بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 46
“Dialog
Kiasan” Dalam Kisah Monumental “Adam,
Malaikat dan Iblis” & Makna Allah
Swt. Mengajarkan “Semua Nama”
Kepada Adam dan
Makna “Sujudnya” Para Malaikat Kepadanya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai
Surah Al-An’ām ayat 112, bahwa salah satu tugas malaikat-malaikat adalah membisikkan
kepada manusia pikiran-pikiran baik
untuk mengajak mereka kepada kebenaran (QS.41:32, 33). Kadangkala
mereka melaksanakan tugas-tugas ini melalui mimpi-mimpi
dan kasyaf-kasyaf. Itulah makna
ayat وَ
لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ
اِلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃَ -- “Dan
seandainya pun Kami benar-benar
menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka,” firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا
مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ
نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ﴿﴾
Dan seandainya
pun Kami
benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan orang-orang
yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu
berhadap-hadapan di depan
mereka, mereka sekali-kali tidak
akan beriman, kecuali jika Allah
menghendaki, tetapi kebanyak-an
mereka berlaku jahil. وَ
کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ
الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ -- Dan dengan cara demikian Kami telah menjadikan
musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara manusia dan jin, یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ
زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا -- sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya
kata-kata indah untuk mengelabui, وَ
لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ
وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ -- dan jika Rabb (Tuhan) engkau menghendaki mere-ka tidak
akan mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan, وَ
لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ
بِالۡاٰخِرَۃِ -- dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada
akhirat cenderung kepada bisikan itu,
mereka menyukainya وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا
مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ --
dan supaya mereka mengusahakan apa
yang sedang mereka usahakan. (Al-An’ām
[6]:112-114).
Tugas Para Malaikat
& Berulangnya Kisah
Monumental “Adam, Malaikat dan Iblis”
Ada
pun makna ayat selanjutnya وَ کَلَّمَہُمُ
الۡمَوۡتٰی -- “dan orang-orang
yang telah mati berbicara dengan mereka,” bahwa orang-orang bertakwa yang sudah meninggal dunia nampak kepada manusia
dalam mimpi atau kasyaf untuk membenarkan
pendakwaan nabi-nabi.
Ada
satu cara lain makna “orang-orang yang sudah mati bercakap-cakap
kepada manusia”, yaitu jika suatu umat
yang secara ruhani sudah mati, mereka dihidupkan kembali untuk memperoleh kehidupan ruhani baru oleh ajaran
nabi Allah yang datang kepada mereka,
kelahiran-baru ruhani mereka itu
seakan-akan berbicara kepada orang-orang kafir dan memberikan persaksian terhadap kebenaran pendakwaannya itu.
Kata-kata
selanjutnya وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ
کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا -- “dan Kami
mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan di depan mereka,” hal itu menunjuk kepada kesaksian dari berbagai-bagai benda
alam yang memberi kesaksian
terhadap kebenaran seorang nabi dalam
bentuk gempa, wabah, kelaparan, peperangan, dan azab-azab Ilahi lainnya.
Dengan
demikian alam sendiri nampaknya gusar
terhadap orang-orang yang ingkar;
yakni unsur-unsur alam itu sendiri memerangi mereka, sebagai salah satu makna dari “sujudnya” para malaikat
kepada Adam (Khalifah Allah), sesuai
dengan arti kata malaikat.
Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang
adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka atas perintah Allah Swt. mengendalikan
kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada para
rasul Allah dan pembaharu-pembaharu samawi (mushlih rabbani).
Pendek
kata, kata-kata ins dan
jin yang terdapat pada banyak tempat dalam ayat-ayat Al-Quran pada
umumnya bukan merujuk kepada dua
jenis makhluk Allah yang berlainan tetapi dua golongan makhluk manusia, ins (manusia) mengisyaratkan kepada orang-orang awam atau rakyat
jelata, sedangkan jin dikatakan kepada orang-orang besar yang biasa hidup
memisahkan diri atau “tersembunyi” dari rakyat
jelata dan tidak berbaur dengan mereka, boleh dikatakan tinggal tersembunyi dari penglihatan umum,
sebagaimana salah satu arti lainnya dari
kata jin atau janin atau junnatun
(perisai) yang memiliki kaitan dengan ketersembunyian
dari penglihatan.
Kalau
pun jin atau syaitan atau iblis
berkaitan dengan “makhluk halus” atau “makhluk gaib” maka iblis itu bukan malaikat
(QS.18:51). Iblis adalah gembong (pemimpin) ruh-ruh jahat
sedangkan Malaikat Jibril a.s. adalah pemimpin malaikat-malaikat.
“Dialog Kiasan” Dalam
Kisah Monumental “Adam, Malaikat dan
Iblis”
Namun demikian kisah Monumental
“Adam, Malaikat dan Iblis” yang
disebutkan dalam Al-Quran, selain tidak
ada hubungannya dengan masalah “makhluk
halus”, juga sama sekali tidak ada
hubungannya dengan nenek-moyang pertama
umat manusia yang disebut Adam
pertama, karena kejadian
dalam Al-Quran mengenai kisah monumental “Adam Malaikat dan
Iblis” hanya berhubungan dengan Nabi Adam
a.s., yang tinggal di bumi ini kira-kira 6.000 tahun yang lalu dan
menurunkan Nabi Nuh a.s. dan Nabi Ibrahim a.s.
serta keturunan beliau-beliau yang dibahas dalam kisah ini.
Jadi,
apa pun bentuk “dialog” yang
dikemukakan dalam Al-Quran berupa percakapan antara Allah Swt. dengan para malaikat dan
dengan iblis, tidak perlu diartikan
secara harfiah bahwa wawancakap (dialog) demikian benar-benar
telah terjadi.
Ucapan para malaikat mau pun iblis
dalam “dialog” dengan Allah Swt itu hanya melukiskan keadaan-keadaan atau
menggambarkan Sunnatullah yang senantiasa
timbul sebagai akibat pengutusan Adam sebagai “Khalifah Allah”, termasuk penolakan
iblis untuk sujud kepada Adam a.s., sebagaimana yang kembali
terulang di Akhir Zaman ini berkenaan
dengan pengutusan Rasul Akhir Zaman atau Al-Masih
Mau’ud a.s. (QS.43:58;
QS.61:10 & 15; QS.62:3-5), sesuai dengan “prediksi” atau “keberatan” para malaikat, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ
الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ
وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada para
malaikat: “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah
di bumi”, mereka berkata: “Apakah
Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan pujian Engkau dan kami
senantiasa mensucikan Engkau?” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah
[2]:31).
Karena Allah Swt. telah menetapkan kedudukan
para malaikat merupakan “instrument” yang melaksanakan semua kehendak
Allah Swt. (QS.35:2; QS.66:7), karena itu “keberatan”
para malaikat dalam ayat tersebut bukan dalam makna harfiyah, melainkan merupakan kiasan yang penuh dengan hikmah yang sangat dalam, di antaranya mengisyaratkan
kepada Sunnatullah berkenaan pengutusan
para Rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) bahwa
akan muncul pihak-pihak penentang (QS.15:12-13; QS.36:31-32; QS.43:7-9) yang
dalam melakukan penentangan mereka
selalu menimbulkan tertumpahnya darah
di pihak para Rasul Allah.
Dengan demikian pertanyaan atau “keberatan” yang dikemukakan para malaikat terhadap kehendak atau perbuatan Allah Swt. menjadikan “Khalifah Allah” di bumi,
bukan sebagai celaan melainkan
sekedar mencari ilmu yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah penciptaan
seorang khalifah, dan Nabi Adam a.s. pada zamannya adalah salah seorang dari
para “Khalifah Allah” tersebut.
Makna Tasbih dan Taqdis Para Malaikat
Untuk arti ucapan para malaikat “nusabbihu” dalam ayat وَ
نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ --
“padahal kami senantiasa bertasbih
dengan pujian Engkau dan kami
senantiasa mensucikan Engkau?” Sabbaha fī hawā’ijihi artinya: ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah,
atau sibuk dalam urusannya.
Sabh
berarti: mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha
sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan subhānallāh menyatakan
kecepatan pergi berlindung kepada
Allah Swt. dan kesigapan melayani dan
mentaati perintah-Nya, itulah yang tugas para malaikat.
Mengingat akan arti dasar kata ini, masdar isim (kata benda
infinitif) tasbih dari sabbaha artinya menyatakan bahwa Allah Swt. itu
jauh dari segala kekurangan atau
aib, atau cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah
Swt. dan sigap dalam mentaati Dia
sambil mengatakan Subhānallāh (Lexicon
Lane).
Oleh karena itu berkenaan bertasbihnya segala sesuatu di alam
semesta berarti bahwa -- dibawah kendali para malaikat --
segala sesuatu di alam semesta ini sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat
dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan Allah
Swt. kepadanya memenuhi tujuan
ia diciptakan dengan cara yang sangat ajaib, sehingga
orang-orang yang mempergunakan akalnya mau tidak mau harus mengambil kesimpulan, bahwa Sang
Perencana dan Arsitek alam
semesta ini – yakni Allah Swt. --
sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, dan bahwa alam
semesta secara keseluruhan dan tiap-tiap
makhluk secara individu serta
dalam batas kemampuannya
masing-masing memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri bahwa alam
semesta karya Allah Swt. itu mutlak bebas
dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu (QS.21:23; QS.67:1-5).
Itulah makna kata bertasbih
alam semesta dan segala isinya kepada Allah Swt., contohnya dalam firman-Nya berikut ini:
سَبَّحَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi,
dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Hadīd [57]:2). Lihat
pula QS.17:45; QS.24:42; QS.61:2;
QS.62:2; QS.64:2.
Sementara tasbih dipakai bertalian
dengan sifat-sifat Allah Swt. maka taqdis
(qudus) dipergunakan mengenai tindakan-tindakan-Nya
(QS.59:23-25; QS.62:2). Dan menurut Allah Swt. manusia sebagai ciptaan
Allah Swt. yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya telah diberi kemampuan melakukan tasbih dan taqdis melebihi para malaikat.
Mengisyaratkan
kepada hal itulah jawaban Allah Swt.
atas pertanyaan dan “keberatan” yang dikemukakan para malaikat tersebut, Allah Swt. menjawab قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ
مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- “Dia berfirman:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang
tidak kamu ketahui.”
Kenyataan tersebut ibuktikan dalam
ayat-ayat selanjutnya mengenai kepentingan keberadaan Adam
(Khalifah Allah) yang telah dianugerahi rahasia-rahasia
Ketuhanan yang tidak diajarkan
atau tidak dimiliki oleh para malaikat atau yang tidak dimiliki oleh para pemuka agama pada zaman itu, firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی
الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ
کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ
بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ
قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ
تَکۡتُمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama itu semuanya
kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ
صٰدِقِیۡنَ -- lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah
kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu
memang benar.” قَالُوۡا
سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ -- Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak
memiliki pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami,
sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Mengetahui, Mahabijaksana.”
قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ
بِاَسۡمَآئِہِمۡ -- Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka
nama-nama mereka itu”, فَلَمَّاۤ
اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ --
maka tatkala diberitahukannya kepada
mereka nama-nama mereka itu, قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ
غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa
sesungguhnya Aku mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi وَ
اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ -- dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:32-34).
Firman Allah Swt. قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ --
Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka itu”, فَلَمَّاۤ
اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ --
maka tatkala diberitahukannya kepada
mereka nama-nama mereka itu”,
berhubungan erat dengan firman Allah Swt. mengenai pembukaan rahasia-rahasia gaib Allah Swt.
kepada Rasul Allah dalam firman-Nya berikut ini:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی
کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak
menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya barisan pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
supaya Dia mengetahui
bahwa sungguh mereka telah
menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:27-29). Lihat pula QS.3:180
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib” dalam ayat فَلَا
یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- “maka Dia
tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ -- kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai,” berarti:
diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia
gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa
dan kejadian yang sangat penting.
Ayat 27 tersebut merupakan ukuran
yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan
kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan
kepada orang-orang beriman
yang bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa,
kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas
yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang
bertakwa dan orang-orang suci
lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi
— terutama wahyu Al-Quran
(QS.15:10) -- keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang
bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
Wahyu rasul-rasul
Allah itu dijamin keamanannya
terhadap pemu-tarbalikkan atau pemalsuan, sebab para rasul Allah itu membawa tugas dari Allah Swt. yang harus
dipenuhi dan mengemban Amanat Ilahi
yang harus disampaikan oleh mereka. Itulah sebabnya mereka senantiasa mendapat
“pengawalan” dari para malaikat,
firman-Nya: فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا --
sesungguhnya barisan pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya”
yang merupakan makna lain dari “sujudnya”
para malaikat kepada Adam, termasuk di dalamnya terjadinya azab Ilahi ika para rasul Allah tersebut didustakan secara zalim (QS.6:132; QS.11:118; QS.17:16; QS.20:135; QS.26:209;
QS.28:60).
Berbagai Jenis
“Ancaman Abadi” Iblis
Kepada Pengikut “Khalifah
Allah”
Itulah sebabnya ketika
Allah Swt. dalam ayat selanjutnya memerintahkan para malaikat untuk ”sujud”
-- yakni patuh-taat -- kepada Adam
(Khalifah Allah) dan dan membantu
perjuangan sucinya, maka mereka melaksanakan
perintah Allah Swt. tersebut kecuali iblis
menolaknya, bahkan ia mengancam akan menghadang perjuangan suci Adam dan para pengikutnya di jalan Allah
(QS.7:12-19), firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا
لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ
قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ خَلَقۡتَ طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا الَّذِیۡ
کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ
لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ
اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- “Sujudlah
yakni patuhlah kepada Adam,”
maka mereka bersujud kecuali iblis. Ia berkata: “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau jadikan dari tanah liat?” Ia berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin bahwa orang
yang telah
Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat, niscaya
akan aku kuasai semua anak-keturunannya,
kecuali sedikit.” (Bani Israil [17]:62-63).
Makna ayat لَاَحۡتَنِکَنَّ
ذُرِّیَّتَہٗۤ اِلَّا قَلِیۡلًا -- “niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit,” perlu penjelasan yaitu apakah
syaitan telah berhasil atau tidak dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan
sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang penting dan perlu mendapat jawaban.
Mengapa
demikian? Sebab satu pandangan yang
tergesa-gesa dan tanpa disertai pikiran
yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di dunia ini, dapat membawa
kepada kesimpulan yang salah,
bahwa seakan-akan keburukan itu
mengungguli kebaikan di dunia ini,
padahal hakikat yang sebenarnya adalah kebalikannya.
Seandainya,
sebagai contoh semua ucapan pendusta-pendusta terbesar diselidiki secara kritis, maka ucapan-ucapannya yang mengandung kebenaran jumlahnya akan nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya yang dusta.
Demikian pula jumlah orang-orang buruk
di dunia ini jauh di bawah jumlah
orang-orang baik.
Kenyataan bahwa keburukan
itu mendapat perhatian begitu besar,
justru menjadi bukti bahwa fitrat manusia
pada dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya
dalam bentuk kenyataan.
Menanggapi
“ancaman syaitan” tersebut dalam ayat
selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ اذۡہَبۡ
فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ
جَزَآؤُکُمۡ جَزَآءً مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾ وَ
اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ
بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ وَ
عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ
اِلَّا غُرُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّ عِبَادِیۡ لَیۡسَ لَکَ
عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی
بِرَبِّکَ وَکِیۡلًا ﴿﴾
Dia berfirman: “Pergilah,
lalu barangsiapa akan mengikuti engkau
dari antara mereka maka sesungguhnya
Jahannamlah balasan bagi kamu, suatu balasan
yang penuh. وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ -- dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggupi dengan suara
engkau, وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ
بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ -- dan kerahkanlah
terhadap mereka pasukan berkuda engkau dan pasukan berjalan-kaki engkau,
وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ
وَ الۡاَوۡلَادِ -- dan berserikatlah dengan mereka da-lam harta,
dan anak-anak mereka, وَ عِدۡہُمۡ ؕ -- dan berikanlah janji-janji kepada mereka,”
وَ مَا
یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ اِلَّا غُرُوۡرًا
-- dan syaitan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu-daya. Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak
akan mempunyai kekuasaan atas
mereka, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil
[17]:62-66).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 4 Februari
201
Tidak ada komentar:
Posting Komentar