بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 65
Nubuatan Kekalahan Kerajaan Persia Setelah Mengalahkan Kerajaan Romawi &
Nubuatan Kehancuran “Bani Kedar”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai sabda Nabi Besar Muhammad saw., yang
menurut riwayat beliau saw. pernah
bersabda bahwa tiga abad (300 tahun) pertama
Islam akan merupakan masa yang terbaik, sesudah itu kepalsuan dan kesesatan -- seiring dengan
pelepasan Iblis dan Satan
(setan) atau naga si ular tua dari masa pemenjaraannya selama 1000 tahun (Wahyu
20:1-10) -- akan tersebar dan suatu
masa kegelapan akan datang dan meluas
sampai seribu tahun (Tirmidzi), firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ
اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari,
yang hitungan lamanya seribu tahun
dari apa yang kamu hitung. Demikian itulah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang (As-Sajdah [6-7).
Ayat ini menunjuk kepada
suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam di masa awal akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan
yang mantap selama 3 abad pertama
kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Penangguhan Kedatangan Azab Ilahi Selama 1000 Tahun
Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan
yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran
dan kemerosotannya berlangsung dalam
masa 1000 tahun berikutnya. Kepada
masa 1000 tahun inilah, telah
diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ -- “Kemudian perintah itu akan naik
kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda,
bahwa iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan
Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir). Dengan kedatangan Al-Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) dalam
abad ke-14 sesudah Hijrah, laju
kemerosotan Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku
dan ditakdirkan akan unggul
atas semua agama dalam semua segi (QS.61:10).
Jadi, masa penangguhan turunnya azab
Ilahi selama 1000 tahun dalam Surah Al
Hajj ayat 48 dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6). Dalam masa ini satu
kaum yang bermata biru yaitu bangsa-bangsa Kristen dari Barat atau Gog (Ya’juj) dan Magog (Majuj), akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia (QS.20:103-104).
Orang-orang bermata biru
itulah yang karena sombong dan takabur, yang diakibatkan oleh karena
memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan mengajukan
tantangan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mempercepat
azab yang — begitulah dikatakan oleh beliau saw. — akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan
itu.
Salah satu bentuk azab Ilahi yang dijanjikan Allah
Swt. melalui Nabi Besar Muhammad saw.
tersebut adalah meletusnya Perang
Dunia I dan Perang Dunia II,
sedangkan Perang Dunia III yang
merupakan “Perang Nuklir” hanya
tinggal menunggu waktunya, dan
juga -- seperti halnya dua perang dunia sebelumnya -- akan terjadi
secara tiba-tiba.
Jadi,
sesuai ayat اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ
ۙ﴿﴾ وَ الۡعَصۡرِ
ۙ﴿﴾ -- “Demi masa, sesungguhnya insan (manusia) itu
benar-benar dalam kerugian,” merupakan kesaksian sejarah atau
kesaksian waktu yang tidak pernah gagal, bahwa perseorangan-perseorangan atau bangsa-bangsa
yang tidak mempergunakan kesempatan
yang datang kepada mereka selama hidup di
dunia dengan cara tepat serta mereka menentang
“hukum kodrat alam abadi” yang
menentukan nasib manusia, tidak boleh
tidak pasti menanggung kesedihan.
Dua Cara
Meraih Kesuksesan: Melaksanakan Haqq (Kebenaran) dan Sabar
Pribadi-pribadi
dan bangsa-bangsa serupa inilah yang
secara khusus terkena oleh rangkuman kata al-insān di dalam Surah Al-‘Ashr. Sebab hukum-hukum Allah Swt. tidak dapat dilawan; dan seandainya hukum-hukum itu ditentang pasti mendatangkan hukuman
Allah Swt., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾ اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾ اِلَّا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ
وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ الۡعَصۡرِ -- Demi masa, ۙ اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ -- sesungguhnya
insan (manusia) itu benar-benar dalam kerugian, اِلَّا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ
-- kecuali orang-orang yang
beriman dan beramal saleh dan saling
menasihati mengenai kebenaran, وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ -- dan saling
menasihati mengenai kesabaran. (Al-‘Ashr [103]:1-4).
Dalam
Surah Al-‘Ashr ayat اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ
تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ وَ تَوَاصَوۡا
بِالصَّبۡرِ ٪ -- “kecuali orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
dan saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati mengenai kesabaran”
tersebut dan pada beberapa Surah lainnya dalam Al-Quran, orang-orang
beriman disuruh supaya mereka sendiri bukan saja harus
mengikuti asas-asas yang benar dan baik serta cita-cita yang
benar, itulah makna bilhaqq, tetapi harus juga menablighkannya kepada orang lain, dan dengan demikian menolong menciptakan iklim sehat di sekitar
mereka.
Mereka selanjutnya diperintahkan supaya jangan berkecil-hati
atau berputus asa waktu menghadapi perlawanan dan penindasan di tengah menjalankan tugas yang sangat berat itu, وَ
تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ -- bahkan
harus menanggung penderitaan dengan sabar dan tabah. Dengan demikian,
Surah Al-‘Ashr dengan sebuah ayat
singkat telah meletakkan peraturan
berperilaku yang dengan mengamalkan
peraturan itu orang dapat menempuh hidup
yang bahagia, sejahtera dan maju.
Dari sekian banyak arti al- ‘ashr dalam
ayat اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾ وَ الۡعَصۡرِ
ۙ﴿﴾ -- “Demi masa, sesungguhnya insan (manusia) itu
benar-benar dalam kerugian,” artinya “sejarah”
yakni al-‘ashr berarti:
masa; sejarah; silsilah dari abad ke abad;
sore hari; atau petang hari. Al-‘ashran berarti: malam dan siang hari;
pagi dan petang hari (Lexicon Lane).
Kesaksian “Sejarah” & Nubuatan Kekalahan
Bangsa Persia Setelah Mengalahkan Bangsa Romawi
Firman Allah Swt. berikut ini mengisyaratkan
kepada nubuatan silih bergantinya kekalahan dan kemenangan yang dialami kerajaan Romawi pimpinan Kaisar Hiraclius yang menganut agama Kristen melawan kerajaan
Persia pimpinan Kisra II, penganut agama
Majusi, setelah
mengalami kekalahan yang nista selama 9 tahun:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ الٓـمّٓ ۚ غُلِبَتِ
الرُّوۡمُ ۙ﴿﴾ فِیۡۤ اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَ ہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ ۙ﴿﴾ فِیۡ بِضۡعِ سِنِیۡنَ ۬ؕ لِلّٰہِ الۡاَمۡرُ مِنۡ قَبۡلُ وَ مِنۡۢ بَعۡدُ ؕ وَ
یَوۡمَئِذٍ یَّفۡرَحُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾ بِنَصۡرِ اللّٰہِ ؕ یَنۡصُرُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾ وَعۡدَ اللّٰہِ ؕ لَا یُخۡلِفُ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang. الٓـمّٓ -- Aku Allah
Yang Maha Mengetahui. غُلِبَتِ
الرُّوۡمُ -- Bangsa Rumawi telah dikalahkan,
فِیۡۤ اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَ ہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ -- di negeri yang dekat dan mereka
sesudah kekalahan mereka segera akan memperoleh kemenangan, فِیۡ بِضۡعِ
سِنِیۡنَ -- dalam beberapa tahun. لِلّٰہِ
الۡاَمۡرُ مِنۡ قَبۡلُ وَ مِنۡۢ بَعۡدُ -- Kepunyaan Allah kedaulatan
sebelum dan sesudahnya, وَ یَوۡمَئِذٍ
یَّفۡرَحُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ -- dan pada hari itu orang-orang yang
beriman akan bergembira. بِنَصۡرِ اللّٰہِ ؕ
یَنۡصُرُ مَنۡ یَّشَآءُ -- Dengan pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ -- Dan Dia Maha Perkasa,
Maha Penyayang, وَعۡدَ اللّٰہِ -- Sesuai
janji Allah, لَا یُخۡلِفُ
اللّٰہُ وَعۡدَہٗ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- Allah
tidak menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. (Ar-Rūm [30]:1-7).
Ada pun yang dimaksud dengan “negeri
yang dekat” dalam ayat 3 dan 4
adalah Palestina. Kata bidh’ menyatakan berbagai bilangan seperti 5, 7, 10 dan
sebagainya, tetapi umumnya dimafhumkan untuk menyatakan bilangan-bilangan 3
sampai 9 (Lexicon Lane).
Agar dapat memahami sepenuhnya
arti ayat selanjutnya وَ یَوۡمَئِذٍ
یَّفۡرَحُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ – “dan pada hari itu orang-orang yang beriman akan bergembira”
ini dan dua ayat sebelumnya, maka perlu kita meninjau selayang pandang keadaan politik yang berlaku di dua
kerajaan besar itu, yang letaknya berbatasan dengan tanah Arab — yaitu
kerajaan-kerajaan Persia dan Romawi — tidak lama sebelum Nabi Besar Muhammad
saw. diutus.
Kekalahan Bangsa Romawi
di Babak Awal Peperangan
Kedua kerajaan besar penganut agama
yang berbeda tersebut sedang berada
dalam kancah peperangan satu sama
lain. Babak pertama telah dimenangkan
oleh bangsa Persia, yang gelombang
serangannya mulai pada tahun 602 Masehi, ketika Kisra II mulai melancarkan perang
terhadap kerajaan Romawi dengan
maksud membalas dendam atas kematian Maurice, pelindung dan orang yang
berjasa kepadanya, di tangan Phocas.
Kembali kepada ayat غُلِبَتِ
الرُّوۡمُ -- “Bangsa Rumawi telah dikalahkan” (QS.30:3), selama 20 tahun kerajaan
Romawi digilas oleh lasykar-lasykar Persia, suatu peristiwa yang belum
pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang Persia menghancurluluhkan Siria dan Asia Kecil, dan dalam tahun 608 Masehi bergerak ke Chalcedon. Damsyik diduduki pada tahun 613. Daerah
sekelilingnya, yang tidak ada seorang pun bangsa Persia sebelumnya pernah
menginjakkan kakinya di situ semenjak kerajaan itu didirikan sama sekali dihancurleburkan. Dalam bulan
Juni 614 Yerusalem juga direbut.
Seluruh dunia Kristen gempar oleh berita itu bahwa bersama-sama dengan leluhur mereka
“Salib Nabi Isa a.s.” telah
dirampas dan dibawa pergi oleh orang-orang Persia. Agama Kristen telah telah direndahkan dan dihinakan. Taufan
penyerbuan orang Persia tidak berhenti dengan direbutnya Yerusalem, Mesir pun
kemudian ditaklukan, Asia Kecil digilas juga, dan lasykar-lasykar Persia
malahan mengetuk-ngetuk pintu gerbang Konstantinopel (Istambul).
Orang-orang Romawi tidak dapat
memberikan perlawanan banyak karena mereka terpecah-belah
akibat perselisihan dalam negeri. Penghinaan
terhadap Hiraclius begitu lengkap,
sehingga Kisra ingin melihat dia
dibawa dalam keadaan terbelenggu ke hadapan singgasananya dan tidak bersedia
melepaskannya lagi sebelum ia bersumpah meninggalkan “tuhannya” yang pernah disalib itu untuk selama-lamanya dan memeluk agama Majusi atau penyembah
matahari (Historians’ History of the World, jilid VII, hlm 159; jilid VIII hlm 94-95; Encyclopaedia Britannica
pada “Chosrus” II” dan “Hiraclius”).
Kesedihan Orang-orang Islam atas Kekalahan
Kerajaan Romawi & Nubuatan
Kemenangannya
Keadaan ini sangat menyedihkan orang-orang Muslim, sebab mereka banyak
memiliki persamaan dengan orang-orang Romawi yang adalah golongan Ahli Kitab. Tetapi orang-orang Quraisy Mekkah – yang sama seperti keadaan orang-orang Persia adalah penyembah berhala – sangat girang, karena melihat dalam kekalahan orang-orang Kristen itu suatu pertanda
baik akan keruntuhan dan kehancuran agama Islam.
Tidak
lama sesudah kehancuran total lasykar-lasykar
Romawi itu maka dalam tahun 616 Masehi turun wahyu Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan pokok pembahasan ayat yang
sedang ditafsirkan dan dua ayat sebelumnya. Ayat-ayat itu mempunyai arti
berganda: غُلِبَتِ الرُّوۡمُ -- Bangsa Rumawi telah dikalahkan, فِیۡۤ
اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَ ہُمۡ مِّنۡۢ
بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ -- di negeri yang dekat dan mereka
sesudah kekalahan mereka segera akan memperoleh kemenangan, فِیۡ بِضۡعِ
سِنِیۡنَ -- dalam beberapa tahun. لِلّٰہِ
الۡاَمۡرُ مِنۡ قَبۡلُ وَ مِنۡۢ بَعۡدُ -- Kepunyaan Allah kedaulatan
sebelum dan sesudahnya, وَ یَوۡمَئِذٍ
یَّفۡرَحُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ -- dan pada hari itu orang-orang yang
beriman akan bergembira.”
Ayat-ayat tersebut mengabarkan
jauh sebelumnya dalam suasana yang pada waktu itu sukar dapat dibayangkan, bahwa seluruh keadaan akan sama sekali
terbalik dalam jangka waktu pendek, yang meliputi 8 atau 9 tahun
saja (bidh’ artinya 3 sampai 9 tahun) - Lexicon
Lane), dan lasykjar-lasykar
Persia yang dahulu menang itu akan menderita kekalahan pahit di tangan orang-orang Romawi, yang tadinya sama
sekali kalah, berteluk lutut dan
dinistakan.
Makna
kabar gaib itu terkandung dalam kenyataan bahwa dalam jangka waktu yang sependek itu landasan
untuk kemenangan Islam pada akhirnya,
dan landasan untuk kekalahan dan
patahnya kekuatan-kekuatan kekufuran
serta kegelapan akan diletakkan juga
dengan kokoh kuat. Kabar gaib (nubuatan)
itu sempurna dalam suasana yang jauh berada di luar perhitungan dan jangkauan akal manusia:
“Di
tengah kemenangan demi kemenangan orang-orang Persia, beliau (Rasulullah saw.)
dengan pasti meramalkan bahwa sebelum beberapa tahun berlalu kemenangan akan
kembali kepada pihak orang-orang Romawi…..Pada saat ramalan kemenangan itu
diucapkan tidak ada nubuatan yang lebih jauh dari kemungkinan penggenapannya,
sejak 12 tahun pertama Hiraclius mengabarkan makin mendekatnya kehencuran
kerajaan itu.” (Rise, Declain & Fall of The Roman Empire, karya Gibbon, jld V, hln. 74).
Nubuatan Kehancuran Bani
Kedar & Nubuatan Nabi Besar
Muhammad saw. Mengenai Kematian Tragis
Kisra Persia dan Kehancuran Kerajaan Persia
Sesudah beberapa tahun berusaha bangkit kembali, akhirnya Kaisar
Heraclius mampu tampil ke medan perang melawan orang-orang Persia pada
tahun 622, yaitu, tahun ketika Nabi Besar Muhammad saw. hijrah ke Medinah. Pada tahun 624 ia bergerak ke bagian utara
Media, di sana ia menghancurkan candi-perapian Gaoudzak (Gazaca) yang besar itu
dan dengan demikian terbalaslah kehancuran kota Yerusalem.
Peristiwa itu terjadi tepat dalam tempo 9 tahun, jangka waktu yang dikabarkan dalam ayat ini. dan untuk
menambah kepentingan dan semarak arti itu maka peristiwa itu terjadi dalam
tahun ketika kekuasaan kaum Quraisy
juga menderita kekalahan hebat sekali
dalam Pertempuran Badar, yang
mengingatkan kepada nubuatan dalam Bible, dan mengabarkan pudarnya kemuliaan Kedar (Yesaya
21 : 16, 17):
21:16 Sebab
beginilah firman Tuhan kepadaku: "Dalam
setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan,
maka segala kemuliaan Kedar akan habis. 21:17 Dan
dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa
dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah
kecil saja, sebab Tuhan Allah Israel telah mengatakannya."
Dalam tahun 627 Heraclius mengalahkan lasykar-lasykar
Persia di Nineva dan bergerak ke arah Ctesiphon. Kisra melarikan diri dari istana tercintanya di Dastgerd (dekat
Baghdad), dan setelah menderita nasib yang sangat memilukan ia dibunuh oleh anaknya sendiri — Sirus atau Syirawaih — pada tanggal 19 Februari 628 M. dan dengan demikian kerajaan Persia, dari kebesaran yang
telah dicapainya beberapa tahun sebelum itu, akhirnya tenggelam ke dalam
kekacauan pemerintahan yang parah sama sekali (Encyclopaedia Britannica).
Khosrau II (bahasa Persia: خسرو دوم Khosraw
II, bahasa Arab: كسرى الثاني Kisra II, bahasa Yunani: Chosroes II) dalam sumber-sumber klasik Persia
kadang-kadang disebut dengan julukan Parvez artinya "Yang Selalu Berjaya", adalah
seorang kaisar Dinasti Sassania kedua puluh dua. Ia memerintah Persia antara tahun 590-628 Masehi. Ia adalah putra dari Hormizd
IV (memerintah
579-590) dan cucu dari Khosrau I (memerintah 531-579).
Khosrau II dalam tradisi Islam dikenal sebagai Kisra
dari Persia, yang kepadanya Nabi Besar Muhammad saw. telah mengutus Abdullah as-Sahmi sebagai pembawa
surat yang berisi seruan agar ia memeluk agama
Islam. Berikut isi surat Nabi Besar Muhammad saw. kepada raja Persia, Kisra Abrawaiz:
“Dengan Nama Allah
yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra
raja Persia. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, yang beriman kepada
Allah dan RasulNya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku
adalah utusan Allah kepada semua umat manusia, untuk memberi peringatan bagi
siapa yang hidup. Masuklah Islam maka engkau akan selamat, dan jika engkau
mengabaikannya maka atas engkau dosa orang orang Majusi.” (Perawi Ibnu ‘Abbas dalam Bukhari
dan oleh Ahmad). Ketika Nabi Besar Muhammad saw. mengirim surat
tersebut kepada Kisra Abrawaiz raja
dari negeri Persia dan menyerunya
kepada Islam. Namun ketika surat itu
dibacakan kepada Kisra Abrawaiz -- berbeda dengan sikap hormat yang diperlihatkan oleh Hiraclius, Kaisar Romawi
ketika membaca surat yang dikirim Nabi Besar Muhammad saw. kepadanya -- Kisra Persia tersebut ia sangat marah
dan merobeknya sambil berkata,
”Budak rendahan dari rakyatku menuliskan
namanya mendahuluiku”.
Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi
Besar Muhammad saw., beliaupun mengatakan, ”Semoga
Allah mencabik-cabik kerajaannya.” Doa tersebut dikabulkan. Persia akhirnya kalah
dalam perang menghadapi bangsa Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan. Kemudian iapun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih.
Ia dibunuh dan dirampas kekuasaannya.
Seterusnya kerajaan itu kian tercabik-cabik dan hancur sampai
akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Islam
pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab r.a.
hingga tidak bisa lagi berdiri.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 24 Februari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar