Jumat, 20 Februari 2015

Makna "Pengalungan Amal Perbuatan" di Leher & Manusia Penentu "Takdirnya" Sendiri Untuk Menjadi "Penghuni Surga" atau Menjadi "Penghuni Neraka Jahannam"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 62

  
Makna “Pengalungan Amal Perbuatan” di Leher & Manusia   Penentu  "Takdirnya" Sendiri Untuk Menjadi “Penghuni Surga” atau Menjadi “Penghuni  Neraka Jahannam

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  berbagai  nubuatan dalam ayat  Surah Al-Infithar:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِذَا  السَّمَآءُ  انۡفَطَرَتۡ ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا الۡکَوَاکِبُ انۡتَثَرَتۡ ۙ﴿﴾  وَ  اِذَا الۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ ﴿ۙ﴾   وَ  اِذَا الۡقُبُوۡرُ بُعۡثِرَتۡ ۙ﴿﴾   عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَ اَخَّرَتۡ ؕ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.     Apabila langit terbelah,  dan apabila bintang-bintang jatuh  berserakan,   dan apabila lautan-lautan dialirkan, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. Setiap jiwa akan mengetahui  apa yang mereka dahulukan dan apa yang mereka tinggalkan di belakang, (Al-Infithār [82]:1-6).
       Nubuatan selanjutnya adalah  وَ  اِذَا الۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ   -- “dan apabila lautan-lautan dialirkan,”  nubuatan Al-Quran tersebut telah menjadi kenyataan  di Akhir Zaman ini    -- untuk tujuan memperpendek jarak tempuh kapal-kapal laut    --  maka  lautan-lautan raya dan samudera-samudera besar akan dibuat mengalir dan berhubungan satu sama lain dengan perantaraan terusan-terusan; atau teluk-teluknya akan digali menjadi lebar sehingga kapal-kapal besar dapat keluar masuk ke sana. Isyarat ini dapat pula tertuju kepada Terusan Panama dan Terusan Suez.

Pembongkaran Kuburan Fir’aun

   Salah satu bukti kemajuan duniawi yang dimiliki Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj)  dalam bidang penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) Di Akhir Zaman  adalah penggalian  kuburan-kuburan  serta berbagai situs purbakala lainnya, seperti contohnya  penggalian kuburan-kuburan raja-raja Mesir purba, sehingga benarlah pernyataan Allah Swt. tentang penyelamatan jasad Fir’aun yang tenggelam di laut ketika mengejar Nabi Musa a.s. dan Bani Israil  (QS.10:91-93. Atau ayat ini dapat berarti bahwa kota-kota dan tugu-tugu peringatan yang telah terpendam selama ribuan tahun dan telah lama dilupakan akan digali kem-bali, firman-Nya:
وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata:   اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- “Aku percaya, sesungguhnya   tidak ada Tuhan kecuali Dia yang dipercayai oleh Bani Israil,  dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ  -- Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً  --   Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda bagi orang-orang  sesudah engkau,  وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ --  dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
       Ucapan Fir’aun: اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- “Aku percaya, sesungguhnya   tidak ada Tuhan kecuali Dia yang dipercayai oleh Bani Israil,  dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si congkak Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya.
         Sangat menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran sajalah dari semua kitab keagamaan dan buku-buku sejarah, yang menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat ini. Bible tak menyebutkannya dan tidak pula kitab sejarah mana pun. Tetapi dengan cara yang sangat ajaib  firman Allah Swt.   itu telah terbukti kebenarannya. Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat Fir’aun itu telah ditemukan orang kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo, firman-Nya: فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً  --   Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda  bagi orang-orang  sesudah engkau.”   
        Nampak dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek dengan wajah yang mencerminkan kebengisan campur kebodohan. Nabi Musa a.s. dilahirkan di zaman Ramses II dan dibesarkan olehnya (Keluaran 2:2-10), tetapi pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah (Meneptah), beliau diserahi tugas kenabian (Jewish Encyclopaedia jilid 9 hlm. 500 & Encyclopaedia Biblica, pada kata “Pharaoh” & pada “Egypt”).

Nubuatan Kesadaran dari Kesesatan Para Penganjur Agama Kristen 

    Dalam ayat berikut ini  عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَ اَخَّرَتۡ   -- “Setiap jiwa akan mengetahui  apa yang mereka dahulukan dan apa yang mereka tinggalkan di belakang,(Al-Infithār [82]:1-6), bersama-sama beberapa ayat berikutnya,  sapaan itu ditujukan kepada para tokoh dan penganjur ajaran Kristen yang keliru itu.
  Mereka akhirnya akan menyadari akan kekejian dan keburukan ajaran palsu mereka itu,  karena berdasarkan iptek yang mereka kuasai dalam hal “perekaman” segala sesuatu, bahwa hal yang sama dilakukan Allah Swt. mengenai keadaan pikiran dan amal perbuatan mereka, yakni Allah Swt. akan menuntut pertanggungjawaban dari mereka, firman-Nya:
وَ لَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ وَ الۡفُؤَادَ  کُلُّ  اُولٰٓئِکَ کَانَ  عَنۡہُ  مَسۡـُٔوۡلًا﴿﴾
Dan janganlah engkau mengikuti apa yang terhadapnya engkau tidak memiliki  pengetahuan,  sesungguhnya telinga, mata dan hati,  semuanya  akan ditanya mengenai itu. (Bani Israil [17]:37). Lihat pula  QS.24:25; QS.36:66-67; QS.41:20-26).
        Ayat ini mengikis habis sampai ke akar-akarnya semua sumber kecurigaan, yang menurut urutan alami adalah “telinga”, “mata”, dan “hati”. Telinga merupakan saluran pertama yang melaluinya sebagian besar kecurigaan masuk ke dalam pikiran orang. Sebagian besar kecurigaan adalah disebabkan oleh laporan-laporan tidak berdasar yang didengar oleh seseorang mengenai orang lain.
       Sumber kedua kecurigaan ialah penglihatan. Seseorang melihat orang lain berbuat sesuatu, dan memberinya penafsiran yang salah, dan terbawa pikirannya untuk mencurigai maksud-maksud dan niat-niat orang yang melakukan perbuatan itu.
       Kecurigaan terakhir dan yang paling rendah ialah yang seseorang menaruh curiga terhadap orang lain, bukan sebagai akibat suatu laporan buruk yang mungkin telah ia dengar, dan bukan pula diakibatkan oleh suatu perbuatan buruk, yang boleh jadi ia sendiri melihat orang itu melakukannya, melainkan oleh karena didorong khayalannya sendiri yang tidak sehat.
       Jadi bukan hanya jiwa dan harta kekayaan manusia saja yang dinyatakan suci dan tidak boleh dilanggar (seperti telah disinggung dalam ayat yang mendahuluinya), tetapi kehormatan manusia mempunyai nilai kudus, dan serangan terhadap kehormatan manusia pun harus pula dipertanggung-jawabkan kelak, firman-Nya:
وَ کُلَّ  اِنۡسَانٍ اَلۡزَمۡنٰہُ طٰٓئِرَہٗ  فِیۡ عُنُقِہٖ ؕ وَ نُخۡرِجُ لَہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ کِتٰبًا  یَّلۡقٰىہُ  مَنۡشُوۡرًا﴿﴾  اِقۡرَاۡ کِتٰبَکَ ؕ  کَفٰی بِنَفۡسِکَ الۡیَوۡمَ عَلَیۡکَ  حَسِیۡبًا ﴿ؕ﴾  مَنِ اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا ؕ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ؕ وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا ﴿﴾
Dan amalan tiap-tiap manusia  Kami  mengikatnya  pada  lehernya, dan pada Hari Kiamat   Kami akan mengeluarkan baginya kitab yang akan didapatinya terbuka lebar.   Dikatakan: اِقۡرَاۡ کِتٰبَکَ ؕ  کَفٰی بِنَفۡسِکَ الۡیَوۡمَ عَلَیۡکَ  حَسِیۡبًا --    Bacalah kitab engkau, cukuplah diri engkau sendiri pada hari ini sebagai penghisab terhadap engkau.”    Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya,  dan barangsiapa sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan atas dirinya,  وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی -- dan  tidak ada pemikul beban akan memikul beban orang lain.  وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا --  Dan  Kami tidak menimpakan azab  hingga Kami  terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul.  (Bani Israil [17]:14-16).

Makna “Pengalungan  Amal” di Leher

      Mengikatkan amal-perbuatan manusia kepada lehernya mengandung arti, bahwa perbuatannya dan akibat perbuatan yang dilakukannya  melekat padanya selama ia  hidup. Tha’ir (burung) berarti suatu perbuatan yang menjadi adat kebiasaan (Al-Aqrab-al-Mawarid).
      Dalam ayat ini manusia diperingatkan, bahwa suatu perbuatan bila satu kali dilakukan  maka perbuatan itu tidak dapat dihilangkan lagi serta mempunyai akibat-akibat yang jauh jangkauannya, perbuatan itu tetap melekat pada leher si pelaku, dan tidak ada kemungkinan menghapuskannya.
       Ayat ini dapat pula berarti bahwa manusia mencari ramalan nasib baik atau buruk dari benda-benda yang ada di luar dirinya; sedang nasib baik atau buruknya itu sebenarnya melekat pada lehernya sendiri.  Dengan demikian  azab (hukuman)  Ilahi bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan terbit dan timbul dari dalam diri manusia sendiri. Pada hakikatnya siksaan-siksaan neraka dan ganjaran-ganjaran surga akan hanya merupakan sekian banyak perwujudan dan penjelmaan perbuatan manusia — baik atau buruk — yang pernah dilakukannya dalam kehidupan ini.
         Contohnya dalam berbagai kejuaraan  dalam dunia oleh raga, kepada para juara  -- sesuai peringkatnya   -- dikalungkan oleh panitia   medali kejuaraan yang terbuat dari medali emas, medali perak, serta medali perunggu, yang dikalungkan pada leher para juara tersebut,  dengan demikian jenis-jenis medali  kejuaraan itu merupakan “catatan amal” dari para juara  dalam pertandingan olah raga  tersebut.
       Jadi, dalam kehidupan ini manusia menjadi perancang nasibnya sendiri, dan seolah-olah pada kehidupan yang akan datang ia sendiri akan menjadi pengganjar dan penghukum terhadap dirinya sendiri. Itulah makna ayat:  مَنِ اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا  -- “Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya,  dan barangsiapa sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan atas dirinya.
        Makna ayat selanjutnya وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی – “dan  tidak ada pemikul beban akan memikul beban orang lain,” dengan sangat telak  menggugurkan itikad sesat  Trinitas” dan “penebusan dosa” karena setiap orang harus memikul tanggung-jawab perbuatannya sendiri. Pengorbanan dan penebusan dari siapa pun, tidak dapat mendatangkan faedah apa pun kepada orang lain. Ayat ini mematahkan kepercayaan tentang penebusan dosa sampai ke akar-akarnya.

Pentingnya Kedatangan Rasul Allah Sebelum Manusia Mendapat Azab Ilahi

         Nubuatan dan peringatan dalam ayat selanjutnya  وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا -- Dan  Kami tidak menimpakan azab  hingga Kami  terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul, dibuktikan kebenarannya  di Akhir Zaman ini,   dimana dunia telah menyaksikan wabah-wabah, kelaparan-kelaparan, peperangan-peperangan, gempa-gempa bumi, serta berbagai bentuk  malapetaka lainnya  --  yang serupa itu belum pernah terjadi sebelumnya, dan datangnya begitu bertubi-tubi  --  sehingga kehidupan manusia telah dirasakan pahit karenanya.
     Menurut firman-Nya tersebut sebelum malapetaka-malapetaka dan bencana-bencana menimpa bumi  (umat manusia)  ini, sudah selayaknya Allah Swt. terlebih dulu   membangkitkan seorang Rasul Allah sebagai  pemberi peringatan, sebab jika tidak, maka manusia akan memiliki hujjah (alasan) untuk menyalahkan Allah Swt., firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ  تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ  مَا فِی الصُّحُفِ  الۡاُوۡلٰی ﴿﴾  وَ لَوۡ اَنَّـاۤ  اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ  اَرۡسَلۡتَ  اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ  نَّذِلَّ  وَ  نَخۡزٰی  ﴿﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ  اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ  وَ مَنِ  اہۡتَدٰی ﴿﴾٪
Dan mereka berkata: "Mengapakah ia (Rasul) tidak mendatang­kan kepada kami suatu Tanda dari Rabb-nya (Tuhan-nya)?" Bukankah telah datang kepada mereka bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran (kitab suci) terdahulu?   وَ لَوۡ اَنَّـاۤ  اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ   -- Dan seandainya Kami membinasakan mereka dengan azab sebelum ini  لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ  اَرۡسَلۡتَ  اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ  نَّذِلَّ  وَ  نَخۡزٰی  -- niscaya mereka akan berkata: "Ya Rabb (Tuhan) kami, me­ngapakah   Eng-kau tidak mengirimkan kepada kami seorang rasul supaya kami mengikuti Ayat-ayat Engkau sebelum kami di-rendahkan dan dihinakan?" قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا  --   Katakanlah: "Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun  tunggulah, فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ  اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ  وَ مَنِ  اہۡتَدٰی   -- lalu segera kamu akan mengetahui siapakah yang ada pada jalan yang lurus dan siapa yang mengikuti petunjuk dan siapa yang tidak.. (Thā Hā [20]:134-36). Lihat pula QS.6:132;  QS.11:118; QS.26:209; QS.28:60.

Kesempurnaan Berbagai Potensi Jasmani dan Ruhani Manusia

   Kembali kepada Surah Al-Infithār, selanjutnya  Allah Swt. berfirman mengenai ketidak-bersyukuran umumnya  umat manusia  terhadap Allah Swt., sehingga dalam meraih kesuksesan duniawinya mereka malah mempersekutukan Allah Swt.  dengan “tuhan-tuhan palsu” lainnya:
یٰۤاَیُّہَا  الۡاِنۡسَانُ مَا غَرَّکَ بِرَبِّکَ الۡکَرِیۡمِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ ۙ﴿﴾  فِیۡۤ  اَیِّ صُوۡرَۃٍ  مَّا شَآءَ  رَکَّبَکَ ؕ﴿﴾
Hai insan, apa yang telah memperdayai engkau mengenai  Rabb (Tuhan) engkau Yang Maha Mulia. Yang telah menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan engkau, lalu menata tubuh engkau dengan  serasi?    Dalam bentuk apa yang Dia kehendaki Dia menyusun tubuh engkau. (Al-Infithār [82]:7-9).
      Firman Allah Swt. tersebut sesuai dengan firman-Nya dalam awal Surah Al-Insān atau Ad Dahr  -- yang merupakan Surah Al-Quran yang menjadi topic pembahasan dalam Blog ini   --  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ ہَلۡ  اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ  لَمۡ  یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  اَمۡشَاجٍ ٭ۖ  نَّبۡتَلِیۡہِ  فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾  اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ  السَّبِیۡلَ  اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Bukankah telah  datang kepada insan  (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum nenjadi sesuatu yang layak disebut?   Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah campuran   supaya Kami dapat mengujinya, maka Kami telah membuat dia mendengar serta melihat.  Sesungguhnya Kami telah me-nunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur.    Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala.  (Ad-Dahr [76]:1-5).
     Dalam ayat-ayat  kedua Surah Al-Quran ini  Allah Swt.  telah mengingatkan seluruh umat manusia bahwa Dia dengan rahmat dan karunia-Nya telah menganugerahi  insan  (manusia) kekuatan-kekuatan dan kemampuan-kemampuan fitri agung agar   dapat naik ke puncak kemuliaan ruhani setinggi-tingginya (QS.95:5) melalui pelaksanaan peribadahan kepada-Nya (QS.51:57). Jika tidak maka – cepat atau lambat   -- Allah Swt. pasti akan menghinakan mereka, bahkan di dunia ini,  firman-Nya:
 لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ ۫﴿﴾  ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ ۙ﴿﴾  اِلَّا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ  اَجۡرٌ غَیۡرُ  مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿﴾  فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾  اَلَیۡسَ اللّٰہُ  بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ ٪﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan insan  (manusia) dalam sebaik-baik  bentuk. Kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling rendah,  Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan Hari Pembalasan sesudah itu? Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim? (At-Tīn [95]:5-9).

Ketidak-bersyukuran Manusia kepada Allah Swt.

  Makna ayat  لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ  -- “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik  bentuk,” manusia dilahirkan dengan fitrat suci dan tidak bernoda, dengan kecondongan alami untuk berbuat baik (QS.30:31),  tetapi ia telah diberi pula cukup banyak kebebasan berkemauan dan berbuat untuk membentuk dirinya menurut pilihannya sendiri, apakah ia  mau menjadi penghuni neraka jahannam  atau menjadi penghuni surga  (QS.18:30-32).
Manusia pun  telah dianugerahi kemampuan-kemampuan alami besar dan kecakapan-kecakapan kreatif guna mencapai kemajuan akhlak yang tidak terhingga dan menaiki puncak keruhanian demikian tingginya, sehingga ia menjadi cermin yang memantulkan sifat-sifat Allah melalui pelaksanaan peribadahan kepada-Nya (QS.51:57).
   Ayat selanjutnya ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ -- “Kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling rendah,” yakni  jika ia menyalahgunakan kemampuan-kemampuan dan sifat-sifatnya yang dianugerahkan Allah Swt. tersebut maka  ia jatuh ke martabat rendah yang rendah yang bahkan lebih rendah daripada martabat binatang buas dan binatang jalang, dan menjadi penjelmaan syaitan,  seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikutnya. Singkatnya, insan  (manusia) telah dianugerahi kemampuan-kemampuan besar guna berbuat baik atau pun jahat.
 Jadi, jika insan  (manusia) telah diciptakan Allah Swt. untuk mencapai tujuan ruhani yang amat tinggi itu dan Allah Swt. telah mengutus nabi-nabi-Nya  -- seperti Nabi Adam a.s.,  Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s.,   dan Nabi Besar Muhammad saw., untuk menolong atau membimbing manusia melalui wahyu Ilahi guna mencapai tujuannya  yang agung itu (QS.51:57),  maka jika ia tidak mempergunakan kemampuan-kemampuannya dengan cara tepat dan menolak Amanat Ilahi serta menentang para Rasul  Allah  maka ia dihukum  dengan azab Ilahi, sebagaimana yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.7:35-37).
 Dari kenyataan Sunnatullah tersebut,  kemudian siapakah dapat menolak berdasarkan akal sehat, bahwa ada Hari Pembalasan di dunia ini dan juga di akhirat,  dan bahwa perintah-perintah Allah,  --  Yang adalah Hakim terbaik   --  tidak dapat dilawan dan bahwa perbuatan-perbuatan manusia tidak akan dibiar-kan bebas tanpa berbalas?
  Benarlah firman-Nya dalam Surah Al-Insān (Ad-Dahr) sebelumnya, bahwa bagi orang-orang yang tidak mensyukuri berbagai kemampuan  yang dianugerahkan Allah Swt.: اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا  -- “sesungguhnya Kami telah menyediakan  bagi orang-orang kafir  rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. 

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 19 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar