Sabtu, 17 Januari 2015

Nubuatan Kembalinya "Orang-orang Yahudi Pengembara" ke Palestina & Kesedihan Rasul Akhir Zaman (Al-Masih Mau'ud a.s.) Melihat Perlakuan Buruk Kaumnya Terhadap Al-Quran





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 33

  
Nubuatan Kembalinya “Orang-orang Yahudi Pengembara” ke Palestina & Kesedihan Rasul Akhir Zaman  (Al-Masih Mau’ud a.s.) Melihat Perlakuan Buruk Kaumnya Terhadap Al-Quran

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  firman  Allah Swt.   mengenai nubuatan sikap pembangkangan yang dilakukan umumnya umat Islam terhadap berbagai perintah Allah Swt. dalam QS.3:103-110, dan  penentangan umumnya umat Islam terhadap  perintah Allah Swt.  agar beriman dan membantu perjuangan suci Al-Masih Mau’ud a.s.   di Akhir Zaman ini,  sebagaimana yang dilakukan oleh para Hawari (pengikut) Nabi isa Ibnu Maryam a.s. (QS.61:11-15).    Mengisyaratkan kepada  kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ  --  tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan    terhadapnya,   dan mereka berkata:  اءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ --  "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --   Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
   Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).  Kedatangan Al-Masih a.s.  yang dilahirkan tanpa ayah merupakan tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya.

Perintah Allah Swt. Untuk Beriman Kepada Al-Masih Mau’ud a.s.

       Dalam Bab 29 telah dikemukakan firman  Allah Swt.    kepada umat Islam mengenai perintah-Nya  untuk mengikuti sikap terpuji  para Hawari  (pengikut) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal, yaitu  pentingnya umat manusia  atau umat beragama – terutama sekali umat Islam  yang beriman kepada  Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran  --    untuk beriman kepada Rasul Akhir Zaman yaitu Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ  -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata  kepada pengikut-pengikutnya, مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ -- “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  --  Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong Allah.”   فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- maka segolongan dari Bani Israil beriman  sedangkan segolongan lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ   -- lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang. (Ash-Shaff [61]:15).
        Perintah Allah Swt. kepada  orang-orang beriman – terutama umat Islam  -- untuk meniru sikap terpuji para hawari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut  merupakan peringatan dan juga nubuatan  bahwa mereka jangan sampai meniru sikap buruk  para pemuka kaum Yahudi yang bukan saja mendustakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili, bahkan mereka  berusaha membunuhnya  melalui penyaliban (QS.156-159), yang mengundang kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas mereka, sebagaimana  sebelumnya Nabi Daud a.s. juga telah mengutuk mereka   (QS.5:79-81), firman-Nya:
فَلَمَّاۤ  اَحَسَّ عِیۡسٰی مِنۡہُمُ الۡکُفۡرَ قَالَ مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ ۚ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ ۚ وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ  اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Maka tatkala  Isa merasa   ada  kekafiran pada mereka yakni kaumnya ia berkata:  مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ  --  ”Siapakah penolong-penolongku  dalam urusan Allah?” Para hawari berkata: نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ ۚ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ ۚ وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ  --  Kamilah  para peno-long urusan Allah. Kami beriman kepada Allah, dan  saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah  diri.  رَبَّنَاۤ  اٰمَنَّا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ وَ اتَّبَعۡنَا الرَّسُوۡلَ فَاکۡتُبۡنَا مَعَ الشّٰہِدِیۡنَ  --   Ya Rabb (Tuhan) kami, kami ber-iman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti Rasul ini maka catatlah kami bersama   orang-orang yang menjadi saksi.”    وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --  Dan mereka,  yakni musuh Al-Masih, merancang makara buruk  dan Allah pun merancang makar  tandingan  dan Allah sebaik-baik Perancang makar.   (Ali ‘Imran [3]:53-55).
        Hawariyyun itu jamak dari hawariy, yang berarti: (1) penatu; (2) orang yang diuji dan didapati bebas dari dosa atau kesalahan; (3) orang yang mempunyai watak murni, dan tidak bernoda; (4) orang yang menasihati atau memberi musyawarah atau bertindak jujur dan setia; (5) seorang sahabat atau penolong yang benar dan tulus; (6) seorang sahabat pilihan dan penolong seorang nabi (Lexicon Lane dan Al-Mufradat).

Pengulangan “Duel Makar” Berkenaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

       Makna ayat وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --  Dan mereka,  yakni musuh Al-Masih, merancang makara buruk  dan Allah pun merancang makar  tandingan  dan Allah sebaik-baik Perancang makar”, yakni orang-orang Yahudi telah merencanakan supaya Isa Ibnu Maryam a.s. harus mati terkutuk di atas salib (Ulangan 21:24), tetapi rencana Allah Swt.   adalah beliau harus selamat dari kematian semacam itu.
      Rencana (makar buruk) orang-orang Yahudi gagal dan rencana Ilahi berhasil, sebab beliau tidak mati di atas salib, melainkan diturunkan dalam keadaan hidup, dan wafat secara wajar di Kashmir dalam usia  sangat lanjut  yakni 120 tahun (QS.23:51), dan jauh dari tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban, firman-Nya: 
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi  diazab karena ucapan mereka: اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ  -- “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih  Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ   -- padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,  akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib.  وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ -- Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini, مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ  --  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا  -- dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya.  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --  Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Ali ‘Imran [3]:158-159).
     Makna kata rafa’a (mengangkat)  dalam ayat  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya  dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”   tidak berkaitan dengan pengangkatan tubuh jasmani Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ke langit atau kepada Allah Swt.  – sebagaimana faham sesat yang  umumnya dipercayai  -- melainkan maknanya adalah menyelamatjan  beliau dari makar buruk kaum Yahudi untuk menjatuhkan  martabat ruhani Nabi Isa Ibnu Mayam a.s. sebagai Rasul Allah dari  kehinaan mengalami kematian terkutuk di tiang salib,  sebab menurut Bible: "orang yang tergantung itu kutuklah bagi Tuhan Allah" (Ulangan 21:23).
   Sehubungan keberhasilan Allah Swt. menyelamatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari mengalami kematian terkutuk  di tiang salib dalam  duel makar  tersebut dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan   sumber-sumber mata air yang  mengalir.   (Al-Mu’minūn [23]:51).
      Wilayah yang dimaksud  oleh ayat tersebut adalah dataran  tinggi  Kasymir di wilayah pegunungan Himalaya dimana di  desa Khan Yar, kota Srinagar, terletak makam Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sedangkan makam ibunda beliau, Siti Maryam r.a. terletak di kota Murree  (dibaca Mari yakni Maryam)  yang terletak di perbatasan  Pakistan  dengan Kasymir karena beliau wafat di sana.

Keunggulan Para Pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas  Orang-orang Yahudi

        Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab  29, dari ketiga golongan (sekte) agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  menyampaikan tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  termasuk golongan Essenes sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
     Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum Essenes inilah berasal bagian besar dari para pengikut beliau di masa permulaan  yaitu  golongan hawariyyin (“The Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para  Penolong” oleh Eusephus.
     Kata-kata penutup Surah  Ash-Shaf ayat 15  sungguh sarat dengan nubuatan, yakni: فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- maka segolongan dari Bani Israil beriman  sedangkan segolongan lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ    -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ   -- lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang. (Ash-Shaff [61]:15).
    Kenyataan sejarah membuktikan,  bahwa sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   – walau pun  mereka telah menyimpang jauh dari Tauhid Ilahi yang merupakan ajaran asli beliau dalam Injil  (QS.5:117-119) yakni  umat Kristen – mereka telah menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum yang cerai-berai sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”).

Nubuatan Kembalinya “Orang-orang Yahudi Pengembara” ke Palestina & Dua Kali    Dihukum  Allah Swt.

 Bahkan, ketika mereka dapat kembali ke “Palestina” pun di Akhir Zaman ini pun dari pengembaraan  mereka selama 2000 tahun di berbagai peloksok dunia  tidak lepas dari bantuan negara-negara Kristen dari Barat, firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia (Fir’aun), Kami berfirman kepada Bani Israil: اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ --  Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu,  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا --  dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba  Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.”  (Bani Israil [17]:105).
     Ayat ini mengandung arti bahwa seperti orang-orang Yahudi atau Bani Israil, demikian pula umat Islam    -- yakni Bani Isma’il yang merupakan saudara Bani Israil   --  pun dua kali akan menderita bencana nasional    yaitu  mendapat azab Ilahi akibat kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya (QS.17:5-10).   Azab Ilahi yang pertama dari kedua bencana tersebut  menimpa umat Islam ketika kota Bagdad yang merupakan pusat kekuasaan umat Islam bani ‘Abbas jatuh kepada kekuasaan bangsa Tartar di bawah pimpinan Hulaku Khan.
      Ayat ini (QS.17:5-10)  mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang-orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah Swt. dalam Al-Quran dan terhadap Sunnah Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana  yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi (QS.2:89-91).
      Tetapi  umat Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan Allah Swt. dalam Al-Quran yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara buruk mereka; dan oleh karena itu umat Islam pun  telah dihukum dua kali. Hukuman (azab) Ilahi  menimpa mereka, ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M. Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang  biadab itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu.
    Tetapi dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk agama Islam. Hukuman kedua telah ditakdirkan akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman melalui Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat.
       Puncak kehinaan yang menimpa umat Islam adalah ketika orang-orang Yahudi pengembara kembali ke Palestina dengan bantuan negara-negara Kristen Barat melalui “Balfour Declaration” menggenapi nubuatan dalam Al-Quran  dalam firman-Nya sebelum ini: 
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia (Fir’aun), Kami berfirman kepada Bani Israil: اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ --   Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu,  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا --  dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba  Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.”  (Bani Israil [17]:105).
                Jadi, umat Islam dalam ayat ini   diberitahu, bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman, di masa Al-Masih Mau’ud a.s., seperti orang-orang Yahudi diberi hukuman di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui serbuan dahsyat Titus dari kerajaan Rumawi (Matius 23:37-39 & 24:15-22).
        Ayat ini berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum Allah Swt. untuk kedua kalinya, yang berarti sempurnanya “janji mengenai Akhir Zaman”, maka orang-orang Yahudi akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina) dari semua penjuru dunia dan sekali gus merupakan bukti yang tidak bisa dibantah bahwa Al-Masih Mau’ud a.s. telah datang, yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.. (Ruh-ul-Bayan  oleh Syaikh Isma’il Haqqi).

Kesedihan Rasul Akhir Zaman yakni Al-Masih Mau’ud a.s.

       Namun demikian, sebagaimana halnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili telah mendapat perlakuan buruk dari  kaum Yahudi, demikian juga Al-Masih Mau’ud a.s. pun di Akhir  Zaman ini mendapat perlakuan buruk pula dari  para pemuka kaumnya (umat Islam)   -- yang  menurut Nabi Besar Muhammad saw. merupakan misal kaum Yahudi  -- padahal  tujuan pengutusan kedua rasul Allah tersebut adalah untuk melakukan  perbaikan  di kalangan kaumnya, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.   Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
   Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim di Akhir Zaman ini  tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
        Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang  di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan dalam Al-Quran dan hadits Nabi Besar Muhammad saw. itu.

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 15 Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar