Minggu, 01 Maret 2015

Dua Peristiwa Besar "Peringatan dan Nubuatan" Bagi Umat Islam & Sampainya "Ajal" (Batas Waktu) Umat Islam Bani Isma'il




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 68

  
Dua  Peristiwa Besar Peringatan   dan Nubuatan Bagi Umat Islam & Sampainya   Ajal (Batas Waktu) Umat Islam Bani Isma’il

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  sejumlah besar orang Yahudi buangan kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5). Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan di Yerusalem berangsur-angsur maju terus dan selesai pada tahun 516 s.M..
        Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s.  jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi (Ulangan 30:1-5).
        Jadi, itulah makna ayat اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ   --   Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri,  وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri”,   firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali,  dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ  --   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا  -- dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya.  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ   --   Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri,  وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  --  Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu,  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ    --  Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu,   dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا  --  dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. (Bani Israil [17]:5-8).

Hukuman Ilahi yang Kedua

       Selanjutnya Allah Swt. berfirman ketika orang-orang Yahudi  kembali melakukan kedurhakaan terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sehingga mereka kembali mendapat kutukan dari beliau: فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  --  Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu,  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ    --  Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu,   dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا  --  dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.” (ayat 8).  
      Kata-kata  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ  ini berarti pula, “Supaya mereka akan menghina pemimpin-pemimpin kamu.” Kata wujuh berarti pula pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane).  Ayat ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan, dan tentang azab Ilahi yang menimpa mereka sebagai akibatnya.
        Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   serta berusaha membunuh beliau pada palang salib dan memusnahkan pergerakan beliau, karena itu Allah Swt. menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras, ketika pada tahun 70 M. pasukan-pasukan Romawi di bawah pimpinan Titus melanda   Palestina  (Matius 24:1-3 & 15-22),  dan di tengah-tengah kejadian-kejadian mengerikan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumihanguskan (Matius 23:37-39; Encyclopaedia Biblica, pada kata “Yerusalem”).

Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Wafat dan Dikubur di Kasymir

        Malapetaka (azab Ilahi) yang kedua tersebut terjadi ketika Nabi Isa Inu Maryam a.s. masih hidup di Kasymir (QS.23:51). Hal ini pun dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. (Ulangan 32: 18-26), firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir.  (Al-Mu’minūn [23]:51).
        Berikut adalah nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengenai penghancuran kedua kali kota Yerusalem oleh serbuan Titus dari kerajaan Romawi:
Keluhan terhadap Yerusalem
23:37 "Yerusalem, Yerusalem , engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. 23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga  kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! " (Matius 23:37-39).
      Oleh sebab kematian Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) seperti pula kelahirannya telah menjadi masalah yang banyak dipertentangkan, dan beberapa kekacauan pendapat dan keraguan masih tetap ada yaitu  mengenai bagaimana dan di mana beliau melampaukan hari-hari terakhir dalam kehidupan beliau yang padat karya itu, dan oleh karena persoalan cara menemui ajal beliau pun merupakan persoalan yang sangat penting  bagi agama Kristen maka pada tempatnya diberikan catatan yang  agak lengkap mengenai persoalan yang penting tapi rumit tersebut.
  Al-Quran dan Bible dikuatkan oleh kenyataan-kenyataan sejarah yang telah diakui sahnya, memberi dukungan kuat kepada pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) tidak wafat di atas salib (QS.4:158-159) karena – akibat serbuan raja Nebukadnezar ke Palestina   -- ada 10 suku (domba-domba) Bani Israil yang   tercerai-berai di luar Kanaan (Palestina) yang harus beliau cari dan “gembalakan  (Yohanes 10:11-16)  sebagai Al-Masih.
(1) Tidak mungkin ada lukisan lebih bagus mengenai tempat di mana sesudah beliau terhindar dari kematian terkutuk di atas salib, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. dan ibunda beliau  tinggal  dengan aman-sentausa dan pulang ke rahmatullāh dalam usia 120 tahun, daripada yang dikemukakan oleh Al-Quran  dalam kata-kata "dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir" yang merupakan lukisan yang sangat tepat mengenai  Lembah Kasymir yang indah itu. Nicholas Notovitch menamakan Kasymir "Lembah Kebahagiaan Abadi", karena orang-orang Afganistan dan Kasymir adalah keturunan dari 10  suku Bani Israil yang hilang.
 Kenyataan berdasarkan pada catatan-­catatan sejarah, yaitu bahwa sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  ditolak  oleh orang-orang Yahudi dan  jiwa beliau dalam keadaan bahaya di Palestina,  beliau lalu   meninggalkan negeri itu guna mencari — untuk memenuhi nubuatan-nubuatan lama dalam Bible. — "Sepuluh suku Bani Israil yang hilang" dan menempuh perjalanan jauh serta berbahaya ke India dan Kasymir dan menjalani suatu kehidupan yang penuh peristiwa-peristiwa  sampai mencapai usia yang amat tua yaitu 120 tahun (Kanz al-Ummal,  Jilid 6).
 Saat itulah catatan-catatan mengenai kegiatan-kegiatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mulai disimpan. "Sepuluh suku Bani Israil  yang hilang  itu, sesudah mereka dicerai-beraikan oleh serbuan  bangsa-bangsa Assiria dan Babilonia, dan telah menetap di Irak dan Iran, dan kemudian ketika orang-orang Iran di bawah Cyrus (Dzulqarnain) dan Darius   meluaskan daerah jajahannya lebih jauh lagi ke timur yaitu ke Afghanistan dan India, maka suku-suku Bani Israil pun    hijrah  bersama-sama dengan mereka ke negeri-negeri  tersebut (QS.18:84-92).
   (2) Orang-orang Kasymir dan Afghan adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang” itu. Kenyataan ini nampak jelas dari riwayat, sejarah, dan catatan tertulis mengenai kedua kaum tersebut. Nama kota-kota dan kabilah­-kabilah mereka, bentuk tubuh  mereka  dan sebagainya, semuanya menyerupai orang-orang Yahudi.
    Demikian pula barang-barang pusaka mereka dan prasasti-prasasti kuno mereka menyokong pandangan itu. Ceritera-ceritera rakyatnva penuh dengan kisah-kisah yang berbau Yahudi. Nama Kasymir sendiri sebenarnya Kasyir yang berarti "seperti Siria"  (atau nampaknya nama Kasyir itu diambil dari Kasyi atau Kusy, seorang cucu Nabi Nuh a.s.). Semua kenyataan memberi kepastian kepada pandangan bahwa bangsa Afghan dan Kasymir sebagian besar adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang." 
   (3) Bukti-bukti tersebut cukup menjadi saksi untuk menunjukkan kenyataan, bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sungguh-sungguh datang ke Kasymir dan orang-orang Kasymir adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang”. Tetapi bukti terbesar dan paling terang mengenai kedatangan beliau ke Kasymir dan telah tinggal dan wafat di sana adalah adanya kuburan beliau di kampung Khanyar, Srinagar, Kasymir. Kuburan yang disebut Rauzabal itu. dikenal dengan berbagai sebutan, yaitu: kuburan Yus Asaf, kuburan Nabi Sahib (Baginda Nabi), kuburan Syahzadah Nabi (Nabi Pangeran), dan bahkan kuburan Isa Sahib (Baginda Isa).
     Menurut penuturan sejarah  yang telah terbukti sahnya, Yus Asaf datang ke Kasymir lebih dari 1900 tahun lampau dan mengajar dengan memakai tamsil dan mempergunakan banyak tamsil-tamsil yang tercantum dalam Injil.  Dalam sebagian buku sejarah tertentu. beliau digambarkan sebagai seorang nabi.
      Tambahan pula Yus Asaf  itu suatu nama dalam Bible, yang berarti "Yasu” yaitu ”pengumpul" yang merupakan salah satu nama sifat Yesus, sebab tugas  beliau adalah mengumpulkan suku-suku Bani Israil yang telah hilang ke pangkuan Majikannya, sebagaimana beliau sendiri katakan: "Ada lagi padaKu domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka sekalian itu juga wajib Aku bawa, dan domba-domba itu kelak mendengar akan seruanku,  lalu akan menjadi sekawan, dan gembala seorang sahaja" (Injil Yohanes 10:16).

Peringatan dan Nubuatan Bagi Umat Islam

      Perlu pula dicatat di sini, bahwa nubuatan mengenai azab kedua kali itu telah disebut dalam Bible sesudah adanya nubuatan yang membicarakan hukuman pertama (Ulangan Bab 28). Lebih dari itu, bahkan nubuatan ini disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan 30:1-5). Hal ini menunjukkan, bahwa nubuatan ini (Ulangan 32:18-26) menunjuk kepada azab ilahi yang kedua, yang telah disinggung dalam Al-Quran, yaitu  وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا  -- Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan  besar di muka bumi ini dua kali.” (QS.17:5).
      Ayat  tersebut  mengandung peringatan  dan juga merupakan nubuatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang-orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka setelah mengalami kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad.
      Tetapi  umat Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan oleh karena itu  mereka pun telah dihukum Allah Swt. dua kali. Hukuman pertama menimpa mereka, ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M.. Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang  biadab itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu.
       Tetapi dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan  -- yang merupakan keturunan Jenghis Khan yang sangat terkenal  -- bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk agama Islam. Hukuman Ilahi yang  kedua telah ditakdirkan akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman melalui tersebarnya Gog (Ya’juj)  dan Magog (Ma’juj), yakni bangsa-bangsa Kristen  dari Barat  yang bermata biru.
        Jadi, kembali kepada firman-Nya mengenai peperangan antara kerajaan Romawi dengan kerajaan Persia yang pada babak peperangan kedua dimenangkan oleh kerajaan Romawi:
یَعۡلَمُوۡنَ ظَاہِرًا مِّنَ  الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا ۚۖ وَ ہُمۡ عَنِ الۡاٰخِرَۃِ   ہُمۡ  غٰفِلُوۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَتَفَکَّرُوۡا فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ ۟ مَا خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ مَا بَیۡنَہُمَاۤ  اِلَّا بِالۡحَقِّ وَ اَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ لَکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَانُوۡۤا  اَشَدَّ مِنۡہُمۡ  قُوَّۃً  وَّ اَثَارُوا الۡاَرۡضَ وَ عَمَرُوۡہَاۤ  اَکۡثَرَ مِمَّا عَمَرُوۡہَا وَ جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ ؕ فَمَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ؕ﴿﴾  ثُمَّ کَانَ عَاقِبَۃَ  الَّذِیۡنَ  اَسَآءُوا السُّوۡٓاٰۤی  اَنۡ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ  وَ  کَانُوۡا بِہَا  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ  ﴿٪﴾

Mereka hanya mengetahui bagian zahir kehidupan dunia ini sedangkan mereka mengenai akhirat mereka lalai.   Apakah   mereka itu tidak merenungkan mengenai diri mereka sendiri, bahwa Allah tidak menciptakan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq dan untuk masa yang telah ditentukan?  Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar kafir (ingkar) terhadap pertemuan dengan Rabb (Tuhan) mereka.     Apakah mereka itu tidak berjalan di bumi ini  maka mereka dapat melihat bagaimana akibatnya orang-orang sebelum mereka? Mereka itu lebih unggul dalam kekuatan daripada mereka, mereka itu mengolah tanah dan menghuninya lebih banyak daripada yang telah mereka huni. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang nyata.  Dan Allah tidak akan berbuat zalim terhadap mereka, melainkan mereka sendirilah yang telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri.   Kemudian sangat buruk aki-bat orang-orang yang berbuat keburukan karena mereka senantiasa men-dustakan Tanda-tanda Allah dan mereka memperolokkannya. (Ar-Rūm [30]:8-11). 
        Makna ayat  یَعۡلَمُوۡنَ ظَاہِرًا مِّنَ  الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا ۚۖ وَ ہُمۡ عَنِ الۡاٰخِرَۃِ   ہُمۡ  غٰفِلُوۡنَ  -- “Mereka hanya mengetahui bagian zahir kehidupan dunia ini sedangkan mereka mengenai akhirat mereka lalai.” Ilmu orang-orang kafir terbatas pada pengertian mengenai sebab-sebab lahiriah kejadian-kejadian, namun sebab-sebab kekalahan orang-orang Persia dan kekalahan kaum Quraisy itu lebih mendalam dan lebih bersifat keruhanian daripada madiah (kebendaan atau lahiriah/jasmani), yakni berhubungan erat dengan masalah kenabian, termasuk di Akhir Zaman ini, sebab setiap umat memiliki ajal (batas waktu) masing-masing, termasuk umat Islam Bani Isma’il,  firman-Nya: 
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   

Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.   یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepadamu,  فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ    --  Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35).

Dua Kali Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.

      Bila waktu yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba, waktu itu tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda. Itulah makna ayat  وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ   -- “Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu,  فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ  -- maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.”
  Hal ini patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  dan kepada generasi-generasi yang akan lahir, bukan kepada umat yang hidup di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa  Nabi Adam a.s..
   Kata-kata  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ    --  Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya,” ayat itu berarti bahwa mereka yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah   akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka (QS.58:21-22), Mereka akan merasakan hukuman Ilahi yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt..
 Atas dasar Sunnatullah  itu pulalah    -- guna melengkapi persamaan antara Bani Isma’il (umat Islam) dengan Bani Israil -- maka Allah Swt. telah menubuatkan pengutusan dua orang Rasul di kalangan Bani Isma’il, yakni nabi yang seperti Musa a..s – yaitu Nabi Besar Muhammad saw.  (Ulangan 18:15-19; QS.46:11)  dan  Nabi yang seperti Isa Ibnu Maryam atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:68) atau Al-Masih Mau’ud a.s., yaitu Mirza Ghulam Ahmad a.s., yang muncul dari kalangan umat Islam kaum ākharīn, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾      وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  1  Maret      2015

t      2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar