بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 57
Perang Badar Merupakan “Yaumul-Furqān” (Hari Pembeda) yang Haq dan yang Bathil & Munculnya Bahaya Kemusyrikan “Fitnah Dajjal” di Akhir Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai “kesedihan hati” Rasul
Akhir Zaman -- yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) atau Al-Masih Mau’ud a.s. -- yang dibangkitkan di kalangan umat Islam, ketika beliau di Akhir
zaman ini menyaksikan umat Islam telah memperlakukan Al-Quran -- Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) -- sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan bagaikan barang
tak berharga, firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ
یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا
﴿﴾ وَ یَوۡمَ
یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ
یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا
خَلِیۡلًا ﴿﴾ لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ
اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, dan azab
pada hari itu atas orang-orang kafir
sangat keras. Dan
pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata: یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا -- ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- “Wahai celakalah
aku, alangkah baiknya seandainya aku
tidak menjadikan si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ
بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ -- sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat
kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- dan syaitan
selalu menelantarkan manusia.
(Al-Furqān [25]:27-30).
Mengenai makna "penelantaran yang dilakukan oleh syaitan" telah dikemukakan dalam Bab-bab sebelumnya tentang "berlepas dirinya golongan "jin" atau "syaitan" dari tanggungjawab penipuan yang dilakukannya setelah memprovokasi golongan "ins" (masyarakat luas) untuk melawan Rasul Allah.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai kesedihan Rasul Akhir Zaman
menyaksikan keadaan umumnya umat Islam
dalam masa puncak kemundurannya
selama 1000 tahun (QS.32:6), setelah
mengalami masa kejayaan Islam yang
pertama selama 3 abad:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿ ﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang
telah ditinggalkan”. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ
نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang berdosa,
وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31).
Ayat
ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan
diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di
mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang
Muslim seperti di Akhir Zaman ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar
Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran
melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa di Akhir
Zaman inilah saat yang dimaksudkan
itu.
Kematian
Tragis “Sembilan Pemimpin” Pelaku
Kerusakan Dalam Negeri
Makna ayat اَلۡمُلۡکُ
یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ -- Kerajaan yang haq pada hari itu milik
Yang Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا -- dan azab
pada hari itu atas orang-orang kafir
sangat keras” dalam Surah
Al-Furqān sebelumnya, bahwa Hari
pertempuran Badar sungguh-sungguh
merupakan suatu hari yang penuh
dengan kesedihan bagi orang-orang kafir,
sebab Abu Jahal dan 7 pemimpin
kafir Quraisy lainnya terbunuh secara hina dalam perang tersebut bersama 70 orang kafir lainnya, sedangkan 70 orang kafir lainnya ditawan
oleh umat Islam.
Ada pun Abu
Lahab -- yang tidak ikut dalam Perang Badar karena sedang
menderita sakit -- mati
di Mekkah setelah mendengar kabar buruk kekalahan tragis pasukan
Quraisy dalam Perang Badar, dengan
demikian 9 orang pembuat kerusakan dalam negeri yang dinubuatkan
dalam QS.27:47-53 di kalangan kaum
Nabi Shalih a.s. semuanya mati
secara hina, firman-Nya:
وَ کَانَ
فِی الۡمَدِیۡنَۃِ تِسۡعَۃُ رَہۡطٍ یُّفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ وَ لَا
یُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا تَقَاسَمُوۡا بِاللّٰہِ لَنُبَیِّتَنَّہٗ وَ
اَہۡلَہٗ ثُمَّ لَنَقُوۡلَنَّ لِوَلِیِّہٖ مَا شَہِدۡنَا مَہۡلِکَ اَہۡلِہٖ
وَ اِنَّا لَصٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ فَانۡظُرۡ کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ مَکۡرِہِمۡ ۙ اَنَّا
دَمَّرۡنٰہُمۡ وَ قَوۡمَہُمۡ
اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾ فَتِلۡکَ
بُیُوۡتُہُمۡ خَاوِیَۃًۢ بِمَا ظَلَمُوۡا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ
یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَنۡجَیۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ ﴿﴾
Dan dalam
kota itu ada sembilan orang yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak
mau mengadakan perbaikan. Mereka berkata: “Hendaklah kamu sekalian bersumpah dengan nama Allah bahwa niscaya kami akan menyerbu pada malam hari kepada dia dan
keluarganya, kemudian kami niscaya
akan berkata kepada pelindung-nya: “Kami
sekali-kali tidak menyaksikan keluarganya menjadi binasa dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar.” وَ مَکَرُوۡا
مَکۡرًا وَّ مَکَرۡنَا مَکۡرًا وَّ ہُمۡ لَا
یَشۡعُرُوۡنَ
-- Dan mereka membuat makar buruk dan Kami
pun membuat makar tandingan, tetapi mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagai-mana buruknya akibat makar buruk
mereka, sesungguhnya Kami memusnahkan mereka dan kaumnya semua. Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah
runtuh karena mereka berbuat zalim.
Sesungguhnya dalam yang demikian itu
benar-benar ada Tanda untuk kaum yang mengetahui. وَ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ کَانُوۡا یَتَّقُوۡنَ -- Dan Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman dan bertakwa. (An-Naml [27]:49-53).
Dengan
sendirinya yang diisyaratkan atau dinubuatkan dalam ayat ini adalah kesembilan musuh Nabi Besar Muhammad
saw. terkemuka pimpinan Abu Jahal, Delapan orang di antaranya terbunuh dalam pertempuran Badar dan yang kesembilan, Abu Lahab, yang terkenal keburukannya
itu – sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya -- mati di Mekkah ketika sampai ke telinganya kabar buruk tentang kekalahan
tragis di Badar.
Kedelapan orang itu adalah Abu Jahal, Muthim bin Adiy, Syaibah bin
Rabiah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah, Umayah bin Khalf, Nadhr bin Harts, dan Aqbah bin Abi Mu’aith. Mereka
bersekongkol untuk membunuh Nabi Besar
Muhammad saw. (QS.8:31).
Rencana buruk tersebut yaitu memilih seorang
dari tiap-tiap kabilah kaum Quraisy,
dan kemudian mengadakan serangan
pembunuhan yang berencana atas
beliau saw., sehingga tidak ada kabilah
tertentu dapat dianggap bertanggung-jawab
atas pembunuhan terhadap beliau saw.
itu. Rencana itu datang dari Abu Jahal, pemimpin kelompok jahat itu,
firman-Nya:
وَ اِذۡ
یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ
یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ
اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ
الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika orang-orang kafir merancang
makar terhadap engkau, supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ
یَمۡکُرُ اللّٰہُ -- Mereka merancang makar buruk, dan Allah pun merancang makar
tandingan, وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ -- dan Allah
sebaik-baik Perancang makar. (Al-Anfāl
[8]:31).
Mengusir Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah berarti Membuka “Pintu Azab Ilahi” Bagi Kaum Kafir Quraisy
Ayat
ini mengisyaratkan kepada musyawarah
rahasia yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di
Mekkah. Ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru ini gagal, dan bahwa
kebanyakan orang-orang Muslim yang mampu meninggalkan Mekkah telah ijrah
ke Medinah dan mereka sudah jauh dari bahaya, maka orang-orang terkemuka warga
kota pimpinan Abu Jahal berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke
arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
Sesudah diadakan pertimbangan
mendalam, terpikir oleh mereka satu rencana, ialah sejumlah orang-orang muda
dari berbagai kabilah Quraisy harus secara serempak menyergap Nabi Besar
Muhammad saw. – sebagaimana
sebelumnya telah
direncanakan terhadap Nabi Shalih a.s.
-- lalu membunuh beliau saw..
Tetapi tanpa setahu orang Nabi
Besar Muhammad saw. mening-galkan
rumah tengah malam buta, ketika para penjaga dikuasai oleh kantuk, berlindung
di Gua Tsur bersama-sama Abubakar Shiddiq r.a., sahabat beliau yang
setia, dan akhirnya sampai di Medinah dengan selamat. (QS.9:40).
Makar buruk yang dirancang Abu
Jahal dan kawan-kawannya tersebut telah membuat Nabi Besar Muhammad saw. terpaksa
hijrah dari Mekkah, tetapi hijrahnya itu akhirnya mengakibatkan kehancuran kekuatan kaum Quraisy yang
tidak menyadari, bahwa dengan memaksa
Nabi Besar Muhammad saw. hijrah dari Mekkah,
mereka meletakkan dasar kehancuran
bagi mereka sendiri, Firman-Nya:
وَ اِذۡ
قَالُوا اللّٰہُمَّ اِنۡ کَانَ
ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ
السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ اَلِیۡمٍ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیُعَذِّبَہُمۡ وَ اَنۡتَ
فِیۡہِمۡ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ مُعَذِّبَہُمۡ وَ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا لَہُمۡ
اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ وَ
ہُمۡ یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ
الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ ؕ اِنۡ اَوۡلِیَآؤُہٗۤ اِلَّا الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ
لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika mereka berkata: اللّٰہُمَّ اِنۡ کَانَ ہٰذَا ہُوَ الۡحَقَّ مِنۡ عِنۡدِکَ
فَاَمۡطِرۡ عَلَیۡنَا حِجَارَۃً مِّنَ السَّمَآءِ اَوِ ائۡتِنَا بِعَذَابٍ
اَلِیۡمٍ -- “Ya
Allah, jika Al-Quran
ini benar-benar kebenaran dari Engkau maka hujanilah kami dengan batu dari
langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” Tetapi Allah
sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah
mereka, dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab
mereka sedangkan mereka meminta ampun. وَ مَا لَہُمۡ اَلَّا یُعَذِّبَہُمُ اللّٰہُ وَ ہُمۡ
یَصُدُّوۡنَ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَ مَا کَانُوۡۤا اَوۡلِیَآءَہٗ -- Dan mengapa Allah
tidak akan mengazab mereka, sedangkan
mereka menghalang-halangi orang-orang
dari Masjidilharam, dan mereka
sekali-kali bukanlah orang-orang yang berhak melindunginya? اِنۡ
اَوۡلِیَآؤُہٗۤ اِلَّا
الۡمُتَّقُوۡنَ وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- Tidak lain
yang berhak melindunginya melainkan orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
(Al-Anfāl [8:]33-35).
Kira-kira seperti kata-kata itu jugalah Abu Jahal mendoa di medan perang Badar (Bukhari — Kitab Tafsir). Doa itu dikabulkan secara harfiah. Abu Jahal bersama beberapa pemimpin Quraisy yang lain terbunuh
dan mayat-mayat mereka diseret dan dilemparkan ke dalam sebuah lubang.
Orang-orang Mekkah mendapat hukuman Ilahi
setelah Nabi Besar Muhammad saw. meninggalkan
Mekkah, karena Rasul-rasul Allah berfungsi
semacam perisai terhadap hukuman-hukuman dari langit.
Perang Badar Merupakan “Hari Pembeda” yang Haq dan yang Bathil & Bahaya Kemusyrikan dari “Fitnah Dajjal”
Pada hari perang Badar itulah dasar-dasar Islam diletakkan dengan
teguhnya, dan kaum Quraisy telah menyadari kehinaan
dan kekalahan pahit yang mereka
derita, karena itu Allah Swt. telah menyebut Perang Badar sebagai “yaumul-furqān”
(hari pembeda yang haq dan yang bathil – QS.8:42). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿ ﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang
telah ditinggalkan”. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ
نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang berdosa,
وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31).
Ayat
ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan
diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di
mana Al-Quran demikian rupa diabaikan
dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti
di Akhir Zaman ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari
Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh
masa di Akhir Zaman inilah saat yang
dimaksudkan itu.
Dari semua bentuk kemusyrikan yang pernah dilakukan manusia di dunia ini, menurut Nabi Besar Muhammad saw. jenis kemusyrikan yang disebarkan oleh Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -- berupa
fitnah Dajjal -- adalah yang paling berbahaya. Berikut
adalah sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. tentang bahaya fitnah Dajjal:
Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata,
Rasulullah Saw. telah bersabda: “Tidak seorang nabi kecuali ia telah memperingatkan
kaumnya terhadap sang pendusta yang buta
sebelah mata. Ketahuilah bahwa Dajjal
itu buta sebelah matanya, sedangkan Tuhan kamu tidak buta sebelah mata, dan
di antara kedua matanya tertulis kāf,
fā, rā.” (HR. Muslim).
Dari Hudzaifah r.a., ia berkata,
Rasulullah Saw. bersabda: “Dajjal itu
buta mata kirinya, berambut lebat, ia membawa surga dan neraka,
nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata,
Rasulullah Saw. bersabda: “Inginkah kamu sekalian aku beritahukan tentang Dajjal, suatu keterangan yang belum
pernah diceritakan seorang nabi
kepada kaumnya? Sesungguhnya ia buta
sebelah mata, ia datang dengan membawa sesuatu seperti surga dan neraka.
Maka apa yang dikatakannya surga
adalah neraka dan aku telah memperingatkan kalian
terhadapnya sebagaimana Nabi Nuh
telah memperingatkan kaumnya.” (HR. Muslim).
Berbagai
Keterangan Mengenai Dajjal menurut
Hadits-hadits Nabi Besar Muhammad Saw.
Dari
Qatadah, beliau mendengar daripada Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. telah
bersabda, “Tidak seorang nabi
kecuali ia telah memperingatkan kaumnya terhadap sang pendusta yang buta sebelah mata. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya sedangkan Tuhanmu tidak buta sebelah mata dan di antara
kedua matanya tertulis kāf, fā,
rā (kafir)” (Hadits riwayat Muslim).
Abu Said
Al-Khudri r.a. ia berkata: Suatu hari Rasulullah Saw. pernah bercerita
kepada kami suatu cerita panjang tentang Dajjal.
Di antara yang beliau ceritakan kepada kami adalah: Ia akan datang tetapi ia
diharamkan memasuki jalan-jalan Madinah, kemudian ia tiba di tanah lapang
tandus yang berada di dekat Madinah. Lalu pada hari itu keluarlah seorang lelaki yang terbaik di antara
manusia atau termasuk manusia terbaik
menemuinya dan berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan Rasulullah Saw. kepada kami”. Dajjal berkata: “Bagaimana pendapat
kalian jika aku membunuh orang ini lalu menghidupkannya lagi, apakah kamu masih
meragukan perihalku?” Mereka berkata, “Tidak!” Maka Dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Ketika telah
dihidupkan, lelaki itu berkata: “Demi Allah, aku sekarang lebih yakin tentang
diri engkau dari sebelumnya.” Maka Dajjal itu hendak membunuhnya kembali,
namun ia tidak kuasa melakukannya. (Hadits riwayat Muslim).
Mughirah bin Syu`bah r.a. ia berkata, “Tidak ada seorang yang bertanya
kepada Nabi Saw. tentang Dajjal
lebih banyak dari apa yang aku tanyakan. Beliau bersabda, “Kenapa engkau
bersusah-payah menanyakan hal itu? Sesungguhnya ia tidak akan membahayakan engkau”.
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mereka mengatakan bahwa Dajjal itu membawa makanan
dan sungai?” Beliau menjawab, “Perkaranya
lebih ringan di hadapan Allah dari itu.” (Hadits riwayat Muslim).
Dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi Saw. beliau
telah bersabda, “Tidak ada satu negeripun, kecuali akan dimasuki Dajjal kecuali Makkah dan Madinah yang
setiap pintu gerbangnya ada malaikat-malaikat yang berbaris menjaganya.
Kemudian Madinah menggoncang penghuninya tiga kali, sehingga, Allah
mengeluarkan seluruh orang kafir dan munafik." (Hadits riwayat
Bukhari dan Muslim).
Keganjilan Ibnu Shayyad &
Kemunculan 30 Dajjal
Dari Abu Said Al-Khudri r.a. ia berkata, “Aku menemani Ibnu Shaid (Ibnu Shayyad) pergi ke Mekah, ia berkata kepadaku: “Aku
telah bertemu dengan beberapa orang yang menganggap bahwa aku adalah seorang Dajjal. Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya
Dajjal itu tidak mempunyai anak.”
Aku jawab, “ Ya!” Ia berkata lagi, “Dan aku telah mempunyai anak. Bukankah engkau
telah mendengar Rasulullah Saw.
bersabda: “Dajjal itu tidak akan
memasuki Madinah dan Mekkah.” Aku menjawab, “Ya!” Ia berkata lagi, “Dan aku
telah dilahirkan di Madinah dan sekarang aku sedang menuju ke Mekah.” Kemudian
di akhir pertanyaannya dia berkata kepadaku, “Demi Allah, sesungguhnya aku tahu
waktu kelahirannya, tempatnya dan di mana dia”. Ia berkata, “Ia telah
mengaburkanku tentang perkara itu”. (Hadits riwayat Muslim).
Dari Muhammad Al-Munkadir ia berkata: “Aku
melihat Jabir bin Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibnu Shaid (Ibnu Shayyad) adalah seorang Dajjal, maka aku bertanya, “Kenapa engkau bersumpah demi Allah?” Dia menjawab:, “Aku
mendengar Umar bersumpah tentang hal itu di hadapan Nabi Saw. dan beliau tidak
mengingkarinya”. (Hadits riwayat Muslim).
Dari Abu Hurairah RA: Dari Nabi saw. beliau
bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi
sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal
pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia
adalah utusan Allah.” (Hadits riwayat Muslim).
Demikianlah beberapa hadits Nabi Besar
Muhammad saw. berkenaan dengan akan munculnya Dajjal serta
masalah Ibnu Shayyad yang
menjadi bahan perdebatan di kalangan
para Sahabah beliau saw., apakah Ibnu
Shayyad itu itu benar-benar Dajjal yang dimaksudkan oleh
para Rasul Allah dan Nabi
Besar Muhammad saw. ataukah bukan?
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 14 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar