بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 67
Perumpamaan Kematian Nabi Yehezkiel a.s. (Nabi
Dzulkifi a.s.) & Perumpamaan Syaitan-syaitan di Masa Nabi Sulaiman a.s. Serta “Dua Malaikat” Harut dan Marut di Babil
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai pemberontakan raja Zedekia yang membawa
akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan
sesudah masa pengepungan oleh bala
tentara raja Nebukadnezar dari Babil yang
berlangsung satu tahun setengah, kota Yerusalem
itu ditaklukkan dengan serangan cepat
laksana halilintar.
Putra-putra Zedekia dibunuh dan matanya sendiri dicukil,
dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil.
Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia, Jilid 6, hlm. 665 & Jilid
7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).
Peristiwa itulah yang diisyaratkan dalam ayat
فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ -- Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat,
dan mereka menerobos jauh ke dalam
rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan
itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.”
Nabi Yehezkiel a.s.
& Perumpamaan Kematian Kota Yesusalem
Selama 100 Tahun
Mengisyaratkan kepada peristiwa penghancuran kota Yerusalem
yang pertama itu pulalah firman-Nya berikut ini:
اَوۡ
کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ
اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ اللّٰہُ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ
لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ
مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰی طَعَامِکَ
وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ
اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ
نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Atau seperti
perumpamaan orang yang
melalui suatu kota yang
dinding-dindingnya telah
runtuh atas atap-atapnya, kemudian ia berkata: “Kapankah Allah akan menghidupkan kembali
kota ini sesudah kematian
yakni kehancurannya?” Lalu Allah
mematikannya seratus tahun lama-nya, kemudian Dia membangkitkannya lagi dan berfirman: “Berapa lamakah engkau tinggal dalam
keadaan seperti ini?” Ia berkata: “Aku
tinggal sehari atau sebagian hari.
Dia berfirman: “Tidak, bahkan engkau telah tinggal seratus tahun lamanya.
Tetapi lihatlah makanan engkau
dan minuman engkau, itu sekali-kali tidak membusuk, dan lihat pulalah
keledai engkau, dan Kami melakukan demikian itu supaya Kami menjadikan engkau sebagai Tanda bagi manusia. Dan lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami
menatanya kembali, kemudian Kami
membalutnya dengan daging.” Maka tatkala kenyataan ini menjadi jelas baginya ia berkata: “Aku mengetahui bahwa sesungguh-nya Allāh berkuasa atas segala
se-suatu.” (Al-Baqarah
[2]:260).
Kota hancur yang dimaksudkan dalam ayat ini
ialah Yerusalem, dibinasakan oleh
serangan balatentara Nebukadnezar, Raja Babil pada tahun 599 sebelum Masehi. Nabi Yehezkiel a.s. ada di antara rombongan orang-orang Yahudi yang diboyong Nebukadnezar sebagai tawanan perang ke Babil dan diharuskan melalui kota Yerusalem yang telah dibinasakan
itu dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.
Nabi
Yehezkiel a.s. tentu sangat terkejut
melihat pemandangan menyedihkan itu dan berdoa
kepada Allah Swt. dengan kata-kata yang penuh keharuan luar biasa, kapan kiranya kota yang hancur itu akan dihidupkan
kembali. Doanya makbul dan kepada
beliau diperlihatkan kasyaf bahwa pembangunan kembali kota yang dimintakan
dalam doa itu akan terjadi dalam waktu 100 tahun.
Ayat
itu tidak mengandung arti bahwa Nabi Yehezkiel a.s. sungguh-sungguh
mati selama 100 tahun. Beliau hanya melihat kasyaf
(penglihatan gaib dalam keadaan bangun (vision) bahwa beliau mati dan tetap dalam keadaan mati selama
100 tahun dan kemudian hidup kembali. Al-Quran kadang-kadang
menyebut pemandangan-pemandangan
dalam kasyaf seolah-olah
sungguh-sungguh terjadi tanpa menyatakan bahwa penglihatan-penglihatan itu
disaksikan dalam kasyaf atau mimpi (QS.12:5).
Kasyaf itu menunjukkan -- dan
Nabi Yehezkiel a.s. paham
akan artinya -- bahwa Bani
Israil selama kira-kira 100 tahun
akan tetap dalam keadaan tawanan dan
keadaan kemunduran nasional secara
total, maka sesudah itu mereka akan mendapat kehidupan baru dan akan kembali ke kota suci mereka (Yerusalem). Dan ini sungguh-sungguh telah terjadi
seperti Nabi Yehezkiel a.s... telah
melihatnya dalam mimpi (kasyaf).
Yerusalem direbut oleh Nebukadnezar pada tahun 599 sebelum
Masehi (2 Raja-raja 24: 10). Nabi Yehezkiel a.s. mungkin melihat kasyaf pada tahun 586 sebelum Masehi. Kota Yerusalem itu didirikan
kembali kira-kira seabad (100 tahun) sesudah kehancurannya.
Pembangunannya kembali dimulai pada 537 sebelum Masehi dengan izin dan
bantuan Cyrus – yakni Dzulqarnain -- Raja Persia dan Midia, dan selesai pada tahun
515 sebelum Masehi. Orang-orang Bani
Israil masih memerlukan 15 tahun lagi untuk menghuninya dan dengan demikian pada hakekatnya seabad (100 tahun) telah lewat antara hancurnya Yerusalem dan dihidupkannya kembali.
Adalah penafsiran yang kekanak-kanakan sekali jika Allah Swt. sungguh-sungguh mematikan dan mematikan Nabi Yehezkiel a.s. selama
100 tahun dan kemudian menghidupkan
beliau kembali, sebab hal itu niscaya tidak akan merupakan jawaban atas doanya yang
bukan mengenai kematian dan kebangkitan kembali seseorang tertentu melainkan mengenai sebuah kota (Yerusalem) yang menampilkan suatu kaum seutuhnya (Matius
23:37-39).
“Syaitan-syaitan” di Masa Kerajaan Nabi Sulaiman a.s
Orang-orang Yahudi menyesuaikan
diri mereka dengan keadaan baru di masa pembuangan
di Babil. Kebanyakan di antara mereka
telah dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babil Tengah, dan banyak
dari mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan
dan mencapai kedudukan yang berpengaruh.
Keyakinan
dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali; kepustakaan
kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali, dan disesuaikan dengan keperluan kaum yang sedang hidup kembali itu, serta harapan untuk mereka kembali ke Palestina telah dikobarkan
dan dipupuk. Mengisyaratkan kepada
kenyataan itulah ayat اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat
ihsan bagi diri kamu sendiri” (Bani
Israil ayat 8).
Kira-kira pada tahun 545 s.M., cita-cita mereka memperoleh bentuk lebih jelas. Kaum Yahudi
membuat suatu perjanjian rahasia
dengan Cyrus, raja Media dan Persia, dan membantu beliau menaklukkan Babil. Kota itu dalam bulan Juli tahun
539 s.M. jatuh kepada tentaranya tanpa perlawanan. Sebagai ganjaran atas
jasa-jasa mereka, Cyrus mengizinkan
orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem
dan juga membantu mereka membangun
kembali rumah peribadatan mereka (Historians’ History of the World,
jilid II, hlm. 126; Jewish Encyclopaedia,
jilid 7, pada kata “Cyrus”, dan 2 Tawarikh
36:22, 23).
Mengisyaratkan kepada kerjasama rahasia antara orang-orang Yahudi buangan di Babil dengan raja Cyrus itu pulalah kisah “dua malaikat” Harut dan Marut, sedangkan yang dimaksud dengan syaitan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman a.s. adalah orang-orang yang durhaka di kalangan Bani Israil yang selalu
merongrong pemerintahan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.,
yang akibatnya mereka dihukum oleh
Allah Swt. melalui serbuan dahsyat
balatentara raja Nebukadnezar, berikut
firman-Nya mengenai persamaan kedurhakaan
orang-orang Yahudi di zaman Nabi
Besar Muhammad saw. dan para pemberontak
di zaman Nabi Sulaiman a.s.:
وَ
اتَّبَعُوۡا مَا
تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ
لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ
اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ
حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ
مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ
مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا
لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ
ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka mengikuti apa yang diikuti oleh
syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa kerajaan Sulaiman, dan bukan Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia. Tetapi orang-orang
Yahudi itu mengaku mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua malaikat, Harut dan Marut, di
Babil. Padahal keduanya tidaklah mengajar seorang pun hingga mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan dari
Tuhan, karena itu janganlah kamu
kafir.” Lalu orang-orang
belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istrinya, dan mereka sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada seorang pun
dengan itu kecuali dengan seizin Allah,
sedangkan mereka (orang-orang Yahudi) ini belajar
hal yang mendatangkan mudarat kepada diri mereka dan tidak bermanfaat baginya.
Dan sungguh mereka benar-benar
mengetahui bahwa barangsiapa berniaga
dengan cara ini niscaya tidak
ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, dan benar-benar sangat buruk hal yang untuk
itu mereka menjual dirinya,
sean-dainya mereka mengetahui. (Al-Baqarah [2]:103).
Dua “Malaikat” Harut
dan Marut di Babil
Kata “dua malaikat” di sini maksudnya dua orang suci (QS.12:32), sebab kedua malaikat itu di sini diterangkan sebagai
mengajar sesuatu kepada orang banyak,
padahal malaikat itu tidak pernah
tinggal bersama manusia dan tidak
bergaul bebas dengan mereka (QS.17:95; QS.21:8).
Harūt
dan Marūt itu keduanya nama sifat, yang pertama berasal dari harata
(yakni merobek — Aqrab) berarti
“orang merobek”, dan yang kedua berasal dari marata (artinya: ia
memecahkan) berarti orang yang memecahkan. Nama-nama itu mengandung
arti bahwa tujuan munculnya dua orang
suci itu adalah untuk “merobek” dan
“memecahkan” kemegahan dan kekuasaan kerajaan
musuh-musuh kaum Bani Israil, yakni Nebukadnezar.
Kedua orang suci tersebut pada waktu upacara pelantikan menerangkan kepada anggota-anggota baru bahwa
mereka itu semacam cobaan (ujian) dari Allah Swt. untuk maksud memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Mereka membatasi
keanggotaan perkumpulan rahsia mereka
hanya pada kaum pria. Itulah makna
kalimat “Lalu orang-orang
belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istrinya.”
Ayat itu berarti bahwa orang-orang
Yahudi pada masa Nabi Besar Muhammad
saw. ikut-ikutan dalam rencana dan perbuatan jahat yang sama, seperti halnya yang menjadi ciri nenek-moyang mereka di zaman Nabi
Sulaiman a.s., yakni “syaitan-syaitan”
yang artinya adalah para “pemberontak.”
Dikatakan selanjutnya bahwa perusuh-perusuh di zaman Nabi Sulaiman
a.s. adalah pemberontak-pemberontak
yang menuduh beliau sebagai orang kafir.
Ayat ini membersihkan Nabi Sulaiman
a.s. dari tuduhan kafir serta berbagai fitnah keji
lainnya, sebagaimana dikemukakan dalam Bible
terhadap Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s..
Ditambahkannya bahwa pemberontak-pemberontak di zaman Nabi Sulaiman a.s. itu mengajarkan kepada rekan-rekan
mereka sandi-sandi (lambang-lambang
rahasia) yang mengandung arti yang sama sekali berbeda dari arti yang umumnya dipahami, dengan tujuan menipu orang dan menyembunyikan
maksud sebenarnya, karena itu dalam ayat tersebut mereka disebut
mengajarkan sihir.
Sihr
berarti: akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk
kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain
dari kenyataannya (Lexicon Lane).
Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk
menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan orang, adalah termasuk sihir juga.
Ayat ini mengisyaratkan kepada sekongkol rahasia yang dilancarkan para penentang Nabi Sulaiman a.s. terhadap
beliau. Dengan jalan itu mereka berusaha menghancurkan
kerajaannya. Hal itu mengandung arti bahwa orang-orang
Yahudi di Medinah pun mempergunakan pula siasat kotor yang sama terhadap Nabi Besar Muhammad saw. tetapi mereka tidak akan berhasil dalam rencana-rencana
jahatnya itu.
Orang-orang Yahudi Menghasut Kisra
Persia
Ketika
orang-orang Yahudi menyaksikan kekuasaan Islam terus-menerus meluas dan
perlawanan terhadap Islam di tanah Arab telah dihancurkan sepenuhnya, lagi
mereka tidak dapat menghentikan atau memperlambat kemajuannya, mereka mulai menghasut orang-orang luar melawan Islam. Dan karena ditindas dan dizalimi oleh penguasa-penguasa kerajaan Kristen,
mereka mencari perlindungan di Persia serta memindahkan pusat agama mereka dari Yehuda ke Babil (Hutchison’s of
Nation’s, halaman 550). Berangsur-angsur mereka mulai memasukkan pengaruh besarnya ke dalam
istana raja-raja Persia dan mulai
membuat komplotan terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw..
Ketika Khusru II menerima surat dari Nabi
Besar Muhammad saw. mengajaknya agar menerima Islam, mereka
berhasil menghasutnya supaya
mengirimkan perintah kepada Badhan,
Gubernur Yaman, yang pada masa itu merupakan propinsi Persia, agar menangkap dan mengirimkan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai tawanan dengan dirantai ke istana Persia. Kepada komplotan-komplotan dan sekongkol
orang-orang Yahudi di zaman Nabi
Besar Muhammad saw. itulah Al-Baqarah [2]:103 menunjuk.
Perhatian mereka ditarik kepada
kenyataan bahwa pertama nenek-moyang mereka pun
telah melancarkan komplotan
terhadap Nabi Sulaiman a.s. ketika
beberapa anggota masyarakatnya telah mendirikan perkumpulan-perkumpulan rahasia melawan beliau.
Di dalam perkumpulan-perkumpulan
rahasia itu diajarkan lambang-lambang
dan sandi-sandi (I Raja-raja
11:29-32; I Raja-raja 11:14, 23, 26; II Tawarikh 10:2-4). Kejadian kedua ketika mereka menghidupkan
kembali perkumpulan-perkumpulan rahasia
ialah pada waktu mereka masih dalam tawanan
di Babil pada zaman Raja
Nebukadnezar.
Dua orang suci yang disebut “dua malaikat”
yang disinggung dalam ayat ini ialah Nabi
Hijai a.s., dan Zakaria bin Ido (Ezra 5:1). Dua orang suci itu membatasi keanggotaannya
pada kaum pria, dan menerangkan
kepada para anggota baru pada waktu
upacara pelantikan bahwa mereka itu
semacam cobaan dari Tuhan, dan bahwa
oleh karena itu kaum Bani Israil hendaknya jangan mengingkari apa-apa yang
dikatakan mereka.
Ketika kekuasaan Cyrus — raja
Media dan Persia — bangkit, orang-orang Bani
Israil di Babil mengadakan perjanjian
rahasia dengan beliau. Hal demikian sangat mempermudah untuk mengalahkan Babil. Sebagai imbalan atas jasa itu, Cyrus bukan saja mengizinkan mereka kembali ke Yeruzalem,
tetapi membantu mereka pula dalam pembangunan kembali Rumah Peribadatan Nabi
Sulaiman a.s. (Historians’ History of
the World, ii 126).
Jadi, Surah Al-Baqarah ayat 103)
tersebut mengisyaratkan bahwa upaya-upaya
kaum Yahudi pada dua peristiwa
yang telah lewat itu telah membawa hasil-hasil
berlainan. Pada peristiwa pertama, komplotan
mereka bertujuan untuk melawan Nabi
Sulaiman a.s. dan disudahi dengan kehilangan seluruh kewibawaan mereka dan akhirnya mereka dibuang ke Babil oleh Nabukadnezar. Pada peristiwa kedua, di Babil mereka mengambil
cara-cara yang sama, di bawah pimpinan dua wujud yang mendapat wahyu Ilahi, dan mereka berhasil gilang-gemilang.
Untuk menegaskan bahwa apakah kegiatan kaum Yahudi terhadap Nabi Besar Muhammad saw. akan menemui kegagalan seperti dialami mereka di masa
Nabi Sulaiman a.s., ataukah
akan berhasil seperti di Babil, maka Al-Quran menyatakan: وَ
یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا
یَنۡفَعُہُمۡ -- dan mereka
ini (orang-orang Yahudi musuh-musuh
Nabi Besar Muhammad saw.) belajar hal
yang mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak bermanfaat bagi mereka”,
mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan
berhasil seperti keberhasilan
nenek-moyang mereka di Babil.
Orang-orang Yahudi
Kembali dari Pembuangan di
Babil Ke Palestina
Sesuai dengan
firman Allah Swt. dalam QS.2:103 mengenai Nabi Yehezkiel a.s yang “hidup kembali” dari “kematian selama 100 tahun” dalam mimpi (kasyaf) yang dialaminya, Syesybazzar
(seorang gubernur Cyrus) yang berasal dari Yudea,
membawa kembali ke rumah peribadatan di Yerusalem I alat-alat
dan perkakas yang telah dirampas oleh Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini
dengan membelanjakan uang kerajaan.
Sejumlah besar orang Yahudi buangan
kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5). Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan
berangsur-angsur maju terus dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian
ini dan kejayaan serta kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang
diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh
terjadi (Ulangan 30:1-5).
Jadi, itulah makna firman Allah
Swt. mengenai hukuman yang pertama
dari dua hukuman-Nya kepada Bani
Israil:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ -- Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat,
dan mereka menerobos jauh ke dalam
rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan
itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat
ihsan bagi diri kamu sendiri, وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika
kamu berbuat buruk maka itu untuk diri kamu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji
yang kedua itu, لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ -- Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu, dan
supaya mereka memasuki masjid
seperti pernah mereka memasukinya pada
kali pertama, وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. (Bani
Israil [17]:5-8).
Jadi, itulah makna ayat اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat
ihsan bagi diri kamu sendiri, وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika
kamu berbuat buruk maka itu untuk diri kamu sendiri” (Bani
Israil ayat 8).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 27 Februari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar