Jumat, 09 Januari 2015

Golongan "Maghdhuub" (Yang Dimurkai) dan "Dhaalliin" (Yang Sesat) Dalam Surah Al-Fatihah adalah Orang-orang yang Terusir dari "Surga Keridhaan Ilahi" karena Mendustakan dan Menentang Rasul Allah yang Dijanjikan



 

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 26

Golongan Maghdhūb (Yang Dimurkai) dan Dhāllīn  (Yang Sesat) Dalam Surah Al-Fatihah adalah Orang-orang yang Terusir dari  Surga Karidhaan Ilahi” Karena Mendustakan  dan Menentang  Rasul Allah yang   Dijanjikan 


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas    arti   kata rijāl  dalam ayat وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ  -- Dan sesungguhnya   ada beberapa orang dari ins (manusia) yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah kesombongan mereka” (QS.727)  hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqāf ayat 30-33 adalah manusia dan bukan suatu jenis makhluk lain mana pun.
   Kata Arab jin dalam  Surah Al-Ahqaf ayat 30-33 dan  Al-Jin ayat 1-8   dapat berarti orang-orang besar dan berpengaruh, dan ins – orang-orang rendah dan hina atau orang-orang awam, yang dengan mengikuti golongan tersebut pertama (jin) dan mencari lindungan mereka itu, meningkatkan kesombongan dan keangkuhan golongan jin tersebut, yakni para pemuka kaum  atau pemuka agama   mereka.
   Mengisyaratkan kepada kenyataan inilah firman Allah Swt. dalam Surah At Taubah  sebelum ini:
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ 
Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ  -- padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ  -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  (At-Taubah [9]:31).

Itikad Sesat Lā Nabiya Ba’dahu (Tidak Ada Nabi Sesudahnya)

 Makna ayat  وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا  -- “dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul,” yakni  sejak  zaman Nabi Yusuf a.s.  di Mesir orang-orang Yahudi tidak mempercayai lagi kedatangan rasul mana pun sesudah beliau, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ  کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ         کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ          کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا -- “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesu-dahnya.”  کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُ  --  Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu. الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ   --   yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  --  Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman,    کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ  --  demikianlah Allah mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewenang-senang. (Al-Mu’min [40]: 35-36). 
     Nabi-nabi Allah  telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam (QS.7:35-37), tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya (QS.15L12; QS.36:31-33; QS.43:8), dan ketika ia wafat orang-orang yang beriman kepada nabi Allah itu kemudian berkata bahwa tidak ada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya. 
    Dengan demikian jelaskan bahwa itikad lā nabiya ba’dahu  (tidak ada lagi nabi sesudahnya) merupakan itikad sesat yang diwariskan oleh kaum-kaum purbakala termasuk   kaum Yahudi (QS.7:101-102; QS.40:35-36; QS.72:8), itikad sesat lā nabiya ba’dahu  (tidak ada lagi nabi sesudahnya)  itulah yang menjadi penyebab  orang-orang yang mengaku beriman kemudian  menjadi golongan maghdhub dan dhāllīn (orang yang dimurkai Allah Swt. dan orang yang sesat dari Tauhid - QS.1:7)   karena mendustakan dan  menentang  Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka (QS.7:35-37), termasuk di Akhir Zaman ini, padahal Rasul Allah yang dijanjikan tersebut   -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-5) – datang untuk menegakkan “Cahaya Allah” serta menyebarkannya ke seluruh dunia (QS.61:10).

Upaya Memadamkan “Cahaya Allah” dengan Mulut Mereka  & Misal Anjing  yang Kehausan

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai upaya mereka untuk memadamkan “Cahaya Ilahi”   -- yakni Tauhid Ilahi  -- yang ditegakkan  dan disebarkan kembali  oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ﴿﴾
Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ   -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya.  (At-Taubah [9]:30-33). Lihat pula QS.61:10.
     Mengisyaratkan kepada golongan jin --  yakni para pemuka kaum atau para pemuka agama – yang bernasib malang  karena mendustakan dan menentang Rasul Allah  yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka itulah (QS.7:35-37), firman Allah Swt.  berikut ini, sehingga kemudian mereka menjadi golongan maghdhāb dan dhāllīn (QS.1:7):
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ  --   Dan seandainya  Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡ  -- akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya, فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ  -- maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan,  اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ    -- jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya. ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ --   Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ  --    Sangat buruk misal aorang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sen-dirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).
  Yang dimaksudkan ayat 176   bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allah Swt.   memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka  (QS.7:35-37) tetapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18).

Orang-orang yang Terusir dari “Surga Keridhaan Ilahi

    Ayat 177  telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.    dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran di setiap zaman Rasul Allah, termasuk di Akhir Zaman ini..
 Makna ayat   وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ  -- “tetapi ia cenderung ke bumi” adalah hal-hal yang bersifat kebendaan, pada khususnya kecintaan akan uang dan kehormatan serta keuntungan duniawi lainnya.
    Yalhats dari lahatsa yang berarti nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan, maksudnya  adalah  baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.
  Jadi, perumpamaan orang-orang yang malang dalam firman-Nya tersebut merupakan tafsir dari  maghdhūb dan dhāllīn karena mereka menolak menjadi golongan orang-orang yang mendapat nikmat Allah berupa nikmat-nikmat ruhani yaitu nabiyyān, shiddiqīn, syuhada dan shālihīn (QS.4:70-71), karena mereka menganut titikad sesat lā nabiya badahu (tidak ada lagi  nabi sesudahnya – QS.40:35-36; QS.72:8), firman-Nya:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾   صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                                
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah  dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ --  Tunjukilah kami   jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ   -- yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ  --   bukan jalan mereka  yang dimurkai  وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪  -- dan bukan pula jalan mereka  yang sesat.  (Al-Fatihah [1]:5-7).

Menghasut Penguasa Kerajaan Rumawi dan  Kerajaan Iran    

       Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai upaya mereka untuk memadamkan “Cahaya Ilahi”   -- yakni Tauhid Ilahi  -- yang ditegakkan  dan disebarkan kembali  oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ﴿﴾
Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ   -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya.  (At-Taubah [9]:30-33).
       Makna ayat یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ  -- “Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka,”  orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka  mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt.   di tanah Arab.
 Orang-orang Yahudi pun pernah berupaya semacam itu, dengan menghasut orang-orang Parsi untuk bangkit melawan Nabi Besar Muhammad saw., yang hasilnya adalah  Kisra Persia telah  memeritahkan Badhan – Gubernur Yaman  -- untuk menangkap Nabi Besar Muhammad saw.  dan membawa beliau saw. ke hadapannya.
  Tetapi kenyataan yang terjadi adalah,  sesuai dengan ucapan Nabi Besar Muhammad saw. kepada  prajurit yang diperintahkan Kisra,  penguasa Iran tersebut   dibunuh oleh anaknya sendiri, dan Kisra yang baru tersebut kemudian membatalkan perintah ayahnya  mengenai penangkapan  Nabi Besar Muhammad saw..
       Mengebai ayat  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ -- Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya,” para mufassir (ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. bahwa kemenangan Islam pada akhirnya akan terjadi di masa Al-Masih Mau’ud a.s.  (Tafsir Ibnu Jarir), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bang-kit dan akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
        Di Akhir Zaman ini cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur yang disebarkan oleh para pengikut Al-Masih Mau’ud a.s.,  -- yakni Jemaat Muslim Ahmadiyah -- sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan masuk ke dalam haribaan Islam dalam jumlah besar, yakni firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam Surah An-Nashr berikut ini akan kembali  menjadi kenyataan, seperti yang pernah terjadi di masa  beliau saw.: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾   وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong,   Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau,  dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
  Maksud kata “kemenangan” dalam ayat   اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ – “apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan  adalah kemenangan yang dijanjikan. Dan karena janji Allah  Swt.    telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka  Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat ini  diperintahkan agar bersyukur kepada Rabb-nya (Tuhan-nya) karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya: فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ   -- “Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau.

Makna Perintah Istighfar    Pada  Waktu Terwujudnya  Kemenangan Islam

 Ada pun makna ayat selanjutnya وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat,” di sini dikatakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. bahwa   karena kemenangan telah datang kepada beliau saw. dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri serta  musuh-musuh dahulu telah saw. menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa supaya Allah Swt.  memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw.  pada masa lampau.  Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah kepada Nabi Besar Muhammad saw.  supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.  وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.
    Atau artinya ialah bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah sangat bermakna  bahwa manakala di dalam Al-Quran disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliau saw. selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya. Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun  beliau  saw. diperintahkan agar  memohon ampunan Allah Swt.  dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang lain, yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau saw. menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Allah Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
  Jadi,  maka ayat  وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا -- “dan mohonlah ampunan-Nya,  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat    sama sekali bukan berarti bahwa, Nabi Besar Muhammad saw.  beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Sebab menurut Allah Swt. dalam Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus  (QS.3:32; QS.33:22; QS.53:1-19; QS.68:1-7)


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8  Januari      2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar