بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 34
Pentingnya
Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Malaikat dan Manusia & Nabi Besar
Muhammad Saw. “Khalifah Allah” dan “Muslim” Paling Agung
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas firman Allah Swt.
mengenai Puncak kehinaan yang
menimpa umat Islam adalah ketika
orang-orang Yahudi pengembara –
sesuai dengan nubuatan dalam Al-Quran (QS.17:105) -- kembali ke Palestina dengan bantuan negara-negara Kristen Barat melalui “Balfour Declaration” menggenapi nubuatan dalam Al-Quran dalam firman-Nya sebelum ini:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ
لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia (Fir’aun), Kami berfirman kepada Bani Israil: اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ -- ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, فَاِذَا جَآءَ
وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا -- dan apabila
janji mengenai akhir zaman tiba Kami akan menghimpun kamu semuanya dari
antara berbagai bangsa.” (Bani
Israil [17]:105).
Jadi, umat Islam dalam ayat ini diberitahu, bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman, di masa Al-Masih
Mau’ud a.s., seperti orang-orang
Yahudi diberi hukuman di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. melalui serbuan dahsyat Titus
dari kerajaan Rumawi (Matius 23:37-39 & 24:15-22).
Ayat ini berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum Allah Swt. untuk kedua kalinya, yang berarti sempurnanya “janji
mengenai Akhir Zaman”, maka orang-orang
Yahudi akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina) dari semua
penjuru dunia dan sekali gus merupakan bukti
yang tidak bisa dibantah bahwa Al-Masih Mau’ud a.s. telah datang,
yakni Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.. (Ruh-ul-Bayan oleh Syaikh Isma’il Haqqi).
Kesedihan Rasul Akhir Zaman
yakni Al-Masih Mau’ud a.s.
Namun demikian, sebagaimana halnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili telah
mendapat perlakuan buruk dari kaum
Yahudi, demikian juga Al-Masih Mau’ud
a.s. pun di Akhir Zaman ini mendapat perlakuan buruk pula dari
para pemuka kaumnya (umat
Islam) -- yang menurut Nabi Besar Muhammad saw. merupakan misal kaum Yahudi -- padahal
tujuan pengutusan kedua rasul
Allah tersebut adalah untuk melakukan
perbaikan di kalangan kaumnya, yakni untuk mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali secara damai (QS.61:0), firman-Nya:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau
sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan
kepada mereka yang menamakan diri orang-orang
Muslim di Akhir Zaman ini tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama
14 abad ini di mana Al-Quran demikian
rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini. Contohnya
telah dikemukakan mengenai kedurhakaan terhadap perintah Allah Swt. dalam
QS.3:103-106 agar mereka berpegang teguh
pada Tali Allah dan jangan berpecah-belah.
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari
Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh
masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan
dalam Al-Quran dan hadits Nabi Besar Muhammad saw. itu.
Nubuatan Dalam Surah Al-Burūj Mengenai Kesudahan Tragis Para Pembuat “Parit Api” Kezaliman
Dalam Surah Al-Burūj, setelah Allah Swt. bersumpah
dengan syāhid (saksi) dan masyhūd (yang disaksikan), lalu dalam ayat 5-9
disebutkan mengenai musuh-musuh kebenaran
yang menyalakan api penganiayaan
terhadap orang-orang beriman yang bertakwa
di tiap kurun zaman kenabian
(QS.7:35-37) serta membiarkannya tetap bernyala, -- termasuk di Akhir Zaman ini terhadap para pengikut Al-Masih Mau’ud a.s. -- kesudahan mereka
yang tragis dinubuatkan dalam ayat 11,
firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ
الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا
فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ
الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ اِنَّ بَطۡشَ
رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang menyiksa orang-orang
beriman laki-laki dan perempuan
kemudian mereka tidak bertaubat, فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ
عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ -- maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar. Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ -- sesungguhnya
cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat
keras. (Al-Burūj [85]:11-13).
Dengan demikian benarlah firman Allah
Swt. mengenai Nabi Besar Muhammad saw. sebagai masyhūd (yang diberi kesaksian) serta Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. – sebagai
syāhid yang memberi kesaksian mengenai
kesempurnaan akhlak ruhani Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai Khātaman Nabiyyīn
(QS.33:41) serta mengenai kesempurnaan
dan keabadian agama Islam (Al-Quran)
sebagai agama dan Kitab suci yang terakhir dan tersempurna
(QS.5:4), firman-Nya:
اَفَمَنۡ کَانَ
عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ
قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا
وَّ رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ
بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا
تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ
الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah orang yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya)
وَ
یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ -- dan ia
akan disusul pula oleh seorang saksi
dari-Nya untuk memuktikan kebenarannya, dan yang sebelumnya telah
didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat dikatakan seorang penipu? اُولٰٓئِکَ
یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ -- mereka itu beriman kepadanya, وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ
فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ -- dan
barangsiapa dari golongan itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan
baginya. فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭
اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ -- karena itu janganlah
engkau ragu-ragu mengenainya, اِنَّہُ الۡحَقُّ
مِنۡ رَّبِّکَ -- sesungguhnya
itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ -- tetapi kebanyakan
manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).
Kesinambungan Pengutusan Para Rasul Allah
Kembali kepada firman-Nya berikut ini
mengenai kedatangan misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman -- yakni Al-Masih
Mau’ud a.s. – Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا
ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ
مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- tiba-tiba kaum engkau meneriakkan
penentangan terhadapnya, dan
mereka berkata: اءَ اٰلِہَتُنَا
خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ -- "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak
menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka
adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا
عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami anugerahi
nikmat kepadanya, dan Kami
menjadikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf
[43]:58-60).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
salah satu alasan dari sekian banyak alasan pengutusan Al-Masih Mauud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
tersebut:
وَ
لَوۡ نَشَآءُ لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً فِی الۡاَرۡضِ
یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ
لَعِلۡمٌ لِّلسَّاعَۃِ فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ
ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾ وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan
seandainya Kami menghendaki niscaya Kami
menjadikan malaikat dari antara kamu
sebagai penerus di bumi. وَ
اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ لِّلسَّاعَۃِ
-- tetapi sesungguhnya
ia (misal Isa) benar-benar pengetahuan mengenai Saat,
فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ -- maka janganlah
ragu-ragu mengenainya dan ikutilah
aku, ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ -- inilah jalan
lurus. وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ -- Dan
janganlah syaitan mengha-lang-halangi
kamu, sesungguhnya ia bagimu adalah
musuh yang nyata. (Az-Zukhruf [43]:61-63).
Para malakat tidak dapat dijadikan contoh
dan model bagi manusia; oleh karena
itu, Allah Swt. senantiasa mengutus manusia sebagai rasul-Nya (QS.7:35-37) guna menyampaikan
kehendak-Nya kepada manusia dan untuk menjadi contoh dan teladan bagi manusia.
Pengutusan Para Malaikat Seiring
dengan Pengutusan Rasul Allah
Namun sudah merupakan Sunnatullah, seiring dengan pengutusan rasul Allah dari kalangan manusia,
demikian juga Allah Swt, pun mengutus pula para malaikat untuk membantu perjuangan
suci para Rasul Allah tersebut serta untuk menyampaikan wahyu Ilahi kepada rasul
Allah tersebut (QS.71:27-29), firman-Nya:
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Dia mengetahui apa pun yang di hadapan mereka dan apa pun yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan
(Al-Hājj
[22]:76-77).
Firman-Nya
lagi:
لَہٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ
خَلۡفِہٖ یَحۡفَظُوۡنَہٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰی
یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ؕ وَ اِذَاۤ اَرَادَ
اللّٰہُ بِقَوۡمٍ سُوۡٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَہٗ ۚ وَ مَا لَہُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖ
مِنۡ وَّالٍ ﴿﴾
Untuk dia yakni
rasul مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ
خَلۡفِہٖ یَحۡفَظُوۡنَہٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ -- ada pergiliran malaikat-malaikat di hadapannya
dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.
اِنَّ اللّٰہَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰی
یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ -- sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mere-ka sendiri mengubah apa yang ada pada
diri mereka. وَ اِذَاۤ اَرَادَ
اللّٰہُ بِقَوۡمٍ سُوۡٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَہٗ -- dan
apabila Allah menghendaki untuk menghukum suatu kaum maka tidak ada yang dapat menghindarkannya, وَ مَا لَہُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖ
مِنۡ وَّالٍ -- dan
tidak ada bagi mereka penolong
selain dari Dia. (Ar-Rā’d
[13]:12).
Yang dimaksudkan oleh kata al-mu’aqqibat
ialah malaikat-malaikat malam hari
dan siang hari, sebab mereka itu menggantikan
satu sama lain secara bergiliran.
Oleh karena para malaikat melakukan
hal demikian berulang kali, maka bentuk jamak muannats (betina) itulah
yang dipakainya di sini, dikarenakan dalam bahasa Arab bentuk muannats
kadang-kadang dipakai untuk memberi tekanan atau untuk menyatakan bahwa sesuatu itu sering terjadi.
Kata yang diterjemahkan di sini “pergiliran
malaikat-malaikat”, mungkin mengisyaratkan kepada makhluk-makhluk samawi, atau kepada para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. yang setia,
yang menjaga beliau saw. tanpa
memperhitungkan bahaya terhadap jiwa
mereka sendiri.
Menjadi Musuh Malaikat
Jibril a.s.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
pengutusan para malaikat sehubungan dengan pengutusan
seorang Rasul Allah:
عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ
یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ
اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا
لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ
عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ -- kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا -- maka sesungguhnya barisan pengawal malaikat-malaikat berjalan di hadapannya dan di belakangnya, لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ -- supaya Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan
Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا
لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ
عَدَدًا -- dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:2729).
Jadi, kembali kepada firman-Nya mengenai kesinambungan pengiriman rasul-rasul
dari kalangan malaikat
dan manusia (QS.22:76), firman Allah
tersebut membantah itikad sesat lā
nabiya bada’hu (tidak akan ada lagi nabi setelahnya – QS.40-35-36) yang
menjadi penyebab utama kemunduran umat
Islam di Akhir Zaman sebab dengan itikad sesat seperti itu mereka
pun -- seperti halnya orang-orang
Yahudi -- telah menjadi musuh bagi malaikat Jibril a.s. (QS.2:98-99) yang diberi wewenang oleh Allah Swt. menyampaikan petunjuk-Nya berupa wahyu Ilahi kepada umat manusia melalui Rasul Allah (QS.42:53-54), firman-Nya:
اَللّٰہُ
یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا
وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. Dia mengetahui apa pun yang di hadapan mereka dan apa pun yang di belakang
mereka, ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ
تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- dan kepada
Allah-lah segala urusan dikembalikan (Al-Hājj [22]:76-77).
Nabi Besar Muhammad Saw. Khalifah Allah Paling Agung
Karena
para rasul Allah -- terutama
Nabi Besar Muhammad saw. – merupakan para Khalifah
Allah di zamannya masing-masing sebagaimana halnya Nabi Adam a.s. merupakan Khalifah
Allah di zamannya (QS.2:31-35), yang kepadanya Allah Swt. telah
memerintahkan para malaikat untuk “sujud” (patuh taat sepenuhnya - QS.2:35;
QS.7:12-13; QS.15:29-33; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77),
demikian pula dalam ayat selanjutnya Allah Swt. memerintahkan hal yang sama kepada umat Islam, agar memperoleh kesuksesan dalam kehidupan mereka di dunia
dan di akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ
عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ﴿٪﴾
Hai
orang-orang yang ber-iman, rukuklah
kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan. وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ -- Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, ہُوَ
اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan
kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
Dia telah memberi kamu nama Muslimin
dahulu dan dalam Kitab ini,
لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ
تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat,
dan berpegang teguhlah kepada Allah.
Dia Pelindung kamu maka Dia-lah
sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad
melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b)
jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela
diri.
Jihad
macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad
di jalan Allāh”. Rasulullāh saw. telah menamakan jihad yang pertama itu
sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad
saghir).
Kata-kata “Dia telah memberi kamu nama
Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “maka
engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman
Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15)
Isyarat
dalam kata-kata “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa Nabi Ibrahim a.s. . yang dikutip
dalam Al-Quran ketika bersama Nabi Isma’il meninggikan pondasi Ka’bah (QS.2:128-130) yaitu:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ اِبۡرٰہٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا
تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ
مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ
اَنۡتَ
التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ
ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ
الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan146 dasar-dasar
yakni pondasi Rumah itu
sambil mendoa: “Ya Rabb (Tuhan)
kami, terimalah amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا
مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
orang yang berserah diri kepada
Engkau, وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ -- dan juga dari
antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا
وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ -- perlihatkanlah
kepada kami cara-cara ibadah kami
dan terimalah taubat ka-mi, sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat,
Maha Penyayang. Ya Rabb
(Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang
rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka,
yang mengajarkan Kitab dan hikmah
kepada mereka serta akan
mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 16 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar