Sabtu, 03 Januari 2015

Kesinambungan Pembukaan "Khazanah Ruhani" Baru Al-Quran oleh Allah Swt. & Perumpamaan Para Penyembah "Berhala"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 20

 Kesinambungan Pembukaan  Khazanah Ruhani” Baru  Al-Quran  oleh Allah Swt. & Perumpamaan Para Penyembah “Berhala   


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai misal (perumpamaan) “Kalimah yang baik” dan “Kalimah yang buruk”, bahwa sebagaimana telah dikemukakan  Sumber semua kitab wahyu  yang diwahyukan sebelum Al-Quran adalah sama dengan Sumber wahyu Al-Quran yaitu Allah Swt., tetapi karena agama-agama serta Kitab-kitab suci  yang diturunkan sebelum Al-Quran missinya bersifat sementara  --  sebab  sebagaimana dikemukakan dalam Bible perkembangan jiwa manusia belum mencapai kepada kedewasaannya  (Ulangan 18:15:19; Wahyu 16:12-13) -- karena itu Allah Swt. tidak  memberikan jaminan pemeliharaan atas agama-agama dan kitab-kitab suci tersebut.
     Itulah sebabnya agama-agama atau Kitab-kitab suci yang diturunkan sebagai agama Islam (Al-Quran), seiring dengan berlalunya waktu terus menerus mengalami kerusakan  -- baik berupa pengurangan mau pun penambahan  -- karena  harus disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan jiwa manusia yang terus semakin dewasa, yakni bagaikan pakaian  seorang  anak kecil yang harus mengalami perombakan terus menerus karena tubuhnya semakin besar dan jiwanya semakin dewasa dengan berbagai tuntutannya  yang memerlukan jawaban, itulah sebabnya pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai wahyu syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) menjadi suatu keniscayaan, firman-Nya:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
 Ayat   mana pun yang Kami mansukhkan yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak  mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?  (Al-Baqarah [2]:107).

Perumpamaan “Kalimah yang Buruk

     Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah perumpamaan selanjutnya yang dikemukakan Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk  adalah seperti  pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia se-kali-kali tidak   memiliki kemantapan.    یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   -- Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,  وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ  -- dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim  [14]:27-28).
      Jadi, berbeda dari pohon yang baik, kitab yang diciptakan oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam. Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
      Kitab seperti itu  merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan.  Kitab semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt..  Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran.

Ketidakterbatasan Khazanah Pengetahuan Al-Quran

        Dalam Surah lain Allah Swt., -- dengan merujuk ketidakterbatasan khazanah ilmu  yang terkandung  tatanan  alam semesta jasmani   -- mengemukakan ketidak-terbatasnya  khazanah  ruhani yang terkandung dalam Al-Quran, firman-Nya:
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ  وَ الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ ہُوَ  الۡغَنِیُّ   الۡحَمِیۡدُ ﴿﴾  وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ  اَقۡلَامٌ  وَّ  الۡبَحۡرُ  یَمُدُّہٗ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ  اَبۡحُرٍ  مَّا نَفِدَتۡ  کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Kepunyaan Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, sesungguhnya  Allah Dia Maha Kaya, Maha Terpuji. وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ  اَقۡلَامٌ    --   Dan  seandainya pohon-pohon  di bumi ini menjadi pena, وَّ  الۡبَحۡرُ  یَمُدُّہٗ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ  اَبۡحُرٍ  مَّا نَفِدَتۡ  کَلِمٰتُ اللّٰہِ  -- dan laut  ditambahkan kepadanya  sesudahnya tujuh laut menjadi tinta,  kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  --  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Luqman [31]:27-28).
        Bilangan “7” dan “70” digunakan dalam bahasa Arab adalah menyatakan jumlah besar, dan bukan benar-benar “tujuh” dan “tujuh puluh” sebagai angka-angka bilangan lazim.  Ayat ini menggambarkan ketakterhinggaan rahasia khazanah ilmu pengetahuan  yang terkandung dalam  apa pun ciptaan Allah Swt. di alam semesta ini.
      Menurut Allah Swt. – sesuai dengan Sifat Rabbubiyat-Nya bahwa sebagaimana halnya  proses penciptaan tatanan alam semesta jasmani ini melalui berbagai tahapan hingga mencapai kesempurnaan yang yang telah ditetapkan-Nya (QS.1:2; QS.21:31-34; QS.41:10-13; QS.67:1-5) --  demikian pula halnya rahasia-rahasia dari khazanah ilmu pengetahuan  yang terkandung di alam semesta ini pun  dibukakan atau diberitahukan Allah Swt.  kepada manusia secara bertahap berdasarkan kebutuhan  umat manusia pada zamannya masing-masing, firman-Nya:
وَ الۡاَرۡضَ مَدَدۡنٰہَا وَ اَلۡقَیۡنَا فِیۡہَا رَوَاسِیَ وَ اَنۡۢبَتۡنَا فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ مَّوۡزُوۡنٍ ﴿﴾  وَ جَعَلۡنَا لَکُمۡ  فِیۡہَا مَعَایِشَ وَ مَنۡ لَّسۡتُمۡ  لَہٗ  بِرٰزِقِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan bumi Kami telah membentangkannya,  di dalamnya Kami  telah menegakkan gunung-gunung yang kokoh  dan juga Kami menumbuhkan di dalamnya segala sesuatu dengan perimbangan yang tepat.   وَ جَعَلۡنَا لَکُمۡ  فِیۡہَا مَعَایِشَ وَ مَنۡ لَّسۡتُمۡ  لَہٗ  بِرٰزِقِیۡنَ   --  dan   Kami telah menjadikan bagi kamu di dalamnya segala keperluan hidup, dan juga bagi segala makhluk yang kamu tidak memberikan rezeki kepadanya. وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ    --  dan  tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ  -- dan  Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu.  (Al-Hijr [15]:20-22).

Makna “Pembentangan Bumi” & Pentingnya  Keberadaan  Gunung-gunung

        Kata-kata, وَ الۡاَرۡضَ مَدَدۡنٰہَا  berarti  Kami telah membentangkan bumi”, atau “Kami telah memperkayanya”. Kedua-dua arti itu dapat dipakai di sini. Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt.   telah membuat bumi ini sedemikian luasnya, sehingga kendatipun bentuknya bulat tetapi manusia tidak merasa tidak enak disebabkan oleh bentuknya yang bulat itu; atau ayat  وَ الۡاَرۡضَ مَدَدۡنٰہَا  ini berarti bahwa Allah Swt.  telah memperkaya bumi ini dengan bahan-bahan penyubur.
     Penyelidikan-penyelidikan ilmu perbintangan telah menyingkapkan kenyataan, bahwa bumi terus-menerus memperoleh tenaga dan unsur penyubur baru dari bintang-bintang, yang darinya jatuh ke atas bumi serbuk-serbuk zat dalam bentuk meteor-meteor atau debunya yang berguna sekali untuk meningkatkan kesuburan bumi.
       Makna ayat وَ اَلۡقَیۡنَا فِیۡہَا رَوَاسِیَ -- “di dalamnya Kami  telah menegakkan gunung-gunung yang kokoh.” Bumi memerlukan persediaan air yang banyak untuk menumbuhkan tanaman yang menghasilkan makanan. Untuk tujuan ini Allah Swt. telah menciptakan gunung-gunung yang – selain  untuk meredam goncangan  atau gempa bumi (QS.21:31-32)  -- juga gunanya sebagai penampung air, yang disimpannya dalam bentuk salju dan berangsur-angsur mencair lalu disalurkan ke permukaan  bumi melalui sungai-sungai.
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman وَ اَنۡۢبَتۡنَا فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ مَّوۡزُوۡنٍ -- “dan juga Kami menumbuhkan di dalamnya segala sesuatu dengan perimbangan yang tepat.” Lebih lanjut Allah Swt. berfirman وَ جَعَلۡنَا لَکُمۡ  فِیۡہَا مَعَایِشَ وَ مَنۡ لَّسۡتُمۡ  لَہٗ  بِرٰزِقِیۡنَ   --  dan   Kami telah menjadikan bagi kamu di dalamnya segala keperluan hidup, dan juga bagi segala makhluk yang kamu tidak memberikan rezeki kepadanya.”

Pembukaan Khazanah Baru Ilmu Pengetahuan

       Makna ayat    وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ    --  dan  tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas”, yakni   guna menjamin keperluan hidup umat manusia  di muka bumi Allah Swt.   memiliki persediaan (khazanah) segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas.
        Demikian pula halnya dalam dunia   keruhanian,  seperti halnya alam semesta kebendaan,  Al-Quran pun merupakan alam semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian tak terbatas   yang dibukakan Allah Swt. kepada umat manusia sesuai dengan keperluan zaman, melalui rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37; QS.3:180; QS.72:27-29).       
         Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan: وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ  -- “dan  Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu,” (Al-Hijr [15]:22), bahwa sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga, Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang sesungguhnya akan benda itu, dengan demikian benarlah firman-Nya berikut ini:
وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَظَلُوۡمٌ  کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا --      dan  jika  kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya, اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَظَلُوۡمٌ  کَفَّارٌ  --  sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim [14]:35). Lihat pula QS.16:19.
    Kata-kata مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ  -- “yang kamu minta kepada-Nya” menunjukkan kepada tuntutan-tuntutan fitrat manusia yang telah terpenuhi seluruhnya. Allah Swt. telah  menyediakan bahan yang lengkap untuk memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia, baik jasmani maupun  ruhani, firman-Nya:
یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ﴿﴾
Kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ  -- maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? (Al-Rahmān [55]:30-31).

Makna   Setiap Hari  Allah Swt. “Dalam Keadaan Berlainan

    Untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta (Al-Khāliq) Pemberi rezeki (Ar-Razzaq) dan Pemelihara (Ar-Rabb) mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan Sifat-sifat Ilahi itu menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa, itulah makna    فِیۡ  شَاۡنٍ  yang selain berarti bahwa Sifat-sifat Ilahi senantiasa menjelma “dalam keadaan yang berlainan” juga artinya “dalam keadaan baru.”
    Jadi, sungguh  tidak tahu bersyukur  orang-orang yang memperoleh manfaat besar dari Sifat Ilahi yang diisyaratkan dalam ayat کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ  -- “setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan”, tetapi mereka telah menjadikan wujud-wujud selain Allah Swt.  sebagai “tuhan sembahan” palsu yang tidak menciptakan sesuatu pun  atau tidak memiliki andil sedikitkan dalam penciptaan  alam semesta ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu.   ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).

Tidak Memiliki Makrifat Ilahi yang Benar

       Ayat-ayat ini  menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan seperti  itu.   Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat  Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung.
      Pada hakikatnya, semua kepercayaan (kemusyrikan) yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia, itulah makna ayat: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --  sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.”
    Kesesatan tersebut terjadi karena mereka menganut ajaran (agama) yang tidak mendapat jaminan pemeliharaan  Allah Swt. seperti Al-Quran (QS.15:10), yang diumpamakan seperti  keadaan “pohon yang buruk”, firman-Nya: 
وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ ﴿﴾ یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Dan perumpamaan kalimah yang buruk  adalah seperti  pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia se-kali-kali tidak   memiliki kemantapan.    یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   -- Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,  وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ  -- dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim  [14]:27-28).
        Jadi, berbeda dari pohon yang baik, kitab yang diciptakan (dibuat) oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam. Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
      Kitab seperti itu  merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan.  Kitab semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt..  Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  2 Januari      2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar