Jumat, 16 Januari 2015

Nubuatan Penyebab Ketidakberdayaan Negara-negara Islam di Timur Tengah Menghadapi Arogansi "Negara Israel" yang Kecil








بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 32

  
Nubuatan Penyebab Ketidak-Berdayaan Negara-negara Islam di Timur Tengah Menghadapi Arogansi  Negara Israel” yang Kecil

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  firman  Allah Swt.   mengenai  kedatangan  seorang saksi  yang mendukung kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw. yang muncul di kalangan umat Islam di Akhir Zaman   -- yakni Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yaitu Mirza Ghulam Ahmad a.s.   firman-Nya:
 اَفَمَنۡ کَانَ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ  کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ  رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka  apakah orang yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya) وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ  -- dan  ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya untuk memuktikan kebenarannya, dan yang sebelumnya telah didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat dikatakan seorang penipu? اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ -- mereka itu beriman kepadanya,  وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ   --  dan barangsiapa dari golongan  itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan baginya. فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ --   karena itu  janganlah engkau ragu-ragu mengenainya,  اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ  -- sesungguhnya itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ  --  tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).

Para Pembuat “Parit Api” Kezaliman

         Dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai kebenaran seorang “saksi” (syahid) dan “orang yang diberi kesaksian” (masyhud)  olehnya, fiman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾  وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾  قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾  النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾  اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾  وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  ؕ﴿﴾  وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  -- Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang, وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ --   dan demi Hari yang dijanjikan,  وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ  -- dan demi saksi  dan yang disaksikan, قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ -- binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ  --   yaitu Api yang dinyalakan dengan bahan bakar, اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ --  ketika mereka duduk di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  -- dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ   dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ    -- Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ  -- dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. (Al-Burūj [85]:1-10).
     Mujaddid-mujaddid Islam  yang muncul di setiap awal abad atau 12  gugusan bintang di cakrawala ruhani Islam, yang akan membuat cahaya Islam berkilauan terus sesudah matahari ruhani terbenam, yaitu, sesudah 3 abad Islam paling baik berlalu (QS.32:6), sehingga membawa akibat tersebarnya kegelapan ruhani di seluruh dunia. Para mujaddid itu akan memberikan kesaksian mengenai kebesaran Islam, kebenaran Al-Quran dan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimaa dikemukakan dalam QS.11:18 sebelum ini.
   “Hari yang dijanjikan” itu dapat berarti hari ketika  Al-Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  akan dibangkitkan untuk mendatangkan kebangkitan kembali Islam yanag kedua kali (QS.61:10; QS.62:3-5). Pada hakikatnya banyak hari semacam itu dalam sejarah Islam yang dapat disebut “Hari yang dijanjikan”, seperti hari Pertempuran Badar, hari ketika Pertempuran Khandak berkesudahan dengan kejayaan besar, dan hari jatuhnya Mekkah.
    Tetapi “Hari yang dijanjikan” yang paripurna itu ialah masa kebangkitan kedua-kali   Nabi Besar Muhammad saw. di  Akhir Zaman ini dalam pribadi wakil beliau saw. pada abad ke-14 Hijrah (QS.62:3-5), ketika agama Islam akan memperoleh kehidupan baru dan akan menang atas semua agama lainnya (QS.61:10).
   Hari yang dijanjikan” itu dapat pula berarti  hari ketika orang-orang bertakwa akan merasakan kelezatan nikmat pertemuan dengan Tuhan mereka  pada saat mereka mencapai derajat ruhani  nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang tentram - (QS.89:27-31).

Masyhūd  (Yang Diberi Kesaksian)  dan Syāhid (Yang Memberi Kesaksian)  & Berulangnya Ketakaburan Iblis di Akhir Zaman

      Makna ayat وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ  -- “dan demi saksi  dan yang disaksikan” yaitu bahwa tiap nabi Allah atau mushlih rabbani adalah syāhid, yaitu yang  memberi kesaksian, disebabkan beliau seorang saksi hidup akan adanya Allah Swt. (QS.12:109; QS.21:52-27), dan beliau itu pun masyhūd (yang diberi kesaksian) sebab Allah Swt. memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaannya  sebagai rasul Allah dengan memperlihatkan Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat di tangannya (QS.14:8-13).
     Tetapi di sini, seperti nampak dari teks, syahid saksi) adalah  Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sedangkan   masyhūd (yang diberi kesaksian) adalah Nabi Besar Muhammad saw., dan ayat ini mengandung arti bahwa Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.     akan memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw.  dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh, dan tulisan-tulisan beliau yang luar-biasa dan dengan Tanda-tanda yang akan ditampakkan Allah Swt. di tangan beliau.
     Jadi, Al-Masih Mau’ud a.s. akan memberikan kesaksian pula dalam arti bahwa dalam wujud beliau nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri tentang kedatangan Imam Mahdi a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s. (QS.61:10) telah memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaan beliau sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. atau sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau sebagai Rasul Akhir Zaman  (QS.61:10; QS.62:3-5). Dengan demikian Nabi Besar Muhammad saw. atau misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11) dan Al-Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  itu bersama-sama merupakan syāhid (saksi) dan masyhūd  (yang diberi kesaksian).
     Persumpahan Allah Swt. dalam Surah Al-Burūj tersebut mengenai kedatangan syāhid dan masyhūd tersebut  adalah sebagai dalil  mengenai akan berulangannya  ketakaburan   iblis  terhadap Adam (Khalifah Allah) dan para pengikutnya, termasuk di masa Nabi Besar Muhammad saw.  atau misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11)  yakni  sang  masyhūd  (yang diberi kesaksian) 15 abad yang silam, mau pun di Akhir Zaman ini  terhadap Al-Masih Mau’ud a.s.   atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Qs.43:58) atau syāhid, firman-Nya:
قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ -- binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ  --   yaitu Api yang dinyalakan dengan bahan bakar, اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ --  ketika mereka duduk3311 di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  -- dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ   dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ    -- Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ  -- dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. (Al-Burūj [85]:5-10).

Perlakuan Zalim Para  Pembuat “Parit Api di Berbagai Zaman Kenabian

    Menurut sebagian ahli tafsir Al-Quran, ayat ini dianggap menunjuk kepada pembakaran sampai mati beberapa orang Kristen oleh raja Yahudi, Dzu Nawas, dari Yaman. Menurut sebagian lain, ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa pelemparan beberapa pemimpin Bani Israil ke dalam tanur-tanur (tungku-tungku) yang sedang menyala-nyala, dilakukan oleh Raja Nebukadnezar dari Babil (Dan. 3:19-22) ketika hukuman Ilahi yang pertama – dari kedya hukuman yang dijanjikan  --  menimpa Bani Israil (QS.2:260; QS.17:5-9).
   Ayat ini lebih tepat dapat ditujukan kepada musuh-musuh kebenaran yang di masa setiap mushlih rabbani (rasul Allah), mereka menentang keras dan menganiaya orang-orang yang beriman kepada  para rasul Allah tersebut. Dengan demikian ayat mengenai para pembuat “parit api” tersebut  tidaklah dimaksudkan di sini untuk menunjuk kepada suatu kejadian di masa lampau yang kebenarannya meragukan, melainkan merupakan Sunnatullah yang senantiasa terulang, termasuk di Akhir Zaman ini.
   Jadi, dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya, nampaknya diisyaratkan bahwa para pengikut Al-Masih Mau’ud a.s.   di Akhir Zaman  pun harus menghadapi kesulitan-kesulitan berat pada hari besar itu, sebagaimana para penganut sejati (hawariyyin) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa-masa awal mengalami perlakuan zalim  dari  kaum Yahudi serta para penguasa musyrik kerajaan Romawi. Padahal  Allah Swt.  pentingnya beriman kepada Al-Masih Mau’ud a.s. tersebut merupakan perintah Allah Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ  -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam berkata  kepada  pengikut-pengikutnya, مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ -- “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  --  Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Ka-milah penolong-penolong Allah.”   فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- maka segolongan dari Bani Israil beriman  sedangkan segolongan lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ    -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ   -- lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang. (Ash-Shaff [61]:15).

Nubuatan Pembangkangan Umat Islam Terhadap Berbagai Perintah Allah Swt.

     Namun merupakan kekhasan Al-Quran,  jika Allah Swt. menekankan suatu perintah  berkenaan  pelaksanaan (pengamalan)  sesuatu kepada suatu umat (kaum), maka di dalamnya terkandung pula nubuatan mengenai akan adanya pembangkangan terhadap perintah Allah Swt. tersebut dari umat yang bersangkutan, contohnya adalah pembangkangan terhadap perintah Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ      یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾    تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.   وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا  --    dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah, dan   janganlah kamu berpecah-belah,  وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا --   dan  ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuh-an, lalu  Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara,  وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا -- dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api  lalu Dia menyelamatkanmu darinya.  کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ  -- Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada keba-ikan,   menyuruh kepada yang makruf,  melarang dari berbuat munkar,  dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ  --  Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar.   Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam.  Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ  --  “Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu." وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya.    تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ -- Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  --   dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam. وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ    --  Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.  (Ali ‘Imran [3]:103-110).

Kesuksesan Thalut dan Nabi Daud a.s. Melawan  Jalut dan Balatentaranya yang Jauh Lebih Banyak dan Lebih Kuat

         Kenyataan yang saat ini terjadi di kalangan umat Islam merupakan bukti kebenaran nubuatan Allah Swt. dalam Al-Quran tersebut (QS.3:103-110), sehingga akibatnya menghadapi  negara Israel” yang kecil pun mereka   -- terutama negara-negara Muslim di Timur Tengah   -- tidak berdaya, padahal  di masa Nabi Besar Muhammad saw. telah membuktikan kebenaran firman-Nya  berikut ini berkenaan dengan keberhasilan  perjuangan Thalut  dan Nabi Daud a.s. dan para pengikutnya  yang sedikit  ketika melawan Jalut dan  bala tentaranya yang jauh lebih kuat dalam segala seginya, yakni:  کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ  -- “Banyak golongan yang sedikit telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beseta orang-orang yang sabar”, firman-Nya:
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ  ۙ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ بِنَہَرٍ ۚ فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ فَاِنَّہٗ مِنِّیۡۤ  اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ غُرۡفَۃًۢ بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ فَلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ  ۙ  کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ  اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ؕ فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ﴿﴾
Maka tatkala Thalut berangkat dengan balatentaranya  ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan mencobai kamu dengan sebuah sungai, lalu barangsiapa  minum darinya maka ia bukan dariku, dan  barangsiapa tidak pernah mencicipinya   maka sesungguhnya ia dariku, kecuali orang yang menciduk seciduk310 dengan tangannya.” Tetapi  mereka minum darinya kecuali sedikit dari mereka, lalu tatkala ia dan orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya mereka berkata: لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ --  Tidak ada kemampuan pada kami hari ini untuk menghadapi Jalut  dan balatentaranya.” قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ     -- Tetapi orang-orang yang meyakini bahwa sesungguhnya mere-ka akan menemui Allah berkata: کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ  --  “Berapa banyak golongan yang sedikit  telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”   Dan tatkala mereka maju untuk menghadapi Jalut dan bala-tentaranya, mereka berkata: رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ  اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ --  “Ya Rabb (Tuhan) kami,  anugerahkanlah  ketabahan atas kami,  teguhkanlah langkah-langkah kami, dan  tolonglah kami terhadap kaum kafir.”   Maka mereka mengalahkan   mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut, Allah mem-berinya kerajaan dan kebijaksanaan dan mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ  --  Dan  seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan seba-gian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan, tetapi Allāh memiliki karunia atas seluruh alam.  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ  --  Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari antara orang-orang yang diutus. (Al-Baqarah [2]:250-253). 

Nubuatan Penentangan  Umat Islam Terhadap  Al-Masih Mau’ud a.s.

        Contoh lainnya mengenai akan terjadinya pembangkangan  di kalangan umumnya umat Islam terhadap perintah Allah Swt.  seperti itu  adalah          perintah  kepada orang-orang yang mengaku beriman   untuk  menjadi para penolong Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh para Hawari (pengikut) Nabi isa Ibnu Maryam a.s.). Mengisyaratkan kepada  kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ  --  tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan    terhadapnya,   dan mereka berkata:  اءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ --  "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --   Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
    Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).  Kedatangan Al-Masih a.s.  yang dilahirkan tanpa ayah merupakan tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya.

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 14 Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar