بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 26
Golongan
Maghdhūb (Yang Dimurkai) dan Dhāllīn
(Yang Sesat) Dalam Surah Al-Fatihah adalah Orang-orang yang Terusir dari “Surga
Karidhaan Ilahi” Karena Mendustakan dan Menentang
Rasul
Allah yang Dijanjikan
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas arti kata rijāl
dalam ayat وَّ اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ
یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا ۙ -- Dan sesungguhnya ada beberapa
orang dari ins (manusia) yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka menambah
kesombongan mereka” (QS.727) hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam
ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqāf ayat
30-33 adalah manusia dan bukan suatu
jenis makhluk lain mana pun.
Kata Arab jin dalam Surah Al-Ahqaf
ayat 30-33 dan Al-Jin ayat 1-8 dapat berarti orang-orang besar dan berpengaruh,
dan ins – orang-orang rendah
dan hina atau orang-orang awam, yang dengan mengikuti golongan tersebut pertama (jin) dan mencari lindungan mereka itu, meningkatkan kesombongan dan keangkuhan
golongan jin tersebut, yakni para pemuka kaum atau pemuka
agama mereka.
Mengisyaratkan kepada
kenyataan inilah firman Allah Swt. dalam Surah At Taubah sebelum ini:
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Mereka telah
menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ -- padahal
mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia
dari apa yang mereka sekutukan. (At-Taubah [9]:31).
Itikad Sesat Lā Nabiya
Ba’dahu (Tidak Ada Nabi Sesudahnya)
Makna ayat وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- “dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka
bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul,” yakni sejak zaman Nabi
Yusuf a.s. di Mesir orang-orang Yahudi tidak mempercayai lagi kedatangan rasul mana pun sesudah beliau, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ شَکٍّ
مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی
اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh
benar-benar telah datang kepada kamu
Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti
yang nyata, tetapi kamu selalu dalam
keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati kamu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ
اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا -- “Allah
tidak akan pernah mengutus seorang
rasul pun sesu-dahnya.” کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُ -- Demikianlah Allah menyesatkan
barangsiapa yang melampaui batas,
yang ragu-ragu. الَّذِیۡنَ
یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ اٰیٰتِ اللّٰہِ
بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ -- yaitu
orang-orang yang bertengkar
mengenai Tanda-tanda Allah tanpa dalil
yang datang kepada mereka. کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا -- Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di
sisi orang-orang yang beriman, کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ -- demikianlah Allah mencap setiap hati orang
sombong lagi sewenang-senang. (Al-Mu’min [40]: 35-36).
Nabi-nabi Allah telah senantiasa datang ke dunia semenjak
waktu yang jauh silam (QS.7:35-37), tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya
(QS.15L12; QS.36:31-33; QS.43:8), dan ketika ia wafat orang-orang yang beriman
kepada nabi Allah itu kemudian berkata
bahwa tidak ada nabi akan datang lagi
dan pintu wahyu telah tertutup untuk
selama-lamanya.
Dengan demikian jelaskan bahwa itikad lā nabiya ba’dahu (tidak ada lagi nabi sesudahnya) merupakan itikad sesat yang diwariskan oleh kaum-kaum
purbakala termasuk kaum Yahudi (QS.7:101-102; QS.40:35-36;
QS.72:8), itikad sesat lā nabiya ba’dahu (tidak ada lagi nabi sesudahnya) itulah yang menjadi penyebab orang-orang yang mengaku beriman kemudian
menjadi golongan maghdhub dan dhāllīn (orang yang dimurkai Allah Swt. dan orang
yang sesat dari Tauhid - QS.1:7) karena mendustakan dan menentang Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
Allah Swt. kepada mereka (QS.7:35-37), termasuk di Akhir Zaman ini, padahal Rasul
Allah yang dijanjikan
tersebut -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-5)
– datang untuk menegakkan “Cahaya Allah”
serta menyebarkannya ke seluruh dunia
(QS.61:10).
Upaya Memadamkan “Cahaya
Allah” dengan Mulut Mereka & Misal Anjing yang Kehausan
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
upaya mereka untuk memadamkan “Cahaya
Ilahi” -- yakni Tauhid Ilahi -- yang ditegakkan dan disebarkan
kembali oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ﴿﴾
Mereka
berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya,
walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq
(benar), supaya Dia mengunggulkannya
atas semua agama walau pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
Lihat pula QS.61:10.
Mengisyaratkan kepada golongan jin -- yakni para pemuka
kaum atau para pemuka agama –
yang bernasib malang karena mendustakan
dan menentang Rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan kepada mereka itulah (QS.7:35-37), firman Allah Swt. berikut ini, sehingga kemudian mereka menjadi
golongan maghdhāb dan dhāllīn (QS.1:7):
وَ اتۡلُ
عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ
اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا
لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ
فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ
اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ
تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ
الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا
یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka berita orang-orang
yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ
وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ -- Dan seandainya
Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan
itu, وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ
ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡ -- akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya, فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang
kehausan, اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ
اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ -- jika engkau
menghalaunya ia menjulurkan lidahnya
dan jika engkau membiarkannya ia tetap
menjulurkan lidahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ
الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ -- Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ -- Sangat buruk misal aorang-orang
yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada
diri mereka sen-dirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).
Yang dimaksudkan ayat 176 bukanlah seseorang
tertentu melainkan semua orang
yang kepada mereka Allah Swt. memperlihatkan
Tanda-tanda melalui seorang nabi Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37) tetapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu
terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).
Orang-orang yang Terusir dari “Surga Keridhaan
Ilahi”
Ayat 177
telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah
pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.
dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan
kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat
pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran di setiap zaman Rasul Allah, termasuk di Akhir
Zaman ini..
Makna ayat وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ -- “tetapi ia cenderung ke bumi” adalah hal-hal
yang bersifat kebendaan, pada
khususnya kecintaan akan uang dan kehormatan serta keuntungan
duniawi lainnya.
Yalhats dari lahatsa yang
berarti nafasnya tersengal-sengal
karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya adalah
baik diminta ataupun tidak untuk berkorban
pada jalan agama, orang semacam itu
nampaknya terengah-engah seperti seekor
anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian
pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
Jadi, perumpamaan orang-orang yang malang
dalam firman-Nya tersebut merupakan tafsir dari
maghdhūb dan dhāllīn karena mereka menolak menjadi golongan orang-orang yang mendapat nikmat Allah berupa nikmat-nikmat
ruhani yaitu nabiyyān, shiddiqīn, syuhada dan shālihīn
(QS.4:70-71), karena mereka menganut titikad sesat lā nabiya badahu (tidak ada lagi
nabi sesudahnya – QS.40:35-36; QS.72:8), firman-Nya:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ
اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Hanya Engkau-lah
Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ
-- Tunjukilah kami jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,
غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ -- bukan jalan mereka yang
dimurkai وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪ -- dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (Al-Fatihah
[1]:5-7).
Menghasut Penguasa Kerajaan Rumawi dan Kerajaan Iran
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai upaya mereka untuk memadamkan “Cahaya Ilahi” -- yakni Tauhid
Ilahi -- yang ditegakkan dan disebarkan kembali oleh Nabi
Besar Muhammad saw.:
یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ﴿﴾
Mereka
berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya,
walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq
(benar), supaya Dia mengunggulkannya
atas semua agama walau pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
Makna ayat یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- “Mereka
berkehendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut mereka,” orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama
mereka di Siria, dan dengan
pertolongan mereka mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt. di tanah Arab.
Orang-orang Yahudi pun pernah berupaya
semacam itu, dengan menghasut orang-orang
Parsi untuk bangkit melawan Nabi
Besar Muhammad saw., yang hasilnya adalah
Kisra Persia telah memeritahkan Badhan – Gubernur Yaman -- untuk menangkap
Nabi Besar Muhammad saw. dan membawa
beliau saw. ke hadapannya.
Tetapi kenyataan yang terjadi adalah,
sesuai dengan ucapan Nabi Besar Muhammad saw. kepada prajurit yang diperintahkan Kisra,
penguasa Iran tersebut dibunuh oleh anaknya sendiri, dan Kisra
yang baru tersebut kemudian membatalkan
perintah ayahnya mengenai penangkapan Nabi Besar Muhammad saw..
Mengebai ayat ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- “Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq
(benar), supaya Dia mengunggulkannya
atas semua agama walau pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya,” para mufassir (ahli tafsir) Al-Quran
sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.
bahwa kemenangan Islam pada akhirnya
akan terjadi di masa Al-Masih Mau’ud a.s. (Tafsir Ibnu Jarir), manakala semua
agama yang beraneka ragam akan bang-kit dan akan berusaha sekeras-kerasnya
untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
Di Akhir Zaman ini cita-cita
dan asas-asas Islam yang luhur yang
disebarkan oleh para pengikut Al-Masih Mau’ud a.s., -- yakni Jemaat
Muslim Ahmadiyah -- sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu
tidak jauh lagi bila Islam akan
memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan
masuk ke dalam haribaan Islam dalam
jumlah besar, yakni firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam Surah An-Nashr berikut ini akan kembali menjadi kenyataan, seperti yang pernah
terjadi di masa beliau saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ
رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ
دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ
بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ
ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apabila datang
pertolongan Allah dan kemenangan,
dan engkau melihat manusia masuk
dalam agama Allah berbondong-bondong,
Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb
(Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
Maksud kata “kemenangan” dalam
ayat اِذَا
جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ
الۡفَتۡحُ – “apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan” adalah kemenangan
yang dijanjikan. Dan karena janji Allah
Swt. telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat ini diperintahkan agar bersyukur kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya: فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ -- “Maka
bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau.”
Makna Perintah Istighfar Pada
Waktu Terwujudnya Kemenangan Islam
Ada pun makna ayat selanjutnya وَ
اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat,” di sini dikatakan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. bahwa karena kemenangan
telah datang kepada beliau saw. dan Islam
telah berkuasa di seluruh negeri serta musuh-musuh dahulu telah saw. menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka
beliau saw. harus berdoa supaya Allah
Swt. memaafkan
kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw.
pada masa lampau. Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah
kepada Nabi Besar Muhammad saw. supaya
memohon ampunan kepada Allah Swt. وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.”
Atau
artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad
saw. diperintahkan supaya
memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat
menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum
Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah
sangat bermakna bahwa manakala di dalam
Al-Quran disebutkan perihal kemenangan
atau perihal keberhasilan besar
lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. selalu
diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan
dan perlindungan-Nya. Hal itu jelas
menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun beliau saw. diperintahkan agar memohon
ampunan Allah Swt. dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau
saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang
lain, yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya
datang, ketika para pengikut beliau saw. menyimpang
dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Allah
Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
Jadi, maka ayat
وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ
کَانَ تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat” sama sekali bukan berarti bahwa, Nabi Besar
Muhammad saw. beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Sebab menurut
Allah Swt. dalam Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan
dari jalan lurus (QS.3:32; QS.33:22; QS.53:1-19; QS.68:1-7)
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8 Januari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar