بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 43
Fungsi Keberadaan Iblis, Jin, dan Setan dari Golongan “Manusia” Sebagai Perintang di “Jalan
Allah Swt.” bagi Orang-orang Beriman kepada Rasul Allah
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai Allah Swt., Tuhan Maha Pencipta alam semesta Yang telah menganugerahi manusia dengan berbagai kemampuan sempurna -- baik secara jasmani mau pun ruhani (QS.95:5) -- serta telah menetapkan tujuan utama diciptakan-Nya mereka yaitu untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57), tetapi Allah Swt. memberi kebebasan kepada manusia untuk mentaati Allah Swt. atau pun untuk melakukan pembangkangan terhadap-Nya (QS.18:30), namun demikian mereka
tidak akan dapat melepaskan diri dari
akibat-akibat berbagai perbuatan
buruk yang dilakukannya (QS.17:14;
QS.45:29; QS.83:7-10),
sebagaimana firman Allah Swt.
selanjutnya mengenai kaum-kaum purbakala
yang diazab Allah Swt. dengan perantaraan kekuatan-kekuatan alam (QS.29:15-45) karena melakukan kedurhakaan
terhadap Allah Swt. dan para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka:
فَاِنۡ اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ اَنۡذَرۡتُکُمۡ صٰعِقَۃً
مِّثۡلَ صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ
ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ اِذۡ
جَآءَتۡہُمُ الرُّسُلُ مِنۡۢ بَیۡنِ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ اَلَّا
تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰہَ ؕ قَالُوۡا
لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَاَنۡزَلَ
مَلٰٓئِکَۃً فَاِنَّا بِمَاۤ اُرۡسِلۡتُمۡ
بِہٖ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ فَاَمَّا عَادٌ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بِغَیۡرِ
الۡحَقِّ وَ قَالُوۡا مَنۡ اَشَدُّ مِنَّا
قُوَّۃً ؕ اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اَنَّ اللّٰہَ
الَّذِیۡ خَلَقَہُمۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُمۡ قُوَّۃً ؕ وَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا
یَجۡحَدُوۡنَ ﴿﴾ فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا صَرۡصَرًا فِیۡۤ اَیَّامٍ نَّحِسَاتٍ
لِّنُذِیۡقَہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَخۡزٰی
وَ ہُمۡ لَا یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا ثَمُوۡدُ فَہَدَیۡنٰہُمۡ فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰی عَلَی الۡہُدٰی
فَاَخَذَتۡہُمۡ صٰعِقَۃُ الۡعَذَابِ الۡہُوۡنِ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ نَجَّیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا
یَتَّقُوۡنَ ﴿٪﴾
Lalu jika
mereka itu berpaling, maka
katakanlah: ”Aku memperingatkan kamu dengan petir yang membinasakan seperti petir yang menimpa kaum 'Ād dan Tsamud.” Ketika datang
kepada mereka rasul-rasul dari depan mereka dan dari belakang mereka seraya berkata: اَلَّا
تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰہَ -- ”Janganlah
kamu menyembah selain Allah.” قَالُوۡا لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَاَنۡزَلَ مَلٰٓئِکَۃً فَاِنَّا بِمَاۤ اُرۡسِلۡتُمۡ
بِہٖ کٰفِرُوۡنَ -- Mereka
berkata: ”Seandainya Rabb (Tuhan)
kami menghendaki niscaya Dia
menurunkan malaikat-malaikat,
maka sesungguhnya kami mengingkari
apa yang dengannya kamu diutus.” فَاَمَّا
عَادٌ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ
بِغَیۡرِ الۡحَقِّ وَ قَالُوۡا مَنۡ
اَشَدُّ مِنَّا قُوَّۃً ؕ -- Adapun mengenai kaum 'Ād maka mereka berlaku
sombong di bumi tanpa kebenaran وَ قَالُوۡا
مَنۡ اَشَدُّ مِنَّا قُوَّۃً -- dan mereka berkata: ”Siapakah lebih hebat dari kami dalam
kekuatan?” اَوَ لَمۡ یَرَوۡا
اَنَّ اللّٰہَ الَّذِیۡ خَلَقَہُمۡ
ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُمۡ قُوَّۃً -- Apakah mereka
tidak melihat bahwa Allah Yang
menciptakan mereka Dia lebih hebat daripada mereka dalam kekuatan? وَ کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا یَجۡحَدُوۡنَ -- Tetapi mereka menolak Tanda-tanda Kami. فَاَرۡسَلۡنَا
عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا صَرۡصَرًا فِیۡۤ
اَیَّامٍ نَّحِسَاتٍ -- Maka
Kami mengirimkan kepada mereka angin
sangat kencang dalam beberapa hari
yang naas itu, لِّنُذِیۡقَہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ
فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- supaya Kami membuat mereka merasakan azab kehinaan
dalam kehidupan di dunia, وَ لَعَذَابُ
الۡاٰخِرَۃِ اَخۡزٰی وَ ہُمۡ
لَا یُنۡصَرُوۡنَ -- dan niscaya azab alam akhirat itu lebih hina dan mereka tidak akan ditolong. وَ اَمَّا ثَمُوۡدُ فَہَدَیۡنٰہُمۡ
فَاسۡتَحَبُّوا الۡعَمٰی عَلَی الۡہُدٰی -- Dan
adapun mengenai kaum Tsamud maka Kami telah
memberi mereka petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada
petunjuk, فَاَخَذَتۡہُمۡ صٰعِقَۃُ الۡعَذَابِ الۡہُوۡنِ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- lalu azab yang
menghinakan menimpa mereka disebabkan apa yang selalu mereka usahakan. وَ نَجَّیۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman serta bertakwa. (Al-Fushshilat
[41]:14-19).
Jin dan Ins Saling
“Mempertuhankan” Demi Kepentingan Duniawi
Pendek
kata, Allah Swt. pasti akan meminta pertanggungjawaban kepada semua pihak yang melakukan pendustaan dan penentangan kepada para Rasul Allah, baik mereka itu sebagai
para pemuka kaum yakni jin
mau pun para pengikutnya yakni ins,
firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ۚ یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ ۚ وَ قَالَ اَوۡلِیٰٓؤُہُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ رَبَّنَا
اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ وَّ بَلَغۡنَاۤ اَجَلَنَا
الَّذِیۡۤ اَجَّلۡتَ لَنَا ؕ قَالَ النَّارُ
مَثۡوٰىکُمۡ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ
حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُوَلِّیۡ بَعۡضَ
الظّٰلِمِیۡنَ بَعۡضًۢا
بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan
ingatlah hari ketika Dia akan menghimpun mereka semua, Dia
berfirman: یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ قَدِ
اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ -- “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah menarik banyak dari kalangan ins (manusia)”, dan teman-temannya
dari kalangan ins (manusia) berkata: رَبَّنَا اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ
وَّ بَلَغۡنَاۤ اَجَلَنَا الَّذِیۡۤ اَجَّلۡتَ لَنَا -- “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sebagian kami telah mengambil
keuntungan dari sebagian yang
lainnya, dan kami telah sampai kepada jangka
waktu kami yang telah Engkau tetapkan bagi kami.” قَالَ النَّارُ مَثۡوٰىکُمۡ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰ -- Dia
berfirman: Api itulah tempat tinggal kamu semua, kamu kekal di dalamnya, kecuali apa yang Allah kehendaki”. اِنَّ رَبَّکَ حَکِیۡمٌ عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya Rabb
(Tuhan) engkau Maha Bijaksana, Maha Pengampun. وَ کَذٰلِکَ نُوَلِّیۡ بَعۡضَ الظّٰلِمِیۡنَ بَعۡضًۢا بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- Dan demikianlah Kami menjadikan sebagian orang-orang yang zalim sebagai teman sebagian yang lain disebabkan apa yang senantiasa mereka usahakan. (Al-An’ām
[6]:129-130).
Kata ma’syar dalam ayat یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ قَدِ اسۡتَکۡثَرۡتُمۡ مِّنَ الۡاِنۡسِ -- “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah menarik banyak dari kalangan ins (manusia)”, kata itu berarti segolongan orang yang
mempunyai urusan dan kepentingan yang sama (Lexicon Lane). Dalam ayat ini
sebutan jin jelas menunjukkan orang-orang besar dan orang-orang kuat atau para pemuka kaum sebagai lawan kata ins,
yakni golongan orang-orang lemah dan miskin (rakyat jelata).
Kata-kata
رَبَّنَا اسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ وَّ بَلَغۡنَاۤ اَجَلَنَا الَّذِیۡۤ اَجَّلۡتَ لَنَا -- “Hai Rabb (Tuhan) kami, sebagian kami telah mengambil
keuntungan dari sebagian yang lainnya, dan kami telah sampai kepada jangka waktu kami yang telah Engkau tetapkan
bagi kami” dapat diartikan:
(1) Kamu (golongan jin/pemuka kaum) telah menawan hati banyak dari antara masyarakat (golongan ins) sehingga
mereka berpihak kepada kamu dan membuat mereka mengikuti kamu;
(2) Kamu telah memeras mereka (golongan ins);
(3) Kamu telah menganggap masyarakat (golongan ins) sangat penting; yakni, kamu
tidak menerima kebenaran karena takut jangan-jangan masyarakat (ins) tidak akan mengikuti
kamu lagi.
Provokasi Golongan Jin
Terhadap Golongan Ins
Sebagaimana halnya orang lemah (ins) tidak menerima kebenaran yang diajarkan Rasul
Allah karena takut terhadap orang-orang besar atau para pemuka kaum atau para penguasa
(yakni golongan jin), seperti itu pula
halnya orang-orang besar (jin) kadang-kadang
takut oleh pengikut-pengikut mereka (ins)
dan tidak menerima kebenaran karena takut kalau-kalau para pengikut mereka (golongan ins) akan meninggalkan mereka.
Dalam memprovokasi
golongan ins guna menentang Rasul Allah yang diutus kepada mereka, kadang-kadang golongan jins mengemukakan janji-janji palsu, sebagaimana
dikemukakan firman-Nya berikut ini:
وَ قَالَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّبِعُوۡا سَبِیۡلَنَا وَ لۡنَحۡمِلۡ
خَطٰیٰکُمۡ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِحٰمِلِیۡنَ مِنۡ خَطٰیٰہُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ
اِنَّہُمۡ لَکٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَیَحۡمِلُنَّ
اَثۡقَالَہُمۡ وَ اَثۡقَالًا مَّعَ
اَثۡقَالِہِمۡ ۫ وَ لَیُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ عَمَّا کَانُوۡا
یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang kafir berkata kepada
orang-orang yang beriman: “Ikutilah
jalan kami dan
kami akan menanggung dosa-dosa
kamu.” Padahal mereka tidak dapat
memikul dosa-dosa mereka itu sedikit pun, sesungguhnya mereka itu benar-benar pendusta. Dan niscaya mereka akan memikul beban mereka
dan beban orang lain beserta beban mereka, dan pada Hari Kiamat niscaya mereka
akan ditanyai mengenai apa yang mereka ada-adakan. (Al-Ankabūt
[29]:13-14)
Makna ayat
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا -- “Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: اتَّبِعُوۡا سَبِیۡلَنَا وَ لۡنَحۡمِلۡ خَطٰیٰکُمۡ -- “Ikutilah
jalan kami dan kami akan menanggung dosa-dosa kamu.” Mengisyaratkan kepada
gembong-gembong kekafiran dari golongan “jin” (para pemuka kaum) yang secara agresif memprovokasi golongan ins (masyarakat awam).
Mereka dengan menyalahgunakan kedudukan dalam masyarakat -- baik sebagai penguasa mau pun sebagai pengusaha yang kaya-raya, mereka berusaha menyesatkan orang-orang lain yang tidak
begitu tinggi kedudukannya serta lemah ekonominya
dalam masyarakat – yakni golongan ins -- dengan mengatakan kepada mereka, bahwa
mereka akan menanggung segala kerugian yang akan diderita mereka itu sebagai akibat mengikuti pimpinan mereka yang kafir tersebut dan menolak agama hakiki yang baru itu.
Namun semua janji golongan “jin” tersebut dusta belaka, karena pada
hakikatnya makar-makar buruk yang
mereka lakukan terhadap Rasul Allah
yang mereka dustakan dan zalimi semata-mata berdasarkan kepentingan duniawi mereka. Itulah sebabnya persekutuan jahat antara
antara golongan “jin” (pemuka kaum)
dengan golongan “ins” (masyarakat awam) akan berakhir dengan saling hujat diantara mereka. Mengenai hal tersebut dikemukakan dalam QS.6:129-132; QS.7:38-40;
QS.28:62-67; QS.33:67-69; QS.34:32-37;
QS.40:48-51.
Ayat-ayat ini memberikan bukti lagi atas
kenyataan bahwa kata jin dalam Al-Quran hanya berarti satu golongan manusia, yaitu
orang-orang besar dan orang-orang berpengaruh -- termasuk orang-orang kaya (QS.17:16-18; QS.34:35-37) -- sebab hanya segolongan manusia juga memeras
tenaga golongan lain. Sedangkan jin
sebagai makhluk lain yang bukan-manusia, tidak pernah memperbudak manusia.
Sebaliknya,
golongan “jin” sebagai manusia dapat “diperbudak” oleh manusia,
contohnya Nabi Sulaiman a.s. atas izin
Allah Swt. telah memanfaatkan keahlian
golongan “jin” – yakni orang-orang
kafir yang bukan Bani Israil, yang ditaklukan
oleh Nabi Daud a.s. ayahanda beliau -- untuk kepentingan berbagai pembangunan
di kerajaan Bani Israil
(QS.34:11-15).
Begitu
pun sepanjang pengetahuan kita rasul-rasul
Allah tak pernah dibangkitkan dari antara “makhluk halus” yang juga disebut jin, melainkan hanya dari kalangan malaikat dan manusia, firman-Nya:
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ
مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا وَّ مِنَ
النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾
Allah
senantiasa memilih rasul-rasul dari
antara malaikat-malaikat dan dari
an-tara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (Al-Hajj [22]:76). Lihat
QS.35:2.
Allah Swt. menyatakan bahwa iblis -- yang menolak sujud kepada Adam ketika Allah Swt. memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam (khalifah Allah --
QS.2:35; QS.7:13; QS.15:30-31; QS.18:51;
QS.20:117; QS.38:73-75) -- ia
berasal dari golongan jin yakni dari
kalangan pemuka kaum di zaman Nabi Adam a.s., yang menentang keras kerasulan beliau sebagai Khalifah-Nya pada masa itu (QS.2:31-35), firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ
مِنَ الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ وَ ہُمۡ
لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ بِئۡسَ لِلظّٰلِمِیۡنَ بَدَلًا﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah yakni patuhlah kepada Adam,"
maka mereka sujud kecuali iblis, کَانَ مِنَ الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ
اَمۡرِ رَبِّہ -- ia adalah dari golongan jin maka ia
mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ وَ ہُمۡ لَکُمۡ عَدُوٌّ
-- apakah kamu hendak mengambil
dia dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu musuh-musuh kamu? بِئۡسَ
لِلظّٰلِمِیۡنَ بَدَلًا
-- Sangat buruk bagi orang-orang
yang zalim pertukaran itu. (Al-Kahf [18]:51).
Bahwa
iblis
-- yang berasal dari golongan jin
-- yang menolak “sujud” (patuh-taat)
kepada Nabi Adam a.s. bukanlah golongan makhluk halus yang juga disebut jin melainkan para pemuka kaum – termasuk orang-orang
kaya -- yang menolak beriman kepada Rasul
Allah yang diutus kepada mereka,
dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ خَلَقۡتَ
طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ
اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا الَّذِیۡ کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی
یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ اِلَّا
قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Kami berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada
Adam,” maka mereka bersujud kecuali iblis. Ia berkata: “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau jadikan dari tanah liat?” Ia berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin bahwa orang
yang telah
Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat, niscaya
akan aku kuasai semua anak-keturunannya,
kecuali sedikit.” (Bani Israil [17]:62-63).
Huruf lam dalam ayat اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada
Adam,” antara lain berarti
“bersama-sama”. Ungkapan li ādama dapat pula berarti “bersama
Adam”. Sujud di sini berarti taat, jadi bukan benar-benar “sujud”
kepada Adam sebab
Allah Swt. melarang manusia bersujud kepada sesame makhluk.
Ada
pun yang dimaksud dengan “Kiamat” dalam ayat لَئِنۡ
اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ -- “Jika Engkau
memberi tangguh kepadaku hingga Hari
Kiamat”, dimaksudkan kebangkitan ruhani yang dialami oleh tiap orang beriman ketika keimanannya
mencapai titik kesempurnaan sehingga syaitan tidak lagi berkuasa atas dia,
yang disebut tingkatan nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang
tentram - QS.89:28-31).
Makna ayat selanjutnya لَاَحۡتَنِکَنَّ
ذُرِّیَّتَہٗۤ اِلَّا قَلِیۡلًا -- “niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya,
kecuali sedikit,” perlu penjelasan
yaitu apakah syaitan telah berhasil atau tidak dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang
penting dan perlu mendapat jawaban.
Mengapa demikian? Sebab satu pandangan yang tergesa-gesa dan tanpa
disertai pikiran yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di
dunia ini, dapat membawa kepada kesimpulan
yang salah, bahwa seakan-akan keburukan
itu mengungguli kebaikan di dunia
ini, padahal hakikat yang sebenarnya adalah kebalikannya.
Seandainya, sebagai contoh semua ucapan
pendusta-pendusta terbesar diselidiki secara kritis, maka ucapan-ucapannya yang mengandung kebenaran jumlahnya akan
nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya
yang dusta. Demikian pula jumlah orang-orang buruk di dunia ini
jauh di bawah jumlah orang-orang baik.
Kenyataan bahwa keburukan itu mendapat perhatian begitu besar, justru menjadi
bukti bahwa fitrat manusia pada
dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya
dalam bentuk kenyataan.
Namun walau pun demikian, Al-Quran tidak sama
sekali menutup pintu jika ada yang menafsirkan bahwa iblis atau jin atau syaitan
(setan) dapat tertuju kepada “makhluk halus” yang mendapat “tugas”
dari Allah Swt. yang bertentangan dengan tugas para malaikat,
namun tujuan keberadaan “makhluk halus”
tersebut bukan untuk tujuan yang buruk atau negatif, melainkan untuk
tujuan yang baik atau positif.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 1 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar