Rabu, 04 Februari 2015

"Dialog Kiasan" Dalam Kisah Monumental "Adam, Malaikat dan Iblis" & Makna Allah Swt. Mengajarkan "Semua Nama" Kepada Adam dan Makna "Sujudnya" Para Malaikat Kepadanya




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 46
 
“Dialog Kiasan” Dalam Kisah Monumental “Adam, Malaikat dan Iblis”  & Makna Allah Swt. Mengajarkan “Semua Nama” Kepada  Adam  dan    Makna “Sujudnya” Para Malaikat Kepadanya   
   
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai   Surah Al-An’ām  ayat 112, bahwa salah satu tugas malaikat-malaikat  adalah membisikkan kepada manusia pikiran-pikiran baik untuk mengajak mereka kepada kebenaran (QS.41:32, 33). Kadangkala mereka melaksanakan tugas-tugas ini melalui mimpi-mimpi dan kasyaf-kasyaf. Itulah makna ayat  وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ  -- “Dan seandainya pun  Kami benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka,” firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ  یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا  مَا  ہُمۡ  مُّقۡتَرِفُوۡنَ﴿﴾
Dan seandainya pun  Kami benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan  orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan  di depan mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyak-an mereka  berlaku jahil.  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ     -- Dan dengan cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara manusia dan jin,  یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا  -- sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui,  وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ  -- dan jika Rabb (Tuhan) engkau menghendaki mere-ka tidak akan mengerjakannya,   maka biarkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan,  وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ -- dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka menyukainya وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا  مَا  ہُمۡ  مُّقۡتَرِفُوۡنَ  -- dan supaya mereka mengusahakan apa yang sedang mereka usahakan.  (Al-An’ām [6]:112-114).

Tugas Para Malaikat &  Berulangnya  Kisah Monumental “Adam, Malaikat dan Iblis”

  Ada pun makna ayat selanjutnya وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی  -- “dan  orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka,” bahwa orang-orang bertakwa yang sudah meninggal dunia nampak kepada manusia dalam mimpi atau kasyaf untuk membenarkan pendakwaan nabi-nabi.
  Ada satu cara lain   makna “orang-orang yang sudah mati bercakap-cakap kepada manusia”, yaitu jika suatu umat yang secara ruhani sudah mati, mereka dihidupkan kembali untuk memperoleh kehidupan ruhani baru oleh ajaran nabi Allah yang datang kepada mereka, kelahiran-baru ruhani mereka itu seakan-akan berbicara kepada orang-orang kafir dan memberikan persaksian terhadap kebenaran pendakwaannya  itu.
       Kata-kata selanjutnya وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا -- “dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan  di depan mereka,” hal  itu menunjuk kepada kesaksian dari berbagai-bagai benda alam yang memberi kesaksian terhadap kebenaran seorang nabi dalam bentuk gempa, wabah, kelaparan, peperangan, dan azab-azab Ilahi  lainnya.
       Dengan demikian alam sendiri  nampaknya gusar terhadap orang-orang yang ingkar; yakni unsur-unsur alam itu sendiri memerangi mereka, sebagai salah satu makna dari “sujudnya” para malaikat kepada Adam (Khalifah Allah), sesuai dengan arti kata malaikat. 
       Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya  ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka atas perintah Allah Swt. mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada para rasul  Allah dan pembaharu-pembaharu samawi (mushlih rabbani).
 Pendek kata, kata-kata ins  dan jin yang terdapat pada banyak tempat dalam ayat-ayat Al-Quran pada umumnya bukan  merujuk kepada   dua jenis makhluk Allah yang berlainan tetapi dua golongan makhluk manusia, ins (manusia)  mengisyaratkan kepada orang-orang awam atau rakyat jelata, sedangkan  jin  dikatakan kepada orang-orang besar yang biasa hidup memisahkan diri atau “tersembunyi” dari rakyat jelata dan tidak berbaur dengan mereka, boleh dikatakan tinggal tersembunyi dari penglihatan umum, sebagaimana salah satu  arti lainnya dari kata jin atau  janin  atau junnatun (perisai)  yang memiliki kaitan dengan ketersembunyian dari penglihatan.
 Kalau pun jin atau syaitan  atau iblis   berkaitan dengan “makhluk halus  atau “makhluk gaib” maka iblis itu bukan malaikat (QS.18:51). Iblis adalah gembong (pemimpin) ruh-ruh jahat sedangkan Malaikat Jibril a.s. adalah pemimpin malaikat-malaikat.

“Dialog Kiasan” Dalam Kisah Monumental “Adam, Malaikat dan Iblis” 

   Namun demikian kisah Monumental “Adam, Malaikat dan Iblis”  yang disebutkan  dalam Al-Quran, selain tidak ada hubungannya dengan masalah “makhluk halus”, juga  sama sekali tidak ada hubungannya dengan nenek-moyang pertama umat manusia yang   disebut Adam pertama, karena kejadian dalam Al-Quran  mengenai kisah monumental “Adam Malaikat dan Iblis” hanya berhubungan dengan Nabi Adam a.s., yang tinggal di bumi ini kira-kira 6.000 tahun yang lalu dan menurunkan  Nabi Nuh a.s.  dan Nabi Ibrahim  a.s.  serta keturunan beliau-beliau yang dibahas dalam kisah ini.
  Jadi, apa pun bentuk “dialog” yang dikemukakan dalam Al-Quran berupa  percakapan antara Allah Swt. dengan  para malaikat    dan dengan  iblis, tidak perlu diartikan  secara harfiah bahwa wawancakap (dialog) demikian benar-benar telah terjadi.
Ucapan para malaikat mau pun iblis dalam  dialog” dengan Allah Swt itu hanya melukiskan keadaan-keadaan  atau menggambarkan  Sunnatullah yang   senantiasa timbul sebagai akibat pengutusan Adam sebagai “Khalifah Allah”, termasuk penolakan iblis untuk sujud kepada Adam a.s., sebagaimana yang kembali terulang di Akhir Zaman ini berkenaan dengan pengutusan  Rasul Akhir Zaman atau  Al-Masih  Mau’ud a.s.  (QS.43:58; QS.61:10 & 15; QS.62:3-5), sesuai dengan “prediksi” atau “keberatan” para malaikat, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman  kepada para  malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan Engkau?” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:31).
   Karena Allah Swt. telah menetapkan kedudukan para malaikat merupakan “instrument” yang melaksanakan semua kehendak Allah Swt. (QS.35:2; QS.66:7), karena itu “keberatan” para malaikat  dalam ayat tersebut bukan dalam makna harfiyah, melainkan   merupakan kiasan  yang penuh dengan hikmah  yang sangat dalam, di antaranya mengisyaratkan kepada Sunnatullah  berkenaan pengutusan para Rasul Allah  dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) bahwa  akan muncul pihak-pihak penentang  (QS.15:12-13; QS.36:31-32; QS.43:7-9) yang dalam melakukan penentangan mereka selalu menimbulkan tertumpahnya darah di  pihak para Rasul Allah.
    Dengan demikian  pertanyaan  atau “keberatan  yang dikemukakan para malaikat  terhadap kehendak atau perbuatan   Allah  Swt.   menjadikan “Khalifah Allah” di bumi,  bukan sebagai celaan melainkan sekedar mencari ilmu yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah  penciptaan seorang    khalifah, dan Nabi Adam a.s.  pada zamannya adalah salah seorang dari para  Khalifah Allahtersebut.

Makna Tasbih dan Taqdis Para Malaikat

   Untuk arti  ucapan para malaikat “nusabbihu”   dalam ayat وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ   -- “padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan Engkau?”               Sabbaha fī hawā’ijihi artinya:  ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah, atau sibuk dalam urusannya.
   Sabh berarti: mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan subhānallāh menyatakan kecepatan pergi berlindung kepada Allah Swt. dan kesigapan melayani dan mentaati perintah-Nya, itulah yang tugas para malaikat.
   Mengingat akan arti dasar kata ini, masdar isim (kata benda infinitif) tasbih dari sabbaha artinya  menyatakan bahwa Allah Swt.  itu  jauh dari segala kekurangan atau aib, atau cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah Swt.  dan sigap dalam mentaati Dia sambil mengatakan Subhānallāh (Lexicon Lane).
    Oleh karena itu  berkenaan bertasbihnya segala sesuatu di alam semesta  berarti bahwa   -- dibawah kendali para malaikat  --  segala sesuatu di alam semesta ini sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan Allah Swt.  kepadanya  memenuhi tujuan ia diciptakan dengan cara yang sangat ajaib,  sehingga  orang-orang yang mempergunakan akalnya   mau tidak mau  harus mengambil kesimpulan, bahwa Sang Perencana dan Arsitek alam semesta ini – yakni Allah Swt. --  sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, dan bahwa    alam semesta secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu serta dalam batas kemampuannya masing-masing  memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri  bahwa alam semesta karya Allah Swt. itu mutlak bebas dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu (QS.21:23; QS.67:1-5).
    Itulah makna kata bertasbih  alam semesta dan segala isinya kepada Allah Swt., contohnya  dalam firman-Nya berikut ini:
سَبَّحَ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Menyanjung kesucian  Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Hadīd [57]:2). Lihat pula QS.17:45;  QS.24:42; QS.61:2; QS.62:2;  QS.64:2.
      Sementara tasbih dipakai bertalian dengan sifat-sifat Allah Swt. maka taqdis (qudus) dipergunakan mengenai tindakan-tindakan-Nya (QS.59:23-25; QS.62:2). Dan menurut Allah Swt. manusia  sebagai ciptaan Allah Swt. yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya telah diberi kemampuan melakukan tasbih dan taqdis melebihi para malaikat.
      Mengisyaratkan kepada hal itulah jawaban Allah Swt. atas   pertanyaan dan “keberatan”  yang dikemukakan para malaikat tersebut,  Allah Swt. menjawab  قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- “Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.  
      Kenyataan tersebut  ibuktikan dalam ayat-ayat selanjutnya mengenai kepentingan keberadaan  Adam (Khalifah Allah) yang telah dianugerahi rahasia-rahasia Ketuhanan yang tidak diajarkan atau tidak dimiliki oleh para malaikat   atau yang tidak dimiliki oleh  para pemuka agama pada zaman itu, firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya  kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat  فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.”   قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ   -- Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak  memiliki  pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ --  Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ   -- maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu,  قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --  Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ -- dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang kamu sembunyikan?”  (Al-Baqarah [2]:32-34). 
      Firman Allah Swt. قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ --  Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”,  فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ   -- maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu”,  berhubungan erat dengan firman Allah Swt. mengenai pembukaan rahasia-rahasia gaib Allah Swt. kepada  Rasul Allah  dalam   firman-Nya berikut ini:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29). Lihat pula QS.3:180
     Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib”  dalam ayat  فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا --  maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ  -- kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, berarti: diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.
      Ayat 27 tersebut  merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang   beriman  yang bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi  — terutama wahyu Al-Quran (QS.15:10) -- keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
      Wahyu rasul-rasul Allah itu dijamin keamanannya terhadap pemu-tarbalikkan atau pemalsuan, sebab para rasul Allah itu membawa tugas dari Allah Swt. yang harus dipenuhi dan mengemban Amanat Ilahi yang harus disampaikan oleh mereka. Itulah sebabnya mereka senantiasa mendapat “pengawalan” dari para malaikat, firman-Nya: فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا  -- sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya” yang merupakan  makna lain  dari “sujudnya” para malaikat kepada Adam, termasuk di dalamnya terjadinya azab Ilahi  ika para rasul Allah tersebut didustakan secara zalim (QS.6:132; QS.11:118; QS.17:16; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60).

Berbagai  Jenis  “Ancaman  Abadi” Iblis  Kepada   Pengikut  Khalifah Allah
    
       Itulah sebabnya ketika Allah Swt. dalam ayat selanjutnya  memerintahkan para malaikat untuk  sujud  -- yakni patuh-taat  -- kepada Adam (Khalifah Allah) dan dan membantu perjuangan sucinya, maka mereka melaksanakan perintah Allah Swt. tersebut kecuali iblis menolaknya, bahkan ia mengancam akan menghadang perjuangan suci Adam dan para pengikutnya di jalan Allah  (QS.7:12-19), firman-Nya:  
  وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ  خَلَقۡتَ  طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ  اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا  الَّذِیۡ  کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat:  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam,”  maka mereka bersujud kecuali iblis. Ia berkata: “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau jadikan dari tanah liat?”    Ia berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin  bahwa orang   yang telah Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat,  niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit.” (Bani Israil [17]:62-63).
        Makna ayat  لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا       -- “niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit,” perlu penjelasan yaitu apakah syaitan telah berhasil atau tidak  dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang penting dan perlu mendapat jawaban.
        Mengapa demikian? Sebab satu pandangan yang tergesa-gesa dan tanpa disertai pikiran yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di dunia ini, dapat membawa   kepada kesimpulan yang salah, bahwa seakan-akan keburukan itu mengungguli kebaikan di dunia ini, padahal  hakikat yang sebenarnya adalah kebalikannya.
        Seandainya, sebagai contoh  semua ucapan pendusta-pendusta terbesar diselidiki secara kritis, maka ucapan-ucapannya yang mengandung kebenaran jumlahnya akan nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya yang dusta. Demikian pula jumlah orang-orang buruk di dunia ini jauh di bawah jumlah orang-orang baik.
Kenyataan bahwa keburukan itu mendapat perhatian begitu besar, justru menjadi bukti bahwa fitrat manusia pada dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya dalam bentuk kenyataan.
        Menanggapi “ancaman syaitan” tersebut  dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman:
  قَالَ اذۡہَبۡ فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ  جَزَآؤُکُمۡ  جَزَآءً  مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾ وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّ عِبَادِیۡ  لَیۡسَ  لَکَ  عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی  بِرَبِّکَ  وَکِیۡلًا  ﴿﴾
Dia berfirman: “Pergilah, lalu barangsiapa akan mengikuti engkau dari antara mereka maka sesungguhnya Jahannamlah balasan bagi kamu,  suatu balasan yang penuh.  وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ    --   dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggupi dengan suara engkau, وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ     -- dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda engkau dan pasukan berjalan-kaki engkau,  وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ  -- dan berserikatlah dengan mereka da-lam harta, dan anak-anak mereka, وَ عِدۡہُمۡ ؕ  -- dan berikanlah janji-janji kepada mereka,”  وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا  --   dan syaitan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu-daya. Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan  atas mereka, dan cukuplah  Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil [17]:62-66). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 4  Februari       201

Tidak ada komentar:

Posting Komentar