Selasa, 24 Februari 2015

Para Penyembah "Hawa Nafsu" & Mereka yang Dirugikan "Waktu"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 64

  
Para Penyembah “Hawa-Nafsu” & Mereka yang Dirugikan “Waktu”


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai kesuksesan duniawi  bangsa-bangsa Kristen dari Barat – yakni Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) – dalam bidang pengembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), contohnya mengenai  prediksi peristiwa awal terciptanya alam semesta yang disebut  the Big Bang” (ledakan besar -- QS.21:31), upaya menembus langit  dan bumi (QS.55:34-36), perekaman amal perbuatan manusia (QS.17:37;  QS.18:50; QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23; QS.99:1-9) dan berbagai hal lainnya.
      Jadi, semua nubutan yang terkandung dalam Al-Quran tersebut kebenarannya  dibuktikan oleh penyelidikan ilmiah  yang dilakukan oleh  para ilmuwan Barat yang mendustakan Al-Quran,  karena itu dalam firman-Nya berikut ini secara khusus telah menyebut “orang-orang kafir”:
اَوَ لَمۡ  یَرَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اَنَّ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ  شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ 
Tidakkah orang-orang  yang kafir melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu  lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami   jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Tidakkah  mereka   mau beriman? (Al-Anbiya [21]:31).

Al-Quran Merupakan “Kitab Catatan Amal” Alam Semesta &   Kebutaan Ruhani “Dajjal”

       Dalam ayat tersebut peristiwa “the Big Bang  terkandung dalam kalimat  اَنَّ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا    -- “seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu  lalu Kami pisahkan keduanya,  sehingga  Al-Quran pun  seakan-akan merupakan  sebuah “Kitab catatan amal” yang mencatat atau rekaman semua  kebenaran, termasuk berbagai hal yang dilakukan oleh orang-orang yang mendustakan Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran,  firman-Nya:
 وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ فَتَرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ مُشۡفِقِیۡنَ  مِمَّا فِیۡہِ وَ یَقُوۡلُوۡنَ یٰوَیۡلَتَنَا مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً  اِلَّاۤ  اَحۡصٰہَا ۚ وَ  وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا ؕ وَ لَا یَظۡلِمُ  رَبُّکَ  اَحَدًا ﴿٪﴾
Dan kitab amalannya akan diletakkan di hadapan mereka, maka engkau akan melihat orang-­orang yang berdosa itu ketakutan dari apa yang ada di dalamnya itu, dan mereka akan berkata: "Aduhai  celakalah kami! مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً  اِلَّاۤ  اَحۡصٰہَا ۚ وَ  وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا --  Kitab apakah ini? Ia tidak meninggalkan sesuatu, baik yang kecil maupun yang besar  melainkan telah mencatatnya."  Dan mereka menjumpai apa yang telah mereka kerjakan itu berada di hadapan mereka, dan Rabb (Tuhan) engkau tidak menzalimi seorang pun. (Al-Kahf [18]:50). Lihat pula QS.39:70 & QS.33:31; QS.99:-7-9.
    Namun sayang,   keberhasilan Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) mendaya-gunakan  berbagai kemampuan jamani mereka,  tidak disertai dengan pengembangan atau pemanfaatan berbagai kemampuan ruhani yang dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka, yakni mereka   tidak mensyukurinya secara benar,  dan   bahkan mereka telah “mempertuhankan manusia” yang lemah, yang tidak mampu menghindarkan diri dari upaya pembunuhan melalui “penyaliban” yang dilakukan para pemuka agama Yahudi yang mendustakan  pendakwaannya (QS.4:158-159).
     Bahkan  di kalangan mereka  ada yang  kemudian   menganut  faham atheism, karena setelah mereka berhasil “menembus batas-batas langit” (QS.55:34) mereka   tidak pernah  menemukan tanda-tanda keberadaan “tuhan Yesus” di langit (Markus 16:19), sehingga mereka berkesimpulan bahwa tidak ada  kerajaan Tuhan” baik di bumi mau pun di langit.
   Jadi, kelumpuhan berbagai kemampuan ruhani  manusia itulah yang kemudian mengambil bentuk sebagai  kebutaan mata ruhani  Dajjal”, firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat  pun  ia akan buta juga  dan bahkan mungkin lebih tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:72).
Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا ﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dan  barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.  Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-­ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?”  Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada kamu Tanda-tanda Kami, tetapi engkau melupakannya dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini."   Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab  akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.   Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:125-129).

Para Penyembah “Hawa-nafsu

    Menurut Allah Swt. mereka itu adalah orang-orang yang “menyembah hawa-nafsunya”, seperti halnya binatang-binatang yang mengikuti hawa-nafsu (syahwat duniawi) karena  binatang-binatang tersebut memang  diciptakan Allah Swt. hanya untuk    makan    serta  berkembang-biak,  firman-Nya:
وَ خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ وَ لِتُجۡزٰی کُلُّ  نَفۡسٍۭ بِمَا کَسَبَتۡ وَ ہُمۡ  لَا  یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ  اِلٰـہَہٗ  ہَوٰىہُ  وَ اَضَلَّہُ  اللّٰہُ  عَلٰی  عِلۡمٍ  وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ  غِشٰوَۃً ؕ فَمَنۡ یَّہۡدِیۡہِ  مِنۡۢ  بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہۡرُ ۚ وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ   اِلَّا یَظُنُّوۡنَ ﴿﴾  وَ اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتُنَا بَیِّنٰتٍ مَّا کَانَ حُجَّتَہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ  قَالُوا ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  قُلِ اللّٰہُ  یُحۡیِیۡکُمۡ  ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ  اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  لَا رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Allah telah menciptakan seluruh langit dan bumi dengan haq (benar), supaya   setiap jiwa dibalas sesuai apa yang dia usahakan dan mereka tidak akan dizalimi. اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ  اِلٰـہَہٗ  ہَوٰىہُ  --  Pernahkan engkau  merenungkan  orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya,  وَ اَضَلَّہُ  اللّٰہُ  عَلٰی  عِلۡمٍ  وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ  غِشٰوَۃً -- dan Allah menyesatkan  menurut ilmu-Nya  dan Dia memeterai telinganya serta  hatinya dan Dia telah meletakkan tutupan pada matanya? فَمَنۡ یَّہۡدِیۡہِ  مِنۡۢ  بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ  -- Maka siapakah yang  dapat memberi petunjuk kepadanya sesudah Allah? Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہۡرُ --  Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu."  وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ   اِلَّا یَظُنُّوۡنَ --  Tetapi mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu mengenai hal itu,  tidaklah mereka kecuali hanya menduga-duga.  وَ اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتُنَا بَیِّنٰتٍ  --  Dan apabila dibacakan kepada mereka Tanda-tanda Kami yang jelas, مَّا کَانَ حُجَّتَہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ  قَالُوا ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- tidak ada  bantahan mereka selain berkata: "Datangkanlah bapak-bapak kami jika kamu orang benar."  قُلِ اللّٰہُ  یُحۡیِیۡکُمۡ  ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ  اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ  لَا رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ  --  Katakanlah: "Allah Yang menghidupkan kamu, kemudian Dia  mematikan kamu, kemudian Dia menghimpunkan kamu hingga Hari Kiamat, tidak ada keraguan di dalamnya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al-Jatsiyāh [45]:23-27).

Mereka yang Dirugikan “Waktu”

          Jadi, menurut para penyembah “hawa-nafsu” tersebut  tatanan alam semesta ini berjalan (bergerak) secara mekanis,  tanpa ada  Wujud Penciptanya yang mengatur segala sesuatunya di alam semesta ini (Rabb-al-‘ālamīn – QS.1:2) sebagaimana diisyaratkan dalam ayat:   وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ  اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ  اِلَّا الدَّہۡرُ --  Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada selain kehidupan di dunia ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali tidak ada sesuatu yang membinasakan kami selain waktu."  وَ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ   اِلَّا یَظُنُّوۡنَ --  Tetapi mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu mengenai hal itu,  tidaklah mereka kecuali hanya menduga-duga”.
    Mengisyaratkan kepada orang-orang  yang “menyia-nyiakan waktu” kehidupannya di dunia  seperti itulah firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾   اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾  اِلَّا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ  وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  وَ الۡعَصۡرِ --   Demi masa,  Sesungguhnya insan  (manusia) itu benar-benar dalam  kerugian,  kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan  saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati  mengenai kesabaran. (Al-‘Ashr [103]:1-4).
   Menurut ijmak (kesepakatan pendapat) para ahli tafsir, Surah ini diturunkan pada awal tahun Nabawi. Para pujangga barat, di samping para ahli tafsir Al-Quran dari kalangan Islam sendiri pun, menempatkannya pada kurun masa itu.
    Surah yang mendahuluinya – yakni At-Takātssur telah membahas nafsu besar manusia untuk menimbun harta dan barang-barang duniawi, padahal suatu kehidupan yang tanpa tujuan, yang tidak mempunyai cita-cita baik untuk dikejar, adalah kehidupan yang sia-sia, dan bahwa kemajuan serta kesejahteraan duniawi tidak dapat menyelamatkan suatu kaum, bila mereka tidak memiliki keimanan dan tidak menempuh jalan hidup bersih dan suci. Ini merupakan kesaksian zaman yang tidak pernah keliru.
   Contohnya adalah kehancuran  yang dialami oleh kaum-kaum purbakala para puncak kesuksesan duniawi mereka ketika mereka mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang diutus kepada mereka, firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾  اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾    
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang menjulang tinggi.    apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ  -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.   (Al-Hājj [22]:46-47). Lihat pula   (QS.21:12-18; QS.22:46-49; QS.28:59-61; QS.65:9-11).

Ketakaburan Bangsa-bangsa Kristen dari Barat  

   Mabuk dengan sumber-sumber daya kebendaan besar, kekuasaan, gengsi, dan kesejahteraan mereka, orang-orang kafir – terutama bangsa-bangsa Kristen Barat – mempunyai anggapan keliru bahwa segala sesuatu itu sama sekali tidak akan berkurang atau susut  (QS.18:33-45).
    Kebalikan dari  optimisme berlebihan mereka itu, orang-orang Islam di masa kemunduran mereka selama 1000 tahun, setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad  (QS.32:6) --  nampaknya mereka  telah berputus asa mengenai masa depan mereka.
   Surah Al-‘Ashr   teristimewa mempunyai hubungan dengan masa  Akhir Zaman ini. Tetapi Surah ini dapat pula dianggap bertalian dengan masa Nabi Besar Muhammad saw. sendiri, sebab dengan Al-’Ashr dimaksudkan pula masa beliau saw. sendiri, yang merupakan “waktu” (masa) yang penuh “rahmat dan keberkatan” Allah Swt.  yang disebut Lailatul-Qadr – “Malam Takdir” (QS.97:1-6).
    ‘Ashr  dalam ayat  اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾  وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾     -- “Demi masa,  sesungguhnya insan  (manusia) itu benar-benar dalam  kerugian  berarti: masa; sejarah; silsilah dari abad ke abad; sore hari; atau petang hari. Al-ashran berarti: malam dan siang hari; pagi dan petang hari (Lexicon Lane).
    Al-insān (manusia) di sini berarti  manusia, seperti tersebut dalam QS.17:12; QS.18:55; QS.36:78; dan QS.70:20, yaitu manusia yang suka terburu-buru dan biasa bertengkar, atau manusia yang melawan rasul-rasul Allah, yang karena ketakaburannya menantang Rasul Allah – termasuk kepada Nabi Besar Muhammad saw. -- untuk mempercepat datangnya azab Ilahi yang diancamkan kepada mereka,  firman-Nya:
وَ  یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah  tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan)   engkau  seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu.  Dan berapa banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim. Kemudian Aku menangkapnya dan kepada Aku-lah kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).

Menantang  Mempercepat Kedatangan Azab Ilahi & Rangkaian Perang Dunia

       Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad (300 tahun) pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik, sesudah itu kepalsuan dan kesesatan --   seiring dengan pelepasan Iblis  dan Satan (setan) atau naga si ular tua dari a masa pemenjaraannya selama 1000 tahun (Wahyu 20:1-10)   -- akan tersebar dan suatu masa kegelapan akan datang dan meluas sampai seribu tahun (Tirmidzi).
       Masa 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6). Dalam masa ini satu kaum yang bermata biru  yaitu bangsa-bangsa Kristen dari Barat atau Gog (Ya’juj) dan Magog (Majuj),  akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia (QS.20:103-104).
     Orang-orang bermata biru itulah yang karena sombong dan takaburnya, yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan mengajukan  tantangan kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mempercepat azab yang — begitulah dikatakan oleh beliau saw. — akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu. 
     Salah satu bentuk azab Ilahi yang dijanjikan tersebut adalah meltusnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sedangkan Perang Dunia III yang merupakan “Perang Nuklir” hanya tinggal menunggu waktunya, dan juga    -- seperti halnya dua perang dunia sebelumnya -- akan terjadi secara tiba-tiba.
    Jadi, sesuai ayat  اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾  وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾     -- “Demi masa,  sesungguhnya insan  (manusia) itu benar-benar dalam  kerugian,   merupakan kesaksian sejarah  atau kesaksian  waktu yang tidak pernah gagal, bahwa perseorangan-perseorangan atau bangsa-bangsa yang tidak mempergunakan kesempatan yang datang kepada mereka selama hidup di dunia dengan cara tepat serta  mereka menentang “hukum kodrat alam abadi” yang menentukan nasib manusia, tidak boleh tidak pasti menanggung kesedihan.
   Pribadi-pribadi dan bangsa-bangsa serupa inilah yang secara khusus terkena oleh rangkuman kata al-insān di dalam Surah Al-‘Ashr. Sebab    hukum-hukum Allah Swt. tidak dapat dilawan; dan seandainya hukum-hukum itu ditentang pasti mendatangkan hukuman-Nya.

Cara  Memanfaatkan “Waktu” yang Benar

  Dalam Surah Al-‘Ashr ini     yakni   ayat  اِلَّا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ  وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪   --  “kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan  saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati  mengenai kesabaran”,   dan pada beberapa Surah lainnya dalam Al-Quran, orang-orang beriman disuruh supaya mereka sendiri  bukan saja harus mengikuti asas-asas yang benar dan baik serta cita-cita yang benar, tetapi harus juga menablighkannya kepada orang lain,  dan dengan demikian menolong menciptakan iklim sehat di sekitar mereka.
      Mereka selanjutnya diperintahkan supaya jangan berkecil-hati atau berputus asa waktu menghadapi perlawanan dan penindasan di tengah menjalankan tugas yang sangat berat itu, bahkan harus menanggung penderitaan dengan sabar dan tabah.
   Dengan demikian, Surah Al-‘Ashr dengan sebuah ayat singkat telah meletakkan peraturan berperilaku yang dengan mengamalkan peraturan itu orang dapat menempuh hidup yang bahagia, sejahtera dan maju, firman-Nya: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾   اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾  اِلَّا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ  وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  وَ الۡعَصۡرِ --   Demi masa,  Sesungguhnya insan  (manusia) itu benar-benar dalam  kerugian,  kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan  saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati  mengenai kesabaran. (Al-‘Ashr [103]:1-4).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 23 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar