Sabtu, 14 Februari 2015

"Perang Badar" Merupakan "Yaumul-Furqaan" (Hari Pembeda) yang Haq (Kebenaran) dan yang Bathil (Kepalsuan) & Munculnya Bahaya Kemusyrikan "Fitnah Dajjal" di Akhir Zaman





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 57

  
Perang Badar Merupakan “Yaumul-Furqān” (Hari Pembeda) yang Haq dan yang Bathil & Munculnya Bahaya Kemusyrikan  Fitnah Dajjal” di Akhir Zaman

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  “kesedihan hati”  Rasul Akhir Zaman  -- yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau Al-Masih Mau’ud a.s.   -- yang dibangkitkan di kalangan umat Islam, ketika beliau di Akhir zaman ini menyaksikan umat  Islam telah memperlakukan Al-Quran    -- Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  -- sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan  bagaikan barang tak berharga, firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ  یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی  یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾  یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا ﴿﴾  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah, dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.   Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata: یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا --   ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا  --  “Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ   --    sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا   -- dan syaitan selalu menelantarkan manusia. (Al-Furqān [25]:27-30).
       Mengenai makna "penelantaran yang dilakukan oleh syaitan" telah dikemukakan dalam Bab-bab sebelumnya tentang "berlepas dirinya golongan "jin" atau "syaitan" dari tanggungjawab  penipuan yang dilakukannya setelah memprovokasi golongan "ins" (masyarakat luas) untuk melawan Rasul Allah
        Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kesedihan Rasul Akhir Zaman menyaksikan keadaan umumnya umat Islam dalam masa puncak kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6), setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿ ﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan”. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  --     dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا  -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31).
     Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti di Akhir Zaman  ini.
   Ada sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa  di Akhir Zaman  inilah saat yang dimaksudkan itu.

Kematian Tragis “Sembilan Pemimpin” Pelaku  Kerusakan Dalam Negeri

       Makna ayat اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ   --  Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah,  وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا -- dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras” dalam  Surah Al-Furqān  sebelumnya, bahwa  Hari pertempuran Badar sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang kafir,  sebab Abu Jahal dan 7 pemimpin kafir Quraisy lainnya  terbunuh secara hina dalam perang tersebut bersama 70 orang kafir  lainnya, sedangkan 70 orang kafir lainnya ditawan oleh umat Islam. 
     Ada pun Abu Lahab  -- yang tidak ikut dalam Perang Badar karena sedang menderita  sakit --   mati di Mekkah  setelah mendengar kabar buruk kekalahan tragis pasukan Quraisy dalam Perang Badar, dengan demikian 9 orang pembuat kerusakan dalam negeri yang dinubuatkan dalam QS.27:47-53  di kalangan  kaum Nabi Shalih a.s. semuanya mati secara hina, firman-Nya:
وَ کَانَ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  تِسۡعَۃُ  رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ  اَہۡلِہٖ  وَ  اِنَّا  لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا دَمَّرۡنٰہُمۡ  وَ  قَوۡمَہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾  فَتِلۡکَ بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam kota itu ada  sembilan orang  yang  berbuat kerusakan di bumi  dan tidak mau mengadakan perbaikan.   Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami  akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan keluarganya, kemudian kami niscaya akan berkata kepada pelindung-nya: “Kami sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah     orang-orang yang benar.”  وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ  مَکَرۡنَا مَکۡرًا  وَّ ہُمۡ لَا  یَشۡعُرُوۡنَ  --    Dan mereka membuat makar buruk  dan Kami pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari.   Maka perhatikanlah bagai-mana buruknya akibat makar buruk mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua.   Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh  karena mereka berbuat zalim. Sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui. وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ --  Dan Kami menyelamatkan  orang-orang yang beriman dan bertakwa. (An-Naml [27]:49-53).
      Dengan sendirinya yang diisyaratkan atau dinubuatkan dalam ayat ini adalah kesembilan musuh Nabi Besar Muhammad saw.   terkemuka pimpinan Abu Jahal,  Delapan orang di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya itu – sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya -- mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya kabar buruk tentang kekalahan tragis  di Badar.
       Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah  bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith. Mereka bersekongkol untuk membunuh  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.8:31).
      Rencana buruk tersebut yaitu  memilih seorang dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy, dan kemudian mengadakan serangan pembunuhan yang berencana atas beliau saw., sehingga tidak ada kabilah tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap beliau  saw. itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu, firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ  ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang kafir merancang makar  terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ  اللّٰہُ    --   Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang  makar tandingan, وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ  --   dan Allah sebaik-baik  Perancang makar. (Al-Anfāl [8]:31). 

Mengusir Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah berarti Membuka “Pintu Azab Ilahi” Bagi Kaum  Kafir Quraisy

       Ayat ini mengisyaratkan kepada musyawarah rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru ini gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Mekkah telah  ijrah ke Medinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga kota pimpinan Abu Jahal berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
       Sesudah diadakan pertimbangan mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap  Nabi Besar Muhammad saw. – sebagaimana  sebelumnya  telah direncanakan  terhadap Nabi Shalih a.s. --    lalu membunuh beliau saw..
      Tetapi tanpa setahu orang Nabi Besar Muhammad saw.  mening-galkan rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, berlindung di Gua Tsur bersama-sama  Abubakar Shiddiq r.a., sahabat beliau yang setia, dan akhirnya sampai di Medinah dengan selamat. (QS.9:40).
      Makar buruk yang dirancang  Abu Jahal dan kawan-kawannya tersebut telah membuat Nabi Besar Muhammad saw.   terpaksa hijrah dari Mekkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang tidak menyadari, bahwa dengan memaksa Nabi Besar Muhammad saw. hijrah dari Mekkah, mereka meletakkan dasar kehancuran bagi mereka sendiri, Firman-Nya:
وَ  اِذۡ  قَالُوا اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ اللّٰہُ  لِیُعَذِّبَہُمۡ  وَ اَنۡتَ فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَا لَہُمۡ  اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ  وَ ہُمۡ  یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ ؕ اِنۡ  اَوۡلِیَآؤُہٗۤ  اِلَّا الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika mereka berkata:  اللّٰہُمَّ  اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ  -- “Ya Allah, jika  Al-Quran ini  benar-benar   kebenaran dari Engkau  maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.  Tetapi Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah mereka, dan  Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan  mereka  meminta ampun. وَ مَا لَہُمۡ  اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ  وَ ہُمۡ  یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ   --   Dan  mengapa  Allah tidak akan mengazab mereka, sedangkan  mereka menghalang-halangi orang-orang dari Masjidilharam, dan mereka sekali-kali bukanlah orang-orang yang berhak melindunginya?  اِنۡ  اَوۡلِیَآؤُہٗۤ  اِلَّا الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- Tidak lain  yang berhak melindunginya  melainkan orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.   (Al-Anfāl [8:]33-35).
          Kira-kira seperti kata-kata itu jugalah Abu Jahal mendoa di medan perang Badar (Bukhari — Kitab Tafsir). Doa itu dikabulkan secara harfiah. Abu Jahal bersama beberapa pemimpin Quraisy yang lain  terbunuh dan mayat-mayat mereka diseret dan dilemparkan ke dalam sebuah lubang.
      Orang-orang Mekkah mendapat hukuman Ilahi setelah Nabi Besar Muhammad saw. meninggalkan Mekkah, karena  Rasul-rasul  Allah berfungsi semacam perisai terhadap hukuman-hukuman dari langit.

Perang Badar  Merupakan “Hari Pembeda” yang Haq dan yang Bathil  & Bahaya Kemusyrikan  dari “Fitnah Dajjal

        Pada hari perang Badar itulah dasar-dasar Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum Quraisy telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita, karena itu Allah Swt. telah menyebut Perang Badar sebagai “yaumul-furqān” (hari pembeda yang haq dan yang bathil  – QS.8:42). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿ ﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan”. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  --     dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا  -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31).
     Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti di Akhir Zaman  ini.
      Ada sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa  di Akhir Zaman  inilah saat yang dimaksudkan itu.
       Dari semua bentuk kemusyrikan yang pernah dilakukan manusia di dunia ini,  menurut Nabi Besar Muhammad saw. jenis kemusyrikan yang disebarkan oleh Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)    -- berupa fitnah Dajjal   -- adalah yang paling berbahaya. Berikut adalah sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. tentang bahaya fitnah Dajjal:
        Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda: “Tidak seorang nabi kecuali ia telah memperingatkan kaumnya terhadap sang pendusta yang buta sebelah mata. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan Tuhan kamu tidak buta sebelah mata, dan di antara kedua matanya tertulis kāf, , rā.” (HR. Muslim).
        Dari Hudzaifah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Dajjal itu buta mata kirinya, berambut lebat, ia membawa surga dan neraka, nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim).
        Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Inginkah kamu sekalian aku beritahukan tentang Dajjal, suatu keterangan yang belum pernah diceritakan seorang nabi kepada kaumnya? Sesungguhnya ia buta sebelah mata, ia datang dengan membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Maka apa yang dikatakannya surga adalah neraka dan aku telah memperingatkan kalian terhadapnya sebagaimana Nabi Nuh telah memperingatkan kaumnya.” (HR. Muslim).

Berbagai Keterangan Mengenai Dajjal menurut Hadits-hadits Nabi Besar Muhammad Saw.

       Dari Qatadah, beliau mendengar daripada Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Tidak seorang nabi kecuali ia telah memperingatkan kaumnya terhadap sang pendusta yang buta sebelah mata. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya sedangkan Tuhanmu tidak buta sebelah mata dan di antara kedua matanya tertulis kāf, , rā (kafir)” (Hadits riwayat Muslim).
      Abu Said Al-Khudri r.a. ia berkata: Suatu hari Rasulullah Saw. pernah bercerita kepada kami suatu cerita panjang tentang Dajjal. Di antara yang beliau ceritakan kepada kami adalah: Ia akan datang tetapi ia diharamkan memasuki jalan-jalan Madinah, kemudian ia tiba di tanah lapang tandus yang berada di dekat Madinah. Lalu pada hari itu keluarlah seorang lelaki yang terbaik di antara manusia atau termasuk manusia terbaik menemuinya dan berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan Rasulullah Saw. kepada kami”. Dajjal berkata: “Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini lalu menghidupkannya lagi, apakah kamu masih meragukan perihalku?” Mereka berkata, “Tidak!” Maka Dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Ketika telah dihidupkan, lelaki itu berkata: “Demi Allah, aku sekarang lebih yakin tentang diri  engkau dari sebelumnya.” Maka Dajjal itu hendak membunuhnya kembali, namun ia tidak kuasa melakukannya. (Hadits riwayat Muslim).
        Mughirah bin Syu`bah r.a.  ia berkata, “Tidak ada seorang yang bertanya kepada Nabi Saw. tentang Dajjal lebih banyak dari apa yang aku tanyakan. Beliau bersabda, “Kenapa engkau bersusah-payah menanyakan hal itu? Sesungguhnya ia tidak akan membahayakan engkau”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mereka mengatakan bahwa Dajjal itu membawa makanan dan sungai?” Beliau menjawab, “Perkaranya lebih ringan di hadapan Allah dari itu.” (Hadits riwayat Muslim).
      Dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi Saw. beliau telah bersabda, “Tidak ada satu negeripun, kecuali akan dimasuki Dajjal kecuali Makkah dan Madinah yang setiap pintu gerbangnya ada malaikat-malaikat yang berbaris menjaganya. Kemudian Madinah menggoncang penghuninya tiga kali, sehingga, Allah mengeluarkan seluruh orang kafir dan munafik." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Keganjilan Ibnu Shayyad & Kemunculan 30  Dajjal

         Dari Abu Said Al-Khudri r.a.  ia berkata,  “Aku menemani Ibnu Shaid (Ibnu Shayyad) pergi ke Mekah, ia berkata kepadaku: “Aku telah bertemu dengan beberapa orang yang menganggap bahwa aku adalah seorang Dajjal. Apakah engkau  pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Dajjal itu tidak mempunyai anak.” Aku jawab, “ Ya!” Ia berkata lagi, “Dan aku telah mempunyai anak. Bukankah engkau  telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Dajjal itu tidak akan memasuki Madinah dan Mekkah.” Aku menjawab, “Ya!” Ia berkata lagi, “Dan aku telah dilahirkan di Madinah dan sekarang aku sedang menuju ke Mekah.” Kemudian di akhir pertanyaannya dia berkata kepadaku, “Demi Allah, sesungguhnya aku tahu waktu kelahirannya, tempatnya dan di mana dia”. Ia berkata, “Ia telah mengaburkanku tentang perkara itu”. (Hadits riwayat Muslim).
       Dari Muhammad Al-Munkadir ia berkata: “Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibnu Shaid (Ibnu Shayyad) adalah seorang Dajjal, maka aku bertanya, “Kenapa engkau  bersumpah demi Allah?” Dia menjawab:, “Aku mendengar Umar bersumpah tentang hal itu di hadapan Nabi Saw. dan beliau tidak mengingkarinya”. (Hadits riwayat Muslim).
      Dari Abu Hurairah RA: Dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah.” (Hadits riwayat Muslim).
       Demikianlah beberapa hadits Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan akan munculnya Dajjal  serta  masalah Ibnu Shayyad yang menjadi bahan perdebatan di kalangan para Sahabah beliau saw., apakah Ibnu Shayyad itu   itu benar-benar Dajjal yang dimaksudkan oleh  para Rasul Allah dan Nabi Besar Muhammad saw. ataukah  bukan?


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 14 Februari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar