بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 51
Nubuatan Dzulqarnain (Cyrus) Mengenai “Robohnya
Tembok Darband” oleh Serbuan Liar Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog) di Akhir Zaman Selepas dari “Pemenjaraan Seribu Tahun”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dibahas
mengenai bukti-bukti kenyataan yang menunjukkan bahwa Cyrus-lah
yang mendirikan “Tembok Darband”yakni:
(a) Untuk
mematahkan kekuatan bangsa Scythia, Darius,
yang menaiki takhta kerajaan sesudah wafat putra Cyrus, dengan melalui Yunani
menyerang bangsa Scythia, dari
jurusan Eropa. Tidak masuk akal, bahwa ia menempuh perjalanan begitu jauh lagi
sukar dan mengambil jalan keliling, untuk menyerang kaum itu melalui Eropa
Tengah, padahal mereka tinggal sangat dekat kepadanya di sebelah utara.
Kesimpulan yang
tidak dapat dielakkan ialah, bahwa memang ada suatu tembok yang sangat besar, hanya mungkin didirikan oleh Cyrus sebelum zaman Darius. Seandainya tembok
yang menghalangi musuh tidak ada, maka hal itu tidak memungkinkan Darius dengan pasukan yang besar, pergi
ke sebelah lain dengan mengambil jalan memutar, sambil meninggalkan negeri
sendiri terbuka terhadap serangan-serangan
musuh dari utara.
(b) Sebelum masa Cyrus,
bangsa Scythia mengadakan
penyerbuan-penyerbuan terus-menerus dengan tidak ada henti-hentinya terhadap Persia, tetapi sesudah diadakannya
penaklukan-penaklukan oleh Cyrus maka
penyerbuan-penyerbuan itu terhenti sama sekali.
Kenyataan ini
membawa kepada kesimpulan yang sangat mungkin, yaitu bahwa niscaya Cyrus yang telah mendirikan tembok penghalang yang berhasil
menghentikan serangan-serangan
itu, dan penghalang itu tentunya tembok Darband yang tersohor, yang
keliru orang kenal sebagai “tembok
Iskandar”. Sehubungan dengan hal
tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Dzulqarnain:
قَالَ مَا
مَکَّنِّیۡ فِیۡہِ رَبِّیۡ خَیۡرٌ فَاَعِیۡنُوۡنِیۡ بِقُوَّۃٍ اَجۡعَلۡ بَیۡنَکُمۡ وَ
بَیۡنَہُمۡ رَدۡمًا ﴿ۙ﴾ اٰتُوۡنِیۡ زُبَرَ
الۡحَدِیۡدِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا سَاوٰی بَیۡنَ
الصَّدَفَیۡنِ قَالَ انۡفُخُوۡا ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَعَلَہٗ نَارًا ۙ قَالَ اٰتُوۡنِیۡۤ اُفۡرِغۡ عَلَیۡہِ قِطۡرًا ﴿ؕ﴾
la
berkata: "Kekuasaan yang
dianugerahkan kepadaku oleh Rabb-ku (Tuhan-ku)
dalam hal ini adalah lebih baik,
tetapi kamu boleh membantuku dengan kekuatan (tenaga), aku
akan mendirikan di antara kamu dengan mereka sebuah penghalang. Berikanlah kepadaku kepingan-kepingan besi.” Hingga ketika ia telah meratakan di antara kedua bukit itu, ia
berkata: “Hembuskanlah.” Hingga ketika ia telah menjadikannya seperti api ia berkata: "Berikanlah
kepadaku cairan tembaga, supaya aku
dapat menuangkan di atasnya." Maka mereka, Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat memanjatnya dan tidak dapat melubanginya. (Al-Kahf
[18]:96-98).
Cyrus
yakni Dzulqarnain minta kepada
penduduk setempat untuk menyediakan baginya tenaga
manusia (SDM), sebab kata quwwah berarti kekuatan fisik, yaitu tenaga kasar. Selain tenaga
kasar, Cyrus pun meminta pula dari penduduk setempat besi
dan tembaga yang dicairkan. Tembaga itu — bukan seperti besi — tidak
berkarat dan bila dicampur dengan besi, maka hasil campuran itu menjadi lebih keras
serta tahan karat. Tenaga ahli bangunan dan teknik diisi oleh ahli-ahli teknik Cyrus.
Kubu itu didirikan di antara Laut Kaspia dan pegunungan Kaukasus, dan
setelah pembuatan dinding penghalang
itu selesai maka serangan-serangan Ya’juj dan Ma’juj dari
utara berhenti, sebab tembok penghalang tersebut terlalu
tebal untuk dipecahkan dan ditembus, dan terlalu tinggi untuk dipanjat. Tembok itu
tingginva 29 kaki dan lebarnya 10 kaki (Encyclopaedia
Britannica.) dan mempunyai pintu-pintu
besi dan menara-menara penjagaan. Tembok
penghalang itu merupakan penjaga batas Persia yang paling ampuh.
Nubuatan “Robohnya
Tembok Darband”
Namun sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab sebelumnya, mengenai keberhasilan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Magog) memanfaatkan energi api untuk keperluan daya penggerak sarana transportasi baru dan persenjataan mereka di Akhir Zaman, karena itu Dzulqarnain (Cyrus) atas dasar wahyu
Ilahi mendapat kabar dari Allah Swt. bahwa akan datang masanya “Tembok Darband” tidak akan mampu lagi membendung gerakan liar Ya’juj (Gog) dam Ma’juj (Magog) di Akhir Zaman,
firman-Nya:
فَمَا
اسۡطَاعُوۡۤا اَنۡ یَّظۡہَرُوۡہُ وَ مَا اسۡتَطَاعُوۡا لَہٗ نَقۡبًا ﴿﴾ قَالَ ہٰذَا رَحۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّیۡ ۚ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ
رَبِّیۡ جَعَلَہٗ دَکَّآءَ ۚ وَ کَانَ
وَعۡدُ رَبِّیۡ حَقًّا ﴿ؕ﴾ وَ تَرَکۡنَا
بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ وَّ نُفِخَ فِی
الصُّوۡرِ
فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا ﴿ۙ﴾
Ia,
Dzulqarnain, berkata: “Ini rahmat
dari Rabb-ku (Tuhan-ku), فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ دَکَّآءَ -- tetapi apabila telah tiba janji Rabb-ku (Tuhan-ku), Dia akan
memecahkannya berkeping-keping, وَ کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ حَقًّا -- dan janji
Rabb-ku (Tuhan-ku) itu pasti benar.
وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ -- Dan pada
hari itu Kami akan membiarkan sebagian mereka
menyerang sebagian lain, وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا -- dan nafiri akan ditiup, lalu Kami akan menghimpun mereka itu semuanya.
(Al-Kahf [18]:99-100).
Cyrus tentunya telah diberitahu melalui ilham Ilahi bahwa pada suatu ketika di
mass depan Ya’juj dan Ma’juj akan tersebar sekali lagi ke
tenggara. dan tembok penghalang itu
akan mampu menahan atau menghentikan gerak maju mereka. Rupanya
inilah arti dari kata-kata "Dia akan
memecahkannya."
Dalam QS.21:97 kita diberitahu bahwa Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari barat -- akan
menjulurkan tangan-tangan guritanya ke
seluruh dunia. Secara kiasan "memecahkan dinding” dapat pula menunjuk
kepada merosotnva kekuatan politik Islam,
terutama kekuatan bangsa Turki (Dinasti Ottoman) di Eropa. Dengan menjadi lemahnya Turki maka jalan bangsa-bangsa Kristen di Eropa untuk menaklukkan daerah timur menjadi terbuka.
Pada waktu menanjaknya Ya’juj dan Ma’juj ke
tangga kekuasaan, bangsa‑bangsa di
seluruh dunia akan berhimpun sehingga seluruh dunia akan menjadi seperti satu negeri. Dan menurut Bible, “Bangsa akan melawan bangsa dan kerajaan
melawan kerajaan serta kedengkian, kebencian, dan keburukan akan merajalela."
Isyarat itu nampaknya ditujukan kepada masa di Akhir Zaman ini.
Dalam Perang Dunia
yang lampau seolah-olah mereka telah dilepaskan
di dunia dari “pemenjaraannya”, dan
manusia gemetar bila mengkhayalkan kebinasaan yang dapat diakibatkan oleh Perang Dunia Ketiga. Menurut Yehezkiel
(bab-bab 38 dan 39) Uni Soviet penganut
system Sosialisme itu Ya’juj (Gog) dan bangsa-bangsa barat penganut
system Kapitalisme itu Ma’juj (Magog). Kini pun mereka sedang
bersiap-siap untuk perang Armagedon.
Mengenai kehancuran
yang menimpa umat manusia yang
ditimbulkan oleh kobaran api Perang-perang
Dunia – khususnya akibat Perang
Nuklir -- tersebut berikut adalah keterangan Petrus dalam surat kirimannya yang kedua:
Hari Tuhan
3:1 Saudara-saudara yang kekasih, ini
sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku
berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, 3:2 supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. 3:3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan
tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup
menuruti hawa nafsunya 3:4 Kata
mereka: "Di manakah janji tentang
kedatangan-Nya itu ? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita
meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan. "
3:5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh
firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang
berasal dari air dan oleh air, 3:6 dan
bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh
air bah. 3:7 Tetapi oleh
firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan
disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. 3:8 Akan tetapi,
saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu,
bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan
seribu tahun sama seperti satu hari. 3:9 Tuhan tidak
lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai
kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki
supaya jangan ada yang binasa , melainkan supaya semua orang
berbalik dan bertobat. 3:10 Tetapi hari
Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu
langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur
dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan
hilang lenyap. 3:11 Jadi,
jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya
kamu harus hidup 3:12 yaitu kamu yang menantikan
dan mempercepat kedatangan hari Allah . Pada hari itu langit akan binasa dalam api
dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. 3:13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita
menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana
terdapat kebenaran.
Keterangan Petrus mengenai “satu
hari Tuhan” sama dengan “seribu tahun”
tersebut tersebut memiliki hubungan dengan
pelepasan sementara Iblis dan Satan, yakni naga si ular tua dari “pemenjaraannya selama seribu
tahun” -- yaitu Gog
(Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) --
kemudian akan mengalami kebinasaan
selama-lamanya di dalam lautan api
dan belerang:
Kerajaan seribu tahun
20:1 Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; 20:2 ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan. Dan ia
mengikatnya seribu tahun lamanya , 20:3 lalu melemparkannya ke dalam jurang maut,
dan menutup
jurang maut itu dan memeteraikannya
di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir
masa seribu tahun itu; kemudian dari
pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya……..
Iblis dihukum
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari
penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog
dan Magog, dan mengumpulkan
mereka untuk berperang dan jumlah
mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan
mereka, dilemparkan
ke dalam lautan api dan belerang
yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka
disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”
Iblis
yang Menolak “Sujud” Kepada Adam Berbeda dengan Syaitan
yang Menipu Beliau Dalam “Jannah”
Allah Swt. menyebut pemuka kaum Nabi Adam a.s. yang menentang keras beliau dengan
sebutan iblis adalah mengisyaratkan kepada sifat-sifat buruk yang
dimiliki orang tersebut. Kata iblis berasal dari ablasa, yang
berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan
harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang
Allah Swt., (3) telah patah
semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia
tertahan dari mencapai harapannya.
Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis
itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatannya, dan disebabkan oleh
rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. oleh sikap pembangkangannya sendiri
-- menolak beriman dan mentaati Nabi Adam a.s.
-- maka ia (iblis) dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
Iblis seringkali
dianggap sama dengan syaitan, tetapi
dalam beberapa hal keduanya berbeda. Sebagaimana
telah dikemukakan bahwa iblis
itu bukan salah seorang dari para malaikat,
sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak
patuh kepada Allah Swt., sedangkan
para malaikat dilukiskan sebagai
senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).
Allah Swt. telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Nabi Adam a.s.
tetapi iblis membangkang
(QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis -- untuk “sujud” kepada Adam -- perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga atau pengendali berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
Seperti dinyatakan di atas, iblis
sesungguhnya nama sifat yang
diberikan atas dasar arti akar kata
itu (ablasa) kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama
demikian karena ia mempunyai sifat-sifat
buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali luput
dari kebaikan dan telah dibiarkan
Allah Swt. kebingungan dalam langkahnya
dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt., yang
dianggapnya “keliru” telah memilih Adam sebagai Khalifah-Nya (rasul-Nya) karena ia beranggapan dirinya jauh lebih mulia daripada Adam.
Bahwa iblis bukanlah syaitan
— yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut
kedua nama itu berdampingan, kapan
saja riwayat Nabi Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan
pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran
membicarakan makhluk yang — berbeda
dari para malaikat — menolak berbakti kepada Adam a..s. maka
senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran
membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam dan istrinya harus keluar
(hijrah) dari dari “kebun” maka Al-Quran menyebutnya dengan
nama syaitan (QS.7:12-16).
Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam
Al-Quran, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12-26; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121;
QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis berbeda dari syaitan yang menipu Nabi Adam a.s. dan merupakan salah seorang dari kaum beliau sendiri.
Allah Swt. berfirman tentang Gog
(Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) yang
merupakan kebangkitan Iblis dan satan
(setan) -- yakni naga,
si ular tua atau Dajjal
-- di Akhir Zaman ini setelah masa “pemenjaraannya” selama 1000 tahun
(Kitab Wahyu 20:1-3 & 7-10):
مَاۤ اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا
خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ
مُتَّخِذَ الۡمُضِلِّیۡنَ عَضُدًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ
جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّوۡبِقًا ﴿﴾ وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ
مُّوَاقِعُوۡہَا وَ
لَمۡ یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا ﴿٪﴾ وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنِ
لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ
مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ
الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ
جَدَلًا ﴿﴾
Aku
sekali-kali tidak membuat mereka
menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi, dan tidak
pula penciptaan mereka sendiri, dan Aku
sama sekali tidak dapat mengambil mereka yang menyesatkan orang-orang
sebagai pembantu. Dan ingatlah hari ketika Dia akan berfirman kepada
mereka: نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ -- "Panggillah mereka yang kamu anggap sekutu-sekutu-Ku." فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّوۡبِقًا
-- Lalu mereka akan memanggil mereka itu tetapi mereka
itu tidak akan menjawabnya dan Kami menjadikan di antara mereka suatu
penghalang." وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا -- Dan orang-orang yang berdosa akan
melihat Api itu, dan meyakini bahwa
sesungguhnya mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka ti-dak akan dapat menemukan
tempat berpaling darinya. وَ لَقَدۡ
صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ -- Dan sungguh Kami benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia setiap
perumpamaan, وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ جَدَلًا
-- tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah.
(Al-Kahf [18]:52-55).
Ayat فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّوۡبِقًا
-- Lalu mereka akan memanggil mereka itu tetapi mereka
itu tidak akan menjawabnya dan Kami menjadikan di antara mereka suatu
penghalang," ayat ini dapat berarti, bahwa bangsa-bangsa itu akan membangun dinding-dinding peraturan harga-harga barang yang tinggi atau akan
membuat tirai-tirai besi serta akan
melakukan boikot ekonomi terhadap
satu sama lain; dan dapat pula berarti mereka akan terlibat dalam peperangan-peperangan sengit yang akan membinasakan mereka.
Makna ayat وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا -- dan orang-orang yang berdosa akan
melihat Api itu, dan meyakini bahwa
sesungguhnya mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka ti-dak akan dapat menemukan
tempat berpaling darinya,” yakni
bangsa-bangsa kafir dari barat
akan menyaksikan mendekatnya suatu peperangan yang sangat dahsyat. Mereka akan mempergunakan segala macam cara yang mungkin untuk menghindarinya, tetapi segala rencana
dan usaha mereka untuk tujuan itu
akan terbukti sia-sia belaka.
Dunia Barat
sebelumnya telah melalui kesengsaraan
yang ditimbulkan oleh dua perang dunia yang sangat membinasakan, yang telah hampir-hampir
memusnahkan kekuasaan politik dan kehormatannya di dunia, serta telah
menggoncangkan kebudayaan barat
sampai ke dasar-dasarnya. Malapetaka
ketiga berupa ancaman Perang Nuklir
sedang mengancam kebudayaan itu,
mungkin juga mengancam seluruh dunia.
Ayat وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا
فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ -- Dan sungguh Kami benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia setiap
perumpamaan, وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ جَدَلًا
-- tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah,” dapat berarti:
(a) Dari semua
makhluk Allah, manusia telah dianugerahi akal
dan kemampuan-kemampuan otak, tetapi
amat disayangkan ia mempergunakannya untuk menolak
kebenaran dan juga untuk tujuan-tujuan
buruk lainnya;
(b) atau dapat pula berarti, bahwa manusia itu adalah kurban prasangka-prasangka dan keragu-raguan
mendalam yang jarang memperoleh kepuasan;
dan oleh karena sifat ragu-ragu
menjadi darah-dagingnya maka ia berusaha menemukan celah-celah untuk mengelak
dari dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang sangat meyakinkan sekalipun.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar