Rabu, 07 Januari 2015

Hubungan "Golongan Jin" yang Menghadap Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Para Pemuka Ahli Kitab yang Berpegangteguh Pada Tauhid Ilahi






بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 25

  
Hubungan “Golongan Jin” yang Menghadap Nabi Besar Muhammad Saw.  dengan Para Pemuka Ahli Kitab  yang Berpegangteguh Pada Tauhid Ilahi
  


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas    arti lain dhāllīn  selain sesat, yaitu    akan binasa” atau “akan hilang”, seperti firman-Nya berikut ini:
وَ یَوۡمَ نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ  اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾  فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اِنۡ  کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ  لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾  ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu  ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan:  مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ  --Tetaplah di tempat kamu, kamu beserta sekutu-sekutumu.”   فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ   -- Lalu Kami memisahkan di antara mereka. وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ  اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ --  maka   sekutu-sekutu mereka ber-kata:  Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa kamu sembah,  فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ     -- “Maka cukuplah Allah sebagai saksi di antara kami dan kamu,  اِنۡ  کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ  لَغٰفِلِیۡنَ  -- sesungguhnya  kami tidak tahu-menahu  mengenai penyembahan kamu.”    ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ  اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ --   Di sanalah  tiap-tiap jiwa  merasakan penderitaan akibat apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka akan dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang haq (sebenarnya), وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ --  dan  lenyaplah dari mereka apa yang telah  mereka ada-adakan itu.  (Yunus [10]:29-31).
       Jadi, ayat   وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ --  dan  lenyaplah dari mereka apa yang telah  mereka ada-adakan itu”    menjelaskan bahwa  arti lain kata  dhalla   atau dhāllīn selain sesat, juga berarti  akan lenyap  atau akan binasa (QS.7:54; QS.11:22; QS.16:88; QS.17:67-68; QS.18:103-105; QS.28:75-76; QS.41:48-49).
       Itulah nubuatan mengenai  keadaan akhir  yang akan dialami oleh agama Kristen dalam Surah Al-Fatihah, sebab  selain bertentangan  dengan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,   beliau  juga sudah wafat (QS.5:117-119), sebagaimana semua  nabi Allah lainnya yang diutus  sebelum Nabi Besar Muhammad saw. telah wafat (QS.3: 56 & 145; QS.QS.21:35-36).

Meniru Kesesatan Orang-orang Kafir Sebelumnya

         Menurut Allah Swt.,  kepercayaan sesat    yang mereka anut  oleh golongan yang disebut dhāllīn dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah tersebut  pada hakikatnya  merupakan  tiruan dari kepercayaan sesat  orang-orang kafir  atau  orang-orang musyrik  sebelumnya, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata:  عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ -- “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata:  الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ  -- “Al-Masih adalah  anak  Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ   -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,   یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ --  mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.  قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ  -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?  (At-Taubah [9]:30).
     ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mem-punyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
   Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai Ezra (Uzair)  sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
    Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia & Encyclopaedia Biblica).
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kebiasaan buruk di kalangan kaum Yahudi tersebut:
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ 
Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ  -- padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ  -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  (At-Taubah [9]:31).  

Makna  Penyembahan “Golongan Jin” & Hubungannya dengan Para Pamuka  Agama Golongan Ahli-Kitab

         Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani. Allah Swt. dalam Al-Quran menyebut penyembahan terhadap para pemuka agama  atau   wali-wali Allah yang  telah wafat tersebut sebagai penyembahan terhadap “jin”,  sebab mereka dianggap sebagai washilah (perantara)  antara para penyembahnya  dengan  Allah Swt., firman-Nya:        
وَ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ الۡجِنَّ وَ خَلَقَہُمۡ وَ خَرَقُوۡا لَہٗ  بَنِیۡنَ وَ بَنٰتٍۭ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ ؕ سُبۡحٰنَہٗ وَ تَعٰلٰی عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan  mereka menjadikan jin-jin  sebagai sekutu bagi Allah padahal Dia menciptakan mereka yakni jin-jin itu, dan mereka telah mengada-adakan anak-anak lelaki dan anak-anak anak perempuan bagi-Nya tanpa ilmu. Maha-suci Dia dan Mahaluhur dari apa yang mereka sifatkan. (Al-An’ām [6]:101).                                           Jin adalah wujud yang sembunyi atau memencilkan diri dari orang-orang awam yang dalam Al-Quran disebut ins  (manusia).  Ayat itu berarti bahwa manusia tergelincir bila ia menolak wahyu Ilahi dan mengikuti pertimbangan akalnya sendiri, lalu menyekutukan jin dan malaikat-malaikat dengan Allah Swt.    dan menisbahkan anak laki-laki dan anak perempuan kepada Dia.
        Dalam firman-Nya berikut ini dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan jin bukanlah golongn  makhluk halus yang lazim disebut jin, melainkan    para pemuka agama Yahudi karena mereka menyebutkan bahwa Al-Quran  sebagai wahyu Ilahi yang datang setelah Taurat, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذۡ صَرَفۡنَاۤ  اِلَیۡکَ نَفَرًا مِّنَ الۡجِنِّ یَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ۚ فَلَمَّا حَضَرُوۡہُ قَالُوۡۤا  اَنۡصِتُوۡا ۚ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا اِلٰی قَوۡمِہِمۡ  مُّنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ  اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا  اُنۡزِلَ مِنۡۢ  بَعۡدِ مُوۡسٰی مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ  اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ   ﴿﴾ یٰقَوۡمَنَاۤ  اَجِیۡبُوۡا دَاعِیَ اللّٰہِ  وَ اٰمِنُوۡا بِہٖ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ  مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ  وَ  یُجِرۡکُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾  وَ مَنۡ  لَّا یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ  فَلَیۡسَ بِمُعۡجِزٍ فِی  الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءُ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika  Kami hadapkan kepada engkau segolongan dari jin  yang ingin mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka hadir kepadanya mereka berkata: "Diamlah dan dengarkanlah!"  Maka tatkala telah selesai mereka kembali kepada kaum mereka untuk memberi peringatan.  قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ  اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا  اُنۡزِلَ مِنۡۢ  بَعۡدِ مُوۡسٰی ٍ     -- Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya  kami telah mendengar suatu Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa, مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ  اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡم  --  menggenapi apa yang ada sebelumnya dan  memimpin kepada kebenaran serta kepada jalan yang lurus.  یٰقَوۡمَنَاۤ  اَجِیۡبُوۡا دَاعِیَ اللّٰہِ  وَ اٰمِنُوۡا بِہٖ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ  مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ  وَ  یُجِرۡکُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ  --   "Hai  kaum kami, sambutlah penyeru kepada Allah dan berimanlah kepadanya, Dia akan mengampuni do-sa-dosa kamu, dan Dia akan melindungi kamu dari azab yang pedih. وَ مَنۡ  لَّا یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ  فَلَیۡسَ بِمُعۡجِزٍ فِی  الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءُ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ  --      "Dan barangsiapa tidak me-nyambut penyeru kepada Allah,  maka ia tidak dapat melemahkannya di bumi dan tidak ada baginya pelindung-pelindung selain Dia,  mereka itu da-lam kesesatan yang nyata." (Al-Ahqaf [46]:30-33).
    Golongan jin yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dari Nashibin, atau seperti sumber lain mengatakan, adalah orang-orang Yahudi dari Maushal atau Ninewe, Irak. Karena takut akan penentangan dari orang-orang Mekkah, mereka menjumpai Nabi Besar Muhammad saw.  pada waktu malam, dan setelah mendengarkan pembacaan Al-Quran dan tutur beliau saw. mereka masuk Islam dan menyampaikan agama baru itu kepada kaum mereka yang juga dengan suka hati menerimanya (Ruh-ul Bayan, jilid ke-8).  
        Ayat  قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ  اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا  اُنۡزِلَ مِنۡۢ  بَعۡدِ مُوۡسٰی ٍ     --  mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya  kami telah mendengar suatu Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa, مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ  اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡم  --   menggenapi apa yang ada sebelumnya dan  memimpin kepada kebenaran serta kepada jalan yang lurus”,  ini menunjukkan bahwa golongan jin yang disebut dalam ayat sebelumnya adalah orang-orang Yahudi atau para pemuka agama Yahudi,  sebab mereka mengatakan tentang Al-Quran sebagai "Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa."

Kesaksian Nabi Musa a.s. Mengenai Nabi Besar Muhammad  Saw.

    Sehubungan dengan kenyataan tersebut dalam ayat berikut ini Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.: 
قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya  وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ   -- dan  seorang saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisal dirinya  lalu ia beriman tetapi kamu berlaku sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqaf [46]:11).
       Seorang saksi dari antara Bani Israil adalah Nabi Musa a.s.  Kepada nubuatan beliau berkenaan dengan kedatangan  Nabi  Besar Muhammad saw. – yang seperti dirinya (yang seperti Musa) --    itulah yang telah diisyaratkan dalam ayat ini. Adapun nubuatan itu berbunyi sebagai berikut: "Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya yang seperti engkau, dan Aku akan memberikan segala firman-Ku dalam mulutnya dan ia pun akan mengatakan segala yang Kusuruh akan dia. Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tidak mau dengar akan segala firman-Ku yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu (Ulangan 18:18-19).
  Ayat 11 yang didukung oleh Ulangan 18:18 menunjuk kepada kedatangan seorang nabi dari antara Bani Isma’il. Ayat yang sekarang ini menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat turunnya nabi, yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa a.s. itu dan juga kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya.
    Nubuatan yang bersangkutan adalah sebagai berikut: "Bahwa inilah firman akan hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).

“Golongan Jin” dari Kalangan Nashrani Penganut Tauhid Ilahi

    Kemudian masih sehubungan dengan “golongan jin   -- yakni para pemuka   Ahli Kitab -- dalam Surah Al-Jin  Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ  اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  اَنَّہُ  اسۡتَمَعَ  نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا  اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا  ۙ﴿﴾  یَّہۡدِیۡۤ  اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا  ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا ۙ﴿﴾  وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya  serombongan jin  mendengarkan Al-Quran, lalu  mereka berkata: “Sesungguhnya  kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan. Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami telah beriman kepadanya.  وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا  -- Dan kami  tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا   --  Dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami, مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا  --   Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak.  وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا    --   Dan sesungguhnya  orang-orang bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah.  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا --     dan sesungguhnya  kami menyangka ins (manusia) dan jin   tidak akan pernah mengatakan perkataan  dusta terhadap Allah. وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ  -- Dan sesungguhnya   ada beberapa orang dari ins (manusia) yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah ke-sombongan mereka. وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا  -- Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul” (Al-Jin [72]:1-8). 
    Isyarat 3   mungkin tertuju kepada segolongan orang Yahudi dari Nashibin. Mereka bukan bangsa Arab dan karena mereka itu orang-orang asing, maka mereka disebut “jin”, yang berarti antara lain orang asing (Lexicon Lane). Peristiwa yang disebut dalam ayat ini nampaknya lain dari peristiwa yang disebut dalam QS.46:30-33, meskipun ayat ini dianggap oleh beberapa sumber menunjuk kepada ayat-ayat itu, sebab kata-kata yang diucapkan oleh “jin” dalam ayat ini mempunyai kemiripan dengan kata-kata yang diucapkan oleh segolongan jin yang disebut dalam QS.46:30-33.
  Ayat وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا  -- Dan kami  tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا   --  Dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami, مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا  --   Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak.  وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا    --   Dan sesungguhnya  orang-orang bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah”,  menunjukkan bahwa “serombongan jin” itu orang-orang Kristen yang berpegang kepada Tauhid atau orang-orang Yahudi, yang bersekutu erat dengan mereka atau, yang karena ada di bawah pengaruh mereka – baik dalam sikap dan hubungan dengan paham-paham Kristen.

Itikad Sesat Lā Nabiya Ba’dahu (Tidak Ada Nabi Sesudahnya)

   Karena kata rijāl  dalam ayat وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ  -- Dan sesungguhnya   ada beberapa orang dari ins (manusia) yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah kesombongan mereka”,  hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqāf itu adalah manusia dan bukan suatu jenis makhluk lain mana pun.
   Kata Arab jin di sini, dapat berarti orang-orang besar dan berpengaruh, dan ins – orang-orang rendah dan hina atau orang-orang awam, yang dengan mengikuti golongan tersebut pertama (jin) dan mencari lindungan mereka itu, meningkatkan kesombongan dan keangkuhan golongan jin tersebut, yakni para pemuka kaum  atau pemuka agama   mereka.
   Mengisyaratkan kepada kenyataan inilah firman Allah Swt. dalam Surah At Taubah  sebelum ini:
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ 
Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ  -- padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa.  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ  -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  (At-Taubah [9]:31).
 Makna ayat  وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا  -- “dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul,” yakni  sejak  zaman Nabi Yusuf a.s.  di Mesir orang-orang Yahudi tidak mempercayai lagi kedatangan rasul mana pun sesudah beliau, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ  کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾  الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ         کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ          کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا -- “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesu-dahnya.”  کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُ  --  Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu. الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ   --   yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  --  Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman,    کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ  --  demikianlah Allah mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewenang-senang. (Al-Mu’min [40] : 35-36). 


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 7  Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar