Rabu, 25 Februari 2015

Nubuatan Kekalahan Kerajaan Persia Setelah Mengalahkan Kerajaan Romawi & Nubuatan Kehancuran "Bani Kedar"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 65

  
    Nubuatan Kekalahan Kerajaan Persia Setelah Mengalahkan Kerajaan Romawi & Nubuatan Kehancuran “Bani Kedar”

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai sabda Nabi Besar Muhammad saw., yang  menurut riwayat beliau saw. pernah bersabda bahwa tiga abad (300 tahun) pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik, sesudah itu kepalsuan dan kesesatan --   seiring dengan pelepasan Iblis  dan Satan (setan) atau naga si ular tua dari   masa pemenjaraannya selama 1000 tahun (Wahyu 20:1-10)   -- akan tersebar dan suatu masa kegelapan akan datang dan meluas sampai seribu tahun (Tirmidzi), firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.  Demikian itulah  Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang (As-Sajdah [6-7).
        Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam di masa awal akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
     Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).

Penangguhan  Kedatangan Azab Ilahi Selama  1000 Tahun

     Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata:  ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ      -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
        Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda, bahwa iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir). Dengan kedatangan  Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)    dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan   Islam  telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku dan ditakdirkan akan  unggul atas semua agama  dalam semua segi (QS.61:10).
         Jadi, masa penangguhan turunnya azab Ilahi  selama 1000 tahun dalam Surah Al Hajj ayat 48   dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6). Dalam masa ini satu kaum yang bermata biru  yaitu bangsa-bangsa Kristen dari Barat atau Gog (Ya’juj) dan Magog (Majuj),  akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia (QS.20:103-104).
     Orang-orang bermata biru itulah yang karena sombong dan takabur, yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan mengajukan  tantangan kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mempercepat azab yang — begitulah dikatakan oleh beliau saw. — akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu. 
      Salah satu bentuk azab Ilahi yang dijanjikan Allah Swt. melalui Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut adalah meletusnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sedangkan Perang Dunia III yang merupakan “Perang Nuklir” hanya tinggal menunggu waktunya, dan juga    -- seperti halnya dua perang dunia sebelumnya -- akan terjadi secara tiba-tiba.
    Jadi, sesuai ayat  اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾  وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾     -- “Demi masa,  sesungguhnya insan  (manusia) itu benar-benar dalam  kerugian,   merupakan kesaksian sejarah  atau kesaksian waktu yang tidak pernah gagal, bahwa perseorangan-perseorangan atau bangsa-bangsa yang tidak mempergunakan kesempatan yang datang kepada mereka selama hidup di dunia dengan cara tepat serta  mereka menentang “hukum kodrat alam abadi” yang menentukan nasib manusia, tidak boleh tidak pasti menanggung kesedihan.

Dua  Cara  Meraih  Kesuksesan: Melaksanakan  Haqq (Kebenaran) dan Sabar

   Pribadi-pribadi dan bangsa-bangsa serupa inilah yang secara khusus terkena oleh rangkuman kata al-insān di dalam Surah Al-‘Ashr. Sebab   hukum-hukum Allah Swt. tidak dapat dilawan; dan seandainya hukum-hukum itu ditentang pasti mendatangkan hukuman Allah Swt., firman-Nya: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾   اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾  اِلَّا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ  وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  وَ الۡعَصۡرِ --   Demi masa,  ۙ  اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ --   sesungguhnya insan  (manusia) itu benar-benar dalam kerugian,  اِلَّا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ  -- kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan  saling menasihati mengenai kebenaran, وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ --  dan saling menasihati  mengenai kesabaran. (Al-‘Ashr [103]:1-4).
    Dalam Surah Al-‘Ashr      ayat  اِلَّا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ  وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪   --  “kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan  saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati  mengenai kesabaran” tersebut   dan pada beberapa Surah lainnya dalam Al-Quran, orang-orang beriman disuruh supaya mereka sendiri  bukan saja harus mengikuti asas-asas yang benar dan baik serta cita-cita yang benar, itulah makna bilhaqq,  tetapi harus juga menablighkannya kepada orang lain,  dan dengan demikian menolong menciptakan iklim sehat di sekitar mereka.
      Mereka selanjutnya diperintahkan supaya jangan berkecil-hati atau berputus asa waktu menghadapi perlawanan dan penindasan di tengah menjalankan tugas yang sangat berat itu,  وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ   -- bahkan harus menanggung penderitaan dengan sabar dan tabah.  Dengan demikian, Surah Al-‘Ashr dengan sebuah ayat singkat telah meletakkan peraturan berperilaku yang dengan mengamalkan peraturan itu orang dapat menempuh hidup yang bahagia, sejahtera dan maju.
          Dari sekian banyak arti al- ‘ashr     dalam ayat  اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾  وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾     -- “Demi masa,  sesungguhnya insan  (manusia) itu benar-benar dalam  kerugian,  artinya “sejarah” yakni  al-‘ashr berarti: masa; sejarah; silsilah dari abad ke abad; sore hari; atau petang hari. Al-‘ashran berarti: malam dan siang hari; pagi dan petang hari (Lexicon Lane).

Kesaksian “Sejarah” & Nubuatan Kekalahan Bangsa Persia Setelah Mengalahkan  Bangsa Romawi

       Firman Allah Swt. berikut ini mengisyaratkan kepada nubuatan silih bergantinya kekalahan dan kemenangan yang dialami  kerajaan Romawi pimpinan Kaisar Hiraclius  yang menganut agama Kristen melawan kerajaan Persia pimpinan Kisra II, penganut agama Majusi,      setelah mengalami kekalahan yang nista selama 9 tahun: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  الٓـمّٓ  ۚ  غُلِبَتِ  الرُّوۡمُ ۙ﴿﴾  فِیۡۤ  اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَ ہُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ ۙ﴿﴾  فِیۡ بِضۡعِ سِنِیۡنَ ۬ؕ لِلّٰہِ الۡاَمۡرُ  مِنۡ قَبۡلُ وَ مِنۡۢ  بَعۡدُ ؕ وَ  یَوۡمَئِذٍ  یَّفۡرَحُ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾  بِنَصۡرِ اللّٰہِ ؕ یَنۡصُرُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾  وَعۡدَ اللّٰہِ ؕ لَا یُخۡلِفُ اللّٰہُ  وَعۡدَہٗ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  الٓـمّٓ    -- Aku Allah Yang Maha Mengetahui.  غُلِبَتِ  الرُّوۡمُ  -- Bangsa Rumawi telah dikalahkan,  فِیۡۤ  اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَ ہُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ -- di  negeri yang dekat   dan mereka sesudah kekalahan mereka  segera akan memperoleh kemenangan, فِیۡ بِضۡعِ سِنِیۡنَ -- dalam beberapa tahun.  لِلّٰہِ الۡاَمۡرُ  مِنۡ قَبۡلُ وَ مِنۡۢ  بَعۡدُ --  Kepunyaan  Allah kedaulatan sebelum dan sesudahnya, وَ  یَوۡمَئِذٍ  یَّفۡرَحُ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ --  dan pada hari itu orang-orang yang beriman akan bergembira.  بِنَصۡرِ اللّٰہِ ؕ یَنۡصُرُ مَنۡ یَّشَآءُ -- Dengan pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya.  وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ -- Dan Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang, وَعۡدَ اللّٰہِ --  Sesuai janji Allah,  لَا یُخۡلِفُ اللّٰہُ  وَعۡدَہٗ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ  --  Allah tidak menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rūm [30]:1-7).
        Ada pun yang dimaksud dengan “negeri yang dekat  dalam ayat 3 dan 4 adalah Palestina. Kata  bidh’ menyatakan berbagai bilangan seperti 5, 7, 10 dan sebagainya, tetapi umumnya dimafhumkan untuk menyatakan bilangan-bilangan 3 sampai 9 (Lexicon Lane).
       Agar dapat memahami sepenuhnya arti ayat selanjutnya  وَ  یَوۡمَئِذٍ  یَّفۡرَحُ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ – “dan pada hari itu orang-orang yang beriman akan bergembira” ini dan dua ayat sebelumnya, maka perlu kita meninjau selayang pandang keadaan politik yang berlaku di  dua kerajaan besar itu, yang letaknya berbatasan dengan tanah Arab — yaitu kerajaan-kerajaan Persia dan Romawi — tidak lama sebelum  Nabi Besar Muhammad saw. diutus.

Kekalahan Bangsa Romawi di Babak Awal Peperangan

       Kedua kerajaan besar penganut agama yang berbeda tersebut sedang berada dalam kancah peperangan satu sama lain. Babak pertama telah dimenangkan oleh bangsa Persia, yang gelombang serangannya mulai pada tahun 602 Masehi, ketika Kisra II mulai melancarkan perang terhadap kerajaan Romawi dengan maksud membalas dendam atas kematian Maurice, pelindung dan orang yang berjasa  kepadanya, di tangan Phocas.
        Kembali kepada ayat غُلِبَتِ  الرُّوۡمُ  -- “Bangsa Rumawi telah dikalahkan” (QS.30:3), selama 20 tahun  kerajaan Romawi digilas oleh lasykar-lasykar Persia, suatu peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang Persia menghancurluluhkan Siria dan Asia Kecil, dan dalam tahun 608 Masehi bergerak ke Chalcedon. Damsyik diduduki pada tahun 613. Daerah sekelilingnya, yang tidak ada seorang pun bangsa Persia sebelumnya pernah menginjakkan kakinya di situ semenjak kerajaan itu didirikan  sama sekali dihancurleburkan. Dalam bulan Juni 614 Yerusalem juga direbut.
       Seluruh dunia Kristen gempar oleh berita itu bahwa bersama-sama dengan leluhur mereka  Salib Nabi Isa a.s.” telah dirampas dan dibawa pergi oleh orang-orang Persia. Agama Kristen telah telah direndahkan dan dihinakan. Taufan penyerbuan orang Persia tidak berhenti dengan direbutnya Yerusalem, Mesir pun kemudian ditaklukan, Asia Kecil digilas juga, dan lasykar-lasykar Persia malahan mengetuk-ngetuk pintu gerbang  Konstantinopel (Istambul).
       Orang-orang Romawi tidak dapat memberikan perlawanan banyak karena mereka terpecah-belah akibat perselisihan dalam negeri. Penghinaan terhadap Hiraclius begitu lengkap, sehingga Kisra ingin melihat dia dibawa dalam keadaan terbelenggu ke hadapan singgasananya dan tidak bersedia melepaskannya lagi sebelum ia bersumpah meninggalkan “tuhannya”  yang pernah disalib itu untuk selama-lamanya dan memeluk agama Majusi atau penyembah matahari (Historians’ History of the World, jilid VII, hlm 159;  jilid VIII hlm 94-95; Encyclopaedia Britannica pada “Chosrus” II” dan “Hiraclius”).

Kesedihan  Orang-orang Islam  atas Kekalahan Kerajaan Romawi & Nubuatan Kemenangannya

       Keadaan ini sangat menyedihkan orang-orang Muslim, sebab mereka banyak memiliki persamaan dengan orang-orang Romawi yang adalah golongan Ahli Kitab. Tetapi orang-orang Quraisy Mekkah – yang sama seperti keadaan orang-orang Persia adalah penyembah berhala – sangat girang, karena melihat dalam kekalahan orang-orang Kristen itu suatu pertanda baik akan keruntuhan dan kehancuran agama Islam.
      Tidak lama sesudah kehancuran total lasykar-lasykar Romawi itu maka dalam tahun 616 Masehi turun wahyu Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.  yang merupakan pokok pembahasan ayat yang sedang ditafsirkan dan dua ayat sebelumnya. Ayat-ayat itu mempunyai arti berganda: غُلِبَتِ  الرُّوۡمُ  -- Bangsa Rumawi telah dikalahkan,  فِیۡۤ  اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَ ہُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ -- di  negeri yang dekat   dan mereka sesudah kekalahan mereka  segera akan memperoleh kemenangan, فِیۡ بِضۡعِ سِنِیۡنَ -- dalam beberapa tahun.  لِلّٰہِ الۡاَمۡرُ  مِنۡ قَبۡلُ وَ مِنۡۢ  بَعۡدُ --  Kepunyaan  Allah kedaulatan sebelum dan sesudahnya, وَ  یَوۡمَئِذٍ  یَّفۡرَحُ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ --  dan pada hari itu orang-orang yang beriman akan bergembira.”   
       Ayat-ayat tersebut mengabarkan jauh sebelumnya dalam suasana yang pada waktu itu sukar dapat dibayangkan, bahwa seluruh keadaan akan sama sekali terbalik dalam jangka waktu pendek, yang meliputi 8 atau 9  tahun  saja (bidh’ artinya 3 sampai 9 tahun)  - Lexicon Lane), dan lasykjar-lasykar Persia yang  dahulu menang itu  akan menderita kekalahan pahit di tangan orang-orang Romawi, yang tadinya sama sekali kalah,  berteluk lutut dan dinistakan.
         Makna kabar gaib itu terkandung dalam kenyataan bahwa dalam jangka waktu yang sependek itu landasan untuk kemenangan Islam pada akhirnya, dan landasan untuk  kekalahan dan patahnya kekuatan-kekuatan kekufuran serta kegelapan akan diletakkan juga dengan kokoh kuat. Kabar gaib (nubuatan) itu sempurna dalam suasana yang jauh berada di luar  perhitungan dan jangkauan akal manusia:
 Di tengah kemenangan demi kemenangan orang-orang Persia, beliau (Rasulullah saw.) dengan pasti meramalkan bahwa sebelum beberapa tahun berlalu kemenangan akan kembali kepada pihak orang-orang Romawi…..Pada saat ramalan kemenangan itu diucapkan tidak ada nubuatan yang lebih jauh dari kemungkinan penggenapannya, sejak 12 tahun pertama Hiraclius mengabarkan makin mendekatnya kehencuran kerajaan itu.” (Rise, Declain & Fall of The Roman Empire, karya Gibbon, jld V, hln. 74).

Nubuatan Kehancuran Bani Kedar & Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. Mengenai Kematian Tragis Kisra Persia  dan Kehancuran Kerajaan Persia

        Sesudah beberapa tahun berusaha bangkit kembali,  akhirnya Kaisar Heraclius mampu tampil ke medan perang melawan orang-orang Persia pada tahun 622, yaitu, tahun ketika Nabi Besar Muhammad saw. hijrah ke Medinah. Pada tahun 624 ia bergerak ke bagian utara Media, di sana ia menghancurkan candi-perapian Gaoudzak (Gazaca) yang besar itu dan dengan demikian terbalaslah kehancuran kota Yerusalem.
       Peristiwa itu terjadi tepat dalam tempo 9 tahun, jangka waktu yang dikabarkan dalam ayat ini. dan untuk menambah kepentingan dan semarak arti itu maka peristiwa itu terjadi dalam tahun ketika kekuasaan kaum Quraisy juga menderita kekalahan hebat sekali dalam Pertempuran Badar, yang mengingatkan kepada nubuatan dalam Bible, dan mengabarkan pudarnya kemuliaan Kedar (Yesaya 21 : 16, 17):
21:16 Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: "Dalam setahun lagi, menurut masa kerja    prajurit upahan, maka segala kemuliaan    Kedar    akan habis. 21:17 Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil  saja, sebab Tuhan  Allah Israel  telah mengatakannya."
       Dalam tahun 627 Heraclius mengalahkan lasykar-lasykar Persia di Nineva dan bergerak ke arah Ctesiphon. Kisra melarikan diri dari istana tercintanya di Dastgerd (dekat Baghdad), dan setelah menderita nasib yang sangat memilukan ia dibunuh oleh anaknya sendiri — Sirus atau Syirawaih — pada tanggal 19 Februari 628 M. dan dengan demikian kerajaan Persia, dari kebesaran yang telah dicapainya beberapa tahun sebelum itu, akhirnya tenggelam ke dalam kekacauan pemerintahan yang parah sama sekali (Encyclopaedia  Britannica).
        Khosrau II (bahasa Persia: خسرو دوم Khosraw II, bahasa Arab: كسرى الثاني Kisra II, bahasa Yunani: Chosroes II) dalam sumber-sumber klasik Persia kadang-kadang disebut dengan julukan Parvez artinya  "Yang Selalu Berjaya", adalah seorang kaisar Dinasti Sassania kedua puluh dua. Ia memerintah Persia antara tahun 590-628 Masehi. Ia adalah putra dari Hormizd IV (memerintah 579-590) dan cucu dari Khosrau I (memerintah 531-579).
       Khosrau II dalam tradisi Islam dikenal sebagai  Kisra dari Persia,  yang kepadanya Nabi Besar Muhammad saw. telah mengutus Abdullah as-Sahmi sebagai  pembawa surat yang berisi seruan agar ia  memeluk agama Islam. Berikut isi surat Nabi Besar  Muhammad saw. kepada  raja Persia, Kisra Abrawaiz:
“Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra raja Persia. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah kepada semua umat manusia, untuk memberi peringatan bagi siapa yang hidup. Masuklah Islam maka engkau akan selamat, dan jika engkau mengabaikannya maka atas engkau dosa orang orang Majusi.” (Perawi Ibnu ‘Abbas  dalam  Bukhari dan oleh Ahmad).        Ketika Nabi Besar Muhammad saw.   mengirim surat tersebut kepada Kisra Abrawaiz raja dari negeri Persia dan menyerunya kepada Islam. Namun ketika surat itu dibacakan kepada Kisra Abrawaiz  -- berbeda dengan sikap hormat yang diperlihatkan oleh Hiraclius, Kaisar Romawi ketika  membaca surat yang dikirim Nabi Besar Muhammad saw. kepadanya --   Kisra Persia tersebut ia sangat marah  dan merobeknya sambil berkata, ”Budak rendahan dari rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku”.
     Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliaupun mengatakan, ”Semoga Allah mencabik-cabik kerajaannya.” Doa tersebut dikabulkan. Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi bangsa Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan. Kemudian iapun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih. Ia dibunuh dan dirampas kekuasaannya.
       Seterusnya kerajaan itu kian tercabik-cabik dan hancur sampai akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Islam pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab r.a. hingga tidak bisa lagi berdiri.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 24  Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar