بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 25
Hubungan
“Golongan Jin” yang Menghadap Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Para Pemuka Ahli Kitab yang Berpegangteguh
Pada Tauhid Ilahi
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dibahas arti
lain dhāllīn selain sesat,
yaitu
“akan
binasa” atau “akan hilang”,
seperti firman-Nya berikut ini:
وَ یَوۡمَ
نَحۡشُرُہُمۡ جَمِیۡعًا ثُمَّ
نَقُوۡلُ لِلَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا
مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ ۚ فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ قَالَ
شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾ فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ
بَیۡنَکُمۡ اِنۡ کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ لَغٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ
وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan mengumpulkan mereka semuanya kemudian Kami akan berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan: مَکَانَکُمۡ اَنۡتُمۡ وَ شُرَکَآؤُکُمۡ -- “Tetaplah di tempat
kamu, kamu beserta sekutu-sekutumu.”
فَزَیَّلۡنَا بَیۡنَہُمۡ -- Lalu
Kami memisahkan di antara mereka. وَ قَالَ شُرَکَآؤُہُمۡ مَّا کُنۡتُمۡ اِیَّانَا تَعۡبُدُوۡنَ -- maka sekutu-sekutu
mereka ber-kata: ”Sekali-kali bukanlah kami yang senantiasa
kamu sembah, فَکَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًۢا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ -- “Maka cukuplah
Allah sebagai saksi di antara kami
dan kamu, اِنۡ کُنَّا عَنۡ عِبَادَتِکُمۡ لَغٰفِلِیۡنَ -- sesungguhnya
kami tidak tahu-menahu
mengenai penyembahan kamu.” ہُنَالِکَ تَبۡلُوۡا کُلُّ نَفۡسٍ مَّاۤ اَسۡلَفَتۡ وَ رُدُّوۡۤا اِلَی اللّٰہِ مَوۡلٰىہُمُ الۡحَقِّ -- Di sanalah tiap-tiap
jiwa merasakan penderitaan akibat
apa yang telah dikerjakannya dahulu
dan mereka akan dikembalikan kepada Allah
Pelindung mereka yang haq
(sebenarnya), وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ -- dan lenyaplah dari mereka apa yang telah mereka ada-adakan itu. (Yunus [10]:29-31).
Jadi, ayat وَ ضَلَّ عَنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ -- dan lenyaplah dari mereka apa yang telah mereka ada-adakan itu” menjelaskan bahwa arti lain kata dhalla atau dhāllīn
selain sesat, juga berarti akan lenyap
atau akan binasa (QS.7:54; QS.11:22; QS.16:88; QS.17:67-68; QS.18:103-105;
QS.28:75-76; QS.41:48-49).
Itulah nubuatan mengenai keadaan akhir yang akan dialami oleh agama Kristen dalam Surah Al-Fatihah,
sebab selain bertentangan dengan ajaran
asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
beliau juga sudah wafat (QS.5:117-119), sebagaimana semua nabi
Allah lainnya yang diutus sebelum
Nabi Besar Muhammad saw. telah wafat
(QS.3: 56 & 145; QS.QS.21:35-36).
Meniru Kesesatan Orang-orang Kafir
Sebelumnya
Menurut Allah Swt., kepercayaan sesat yang mereka anut oleh golongan yang disebut dhāllīn
dalam ayat terakhir Surah Al-Fatihah tersebut pada hakikatnya merupakan tiruan dari kepercayaan sesat orang-orang kafir atau
orang-orang musyrik sebelumnya,
firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ -- “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ اللّٰہِ -- “Al-Masih
adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian itulah perkataan
mereka dengan mulutnya, یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ -- Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari
Tauhid? (At-Taubah [9]:30).
‘Uzair atau Ezra
hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan
karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra.
Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mem-punyai pengaruh
yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan
khas di antara nabi-nabi Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai
Ezra (Uzair) sebagai anak
Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau
dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah
bukunya “History of the People of
Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud
semenjak masa Ezra.
Dalam kepustakaan golongan Rabbi,
beliau dianggap patut jadi wahana pengemban
syariat seandainya syariat itu
tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di
Babil (Yewish Encyclopaedia
& Encyclopaedia Biblica).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kebiasaan buruk di kalangan kaum Yahudi tersebut:
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Mereka telah
menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ -- padahal
mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia
dari apa yang mereka sekutukan. (At-Taubah [9]:31).
Makna Penyembahan “Golongan Jin” & Hubungannya dengan Para Pamuka Agama Golongan Ahli-Kitab
Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani. Allah Swt. dalam Al-Quran
menyebut penyembahan terhadap para pemuka agama atau wali-wali Allah yang telah wafat
tersebut sebagai penyembahan terhadap “jin”, sebab mereka dianggap sebagai washilah (perantara) antara para penyembahnya dengan Allah
Swt., firman-Nya:
وَ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ الۡجِنَّ وَ خَلَقَہُمۡ وَ خَرَقُوۡا
لَہٗ بَنِیۡنَ وَ بَنٰتٍۭ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ
ؕ سُبۡحٰنَہٗ وَ تَعٰلٰی عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan mereka
menjadikan jin-jin sebagai sekutu
bagi Allah padahal Dia menciptakan mereka yakni jin-jin itu, dan mereka telah mengada-adakan anak-anak
lelaki dan anak-anak anak perempuan
bagi-Nya tanpa ilmu. Maha-suci Dia dan Mahaluhur dari apa yang
mereka sifatkan. (Al-An’ām [6]:101). Jin adalah
wujud yang sembunyi atau memencilkan diri dari orang-orang awam yang dalam Al-Quran disebut ins (manusia). Ayat itu berarti bahwa manusia tergelincir bila ia menolak wahyu Ilahi dan mengikuti pertimbangan akalnya sendiri, lalu menyekutukan jin dan malaikat-malaikat dengan Allah Swt. dan
menisbahkan anak laki-laki dan anak perempuan kepada Dia.
Dalam firman-Nya berikut ini dijelaskan,
bahwa yang dimaksud dengan jin bukanlah
golongn makhluk halus yang lazim disebut jin, melainkan para pemuka
agama Yahudi karena mereka menyebutkan bahwa Al-Quran sebagai wahyu Ilahi yang datang setelah Taurat, firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
وَ اِذۡ
صَرَفۡنَاۤ اِلَیۡکَ نَفَرًا مِّنَ
الۡجِنِّ یَسۡتَمِعُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ۚ فَلَمَّا حَضَرُوۡہُ قَالُوۡۤا اَنۡصِتُوۡا ۚ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا اِلٰی
قَوۡمِہِمۡ مُّنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
یٰقَوۡمَنَاۤ اِنَّا سَمِعۡنَا
کِتٰبًا اُنۡزِلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ
یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ اِلَی الۡحَقِّ وَ
اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾ یٰقَوۡمَنَاۤ اَجِیۡبُوۡا دَاعِیَ اللّٰہِ وَ اٰمِنُوۡا بِہٖ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ وَ
یُجِرۡکُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ مَنۡ لَّا
یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ فَلَیۡسَ
بِمُعۡجِزٍ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَیۡسَ لَہٗ
مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءُ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Kami hadapkan kepada engkau segolongan
dari jin yang ingin mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka hadir kepadanya mereka berkata: "Diamlah dan dengarkanlah!" Maka tatkala
telah selesai mereka kembali kepada kaum mereka untuk memberi peringatan. قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا اُنۡزِلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ٍ -- Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami
telah mendengar suatu Kitab yang telah diturunkan
sesudah Musa, مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡم -- menggenapi apa yang ada sebelumnya dan memimpin
kepada kebenaran serta kepada jalan
yang lurus. یٰقَوۡمَنَاۤ اَجِیۡبُوۡا دَاعِیَ اللّٰہِ وَ اٰمِنُوۡا بِہٖ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ مِّنۡ ذُنُوۡبِکُمۡ وَ
یُجِرۡکُمۡ مِّنۡ عَذَابٍ اَلِیۡمٍ -- "Hai kaum kami, sambutlah penyeru kepada Allah dan berimanlah
kepadanya, Dia akan mengampuni
do-sa-dosa kamu, dan Dia akan melindungi
kamu dari azab yang pedih. وَ مَنۡ
لَّا یُجِبۡ دَاعِیَ اللّٰہِ
فَلَیۡسَ بِمُعۡجِزٍ فِی الۡاَرۡضِ
وَ لَیۡسَ لَہٗ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءُ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- "Dan barangsiapa tidak me-nyambut penyeru kepada Allah, maka ia
tidak dapat melemahkannya di bumi dan tidak
ada baginya pelindung-pelindung selain Dia,
mereka itu da-lam kesesatan yang
nyata." (Al-Ahqaf [46]:30-33).
Golongan jin
yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah orang-orang
Yahudi dari Nashibin, atau
seperti sumber lain mengatakan, adalah orang-orang
Yahudi dari Maushal atau Ninewe, Irak. Karena takut akan penentangan dari orang-orang Mekkah, mereka menjumpai Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu
malam, dan setelah mendengarkan pembacaan
Al-Quran dan tutur beliau saw. mereka masuk
Islam dan menyampaikan agama baru
itu kepada kaum mereka yang juga
dengan suka hati menerimanya (Ruh-ul
Bayan, jilid ke-8).
Ayat قَالُوۡا یٰقَوۡمَنَاۤ اِنَّا سَمِعۡنَا کِتٰبًا اُنۡزِلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ٍ -- mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami
telah mendengar suatu Kitab yang telah diturunkan
sesudah Musa, مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ یَہۡدِیۡۤ اِلَی الۡحَقِّ وَ اِلٰی طَرِیۡقٍ مُّسۡتَقِیۡم -- menggenapi apa yang ada sebelumnya dan memimpin
kepada kebenaran serta kepada jalan
yang lurus”, ini menunjukkan bahwa golongan jin yang disebut dalam ayat
sebelumnya adalah orang-orang Yahudi
atau para pemuka agama Yahudi, sebab mereka mengatakan tentang Al-Quran sebagai "Kitab yang telah diturunkan sesudah Musa."
Kesaksian Nabi Musa a.s.
Mengenai Nabi Besar Muhammad Saw.
Sehubungan dengan kenyataan tersebut dalam
ayat berikut ini Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ
﴿٪﴾
Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran
ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- dan seorang
saksi dari antara Bani Israil memberi
kesaksian terhadap kedatangan seseorang
semisal dirinya lalu ia beriman tetapi kamu berlaku sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqaf [46]:11).
Seorang saksi dari antara Bani Israil adalah Nabi Musa
a.s. Kepada nubuatan beliau berkenaan dengan
kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. –
yang seperti dirinya (yang seperti
Musa) -- itulah yang telah diisyaratkan dalam
ayat ini. Adapun nubuatan itu
berbunyi sebagai berikut: "Bahwa Aku
akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya yang
seperti engkau, dan Aku akan memberikan segala firman-Ku dalam mulutnya dan ia
pun akan mengatakan segala yang Kusuruh akan dia. Bahwa sesungguhnya
barangsiapa yang tidak mau dengar akan segala firman-Ku yang akan dikatakan
olehnya dengan nama-Ku niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu (Ulangan 18:18-19).
Ayat 11
yang didukung oleh Ulangan 18:18 menunjuk kepada kedatangan seorang nabi dari antara Bani Isma’il. Ayat yang sekarang ini menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat turunnya nabi, yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa a.s. itu dan juga kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi
nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya.
Nubuatan yang bersangkutan adalah sebagai
berikut: "Bahwa inilah firman akan
hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang
Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang
isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).
“Golongan Jin” dari Kalangan Nashrani
Penganut Tauhid Ilahi
Kemudian masih sehubungan dengan “golongan jin” -- yakni para pemuka Ahli Kitab -- dalam
Surah Al-Jin Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ اُوۡحِیَ
اِلَیَّ اَنَّہُ اسۡتَمَعَ
نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا
اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا
ۙ﴿﴾ یَّہۡدِیۡۤ
اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
تَعٰلٰی جَدُّ رَبِّنَا مَا
اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ
اَنۡ لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ
الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ
کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ
الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا
ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہُمۡ
ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ
اَنۡ لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya serombongan
jin mendengarkan Al-Quran,
lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan.
Al-Quran itu memberi
petunjuk kepada kebenaran, maka kami
telah beriman kepadanya. وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ
بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا -- Dan kami
tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ تَعٰلٰی جَدُّ
رَبِّنَا -- Dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami, مَا اتَّخَذَ
صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا -- Dia
sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak. وَّ اَنَّہٗ کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ
شَطَطًا -- Dan sesungguhnya orang-orang
bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah. وَّ اَنَّا
ظَنَنَّاۤ اَنۡ لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی
اللّٰہِ کَذِبًا -- dan sesungguhnya kami menyangka ins (manusia) dan jin tidak akan pernah mengatakan perkataan
dusta terhadap Allah. وَّ
اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ مِّنَ
الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا ۙ -- Dan sesungguhnya ada beberapa orang dari ins (manusia) yang meminta
perlindungan kepada beberapa orang
dari jin maka menambah
ke-sombongan mereka. وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا
ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu
juga menyangka bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan
seorang rasul” (Al-Jin [72]:1-8).
Isyarat 3
mungkin tertuju kepada segolongan
orang Yahudi dari Nashibin. Mereka bukan bangsa Arab dan karena mereka itu orang-orang asing, maka mereka disebut “jin”, yang berarti antara lain orang asing (Lexicon Lane). Peristiwa yang disebut dalam ayat ini
nampaknya lain dari peristiwa yang disebut dalam QS.46:30-33, meskipun ayat ini
dianggap oleh beberapa sumber menunjuk kepada ayat-ayat itu, sebab kata-kata
yang diucapkan oleh “jin” dalam ayat
ini mempunyai kemiripan dengan kata-kata yang diucapkan oleh segolongan jin yang disebut dalam QS.46:30-33.
Ayat وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ اَحَدًا -- Dan kami tidak akan pernah menyekutukan seseorang
dengan Rabb (Tuhan) kami, وَّ اَنَّہٗ تَعٰلٰی جَدُّ
رَبِّنَا -- Dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami, مَا اتَّخَذَ
صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا -- Dia
sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak. وَّ اَنَّہٗ کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ
شَطَطًا -- Dan sesungguhnya orang-orang
bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah”, menunjukkan bahwa
“serombongan jin” itu orang-orang Kristen yang berpegang
kepada Tauhid atau orang-orang Yahudi, yang bersekutu erat
dengan mereka atau, yang karena ada di bawah pengaruh mereka – baik dalam sikap
dan hubungan dengan paham-paham Kristen.
Itikad Sesat Lā Nabiya
Ba’dahu (Tidak Ada Nabi Sesudahnya)
Karena kata rijāl dalam
ayat وَّ اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ
الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ
مِّنَ الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ رَہَقًا ۙ -- Dan sesungguhnya ada beberapa
orang dari ins (manusia) yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka menambah
kesombongan mereka”, hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam
ayat ini dan dalam Surah Al-Ahqāf itu
adalah manusia dan bukan suatu jenis makhluk lain mana pun.
Kata Arab jin di
sini, dapat berarti orang-orang besar
dan berpengaruh, dan ins –
orang-orang rendah dan hina atau orang-orang awam, yang dengan mengikuti golongan tersebut pertama (jin) dan mencari lindungan mereka itu, meningkatkan kesombongan dan keangkuhan
golongan jin tersebut, yakni para pemuka kaum atau pemuka
agama mereka.
Mengisyaratkan kepada
kenyataan inilah firman Allah Swt. dalam Surah At Taubah sebelum ini:
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Mereka telah
menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ -- padahal
mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia. سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha-suci Dia
dari apa yang mereka sekutukan. (At-Taubah [9]:31).
Makna ayat وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا -- “dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka
bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul,” yakni sejak zaman Nabi
Yusuf a.s. di Mesir orang-orang Yahudi tidak mempercayai lagi kedatangan rasul mana pun sesudah beliau, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ شَکٍّ
مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی
اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh
benar-benar telah datang kepada kamu
Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti
yang nyata, tetapi kamu selalu dalam
keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati kamu berkata: لَنۡ یَّبۡعَثَ
اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا -- “Allah
tidak akan pernah mengutus
seorang rasul pun sesu-dahnya.” کَذٰلِکَ یُضِلُّ
اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُ -- Demikianlah Allah menyesatkan
barangsiapa yang melampaui batas,
yang ragu-ragu. الَّذِیۡنَ
یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ اٰیٰتِ اللّٰہِ
بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ -- yaitu
orang-orang yang bertengkar
mengenai Tanda-tanda Allah tanpa dalil
yang datang kepada mereka. کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا -- Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di
sisi orang-orang yang beriman, کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ -- demikianlah Allah mencap setiap hati orang
sombong lagi sewenang-senang. (Al-Mu’min [40] : 35-36).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 7 Januari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar