بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 20
Kesinambungan Pembukaan “Khazanah
Ruhani” Baru Al-Quran oleh Allah Swt. &
Perumpamaan Para Penyembah “Berhala”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai misal
(perumpamaan) “Kalimah yang baik” dan
“Kalimah yang buruk”, bahwa
sebagaimana telah dikemukakan Sumber semua kitab wahyu yang diwahyukan sebelum Al-Quran adalah sama dengan Sumber
wahyu Al-Quran yaitu Allah Swt., tetapi karena agama-agama serta Kitab-kitab suci yang
diturunkan sebelum Al-Quran missinya bersifat
sementara -- sebab sebagaimana
dikemukakan dalam Bible perkembangan jiwa manusia belum mencapai kepada kedewasaannya (Ulangan 18:15:19; Wahyu
16:12-13) -- karena itu Allah Swt. tidak
memberikan jaminan pemeliharaan
atas agama-agama dan kitab-kitab suci tersebut.
Itulah sebabnya agama-agama atau Kitab-kitab
suci yang diturunkan sebagai agama
Islam (Al-Quran), seiring dengan berlalunya
waktu terus menerus mengalami kerusakan -- baik berupa pengurangan mau pun penambahan
-- karena harus disesuaikan
dengan tuntutan kebutuhan jiwa
manusia yang terus semakin dewasa,
yakni bagaikan pakaian seorang
anak kecil yang harus
mengalami perombakan terus menerus
karena tubuhnya semakin besar dan jiwanya semakin dewasa
dengan berbagai tuntutannya yang memerlukan jawaban, itulah sebabnya pewahyuan
Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai wahyu syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) menjadi suatu keniscayaan, firman-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ
اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا
نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا
ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Ayat
mana pun yang Kami mansukhkan yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya
atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak
mengetahui bahwa sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?
(Al-Baqarah [2]:107).
Perumpamaan “Kalimah yang
Buruk”
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah perumpamaan selanjutnya yang dikemukakan
Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَثَلُ
کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا
لَہَا مِنۡ قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ
یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ
اللّٰہُ مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk adalah seperti pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia se-kali-kali tidak
memiliki kemantapan. یُثَبِّتُ
اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا
وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia
dan di akhirat, وَ یُضِلُّ
اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ
اللّٰہُ مَا یَشَآءُ -- dan Allah
menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah
berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim [14]:27-28).
Jadi, berbeda dari pohon yang baik, kitab yang diciptakan oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam.
Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas
serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
Kitab seperti itu merupakan ajaran
yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan. Kitab semacam itu
tidak bisa melahirkan orang-orang yang
dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt.. Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi
dan selamanya terancam keruntuhan dan
kemunduran.
Ketidakterbatasan Khazanah
Pengetahuan Al-Quran
Dalam Surah lain Allah Swt., -- dengan
merujuk ketidakterbatasan khazanah ilmu yang terkandung tatanan
alam semesta jasmani -- mengemukakan ketidak-terbatasnya khazanah ruhani
yang terkandung dalam Al-Quran, firman-Nya:
لِلّٰہِ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡغَنِیُّ
الۡحَمِیۡدُ ﴿﴾ وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ اَقۡلَامٌ
وَّ الۡبَحۡرُ یَمُدُّہٗ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ
اَبۡحُرٍ مَّا نَفِدَتۡ کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Kepunyaan Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, sesungguhnya Allah
Dia Maha Kaya, Maha Terpuji. وَ لَوۡ اَنَّ مَا
فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ
اَقۡلَامٌ -- Dan
seandainya pohon-pohon di bumi ini menjadi pena, وَّ الۡبَحۡرُ یَمُدُّہٗ
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ
اَبۡحُرٍ مَّا نَفِدَتۡ کَلِمٰتُ اللّٰہِ -- dan laut ditambahkan kepadanya sesudahnya tujuh laut menjadi tinta, kalimat
Allah sekali-kali tidak akan habis. اِنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Luqman [31]:27-28).
Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan lazim. Ayat ini menggambarkan ketakterhinggaan rahasia
khazanah ilmu pengetahuan yang terkandung dalam apa pun ciptaan
Allah Swt. di alam semesta ini.
Menurut Allah Swt. – sesuai dengan Sifat Rabbubiyat-Nya bahwa sebagaimana
halnya proses penciptaan tatanan alam
semesta jasmani ini melalui berbagai tahapan
hingga mencapai kesempurnaan yang
yang telah ditetapkan-Nya (QS.1:2; QS.21:31-34; QS.41:10-13; QS.67:1-5) -- demikian pula halnya rahasia-rahasia dari khazanah ilmu
pengetahuan yang terkandung di alam
semesta ini pun dibukakan atau diberitahukan
Allah Swt. kepada manusia secara bertahap berdasarkan
kebutuhan umat manusia pada zamannya masing-masing,
firman-Nya:
وَ
الۡاَرۡضَ مَدَدۡنٰہَا وَ اَلۡقَیۡنَا فِیۡہَا رَوَاسِیَ وَ اَنۡۢبَتۡنَا فِیۡہَا
مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ مَّوۡزُوۡنٍ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا لَکُمۡ
فِیۡہَا مَعَایِشَ وَ مَنۡ لَّسۡتُمۡ
لَہٗ بِرٰزِقِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ مَا
نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan bumi Kami telah membentangkannya, di dalamnya Kami telah
menegakkan gunung-gunung yang kokoh dan juga Kami
menumbuhkan di dalamnya segala sesuatu dengan perimbangan yang tepat. وَ جَعَلۡنَا
لَکُمۡ فِیۡہَا مَعَایِشَ وَ مَنۡ
لَّسۡتُمۡ لَہٗ بِرٰزِقِیۡنَ -- dan Kami
telah menjadikan bagi kamu di dalamnya segala
keperluan hidup, dan juga bagi
segala makhluk yang kamu tidak
memberikan rezeki kepadanya. وَ
اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا
عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ -- dan
tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, وَ مَا
نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ -- dan Kami
sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu.
(Al-Hijr [15]:20-22).
Makna “Pembentangan Bumi” & Pentingnya
Keberadaan Gunung-gunung
Kata-kata, وَ الۡاَرۡضَ مَدَدۡنٰہَا berarti
“Kami telah membentangkan bumi”,
atau “Kami telah memperkayanya”.
Kedua-dua arti itu dapat dipakai di sini. Ayat ini mengandung arti bahwa Allah
Swt. telah membuat bumi ini sedemikian luasnya, sehingga
kendatipun bentuknya bulat tetapi
manusia tidak merasa tidak enak disebabkan oleh bentuknya yang bulat itu; atau ayat وَ الۡاَرۡضَ مَدَدۡنٰہَا ini berarti bahwa Allah Swt. telah memperkaya bumi ini dengan bahan-bahan
penyubur.
Penyelidikan-penyelidikan ilmu perbintangan telah menyingkapkan kenyataan, bahwa bumi terus-menerus memperoleh tenaga dan unsur penyubur baru dari bintang-bintang,
yang darinya jatuh ke atas bumi serbuk-serbuk
zat dalam bentuk meteor-meteor
atau debunya yang berguna sekali
untuk meningkatkan kesuburan bumi.
Makna ayat وَ اَلۡقَیۡنَا فِیۡہَا رَوَاسِیَ -- “di dalamnya Kami telah menegakkan gunung-gunung yang
kokoh.” Bumi memerlukan persediaan
air yang banyak untuk menumbuhkan
tanaman yang menghasilkan makanan.
Untuk tujuan ini Allah Swt. telah
menciptakan gunung-gunung yang –
selain untuk meredam goncangan atau gempa bumi (QS.21:31-32) -- juga gunanya sebagai penampung air, yang disimpannya dalam bentuk salju dan berangsur-angsur mencair lalu disalurkan ke permukaan bumi
melalui sungai-sungai.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman وَ اَنۡۢبَتۡنَا
فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ مَّوۡزُوۡنٍ -- “dan juga Kami menumbuhkan
di dalamnya segala sesuatu dengan perimbangan
yang tepat.” Lebih lanjut Allah Swt. berfirman وَ جَعَلۡنَا
لَکُمۡ فِیۡہَا مَعَایِشَ وَ مَنۡ
لَّسۡتُمۡ لَہٗ بِرٰزِقِیۡنَ -- dan Kami
telah menjadikan bagi kamu di dalamnya segala
keperluan hidup, dan juga bagi
segala makhluk yang kamu tidak
memberikan rezeki kepadanya.”
Pembukaan Khazanah Baru Ilmu
Pengetahuan
Makna ayat
وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ -- dan tidak
ada suatu pun benda melainkan pada
Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas”, yakni guna
menjamin keperluan hidup umat manusia
di muka bumi Allah Swt. memiliki persediaan (khazanah) segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas.
Demikian pula halnya dalam dunia
keruhanian, seperti halnya alam semesta kebendaan, Al-Quran pun merupakan alam semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian tak terbatas yang dibukakan
Allah Swt. kepada umat manusia sesuai
dengan keperluan zaman, melalui rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37; QS.3:180; QS.72:27-29).
Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan: وَ
مَا نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ --
“dan Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu,”
(Al-Hijr
[15]:22), bahwa sesuai dengan rahmat-Nya
yang tidak berhingga, Dia mengarahkan
pikiran atau otak manusia kepada
satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul
suatu keperluan yang sesungguhnya
akan benda itu, dengan demikian
benarlah firman-Nya berikut ini:
وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ
اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ
لَظَلُوۡمٌ کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala
sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا
تُحۡصُوۡہَا -- dan
jika kamu menghitung
nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan
dapat menghitungnya, اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَظَلُوۡمٌ کَفَّارٌ -- sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim [14]:35). Lihat pula
QS.16:19.
Kata-kata مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ -- “yang
kamu minta kepada-Nya” menunjukkan kepada tuntutan-tuntutan fitrat manusia yang telah terpenuhi seluruhnya. Allah Swt. telah menyediakan
bahan yang lengkap untuk memenuhi
segala hasrat dan keinginan fitrat manusia, baik jasmani
maupun ruhani, firman-Nya:
یَسۡـَٔلُہٗ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ﴿﴾
Kepada-Nya memohon segala yang
ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ -- setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu
berdua yang manakah yang kamu berdua
dustakan? (Al-Rahmān [55]:30-31).
Makna
Setiap Hari Allah Swt. “Dalam Keadaan Berlainan”
Untuk mempertahankan
hidup dan memenuhi segala
keperluannya, sekalian makhluk
bergantung pada Allah Swt., Yang
adalah Sang Pencipta (Al-Khāliq) Pemberi rezeki (Ar-Razzaq) dan Pemelihara (Ar-Rabb) mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat
Ilahi itu menjelmakan diri dalam berbagai
cara di sepanjang masa, itulah makna
فِیۡ شَاۡنٍ
yang selain berarti bahwa Sifat-sifat
Ilahi senantiasa menjelma “dalam
keadaan yang berlainan” juga artinya “dalam
keadaan baru.”
Jadi, sungguh tidak
tahu bersyukur orang-orang yang
memperoleh manfaat besar dari Sifat Ilahi yang diisyaratkan dalam ayat
کُلَّ یَوۡمٍ ہُوَ
فِیۡ شَاۡنٍ -- “setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan”, tetapi
mereka telah menjadikan wujud-wujud selain
Allah Swt. sebagai “tuhan sembahan” palsu yang tidak menciptakan sesuatu pun atau tidak memiliki andil sedikitkan dalam penciptaan alam
semesta ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan
maka dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk
itu. Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka,
mereka tidak akan dapat merebutnya
kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ
وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang
meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا
اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.
(Al-Hājj
[22]:74-75).
Tidak Memiliki Makrifat Ilahi yang Benar
Ayat-ayat ini
menerangkan kepada orang-orang
kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka
sama sekali tidak mempunyai kekuasaan
dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan seperti itu. Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat
mereka sendiri ke tingkat yang begitu
rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung.
Pada hakikatnya, semua kepercayaan (kemusyrikan) yang mengakui
adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan
dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia,
itulah makna ayat: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, اِنَّ اللّٰہَ
لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.”
Kesesatan tersebut terjadi karena mereka menganut ajaran (agama) yang tidak mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. seperti Al-Quran (QS.15:10), yang diumpamakan
seperti keadaan “pohon yang buruk”, firman-Nya:
وَ مَثَلُ
کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا
لَہَا مِنۡ قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ
یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ
اللّٰہُ مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk adalah seperti pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia se-kali-kali tidak
memiliki kemantapan. یُثَبِّتُ
اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا
وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia
dan di akhirat, وَ یُضِلُّ
اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ
اللّٰہُ مَا یَشَآءُ -- dan Allah
menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah
berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim [14]:27-28).
Jadi, berbeda dari pohon yang baik, kitab yang diciptakan (dibuat) oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam.
Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas
serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
Kitab seperti itu merupakan ajaran
yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan. Kitab semacam itu
tidak bisa melahirkan orang-orang yang
dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt.. Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi
dan selamanya terancam keruntuhan dan
kemunduran.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 2 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar