Minggu, 22 Februari 2015

Allah Swt. "Hakim Paling Adil" dari Semua Hakim Dalam "Penghakiman" Umat Manusia




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 63

 Allah Swt. “Hakim Paling Adil” dari Semua Hakim  Dalam Penghakiman Umat Manusia



 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  ketidak-bersyukuran manusia kepada Allah Swt., sehubungan dengan makna ayat  لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ  -- “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik  bentuk.” Manusia dilahirkan dengan fitrat suci dan tidak bernoda, dengan kecondongan alami untuk berbuat baik (QS.30:31),  tetapi ia telah diberi pula cukup banyak kebebasan berkemauan dan berbuat untuk membentuk dirinya menurut pilihannya sendiri, apakah ia  mau menjadi penghuni neraka jahannam  atau menjadi penghuni surga  (QS.18:30-32).
Manusia pun  telah dianugerahi kemampuan-kemampuan alami besar dan kecakapan-kecakapan kreatif guna mencapai kemajuan akhlak yang tidak terhingga dan menaiki puncak keruhanian demikian tingginya, sehingga ia menjadi cermin yang memantulkan sifat-sifat Allah melalui pelaksanaan peribadahan kepada-Nya (QS.51:57).
   Ayat selanjutnya ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ -- “Kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling rendah,” yakni  jika ia menyalahgunakan kemampuan-kemampuan dan sifat-sifatnya yang dianugerahkan Allah Swt. tersebut maka  ia jatuh ke martabat rendah yang rendah yang bahkan lebih rendah daripada martabat binatang buas dan binatang jalang, dan menjadi penjelmaan syaitan,  seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikutnya. Singkatnya, insan  (manusia) telah dianugerahi kemampuan-kemampuan besar guna berbuat baik atau pun jahat.

Orang-orang “Berakal”  yang Seperti “Binatang Ternak”

 Jatuhnya martabat manusia ke derajat yang rendah seperti binatang ternak tersebut   bukan karena mereka itu orang-orang yang bodoh,  melainkan akibat tidak mempergunakan indera-indera ruhani yang merupakan pasangan indera-indera jasmani, yang  dapat membuat manusia mampu meraih berbagai kesuksesan duniawi dalam kehidupannya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam  banyak di antara jin dan ins (manusia),   mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, mereka  memiliki   mata tetapi  mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga  tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  --    mereka itu  seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ  -- Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180). Lihat pula   QS.2:8; QS.22:46-47; QS.25:44; QS.45:24-27.
        Sebagaimana telah dijelaskan bahwa kata jin itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar. Menurut Allah Swt. dari cara mereka menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan – karena mengikuti hawa-nafsu (syahwat) duniawi -- nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk neraka.
   Huruf lam (lā) di sini lam ‘aqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat. Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesalkan mengenai kehidupan kebanyakan ins (manusia) dan jin, karena itu Allah SWt. akan memperlakukan mereka seperti perlakuan terhadap   bintang ternak”, firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا یَتَمَتَّعُوۡنَ وَ یَاۡکُلُوۡنَ کَمَا تَاۡکُلُ الۡاَنۡعَامُ وَ النَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ ﴿﴾  وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ  قَرۡیَۃٍ  ہِیَ اَشَدُّ  قُوَّۃً  مِّنۡ قَرۡیَتِکَ الَّتِیۡۤ  اَخۡرَجَتۡکَ ۚ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ فَلَا  نَاصِرَ  لَہُمۡ﴿﴾
Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا یَتَمَتَّعُوۡنَ وَ یَاۡکُلُوۡنَ کَمَا تَاۡکُلُ الۡاَنۡعَامُ وَ النَّارُ مَثۡوًی لَّہُمۡ   --  sedang orang-orang kafir mereka bersenang-senang di dunia dan mereka makan sebagaimana binatang-binatang ternak  makan, dan Api menjadi tempat tinggal bagi mereka. وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ  قَرۡیَۃٍ  ہِیَ اَشَدُّ  قُوَّۃً  مِّنۡ قَرۡیَتِکَ الَّتِیۡۤ  اَخۡرَجَتۡکَ --  Dan berapa banyak negeri yang lebih kuat daripada negeri engkau yang telah mengusir engkau, اَہۡلَکۡنٰہُمۡ فَلَا  نَاصِرَ  لَہُمۡ  --  Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada penolong bagi mereka. (Muhammad [47]:13-14).
   Kalau orang-orang beriman  makan untuk hidup supaya dapat berbakti kepada Allah Swt. dan sesama manusia, orang-orang kafir hidup untuk makan dan tidak mempunyai tujuan lebih luhur untuk dikejar. Mereka tidak lebih tinggi dari taraf binatang-binatang ternak, sebab seluruh pandangan hidup mereka bercorak kebendaan (keduniawian).

Teriakan  Gembala kepada Binatang Gembalaannya

  Ayat  selanjutnya (ayat 14) yang diturunkan (diwahyukan)  tatkala Nabi Besar Muhammad saw. sedang dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Medinah, karena “diusir” dari tempat tumpah darah beliau saw., dan disayembarakan dengan janji hadiah akan diberikan kepada barangsiapa yang dapat menangkap beliau saw.  hidup atau mati (QS.8:31).
    Setiap saat Nabi Besar Muhammad saw.  merasa khawatir akan tertangkap, sebab Medinah masih jauh sekali, sedang di luar kota berkeliaran  petualang-petualang, yang berusaha membawa beliau saw.  kembali dalam keadaan hidup ataupun mati, ingin memperoleh hadiah yang sangat diidam-idamkan mereka. Dalam ayat tersebut kepada beliau  saw. dijanjikan oleh Allah Swt. perjalanan yang selamat.
  Pendek kata, bagaimana pun luar-biasanya pencapaian kesuksesan duniawi yang diraih seseorang atau pun suatu kaum  (bangsa)   -- akibat penggunaan secara optimal indera-indera jasmani, termasuk akal mereka (QS.14:8)  --  tetapi jika mereka tidak mampu  menyaksikan “Tanda-tanda” Allah Swt.  yang mendukung kebenaran pendakwaan  Rasul Allah yang dikirimkan kepada mereka maka pada akhirnya Allah Swt. akan memperlakukan mereka dengan perlakuan yang tidak hormat seperti terhadap binatang-binatang ternak, sebab mereka telah menyia-nyiakan anugarah indera-indera ruhani yang justru untuk membedakan manusia dari binatang, firman-Nya: 
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً  وَّ  نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ  فَہُمۡ  لَا  یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan  keadaan orang-orang kafir itu seperti  seseorang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.   Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu  mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172). Lihat pula  QS.2:19.
  Nabi Besar Muhammad saw.. menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada orang-orang kafir. Beliau saw. itu penyeru dan mereka mendengar suara beliau saw., tetapi tidak berusaha menangkap maknanya. Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan ternak  dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya.
 Jadi, jika insan  (manusia) telah diciptakan Allah Swt. untuk mencapai tujuan ruhani yang amat tinggi itu dan  Allah Swt. telah mengutus nabi-nabi-Nya  -- seperti Nabi Adam a.s.,  Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s.,   dan Nabi Besar Muhammad saw.   -- untuk menolong atau membimbing manusia melalui wahyu Ilahi guna mencapai tujuannya  yang agung itu (QS.51:57),  maka jika manusia  tidak mempergunakan kemampuan-kemampuannya dengan cara tepat dan menolak Amanat Ilahi serta menentang para Rasul  Allah  maka ia dihukum  dengan azab Ilahi, sebagaimana yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.7:35-37).

Allah Swt. Adalah “Hakim Yang Paling Adil  Dalam Melakukan “Penghakiman

  Dari kenyataan Sunnatullah tersebut,  siapakah dapat menolak berdasarkan akal sehat, bahwa ada Hari Pembalasan di dunia ini dan juga di akhirat,  dan bahwa perintah-perintah Allah,  --  Yang adalah Hakim terbaik   --  tidak dapat dilawan dan bahwa perbuatan-perbuatan manusia tidak akan dibiar-kan bebas tanpa berbalas?           Itulah makna ayat  فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ  -- “Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan Hari Pembalasan sesudah itu?  اَلَیۡسَ اللّٰہُ  بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ --     Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim?” dalam firman-Nya:
 لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ ۫﴿﴾  ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ ۙ﴿﴾  اِلَّا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ  اَجۡرٌ غَیۡرُ  مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿﴾  فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾  اَلَیۡسَ اللّٰہُ  بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ ٪﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan insan  (manusia) dalam sebaik-baik  bentuk. Kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling rendah,  Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya. فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ -- Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan Hari Pembalasan sesudah itu? اَلَیۡسَ اللّٰہُ  بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ  --  Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim? (At-Tīn [95]:5-9).
  Benarlah firman-Nya dalam Surah Al-Insān (Ad-Dahr) bahwa bagi orang-orang yang tidak mensyukuri berbagai kemampuan yang dianugerahkan Allah Swt. Dia berfirman: اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا  -- “sesungguhnya Kami telah menyediakan  bagi orang-orang kafir  rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ ہَلۡ  اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ  لَمۡ  یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  اَمۡشَاجٍ ٭ۖ  نَّبۡتَلِیۡہِ  فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾  اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ  السَّبِیۡلَ  اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Bukankah telah  datang kepada insan  (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum nenjadi  sesuatu yang layak disebut?   Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah campuran   supaya Kami dapat mengujinya, maka Kami telah membuat dia mendengar serta melihat.  Sesungguhnya Kami telah me-nunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur.    Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala.  (Ad-Dahr [76]:1-5).

Makna Lain Sebutan  Insan    

    Tetapi secara khusus kata insan dalam ayat-ayat tersebut dapat tertuju kepada  Gog (Ya’uj) dan Magog (Ma’juj)    -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang mempercayai faham sesat “Trinitas” dan “penebusan dosa   -- sebab dari segi berbagai kemampuan jasmani manusia  bangsa-bangsa tersebut  dapat dikatakan telah “mensyukurinya” (QS.14:8), sehingga mereka berhasil meraih berbagai kesuksesan duniawi  serta   -- tanpa mereka sadari --  mereka menjadi saksi  terhadap kebenaran Al-Quran  dan Nabi Besar Muhammad saw. yang mereka dustakan.
  Contohnya adalah mengenai peristiwa awal terciptanya alam semesta yang disebut  the Big Bang” (ledakan besar -- QS.21:31), upaya menembus langit  dan bumi (QS.55:34-36), perekaman amal perbuatan manusia (QS.17:37;  QS.18:50; QS.24:25; QS.36:66; QS.41:21-23; QS.99:1-9) dan berbagai hal lainnya, semua yang terkandung dalam Al-Quran tersebut kebenarannya  dibuktikan oleh penyelidikan ilmiah  yang dilakukan oleh  para ilmuwan Barat yang mendustakan Al-Quran, firman-Nya:
اَوَ لَمۡ  یَرَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اَنَّ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ  شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ 
Tidakkah orang-orang  yang kafir melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu  lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami   jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Tidakkah  mereka   mau beriman? (Al-Anbiya [21]:31).
       Dalam ayat tersebut peristiwa “the Big Bang  terkandung dalam kalimat  اَنَّ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا    -- “seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu  lalu Kami pisahkan keduanya.” Dan penyebutan “orang-orang kafir” pada awal ayat tersebut secara khusus ditujukan kepada mereka yang mendustakan Al-Quran yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., yang di dalamnya terkandung seluruh kebenaran  yang dibutuhkan oleh umat manusia  sampai Hari Kiamat nanti, sehingga  Al-Quran pun  seakan-akan merupakan  sebuah “Kitab” yang mencatat atau rekaman semua  kebenaran, firman-Nya:
 وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ فَتَرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ مُشۡفِقِیۡنَ  مِمَّا فِیۡہِ وَ یَقُوۡلُوۡنَ یٰوَیۡلَتَنَا مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً  اِلَّاۤ  اَحۡصٰہَا ۚ وَ  وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا ؕ وَ لَا یَظۡلِمُ  رَبُّکَ  اَحَدًا ﴿٪﴾
Dan kitab amalannya akan diletakkan di hadapan mereka, maka engkau akan melihat orang-­orang yang berdosa itu ketakutan dari apa yang ada di dalamnya itu, dan mereka akan berkata: "Aduhai  celakalah kami! مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً  اِلَّاۤ  اَحۡصٰہَا ۚ وَ  وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا --  Kitab apakah ini? Ia tidak meninggalkan sesuatu, baik yang kecil maupun yang besar  melainkan telah mencatatnya."  Dan mereka menjumpai apa yang telah mereka kerjakan itu berada di hadapan mereka, dan Rabb (Tuhan) engkau tidak menzalimi seorang pun. (Al-Kahf [18]:50). Lihat pula QS.39:70 & QS.33:31; QS.99:-7-9.

 Makna Kebutaan Ruhani “Dajjal”

   Tetapi sebaliknya dari keberhasilan mendaya-gunakan  berbagai kemampuan jamani mereka,  mengenai berbagai kemampuan ruhani yang dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka, mereka itu  tidak mensyukurinya secara benar,  dan   mereka telah “mempertuhankan manusia” yang lemah, yang tidak mampu menghindarkan diri dari upaya pembunuhan melalui “penyaliban” yang dilakukan para pemuka agama Yahudi yang mendustakan  pendakwaannya (QS.4:158-159).
     Bahkan  di kalangan mereka  ada yang  kemudian   menganut  faham atheism, karena setelah mereka berhasil “menembus batas-batas langit” (QS.55:34) mereka   tidak pernah  menemukan tanda-tanda keberadaan “tuhan Yesus” di langit (Markus 16:19), sehingga mereka berkesimpulan bahwa tidak ada  kerajaan Tuhan” baik di bumi mau pun di langit.
   Jadi, kelumpuhan berbagai kemampuan ruhani  manusia itulah yang kemudian mengambil bentuk sebagai  kebutaan mata ruhani  Dajjal”, firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat  pun  ia akan buta juga  dan bahkan mungkin lebih tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:72).
Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا ﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dan  barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.  Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-­ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?”  Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada kamu Tanda-tanda Kami, tetapi engkau melupakannya dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini."   Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab  akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.   Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:125-129).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 21 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar