Minggu, 18 Januari 2015

Pentingnya Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Malaikat dan Manusia & Nabi Besar Muhammad Saw. "Khalifah Allah" dan "Muslim" Paling Agung





 

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 34

  
Pentingnya  Kesinambungan  Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Malaikat dan Manusia  & Nabi Besar Muhammad Saw. “Khalifah Allah” dan “Muslim” Paling Agung

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  firman  Allah Swt.   mengenai Puncak kehinaan yang menimpa umat Islam adalah ketika orang-orang Yahudi pengembara – sesuai dengan nubuatan dalam Al-Quran (QS.17:105) -- kembali ke Palestina dengan bantuan negara-negara Kristen Barat melalui “Balfour Declaration” menggenapi nubuatan dalam Al-Quran  dalam firman-Nya sebelum ini: 
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia (Fir’aun), Kami berfirman kepada Bani Israil: اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ -- Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu,  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا --  dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba  Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.”  (Bani Israil [17]:105).
        Jadi, umat Islam dalam ayat ini   diberitahu, bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman, di masa Al-Masih Mau’ud a.s., seperti orang-orang Yahudi diberi hukuman di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui serbuan dahsyat Titus dari kerajaan Rumawi (Matius 23:37-39 & 24:15-22).
       Ayat ini berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum Allah Swt. untuk kedua kalinya, yang berarti sempurnanya “janji mengenai Akhir Zaman”, maka orang-orang Yahudi akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina) dari semua penjuru dunia dan sekali gus merupakan bukti yang tidak bisa dibantah bahwa Al-Masih Mau’ud a.s. telah datang, yakni Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.. (Ruh-ul-Bayan  oleh Syaikh Isma’il Haqqi).

Kesedihan Rasul Akhir Zaman yakni Al-Masih Mau’ud a.s.

       Namun demikian, sebagaimana halnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili telah mendapat perlakuan buruk dari  kaum Yahudi, demikian juga Al-Masih Mau’ud a.s. pun di Akhir  Zaman ini mendapat perlakuan buruk pula dari  para pemuka kaumnya (umat Islam)   -- yang  menurut Nabi Besar Muhammad saw. merupakan misal kaum Yahudi  -- padahal  tujuan pengutusan kedua rasul Allah tersebut adalah untuk melakukan  perbaikan  di kalangan kaumnya, yakni untuk mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali secara damai (QS.61:0), firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.   Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
      Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim di Akhir Zaman ini  tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.  Contohnya  telah dikemukakan mengenai kedurhakaan terhadap perintah Allah Swt.  dalam QS.3:103-106  agar mereka berpegang teguh pada Tali Allah dan jangan berpecah-belah.
        Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang  di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan dalam Al-Quran dan hadits Nabi Besar Muhammad saw. itu.

Nubuatan Dalam Surah Al-Burūj   Mengenai Kesudahan   Tragis Para Pembuat “Parit Api” Kezaliman

    Dalam Surah Al-Burūj, setelah Allah Swt. bersumpah dengan syāhid (saksi) dan masyhūd  (yang disaksikan), lalu dalam ayat 5-9 disebutkan mengenai musuh-musuh kebenaran yang menyalakan api penganiayaan terhadap orang-orang beriman yang bertakwa  di tiap kurun zaman kenabian (QS.7:35-37)  serta membiarkannya tetap bernyala, -- termasuk di Akhir Zaman ini terhadap para pengikut Al-Masih Mau’ud a.s. -- kesudahan mereka yang tragis dinubuatkan dalam ayat 11, firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾   اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ --  maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar     اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ  -- sesungguhnya  cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat keras.  (Al-Burūj [85]:11-13).
          Dengan demikian benarlah firman Allah Swt.  mengenai  Nabi Besar Muhammad saw. sebagai masyhūd (yang diberi kesaksian) serta Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.   – sebagai  syāhid   yang memberi kesaksian  mengenai kesempurnaan akhlak ruhani Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41) serta mengenai kesempurnaan dan keabadian  agama  Islam (Al-Quran) sebagai agama dan Kitab suci yang terakhir dan tersempurna (QS.5:4), firman-Nya:
 اَفَمَنۡ کَانَ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ  کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ  رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka  apakah orang yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya) وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ  -- dan  ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya untuk memuktikan kebenarannya, dan yang sebelumnya telah didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat dikatakan seorang penipu? اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ  -- mereka itu beriman kepadanya,  وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ   --  dan barangsiapa dari golongan  itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan baginya. فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ --   karena itu  janganlah engkau ragu-ragu mengenainya,  اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ  -- sesungguhnya itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ  --  tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).

Kesinambungan Pengutusan Para  Rasul Allah

         Kembali kepada firman-Nya berikut ini mengenai kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman  -- yakni Al-Masih Mau’ud a.s.   Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ  --  tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan    terhadapnya,   dan mereka berkata:  اءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ --  "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --   Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).
         Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai salah satu alasan dari sekian banyak alasan pengutusan Al-Masih Mauud a.s. atau  misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut:
وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾ وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ  لَکُمۡ عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari antara kamu  sebagai penerus di bumi.  وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ     --       tetapi sesungguhnya ia (misal Isa)  benar-benar pengetahuan mengenai  Saat,  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ     -- maka janganlah ragu-ragu mengenainya dan ikutilah aku, ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ  --  inilah jalan lurus. وَ لَا یَصُدَّنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ ۚ اِنَّہٗ  لَکُمۡ عَدُوٌّ  مُّبِیۡنٌ  --  Dan janganlah syaitan mengha-lang-halangi kamu, sesungguhnya ia bagimu adalah musuh yang nyata. (Az-Zukhruf [43]:61-63).
        Para malakat tidak dapat dijadikan contoh dan model bagi manusia; oleh karena itu, Allah Swt.  senantiasa mengutus manusia sebagai rasul-Nya (QS.7:35-37) guna menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia dan untuk menjadi contoh dan teladan bagi manusia.

Pengutusan Para Malaikat Seiring dengan Pengutusan Rasul Allah

       Namun sudah merupakan Sunnatullah, seiring dengan pengutusan rasul Allah dari kalangan manusia, demikian juga   Allah Swt, pun mengutus pula para malaikat untuk membantu perjuangan suci  para Rasul Allah tersebut serta untuk menyampaikan wahyu Ilahi kepada rasul Allah tersebut (QS.71:27-29),  firman-Nya:
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾ 
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.   Dia mengetahui apa pun yang di hadapan mereka dan apa pun  yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan (Al-Hājj [22]:76-77).
Firman-Nya lagi:
لَہٗ  مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ  یَحۡفَظُوۡنَہٗ  مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ؕ وَ  اِذَاۤ   اَرَادَ  اللّٰہُ بِقَوۡمٍ سُوۡٓءًا فَلَا مَرَدَّ  لَہٗ ۚ وَ مَا لَہُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖ مِنۡ  وَّالٍ ﴿﴾
Untuk dia yakni rasul  مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ  یَحۡفَظُوۡنَہٗ  مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ  -- ada pergiliran malaikat-malaikat  di hadapannya dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ   --  sesungguhnya  Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mere-ka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. وَ  اِذَاۤ   اَرَادَ  اللّٰہُ بِقَوۡمٍ سُوۡٓءًا فَلَا مَرَدَّ  لَہٗ  --  dan apabila Allah menghendaki untuk menghukum suatu kaum maka tidak ada yang dapat menghindarkannya, وَ مَا لَہُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖ مِنۡ  وَّالٍ  --  dan tidak ada bagi mereka penolong selain dari Dia. (Ar-Rā’d [13]:12).
           Yang dimaksudkan oleh kata al-mu’aqqibat ialah malaikat-malaikat malam hari dan siang hari, sebab mereka itu menggantikan satu sama lain secara bergiliran. Oleh karena para malaikat melakukan hal demikian berulang kali, maka bentuk jamak muannats (betina) itulah yang dipakainya di sini, dikarenakan dalam bahasa Arab bentuk muannats kadang-kadang dipakai untuk memberi tekanan atau untuk menyatakan  bahwa sesuatu itu sering terjadi.
    Kata yang diterjemahkan di sini “pergiliran malaikat-malaikat”, mungkin mengisyaratkan kepada makhluk-makhluk samawi, atau kepada para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  yang setia, yang menjaga beliau saw. tanpa memperhitungkan bahaya terhadap jiwa mereka sendiri.

Menjadi Musuh Malaikat Jibril a.s.

     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai pengutusan para malaikat sehubungan dengan pengutusan seorang Rasul Allah:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ  --    kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai,   فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا    -- maka sesungguhnya barisan pengawal malaikat-malaikat berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ   -- supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا --      dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:2729).
      Jadi, kembali kepada  firman-Nya mengenai kesinambungan pengiriman rasul-rasul dari kalangan   malaikat dan manusia (QS.22:76), firman Allah tersebut membantah itikad sesat  lā nabiya bada’hu  (tidak akan ada lagi nabi setelahnya – QS.40-35-36) yang menjadi penyebab utama kemunduran   umat Islam di Akhir Zaman  sebab dengan itikad sesat seperti itu mereka pun   -- seperti halnya orang-orang Yahudi  -- telah menjadi musuh bagi malaikat Jibril a.s. (QS.2:98-99) yang diberi wewenang oleh Allah Swt. menyampaikan petunjuk-Nya  berupa wahyu Ilahi  kepada umat manusia melalui Rasul Allah  (QS.42:53-54), firman-Nya:
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾ 
Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.   Dia mengetahui apa pun  yang di hadapan mereka dan apa pun  yang di belakang mereka,  ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ  -- dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan (Al-Hājj [22]:76-77).

Nabi Besar Muhammad Saw. Khalifah Allah Paling Agung

    Karena  para rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. – merupakan para Khalifah Allah  di zamannya masing-masing  sebagaimana halnya Nabi Adam a.s.   merupakan Khalifah Allah di zamannya (QS.2:31-35), yang kepadanya Allah Swt. telah memerintahkan para malaikat untuk “sujud” (patuh taat sepenuhnya - QS.2:35;  QS.7:12-13; QS.15:29-33; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77), demikian pula dalam ayat selanjutnya Allah Swt. memerintahkan hal yang sama kepada umat Islam, agar  memperoleh kesuksesan dalam kehidupan mereka di dunia dan di akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang ber-iman,   rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan. وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ -- Dan berjihadlah kamu di jalan Allah  dengan jihad  yang sebenar-benarnya,  ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ  -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  --   Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ  --      supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia.  فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ  -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
    Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri.
       Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad di jalan Allāh”. Rasulullāh saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
        Kata-kata “Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15)
       Isyarat dalam kata-kata “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa  Nabi Ibrahim a.s. . yang dikutip dalam Al-Quran ketika bersama Nabi Isma’il meninggikan pondasi   Ka’bah (QS.2:128-130) yaitu:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ  اِبۡرٰہٖمُ  الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan146  dasar-dasar yakni pondasi Rumah itu sambil mendoa: “Ya Rabb (Tuhan) kami,  terimalah   amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ  --     Ya  Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah  diri kepada Engkau, وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ --  dan juga  dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ  --  perlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat ka-mi, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.     Ya  Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 16 Januari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar