Minggu, 04 Januari 2015

Tantangan Allah Swt. Kepada Dua Golongan Manusia (Jin dan Ins) Untuk "Menembus Batas-batas" Seluruh Langit dan Bumi & Nasib Tragis Qarun yang Takabbur




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 22

 Tantangan  Allah Swt. Kepada Dua Golongan Manusia   --  Jin dan Ins     -- Untuk “Menembus Batas-batas” Seluruh Langit dan Bumi  & Nasib Tragis Qarun yang Takabbur


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai fitnah Dajjal (Ya’juj & Ma’juj) yang sangat berbahaya,    diriwayatkan Nabi Besar Muhammad saw.  telah bersabda, bahwa pembacaan sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf ini menjamin keselamatan seseorang terhadap serangan-serangan ruhani dari Dajjal   -- yang disebut fitnah Dajjal.
  Hal itu menunjukkan bahwa Dajjal   serta  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) adalah bangsa itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat yang  bermata biru (QS.20:103-105). kata Dajjal menggambarkan propaganda keagamanan mereka yang membawa kemudaratan kepada Islam, sedangkan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) menggambarkan kekuatan dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik di Akhir zaman ini, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾ اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan, قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ --  sebagai penjaga   untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya,  وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا -- dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik, مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا --  mereka menetap di dalamnya selama-lamanya.  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا --  dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata:    "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.” مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ --   mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.  کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ  --   sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا  --   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا   --  maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا     -- sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا    --    dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus. اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا --  atau engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan? (Al-Kahf [18]:1-10). 

Dua  Tugas Utama Al-Quran & Keprihatinan  Nabi Besar Muhammad Saw.

   Dalam ayat 3 Al-Quran disebut sebagai qayyim (penjaga), sebab Al-Quran  melakukan tugas ganda, yakni Al-Quran   penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilang­kan kesalahan-kesalahan yang telah masuk dalam kitab-kitab itu, dan Al-Quran  penjaga atas generasi-generasi yang akan datang, sebab dipikulnya kewajiban untuk memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia, yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah Swt. (QS.51:57) dengan lurus dan murni (QS.98:1-9; QS.112:1-5).
  Masih dalam ayat yang sama, Al-Quran pertama-tama disebut sebagai "memberi peringatan" (ayat 3) dan kemudian sebagai "memberi kabar gembira"   dan sekali lagi sebagai “memberi peringatan” seperti dalam ayat  ini. Orang-orang kafir telah dua kali diberi peringatan (ayat 5),  dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman telah diberi kabar gembira.
 Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat Islam itu mengandung tiga nubuatan:
    (a) kekalahan dan kehancuran lawan-lawan Nabi Besar Muhammad saw.  di masa beliau  saw. sendiri,
   (b) Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan (QS.9:30-33),  
    (c) sesudah terlepasnya umat Islam dari kejayaan dan kemegahan yang pertama (QS.32:6), adanya hukuman mengerikan  di Akhir Zaman yang disediakan bagi bangsa-bangsa yang mengatakan bahwa "Allāh telah mengambil seorang anak lelaki." (QS.19:89-96).
  Karena Nabi Besar Muhammad saw. adalah  rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108), jadi makna  kata  bakhi'  dalam ayat فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا   --  maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini” (ayat 7), kata  bakhi’   itu ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya.  Mengenai keprihatinan  Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut dijelaskan pula dalam  QS.6:36-36; QS.26:4.
   Jadi,  ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw.  mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw., bahkan umat manusia  karena beliau saw. adalah Rasul Allah untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29). Kesedihan beliau saw. atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi yang beliau saw. sampaikan hampir membuat beliau saw. wafat.
     Memang begitulah keadaan para utusan (rasul Allah)  dan nabi Allah, hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia. Mereka berseru (kepada Allah), menangis  dan berdukacita demi kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu  berterimakasih, sehingga orang­-orang itu sendiri  -- yang bagi mereka para nabi Allah mempunyai perasaan yang begitu mendalam -- justru merekalah yang menindas  secara zalim para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh mereka (QS.15:12;  QS.36:31; QS.43:8).

Ketakaburan Qarun, Seorang Milyader Purbakala

  Kemudian makna ayat selanjutnya mengenai kesuksesan duniawi mereka: اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا     -- sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”.  
 Semua benda di alam semesta ini yang tidak terhitung banyaknya yang telah diciptakan  Allah Swt., tidak ada satu pun yang tidak mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia (QS.13:22; QS.18:110; QS.31:28).
  Umat Islam telah dianjurkan untuk senantiasa  memberi perhatian kepada kebenaran agung yang  melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk menyerahkan waktu dan tenaga  mereka guna menggali rahasia­-rahasia alam  yang agung dan untuk menyelidiki sifat-sifat yang tidak terbilang banyaknya  yang  dimiliki unsur-unsur alam.
  Mengenai hal tersebut   berikut  adalah firman-Nya kepada dua golongan manusia yang disebut jin dan ins di Akhir Zaman ini,  yakni penganut faham kapitalisme dan sosialisme:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾   فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾

Hai golongan jin dan ins! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, namun kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.   Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan? (Al-Rahmān [55]:34-35).
    Ayat ini telah diberi bermacam-macam penafsiran. Menurut suatu penafsiran, para ilmuwan dan para ahli filsafat dari Barat yang membanggakan diri mengenai kemajuan besar yang telah dicapai mereka dalam bidang ilmu duniawi telah diberitahu, bahwa kendati pun betapa besarnya kemajuan yang mungkin telah dicapai mereka dalam pengetahuan dan ilmu, mereka tidak dapat memahami semua hukum alam yang mengatur alam semesta ini dengan sepenuhnya  (QS.18:110; QS.31:28). Betapa pun mereka berusaha, mereka tidak akan berhasil dalam pencarian mereka.
  Ayat ini dapat juga mengisyaratkan kepada pembuatan roket-roket, sputnik-sputnik, dan sebagainya; dengan alat-alat tersebut orang-orang Rusia (Uni Sovyet) dan Amerika Serikat berusaha mencapai benda-benda langit. Mereka diberitahu, bahwa paling-paling mereka hanya akan dapat mencapai beberapa planet terdekat dari bumi, tetapi keluasan dan kebesaran  jagat-jagat raya kepunyaan Allah Swt. tidak mungkin dapat dijelajahi seluruhnya.

Ancaman  Perang Nuklir yang Sangat Mengerikan

  Menurut penafsiran lain, ayat ini memperingatkan orang-orang berdosa; “Biarkanlah mereka memberanikan diri menembus batas-batas langit dan bumi, mereka tidak akan mampu menentang hukum-hukum Ilahi tanpa mendapat hukuman, dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri dari azab Ilahi sebagaiman dikemukakan ayat selanutnya:
یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ﴿﴾ فَاِذَا  انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ  فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ﴿﴾
Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga, lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri. Maka   nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?   Dan ketika langit terbelah dan menjadi merah bagaikan kulit merah. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang   kamu berdua dustakan?  فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ  --  Pada hari itu tidak akan ditanya dosa  manusia  dan tidak pula  jin. Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan? (Al-Rahmān [55]:36-41).
   Ayat ini menunjuk kepada azab paling dahsyat lagi menakutkan, yang  telah dan akan menimpa kedua blok yang bermusuhan itu. Dunia rupa-rupanya berdiri di tepi jurang api yang berkobar-kobar dengan dahsyatnya dan nyala apinya mengancam akan menghanguskan seluruh peradaban manusia, yakni terjadinya Perang Dunia I dan Perang Dunia III serta ancaman Perang Dunia III atau Perang Nuklir yang sangat mengerikan (QS. 70:1-19).
  Betapa jelasnya gambaran tentang azab Ilahi yang diancamkan itu: فَاِذَا  انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ  فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ  -- “ Dan ketika langit terbelah dan menjadi merah bagaikan kulit merah.”

Perbuatan Dosa  yang Nyata

 Ayat فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ  --  Pada hari itu tidak akan ditanya dosa  ins (manusia)  dan tidak pula  jin. (QS.55:40) sama dengan  firman Allah Swt.    mengenai Qarun  -- milyader purbakala -- yang takabbur,  yaitu bahwa amal-amal buruk orang-orang durhaka akan tertera pada wajah mereka, sehingga mereka tidak akan ditanya lagi mengenai apakah mereka telah melakukan kedurhakaan atau tidak. Sebagaimana tersebut pada tempat lain dalam Al-Quran (QS.41:21), anggota-anggota tubuh orang-orang kafir itu sendiri akan menjadi saksi atas mereka.
  Jadi, beberapa ayat sebelumnya (QS.55:34-39) nampaknya mengisyaratkan kepada keadaan resah yang akan mencekam umat manusia, bila kedua blok  yang disebut golongan jin  dan ins tersebut berhadap-hadapan, dan mengisyaratkan kepada kekhawatiran akan terjadi peperangan nuklir yang laksana pedang algojo dalam keadaan terhunus di atas kepala mereka.
   Pengelompokan negara-negara dan ketegangan-ketegangan internasional dewasa ini, niscaya akan menjurus kepada suatu bentrokan senjata, dengan kebiasaan sebagai akibatnya yang akan tiada tara bandingnya. Bentrokan itu sendiri akan benar-benar merupakan suatu neraka, tetapi persiapan-persiapan untuk bertarung itu sendiri menimbulkan keadaan-keadaan yang tidak kurang dari siksaan lahir maupun batin yang abadi dalam satu atau lain bentuk.
     Kembali kepada firman-Nya dalam Surah Al-Kahf ayat 1-9 sebelum  ini mengenai kesuksesan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Barat: اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا     -- sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا    --    dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.” 
   Hendaknya  keberhasilan  meraih kesuksesan duniawi  tersebut hendaknya dimaksudkan untuk memberikan manfaat, bukannya justru menimbulkan mudharat (kerugian), yakni  sebagai sarana untuk  memperoleh “rumah akhirat”,  sebagaimana firman-Nya mengenai Qarun – seorang  milyader  kaum purbakala   --  di Mesir yang bersikap takabbur  karena kesuksesan duniawinya, firman-Nya:
اِنَّ قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ  مُوۡسٰی فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ  اِنَّ مَفَاتِحَہٗ  لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ  اُولِی الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾  وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ  اِنَّمَاۤ   اُوۡتِیۡتُہٗ  عَلٰی  عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ  قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ  قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Qarun  adalah termasuk kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah memberinya khazanah-khazanah  yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat. اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ  -- Ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri,  وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ   --    dan carilah rumah akhirat  itu dalam apa yang telah Allah berikan kepada engkau, وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا   --  dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia, وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ -- dan berbuat ihsanlah sebagaimana Allah telah berbuat ihsan terhadap engkau, وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ  -- dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di bumi, اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ --  sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” قَالَ  اِنَّمَاۤ   اُوۡتِیۡتُہٗ  عَلٰی  عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ   --  Ia  berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.”   اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ  قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ  قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا  -- Tidakkah ia mengetahui bahwa  sungguh  Allah telah membinasakan banyak generasi sebelumnya  yang lebih besar kekua-saannya daripada dia dan lebih banyak harta kekayaannya?  وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ  -- Dan   orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka.  (Al-Qashash [28]:77-79).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  4 Januari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar