بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 62
Makna
“Pengalungan Amal Perbuatan” di Leher
& Manusia Penentu "Takdirnya" Sendiri Untuk Menjadi “Penghuni Surga” atau Menjadi “Penghuni Neraka Jahannam”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas berbagai nubuatan
dalam ayat Surah Al-Infithar:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا
السَّمَآءُ انۡفَطَرَتۡ ۙ﴿﴾ وَ
اِذَا الۡکَوَاکِبُ انۡتَثَرَتۡ ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ ﴿ۙ﴾ وَ اِذَا الۡقُبُوۡرُ بُعۡثِرَتۡ ۙ﴿﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَ
اَخَّرَتۡ ؕ﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apabila
langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
dan apabila lautan-lautan dialirkan, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. Setiap
jiwa akan mengetahui apa yang mereka
dahulukan dan apa yang mereka
tinggalkan di belakang, (Al-Infithār [82]:1-6).
Nubuatan selanjutnya adalah وَ اِذَا الۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ -- “dan apabila lautan-lautan dialirkan,” nubuatan
Al-Quran tersebut telah menjadi kenyataan
di Akhir Zaman ini -- untuk tujuan memperpendek jarak tempuh kapal-kapal laut --
maka lautan-lautan raya dan samudera-samudera
besar akan dibuat mengalir dan berhubungan satu sama lain dengan
perantaraan terusan-terusan; atau
teluk-teluknya akan digali menjadi
lebar sehingga kapal-kapal besar
dapat keluar masuk ke sana. Isyarat ini dapat pula tertuju kepada Terusan Panama dan Terusan Suez.
Pembongkaran Kuburan Fir’aun
Salah
satu bukti kemajuan duniawi yang dimiliki Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) dalam bidang
penguasaan iptek (ilmu pengetahuan
dan teknologi) Di Akhir Zaman adalah
penggalian kuburan-kuburan serta
berbagai situs purbakala lainnya,
seperti contohnya penggalian kuburan-kuburan raja-raja Mesir purba, sehingga benarlah
pernyataan Allah Swt. tentang penyelamatan
jasad Fir’aun yang tenggelam di laut ketika mengejar Nabi Musa a.s. dan Bani Israil (QS.10:91-93. Atau ayat ini dapat berarti
bahwa kota-kota dan tugu-tugu peringatan yang telah terpendam selama ribuan tahun dan telah lama dilupakan
akan digali kem-bali, firman-Nya:
وَ
جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ
الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡیَوۡمَ
نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ
خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا
لَغٰفِلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi
laut, lalu Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar
mereka secara durhaka dan aniaya, sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- “Aku
percaya, sesungguhnya tidak
ada Tuhan kecuali Dia yang
dipercayai oleh Bani Israil, dan
aku termasuk orang-orang yang berserah
diri kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ
الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- Apa,
sekarang baru beriman!?
Padahal engkau telah membangkang sebelum ini, dan engkau termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً -- Maka pada
hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya badan
engkau, supaya engkau menjadi suatu
Tanda bagi orang-orang
sesudah engkau, وَ اِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنَ النَّاسِ عَنۡ اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ -- dan sesungguhnya
kebanyakan dari manusia benar-benar lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:91-93).
Ucapan Fir’aun:
اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- “Aku percaya, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Dia yang dipercayai oleh Bani Israil,
dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya” melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si congkak
Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya.
Sangat
menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran
sajalah dari semua kitab keagamaan
dan buku-buku sejarah, yang
menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat ini. Bible tak menyebutkannya dan tidak pula kitab sejarah mana pun.
Tetapi dengan cara yang sangat ajaib firman Allah Swt. itu
telah terbukti kebenarannya. Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat Fir’aun itu telah ditemukan orang
kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo,
firman-Nya: فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ
لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً -- Maka pada
hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya badan
engkau, supaya engkau menjadi suatu
Tanda bagi orang-orang
sesudah engkau.”
Nampak dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek dengan wajah yang
mencerminkan kebengisan campur kebodohan. Nabi Musa a.s. dilahirkan di
zaman Ramses II dan dibesarkan olehnya
(Keluaran 2:2-10), tetapi
pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah
(Meneptah), beliau diserahi tugas kenabian (Jewish Encyclopaedia jilid 9 hlm. 500 & Encyclopaedia Biblica, pada kata
“Pharaoh” & pada “Egypt”).
Nubuatan Kesadaran dari Kesesatan Para Penganjur Agama Kristen
Dalam
ayat berikut ini عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَ اَخَّرَتۡ -- “Setiap jiwa akan mengetahui apa yang mereka dahulukan dan apa yang mereka tinggalkan di belakang,”(Al-Infithār
[82]:1-6), bersama-sama beberapa ayat berikutnya, sapaan
itu ditujukan kepada para tokoh dan
penganjur ajaran Kristen yang keliru itu.
Mereka akhirnya akan menyadari akan kekejian dan keburukan ajaran
palsu mereka itu, karena berdasarkan
iptek yang mereka kuasai dalam hal “perekaman” segala sesuatu, bahwa hal yang sama dilakukan Allah Swt. mengenai keadaan pikiran dan amal perbuatan mereka, yakni Allah Swt. akan menuntut pertanggungjawaban dari mereka,
firman-Nya:
وَ لَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ
وَ الۡفُؤَادَ کُلُّ اُولٰٓئِکَ کَانَ عَنۡہُ
مَسۡـُٔوۡلًا﴿﴾
Dan janganlah engkau mengikuti apa yang
terhadapnya engkau tidak memiliki
pengetahuan, sesungguhnya
telinga, mata dan hati, semuanya
akan ditanya mengenai itu. (Bani
Israil [17]:37). Lihat pula QS.24:25; QS.36:66-67; QS.41:20-26).
Ayat
ini mengikis habis sampai ke akar-akarnya
semua sumber kecurigaan, yang menurut
urutan alami adalah “telinga”, “mata”, dan “hati”. Telinga
merupakan saluran pertama yang
melaluinya sebagian besar kecurigaan
masuk ke dalam pikiran orang.
Sebagian besar kecurigaan adalah
disebabkan oleh laporan-laporan tidak
berdasar yang didengar oleh
seseorang mengenai orang lain.
Sumber kedua kecurigaan ialah penglihatan. Seseorang melihat orang
lain berbuat sesuatu, dan memberinya penafsiran
yang salah, dan terbawa pikirannya untuk mencurigai
maksud-maksud dan niat-niat orang yang melakukan perbuatan
itu.
Kecurigaan terakhir dan yang paling rendah
ialah yang seseorang menaruh curiga
terhadap orang lain, bukan sebagai akibat suatu laporan buruk yang mungkin telah ia dengar, dan bukan pula diakibatkan oleh suatu perbuatan buruk, yang boleh jadi ia sendiri melihat orang itu melakukannya,
melainkan oleh karena didorong
khayalannya sendiri yang tidak sehat.
Jadi bukan hanya jiwa dan harta kekayaan manusia saja yang dinyatakan suci dan tidak boleh
dilanggar (seperti telah disinggung dalam ayat yang mendahuluinya), tetapi kehormatan manusia mempunyai nilai kudus,
dan serangan terhadap kehormatan manusia pun harus pula dipertanggung-jawabkan kelak,
firman-Nya:
وَ کُلَّ اِنۡسَانٍ اَلۡزَمۡنٰہُ طٰٓئِرَہٗ فِیۡ عُنُقِہٖ ؕ وَ نُخۡرِجُ
لَہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ کِتٰبًا یَّلۡقٰىہُ مَنۡشُوۡرًا﴿﴾ اِقۡرَاۡ کِتٰبَکَ ؕ کَفٰی بِنَفۡسِکَ الۡیَوۡمَ عَلَیۡکَ حَسِیۡبًا ﴿ؕ﴾ مَنِ اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا ؕ وَ لَا تَزِرُ
وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ مَا
کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ حَتّٰی
نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا ﴿﴾
Dan amalan tiap-tiap manusia Kami mengikatnya pada
lehernya, dan pada
Hari Kiamat Kami akan mengeluarkan
baginya kitab yang akan didapatinya terbuka lebar. Dikatakan:
اِقۡرَاۡ کِتٰبَکَ ؕ کَفٰی بِنَفۡسِکَ الۡیَوۡمَ عَلَیۡکَ
حَسِیۡبًا -- ”Bacalah kitab engkau, cukuplah diri engkau sendiri pada hari ini
sebagai penghisab terhadap engkau.” Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya, dan barangsiapa
sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan
atas dirinya, وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی -- dan tidak
ada pemikul beban akan memikul beban
orang lain. وَ مَا کُنَّا
مُعَذِّبِیۡنَ
حَتّٰی
نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا -- Dan Kami
tidak menimpakan azab hingga Kami
terlebih dahulu mengirimkan
seorang rasul. (Bani
Israil [17]:14-16).
Makna “Pengalungan Amal” di Leher
Mengikatkan amal-perbuatan manusia kepada lehernya
mengandung arti, bahwa perbuatannya
dan akibat perbuatan yang
dilakukannya melekat padanya selama ia
hidup. Tha’ir (burung) berarti suatu perbuatan yang menjadi adat
kebiasaan (Al-Aqrab-al-Mawarid).
Dalam ayat ini manusia diperingatkan, bahwa suatu perbuatan bila satu kali dilakukan maka perbuatan
itu tidak dapat dihilangkan lagi
serta mempunyai akibat-akibat yang
jauh jangkauannya, perbuatan itu
tetap melekat pada leher si pelaku,
dan tidak ada kemungkinan menghapuskannya.
Ayat ini dapat pula berarti bahwa manusia
mencari ramalan nasib baik atau buruk dari benda-benda yang ada di luar dirinya; sedang nasib baik atau buruknya
itu sebenarnya melekat pada lehernya
sendiri. Dengan
demikian azab (hukuman) Ilahi bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan terbit dan timbul dari dalam diri manusia sendiri. Pada
hakikatnya siksaan-siksaan neraka dan
ganjaran-ganjaran surga akan hanya
merupakan sekian banyak perwujudan
dan penjelmaan perbuatan manusia —
baik atau buruk — yang pernah dilakukannya dalam kehidupan ini.
Contohnya dalam berbagai kejuaraan dalam dunia oleh raga, kepada para juara
-- sesuai peringkatnya -- dikalungkan oleh panitia medali
kejuaraan yang terbuat dari medali
emas, medali perak, serta medali perunggu, yang dikalungkan pada leher para juara
tersebut, dengan demikian jenis-jenis medali kejuaraan itu merupakan “catatan amal” dari para juara dalam pertandingan
olah raga tersebut.
Jadi, dalam kehidupan ini manusia menjadi perancang nasibnya sendiri, dan
seolah-olah pada kehidupan yang akan
datang ia sendiri akan menjadi pengganjar
dan penghukum terhadap dirinya sendiri. Itulah makna ayat: مَنِ اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا -- “Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya, dan barangsiapa
sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan
atas dirinya.”
Makna ayat selanjutnya وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی – “dan tidak
ada pemikul beban akan memikul beban
orang lain,” dengan sangat telak
menggugurkan itikad sesat “Trinitas” dan “penebusan dosa” karena setiap orang harus memikul tanggung-jawab perbuatannya sendiri. Pengorbanan dan penebusan
dari siapa pun, tidak dapat mendatangkan faedah
apa pun kepada orang lain. Ayat ini mematahkan kepercayaan tentang penebusan
dosa sampai ke akar-akarnya.
Pentingnya Kedatangan Rasul
Allah Sebelum Manusia Mendapat Azab
Ilahi
Nubuatan dan peringatan dalam ayat selanjutnya
وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ حَتّٰی نَبۡعَثَ
رَسُوۡلًا -- Dan Kami
tidak menimpakan azab hingga Kami
terlebih dahulu mengirimkan
seorang rasul,” dibuktikan kebenarannya di Akhir
Zaman ini, dimana dunia telah menyaksikan wabah-wabah, kelaparan-kelaparan, peperangan-peperangan,
gempa-gempa bumi, serta berbagai
bentuk malapetaka lainnya -- yang serupa itu belum pernah terjadi sebelumnya, dan datangnya begitu bertubi-tubi -- sehingga kehidupan
manusia telah dirasakan pahit
karenanya.
Menurut firman-Nya tersebut sebelum malapetaka-malapetaka
dan bencana-bencana menimpa bumi
(umat manusia) ini, sudah
selayaknya Allah Swt. terlebih dulu membangkitkan seorang Rasul Allah sebagai pemberi
peringatan, sebab jika tidak, maka manusia akan memiliki hujjah (alasan) untuk menyalahkan Allah Swt., firman-Nya:
وَ قَالُوۡا
لَوۡ لَا یَاۡتِیۡنَا بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ اَوَ لَمۡ تَاۡتِہِمۡ بَیِّنَۃُ مَا فِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿﴾ وَ لَوۡ اَنَّـاۤ
اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ
لَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ
قَبۡلِ اَنۡ نَّذِلَّ وَ
نَخۡزٰی ﴿﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ
فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ اَصۡحٰبُ
الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ مَنِ اہۡتَدٰی ﴿﴾٪
Dan
mereka berkata: "Mengapakah ia (Rasul)
tidak mendatangkan kepada kami suatu
Tanda dari Rabb-nya (Tuhan-nya)?" Bukankah telah datang kepada mereka bukti yang jelas apa yang ada dalam lembaran-lembaran (kitab suci) terdahulu?
وَ لَوۡ
اَنَّـاۤ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ
قَبۡلِہٖ -- Dan seandainya Kami membinasakan mereka
dengan azab sebelum ini لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ اَرۡسَلۡتَ
اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّذِلَّ
وَ نَخۡزٰی
-- niscaya mereka akan berkata: "Ya Rabb (Tuhan) kami, mengapakah Eng-kau tidak mengirimkan kepada kami
seorang rasul supaya kami mengikuti
Ayat-ayat Engkau sebelum kami
di-rendahkan dan dihinakan?"
قُلۡ کُلٌّ
مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا -- Katakanlah: "Setiap orang sedang
menunggu maka kamu pun tunggulah, فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ مَنِ
اہۡتَدٰی -- lalu segera kamu akan mengetahui siapakah
yang ada pada jalan yang lurus dan
siapa yang mengikuti petunjuk dan
siapa yang tidak.. (Thā Hā [20]:134-36). Lihat pula QS.6:132; QS.11:118; QS.26:209; QS.28:60.
Kesempurnaan Berbagai Potensi Jasmani dan Ruhani Manusia
Kembali kepada Surah Al-Infithār, selanjutnya
Allah Swt. berfirman mengenai ketidak-bersyukuran
umumnya umat manusia terhadap Allah Swt.,
sehingga dalam meraih kesuksesan
duniawinya mereka malah mempersekutukan
Allah Swt. dengan “tuhan-tuhan palsu” lainnya:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ مَا
غَرَّکَ بِرَبِّکَ الۡکَرِیۡمِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ ۙ﴿﴾ فِیۡۤ اَیِّ
صُوۡرَۃٍ مَّا شَآءَ رَکَّبَکَ ؕ﴿﴾
Hai insan, apa yang telah memperdayai engkau mengenai
Rabb (Tuhan) engkau Yang Maha Mulia. Yang telah menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan engkau, lalu menata tubuh engkau dengan serasi? Dalam bentuk
apa yang Dia kehendaki Dia menyusun
tubuh engkau. (Al-Infithār
[82]:7-9).
Firman Allah Swt. tersebut sesuai dengan firman-Nya
dalam awal Surah Al-Insān atau Ad Dahr -- yang merupakan Surah Al-Quran yang menjadi
topic pembahasan dalam Blog ini --
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
ہَلۡ اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ
مِّنَ الدَّہۡرِ لَمۡ یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ اَمۡشَاجٍ ٭ۖ
نَّبۡتَلِیۡہِ فَجَعَلۡنٰہُ
سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾ اِنَّا
ہَدَیۡنٰہُ السَّبِیۡلَ اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّاۤ
اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ
سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا وَّ سَعِیۡرًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Bukankah telah
datang kepada insan (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia
belum nenjadi sesuatu yang
layak disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah campuran supaya Kami
dapat mengujinya, maka Kami telah
membuat dia mendengar serta melihat.
Sesungguhnya Kami telah me-nunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur. Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. (Ad-Dahr [76]:1-5).
Dalam
ayat-ayat kedua Surah Al-Quran ini Allah Swt.
telah mengingatkan seluruh umat manusia bahwa Dia dengan rahmat dan karunia-Nya telah menganugerahi insan (manusia) kekuatan-kekuatan
dan kemampuan-kemampuan fitri agung
agar dapat naik
ke puncak kemuliaan ruhani
setinggi-tingginya (QS.95:5) melalui pelaksanaan peribadahan kepada-Nya (QS.51:57). Jika tidak maka – cepat atau
lambat -- Allah Swt. pasti akan menghinakan mereka, bahkan di dunia ini,
firman-Nya:
لَقَدۡ خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ
۫﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ
اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ ۙ﴿﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ اَجۡرٌ غَیۡرُ
مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿﴾ فَمَا یُکَذِّبُکَ
بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اَلَیۡسَ
اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ ٪﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan insan (manusia) dalam sebaik-baik bentuk.
Kemudian Kami mengembalikannya kepada
tingkat paling rendah, Kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan Hari Pembalasan sesudah itu? Bukankah
Allah itu Hakim Yang Maha Adil di
antara para hakim? (At-Tīn
[95]:5-9).
Ketidak-bersyukuran Manusia
kepada Allah Swt.
Makna ayat لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ
فِیۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ
-- “Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk,” manusia
dilahirkan dengan fitrat suci dan tidak bernoda, dengan kecondongan alami untuk berbuat
baik (QS.30:31), tetapi ia telah
diberi pula cukup banyak kebebasan
berkemauan dan berbuat untuk membentuk dirinya menurut pilihannya sendiri, apakah ia mau menjadi penghuni neraka jahannam atau menjadi penghuni surga
(QS.18:30-32).
Manusia pun telah
dianugerahi kemampuan-kemampuan alami
besar dan kecakapan-kecakapan kreatif
guna mencapai kemajuan akhlak yang
tidak terhingga dan menaiki puncak
keruhanian demikian tingginya, sehingga ia menjadi cermin yang memantulkan sifat-sifat
Allah melalui pelaksanaan peribadahan
kepada-Nya (QS.51:57).
Ayat selanjutnya
ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ
اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ -- “Kemudian Kami
mengembalikannya kepada tingkat paling rendah,” yakni jika ia menyalahgunakan
kemampuan-kemampuan dan sifat-sifatnya yang dianugerahkan Allah
Swt. tersebut maka ia jatuh ke martabat rendah yang rendah yang bahkan lebih rendah daripada martabat
binatang buas dan binatang jalang,
dan menjadi penjelmaan syaitan, seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikutnya.
Singkatnya, insan (manusia) telah dianugerahi kemampuan-kemampuan besar guna berbuat baik atau pun jahat.
Jadi, jika insan
(manusia) telah diciptakan Allah
Swt. untuk mencapai tujuan ruhani
yang amat tinggi itu dan Allah Swt. telah mengutus nabi-nabi-Nya -- seperti
Nabi Adam a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi
Musa a.s., dan Nabi Besar Muhammad saw., untuk menolong
atau membimbing manusia melalui wahyu Ilahi guna mencapai tujuannya yang agung itu (QS.51:57), maka jika ia tidak mempergunakan kemampuan-kemampuannya dengan cara tepat dan menolak Amanat Ilahi serta menentang
para Rasul Allah maka ia dihukum dengan azab
Ilahi, sebagaimana yang terjadi dengan kaum-kaum
purbakala yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.7:35-37).
Dari kenyataan Sunnatullah tersebut, kemudian siapakah dapat menolak berdasarkan akal
sehat, bahwa ada Hari Pembalasan
di dunia ini dan juga di akhirat, dan bahwa perintah-perintah
Allah, -- Yang adalah Hakim terbaik -- tidak dapat dilawan dan bahwa perbuatan-perbuatan
manusia tidak akan dibiar-kan bebas
tanpa berbalas?
Benarlah
firman-Nya dalam Surah Al-Insān
(Ad-Dahr) sebelumnya, bahwa bagi orang-orang yang tidak mensyukuri berbagai kemampuan yang dianugerahkan Allah Swt.: اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا وَّ
سَعِیۡرًا -- “sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi
orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. ”
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 19 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar