بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 33
Nubuatan
Kembalinya “Orang-orang Yahudi Pengembara”
ke Palestina & Kesedihan Rasul Akhir Zaman (Al-Masih Mau’ud a.s.) Melihat Perlakuan Buruk Kaumnya Terhadap Al-Quran
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya
telah dibahas firman Allah Swt.
mengenai nubuatan sikap pembangkangan yang dilakukan umumnya umat Islam terhadap berbagai perintah Allah Swt. dalam QS.3:103-110,
dan penentangan
umumnya umat Islam terhadap perintah
Allah Swt. agar beriman dan membantu
perjuangan suci Al-Masih Mau’ud a.s. di
Akhir Zaman ini, sebagaimana
yang dilakukan oleh para Hawari
(pengikut) Nabi isa Ibnu Maryam a.s. (QS.61:11-15). Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut
ini:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا
ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ
مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- tiba-tiba kaum engkau meneriakkan
penentangan terhadapnya, dan
mereka berkata: اءَ اٰلِہَتُنَا
خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ -- "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak
menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka
adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا
عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami anugerahi
nikmat kepadanya, dan Kami
menjadikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf
[43]:58-60).
Shadda (yashuddu) berarti: ia
menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).
Kedatangan Al-Masih a.s. yang dilahirkan tanpa ayah merupakan tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan
dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya.
Perintah Allah Swt. Untuk Beriman
Kepada Al-Masih Mau’ud a.s.
Dalam Bab 29 telah dikemukakan firman Allah Swt.
kepada umat Islam mengenai perintah-Nya
untuk mengikuti sikap terpuji para Hawari
(pengikut) Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. di masa awal, yaitu pentingnya umat manusia atau umat
beragama – terutama sekali umat Islam yang beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran --
untuk beriman kepada Rasul Akhir Zaman yaitu Al-Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ
اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ
قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ
اللّٰہِ فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی
عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی
ابۡنُ مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada pengikut-pengikutnya, مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ
اِلَی اللّٰہِ -- “Siapakah penolong-penolongku
di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ
اَنۡصَارُ اللّٰہِ -- Pengikut-pengikut
yang setia itu berkata: “Kamilah
penolong-penolong Allah.” فَاٰمَنَتۡ
طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan
lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ -- kemudian Kami
membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ -- lalu mereka
menjadi orang-orang yang
menang. (Ash-Shaff [61]:15).
Perintah Allah Swt. kepada orang-orang beriman – terutama umat Islam -- untuk meniru sikap terpuji para hawari
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut
merupakan peringatan dan juga nubuatan bahwa mereka jangan sampai meniru sikap buruk para pemuka kaum Yahudi yang bukan saja mendustakan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili,
bahkan mereka berusaha membunuhnya melalui penyaliban
(QS.156-159), yang mengundang kutukan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas mereka, sebagaimana sebelumnya Nabi Daud a.s. juga telah mengutuk mereka (QS.5:79-81), firman-Nya:
فَلَمَّاۤ اَحَسَّ عِیۡسٰی مِنۡہُمُ الۡکُفۡرَ قَالَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ ۚ
اٰمَنَّا بِاللّٰہِ ۚ وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ
اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ
الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَکَرُوۡا وَ
مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Maka
tatkala Isa merasa ada kekafiran pada mereka yakni kaumnya
ia berkata: مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ -- ”Siapakah penolong-penolongku dalam urusan Allah?” Para hawari
berkata: نَحۡنُ
اَنۡصَارُ اللّٰہِ ۚ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ ۚ وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ -- “Kamilah para peno-long urusan Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah
bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. رَبَّنَاۤ اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا
الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, kami ber-iman kepada apa
yang telah Engkau turunkan dan kami
mengikuti Rasul ini maka catatlah
kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.” وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ
اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- Dan
mereka, yakni musuh
Al-Masih, merancang makara buruk
dan Allah pun merancang makar
tandingan dan Allah sebaik-baik Perancang makar.
(Ali ‘Imran [3]:53-55).
Hawariyyun
itu jamak dari hawariy, yang berarti: (1) penatu; (2) orang yang diuji
dan didapati bebas dari dosa atau kesalahan; (3) orang yang mempunyai watak
murni, dan tidak bernoda; (4) orang yang menasihati atau memberi musyawarah atau
bertindak jujur dan setia; (5) seorang sahabat atau penolong yang benar dan
tulus; (6) seorang sahabat pilihan dan penolong seorang nabi (Lexicon Lane dan Al-Mufradat).
Pengulangan “Duel Makar”
Berkenaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Makna ayat وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- Dan mereka, yakni musuh Al-Masih, merancang makara buruk dan Allah
pun merancang makar tandingan dan Allah
sebaik-baik Perancang makar”, yakni orang-orang
Yahudi telah merencanakan supaya Isa Ibnu Maryam a.s. harus mati terkutuk di atas salib (Ulangan 21:24), tetapi
rencana Allah Swt. adalah
beliau harus selamat dari kematian semacam itu.
Rencana (makar buruk) orang-orang
Yahudi gagal dan rencana Ilahi berhasil, sebab beliau tidak mati di atas salib, melainkan diturunkan dalam keadaan hidup, dan wafat secara wajar di Kashmir
dalam usia sangat lanjut yakni 120 tahun (QS.23:51), dan jauh dari
tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban,
firman-Nya:
وَّ
قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ
ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ
شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ
اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi diazab karena ucapan mereka: اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ -- “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih Isa
Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ -- padahal mereka tidak membunuhnya secara
biasa dan tidak pula mematikannya
melalui penyaliban, akan
tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas
salib. وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ
شَکٍّ مِّنۡہُ -- Dan sesungguhnya orang-orang
yang berselisih dalam hal ini niscaya
ada dalam keraguan mengenai ini, مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ
الظَّنِّ -- mereka tidak memiliki pengetahuan yang
pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا -- dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ
اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Ali
‘Imran [3]:158-159).
Makna kata rafa’a (mengangkat) dalam ayat
بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana” tidak berkaitan dengan pengangkatan tubuh jasmani Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ke langit atau kepada Allah Swt. –
sebagaimana faham sesat yang umumnya dipercayai -- melainkan maknanya adalah menyelamatjan beliau dari makar buruk kaum Yahudi untuk menjatuhkan
martabat
ruhani Nabi Isa Ibnu Mayam a.s. sebagai Rasul
Allah dari kehinaan mengalami kematian
terkutuk di tiang salib, sebab menurut Bible: "orang yang tergantung itu kutuklah bagi
Tuhan Allah" (Ulangan
21:23).
Sehubungan keberhasilan
Allah Swt. menyelamatkan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. dari mengalami kematian
terkutuk di tiang salib dalam duel makar tersebut dalam surah lain Allah Swt.
berfirman:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran
yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir. (Al-Mu’minūn [23]:51).
Wilayah
yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah dataran
tinggi Kasymir di wilayah
pegunungan Himalaya dimana di desa Khan
Yar, kota Srinagar, terletak makam Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
sedangkan makam ibunda beliau, Siti
Maryam r.a. terletak di kota Murree (dibaca Mari
yakni Maryam) yang terletak di perbatasan Pakistan
dengan Kasymir karena beliau wafat
di sana.
Keunggulan Para Pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
atas Orang-orang
Yahudi
Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab 29, dari ketiga
golongan (sekte) agama di antara kaum
Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyampaikan tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes
– Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. termasuk
golongan Essenes sebelum beliau
diutus sebagai rasul Allah.
Kaum Essenes adalah kaum yang sangat
bertakwa, hidup jauh dari kesibukan
dan keramaian dunia, dan melewatkan
waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama
manusia. Dari kaum Essenes inilah
berasal bagian besar dari para pengikut
beliau di masa permulaan yaitu golongan hawariyyin
(“The Dead Sea Community,”
oleh Kurt Schubert, dan “The
Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para Penolong” oleh
Eusephus.
Kata-kata penutup Surah Ash-Shaf
ayat 15 sungguh sarat dengan nubuatan, yakni: فَاٰمَنَتۡ
طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafir,
فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman
terhadap musuh-musuh mereka فَاَصۡبَحُوۡا
ظٰہِرِیۡنَ --
lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash-Shaff
[61]:15).
Kenyataan sejarah membuktikan, bahwa sepanjang
zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. – walau pun mereka telah menyimpang jauh dari Tauhid
Ilahi yang merupakan ajaran asli
beliau dalam Injil (QS.5:117-119) yakni umat Kristen
– mereka telah menikmati kekuatan
dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi
tetap merupakan kaum yang cerai-berai
sehingga mendapat julukan “the Wandering
Jew” (“Yahudi Pengembara”).
Nubuatan Kembalinya “Orang-orang Yahudi Pengembara” ke Palestina & Dua Kali Dihukum
Allah Swt.
Bahkan, ketika mereka dapat kembali ke “Palestina” pun di Akhir Zaman ini pun dari pengembaraan
mereka selama 2000 tahun di berbagai
peloksok dunia tidak lepas dari bantuan negara-negara Kristen dari Barat, firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia (Fir’aun), Kami berfirman kepada Bani Israil: اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ -- ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ
وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا -- dan apabila
janji mengenai akhir zaman tiba Kami akan menghimpun kamu semuanya dari
antara berbagai bangsa.” (Bani
Israil [17]:105).
Ayat ini mengandung arti bahwa
seperti orang-orang Yahudi atau Bani Israil, demikian pula umat Islam
-- yakni Bani Isma’il yang merupakan saudara Bani Israil -- pun dua
kali akan menderita bencana nasional
yaitu mendapat azab
Ilahi akibat kedurhakaan mereka
kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya (QS.17:5-10). Azab Ilahi yang pertama dari kedua bencana tersebut menimpa umat
Islam ketika kota Bagdad yang
merupakan pusat kekuasaan umat Islam
bani ‘Abbas jatuh kepada kekuasaan
bangsa Tartar di bawah pimpinan Hulaku Khan.
Ayat ini (QS.17:5-10) mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang-orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau
meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk
mereka melakukan pelanggaran terhadap
perintah Allah Swt. dalam Al-Quran
dan terhadap Sunnah Nabi Besar
Muhammad saw., sebagaimana yang
dilakukan oleh orang-orang Yahudi
(QS.2:89-91).
Tetapi umat
Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan Allah Swt. dalam
Al-Quran yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara buruk mereka; dan oleh karena
itu umat Islam pun telah dihukum
dua kali. Hukuman (azab) Ilahi menimpa mereka, ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M.
Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang biadab itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan
yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada
ketika itu.
Tetapi dari malapetaka yang
mengerikan itu akhirnya Islam keluar
sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk
agama Islam. Hukuman kedua telah
ditakdirkan akan menimpa umat Islam
di Akhir Zaman melalui Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) – yakni bangsa-bangsa
Kristen dari Barat.
Puncak kehinaan
yang menimpa umat Islam adalah ketika
orang-orang Yahudi pengembara kembali ke Palestina
dengan bantuan negara-negara Kristen
Barat melalui “Balfour Declaration”
menggenapi nubuatan dalam
Al-Quran dalam firman-Nya sebelum ini:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia (Fir’aun), Kami berfirman kepada Bani Israil: اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ -- ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ
وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا -- dan apabila
janji mengenai akhir zaman tiba Kami akan menghimpun kamu semuanya dari
antara berbagai bangsa.” (Bani
Israil [17]:105).
Jadi, umat Islam dalam ayat ini diberitahu, bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman, di masa Al-Masih
Mau’ud a.s., seperti orang-orang
Yahudi diberi hukuman di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. melalui serbuan dahsyat Titus
dari kerajaan Rumawi (Matius 23:37-39 & 24:15-22).
Ayat ini berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum Allah Swt. untuk kedua kalinya, yang berarti sempurnanya “janji
mengenai Akhir Zaman”, maka orang-orang
Yahudi akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina) dari semua
penjuru dunia dan sekali gus merupakan bukti
yang tidak bisa dibantah bahwa Al-Masih Mau’ud a.s. telah datang,
yakni Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.. (Ruh-ul-Bayan oleh Syaikh Isma’il Haqqi).
Kesedihan Rasul Akhir Zaman
yakni Al-Masih Mau’ud a.s.
Namun demikian, sebagaimana halnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili telah
mendapat perlakuan buruk dari kaum
Yahudi, demikian juga Al-Masih Mau’ud
a.s. pun di Akhir Zaman ini mendapat perlakuan buruk pula dari
para pemuka kaumnya (umat
Islam) -- yang menurut Nabi Besar Muhammad saw. merupakan misal kaum Yahudi -- padahal
tujuan pengutusan kedua rasul
Allah tersebut adalah untuk melakukan
perbaikan di kalangan kaumnya, firman-Nya:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau
sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat
dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang
Muslim di Akhir Zaman ini tetapi
telah menyampingkan Al-Quran dan
telah melemparkannya ke belakang.
Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan
dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari
Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh
masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan
dalam Al-Quran dan hadits Nabi Besar Muhammad saw. itu.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 15 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar