجِلُ
مِنۡہُ
الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾ اَثُمَّ اِذَا مَا وَقَعَ اٰمَنۡتُمۡ بِہٖ ؕ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ قِیۡلَ لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذُوۡقُوۡا عَذَابَ
الۡخُلۡدِ ۚ ہَلۡ
تُجۡزَوۡنَ اِلَّا بِمَا کُنۡتُمۡ
تَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَسۡتَنۡۢبِئُوۡنَکَ اَحَقٌّ ہُوَ ؕؔ قُلۡ اِیۡ وَ رَبِّیۡۤ اِنَّہٗ لَحَقٌّ ۚؕؔ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُعۡجِزِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Bagaimanakah pendapat kamu jika azab-Nya datang kepadamu di waktu malam atau siang hari,
bagaimanakah orang-orang yang berdosa
itu dapat melarikan diri darinya? Apakah
kemudian apabila azab
itu terjadi pada waktunya barulah kamu mempercayainya? ”Apakah baru sekarang kamu percaya padahal sebelum ini kamu senantiasa meminta mempercepat
kedatangannya.” Kemudian akan dikatakan kepada orang-orang yang berbuat zalim itu: “Rasakanlah oleh kamu azab yang kekal itu, tidaklah kamu dibalas melainkan sesuai dengan apa
yang telah kamu kerjakan.” Dan mereka menanyakan ke-pada engkau: “Apakah
itu benar?” Katakanlah:
“Ya, demi Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya itu benar, dan kamu sama
sekali tidak dapat menggagalkannya.”
(Yunus [10]51-54).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 20 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar