Selasa, 17 Februari 2015

Akibat Buruk Melanggar Hukum-hulkum Alam dan Hukum-hukum Syariat Adalah Masuk ke Dalam "Kobaran Ap Kemurkaan" Allah Swt.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 60

  
Akibat Buruk Melanggar Hukum-hukum Alam dan Hukum-hukum Syariat Adalah Masuk ke Dalam “Kobaran Api  Kemurkaan" Allah Swt.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai keanekaragaman yang indah sekali dalam bentuk, warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya terdapat pada bunga, buah, dan batu karang, akan tetapi juga pada manusia, binatang buas dan ternak, firman-Nya:
اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّ اللّٰہَ  اَنۡزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ  مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ  مُّخۡتَلِفًا  اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ  بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ  مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih,   merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak?  Dan demikian juga di antara manusia,  hewan berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya.  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ  -- Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama.  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun (Al-Fāthir [35]:28-29).

Ulama Hakiki  Adalah “Orang-orang yang Berakal

       Kata an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak) tersebut dapat juga melukiskan manusia dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan, dan kecenderungan alami. Ungkapan  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya dari antara hamba-hambanya yang takut kepada Allah dari  adalah para ‘ulama,” memberikan bobot arti kepada pandangan bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu – yakni ‘ulama -- saja yang takut kepada Allah Swt.  
        Akan tetapi di sini  ilmu  yang dimiliki  oleh  ‘ulama itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu-ilmu agama dan  ilmu keruhanian, akan tetapi juga  berkenaan dengan pengetahuan  hukum alam. Sebab penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya niscaya membawa orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Allah Ta’ala dan sebagai akibatnya merasa kagum dan takzim terhadap Tuhan, sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai makrifat yang diraih “orang-orang yang mempergunakan akalnya”:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ  -- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.     Yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka,  وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا  -- seraya berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  --       Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ --  Wahai  Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ  -- dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Ali ‘Imran [3]:191-193).

Akibat Buruk Pelanggaran Terhadap Hukum Alam  dan Hukum Syariat  & Berfungsinya Indera-indera Ruhani  “Orang-orang yang Berakal”

        Pelajaran yang terkandung dalam penciptaan seluruh  langit dan bumi dan dalam pergantian malam dan siang ialah manusia diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani dan jasmani. Bila ia berbuat amal saleh maka masa kegelapannya dan masa kesedihannya pasti akan diikuti oleh masa terang benderang dan kebahagiaan.
    Tatanan agung yang dibayangkan pada ayat-ayat sebelumnya tidak mungkin terwujud tanpa suatu tujuan tertentu, dan karena seluruh alam ini telah dijadikan untuk menghidmati manusia, tentu saja kejadian manusia sendiri mempunyai tujuan yang agung dan mulia pula, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS.51:57), sehingga  manusia  benar-benar layak sebagai “Khalifah Allah” (wakil Allah)  di muka bumi.
      Bila orang merenungkan (bertafakkur) tentang kandungan arti keruhanian yang diserap dari gejala-gejala fisik di dalam penciptaan seluruh alam dengan tatanan sempurna yang melingkupinya itu, ia akan sangat terkesan dengan mendalam oleh kebijakan luhur Sang Al-Khāliq-nya (Maha Pencipta-nya) lalu dengan serta-merta terlontar dari dasar lubuk hatinya seruan:  رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا  --     Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia.”
     Bahkan melalui  makrifat yang diperolehnya lebih jauh, ia bukan saja menyadari mengenai pentingnya mentaati hukum-huklum alam, sebab  jika tidak maka ia harus menanggung akibat buruknya: سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  --       Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ --  Wahai  Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ  -- dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun” (Ali ‘Imran [3]:192-193),  yakni setiap orang harus menanggung akibat-akibat buruk dari pelanggaran  yang dilakukannya terhadap hukum, baik hukum alam mau pun hukum agama.  وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی    -- “dan tidak ada seorang penanggung beban akan menanggung beban orang  lain” (QS.6:165; QS.35:19; QS.39:8; QS.53:39). Tidak ada yang namanya “penebusan dosa.
       Makrifatnya menghasilkan kesadaran ruhani   lainnya berupa   berfungsinya indera-indera ruhani  mereka, firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata: اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ      --  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" فَاٰمَنَّا  -- maka kami telah beriman. Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,   hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan.  Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, se-sungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:194-195).

Pengabulan Doa “Orang-orang yang Berakal”

        Dzunub  dalam ayat  رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا  -- “Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,yang umumnya menunjuk kepada kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaan yang biasa melekat pada diri manusia, dapat melukiskan relung-relung gelap dalam hati, ke tempat itu Nur Ilahi tidak dapat sampai dengan sebaik-baiknya, sedangkan sayyi’at yang secara relatif  merupakan kata yang bobotnya lebih keras, dapat berarti gumpalan-gumpalan awan debu yang menyembunyikan cahaya matahari ruhani dari pemandangan kita. Lihat pula ayat-ayat QS.2:82 dan QS.3:17.
      Pendek kata, demikianlah keadaan perkembangan  makrifat Ilahi  yang dimiliki  ‘ulama hakiki yang dikemukakan dalam Surah Al-Fāthir sebelum ini:
اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّ اللّٰہَ  اَنۡزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ  مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ  مُّخۡتَلِفًا  اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ  بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ  مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih,   merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak?  Dan demikian juga di antara manusia,  hewan berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya.  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ  -- Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama.  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun (Al-Fāthir [35]:28-29).
        Terhadap permohonan doa “orang-orang  yang berakal” atau ‘ulama hakiki seperti itu Allah Swt. selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirman: “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kamu adalah dari sebagian lain,  maka orang-orang yang  hijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku,  yang  berperang  dan  yang terbunuh, niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku  akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai se-bagai ganjaran dari sisi Allah,   dan Allah di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran. (Ali ‘Imran [3]:196).
      Karena Surah ini pada pokoknya memperbincangkan  akidah-akidah dan paham serta cara hidup kaum Kristen, dan karena agama Kristen memberikan kepada perempuan  kedudukan yang jelas lebih rendah daripada kedudukan laki-laki, sekalipun keadaan yang sebenarnya berlawanan dengan pengakuan gereja Kristen, maka pemberian tekanan oleh ayat ini kepada persamaan kedudukan kaum perempuan  dengan kedudukan kaum pria di dalam alam ruhani, merupakan akibat yang wajar sekali. Kata-kata بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ -- sebagian kamu adalah dari sebagian lain, dimaksudkan untuk menekankan persamaan kedudukan  kaum pria dan kaum perempuan.

Kesuksesan Duniawi Bangsa-bangsa Kristen dari Barat &  Makna “Terbelahnya Langit

      Berkenaan dengan kesuksesan  duniawi yang diraih  Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat – hal tersebut adalah karena mereka memanfaatkan  makrifat (pengetahuan)  yang mereka miliki mengenai kesempurnaan hukum-hukum alam   yang mengatur tatanan alam semesta ini.
        Namun demikian,    karena   salah satu dari  kedua pasang mata  mereka itu  buta   - yakni mata ruhani mereka --  maka  mereka tidak termasuk ‘ulama hakiki yang takut kepada Allah Swt.   karena itu mereka tetap berpegang pada kemusyrikan yang diyakininya  yaitu “Trinitas” dan “penebusan dosa.” Mengisyaratkan kepada “ketidak-bersyukuran” mereka kepada Allah Swt. itulah firman Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِذَا  السَّمَآءُ  انۡفَطَرَتۡ ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا الۡکَوَاکِبُ انۡتَثَرَتۡ ۙ﴿﴾  وَ  اِذَا الۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ ﴿ۙ﴾   وَ  اِذَا الۡقُبُوۡرُ بُعۡثِرَتۡ ۙ﴿﴾   عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَ اَخَّرَتۡ ؕ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.     Apabila langit terbelah,  dan apabila bintang-bintang jatuh  berserakan,   dan apabila lautan-lautan dialirkan, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. Setiap jiwa akan mengetahui  apa yang mereka dahulukan dan apa yang mereka tinggalkan di belakang, (Al-Infithār [82]:1-6).
   Surah Al-Infithār ini membahas secara istimewa keadaan-keadaan yang akan merajalela di Akhir Zaman saat ini,  ketika itikad-itikad serta cara-cara hidup bangsa-bangsa Kristen akan sangat mempengaruhi perilaku dan pandangan-pandangan bangsa-bangsa bukan Kristen, pada khususnya umat Islam.
  Semua nubuatan yang tersebut di dalam Surah Al-Infithār ini telah menjadi sempurna secara harfiah. Surah Al-Infithār ini diturunkan di Mekkah dalam awal tahun-tahun Nabawi, kira-kira pada waktu yang hampir bersamaan dengan Surah yang mendahuluinya, Surah At-Takwir.
  Seperti dikemukakan  bahwa Surah  Al-Infithār ini secara khusus mengupas keadaan ketika agama Kristen akan mencapai kemajuan besar serta itikad-itikad Kristen Trinitas, Isa anak Tuhan, dan penebusan dosa – akan sangat merajalela, yang disebut sebagai “fitnah Dajjal” atau Anti-Kristus.
  Kepada merajalelanya ajaran-ajaran Kristen yang palsu itulah Al-Quran mengisyaratkan dalam Surah lain dengan kata-kata keras:  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا  -- “Hampir-hampir seluruh langit pecah oleh karenanya, dan bumi terbelah dan gunung-gunung rebah berkeping-keping, اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا -- disebabkan mereka menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak” (Maryam [19]:91-92).
     Ayat yang sedang dibahas ini  اِذَا  السَّمَآءُ  انۡفَطَرَتۡ  -- “Apabila langit terbelah” menunjuk kepada dua ayat Surah Maryam tersebut dan mengandung arti, bahwa pada saat itu kepercayaan-kepercayaan Kristen yang palsu itu akan menguasai dunia, dan sebagai akibatnya akan bangkit kemurkaan Allah Swt.  serta azab Ilahi akan menimpa dunia dalam berbagai bentuk, seiring dengan  keberhasilan mereka secara jasmani  melakuikan upaya “menembus batas-batas seluruh langit dan bumi  (QS.55:34-46).

Makna “Bintang-bintang Berjatuhan   &  Berbagai Tanda-tanda Akhir Zaman Dalam Bidang Iptek

 Seiring dengan terjadinya fitnah Dajjal tersebut ayat selanjutnya berbicara dalam bahasa kiasan, وَ  اِذَا الۡکَوَاکِبُ انۡتَثَرَتۡ   -- “dan apabila bintang-bintang jatuh  berserakan.” ayat ini berarti bahwa di Akhir Zaman orang-orang yang memiliki ilmu dan tuntunan ruhani sejati akan hilang atau akan menjadi langka.
   Mengapa demikian? Sebab dalam kenyataannya umumnya para ‘ulama Islam pun dengan kepercayaan keliru mereka   -- bahwa Nabi isa Ibnu Maryam a.s. Israili sampai saat ini masih hidup di langit dengan jasad kasarnya  dan akan turun lagi  dari langit di Akhir Zaman untuk menjadi Rasul Allah bagi umat Islam  -- dari satu segi telah membantu menyuburkan  penyebaran  faham “Trinitas” dan “penebusan dosa” di Akhir Zaman ini.
  nPadahal dengan jelas Allah Swt.  telah menyatakan dalam Al-Quran bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw. dan seluruh Rasul Allah sebelumnya pun telah wafat (QS.3:56 & 145; QS.5:17-19; QS.21:35) serta menyatakan bahwa yang akan datang adalah misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) yang muncul (dibangkitkan) dari kalangan umat Islam (QS.62:3-5) karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili adalah Rasul Allah terakhir hanya untuk Bani Israil (QS.2:88-91; QS.3:49-52;  QS.61:7).
   Ayat  selanjutnya  وَ  اِذَا الۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ   -- “dan apabila lautan-lautan dialirkan,”  nubuatan Al-Quran tersebut telah mnejadi kenyataan  di Akhir Zaman ini    -- untuk tujuan memperpendek jarak tempuh kapal-kapal laut    --  maka  lautan-lautan raya dan samudera-samudera besar akan dibuat mengalir dan berhubungan satu sama lain dengan perantaraan terusan-terusan; atau teluk-teluknya akan digali menjadi lebar sehingga kapal-kapal besar dapat keluar masuk ke sana. Isyarat ini dapat pula tertuju kepada Terusan Panama dan Terusan Suez.
   Salah satu bukti kemajuan duniawi yang dimiliki Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj)  dalam bidang penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) Di Akhir Zaman  adalah penggalian  kuburan-kuburan  serta berbagai situs purbakala lainnya, seperti contohnya  penggalian kuburan-kuburan raja-raja Mesir purba, sehingga benarlah pernyataan Allah Swt. tentang penyelamatan jasad Fir’aun yang tenggelam di laut ketika mengejar Nabi Musa a.s. dan Bani Israil  (QS.10:91-93. Atau ayat ini dapat berarti bahwa kota-kota dan tugu-tugu peringatan yang telah terpendam selama ribuan tahun dan telah lama dilupakan akan digali kem-bali.
  Dalam ayat berikut ini  عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَ اَخَّرَتۡ   -- “Setiap jiwa akan mengetahui  apa yang mereka dahulukan dan apa yang mereka tinggalkan di belakang,” bersama-sama beberapa ayat berikutnya,  sapaan itu ditujukan kepada para tokoh dan penganjur ajaran Kristen yang keliru itu.
  Mereka akhirnya akan menyadari akan kekejian dan keburukan ajaran palsu mereka itu,  karena berdasarkan iptek yang mereka kuasai dalam hal “perekaman” segala sesuatu, bahwa hal yang sama dilakukan Allah Swt. mengenai keadaan pikiran dan amal perbuatan mereka (QS.17:37;  QS.24:25; QS.36:66-67; QS.41:20-26). Selanjutnya  Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا  الۡاِنۡسَانُ مَا غَرَّکَ بِرَبِّکَ الۡکَرِیۡمِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ ۙ﴿﴾  فِیۡۤ  اَیِّ صُوۡرَۃٍ  مَّا شَآءَ  رَکَّبَکَ ؕ﴿﴾ 
Hai insan, apa yang telah memperdayai engkau mengenai  Rabb (Tuhan) engkau Yang Maha Mulia.  Yang telah menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan engkau, lalu menata tubuh engkau dengan  serasi?  . Dalam bentuk apa yang Dia kehendaki Dia menyusun tubuh engkau. (Al-Infithār [82]:7-9).
   Dalam ayat ini  Allah Swt.  telah mengingatkan seluruh umat manusia bahwa Dia dengan rahmat dan karunia-Nya telah menganugerahi  insan  (manusia) kekuatan-kekuatan dan kemampuan-kemampuan fitri agung agar ia dapat naik ke puncak kemuliaan ruhani setinggi-tingginya (QS.95:5) melalui pelaksanaan peribadahan kepada-Nya (QS.51:57).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 17 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar