Jumat, 23 Januari 2015

Kepercayaan Mengenai "Trinitas" dan "Penebusan Dosa" Bertentangan dengan Sifat Rahmaaniyyat (Maha Pemurah) dan Maha Pengampun Allah Swt.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 37

  
Kepercayaan  Mengenai  “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” Bertentangan dengan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah)  dan Maha Pengampun  Allah Swt.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai Jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam QS.5:117-119 berupa ungkapan bahasa Arab dalam teks yang diterjemahkan sebagai “tidak patut  bagiku” yakni قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃    --  Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang  sekali-kali  bukan hakku    dapat ditafsirkan sebagai: “Tidak patut bagiku” atau “tidak mungkin bagiku  atau “aku tidak berhak berbuat demikian”, dan sebagainya sebagaimana dikemukakan sebelumnya dalam    Surah Ali ‘Imran  ayat 80-81. Sebab Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mengajarkan menyembah hanya kepada satu Tuhan yakni Allah Swt. (Matius 4:10 dan Lukas 4:8), firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  -- Jadikanlah aku dan ibuku se-bagai dua tuhan  selain  Allah?"  قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃    --  Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut  bagiku mengatakan apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,   sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.   Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah,  Rabb-ku (Tuhan-ku)  dan Rabb (Tuhan)  kamu.”  Dan aku menjadi saksi (penjaga) atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).

Meniru-niru Kepercayaan  Para  Penyembah Berhala Sebelumnya

         Dalam ayat selanjutnya  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menjelaskan bahwa  selama  hidupnya  beliau mengamati dengan cermat pengikut-pengikut beliau dan menjaga agar mereka tidak menyimpang dari jalan yang benar, tetapi  setelah beliau wafat, beliau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat  dan akidah-akidah palsu apa yang dianut mereka:
وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
“Dan aku menjadi saksi (penjaga) atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.”
        Kini,   karena dalam kenyataannya mereka yang mengaku sebagai pengikut-pengikut beliau telah sesat  dari   Tauhid Ilahi yang beliau ajarkan, maka dapat diambil kesimpulan pasti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat, sebab sebagaimana ditunjukkan oleh ayat itu, sesudah wafatnyalah beliau disembah sebagai Tuhan.  
       Dengan demikian ayat itu  membuktikan secara positif bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat dan beliau sekali-kali tidak akan kembali ke dunia ini. Lebih-lebih menurut hadits yang termasyhur,  Nabi Besar Muhammad saw. akan menggunakan kata-kata seperti itu pada Hari Kebangkitan, sebagaimana kata-kata itu diletakkan di sini pada mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bila kelak beliau saw. melihat  mereka yang mengaku sebagai pengikut beliau  saw. digiring ke neraka. Ini memberikan dukungan lebih lanjut pada kenyataan, bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  telah wafat seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw.  juga telah wafat (QS.21:35-36).
      Dalam  firman-Nya berikut ini Allah Swt. menyatakan  dengan tegas, bahwa munculnya  faham “Trinitas” dan “penebusan dosa” yang bertentangan dengan misi  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hanyalah rekayasa  dari orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit atau ada kebengkokan  semata-mata demi mencari keuntungan duniawi, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ    -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,  یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ یُؤۡفَکُوۡنَ ۫ اَنّٰی  -- mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ --   Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,    وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ  -- padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  (At Taubah [9]:30-31).

Akibat Buruk “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” & Fitnah Dajjal” & Bertentangan dengan Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.

      Mengenai sangat berbahayanya akibat buruk yang ditimbulkan oleh kepercayaan sesat yang disebar-luaskan oleh Dajjal    -- si pendusta besar – terhadap Tauhid  Ilahi serta  terhadap akhlak dan ruhani umat  manusia, dalam Surah berikut ini Allah Swt. berfirman:
وَ قَالُوا  اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾  لَقَدۡ  جِئۡتُمۡ  شَیۡئًا  اِدًّا ﴿ۙ﴾  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا ﴿ۚ﴾  وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾  اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا﴿ؕ﴾  لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا ﴿ؕ﴾  وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka  berkata: اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا --  "Tuhan Yang Maha Pemurah telah meng­ambil seorang anak laki-laki."   Sungguh  kamu benar-benar telah mengucapkan sesuatu  yang  sangat mengerikan.  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا -- Hampir-hampir seluruh langit pecah   karenanya, bumi terbelah, dan gunung­-gunung runtuh berkeping-keping,  karena mereka menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya  anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا  --    Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang  Maha Pemurah  mengambil seorang anak laki-laki,    اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا --    Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.   لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا   -- Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan menghitung mereka dengan   menyeluruh. وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا --  Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri. (Maryam [19]:89-96).


     Paham bahwa Yesus anak Allah itu begitu mengerikan, sehingga seluruh langit, bumi, dan gunung-gunung dapat hancur berkeping-keping dan rebah ke tanah karena kejinya kepercayaan itu. Kepercayaan itu sangat menjijikkan wujud­-wujud samawi (as-samawāt)   -- yakni para malaikat yang senantiasa bertasbih kepada Allah Swt. (QS.2:31) -- oleh karena berlawanan dengan Sifat-sifat Ilahi dan bertentangan dengan segala kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. yang wujud-wujud samawi itu bela dan muliakan.
   Kepercayaan ini menjijikkan manusia yang mendiami bumi (al-ardh) sebab hal ini bertentangan dengan tuntutan fitrat serta kecerdasan otak manusia sejati, dan akal manusia menolak dengan perasaan kecewa terhadap paham demikian itu. Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia seperti para nabi Allah dan para pilihan Tuhan (al-jibal) menentangnya juga   menolaknya.

Allah Swt. Maha Pengampun

   Mengapa demikian? Sebab anggapan bahwa  untuk memperoleh keselamatan dan mencapai tingkat akhlak tinggi  manusia memerlukan pengurbanan orang lain adalah bertentangan dengan pengalaman ruhani mereka sendiri,  karena dengan penuh kasih-sayang Allah Swt. telah berfirman mengenai kemahaluasan pengampunan-Nya:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa  dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ --   Dan kembalilah kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepadamu kemudian kamu tidak akan ditolong,  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ  --  “Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu  sebelum datang kepa-damu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.” (Az-Zumar [39]:54-56).
    Ayat  54  memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa.   --  Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan, firman-Nya:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa  dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Az-Zumar [39]:54).
     Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah Swt. (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul  lebih besar daripada itu   karena banyak melakukan dosa.

Tujuan   Penangguhan Datangnya Azab Ilahi  & Pernyataan Iman Fir’aun  yang Terlambat

  Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira, ayat 55  memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi, tujuannya adalah:
اَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾  بَلٰی قَدۡ جَآءَتۡکَ اٰیٰتِیۡ فَکَذَّبۡتَ بِہَا وَ اسۡتَکۡبَرۡتَ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  تَرَی الَّذِیۡنَ کَذَبُوۡا عَلَی اللّٰہِ  وُجُوۡہُہُمۡ  مُّسۡوَدَّۃٌ ؕ اَلَیۡسَ فِیۡ  جَہَنَّمَ مَثۡوًی  لِّلۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Supaya jangan ada orang yang mengatakan:  ”Wahai sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok rasul-Nya.”   Atau  ia berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepada-ku, niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa.”  Atau ia berkata ketika ia melihat azab: “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka  aku akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.”   Tidak, bahkan sungguh telah datang kepada engkau Tanda-tanda-Ku, tetapi engkau telah mendustakannya serta berlaku sombong dan eng-kau termasuk  orang-orang kafir. Dan pada Hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang telah berdusta terhadap Allah  wajah mereka menjadi hitam. Bukankah dalam Jahannam  adalah tempat tinggal bagi orang-orang yang sombong? (Az-Zumar [39]:57-61).
   Banyak kesempatan diberikan kepada manusia yang berkecimpung dalam kancah dosa untuk bertaubat dan mengadakan perubahan dalam dirinya. Bila penolakan kebenaran dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan bila ia melampaui batas yang sah dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bila hari perhitungan atas dia telah berlaku  maka pada hari itu keluh kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi bagi dia, sebagaimana  yang terjadi dengan Fir’aun ketika tenggelam di laut, firman-Nya:
وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam  قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”    آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ   --  ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.   فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً  --  maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau,  وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ  -- dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
   Cara berimannya Fir’aun   yang terlambat  seperti   itu  pada saat azab Ilahi yang diperingatkan  oleh  Nabi Musa a.s. sebelumnya,  pada hakikatnya merupakan  pengulangan dari  kebodohan orang-orang yang bersikap takabbur terhadap Rasul Allah yang diutus kepada mereka, firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ اَتٰىکُمۡ عَذَابُہٗ بَیَاتًا اَوۡ نَہَارًا مَّاذَا یَسۡتَعۡجِلُ مِنۡہُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾  اَثُمَّ  اِذَا مَا وَقَعَ اٰمَنۡتُمۡ  بِہٖ ؕ آٰلۡـٰٔنَ  وَ قَدۡ کُنۡتُمۡ  بِہٖ  تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ  قِیۡلَ  لِلَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡخُلۡدِ ۚ ہَلۡ تُجۡزَوۡنَ اِلَّا بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَسۡتَنۡۢبِئُوۡنَکَ اَحَقٌّ ہُوَ ؕؔ قُلۡ اِیۡ وَ رَبِّیۡۤ  اِنَّہٗ  لَحَقٌّ ۚؕؔ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُعۡجِزِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: “Bagaimanakah pendapat kamu   jika azab-Nya datang kepadamu di waktu malam atau siang hari, bagaimanakah orang-orang yang berdosa itu dapat melarikan diri  darinya?   Apakah  kemudian apabila   azab itu  terjadi  pada waktunya barulah kamu mempercayainya? ”Apakah baru sekarang kamu percaya padahal sebelum ini kamu senantiasa meminta mempercepat kedatangannya.” Kemudian akan dikatakan kepada orang-orang yang berbuat zalim itu: “Rasakanlah oleh kamu azab yang kekal itu,  tidaklah kamu dibalas melainkan sesuai  dengan  apa yang telah kamu kerjakan.”   Dan mereka menanyakan ke-pada engkau: “Apakah itu benar?”  Katakanlah: “Ya, demi Rabb-ku (Tuhan-ku),   sesungguhnya itu  benar, dan kamu sama sekali tidak dapat menggagalkannya.”  (Yunus [10]51-54).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 20 Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar