بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 63
Allah
Swt. “Hakim Paling Adil” dari Semua Hakim Dalam Penghakiman
Umat Manusia
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dibahas ketidak-bersyukuran manusia kepada Allah
Swt., sehubungan dengan makna
ayat لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ
اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ -- “Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk.” Manusia
dilahirkan dengan fitrat suci dan tidak bernoda, dengan kecondongan alami untuk berbuat
baik (QS.30:31), tetapi ia telah
diberi pula cukup banyak kebebasan
berkemauan dan berbuat untuk membentuk dirinya menurut pilihannya sendiri, apakah ia mau menjadi penghuni neraka jahannam atau menjadi penghuni surga
(QS.18:30-32).
Manusia pun telah
dianugerahi kemampuan-kemampuan alami
besar dan kecakapan-kecakapan kreatif
guna mencapai kemajuan akhlak yang
tidak terhingga dan menaiki puncak
keruhanian demikian tingginya, sehingga ia menjadi cermin yang memantulkan sifat-sifat
Allah melalui pelaksanaan peribadahan
kepada-Nya (QS.51:57).
Ayat selanjutnya
ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ
اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ -- “Kemudian Kami
mengembalikannya kepada tingkat paling rendah,” yakni jika ia menyalahgunakan
kemampuan-kemampuan dan sifat-sifatnya yang dianugerahkan Allah
Swt. tersebut maka ia jatuh ke martabat rendah yang rendah yang bahkan lebih rendah daripada martabat
binatang buas dan binatang jalang,
dan menjadi penjelmaan syaitan, seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikutnya.
Singkatnya, insan (manusia) telah dianugerahi kemampuan-kemampuan besar guna berbuat baik atau pun jahat.
Orang-orang
“Berakal” yang Seperti “Binatang Ternak”
Jatuhnya martabat manusia ke derajat yang rendah seperti binatang
ternak tersebut bukan karena mereka
itu orang-orang yang bodoh, melainkan akibat tidak mempergunakan indera-indera ruhani yang merupakan
pasangan indera-indera jasmani,
yang dapat membuat manusia mampu meraih
berbagai kesuksesan duniawi dalam
kehidupannya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ
لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ
بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menjadikan
untuk penghuni Jahannam
banyak di antara jin dan ins (manusia), mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, mereka
memiliki mata tetapi mereka tidak
melihat dengannya, mereka memiliki
telinga tetapi mereka tidak
mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ -- mereka
itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡغٰفِلُوۡنَ -- Mereka
itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf
[7]:180). Lihat pula QS.2:8; QS.22:46-47; QS.25:44; QS.45:24-27.
Sebagaimana telah
dijelaskan bahwa kata jin itu juga mempunyai arti golongan
manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa
atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar. Menurut Allah Swt. dari
cara mereka menjalani hidup mereka
dalam berbuat dosa dan kedurhakaan – karena mengikuti hawa-nafsu (syahwat) duniawi -- nampak seolah-olah mereka telah diciptakan
untuk masuk neraka.
Huruf lam
(lā) di sini lam ‘aqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat.
Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesalkan mengenai kehidupan kebanyakan ins (manusia) dan jin, karena itu Allah SWt. akan memperlakukan
mereka seperti perlakuan terhadap
“bintang ternak”, firman-Nya:
اِنَّ
اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا یَتَمَتَّعُوۡنَ وَ
یَاۡکُلُوۡنَ کَمَا تَاۡکُلُ الۡاَنۡعَامُ وَ النَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ
قَرۡیَۃٍ ہِیَ اَشَدُّ قُوَّۃً
مِّنۡ قَرۡیَتِکَ الَّتِیۡۤ
اَخۡرَجَتۡکَ ۚ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ فَلَا
نَاصِرَ لَہُمۡ﴿﴾
Sesungguhnya
Allah akan memasukkan orang-orang yang
beriman dan beramal saleh ke
dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا یَتَمَتَّعُوۡنَ وَ یَاۡکُلُوۡنَ کَمَا تَاۡکُلُ الۡاَنۡعَامُ وَ
النَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ -- sedang orang-orang kafir mereka bersenang-senang
di dunia dan mereka makan
sebagaimana binatang-binatang ternak
makan, dan Api menjadi tempat tinggal bagi mereka.
وَ
کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ ہِیَ اَشَدُّ
قُوَّۃً مِّنۡ قَرۡیَتِکَ
الَّتِیۡۤ اَخۡرَجَتۡکَ -- Dan berapa banyak negeri yang lebih kuat daripada negeri engkau yang telah mengusir engkau, اَہۡلَکۡنٰہُمۡ
فَلَا نَاصِرَ لَہُمۡ -- Kami
telah membinasakan mereka, maka tidak
ada penolong bagi mereka. (Muhammad [47]:13-14).
Kalau orang-orang beriman makan
untuk hidup supaya dapat berbakti kepada Allah Swt. dan sesama manusia,
orang-orang kafir hidup untuk makan dan tidak mempunyai tujuan lebih luhur untuk dikejar. Mereka
tidak lebih tinggi dari taraf binatang-binatang
ternak, sebab seluruh pandangan hidup
mereka bercorak kebendaan
(keduniawian).
Teriakan Gembala kepada Binatang Gembalaannya
Ayat
selanjutnya (ayat 14) yang diturunkan (diwahyukan) tatkala Nabi Besar Muhammad saw. sedang dalam
perjalanan hijrah dari Mekkah ke
Medinah, karena “diusir” dari tempat
tumpah darah beliau saw., dan disayembarakan
dengan janji hadiah akan diberikan
kepada barangsiapa yang dapat menangkap
beliau saw. hidup atau mati (QS.8:31).
Setiap saat Nabi Besar Muhammad saw. merasa khawatir
akan tertangkap, sebab Medinah masih jauh sekali, sedang di luar kota
berkeliaran petualang-petualang, yang
berusaha membawa beliau saw. kembali
dalam keadaan hidup ataupun mati, ingin memperoleh hadiah yang sangat diidam-idamkan mereka. Dalam ayat tersebut kepada
beliau saw. dijanjikan oleh Allah Swt.
perjalanan yang selamat.
Pendek kata, bagaimana pun luar-biasanya
pencapaian kesuksesan duniawi yang
diraih seseorang atau pun suatu kaum
(bangsa) -- akibat penggunaan
secara optimal indera-indera jasmani,
termasuk akal mereka (QS.14:8) --
tetapi jika mereka tidak mampu
menyaksikan “Tanda-tanda”
Allah Swt. yang mendukung kebenaran pendakwaan Rasul
Allah yang dikirimkan kepada mereka maka pada akhirnya Allah Swt. akan
memperlakukan mereka dengan perlakuan yang tidak
hormat seperti terhadap binatang-binatang
ternak, sebab mereka telah menyia-nyiakan anugarah indera-indera ruhani yang justru untuk membedakan manusia dari binatang, firman-Nya:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً
وَّ نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ بُکۡمٌ
عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan keadaan orang-orang
kafir itu seperti seseorang yang berteriak kepada sesuatu
yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka. Mereka
tuli, bisu, dan buta,
karena itu mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172). Lihat pula QS.2:19.
Nabi Besar Muhammad saw.. menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada orang-orang kafir. Beliau saw. itu penyeru
dan mereka mendengar suara beliau
saw., tetapi tidak berusaha menangkap
maknanya. Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat
bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi
sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf
keadaan hewan ternak dan binatang
buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar
teriakan si pengembala, tetapi tak
mengerti apa yang dikatakannya.
Jadi, jika insan
(manusia) telah diciptakan Allah
Swt. untuk mencapai tujuan ruhani
yang amat tinggi itu dan Allah Swt. telah
mengutus nabi-nabi-Nya -- seperti Nabi Adam a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s., dan Nabi Besar Muhammad saw. -- untuk menolong
atau membimbing manusia melalui wahyu Ilahi guna mencapai tujuannya yang agung itu (QS.51:57), maka jika manusia tidak mempergunakan kemampuan-kemampuannya dengan cara tepat dan menolak Amanat
Ilahi serta menentang para Rasul
Allah maka ia dihukum
dengan azab Ilahi, sebagaimana
yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala
yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.7:35-37).
Allah
Swt. Adalah “Hakim Yang Paling Adil” Dalam Melakukan “Penghakiman”
Dari
kenyataan Sunnatullah tersebut, siapakah dapat menolak berdasarkan akal
sehat, bahwa ada Hari Pembalasan
di dunia ini dan juga di akhirat, dan bahwa perintah-perintah
Allah, -- Yang adalah Hakim terbaik -- tidak dapat dilawan dan bahwa perbuatan-perbuatan
manusia tidak akan dibiar-kan bebas
tanpa berbalas? Itulah
makna ayat فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ -- “Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan Hari
Pembalasan sesudah itu? اَلَیۡسَ اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ
الۡحٰکِمِیۡنَ -- Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim?” dalam firman-Nya:
لَقَدۡ خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ
۫﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ
اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ ۙ﴿﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
فَلَہُمۡ اَجۡرٌ غَیۡرُ مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿﴾ فَمَا یُکَذِّبُکَ
بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اَلَیۡسَ
اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ ٪﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan insan (manusia) dalam sebaik-baik bentuk.
Kemudian Kami mengembalikannya kepada
tingkat paling rendah, Kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya. فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ
-- Maka apakah yang menyebabkan engkau
mendustakan Hari Pembalasan sesudah itu? اَلَیۡسَ
اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ -- Bukankah
Allah itu Hakim Yang Maha Adil di
antara para hakim? (At-Tīn
[95]:5-9).
Benarlah
firman-Nya dalam Surah Al-Insān
(Ad-Dahr) bahwa bagi orang-orang yang tidak
mensyukuri berbagai kemampuan
yang dianugerahkan Allah Swt. Dia berfirman: اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا وَّ
سَعِیۡرًا -- “sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala,”
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
ہَلۡ اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ
مِّنَ الدَّہۡرِ لَمۡ یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ اَمۡشَاجٍ ٭ۖ
نَّبۡتَلِیۡہِ فَجَعَلۡنٰہُ
سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾ اِنَّا
ہَدَیۡنٰہُ السَّبِیۡلَ اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّاۤ
اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ
سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا وَّ سَعِیۡرًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Bukankah telah
datang kepada insan (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia
belum nenjadi sesuatu
yang layak disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah campuran supaya Kami
dapat mengujinya, maka Kami telah
membuat dia mendengar serta melihat.
Sesungguhnya Kami telah me-nunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur. Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. (Ad-Dahr [76]:1-5).
Makna
Lain Sebutan Insan
Tetapi secara khusus
kata insan dalam ayat-ayat tersebut
dapat tertuju kepada Gog (Ya’uj) dan Magog (Ma’juj) -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang
mempercayai faham sesat “Trinitas”
dan “penebusan dosa” -- sebab dari segi berbagai kemampuan jasmani manusia bangsa-bangsa tersebut dapat dikatakan telah “mensyukurinya” (QS.14:8), sehingga mereka berhasil meraih berbagai kesuksesan duniawi serta -- tanpa mereka sadari -- mereka menjadi saksi terhadap kebenaran
Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad
saw. yang mereka dustakan.
Contohnya adalah mengenai peristiwa awal terciptanya alam
semesta yang disebut “the Big Bang” (ledakan besar -- QS.21:31),
upaya menembus langit dan bumi
(QS.55:34-36), perekaman amal
perbuatan manusia (QS.17:37; QS.18:50; QS.24:25;
QS.36:66; QS.41:21-23; QS.99:1-9) dan berbagai hal lainnya, semua yang
terkandung dalam Al-Quran tersebut kebenarannya
dibuktikan oleh penyelidikan
ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan
Barat yang mendustakan Al-Quran,
firman-Nya:
اَوَ
لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah orang-orang
yang kafir melihat bahwa seluruh
langit dan bumi keduanya dahulu
suatu massa yang menyatu lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari
air. Tidakkah mereka mau beriman? (Al-Anbiya
[21]:31).
Dalam ayat tersebut peristiwa “the Big Bang” terkandung dalam kalimat اَنَّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا -- “seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu lalu
Kami pisahkan keduanya.” Dan
penyebutan “orang-orang kafir” pada
awal ayat tersebut secara khusus ditujukan kepada mereka yang mendustakan Al-Quran yang diwahyukan
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., yang di dalamnya terkandung seluruh
kebenaran yang dibutuhkan oleh umat manusia sampai Hari Kiamat nanti, sehingga Al-Quran
pun seakan-akan
merupakan sebuah “Kitab” yang mencatat atau
rekaman semua kebenaran, firman-Nya:
وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ فَتَرَی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ
مُشۡفِقِیۡنَ مِمَّا فِیۡہِ وَ یَقُوۡلُوۡنَ یٰوَیۡلَتَنَا
مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ
صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً اِلَّاۤ اَحۡصٰہَا ۚ وَ وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا ؕ وَ لَا یَظۡلِمُ رَبُّکَ
اَحَدًا ﴿٪﴾
Dan
kitab amalannya akan diletakkan di hadapan mereka,
maka engkau akan melihat orang-orang
yang berdosa itu ketakutan dari apa yang ada di dalamnya itu, dan
mereka akan berkata: "Aduhai celakalah kami! مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً اِلَّاۤ اَحۡصٰہَا ۚ وَ وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا -- Kitab
apakah ini? Ia tidak meninggalkan
sesuatu, baik yang kecil maupun
yang besar melainkan telah mencatatnya." Dan mereka menjumpai apa yang telah mereka kerjakan itu berada di hadapan
mereka, dan Rabb (Tuhan) engkau tidak menzalimi seorang pun. (Al-Kahf
[18]:50). Lihat pula QS.39:70 & QS.33:31; QS.99:-7-9.
Makna Kebutaan Ruhani “Dajjal”
Tetapi sebaliknya dari keberhasilan
mendaya-gunakan berbagai kemampuan jamani mereka, mengenai berbagai kemampuan ruhani yang dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka,
mereka itu tidak mensyukurinya secara benar,
dan mereka telah “mempertuhankan manusia” yang lemah,
yang tidak mampu menghindarkan diri
dari upaya pembunuhan melalui “penyaliban” yang dilakukan para pemuka agama Yahudi yang mendustakan pendakwaannya (QS.4:158-159).
Bahkan di kalangan mereka ada yang kemudian menganut
faham atheism, karena setelah
mereka berhasil “menembus batas-batas langit”
(QS.55:34) mereka tidak pernah menemukan tanda-tanda
keberadaan “tuhan Yesus” di langit
(Markus
16:19), sehingga mereka berkesimpulan bahwa tidak
ada “kerajaan Tuhan” baik di bumi
mau pun di langit.
Jadi, kelumpuhan berbagai kemampuan ruhani manusia
itulah yang kemudian mengambil bentuk sebagai “kebutaan
mata ruhani Dajjal”, firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ اَعۡمٰی
فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ اَعۡمٰی وَ اَضَلُّ
سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini
maka di akhirat pun ia akan buta juga dan bahkan mungkin lebih tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:72).
Firman-Nya
lagi:
وَ مَنۡ
اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾ قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ
قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا ﴿﴾ قَالَ کَذٰلِکَ
اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ
وَکَذٰلِکَ الۡیَوۡمَ تُنۡسٰی ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ
الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی
النُّہٰی ﴿﴾٪
Dan
barangsiapa berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkit-kannya pada Hari
Kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), mengapa
Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?” Dia
berfirman: "Demikianlah
telah datang kepada kamu Tanda-tanda Kami, tetapi engkau melupakannya dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini." Dan
demikianlah Kami memberi balasan orang
yang melanggar dan ia tidak beriman
kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan niscaya
azab akhirat itu lebih keras dan lebih kekal. Maka apakah tidak memberi petunjuk kepada mereka berapa banyak generasi yang telah
Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan
di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā
[20]:125-129).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 21 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar