Rabu, 31 Desember 2014

Peran "Wahyu Ilahi" Untuk Mengeluarkan Khazanah "Madu Ruhani" Al-Quran Sebagai "Obat Penyembuh" Segala Macam Penyakit Akhlak dan Ruhani Umat Manusia




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 18

Peran Wahyu Ilahi Untuk Mengeluarkan  Khazanah “Madu Ruhani” Al-Quran Sebagai “Obat Penyembuh” Segala Macam  Penyakit Akhlak dan Ruhani Umat Manusia


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai “kebebasan memilih dan bersikap” yang diberikan Allah Swt. kepada manusia:    وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ  --  Dan katakanlah:  ”Inilah haq dari Rabb (Tuhan) kamu, فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ  --   karena itu   barang­siapa menghendaki  maka beriman­lah, dan barangsiapa menghendaki  maka kafirlah” (QS.18:30), Allah Swt. dalam Surah lain berfirman:
لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ  لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ﴿﴾٪

Tidak ada paksaan  dalam agama. Sungguh  jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan, فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی  -- karena itu barangsiapa kafir kepada thāghūt dan beriman kepada Allah, maka sungguh  ia  telah berpegang kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi  لَا انۡفِصَامَ  لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ  -- tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ --  Allah adalah Pelindung orang-orang beriman,  Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya,   وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ -- dan orang-orang kafir epelindung mereka adalah thāghūt,  yang   mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai kege-lapan,   اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka itu  penghuni Api, me-reka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]: 157-158).

Ajaran Islam (Al-Quran) Melarang Melakukan  Paksaan dan Kekerasan

      Ayat  157   melenyapkan salah paham itu dan bukan saja dengan kata-kata yang sangat tegas melarang kaum Muslimin  mempergunakan kekerasan dalam rangka menarik orang-orang bukan-Muslim masuk Islam, tetapi memberikan pula alasan-alasan mengapa kekerasan tidak boleh dipakai untuk tujuan tersebut. Alasan itu ialah karena kebenaran itu nyata berbeda dari kesesatan maka tidak ada alasan untuk membenarkan penggunaan kekerasan karena  Islam (Al-Quran) adalah  kebenaran yang nyata.
      Thāghūt dalam ayat  فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی  -- karena itu barangsiapa kafir kepada thāghūt dan beriman kepada Allah, maka sungguh  ia  telah berpegang kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi  لَا انۡفِصَامَ  لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ  -- tidak akan putus,”   adalah: orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; iblis; orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala. Kata itu dipakai dalam arti mufrad dan jamak (QS.2:258 dan QS.4:61).
    Jadi, kembali kepada pentingnya keberadaan dan kesinambungan wahyu Ilahi berkenaan dengan lebah madu, firman-Nya: 
وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepada lebah: اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ  -- “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.  ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا --   kemudian makanlah dari setiap  buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan.” یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ   -- keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ  --  sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan. (An-Nahl [16]: 69-70).  
Dengan perkataan lain, makna ayat وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ   --  “Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepada lebah  dan ayat  وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ  اَمۡرَہَا   -- dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit tugasnya,” bahwa  segala benda dan makhluk memenuhi tujuan kejadiannya hanya dengan bekerja menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya.
Lebah telah dipilih sebagai satu contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi  berupa suatu “jama’ah” dan  cara kerjanya yang menakjubkan itu bahkan berkesan pula kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja, dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat apa pun.

Al-Quran Adalah “Madu  Ruhani” yang Paling Sempurna

       Pokok masalah lebah telah dipaparkan   dalam ayat selanjutnya:  ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ   -- “kemudian makanlah dari setiap  buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan, keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia, sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan,” yakni Allah Swt.  mengilhamkan kepada lebah untuk menghimpun  makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Allah Swt.    kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu.
      Madu mempunyai bermacam-macam warna dan rasa, akan tetapi semua coraknya yang berbeda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia. Hal ini mengandung arti bahwa wahyu telah terus-menerus turun kepada nabi-nabi  Allah di berbagai zaman, dan bahwa ajaran-ajaran seorang nabi Allah dalam beberapa hal yang kecil-kecil berbeda dari ajaran-ajaran nabi-nabi Allah lain, walaupun demikian semuanya itu merupakan sarana-sarana untuk menghidupkan akhlak dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau diutus.
         Dari semua wahyu Ilahi  atau madu ruhani yang diturunkan kepada para Rasul Allah tersebut, yang paling sempurna adalah wahyu Al-Quran yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. melalui malaikat Jibril a.s. atau Ruh -al-Amīn  (QS.26:193-198), firman-Nya:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya اِلَّا وَحۡیًا  --  kecuali dengan wahyu, اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ --  atau dari belakang tabir, اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ  --  atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ -- sesungguhnya  Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا  --  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini  dengan perintah Kami.  مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَ -- Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.   وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus,  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ  --  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.  اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Asy-Syurā [42]:52-54).
          Pernyataan Allah Swt. mengenai salah satu khasiat madu lebah  sebagai obat penyembuh  yang dikemukakan dalam ayat ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ   -- “kemudian makanlah dari setiap  buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan,  یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ -- keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia, اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ  -- sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan,” hal senada dikemukakan pula mengenai Al-Quran sebagai “madu ruhani   paling sempurna yang memiliki   multi khasiat, firman-Nya:
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dan  Kami  menurunkan dari Al-Quran  مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- suatu  penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا  -- tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani Israil [17]:83). LIhat pula   QS.12:112;  QS.16:90.
        Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt. menyebutkan beberapa fungsi  dan khasiat Al-Quran lainnya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡکُمۡ  مَّوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ شِفَآءٌ لِّمَا فِی الصُّدُوۡرِ ۬ۙ وَ ہُدًی  وَّ رَحۡمَۃٌ   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ بِفَضۡلِ اللّٰہِ وَ بِرَحۡمَتِہٖ فَبِذٰلِکَ فَلۡیَفۡرَحُوۡا ؕ ہُوَ  خَیۡرٌ  مِّمَّا  یَجۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Hai manusia, قَدۡ جَآءَتۡکُمۡ  مَّوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ   --  sungguh  telah datang kepada kamu suatu nasihat  dari Rabb (Tuhan) kamu,  وَ شِفَآءٌ لِّمَا فِی الصُّدُوۡرِ  -- dan penyembuh untuk   apa yang ada di dalam dada,  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَحۡمَۃٌ   وَ ہُدًی  وَّ -- serta  petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.  Katakanlah: “Semuanya itu dengan karunia Allah dan dengan rahmat-Nya, maka dengan itulah mereka hendaknya bergembira,   --  yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan!” (Yunus [10]:58-59).
        Al-Quran disebut  mau’izhah (nasihat) dalam ayat        “Hai manusia, sungguh  telah datang kepada kamu suatu nasihat  dari Rabb (Tuhan) kamu,”   sebab:
     (a) Al-Quran mengandung ajaran-ajaran yang bertolak dari keinginan-keinginan murni untuk memberi nasihat  yang baik,
      (b) Ajaran Al-Quran itu telah diperhitungkan akan mempengaruhi dan menyentuh hati sanubari manusia sedalam-dalamnya.  
     (c) Al-Quran telah mengemukakan dengan cara yang indah segala dasar dan kaidah mengenai amal perbuatan  yang menuju kepada perubahan akhlak dan sukses dalam kehidupan.  
       Menurut Allah Swt. untuk dapat mengeluarkan  khazanah “madu ruhani“ Al-Quran  tersebut peran wahyu Ilahi mutlak diperlukan, sebab dalam firman Allah Swt. sebelumnya Allah Swt. telah menyatakan bahwa walau pun Al-Quran merupakan “obat penyembuh”, bagi penyakit dalam dada (hati), tetapi Al-Quran tidak menambah bagi orang-orang   zhalim  melainkan kerugian  (QS.17:83) serta  dapat menjadi  penyebab “kesesatan dan “batu sandungan” bagi orang-orang yang berhati bengkok (QS.2:27; QS.3:8-9).
         Dalam   firman Allah Swt. sebelumnya (QS.42:52-54) Allah Swt. menyebut tiga cara Allah Swt. berbicara atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
  (a) Dia berfirman secara langsung kepada mereka tanpa perantara, sebagaimana contohnya dialog yang terjadi antara  Allah Swt.  dengan Nabi Musa a.s. (QS.4:164-165; QS.28:30-36):  وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ    --  Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya اِلَّا وَحۡیًا  -- “kecuali dengan wahyu.”
   (b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib),  اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ --  “atau dari belakang tabir”  yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir" seperti yang dialami oleh Maryam tentang   kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.3:43-44; 19: 17-22).
  (c) Allah Swt. menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi (QS.2:98-99; QS.26:193-198):  اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ  --  “atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ -- sesungguhnya  Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.”
   Al-Quran di dalam ayat selanjutnya disebut rūh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya  bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru, itulah makna firman-Nya: وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا  --  Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau ruh (firman) ini  dengan perintah Kami.”  
   Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami,”   yakni bahwa Islam (Al-Quran) adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt.  dan menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya: صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ  --  Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.”
   Makna ayat اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ – “Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali,”  bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di Tangan Allah  Swt., termasuk pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai syariat dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) serta jaminan pemeliharaannya (QS.15:10).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  31 Desember     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar