بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 32
Nubuatan Penyebab Ketidak-Berdayaan Negara-negara Islam di Timur Tengah Menghadapi Arogansi
“Negara Israel” yang Kecil
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas firman Allah Swt.
mengenai kedatangan seorang saksi yang mendukung kebenaran pendakwaan Nabi
Besar Muhammad saw. yang muncul di kalangan umat
Islam di Akhir Zaman -- yakni Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yaitu Mirza
Ghulam Ahmad a.s. – firman-Nya:
اَفَمَنۡ کَانَ
عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ
قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا
وَّ رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ
بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا
تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ
الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah orang yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya)
وَ
یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ -- dan ia
akan disusul pula oleh seorang saksi
dari-Nya untuk memuktikan kebenarannya, dan yang sebelumnya telah
didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat dikatakan seorang penipu? اُولٰٓئِکَ
یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ -- mereka itu beriman kepadanya, وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ
فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ -- dan
barangsiapa dari golongan itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan
baginya. فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭
اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ -- karena itu janganlah
engkau ragu-ragu mengenainya, اِنَّہُ الۡحَقُّ
مِنۡ رَّبِّکَ -- sesungguhnya
itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- tetapi kebanyakan
manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).
Para Pembuat “Parit Api” Kezaliman
Dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman
mengenai kebenaran seorang “saksi”
(syahid) dan “orang yang diberi kesaksian” (masyhud) olehnya, fiman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ
شُہُوۡدٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ
اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ
الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ -- Demi langit
yang memiliki gugusan-gugusan bintang, وَ الۡیَوۡمِ
الۡمَوۡعُوۡدِ -- dan demi Hari
yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ
مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang
disaksikan, قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ -- binasalah para pemilik parit,
النَّارِ
ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- yaitu
Api yang dinyalakan dengan bahan
bakar, اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ -- ketika mereka
duduk di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ -- dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ
اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ
الۡحَمِیۡدِ – dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena
mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ -- Yang kepunyaan-Nya
kerajaan seluruh langit dan bumi,
وَ
اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ -- dan Allah
menjadi Saksi atas segala sesuatu. (Al-Burūj [85]:1-10).
Mujaddid-mujaddid
Islam yang muncul di setiap awal abad atau
12
gugusan bintang di cakrawala ruhani
Islam, yang akan membuat cahaya Islam
berkilauan terus sesudah matahari ruhani
terbenam, yaitu, sesudah 3 abad Islam
paling baik berlalu (QS.32:6), sehingga membawa akibat tersebarnya kegelapan ruhani di seluruh dunia. Para mujaddid itu akan memberikan kesaksian mengenai kebesaran Islam, kebenaran Al-Quran
dan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimaa dikemukakan dalam QS.11:18
sebelum ini.
“Hari yang dijanjikan” itu dapat berarti
hari ketika Al-Masih Mau’ud a.s. atau
misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) akan dibangkitkan untuk
mendatangkan kebangkitan kembali Islam
yanag kedua kali (QS.61:10; QS.62:3-5). Pada hakikatnya banyak hari semacam itu dalam sejarah Islam
yang dapat disebut “Hari yang dijanjikan”,
seperti hari Pertempuran Badar, hari
ketika Pertempuran Khandak
berkesudahan dengan kejayaan besar, dan hari jatuhnya Mekkah.
Tetapi “Hari yang dijanjikan” yang paripurna itu
ialah masa kebangkitan kedua-kali Nabi
Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini dalam pribadi wakil beliau saw. pada abad ke-14 Hijrah
(QS.62:3-5), ketika agama Islam akan
memperoleh kehidupan baru dan akan
menang atas semua agama lainnya
(QS.61:10).
“Hari yang dijanjikan” itu dapat pula berarti hari
ketika orang-orang bertakwa akan
merasakan kelezatan nikmat pertemuan
dengan Tuhan mereka pada saat mereka mencapai derajat ruhani nafs-al-Muthmainnah
(jiwa yang tentram - (QS.89:27-31).
Masyhūd (Yang Diberi Kesaksian) dan Syāhid
(Yang Memberi Kesaksian) & Berulangnya Ketakaburan Iblis di
Akhir Zaman
Makna ayat وَ شَاہِدٍ
وَّ مَشۡہُوۡدٍ -- “dan demi saksi dan yang disaksikan” yaitu bahwa tiap nabi Allah atau mushlih rabbani adalah syāhid, yaitu yang memberi kesaksian,
disebabkan beliau seorang saksi hidup
akan adanya Allah Swt. (QS.12:109;
QS.21:52-27), dan beliau itu pun masyhūd (yang diberi kesaksian) sebab
Allah Swt. memberi kesaksian akan kebenaran
pendakwaannya sebagai rasul Allah dengan memperlihatkan Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat
di tangannya (QS.14:8-13).
Tetapi di sini, seperti
nampak dari teks, syahid saksi)
adalah Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sedangkan masyhūd
(yang diberi kesaksian) adalah
Nabi Besar Muhammad saw., dan ayat
ini mengandung arti bahwa Al-Masih Mau’ud
a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. akan
memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad
saw. dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh, dan tulisan-tulisan
beliau yang luar-biasa dan dengan Tanda-tanda
yang akan ditampakkan Allah Swt. di
tangan beliau.
Jadi, Al-Masih Mau’ud a.s. akan memberikan kesaksian pula dalam arti bahwa dalam
wujud beliau nubuatan Nabi Besar
Muhammad saw. sendiri tentang kedatangan Imam Mahdi a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s.
(QS.61:10) telah memberi kesaksian
akan kebenaran pendakwaan beliau
sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. atau
sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. (QS.43:58) atau sebagai Rasul Akhir
Zaman (QS.61:10; QS.62:3-5). Dengan
demikian Nabi Besar Muhammad saw.
atau misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11) dan
Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) itu bersama-sama
merupakan syāhid (saksi) dan
masyhūd (yang diberi kesaksian).
Persumpahan Allah Swt. dalam Surah Al-Burūj
tersebut mengenai kedatangan syāhid dan masyhūd tersebut adalah sebagai dalil mengenai akan berulangannya ketakaburan iblis terhadap Adam (Khalifah Allah) dan para
pengikutnya, termasuk di masa Nabi Besar Muhammad saw. atau misal Nabi Musa a.s.
(QS.46:11) yakni sang masyhūd (yang diberi kesaksian) 15 abad yang silam,
mau pun di Akhir Zaman ini
terhadap Al-Masih Mau’ud a.s.
atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Qs.43:58) atau syāhid,
firman-Nya:
قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ -- binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- yaitu
Api yang dinyalakan dengan bahan
bakar, اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ -- ketika mereka
duduk3311 di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ -- dan mereka menjadi
saksi atas apa yang dilakukan mereka
terhadap orang-orang beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا
مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ – dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena
mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ -- Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit
dan bumi, وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ -- dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu.
(Al-Burūj
[85]:5-10).
Perlakuan Zalim Para Pembuat “Parit Api” di Berbagai Zaman Kenabian
Menurut sebagian ahli
tafsir Al-Quran, ayat ini dianggap menunjuk kepada pembakaran sampai mati beberapa orang Kristen oleh raja Yahudi, Dzu Nawas, dari Yaman. Menurut sebagian
lain, ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa pelemparan beberapa pemimpin Bani Israil ke dalam tanur-tanur (tungku-tungku) yang sedang
menyala-nyala, dilakukan oleh Raja
Nebukadnezar dari Babil (Dan.
3:19-22) ketika hukuman Ilahi yang
pertama – dari kedya hukuman yang dijanjikan --
menimpa Bani Israil (QS.2:260;
QS.17:5-9).
Ayat ini lebih tepat dapat ditujukan kepada musuh-musuh kebenaran yang di masa
setiap mushlih rabbani (rasul Allah),
mereka menentang keras dan menganiaya
orang-orang yang beriman kepada para rasul
Allah tersebut. Dengan demikian ayat mengenai para pembuat “parit api” tersebut tidaklah dimaksudkan di sini untuk menunjuk
kepada suatu kejadian di masa lampau yang kebenarannya meragukan, melainkan
merupakan Sunnatullah yang senantiasa
terulang, termasuk di Akhir Zaman
ini.
Jadi, dalam ayat ini dan
dalam beberapa ayat berikutnya, nampaknya diisyaratkan bahwa para pengikut Al-Masih Mau’ud a.s. di
Akhir Zaman pun harus
menghadapi kesulitan-kesulitan berat
pada hari besar itu, sebagaimana para
penganut sejati (hawariyyin) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa-masa
awal mengalami perlakuan zalim dari kaum Yahudi serta para penguasa musyrik kerajaan
Romawi. Padahal Allah
Swt. pentingnya beriman kepada Al-Masih Mau’ud a.s. tersebut merupakan perintah Allah Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ
اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ
قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ
اللّٰہِ فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی
عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی
ابۡنُ مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam berkata kepada
pengikut-pengikutnya, مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ
اِلَی اللّٰہِ -- “Siapakah penolong-penolongku
di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ
اَنۡصَارُ اللّٰہِ -- Pengikut-pengikut
yang setia itu berkata: “Ka-milah
penolong-penolong Allah.” فَاٰمَنَتۡ
طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan
lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ -- kemudian Kami
membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ -- lalu mereka
menjadi orang-orang yang
menang. (Ash-Shaff [61]:15).
Nubuatan Pembangkangan
Umat Islam Terhadap Berbagai Perintah
Allah Swt.
Namun merupakan kekhasan Al-Quran, jika Allah Swt. menekankan suatu perintah berkenaan pelaksanaan
(pengamalan) sesuatu kepada suatu umat (kaum), maka di dalamnya terkandung
pula nubuatan mengenai akan adanya pembangkangan terhadap perintah Allah Swt. tersebut dari umat
yang bersangkutan, contohnya adalah pembangkangan
terhadap perintah Allah Swt. dalam
firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا
تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ
اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ
عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ
اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ
فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ
النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی
الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ
بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ
الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ
تَفَرَّقُوۡا وَ
اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ
وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ
بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ
فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ
ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا
فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ
الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah
sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah diri. وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا -- dan berpegangteguhlah
kamu sekalian pada tali Allah, dan janganlah
kamu berpecah-belah, وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا -- dan ingatlah
akan nikmat Allah atasmu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuh-an, lalu Dia
menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain maka dengan
nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا -- dan kamu
dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia
menyelamatkanmu darinya. کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ -- Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu yang senantiasa menyeru manusia
kepada keba-ikan, menyuruh
kepada yang makruf, melarang dari berbuat
munkar, dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ -- Dan janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih
sesudah bukti-bukti
yang jelas datang kepada mereka, dan mereka
itulah orang-orang yang
baginya ada azab yang besar. Pada hari ketika wajah-wajah
menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi
hitam. Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam,
dikatakan kepada mereka: اَکَفَرۡتُمۡ
بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ -- “Apakah kamu
kafir sesudah beriman? Karena itu rasakanlah
azab ini disebabkan kekafiran kamu." وَ اَمَّا
الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- Dan ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal
di dalamnya. تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ -- Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, وَ مَا
اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ -- dan Allah
sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman
atas seluruh alam. وَ لِلّٰہِ
مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی
اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- Dan milik
Allah-lah apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun yang ada di bumi,
dan kepada Allah-lah segala urusan
dikembalikan. (Ali
‘Imran [3]:103-110).
Kesuksesan
Thalut dan Nabi Daud a.s. Melawan
Jalut dan Balatentaranya yang Jauh Lebih Banyak dan Lebih
Kuat
Kenyataan yang saat ini terjadi di kalangan umat
Islam merupakan bukti kebenaran nubuatan Allah Swt. dalam
Al-Quran tersebut (QS.3:103-110), sehingga akibatnya menghadapi “negara
Israel” yang kecil pun mereka
-- terutama negara-negara Muslim di Timur Tengah -- tidak berdaya, padahal di masa Nabi Besar Muhammad saw. telah
membuktikan kebenaran firman-Nya berikut ini berkenaan dengan keberhasilan
perjuangan Thalut dan Nabi Daud a.s. dan para
pengikutnya yang sedikit ketika melawan Jalut dan bala tentaranya yang jauh lebih
kuat dalam segala seginya, yakni: کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ
قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً کَثِیۡرَۃًۢ
بِاِذۡنِ اللّٰہِ وَ اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ -- “Banyak golongan yang sedikit telah mengalahkan golongan yang banyak dengan
izin Allah, dan Allah beseta orang-orang yang sabar”, firman-Nya:
فَلَمَّا
فَصَلَ طَالُوۡتُ بِالۡجُنُوۡدِ ۙ
قَالَ اِنَّ اللّٰہَ مُبۡتَلِیۡکُمۡ
بِنَہَرٍ ۚ فَمَنۡ شَرِبَ مِنۡہُ فَلَیۡسَ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ لَّمۡ یَطۡعَمۡہُ
فَاِنَّہٗ مِنِّیۡۤ اِلَّا مَنِ اغۡتَرَفَ
غُرۡفَۃًۢ بِیَدِہٖ ۚ فَشَرِبُوۡا مِنۡہُ اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ فَلَمَّا
جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ
ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ ؕ قَالَ
الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ ۙ کَمۡ
مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً
کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ
قَالُوۡا رَبَّنَاۤ اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا
صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ
انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ؕ فَہَزَمُوۡہُمۡ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ
النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ
فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ
بِالۡحَقِّ ؕ وَ اِنَّکَ لَمِنَ
الۡمُرۡسَلِیۡنَ﴿﴾
Maka tatkala
Thalut berangkat dengan balatentaranya ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan mencobai kamu dengan sebuah
sungai, lalu barangsiapa minum darinya maka ia bukan dariku,
dan barangsiapa
tidak pernah mencicipinya maka sesungguhnya ia dariku, kecuali orang yang menciduk seciduk310 dengan
tangannya.” Tetapi mereka minum darinya kecuali sedikit dari mereka, lalu tatkala ia dan orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya mereka
berkata: لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ -- “Tidak ada kemampuan pada kami hari ini untuk menghadapi Jalut dan balatentaranya.”
قَالَ
الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ -- Tetapi orang-orang
yang meyakini bahwa sesungguhnya mere-ka
akan menemui Allah berkata:
کَمۡ مِّنۡ
فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً
کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ -- “Berapa banyak golongan yang sedikit telah mengalahkan golongan yang banyak dengan
izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Dan
tatkala mereka maju untuk menghadapi
Jalut dan bala-tentaranya, mereka berkata: رَبَّنَاۤ اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی
الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahkanlah ketabahan atas kami, teguhkanlah
langkah-langkah kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir.” Maka mereka mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, dan Dawud membunuh Jalut, Allah mem-berinya kerajaan dan kebijaksanaan dan mengajarkan kepadanya apa yang
Dia kehendaki. وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ
بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan seba-gian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan, tetapi
Allāh memiliki karunia atas seluruh alam.
تِلۡکَ
اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ -- Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, dan sesungguhnya engkau
benar-benar salah seorang dari antara orang-orang yang diutus. (Al-Baqarah
[2]:250-253).
Nubuatan Penentangan Umat Islam Terhadap Al-Masih
Mau’ud a.s.
Contoh lainnya mengenai
akan terjadinya pembangkangan di
kalangan umumnya umat Islam terhadap perintah Allah Swt. seperti itu
adalah perintah kepada orang-orang yang mengaku beriman untuk
menjadi para penolong Allah,
sebagaimana yang dilakukan oleh para Hawari
(pengikut) Nabi isa Ibnu Maryam a.s.). Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut
ini:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا
ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ
مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- tiba-tiba kaum engkau meneriakkan
penentangan terhadapnya, dan
mereka berkata: اءَ اٰلِہَتُنَا
خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ -- "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak
menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka
adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا
عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami anugerahi
nikmat kepadanya, dan Kami
menjadikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf
[43]:58-60).
Shadda (yashuddu) berarti: ia
menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).
Kedatangan Al-Masih a.s. yang dilahirkan tanpa ayah merupakan tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan
dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk
selama-lamanya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 14 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar