بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 60
Akibat Buruk Melanggar Hukum-hukum Alam dan Hukum-hukum
Syariat Adalah Masuk ke Dalam “Kobaran Api Kemurkaan" Allah Swt.
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai keanekaragaman
yang indah sekali dalam bentuk,
warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya
terdapat pada bunga, buah, dan batu karang, akan tetapi juga pada manusia, binatang buas
dan ternak, firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ
غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ مِنَ النَّاسِ وَ
الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah
engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu
buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah
dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak? Dan demikian juga di antara manusia, hewan
berkaki empat dan binatang ternak
bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun (Al-Fāthir [35]:28-29).
‘Ulama Hakiki Adalah “Orang-orang
yang Berakal”
Kata an-nās (manusia), ad-dawāb
(binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak) tersebut dapat juga
melukiskan manusia dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan,
dan kecenderungan alami. Ungkapan اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya
dari antara hamba-hambanya yang takut kepada Allah dari adalah para ‘ulama,” memberikan bobot
arti kepada pandangan bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu – yakni ‘ulama -- saja yang takut kepada Allah Swt.
Akan tetapi di sini ilmu yang dimiliki
oleh ‘ulama itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu-ilmu agama dan ilmu keruhanian, akan tetapi juga berkenaan dengan pengetahuan hukum alam.
Sebab penyelidikan yang seksama
terhadap alam dan hukum-hukumnya niscaya membawa orang
kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Allah Ta’ala dan
sebagai akibatnya merasa kagum dan takzim terhadap Tuhan, sebagaimana
firman-Nya berikut ini mengenai makrifat
yang diraih “orang-orang yang
mempergunakan akalnya”:
اِنَّ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ
وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ
ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ
اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi
serta pertukaran malam dan siang لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ -- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal. Yaitu
orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil berbaring
atas rusuk mereka, وَ
یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi رَبَّنَا مَا
خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- seraya berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali
tidaklah Engkau menciptakan semua ini
sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ -- Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api. رَبَّنَاۤ
اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam
Api maka sungguh Engkau telah
menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ -- dan
sekali-kali tidak ada bagi orang-orang
zalim seorang penolong pun. (Ali
‘Imran [3]:191-193).
Akibat Buruk Pelanggaran Terhadap Hukum
Alam dan Hukum Syariat &
Berfungsinya Indera-indera Ruhani “Orang-orang yang Berakal”
Pelajaran yang terkandung dalam penciptaan
seluruh langit dan bumi dan dalam
pergantian malam dan siang ialah manusia
diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani
dan jasmani. Bila ia berbuat amal saleh maka masa kegelapannya dan masa kesedihannya pasti akan diikuti oleh masa terang benderang dan kebahagiaan.
Tatanan agung yang dibayangkan
pada ayat-ayat sebelumnya tidak mungkin terwujud tanpa suatu tujuan tertentu, dan karena seluruh alam
ini telah dijadikan untuk menghidmati
manusia, tentu saja kejadian manusia
sendiri mempunyai tujuan yang agung
dan mulia pula, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS.51:57),
sehingga manusia benar-benar layak sebagai “Khalifah Allah” (wakil Allah) di muka bumi.
Bila orang merenungkan
(bertafakkur) tentang kandungan arti keruhanian
yang diserap dari gejala-gejala fisik
di dalam penciptaan seluruh alam
dengan tatanan sempurna yang
melingkupinya itu, ia akan sangat
terkesan dengan mendalam oleh kebijakan
luhur Sang Al-Khāliq-nya (Maha Pencipta-nya) lalu dengan serta-merta
terlontar dari dasar lubuk hatinya
seruan: رَبَّنَا مَا
خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan
semua ini sia-sia.”
Bahkan melalui makrifat
yang diperolehnya lebih jauh, ia bukan saja menyadari
mengenai pentingnya mentaati hukum-huklum
alam, sebab jika tidak maka ia harus
menanggung akibat buruknya: سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ -- Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api. رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ
فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang
Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh
Engkau telah menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ -- dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun” (Ali ‘Imran [3]:192-193), yakni setiap orang harus menanggung akibat-akibat buruk dari pelanggaran yang dilakukannya terhadap hukum, baik hukum alam mau pun hukum agama. وَ لَا تَزِرُ
وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی -- “dan tidak ada seorang penanggung beban
akan menanggung beban orang lain” (QS.6:165;
QS.35:19; QS.39:8; QS.53:39). Tidak ada yang namanya “penebusan dosa.”
Makrifatnya menghasilkan kesadaran ruhani lainnya
berupa berfungsinya indera-indera ruhani mereka, firman-Nya:
رَبَّنَاۤ
اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا
بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا
فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا
مَعَ الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru
menyeru kami kepada keimanan seraya
berkata: اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ -- "Berimanlah
kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" فَاٰمَنَّا -- maka kami telah beriman. Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, hapuskanlah
dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama
orang-orang yang berbuat kebajikan.
Wahai Rabb (Tuhan) kami,
karena itu berikanlah kepada kami apa
yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, se-sungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.”
(Ali
‘Imran [3]:194-195).
Pengabulan Doa “Orang-orang yang Berakal”
Dzunub dalam ayat رَبَّنَا
فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا -- “Wahai Rabb (Tuhan)
kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,” yang umumnya menunjuk kepada kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaan yang biasa melekat pada diri manusia, dapat
melukiskan relung-relung gelap dalam hati,
ke tempat itu Nur Ilahi tidak dapat
sampai dengan sebaik-baiknya, sedangkan sayyi’at yang secara
relatif merupakan kata yang bobotnya
lebih keras, dapat berarti gumpalan-gumpalan
awan debu yang menyembunyikan cahaya
matahari ruhani dari pemandangan kita. Lihat pula ayat-ayat QS.2:82 dan
QS.3:17.
Pendek kata, demikianlah keadaan
perkembangan makrifat Ilahi yang
dimiliki ‘ulama hakiki yang dikemukakan dalam Surah Al-Fāthir sebelum ini:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ
غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ مِنَ النَّاسِ وَ
الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah
engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu
buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah
dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak? Dan demikian juga di antara manusia, hewan
berkaki empat dan binatang ternak
bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun (Al-Fāthir [35]:28-29).
Terhadap permohonan doa “orang-orang
yang berakal” atau ‘ulama
hakiki seperti itu Allah Swt. selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاسۡتَجَابَ
لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ
اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ
ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ
سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ
لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ
حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya
berfirman: “Sesungguhnya
Aku tidak akan menyia-nyiakan amal
orang-orang yang beramal dari antara
kamu baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kamu adalah dari
sebagian lain, maka orang-orang yang hijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya,
yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan
yang terbunuh, niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka
keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku
akan memasukkan mereka
ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai se-bagai ganjaran
dari sisi Allah, dan Allah di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran.
(Ali
‘Imran [3]:196).
Karena Surah ini pada
pokoknya memperbincangkan akidah-akidah dan paham serta cara hidup kaum
Kristen, dan karena agama Kristen
memberikan kepada perempuan kedudukan yang jelas lebih rendah daripada kedudukan
laki-laki, sekalipun keadaan yang sebenarnya berlawanan dengan pengakuan gereja
Kristen, maka pemberian tekanan oleh ayat ini kepada persamaan kedudukan kaum perempuan dengan kedudukan
kaum pria di dalam alam ruhani,
merupakan akibat yang wajar sekali. Kata-kata بَعۡضُکُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡضٍ -- sebagian
kamu adalah dari sebagian lain, dimaksudkan untuk menekankan persamaan kedudukan kaum pria dan kaum
perempuan.
Kesuksesan Duniawi Bangsa-bangsa Kristen dari Barat
& Makna “Terbelahnya Langit”
Berkenaan dengan kesuksesan duniawi yang
diraih Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) – yakni bangsa-bangsa Kristen
dari Barat – hal tersebut adalah karena mereka memanfaatkan makrifat (pengetahuan) yang mereka miliki mengenai kesempurnaan hukum-hukum alam yang mengatur tatanan alam semesta ini.
Namun demikian, karena
salah satu dari kedua pasang mata mereka itu buta - yakni mata
ruhani mereka -- maka mereka tidak termasuk ‘ulama hakiki yang takut kepada Allah Swt. karena
itu mereka tetap berpegang pada kemusyrikan
yang diyakininya yaitu “Trinitas”
dan “penebusan dosa.” Mengisyaratkan kepada “ketidak-bersyukuran” mereka kepada Allah
Swt. itulah firman Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا السَّمَآءُ
انۡفَطَرَتۡ ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡکَوَاکِبُ انۡتَثَرَتۡ ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ ﴿ۙ﴾ وَ اِذَا الۡقُبُوۡرُ بُعۡثِرَتۡ ۙ﴿﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَ
اَخَّرَتۡ ؕ﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apabila
langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
dan apabila lautan-lautan dialirkan, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. Setiap
jiwa akan mengetahui apa yang mereka
dahulukan dan apa yang mereka
tinggalkan di belakang, (Al-Infithār [82]:1-6).
Surah Al-Infithār ini membahas secara istimewa
keadaan-keadaan yang akan merajalela di Akhir
Zaman saat ini, ketika itikad-itikad serta cara-cara hidup bangsa-bangsa Kristen
akan sangat mempengaruhi perilaku dan
pandangan-pandangan bangsa-bangsa bukan Kristen, pada khususnya umat Islam.
Semua nubuatan yang tersebut
di dalam Surah Al-Infithār ini telah
menjadi sempurna secara harfiah. Surah Al-Infithār ini diturunkan di Mekkah dalam
awal tahun-tahun Nabawi, kira-kira
pada waktu yang hampir bersamaan dengan Surah yang mendahuluinya, Surah At-Takwir.
Seperti dikemukakan bahwa Surah Al-Infithār ini secara
khusus mengupas keadaan ketika agama
Kristen akan mencapai kemajuan besar
serta itikad-itikad Kristen Trinitas,
Isa anak Tuhan, dan penebusan dosa – akan sangat merajalela,
yang disebut sebagai “fitnah Dajjal”
atau Anti-Kristus.
Kepada merajalelanya ajaran-ajaran Kristen yang palsu itulah Al-Quran mengisyaratkan dalam
Surah lain dengan kata-kata keras: تَکَادُ السَّمٰوٰتُ
یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا -- “Hampir-hampir
seluruh langit pecah oleh karenanya, dan bumi terbelah dan gunung-gunung rebah
berkeping-keping, اَنۡ دَعَوۡا لِلرَّحۡمٰنِ
وَلَدًا -- disebabkan
mereka menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak” (Maryam [19]:91-92).
Ayat yang sedang dibahas ini اِذَا السَّمَآءُ
انۡفَطَرَتۡ -- “Apabila
langit terbelah” menunjuk kepada dua
ayat Surah Maryam tersebut dan
mengandung arti, bahwa pada saat itu kepercayaan-kepercayaan
Kristen yang palsu itu akan menguasai dunia, dan sebagai akibatnya akan bangkit kemurkaan Allah Swt. serta azab
Ilahi akan menimpa dunia dalam
berbagai bentuk, seiring dengan keberhasilan mereka secara jasmani melakuikan
upaya “menembus batas-batas seluruh
langit dan bumi” (QS.55:34-46).
Makna “Bintang-bintang Berjatuhan” &
Berbagai Tanda-tanda Akhir Zaman
Dalam Bidang Iptek
Seiring dengan terjadinya fitnah Dajjal tersebut ayat selanjutnya
berbicara dalam bahasa kiasan, وَ اِذَا الۡکَوَاکِبُ انۡتَثَرَتۡ -- “dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” ayat ini berarti bahwa di Akhir Zaman orang-orang yang memiliki ilmu dan tuntunan ruhani sejati akan hilang
atau akan menjadi langka.
Mengapa demikian? Sebab dalam kenyataannya
umumnya para ‘ulama Islam pun dengan kepercayaan keliru mereka -- bahwa Nabi
isa Ibnu Maryam a.s. Israili sampai saat ini masih hidup di langit dengan jasad
kasarnya dan akan turun lagi dari langit di Akhir Zaman untuk menjadi Rasul
Allah bagi umat Islam -- dari satu
segi telah membantu menyuburkan penyebaran
faham “Trinitas” dan “penebusan dosa” di Akhir Zaman ini.
nPadahal dengan jelas Allah
Swt. telah menyatakan dalam Al-Quran
bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah
wafat seperti halnya Nabi Besar
Muhammad saw. dan seluruh Rasul Allah
sebelumnya pun telah wafat (QS.3:56
& 145; QS.5:17-19; QS.21:35) serta menyatakan bahwa yang akan datang adalah
misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)
yang muncul (dibangkitkan) dari
kalangan umat Islam (QS.62:3-5)
karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili
adalah Rasul Allah terakhir hanya
untuk Bani Israil (QS.2:88-91;
QS.3:49-52; QS.61:7).
Ayat
selanjutnya وَ اِذَا الۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ -- “dan apabila lautan-lautan dialirkan,” nubuatan
Al-Quran tersebut telah mnejadi kenyataan
di Akhir Zaman ini -- untuk tujuan memperpendek jarak tempuh kapal-kapal laut -- maka lautan-lautan raya dan samudera-samudera besar akan dibuat mengalir dan berhubungan satu sama lain dengan perantaraan terusan-terusan; atau teluk-teluknya
akan digali menjadi lebar sehingga kapal-kapal
besar dapat keluar masuk ke sana. Isyarat ini dapat pula tertuju kepada Terusan Panama dan Terusan Suez.
Salah
satu bukti kemajuan duniawi yang dimiliki Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) dalam bidang
penguasaan iptek (ilmu pengetahuan
dan teknologi) Di Akhir Zaman adalah
penggalian kuburan-kuburan serta
berbagai situs purbakala lainnya,
seperti contohnya penggalian kuburan-kuburan raja-raja Mesir purba, sehingga benarlah
pernyataan Allah Swt. tentang penyelamatan
jasad Fir’aun yang tenggelam di laut ketika mengejar Nabi Musa a.s. dan Bani Israil (QS.10:91-93. Atau ayat ini dapat berarti
bahwa kota-kota dan tugu-tugu peringatan yang telah terpendam selama ribuan tahun dan telah
lama dilupakan akan digali kem-bali.
Dalam ayat berikut ini عَلِمَتۡ
نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَ اَخَّرَتۡ -- “Setiap jiwa akan mengetahui apa yang mereka dahulukan dan apa yang mereka tinggalkan di belakang,” bersama-sama beberapa ayat berikutnya, sapaan
itu ditujukan kepada para tokoh dan
penganjur ajaran Kristen yang keliru itu.
Mereka akhirnya akan menyadari akan kekejian dan keburukan ajaran
palsu mereka itu, karena berdasarkan
iptek yang mereka kuasai dalam hal “perekaman” segala sesuatu, bahwa hal yang sama dilakukan Allah Swt.
mengenai keadaan pikiran dan amal
perbuatan mereka (QS.17:37;
QS.24:25; QS.36:66-67; QS.41:20-26). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ مَا غَرَّکَ بِرَبِّکَ
الۡکَرِیۡمِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ ۙ﴿﴾ فِیۡۤ اَیِّ
صُوۡرَۃٍ مَّا شَآءَ رَکَّبَکَ ؕ﴿﴾
Hai insan, apa yang telah memperdayai engkau mengenai
Rabb (Tuhan) engkau Yang Maha Mulia. Yang telah menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan
engkau, lalu menata tubuh engkau
dengan serasi? . Dalam bentuk
apa yang Dia kehendaki Dia menyusun
tubuh engkau. (Al-Infithār
[82]:7-9).
Dalam
ayat ini Allah Swt. telah mengingatkan
seluruh umat manusia bahwa Dia dengan rahmat
dan karunia-Nya telah menganugerahi insan (manusia) kekuatan-kekuatan
dan kemampuan-kemampuan fitri agung
agar ia dapat naik ke puncak kemuliaan ruhani setinggi-tingginya
(QS.95:5) melalui pelaksanaan peribadahan
kepada-Nya (QS.51:57).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 17 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar