بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 64
Para
Penyembah “Hawa-Nafsu” & Mereka
yang Dirugikan “Waktu”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai kesuksesan
duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Barat – yakni Gog (Ya’juj) dan Magog
(Ma’juj) – dalam bidang pengembangan iptek
(ilmu pengetahuan dan teknologi), contohnya mengenai prediksi peristiwa
awal terciptanya alam semesta
yang disebut “the Big Bang” (ledakan besar -- QS.21:31), upaya menembus langit dan bumi
(QS.55:34-36), perekaman amal
perbuatan manusia (QS.17:37; QS.18:50;
QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23; QS.99:1-9) dan berbagai hal lainnya.
Jadi, semua nubutan yang terkandung dalam Al-Quran
tersebut kebenarannya dibuktikan oleh penyelidikan ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan
Barat yang mendustakan
Al-Quran, karena itu dalam firman-Nya
berikut ini secara khusus telah menyebut “orang-orang
kafir”:
اَوَ
لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah orang-orang
yang kafir melihat bahwa seluruh
langit dan bumi keduanya dahulu
suatu massa yang menyatu lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari
air. Tidakkah mereka mau beriman? (Al-Anbiya
[21]:31).
Al-Quran Merupakan “Kitab Catatan Amal” Alam Semesta
& Kebutaan Ruhani “Dajjal”
Dalam ayat tersebut peristiwa “the Big Bang” terkandung dalam kalimat اَنَّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا -- “seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu lalu
Kami pisahkan keduanya,” sehingga
Al-Quran pun seakan-akan
merupakan sebuah “Kitab catatan amal” yang mencatat
atau rekaman semua kebenaran, termasuk berbagai hal yang
dilakukan oleh orang-orang yang mendustakan
Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran, firman-Nya:
وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ فَتَرَی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ
مُشۡفِقِیۡنَ مِمَّا فِیۡہِ وَ یَقُوۡلُوۡنَ یٰوَیۡلَتَنَا
مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ
صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً اِلَّاۤ اَحۡصٰہَا ۚ وَ وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا ؕ وَ لَا یَظۡلِمُ رَبُّکَ
اَحَدًا ﴿٪﴾
Dan
kitab amalannya akan diletakkan di hadapan mereka,
maka engkau akan melihat orang-orang
yang berdosa itu ketakutan dari apa yang ada di dalamnya itu, dan
mereka akan berkata: "Aduhai celakalah kami! مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً اِلَّاۤ اَحۡصٰہَا ۚ وَ وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا -- Kitab
apakah ini? Ia tidak meninggalkan
sesuatu, baik yang kecil maupun
yang besar melainkan telah mencatatnya." Dan mereka menjumpai apa yang telah mereka kerjakan itu berada di hadapan
mereka, dan Rabb (Tuhan) engkau tidak menzalimi seorang pun. (Al-Kahf
[18]:50). Lihat pula QS.39:70 & QS.33:31; QS.99:-7-9.
Namun sayang,
keberhasilan Gog (Ya’juj) dan Magog
(Ma’juj) mendaya-gunakan berbagai kemampuan jamani mereka, tidak disertai dengan pengembangan atau
pemanfaatan berbagai kemampuan ruhani
yang dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka, yakni mereka tidak mensyukurinya secara benar, dan bahkan
mereka telah “mempertuhankan manusia”
yang lemah, yang tidak mampu menghindarkan diri dari upaya pembunuhan melalui “penyaliban” yang dilakukan para pemuka agama Yahudi yang mendustakan pendakwaannya (QS.4:158-159).
Bahkan di kalangan mereka ada yang
kemudian menganut faham atheism,
karena setelah mereka berhasil “menembus batas-batas
langit” (QS.55:34) mereka tidak
pernah menemukan tanda-tanda keberadaan “tuhan Yesus” di langit (Markus 16:19), sehingga mereka berkesimpulan bahwa tidak ada “kerajaan
Tuhan” baik di bumi mau pun di langit.
Jadi, kelumpuhan berbagai kemampuan ruhani manusia
itulah yang kemudian mengambil bentuk sebagai
“kebutaan mata ruhani Dajjal”,
firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ اَعۡمٰی
فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ اَعۡمٰی وَ اَضَلُّ
سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini
maka di akhirat pun ia akan buta juga dan bahkan mungkin lebih tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:72).
Firman-Nya
lagi:
وَ مَنۡ
اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾ قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ
قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا ﴿﴾ قَالَ
کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ وَکَذٰلِکَ
الۡیَوۡمَ تُنۡسٰی ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ
الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی
النُّہٰی ﴿﴾٪
Dan
barangsiapa berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat
dalam keadaan buta. Ia
berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
mengapa Engkau membangkitkan aku dalam
keadaan buta, padahal sesungguhnya
dahulu aku dapat melihat?” Dia berfirman: "Demikianlah telah datang kepada kamu Tanda-tanda Kami, tetapi engkau melupakannya dan demikian pula engkau dilupakan pada hari
ini." Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang melanggar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan niscaya
azab akhirat itu lebih keras dan lebih kekal. Maka apakah tidak memberi petunjuk kepada mereka berapa banyak generasi yang telah
Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan
di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā
[20]:125-129).
Para Penyembah “Hawa-nafsu”
Menurut Allah Swt. mereka itu adalah
orang-orang yang “menyembah hawa-nafsunya”,
seperti halnya binatang-binatang yang
mengikuti hawa-nafsu (syahwat duniawi)
karena binatang-binatang tersebut memang
diciptakan
Allah Swt. hanya untuk makan
serta berkembang-biak, firman-Nya:
وَ خَلَقَ
اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ وَ لِتُجۡزٰی کُلُّ نَفۡسٍۭ
بِمَا کَسَبَتۡ وَ ہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ
ہَوٰىہُ وَ اَضَلَّہُ اللّٰہُ
عَلٰی عِلۡمٍ وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ وَ قَلۡبِہٖ وَ
جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ غِشٰوَۃً ؕ فَمَنۡ
یَّہۡدِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ
اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا
یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا الدَّہۡرُ ۚ وَ مَا
لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ
اِلَّا یَظُنُّوۡنَ ﴿﴾ وَ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُنَا بَیِّنٰتٍ مَّا کَانَ
حُجَّتَہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ
قَالُوا ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قُلِ اللّٰہُ
یُحۡیِیۡکُمۡ ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ
ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ اِلٰی یَوۡمِ
الۡقِیٰمَۃِ لَا رَیۡبَ فِیۡہِ وَ
لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Allah telah menciptakan seluruh langit
dan bumi dengan haq (benar), supaya setiap
jiwa dibalas sesuai apa yang dia
usahakan dan mereka tidak akan
dizalimi. اَفَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ
ہَوٰىہُ -- Pernahkan engkau merenungkan
orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya,
وَ
اَضَلَّہُ اللّٰہُ عَلٰی
عِلۡمٍ وَّ خَتَمَ عَلٰی سَمۡعِہٖ
وَ قَلۡبِہٖ وَ جَعَلَ عَلٰی بَصَرِہٖ
غِشٰوَۃً -- dan Allah
menyesatkan menurut ilmu-Nya dan Dia memeterai telinganya serta
hatinya dan Dia telah meletakkan tutupan pada matanya? فَمَنۡ یَّہۡدِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ اللّٰہِ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ -- Maka siapakah
yang dapat memberi petunjuk
kepadanya sesudah Allah? Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? وَ قَالُوۡا مَا ہِیَ اِلَّا
حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ اِلَّا الدَّہۡرُ -- Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada selain kehidupan di dunia
ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali tidak ada sesuatu yang membinasakan kami
selain waktu." وَ مَا
لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ
اِلَّا یَظُنُّوۡنَ -- Tetapi mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu mengenai hal itu, tidaklah mereka kecuali hanya menduga-duga. وَ
اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُنَا بَیِّنٰتٍ -- Dan
apabila dibacakan kepada mereka Tanda-tanda Kami yang jelas, مَّا کَانَ حُجَّتَہُمۡ
اِلَّاۤ اَنۡ قَالُوا ائۡتُوۡا بِاٰبَآئِنَاۤ اِنۡ
کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- tidak ada
bantahan mereka
selain berkata: "Datangkanlah bapak-bapak
kami jika kamu orang benar."
قُلِ
اللّٰہُ یُحۡیِیۡکُمۡ ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یَجۡمَعُکُمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَا رَیۡبَ فِیۡہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- Katakanlah: "Allah Yang menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan
kamu, kemudian Dia menghimpunkan
kamu hingga Hari Kiamat, tidak ada keraguan
di dalamnya, tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui. (Al-Jatsiyāh [45]:23-27).
Mereka yang Dirugikan “Waktu”
Jadi, menurut para penyembah “hawa-nafsu” tersebut tatanan alam
semesta ini berjalan (bergerak) secara mekanis,
tanpa ada Wujud
Penciptanya yang mengatur segala
sesuatunya di alam semesta ini (Rabb-al-‘ālamīn – QS.1:2) sebagaimana
diisyaratkan dalam ayat: وَ قَالُوۡا مَا
ہِیَ اِلَّا حَیَاتُنَا الدُّنۡیَا
نَمُوۡتُ وَ نَحۡیَا وَ مَا یُہۡلِکُنَاۤ
اِلَّا الدَّہۡرُ -- Dan mereka berkata: "Sekali-kali tidak ada selain kehidupan di dunia
ini, kami mati dan kami hidup, dan sekali-kali tidak ada sesuatu yang membinasakan kami
selain waktu." وَ مَا
لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ۚ اِنۡ ہُمۡ
اِلَّا یَظُنُّوۡنَ -- Tetapi mereka sekali-kali tidak memiliki ilmu mengenai hal itu, tidaklah mereka kecuali hanya menduga-duga”.
Mengisyaratkan kepada orang-orang yang “menyia-nyiakan
waktu” kehidupannya di dunia seperti
itulah firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾ اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾ اِلَّا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ
وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ الۡعَصۡرِ -- Demi masa, Sesungguhnya insan (manusia) itu
benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
dan saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati mengenai kesabaran.
(Al-‘Ashr
[103]:1-4).
Menurut ijmak
(kesepakatan pendapat) para ahli tafsir, Surah ini diturunkan pada awal tahun Nabawi. Para pujangga barat, di
samping para ahli tafsir Al-Quran dari kalangan Islam sendiri pun,
menempatkannya pada kurun masa itu.
Surah yang mendahuluinya – yakni At-Takātssur telah membahas nafsu
besar manusia untuk menimbun harta
dan barang-barang duniawi, padahal suatu
kehidupan yang tanpa tujuan, yang tidak mempunyai cita-cita baik untuk dikejar, adalah kehidupan yang sia-sia, dan bahwa kemajuan
serta kesejahteraan duniawi tidak
dapat menyelamatkan suatu kaum, bila
mereka tidak memiliki keimanan dan
tidak menempuh jalan hidup bersih dan
suci. Ini merupakan kesaksian zaman yang tidak pernah
keliru.
Contohnya adalah kehancuran yang dialami oleh
kaum-kaum purbakala para puncak kesuksesan duniawi
mereka ketika mereka mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang diutus kepada mereka, firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ
بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ
یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ اٰذَانٌ
یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ
تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak
kota yang Kami telah membinasakannya,
yang penduduknya sedang berbuat
zalim lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan sumur yang
telah ditinggalkan dan istana
yang menjulang tinggi. apakah mereka tidak berpesiar di bumi,
lalu menjadikan hati mereka memahami dengannya atau menjadikan
telinga mereka mendengar dengannya?
فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ
تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta tetapi yang
buta adalah hati yang ada dalam dada.
(Al-Hājj [22]:46-47).
Lihat pula (QS.21:12-18; QS.22:46-49; QS.28:59-61;
QS.65:9-11).
Ketakaburan
Bangsa-bangsa Kristen dari Barat
Mabuk dengan sumber-sumber daya kebendaan besar, kekuasaan, gengsi, dan kesejahteraan mereka, orang-orang kafir
– terutama bangsa-bangsa Kristen Barat
– mempunyai anggapan keliru bahwa
segala sesuatu itu sama sekali tidak akan berkurang atau susut
(QS.18:33-45).
Kebalikan dari optimisme
berlebihan mereka itu, orang-orang Islam
di masa kemunduran mereka selama 1000
tahun, setelah mengalami masa kejayaan
yang pertama selama 3 abad (QS.32:6) -- nampaknya mereka telah berputus
asa mengenai masa depan mereka.
Surah Al-‘Ashr teristimewa mempunyai hubungan dengan masa Akhir
Zaman ini. Tetapi Surah ini dapat pula dianggap bertalian dengan masa Nabi Besar Muhammad saw. sendiri,
sebab dengan Al-’Ashr dimaksudkan
pula masa beliau saw. sendiri, yang
merupakan “waktu” (masa) yang penuh “rahmat dan keberkatan” Allah Swt. yang
disebut Lailatul-Qadr – “Malam
Takdir” (QS.97:1-6).
‘Ashr
dalam ayat
اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾ وَ الۡعَصۡرِ
ۙ﴿﴾ -- “Demi masa, sesungguhnya insan (manusia) itu
benar-benar dalam kerugian” berarti: masa; sejarah; silsilah dari abad ke
abad; sore hari; atau petang hari. Al-ashran berarti: malam dan siang
hari; pagi dan petang hari (Lexicon
Lane).
Al-insān (manusia) di sini berarti manusia,
seperti tersebut dalam QS.17:12; QS.18:55; QS.36:78; dan QS.70:20, yaitu manusia yang suka terburu-buru dan biasa bertengkar,
atau manusia yang melawan rasul-rasul Allah, yang karena ketakaburannya menantang Rasul Allah – termasuk kepada Nabi Besar
Muhammad saw. -- untuk mempercepat datangnya
azab Ilahi yang diancamkan kepada mereka, firman-Nya:
وَ یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ
یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ
﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah
tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau
seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu. Dan berapa
banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim. Kemudian Aku
menangkapnya dan kepada Aku-lah
kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).
Menantang Mempercepat Kedatangan Azab Ilahi & Rangkaian Perang
Dunia
Nabi Besar Muhammad saw. menurut
riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad (300
tahun) pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik, sesudah itu kepalsuan dan kesesatan -- seiring dengan
pelepasan Iblis dan Satan
(setan) atau naga si ular tua dari a masa pemenjaraannya
selama 1000 tahun (Wahyu 20:1-10) -- akan
tersebar dan suatu masa kegelapan
akan datang dan meluas sampai seribu
tahun (Tirmidzi).
Masa 1000 tahun ini dipersamakan
dengan satu hari (QS.32:6). Dalam
masa ini satu kaum yang bermata biru yaitu bangsa-bangsa
Kristen dari Barat atau Gog
(Ya’juj) dan Magog (Majuj), akan bangkit
dan menyebar luas ke seluruh dunia
(QS.20:103-104).
Orang-orang bermata biru
itulah yang karena sombong dan takaburnya, yang diakibatkan oleh karena
memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan mengajukan
tantangan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mempercepat
azab yang — begitulah dikatakan oleh beliau saw. — akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan
itu.
Salah satu bentuk azab Ilahi yang dijanjikan
tersebut adalah meltusnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sedangkan Perang
Dunia III yang merupakan “Perang Nuklir” hanya tinggal menunggu waktunya, dan
juga -- seperti halnya dua perang dunia sebelumnya -- akan terjadi
secara tiba-tiba.
Jadi,
sesuai ayat اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ
ۙ﴿﴾ وَ الۡعَصۡرِ
ۙ﴿﴾ -- “Demi masa, sesungguhnya insan (manusia) itu
benar-benar dalam kerugian,” merupakan kesaksian sejarah atau kesaksian waktu
yang tidak pernah gagal, bahwa perseorangan-perseorangan atau bangsa-bangsa yang tidak mempergunakan kesempatan yang datang kepada mereka
selama hidup di dunia dengan cara tepat serta mereka menentang
“hukum kodrat alam abadi” yang
menentukan nasib manusia, tidak boleh tidak pasti
menanggung kesedihan.
Pribadi-pribadi dan bangsa-bangsa serupa inilah yang secara khusus terkena oleh
rangkuman kata al-insān di dalam Surah Al-‘Ashr. Sebab hukum-hukum
Allah Swt. tidak dapat dilawan; dan
seandainya hukum-hukum itu ditentang pasti mendatangkan hukuman-Nya.
Cara Memanfaatkan
“Waktu” yang Benar
Dalam
Surah Al-‘Ashr ini yakni
ayat اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ
تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ وَ تَوَاصَوۡا
بِالصَّبۡرِ ٪ -- “kecuali orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
dan saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati mengenai kesabaran”, dan
pada beberapa Surah lainnya dalam
Al-Quran, orang-orang beriman disuruh
supaya mereka sendiri bukan saja harus
mengikuti asas-asas yang benar dan baik serta cita-cita yang
benar, tetapi harus juga menablighkannya kepada orang lain, dan dengan demikian menolong menciptakan iklim sehat di sekitar
mereka.
Mereka selanjutnya diperintahkan supaya jangan berkecil-hati
atau berputus asa waktu menghadapi perlawanan dan penindasan di tengah menjalankan tugas yang sangat berat itu, bahkan harus menanggung penderitaan dengan sabar
dan tabah.
Dengan demikian, Surah Al-‘Ashr dengan sebuah ayat singkat telah meletakkan peraturan berperilaku yang dengan mengamalkan peraturan itu orang dapat
menempuh hidup yang bahagia, sejahtera dan maju, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾ اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ
تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ وَ تَوَاصَوۡا
بِالصَّبۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ الۡعَصۡرِ -- Demi masa, Sesungguhnya insan (manusia) itu
benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
dan saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati mengenai kesabaran.
(Al-‘Ashr
[103]:1-4).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 23 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar