Minggu, 01 Februari 2015

Fungsi Keberadaan "Iblis, Jin,dan Setan" dari Golongan Manusia Sebagai Perintang di "Jalan Allah Swt." bagi Orang-orang yang Beriman Kepada Rasul Allah






بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 43

  
   Fungsi Keberadaan Iblis, Jin, dan Setan dari Golongan “Manusia Sebagai Perintang  di “Jalan Allah Swt.”  bagi Orang-orang Beriman kepada Rasul Allah
     

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai  Allah Swt., Tuhan Maha Pencipta alam semesta Yang  telah menganugerahi manusia dengan   berbagai kemampuan sempurna  -- baik secara jasmani mau pun ruhani  (QS.95:5) --  serta telah menetapkan tujuan utama diciptakan-Nya mereka yaitu untuk beribadah kepada-Nya  (QS.51:57), tetapi Allah Swt. memberi kebebasan   kepada manusia untuk mentaati Allah Swt. atau pun untuk melakukan pembangkangan terhadap-Nya (QS.18:30), namun demikian   mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari akibat-akibat berbagai   perbuatan  buruk yang dilakukannya (QS.17:14;  QS.45:29;  QS.83:7-10), sebagaimana  firman Allah Swt. selanjutnya mengenai kaum-kaum purbakala yang diazab Allah Swt.  dengan perantaraan kekuatan-kekuatan alam (QS.29:15-45)  karena melakukan  kedurhakaan  terhadap Allah Swt. dan para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka:
فَاِنۡ  اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ  اَنۡذَرۡتُکُمۡ  صٰعِقَۃً  مِّثۡلَ  صٰعِقَۃِ عَادٍ  وَّ  ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾  اِذۡ جَآءَتۡہُمُ  الرُّسُلُ مِنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ  اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا  اِلَّا اللّٰہَ ؕ قَالُوۡا لَوۡ شَآءَ  رَبُّنَا لَاَنۡزَلَ مَلٰٓئِکَۃً  فَاِنَّا بِمَاۤ  اُرۡسِلۡتُمۡ  بِہٖ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  فَاَمَّا عَادٌ  فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ وَ قَالُوۡا مَنۡ  اَشَدُّ مِنَّا قُوَّۃً ؕ اَوَ لَمۡ  یَرَوۡا  اَنَّ اللّٰہَ  الَّذِیۡ خَلَقَہُمۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُمۡ  قُوَّۃً ؕ وَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا یَجۡحَدُوۡنَ ﴿﴾  فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ  رِیۡحًا صَرۡصَرًا فِیۡۤ اَیَّامٍ نَّحِسَاتٍ لِّنُذِیۡقَہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ   اَخۡزٰی  وَ ہُمۡ  لَا  یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا ثَمُوۡدُ فَہَدَیۡنٰہُمۡ  فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰی عَلَی الۡہُدٰی فَاَخَذَتۡہُمۡ صٰعِقَۃُ الۡعَذَابِ الۡہُوۡنِ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿ۚ﴾  وَ نَجَّیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿٪﴾
Lalu jika mereka itu berpaling, maka katakanlah:  Aku memperingatkan kamu dengan  petir yang membinasakan seperti petir yang menimpa kaum 'Ād dan Tsamud.”  Ketika datang kepada mereka rasul-rasul dari depan mereka dan dari belakang mereka seraya berkata: اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا  اِلَّا اللّٰہَ  --  Janganlah kamu menyembah selain Allah.”  قَالُوۡا لَوۡ شَآءَ  رَبُّنَا لَاَنۡزَلَ مَلٰٓئِکَۃً  فَاِنَّا بِمَاۤ  اُرۡسِلۡتُمۡ  بِہٖ کٰفِرُوۡنَ  -- Mereka berkata: ”Seandainya Rabb (Tuhan) kami menghendaki niscaya Dia  menurunkan malaikat-malaikat,   maka sesungguhnya kami mengingkari  apa yang dengannya kamu diutus.” فَاَمَّا عَادٌ  فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ الۡحَقِّ وَ قَالُوۡا مَنۡ  اَشَدُّ مِنَّا قُوَّۃً ؕ    -- Adapun mengenai kaum 'Ād maka mereka berlaku sombong di bumi tanpa kebenaran وَ قَالُوۡا مَنۡ  اَشَدُّ مِنَّا قُوَّۃً  --  dan mereka berkata:   Siapakah lebih hebat dari kami dalam kekuatan?” اَوَ لَمۡ  یَرَوۡا  اَنَّ اللّٰہَ  الَّذِیۡ خَلَقَہُمۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُمۡ  قُوَّۃً    --  Apakah mereka tidak melihat bahwa Allah Yang menciptakan mereka Dia lebih hebat daripada mereka dalam kekuatan? وَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا یَجۡحَدُوۡنَ  -- Tetapi mereka menolak Tanda-tanda Kami.  فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ  رِیۡحًا صَرۡصَرًا فِیۡۤ اَیَّامٍ نَّحِسَاتٍ  -- Maka Kami mengirimkan kepada mereka angin sangat kencang dalam beberapa hari yang naas itu, لِّنُذِیۡقَہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا  -- supaya Kami membuat mereka merasakan azab kehinaan dalam kehidupan di dunia, وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ   اَخۡزٰی  وَ ہُمۡ  لَا  یُنۡصَرُوۡنَ  -- dan niscaya azab alam akhirat itu lebih hina dan mereka tidak akan ditolong.  وَ اَمَّا ثَمُوۡدُ فَہَدَیۡنٰہُمۡ  فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰی عَلَی الۡہُدٰی  --  Dan adapun mengenai  kaum Tsamud maka Kami telah memberi mereka petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk, فَاَخَذَتۡہُمۡ صٰعِقَۃُ الۡعَذَابِ الۡہُوۡنِ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- lalu azab yang menghinakan  menimpa mereka  disebabkan apa yang selalu mereka usahakan. وَ نَجَّیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman serta bertakwa. (Al-Fushshilat [41]:14-19).

Jin dan Ins Saling “Mempertuhankan” Demi Kepentingan Duniawi

          Pendek  kata, Allah Swt. pasti akan meminta pertanggungjawaban  kepada semua pihak yang melakukan pendustaan dan penentangan  kepada para Rasul Allah, baik mereka itu sebagai para pemuka kaum yakni jin  mau pun para pengikutnya  yakni ins, firman-Nya:
وَ  یَوۡمَ یَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ۚ یٰمَعۡشَرَ   الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ ۚ وَ قَالَ اَوۡلِیٰٓؤُہُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ رَبَّنَا اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ وَّ بَلَغۡنَاۤ  اَجَلَنَا الَّذِیۡۤ  اَجَّلۡتَ لَنَا ؕ قَالَ النَّارُ مَثۡوٰىکُمۡ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ حَکِیۡمٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾  وَ  کَذٰلِکَ نُوَلِّیۡ بَعۡضَ الظّٰلِمِیۡنَ بَعۡضًۢا بِمَا  کَانُوۡا  یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan ingatlah hari ketika Dia akan menghimpun mereka semua, Dia berfirman: یٰمَعۡشَرَ   الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ   -- “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah menarik banyak dari kalangan ins (manusia)”, dan teman-temannya dari kalangan ins (manusia)  berkata:  رَبَّنَا اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ وَّ بَلَغۡنَاۤ  اَجَلَنَا الَّذِیۡۤ  اَجَّلۡتَ لَنَا -- “Hai Rabb (Tuhan) kami, sebagian kami telah mengambil  keuntungan dari sebagian yang lainnya,  dan kami telah sampai kepada jangka waktu kami yang telah Engkau tetapkan bagi kami.”  قَالَ النَّارُ مَثۡوٰىکُمۡ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰ -- Dia berfirman: Api itulah tempat tinggal kamu semua, kamu kekal di dalamnya, kecuali apa yang Allah kehendaki”. اِنَّ رَبَّکَ حَکِیۡمٌ  عَلِیۡمٌ   -- sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau Maha Bijaksana, Maha Pengampun. وَ  کَذٰلِکَ نُوَلِّیۡ بَعۡضَ الظّٰلِمِیۡنَ بَعۡضًۢا بِمَا  کَانُوۡا  یَکۡسِبُوۡنَ  --  Dan demikianlah Kami menjadikan sebagian orang-orang yang zalim sebagai teman  sebagian   yang lain disebabkan apa yang senantiasa mereka usahakan. (Al-An’ām [6]:129-130).
   Kata ma’syar dalam ayat  یٰمَعۡشَرَ   الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ   -- “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah menarik banyak dari kalangan ins (manusia)”, kata itu berarti segolongan orang yang mempunyai urusan dan kepentingan yang sama (Lexicon Lane). Dalam ayat ini sebutan  jin jelas menunjukkan orang-orang besar dan orang-orang kuat atau para pemuka kaum sebagai lawan kata ins, yakni golongan orang-orang lemah dan miskin (rakyat jelata).
   Kata-kata   رَبَّنَا اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ وَّ بَلَغۡنَاۤ  اَجَلَنَا الَّذِیۡۤ  اَجَّلۡتَ لَنَا -- “Hai Rabb (Tuhan) kami, sebagian kami telah mengambil  keuntungan dari sebagian yang lainnya,  dan kami telah sampai kepada jangka waktu kami yang telah Engkau tetapkan bagi kami”  dapat diartikan:
      (1) Kamu (golongan jin/pemuka kaum)  telah menawan hati banyak dari antara masyarakat (golongan ins) sehingga mereka berpihak kepada kamu dan membuat mereka mengikuti kamu;
       (2) Kamu telah memeras mereka (golongan ins);
       (3) Kamu telah menganggap masyarakat  (golongan ins) sangat penting; yakni, kamu tidak menerima kebenaran karena takut jangan-jangan masyarakat (ins) tidak akan mengikuti kamu lagi.

Provokasi  Golongan Jin Terhadap Golongan Ins

   Sebagaimana halnya orang lemah (ins) tidak menerima kebenaran yang diajarkan Rasul Allah karena takut terhadap  orang-orang besar atau para pemuka kaum  atau para penguasa (yakni golongan jin),  seperti itu pula halnya orang-orang besar (jin) kadang-kadang takut oleh pengikut-pengikut mereka (ins) dan tidak menerima kebenaran karena takut kalau-kalau para pengikut mereka (golongan ins) akan meninggalkan mereka.
 Dalam memprovokasi golongan ins  guna menentang Rasul Allah yang diutus kepada mereka,  kadang-kadang golongan jins  mengemukakan janji-janji palsu, sebagaimana dikemukakan   firman-Nya berikut ini:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّبِعُوۡا سَبِیۡلَنَا وَ لۡنَحۡمِلۡ خَطٰیٰکُمۡ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِحٰمِلِیۡنَ مِنۡ خَطٰیٰہُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّہُمۡ  لَکٰذِبُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَیَحۡمِلُنَّ  اَثۡقَالَہُمۡ  وَ اَثۡقَالًا مَّعَ اَثۡقَالِہِمۡ ۫ وَ لَیُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ عَمَّا کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan kami   dan   kami akan menanggung dosa-dosa kamu.” Padahal mereka tidak dapat memikul dosa-dosa  mereka itu sedikit pun, sesungguhnya mereka itu benar-benar pendusta.   Dan niscaya mereka akan memikul beban mereka dan beban orang lain beserta beban mereka, dan pada Hari Kiamat  niscaya mereka akan ditanyai mengenai apa yang mereka ada-adakan. (Al-Ankabūt [29]:13-14)
       Makna ayat  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا    -- “Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: اتَّبِعُوۡا سَبِیۡلَنَا وَ لۡنَحۡمِلۡ خَطٰیٰکُمۡ  -- “Ikutilah jalan kami dan   kami akan menanggung dosa-dosa kamu.”  Mengisyaratkan  kepada    gembong-gembong kekafiran  dari golongan “jin” (para pemuka kaum) yang secara agresif memprovokasi golongan ins (masyarakat awam).  
        Mereka dengan menyalahgunakan kedudukan dalam masyarakat   -- baik sebagai penguasa mau pun sebagai pengusaha yang kaya-raya,  mereka berusaha menyesatkan orang-orang lain yang tidak begitu tinggi kedudukannya serta  lemah ekonominya dalam masyarakat – yakni golongan ins   -- dengan mengatakan kepada mereka, bahwa mereka akan menanggung segala kerugian yang akan diderita mereka itu sebagai akibat mengikuti pimpinan mereka  yang kafir tersebut dan menolak agama hakiki yang baru itu.
        Namun semua janji golongan “jin” tersebut dusta belaka,  karena pada hakikatnya makar-makar buruk yang mereka lakukan terhadap Rasul Allah yang mereka dustakan dan zalimi  semata-mata berdasarkan kepentingan duniawi mereka. Itulah sebabnya persekutuan jahat  antara antara golongan “jin” (pemuka kaum) dengan golongan  ins” (masyarakat awam) akan berakhir dengan saling  hujat   diantara mereka. Mengenai hal tersebut  dikemukakan dalam QS.6:129-132; QS.7:38-40; QS.28:62-67;  QS.33:67-69; QS.34:32-37; QS.40:48-51.
    Ayat-ayat ini memberikan bukti lagi atas kenyataan bahwa kata jin dalam Al-Quran  hanya berarti satu golongan manusia, yaitu  orang-orang besar dan orang-orang berpengaruh  -- termasuk orang-orang kaya (QS.17:16-18; QS.34:35-37) --  sebab hanya segolongan manusia juga memeras tenaga golongan lain. Sedangkan jin sebagai makhluk lain yang bukan-manusia, tidak pernah memperbudak manusia.
    Sebaliknya, golongan “jin” sebagai manusia dapat “diperbudak” oleh manusia, contohnya Nabi Sulaiman a.s. atas izin Allah Swt. telah memanfaatkan keahlian golongan “jin” – yakni  orang-orang kafir  yang bukan Bani Israil,    yang ditaklukan oleh Nabi Daud a.s.  ayahanda beliau --   untuk kepentingan  berbagai pembangunan di kerajaan Bani Israil (QS.34:11-15).
   Begitu pun sepanjang pengetahuan kita rasul-rasul Allah  tak pernah dibangkitkan dari antara  “makhluk halus” yang juga disebut jin, melainkan hanya dari kalangan malaikat dan manusia, firman-Nya:
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾
Allah senantiasa memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari an-tara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (Al-Hajj [22]:76). Lihat QS.35:2.
             Allah Swt. menyatakan bahwa iblis -- yang menolak sujud kepada Adam ketika  Allah Swt. memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam (khalifah Allah  -- QS.2:35; QS.7:13;  QS.15:30-31;  QS.18:51;  QS.20:117; QS.38:73-75)      -- ia berasal dari golongan jin yakni dari kalangan   pemuka kaum  di zaman  Nabi Adam a.s., yang menentang keras kerasulan beliau  sebagai  Khalifah-Nya  pada masa itu (QS.2:31-35),  firman-Nya:
وَ اِذۡ  قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَ ہُمۡ  لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ بِئۡسَ  لِلظّٰلِمِیۡنَ  بَدَلًا﴿﴾   
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam," maka    mereka  sujud kecuali iblis, کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہ  -- ia adalah dari golongan jin  maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَ ہُمۡ  لَکُمۡ عَدُوٌّ  -- apakah kamu hendak mengambil dia dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu musuh-musuh kamu?  بِئۡسَ  لِلظّٰلِمِیۡنَ  بَدَلًا  -- Sangat buruk  bagi orang-orang yang zalim pertukaran itu. (Al-Kahf [18]:51).
       Bahwa iblis  -- yang berasal dari golongan jin -- yang menolak “sujud” (patuh-taat) kepada Nabi Adam a.s. bukanlah  golongan makhluk halus yang juga disebut jin melainkan para pemuka kaum – termasuk orang-orang kaya   -- yang menolak beriman kepada Rasul Allah yang diutus kepada mereka,  dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
  وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ  خَلَقۡتَ  طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ  اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا  الَّذِیۡ  کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat:  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam,”  maka mereka bersujud kecuali iblis. Ia berkata: “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau jadikan dari tanah liat?”    Ia berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin  bahwa orang   yang telah Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat,  niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit.” (Bani Israil [17]:62-63).
        Huruf lam dalam ayat  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam,”   antara lain berarti “bersama-sama”. Ungkapan li ādama dapat pula berarti “bersama Adam”.  Sujud di sini berarti taat, jadi bukan benar-benar “sujud” kepada Adam  sebab  Allah Swt. melarang manusia bersujud kepada sesame makhluk.
     Ada pun yang dimaksud dengan “Kiamat” dalam ayat  لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ   -- “Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat”,   dimaksudkan kebangkitan ruhani yang dialami oleh tiap orang beriman ketika keimanannya mencapai titik kesempurnaan sehingga syaitan tidak lagi berkuasa atas dia, yang disebut tingkatan  nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang tentram  - QS.89:28-31).
        Makna ayat selanjutnya  لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا       -- “niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit,” perlu penjelasan yaitu apakah syaitan telah berhasil atau tidak  dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang penting dan perlu mendapat jawaban.
        Mengapa demikian? Sebab satu pandangan yang tergesa-gesa dan tanpa disertai pikiran yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di dunia ini, dapat membawa   kepada kesimpulan yang salah, bahwa seakan-akan keburukan itu mengungguli kebaikan di dunia ini, padahal  hakikat yang sebenarnya adalah kebalikannya.
        Seandainya, sebagai contoh  semua ucapan pendusta-pendusta terbesar diselidiki secara kritis, maka ucapan-ucapannya yang mengandung kebenaran jumlahnya akan nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya yang dusta. Demikian pula jumlah orang-orang buruk di dunia ini jauh di bawah jumlah orang-orang baik.
Kenyataan bahwa keburukan itu mendapat perhatian begitu besar, justru menjadi bukti bahwa fitrat manusia pada dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya dalam bentuk kenyataan.
           Namun walau pun demikian, Al-Quran tidak sama sekali menutup  pintu jika ada yang menafsirkan bahwa iblis atau jin  atau syaitan (setan)  dapat tertuju kepada “makhluk halus” yang mendapat “tugas” dari Allah Swt.  yang bertentangan dengan tugas para malaikat, namun tujuan keberadaan  “makhluk halus” tersebut bukan untuk  tujuan yang buruk atau negatif, melainkan untuk  tujuan yang baik atau positif.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 1 Februari       2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar