بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 18
Peran Wahyu Ilahi Untuk Mengeluarkan Khazanah “Madu
Ruhani” Al-Quran Sebagai “Obat
Penyembuh” Segala Macam Penyakit Akhlak dan Ruhani Umat Manusia
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai “kebebasan memilih dan bersikap” yang diberikan Allah Swt. kepada manusia: وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ -- Dan
katakanlah: ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan)
kamu, فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ -- karena itu
barangsiapa menghendaki maka berimanlah,
dan barangsiapa menghendaki maka kafirlah”
(QS.18:30), Allah Swt. dalam Surah lain berfirman:
لَاۤ
اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ
یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ
الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ
اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ
یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی
الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ﴿﴾٪
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh
jalan benar itu nyata bedanya
dari kesesatan, فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ
الۡوُثۡقٰی -- karena
itu barangsiapa kafir kepada thāghūt
dan beriman kepada Allah,
maka sungguh ia telah berpegang kepada suatu
pegangan yang sangat kuat lagi لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- tidak akan putus, dan Allah
Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
اَللّٰہُ
وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ -- Allah adalah Pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya,
وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ
الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ -- dan orang-orang kafir
epelindung mereka adalah thāghūt, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai
kege-lapan, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka
itu penghuni Api, me-reka kekal di
dalamnya. (Al-Baqarah [2]: 157-158).
Ajaran Islam (Al-Quran) Melarang
Melakukan Paksaan dan Kekerasan
Ayat 157 melenyapkan salah paham itu dan bukan saja dengan kata-kata yang sangat tegas melarang kaum Muslimin mempergunakan kekerasan dalam rangka menarik orang-orang bukan-Muslim masuk Islam,
tetapi memberikan pula alasan-alasan
mengapa kekerasan tidak boleh dipakai
untuk tujuan tersebut. Alasan itu
ialah karena kebenaran itu nyata berbeda dari kesesatan maka tidak ada alasan
untuk membenarkan penggunaan kekerasan
karena Islam (Al-Quran) adalah kebenaran yang nyata.
Thāghūt
dalam ayat فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ
الۡوُثۡقٰی -- karena
itu barangsiapa kafir kepada thāghūt
dan beriman kepada Allah,
maka sungguh ia telah berpegang kepada suatu
pegangan yang sangat kuat lagi لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- tidak akan putus,” adalah:
orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas
kewajaran; iblis; orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala.
Kata itu dipakai dalam arti mufrad dan jamak (QS.2:258 dan QS.4:61).
Jadi, kembali kepada pentingnya keberadaan
dan kesinambungan wahyu Ilahi
berkenaan dengan lebah madu,
firman-Nya:
وَ اَوۡحٰی
رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ
الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ کُلِیۡ
مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ
بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ
فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ
یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepada lebah: اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ
بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ -- “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon
dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ
سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا -- kemudian
makanlah dari setiap buah-buahan,
dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan.” یَخۡرُجُ مِنۡۢ
بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ
فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ -- keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ
یَّتَفَکَّرُوۡنَ -- sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan. (An-Nahl [16]: 69-70).
Dengan perkataan lain, makna ayat
وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ -- “Dan Rabb
(Tuhan) engkau telah mewahyukan
kepada lebah” dan ayat
وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ
اَمۡرَہَا --
dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap
langit tugasnya,” bahwa segala benda dan makhluk memenuhi tujuan
kejadiannya hanya dengan bekerja
menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya.
Lebah telah
dipilih sebagai satu contoh yang
menonjol sekali, sebab organisasi berupa suatu “jama’ah” dan cara kerjanya
yang menakjubkan itu bahkan berkesan pula kepada orang yang melihatnya
secara sambil lalu saja, dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat
apa pun.
Al-Quran Adalah “Madu Ruhani” yang Paling Sempurna
Pokok masalah lebah telah dipaparkan dalam
ayat selanjutnya: ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ
سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ
اَلۡوَانُہٗ فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ -- “kemudian makanlah dari setiap buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan,
keluar dari perutnya minuman
beraneka warnanya, di dalamnya ada obat
penyembuh bagi manusia, sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan,” yakni Allah Swt. mengilhamkan
kepada lebah untuk menghimpun makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Allah Swt. kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu.
Madu mempunyai bermacam-macam warna dan rasa, akan tetapi semua coraknya yang berbeda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia. Hal ini
mengandung arti bahwa wahyu telah
terus-menerus turun kepada nabi-nabi Allah
di berbagai zaman, dan bahwa ajaran-ajaran
seorang nabi Allah dalam beberapa hal
yang kecil-kecil berbeda dari ajaran-ajaran nabi-nabi Allah lain,
walaupun demikian semuanya itu merupakan sarana-sarana
untuk menghidupkan akhlak dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau
diutus.
Dari semua wahyu
Ilahi atau madu ruhani yang diturunkan kepada para Rasul Allah tersebut, yang paling sempurna adalah wahyu Al-Quran yang diturunkan Allah
Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. melalui malaikat Jibril a.s. atau Ruh
-al-Amīn (QS.26:193-198),
firman-Nya:
وَ مَا
کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ
اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ
وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ
اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ
مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ﴿ۙ﴾ صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya اِلَّا وَحۡیًا -- kecuali dengan wahyu, اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ -- atau dari
belakang tabir, اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ
بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ -- atau dengan
mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki, اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ -- sesungguhnya
Dia
Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah
Kami. مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَ -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا
نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur,
yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada
siapa yang Kami kehendaki dari
antara hamba-hamba Kami. وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan sesungguhnya engkau
benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ
تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.
(Asy-Syurā [42]:52-54).
Pernyataan Allah Swt. mengenai salah
satu khasiat madu lebah sebagai obat
penyembuh yang dikemukakan dalam
ayat ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ
سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ -- “kemudian makanlah dari setiap buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan,
یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ
مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ فِیۡہِ شِفَآءٌ
لِّلنَّاسِ ؕ -- keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya
ada obat penyembuh bagi manusia, اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ -- sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan,” hal senada dikemukakan pula mengenai
Al-Quran sebagai “madu ruhani” paling sempurna yang memiliki multi
khasiat, firman-Nya:
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ
الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا ﴿﴾
Dan Kami
menurunkan dari Al-Quran مَا ہُوَ
شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- suatu penyembuh
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا
یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا -- tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani Israil [17]:83). LIhat
pula QS.12:112; QS.16:90.
Dalam firman-Nya
berikut ini Allah Swt. menyebutkan beberapa fungsi
dan khasiat
Al-Quran lainnya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡکُمۡ مَّوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ
وَ شِفَآءٌ لِّمَا فِی الصُّدُوۡرِ ۬ۙ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ اللّٰہِ وَ بِرَحۡمَتِہٖ
فَبِذٰلِکَ فَلۡیَفۡرَحُوۡا ؕ ہُوَ خَیۡرٌ مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Hai manusia, قَدۡ جَآءَتۡکُمۡ مَّوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ -- sungguh
telah datang kepada kamu suatu
nasihat dari Rabb (Tuhan) kamu, وَ شِفَآءٌ لِّمَا فِی الصُّدُوۡرِ -- dan penyembuh
untuk apa yang ada di dalam dada, لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَحۡمَۃٌ وَ ہُدًی وَّ -- serta petunjuk
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah:
“Semuanya itu dengan karunia
Allah dan dengan rahmat-Nya, maka
dengan itulah mereka hendaknya
bergembira, -- yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan!” (Yunus [10]:58-59).
Al-Quran disebut mau’izhah (nasihat) dalam ayat “Hai manusia, sungguh telah datang kepada kamu suatu nasihat
dari Rabb (Tuhan) kamu,” sebab:
(a) Al-Quran mengandung ajaran-ajaran yang bertolak dari keinginan-keinginan murni untuk memberi nasihat
yang baik,
(b) Ajaran Al-Quran itu telah
diperhitungkan akan mempengaruhi dan menyentuh hati sanubari manusia
sedalam-dalamnya.
(c) Al-Quran telah mengemukakan
dengan cara yang indah segala dasar
dan kaidah mengenai amal perbuatan yang menuju kepada perubahan akhlak dan sukses
dalam kehidupan.
Menurut Allah Swt. untuk dapat
mengeluarkan khazanah “madu ruhani“ Al-Quran tersebut peran wahyu Ilahi mutlak diperlukan, sebab dalam firman Allah Swt.
sebelumnya Allah Swt. telah menyatakan bahwa walau pun Al-Quran merupakan “obat penyembuh”, bagi penyakit dalam
dada (hati), tetapi Al-Quran tidak
menambah bagi orang-orang zhalim melainkan kerugian
(QS.17:83) serta dapat menjadi penyebab “kesesatan”
dan “batu
sandungan” bagi orang-orang yang berhati
bengkok (QS.2:27; QS.3:8-9).
Dalam firman Allah Swt. sebelumnya (QS.42:52-54)
Allah Swt. menyebut tiga cara Allah Swt.
berbicara atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a) Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara,
sebagaimana contohnya dialog yang
terjadi antara Allah Swt. dengan Nabi Musa a.s. (QS.4:164-165;
QS.28:30-36): وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ
یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ -- Dan sekali-kali
tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah
berbicara kepadanya اِلَّا وَحۡیًا -- “kecuali dengan wahyu.”
(b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), اَوۡ مِنۡ
وَّرَآیِٔ حِجَابٍ -- “atau dari
belakang tabir” yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau
kadang-kadang membuat mereka mendengar
kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud yang berbicara
kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari
belakang tabir" seperti yang dialami oleh Maryam tentang kelahiran
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.3:43-44; 19: 17-22).
(c) Allah Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat
Ilahi (QS.2:98-99; QS.26:193-198): اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ -- “atau dengan
mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia
kehendaki, اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ -- sesungguhnya
Dia
Maha Tinggi, Maha Bijaksana.”
Al-Quran di dalam ayat selanjutnya disebut rūh
(nafas hidup — Lexicon Lane),
sebab dengan perantaraannya bangsa yang
telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru, itulah makna firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا
مِّنۡ اَمۡرِنَا -- Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau ruh (firman) ini dengan perintah
Kami.”
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا
نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur,
yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada
siapa yang Kami kehendaki dari
antara hamba-hamba Kami,” yakni bahwa Islam (Al-Quran) adalah kehidupan,
nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt. dan menyadarkan
manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya: صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang
ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.”
Makna ayat اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ
تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ – “Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali,”
bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di Tangan Allah Swt., termasuk pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai syariat dan Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) serta jaminan pemeliharaannya
(QS.15:10).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 31 Desember
2014