Sabtu, 28 Februari 2015

Perumpamaan Kematian Nabi Yehezkiel a.s. (Nabi Dzulkifli a.s.) & Perumpamaan "Syaitan-syaitan" di Masaq Nabi Sulaiman a.s. serta "Dua Malaikat" Harut dan Marut di Babil




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 67

  
Perumpamaan Kematian Nabi Yehezkiel a.s. (Nabi Dzulkifi a.s.)   & Perumpamaan Syaitan-syaitan di Masa Nabi Sulaiman a.s. Serta “Dua Malaikat” Harut dan Marut  di Babil

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  pemberontakan raja Zedekia yang membawa akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan sesudah masa pengepungan oleh bala tentara raja Nebukadnezar dari Babil yang berlangsung satu tahun setengah, kota Yerusalem  itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar.
      Putra-putra  Zedekia dibunuh dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil. Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia, Jilid 6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).
        Peristiwa itulah yang diisyaratkan  dalam ayat  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ  --   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا  -- dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.”

Nabi Yehezkiel a.s.  &  Perumpamaan   Kematian Kota  Yesusalem Selama 100 Tahun

       Mengisyaratkan kepada peristiwa penghancuran kota  Yerusalem yang pertama itu pulalah firman-Nya berikut ini:
اَوۡ کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ  اللّٰہُ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ  اِلٰی طَعَامِکَ وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ  اَنَّ اللّٰہَ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Atau  seperti perumpamaan orang yang melalui suatu kota  yang  dinding-dindingnya telah runtuh    atas atap-atapnya, kemudian ia berkata: “Kapankah Allah akan menghidupkan kembali kota ini sesudah  kematian  yakni kehancurannya?” Lalu Allah mematikannya seratus tahun  lama-nya, kemudian Dia membangkitkannya lagi dan berfirman: “Berapa lamakah engkau tinggal dalam keadaan seperti ini?” Ia berkata: “Aku tinggal sehari atau sebagian hari. Dia berfirman:  “Tidak, bahkan  engkau telah tinggal seratus tahun lamanya. Tetapi lihatlah makanan engkau dan minuman engkau, itu sekali-kali tidak membusuk, dan lihat pulalah keledai engkau,  dan Kami melakukan demikian itu supaya Kami menjadikan engkau sebagai Tanda bagi manusia. Dan  lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami menatanya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala kenyataan ini menjadi jelas baginya ia berkata: “Aku mengetahui bahwa sesungguh-nya Allāh berkuasa atas segala se-suatu.”  (Al-Baqarah [2]:260).
        Kota hancur yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah Yerusalem, dibinasakan oleh serangan balatentara  Nebukadnezar, Raja Babil pada tahun 599 sebelum Masehi. Nabi Yehezkiel a.s.   ada di antara rombongan orang-orang Yahudi yang diboyong Nebukadnezar sebagai tawanan perang ke Babil dan diharuskan melalui kota Yerusalem yang telah dibinasakan itu dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.
        Nabi Yehezkiel a.s.  tentu  sangat terkejut melihat pemandangan menyedihkan itu dan berdoa kepada Allah Swt. dengan kata-kata yang penuh keharuan luar biasa, kapan kiranya kota yang hancur itu akan dihidupkan kembali. Doanya makbul dan kepada beliau diperlihatkan kasyaf bahwa pembangunan kembali kota yang dimintakan dalam doa itu akan terjadi dalam waktu 100  tahun.
        Ayat itu tidak mengandung arti bahwa Nabi Yehezkiel a.s. sungguh-sungguh mati selama 100 tahun. Beliau hanya melihat kasyaf (penglihatan gaib dalam keadaan bangun (vision) bahwa beliau mati dan tetap dalam keadaan mati selama 100 tahun dan kemudian hidup kembali. Al-Quran kadang-kadang menyebut pemandangan-pemandangan dalam kasyaf seolah-olah sungguh-sungguh terjadi tanpa menyatakan bahwa penglihatan-penglihatan itu disaksikan dalam kasyaf atau mimpi (QS.12:5).
       Kasyaf itu menunjukkan  --  dan Nabi Yehezkiel a.s.   paham akan artinya  --  bahwa Bani Israil selama kira-kira 100 tahun akan tetap dalam keadaan tawanan dan keadaan kemunduran nasional secara total, maka sesudah itu mereka akan mendapat kehidupan baru dan akan kembali ke kota suci mereka (Yerusalem).    Dan ini sungguh-sungguh telah terjadi seperti Nabi Yehezkiel a.s...  telah melihatnya dalam mimpi  (kasyaf).
      Yerusalem direbut oleh Nebukadnezar pada tahun 599 sebelum Masehi (2 Raja-raja 24: 10). Nabi Yehezkiel a.s.  mungkin melihat kasyaf pada tahun 586 sebelum Masehi. Kota Yerusalem  itu didirikan kembali kira-kira seabad (100 tahun) sesudah  kehancurannya.
         Pembangunannya kembali dimulai pada 537 sebelum Masehi dengan izin dan bantuan Cyrus – yakni Dzulqarnain  --  Raja Persia dan Midia, dan selesai pada tahun 515 sebelum Masehi. Orang-orang Bani Israil masih memerlukan 15 tahun lagi untuk menghuninya dan dengan  demikian pada hakekatnya seabad  (100 tahun)  telah lewat antara hancurnya Yerusalem dan dihidupkannya kembali.
       Adalah penafsiran  yang kekanak-kanakan sekali jika  Allah Swt.   sungguh-sungguh mematikan dan  mematikan Nabi Yehezkiel a.s.   selama 100 tahun dan kemudian menghidupkan beliau kembali, sebab hal itu niscaya tidak akan merupakan jawaban atas doanya yang bukan mengenai kematian dan kebangkitan kembali seseorang tertentu melainkan mengenai sebuah kota (Yerusalem) yang menampilkan suatu kaum seutuhnya  (Matius 23:37-39).

Syaitan-syaitan” di Masa Kerajaan Nabi Sulaiman a.s

         Orang-orang Yahudi menyesuaikan diri mereka dengan keadaan baru di masa pembuangan di Babil. Kebanyakan di antara mereka telah dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babil Tengah, dan banyak dari mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan dan mencapai kedudukan yang berpengaruh.   
      Keyakinan dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali; kepustakaan kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali, dan disesuaikan dengan keperluan kaum yang sedang hidup kembali itu, serta harapan untuk mereka kembali ke Palestina telah dikobarkan dan dipupuk.  Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah ayat  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ   --   Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri” (Bani Israil ayat  8).  
         Kira-kira pada tahun 545 s.M., cita-cita  mereka  memperoleh bentuk lebih jelas. Kaum Yahudi membuat suatu perjanjian rahasia dengan Cyrus, raja Media dan Persia, dan membantu beliau menaklukkan Babil. Kota itu dalam bulan Juli tahun 539 s.M. jatuh kepada tentaranya tanpa perlawanan. Sebagai ganjaran atas jasa-jasa mereka, Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan juga membantu mereka membangun kembali rumah peribadatan mereka (Historians’ History of the World, jilid II, hlm. 126; Jewish Encyclopaedia, jilid 7, pada kata “Cyrus”, dan 2 Tawarikh 36:22, 23).
         Mengisyaratkan kepada kerjasama rahasia antara orang-orang Yahudi buangan di Babil dengan raja Cyrus itu pulalah kisah “dua malaikat” Harut  dan Marut, sedangkan yang dimaksud dengan syaitan  pada masa kerajaan Nabi Sulaiman a.s. adalah orang-orang yang durhaka  di kalangan Bani Israil  yang selalu merongrong pemerintahan  Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., yang akibatnya mereka dihukum oleh Allah Swt. melalui serbuan dahsyat balatentara raja Nebukadnezar, berikut firman-Nya mengenai persamaan kedurhakaan orang-orang Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan para pemberontak di zaman Nabi Sulaiman a.s.:
وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ  وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ  وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ  بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ  اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ  اَنۡفُسَہُمۡ  ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka mengikuti apa yang diikuti  oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa   kerajaan Sulaiman, dan bukan Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan  itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir  kepada manusia. Tetapi orang-orang Yahudi itu mengaku  mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua  malaikat, Harut dan Marut, di Babil. Padahal keduanya tidaklah mengajar seorang pun hingga  mereka mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan dari Tuhan, karena itu janganlah kamu kafir.”  Lalu  orang-orang belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istrinya, dan mereka sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada seorang pun dengan itu kecuali dengan seizin Allah, sedangkan  mereka (orang-orang Yahudi) ini  belajar hal yang mendatangkan mudarat kepada diri mereka dan tidak bermanfaat   baginya. Dan sungguh mereka benar-benar mengetahui bahwa barangsiapa berniaga dengan cara ini niscaya tidak ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, dan benar-benar sangat buruk hal yang untuk itu mereka menjual dirinya, sean-dainya mereka mengetahui.  (Al-Baqarah [2]:103).

Dua “Malaikat”  Harut dan Marut di Babil

       Kata “dua malaikat” di sini maksudnya dua orang suci (QS.12:32), sebab kedua malaikat itu di sini diterangkan sebagai mengajar sesuatu kepada orang banyak, padahal malaikat itu tidak pernah tinggal bersama manusia dan tidak bergaul bebas dengan mereka (QS.17:95; QS.21:8).
      Harūt dan Marūt itu keduanya nama sifat, yang pertama berasal dari harata (yakni merobek — Aqrab) berarti  “orang merobek”, dan yang kedua berasal dari marata (artinya: ia memecahkan) berarti orang yang memecahkan. Nama-nama itu mengandung arti bahwa tujuan munculnya dua orang suci itu adalah  untuk “merobek” dan “memecahkan” kemegahan dan kekuasaan kerajaan musuh-musuh kaum Bani Israil, yakni Nebukadnezar.
        Kedua orang  suci tersebut pada waktu upacara pelantikan menerangkan kepada anggota-anggota baru  bahwa mereka itu semacam  cobaan (ujian) dari Allah Swt.  untuk maksud memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Mereka membatasi keanggotaan perkumpulan rahsia mereka hanya pada kaum pria. Itulah makna kalimat “Lalu  orang-orang belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istrinya.
        Ayat itu berarti bahwa orang-orang Yahudi pada masa  Nabi Besar Muhammad saw.  ikut-ikutan dalam rencana dan perbuatan jahat yang sama, seperti halnya yang menjadi ciri nenek-moyang mereka di zaman Nabi Sulaiman a.s., yakni “syaitan-syaitan” yang artinya adalah para “pemberontak. 
      Dikatakan selanjutnya bahwa perusuh-perusuh di zaman Nabi Sulaiman a.s. adalah pemberontak-pemberontak yang menuduh beliau sebagai orang kafir. Ayat ini membersihkan Nabi Sulaiman a.s.  dari tuduhan kafir serta berbagai fitnah keji lainnya, sebagaimana dikemukakan dalam Bible terhadap Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s..
        Ditambahkannya bahwa pemberontak-pemberontak di zaman Nabi Sulaiman a.s.  itu mengajarkan kepada rekan-rekan mereka sandi-sandi (lambang-lambang rahasia) yang mengandung  arti yang sama sekali berbeda dari arti yang umumnya dipahami, dengan tujuan menipu orang dan menyembunyikan maksud sebenarnya, karena itu dalam ayat tersebut mereka disebut mengajarkan sihir.
       Sihr berarti: akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain dari kenyataannya (Lexicon Lane). Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan orang, adalah termasuk sihir juga.
      Ayat ini mengisyaratkan kepada sekongkol rahasia yang dilancarkan para penentang Nabi Sulaiman a.s. terhadap beliau. Dengan jalan itu mereka berusaha menghancurkan kerajaannya. Hal itu mengandung arti bahwa orang-orang Yahudi di Medinah  pun  mempergunakan pula siasat kotor yang sama terhadap  Nabi Besar Muhammad saw.  tetapi mereka tidak akan berhasil dalam rencana-rencana jahatnya itu.

Orang-orang Yahudi   Menghasut Kisra Persia

       Ketika orang-orang Yahudi menyaksikan kekuasaan Islam terus-menerus meluas dan perlawanan terhadap Islam di tanah Arab telah dihancurkan sepenuhnya, lagi mereka tidak dapat menghentikan atau memperlambat kemajuannya, mereka mulai menghasut orang-orang luar melawan Islam. Dan karena ditindas dan dizalimi  oleh penguasa-penguasa kerajaan Kristen, mereka mencari perlindungan di Persia serta memindahkan pusat agama mereka dari Yehuda ke Babil (Hutchison’s of Nation’s, halaman 550). Berangsur-angsur mereka mulai memasukkan pengaruh besarnya ke dalam istana raja-raja Persia dan mulai membuat komplotan terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw..
       Ketika Khusru II menerima surat dari Nabi Besar Muhammad saw.   mengajaknya agar menerima Islam, mereka berhasil menghasutnya supaya mengirimkan perintah kepada Badhan, Gubernur Yaman, yang pada masa itu merupakan propinsi Persia, agar menangkap dan mengirimkan  Nabi Besar Muhammad saw. sebagai tawanan dengan dirantai ke istana Persia. Kepada komplotan-komplotan dan sekongkol orang-orang Yahudi di zaman  Nabi Besar Muhammad saw.  itulah    Al-Baqarah [2]:103    menunjuk.
      Perhatian mereka ditarik kepada kenyataan bahwa pertama nenek-moyang mereka pun  telah melancarkan komplotan  terhadap Nabi Sulaiman a.s.  ketika beberapa anggota masyarakatnya telah mendirikan perkumpulan-perkumpulan rahasia melawan beliau.
       Di dalam perkumpulan-perkumpulan rahasia itu diajarkan lambang-lambang dan sandi-sandi  (I Raja-raja 11:29-32; I  Raja-raja 11:14, 23, 26; II Tawarikh 10:2-4). Kejadian kedua ketika mereka menghidupkan kembali perkumpulan-perkumpulan rahasia ialah pada waktu mereka masih dalam tawanan di Babil pada zaman Raja Nebukadnezar.
        Dua orang suci yang disebut “dua malaikat” yang disinggung dalam ayat ini ialah Nabi Hijai a.s., dan Zakaria bin Ido (Ezra 5:1). Dua orang suci itu membatasi keanggotaannya pada kaum pria, dan menerangkan kepada para anggota baru pada waktu upacara pelantikan bahwa mereka itu semacam cobaan dari Tuhan, dan bahwa oleh karena itu kaum Bani Israil hendaknya jangan mengingkari apa-apa yang dikatakan mereka.
      Ketika kekuasaan Cyrus — raja Media dan Persia — bangkit, orang-orang Bani Israil di Babil mengadakan perjanjian rahasia dengan beliau. Hal demikian sangat mempermudah untuk mengalahkan Babil. Sebagai imbalan atas jasa itu, Cyrus bukan saja mengizinkan mereka kembali ke Yeruzalem, tetapi membantu mereka pula dalam pembangunan kembali Rumah Peribadatan Nabi Sulaiman a.s. (Historians’ History of the World, ii 126). 
         Jadi, Surah Al-Baqarah ayat 103) tersebut mengisyaratkan bahwa upaya-upaya kaum Yahudi pada dua peristiwa yang telah lewat itu telah membawa hasil-hasil berlainan. Pada peristiwa pertama, komplotan mereka bertujuan untuk melawan Nabi Sulaiman a.s. dan disudahi dengan kehilangan seluruh kewibawaan mereka dan akhirnya mereka dibuang ke Babil oleh Nabukadnezar.  Pada peristiwa kedua, di Babil  mereka mengambil cara-cara yang sama, di bawah pimpinan dua wujud yang mendapat wahyu Ilahi, dan mereka berhasil gilang-gemilang.  
       Untuk menegaskan bahwa  apakah kegiatan kaum Yahudi terhadap Nabi Besar Muhammad saw. akan menemui kegagalan seperti dialami mereka di masa Nabi Sulaiman a.s.,  ataukah akan berhasil seperti di Babil, maka Al-Quran menyatakan:  وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  -- dan mereka ini (orang-orang Yahudi musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw.)  belajar hal yang mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak bermanfaat bagi mereka”, mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan berhasil seperti keberhasilan nenek-moyang mereka di Babil.

 Orang-orang Yahudi    Kembali dari Pembuangan di Babil Ke Palestina

      Sesuai dengan   firman Allah Swt. dalam QS.2:103 mengenai Nabi Yehezkiel a.s yang “hidup kembali” dari “kematian selama 100 tahun” dalam mimpi (kasyaf) yang dialaminya, Syesybazzar (seorang gubernur Cyrus) yang berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan  di Yerusalem I  alat-alat  dan perkakas yang telah dirampas oleh Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan membelanjakan uang kerajaan.
     Sejumlah besar orang Yahudi buangan kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5). Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan berangsur-angsur maju terus dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s.  jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi (Ulangan 30:1-5).
       Jadi, itulah makna firman Allah Swt. mengenai hukuman yang pertama dari dua hukuman-Nya kepada Bani Israil:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali,  dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ  --   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا  -- dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar  dari sebelumnya.  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ   --   Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri,  وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  --  Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu,  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ    --  Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu,   dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا  --  dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.  (Bani Israil [17]:5-8).
        Jadi, itulah makna ayat اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ   --   Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri,  وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri” (Bani Israil ayat 8).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 27  Februari      2015