Minggu, 08 Februari 2015

Nubuatan Dzulqarnain (Cyrus) Mengenai "Robohnya Tembok Darband" oleh Serbuan Liar Ya'juj (Gog) dan Ma'juj (Magog) di Akhir Zaman Selepas "Pemenjaraan Seribu Tahun"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 51

  
    Nubuatan Dzulqarnain (Cyrus) Mengenai “Robohnya Tembok Darband” oleh Serbuan  Liar Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) di Akhir Zaman Selepas dari “Pemenjaraan Seribu Tahun

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai bukti-bukti kenyataan yang menunjukkan  bahwa Cyrus-lah yang mendirikan “Tembok Darband”yakni:
(a) Untuk mematahkan kekuatan bangsa Scythia, Darius, yang menaiki takhta kerajaan sesudah wafat putra Cyrus, dengan melalui Yunani menyerang bangsa Scythia, dari jurusan Eropa. Tidak masuk akal, bahwa ia menempuh perjalanan begitu jauh lagi sukar dan mengambil jalan keliling, untuk menyerang kaum itu melalui Eropa Tengah, padahal mereka tinggal sangat dekat kepadanya di sebelah utara.
 Kesimpulan yang tidak dapat dielakkan ialah, bahwa memang ada suatu tembok yang sangat besar, hanya mungkin didirikan oleh Cyrus sebelum zaman Darius. Seandainya tembok yang menghalangi musuh tidak ada, maka hal itu tidak memungkinkan Darius dengan pasukan yang besar, pergi ke sebelah lain dengan mengambil jalan memutar, sambil meninggalkan negeri sendiri terbuka terhadap serangan-serangan musuh dari utara.
   (b) Sebelum masa Cyrus, bangsa Scythia mengadakan penyerbuan-penyerbuan terus-menerus dengan tidak ada henti-hentinya terhadap Persia, tetapi sesudah diadakannya penaklukan-penaklukan oleh Cyrus maka penyerbuan-penyerbuan itu terhenti sama sekali.
   Kenyataan ini membawa kepada kesimpulan yang sangat mungkin, yaitu bahwa niscaya Cyrus yang telah mendirikan tembok penghalang yang berhasil menghentikan serangan-serangan itu,  dan penghalang itu tentunya tembok Darband yang tersohor, yang keliru orang kenal sebagai “tembok Iskandar”.  Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Dzulqarnain:
قَالَ مَا مَکَّنِّیۡ فِیۡہِ رَبِّیۡ خَیۡرٌ فَاَعِیۡنُوۡنِیۡ بِقُوَّۃٍ  اَجۡعَلۡ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَہُمۡ  رَدۡمًا ﴿ۙ﴾  اٰتُوۡنِیۡ زُبَرَ الۡحَدِیۡدِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا سَاوٰی بَیۡنَ الصَّدَفَیۡنِ قَالَ انۡفُخُوۡا ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَعَلَہٗ  نَارًا ۙ قَالَ اٰتُوۡنِیۡۤ  اُفۡرِغۡ عَلَیۡہِ قِطۡرًا ﴿ؕ﴾
la berkata: "Kekuasaan  yang dianugerahkan kepadaku oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) dalam hal ini adalah lebih baik, tetapi kamu boleh membantuku dengan kekuatan (tenaga),  aku akan mendirikan di antara kamu dengan mereka sebuah penghalang.    Berikanlah kepadaku kepingan-kepingan besi.”  Hingga ketika ia telah meratakan di antara kedua bukit itu, ia berkata: “Hembuskanlah.” Hingga ketika ia telah menjadikannya seperti api ia berkata: "Berikanlah kepadaku cairan tembaga, supaya aku dapat menuangkan di atasnya."   Maka mereka, Ya’juj dan Ma’juj tidak dapat memanjatnya dan tidak dapat melubanginya. (Al-Kahf [18]:96-98).
     Cyrus yakni Dzulqarnain minta kepada penduduk setempat untuk menyediakan baginya tenaga manusia (SDM), sebab kata quwwah berarti  kekuatan fisik, yaitu tenaga kasar. Selain   tenaga kasar,  Cyrus pun meminta pula dari penduduk setempat  besi dan tembaga yang dicairkan. Tembaga itu — bukan seperti besi — tidak berkarat dan bila dicampur dengan besi, maka hasil campuran itu menjadi lebih keras serta tahan karat. Tenaga ahli bangunan dan teknik diisi oleh ahli-ahli teknik Cyrus.
  Kubu itu didirikan di antara Laut Kaspia dan pegunungan Kaukasus, dan setelah pembuatan dinding penghalang itu selesai  maka  serangan­-serangan Ya’juj dan Ma’juj dari utara berhenti, sebab  tembok penghalang tersebut  terlalu tebal untuk dipecahkan dan ditembus, dan terlalu tinggi untuk dipanjat. Tembok itu tingginva 29 kaki dan lebarnya 10 kaki (Encyclopaedia Britannica.) dan mempunyai pintu-pintu besi dan menara-menara penjagaan. Tembok penghalang itu merupakan penjaga batas Persia yang paling ampuh.

Nubuatan “Robohnya Tembok Darband”

      Namun sebagaimana  telah dikemukakan dalam Bab sebelumnya,  mengenai keberhasilan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) memanfaatkan energi api  untuk keperluan daya penggerak sarana transportasi  baru dan persenjataan mereka di Akhir Zaman, karena itu Dzulqarnain (Cyrus) atas dasar wahyu Ilahi  mendapat kabar dari Allah Swt. bahwa akan datang masanya “Tembok Darband” tidak akan mampu lagi membendung gerakan liar Ya’juj (Gog) dam Ma’juj (Magog) di Akhir Zaman, firman-Nya:
فَمَا اسۡطَاعُوۡۤا اَنۡ یَّظۡہَرُوۡہُ  وَ مَا اسۡتَطَاعُوۡا  لَہٗ  نَقۡبًا ﴿﴾ قَالَ ہٰذَا رَحۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّیۡ ۚ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ  دَکَّآءَ ۚ وَ کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ  حَقًّا  ﴿ؕ﴾ وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا ﴿ۙ﴾
Ia, Dzulqarnain,  berkata: “Ini rahmat dari Rabb-ku (Tuhan-ku), فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ  دَکَّآءَ -- tetapi apabila telah tiba janji Rabb-ku (Tuhan-ku), Dia akan me­mecahkannya  berkeping-keping,  وَ کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ  حَقًّا -- dan  janji Rabb-ku (Tuhan-ku) itu pasti benar. وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ --   Dan pada hari itu Kami akan mem­biarkan sebagian mereka  menyerang sebagian lain, وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا  --  dan nafiri akan ditiup, lalu  Kami akan menghimpun mereka itu semuanya. (Al-Kahf [18]:99-100).
      Cyrus tentunya telah diberitahu melalui ilham Ilahi bahwa pada suatu ketika di mass depan Ya’juj dan Ma’juj akan tersebar sekali lagi ke tenggara. dan tembok penghalang itu akan mampu menahan atau menghentikan gerak maju mereka. Rupanya inilah arti dari kata-kata "Dia akan memecahkannya."
       Dalam QS.21:97 kita diberitahu  bahwa Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari barat -- akan menjulurkan tangan-tangan guritanya ke seluruh dunia. Secara kiasan  "memecahkan dinding” dapat pula menunjuk kepada merosotnva kekuatan politik Islam,  terutama kekuatan bangsa Turki (Dinasti Ottoman) di Eropa. Dengan menjadi lemahnya Turki  maka jalan bangsa-bangsa Kristen di Eropa untuk menaklukkan daerah timur menjadi terbuka.
  Pada waktu menanjaknya Ya’juj dan Ma’juj ke tangga kekuasaan, bangsa‑bangsa di seluruh dunia akan berhimpun  sehingga seluruh dunia akan menjadi seperti satu negeri. Dan menurut Bible, “Bangsa akan melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan serta kedengkian, kebencian, dan keburukan akan merajalela." Isyarat itu nampaknya ditujukan kepada masa di Akhir Zaman ini.
   Dalam Perang Dunia yang lampau seolah-olah mereka telah dilepaskan di dunia dari “pemenjaraannya”, dan manusia gemetar bila mengkhayalkan kebinasaan yang dapat diakibatkan oleh Perang Dunia Ketiga. Menurut Yehezkiel (bab-bab 38 dan 39) Uni Soviet penganut system Sosialisme itu Ya’juj (Gog) dan bangsa-bangsa barat penganut system Kapitalisme itu Ma’juj (Magog). Kini pun mereka sedang bersiap-siap untuk perang Armagedon.
 Mengenai  kehancuran yang menimpa umat manusia yang ditimbulkan oleh kobaran api  Perang-perang  Dunia – khususnya akibat Perang Nuklir  -- tersebut berikut  adalah keterangan Petrus  dalam  surat kirimannya yang kedua:

Hari Tuhan
3:1 Saudara-saudara  yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan,  3:2 supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi  kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu   kepadamu. 3:3 Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya 3:4 Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu ? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan. " 3:5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, 3:6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. 3:7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. 3:8 Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun  dan seribu tahun sama seperti satu hari.  3:9 Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa , melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. 3:10 Tetapi hari Tuhan  akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh  yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. 3:11 Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup  3:12 yaitu kamu yang menantikan  dan mempercepat kedatangan hari Allah . Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. 3:13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru  dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.
        Keterangan Petrus  mengenai “satu hari Tuhan” sama dengan “seribu tahun” tersebut tersebut memiliki hubungan dengan  pelepasan sementara Iblis dan Satan, yakni naga si ular tua dari “pemenjaraannya selama  seribu tahun  -- yaitu  Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) -- kemudian akan mengalami kebinasaan selama-lamanya di dalam lautan api dan belerang:

Kerajaan seribu tahun
20:1 Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga  memegang anak kunci   jurang maut    dan suatu rantai besar di tangannya; 20:2 ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan.   Dan ia mengikatnya seribu tahun   lamanya , 20:3 lalu melemparkannya ke dalam jurang maut,   dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya  di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa,  sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya……..
Iblis dihukum
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,   Iblis akan dilepaskan   dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa    pada keempat penjuru bumi,   yaitu Gog dan Magog,   dan mengumpulkan mereka untuk berperang  dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.   20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung   perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi   itu. Tetapi dari langit   turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka,   dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang  yaitu tempat binatang   dan nabi palsu   itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”

Iblis  yang Menolak “Sujud” Kepada Adam Berbeda  dengan Syaitan yang Menipu Beliau Dalam “Jannah

    Allah Swt. menyebut pemuka kaum Nabi Adam a.s. yang menentang keras beliau dengan sebutan iblis adalah   mengisyaratkan kepada sifat-sifat buruk  yang dimiliki orang tersebut. Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang  Allah Swt.,  (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
 Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatannya, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.   oleh sikap pembangkangannya sendiri   -- menolak  beriman dan mentaati Nabi Adam a.s.  --  maka ia (iblis)  dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
      Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal  keduanya berbeda. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa   iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt., sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).
       Allah Swt. telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati  Nabi Adam a.s.   tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis   -- untuk “sujud” kepada Adam --  perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga atau pengendali  berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
       Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan Allah Swt.  kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt., yang dianggapnya “keliru” telah memilih Adam sebagai Khalifah-Nya (rasul-Nya) karena ia beranggapan  dirinya jauh lebih mulia daripada Adam.  
      Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat  Nabi Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikatmenolak berbakti kepada Adam a..s. maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam dan istrinya harus keluar (hijrah) dari dari “kebun” maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan (QS.7:12-16). 
       Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12-26;   QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis   berbeda dari syaitan yang menipu  Nabi Adam a.s.  dan merupakan salah seorang dari kaum beliau  sendiri.
        Allah Swt. berfirman tentang Gog (Ya’juj) dan  Magog (Ma’juj)  yang merupakan  kebangkitan  Iblis  dan satan (setan)   -- yakni    naga, si ular tua   atau Dajjal --  di Akhir Zaman ini setelah masa “pemenjaraannya” selama 1000 tahun (Kitab Wahyu 20:1-3 & 7-10):
 مَاۤ  اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ مُتَّخِذَ  الۡمُضِلِّیۡنَ  عَضُدًا ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ  الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّوۡبِقًا ﴿﴾  وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ  یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا ﴿٪﴾ وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا ﴿﴾
Aku sekali-kali tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi,   dan tidak pula penciptaan mereka sendiri, dan Aku sama sekali tidak dapat mengambil mereka yang menyesatkan orang-orang sebagai pembantu. Dan ingatlah hari  ketika Dia akan berfirman kepada mereka: نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ  الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ  --  "Panggillah mereka yang kamu anggap sekutu-sekutu-Ku."  فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّوۡبِقًا  -- Lalu mereka  akan memanggil mereka itu  tetapi mereka itu tidak akan men­jawabnya  dan Kami menjadikan di antara mereka suatu penghalang."      وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ  یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا --  Dan orang-orang yang berdosa akan melihat Api itu, dan meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka ti-dak akan dapat menemukan  tempat berpaling darinya.   وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ    -- Dan  sungguh Kami benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia  setiap perumpamaan, وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا  --   tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah.  (Al-Kahf [18]:52-55).
   Ayat  فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّوۡبِقًا  -- Lalu mereka  akan memanggil mereka itu  tetapi mereka itu tidak akan men­jawabnya  dan Kami menjadikan di antara mereka suatu penghalang,"    ayat    ini dapat berarti, bahwa bangsa-bangsa itu akan membangun dinding-dinding peraturan harga-harga barang yang tinggi atau akan membuat tirai-tirai besi serta akan melakukan boikot ekonomi terhadap satu sama lain; dan dapat pula berarti mereka akan terlibat dalam peperangan-peperangan sengit yang akan membinasakan mereka.
   Makna ayat وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ  یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا --  dan orang-orang yang berdosa akan melihat Api itu, dan meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka ti-dak akan dapat menemukan  tempat berpaling darinya,” yakni bangsa-bangsa kafir dari barat akan menyaksikan mendekatnya suatu peperangan yang sangat dahsyat. Mereka akan mempergunakan segala macam cara yang mungkin untuk menghindarinya, tetapi segala rencana dan usaha mereka untuk tujuan itu akan terbukti sia-sia belaka.
   Dunia Barat sebelumnya telah melalui kesengsaraan yang ditimbulkan oleh dua  perang dunia yang sangat membinasakan, yang telah hampir-hampir memusnahkan kekuasaan politik dan kehormatannya di dunia, serta telah menggoncangkan kebudayaan barat sampai ke dasar-dasarnya. Malapetaka ketiga berupa ancaman Perang Nuklir sedang mengancam kebudayaan itu, mungkin juga mengancam seluruh dunia.
   Ayat وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ    -- Dan  sungguh Kami benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia  setiap perumpamaan, وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا  --   tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah,”  dapat berarti:
 (a) Dari semua makhluk Allah,  manusia telah dianugerahi akal dan kemampuan-kemampuan otak, tetapi amat disayangkan ia mempergunakannya untuk menolak kebenaran dan juga untuk tujuan-tujuan buruk lainnya;
  (b) atau dapat pula berarti, bahwa manusia itu adalah kurban prasangka-prasangka dan keragu-raguan mendalam yang jarang memperoleh kepuasan; dan oleh karena sifat ragu-ragu menjadi darah­-dagingnya maka ia berusaha menemukan celah-celah untuk mengelak dari dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang sangat meyakinkan sekalipun.

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 8 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar