بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 22
Tantangan Allah Swt. Kepada Dua Golongan Manusia -- Jin dan Ins -- Untuk “Menembus
Batas-batas” Seluruh Langit dan Bumi & Nasib Tragis Qarun yang Takabbur
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai fitnah
Dajjal (Ya’juj & Ma’juj) yang sangat berbahaya, diriwayatkan
Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda,
bahwa pembacaan sepuluh ayat pertama
dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf ini menjamin keselamatan seseorang terhadap serangan-serangan ruhani dari Dajjal
-- yang disebut fitnah Dajjal.
Hal itu menunjukkan bahwa Dajjal serta Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog) adalah bangsa itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat yang bermata
biru (QS.20:103-105). kata Dajjal menggambarkan
propaganda keagamanan mereka yang
membawa kemudaratan kepada Islam, sedangkan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)
menggambarkan kekuatan dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik di Akhir zaman
ini, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ
لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا
اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ
عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ
کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ
نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ
یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ
اَحۡسَنُ
عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا
عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾ اَمۡ حَسِبۡتَ
اَنَّ اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا عَجَبًا ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah Yang Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Segala
puji bagi Allah Yang telah
menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan, قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ -- sebagai penjaga
untuk memberi peringatan mengenai siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا -- dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman
yang beramal saleh bahwa
sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran
yang baik, مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا -- mereka menetap di
dalamnya selama-lamanya. وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا -- dan supaya memperingatkan orang-orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki.” مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ -- mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا -- mereka tidak
mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ
نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا -- maka
sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- sesungguhnya
Kami telah menjadikan apa yang ada di
bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا -- dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang
ada di atasnya menjadi tanah-rata
yang tandus. اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا
مِنۡ اٰیٰتِنَا عَجَبًا -- atau engkau
menyangka bahwa penghuni gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?
(Al-Kahf [18]:1-10).
Dua
Tugas Utama Al-Quran & Keprihatinan Nabi Besar Muhammad Saw.
Dalam
ayat 3 Al-Quran disebut sebagai qayyim (penjaga), sebab Al-Quran melakukan tugas
ganda, yakni Al-Quran penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilangkan
kesalahan-kesalahan yang telah masuk dalam kitab-kitab itu, dan Al-Quran
penjaga atas generasi-generasi yang akan datang,
sebab dipikulnya kewajiban untuk memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia, yaitu untuk beribadah
hanya kepada Allah Swt. (QS.51:57)
dengan lurus dan murni (QS.98:1-9; QS.112:1-5).
Masih dalam
ayat yang sama, Al-Quran pertama-tama
disebut sebagai "memberi peringatan"
(ayat 3) dan kemudian sebagai "memberi
kabar gembira" dan sekali lagi sebagai “memberi peringatan” seperti dalam ayat ini. Orang-orang
kafir telah dua kali diberi peringatan
(ayat 5), dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman telah diberi kabar gembira.
Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat Islam itu mengandung tiga nubuatan:
(a)
kekalahan dan kehancuran lawan-lawan Nabi
Besar Muhammad saw. di masa
beliau saw. sendiri,
(b) Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan
(QS.9:30-33),
(c) sesudah terlepasnya umat Islam dari kejayaan
dan kemegahan yang pertama (QS.32:6),
adanya hukuman mengerikan di Akhir
Zaman yang disediakan bagi bangsa-bangsa
yang mengatakan bahwa "Allāh telah
mengambil seorang anak lelaki." (QS.19:89-96).
Karena Nabi
Besar Muhammad saw. adalah “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108),
jadi makna kata bakhi' dalam ayat فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ
نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا -- maka
sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini” (ayat 7), kata
bakhi’ itu ism fail dari bakha'a yang
berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya. Mengenai keprihatinan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut dijelaskan pula dalam QS.6:36-36; QS.26:4.
Jadi, ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan
betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw., bahkan umat manusia karena beliau
saw. adalah Rasul Allah untuk seluruh
umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29). Kesedihan beliau saw. atas
penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat
Ilahi yang beliau saw. sampaikan hampir membuat beliau saw. wafat.
Memang
begitulah keadaan para utusan (rasul
Allah) dan nabi Allah, hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia.
Mereka berseru (kepada Allah), menangis dan berdukacita
demi kepentingan umat manusia. Tetapi
manusia tidak tahu berterimakasih, sehingga orang-orang itu sendiri -- yang bagi mereka para nabi Allah mempunyai perasaan
yang begitu mendalam -- justru merekalah yang menindas secara zalim para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh
mereka (QS.15:12; QS.36:31; QS.43:8).
Ketakaburan Qarun, Seorang Milyader Purbakala
Kemudian makna
ayat selanjutnya mengenai kesuksesan
duniawi mereka: اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- sesungguhnya
Kami telah menjadikan apa yang ada di
bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”.
Semua benda di alam semesta ini yang tidak terhitung
banyaknya yang telah diciptakan Allah
Swt., tidak ada satu pun yang tidak mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan
indahnya kehidupan manusia (QS.13:22;
QS.18:110; QS.31:28).
Umat Islam telah dianjurkan untuk senantiasa
memberi perhatian kepada kebenaran agung yang melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk
menyerahkan waktu dan tenaga
mereka guna menggali rahasia-rahasia
alam yang agung dan untuk menyelidiki
sifat-sifat yang tidak terbilang
banyaknya yang dimiliki unsur-unsur
alam.
Mengenai hal tersebut berikut
adalah firman-Nya kepada dua
golongan manusia yang disebut jin dan ins di Akhir Zaman
ini, yakni penganut faham kapitalisme dan sosialisme:
یٰمَعۡشَرَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ
اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Hai
golongan jin dan ins! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus
batas-batas seluruh langit dan bumi
maka tembuslah, namun kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu
berdua dustakan? (Al-Rahmān [55]:34-35).
Ayat
ini telah diberi bermacam-macam penafsiran. Menurut suatu penafsiran, para ilmuwan dan para ahli filsafat dari Barat yang membanggakan diri mengenai kemajuan besar yang telah dicapai mereka
dalam bidang ilmu duniawi telah
diberitahu, bahwa kendati pun betapa besarnya kemajuan yang mungkin telah dicapai mereka dalam pengetahuan dan ilmu, mereka tidak dapat
memahami semua hukum alam yang
mengatur alam semesta ini dengan
sepenuhnya (QS.18:110; QS.31:28). Betapa
pun mereka berusaha, mereka tidak akan berhasil
dalam pencarian mereka.
Ayat ini dapat juga mengisyaratkan kepada pembuatan roket-roket, sputnik-sputnik, dan sebagainya; dengan alat-alat tersebut
orang-orang Rusia (Uni Sovyet) dan Amerika Serikat berusaha mencapai benda-benda langit. Mereka diberitahu,
bahwa paling-paling mereka hanya akan dapat mencapai beberapa planet terdekat dari bumi, tetapi
keluasan dan kebesaran jagat-jagat raya kepunyaan Allah Swt. tidak
mungkin dapat dijelajahi seluruhnya.
Ancaman Perang
Nuklir yang Sangat Mengerikan
Menurut penafsiran lain,
ayat ini memperingatkan orang-orang
berdosa; “Biarkanlah mereka memberanikan
diri menembus batas-batas langit dan bumi, mereka tidak akan mampu menentang
hukum-hukum Ilahi tanpa mendapat hukuman, dan mereka tidak akan dapat
meloloskan diri dari azab Ilahi” sebagaiman dikemukakan ayat selanutnya:
یُرۡسَلُ
عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ﴿﴾
فَاِذَا انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ
اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ﴿﴾
Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan
tembaga, lalu kamu berdua tidak akan
dapat menolong diri sendiri. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua
yang manakah yang kamu berdua dustakan?
Dan ketika langit terbelah dan menjadi
merah bagaikan kulit merah. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ
ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ
-- Pada hari itu tidak akan ditanya
dosa manusia dan tidak
pula jin. Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu berdua dustakan? (Al-Rahmān [55]:36-41).
Ayat
ini menunjuk kepada azab paling dahsyat lagi menakutkan, yang telah
dan akan menimpa kedua blok yang bermusuhan itu. Dunia rupa-rupanya berdiri di tepi jurang api yang berkobar-kobar dengan
dahsyatnya dan nyala apinya mengancam
akan menghanguskan seluruh peradaban manusia, yakni terjadinya Perang Dunia I dan Perang Dunia III serta ancaman Perang
Dunia III atau Perang Nuklir yang
sangat mengerikan (QS. 70:1-19).
Betapa
jelasnya gambaran tentang azab Ilahi yang
diancamkan itu: فَاِذَا انۡشَقَّتِ
السَّمَآءُ فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً
کَالدِّہَانِ -- “ Dan
ketika langit terbelah dan menjadi merah bagaikan kulit merah.”
Perbuatan Dosa yang Nyata
Ayat فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ
ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ -- Pada hari
itu tidak akan ditanya dosa ins (manusia) dan tidak
pula jin. (QS.55:40) sama
dengan firman Allah Swt. mengenai Qarun -- milyader purbakala -- yang takabbur, yaitu bahwa amal-amal buruk orang-orang durhaka
akan tertera pada wajah mereka,
sehingga mereka tidak akan ditanya
lagi mengenai apakah mereka telah melakukan kedurhakaan
atau tidak. Sebagaimana tersebut pada tempat lain dalam Al-Quran (QS.41:21), anggota-anggota tubuh orang-orang kafir
itu sendiri akan menjadi saksi atas
mereka.
Jadi, beberapa
ayat sebelumnya (QS.55:34-39) nampaknya mengisyaratkan
kepada keadaan resah yang akan mencekam umat manusia, bila kedua blok yang disebut golongan jin dan ins tersebut berhadap-hadapan,
dan mengisyaratkan kepada kekhawatiran
akan terjadi peperangan nuklir yang
laksana pedang algojo dalam keadaan
terhunus di atas kepala mereka.
Pengelompokan negara-negara dan ketegangan-ketegangan internasional dewasa ini, niscaya akan menjurus kepada suatu bentrokan senjata, dengan kebiasaan
sebagai akibatnya yang akan tiada
tara bandingnya. Bentrokan itu
sendiri akan benar-benar merupakan suatu neraka,
tetapi persiapan-persiapan untuk bertarung itu sendiri menimbulkan
keadaan-keadaan yang tidak kurang dari siksaan
lahir maupun batin yang abadi
dalam satu atau lain bentuk.
Kembali kepada
firman-Nya dalam Surah Al-Kahf ayat
1-9 sebelum ini mengenai kesuksesan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Barat: اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا
لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi
perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا -- dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang
ada di atasnya menjadi tanah-rata
yang tandus.”
Hendaknya keberhasilan meraih kesuksesan
duniawi tersebut hendaknya
dimaksudkan untuk memberikan manfaat,
bukannya justru menimbulkan mudharat
(kerugian), yakni sebagai sarana untuk memperoleh “rumah akhirat”, sebagaimana
firman-Nya mengenai Qarun –
seorang milyader kaum purbakala -- di
Mesir yang bersikap takabbur karena kesuksesan
duniawinya, firman-Nya:
اِنَّ
قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ مُوۡسٰی
فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ اِنَّ مَفَاتِحَہٗ
لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ اُولِی
الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ قَالَ لَہٗ
قَوۡمُہٗ لَا تَفۡرَحۡ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾ وَ ابۡتَغِ
فِیۡمَاۤ اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ
اَحۡسِنۡ کَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
اِنَّمَاۤ اُوۡتِیۡتُہٗ عَلٰی
عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ
مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ قُوَّۃً وَّ
اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Qarun adalah termasuk
kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya
terhadap mereka. Dan Kami telah
memberinya khazanah-khazanah yang kunci-kuncinya sangat susah diangkat oleh sejumlah
orang-orang kuat. اِذۡ قَالَ لَہٗ
قَوۡمُہٗ لَا تَفۡرَحۡ اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ -- Ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah
engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah
tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri, وَ ابۡتَغِ فِیۡمَاۤ
اٰتٰىکَ اللّٰہُ الدَّارَ
الۡاٰخِرَۃَ -- dan carilah rumah akhirat itu dalam apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا -- dan janganlah
engkau melupakan nasib engkau di dunia, وَ اَحۡسِنۡ
کَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰہُ اِلَیۡکَ -- dan berbuat ihsanlah sebagaimana Allah telah berbuat ihsan terhadap engkau,
وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ -- dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di
bumi, اِنَّ اللّٰہَ
لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” قَالَ اِنَّمَاۤ اُوۡتِیۡتُہٗ
عَلٰی عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ -- Ia berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” اَوَ لَمۡ
یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ قَدۡ اَہۡلَکَ
مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا -- Tidakkah ia mengetahui bahwa
sungguh Allah telah membinasakan banyak generasi
sebelumnya yang lebih besar kekua-saannya daripada dia dan lebih banyak harta kekayaannya? وَ لَا
یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ
الۡمُجۡرِمُوۡنَ -- Dan orang-orang
yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka. (Al-Qashash [28]:77-79).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 4 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar