Minggu, 15 Februari 2015

Pentingnya Memahami Makna Doa Mohon Perlindungan Allah Swt. dari Keburukan "Fitnah Dajjal" yang Diajarkan Nabi Besar Muhammad Saw.





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 58

      
Pentingnya Memahami Makna Doa Mohon Perlindungan Allah Swt. dari Keburukan “Fitnah Dajjal”  yang Diajarkan Nabi Besar Muhammad Saw.


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  berapa Hadits Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan Dajjal, termasuk   kasus Abu Shayyad yang dicurigai sebagai Dajjal:
      Dari Qatadah, beliau mendengar daripada Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Tidak seorang nabi kecuali ia telah memperingatkan kaumnya terhadap sang pendusta yang buta sebelah mata. Ketahuilah bahwa Dajjal itu buta sebelah matanya sedangkan Tuhan kamu tidak buta   dan di antara kedua matanya tertulis kāf, , rā (kafir)” (Hadits riwayat Muslim).
             Abu Said Al-Khudri r.a. ia berkata: Suatu hari Rasulullah Saw. pernah bercerita kepada kami suatu cerita panjang tentang Dajjal. Di antara yang beliau ceritakan kepada kami adalah: Ia akan datang tetapi ia diharamkan memasuki jalan-jalan Madinah, kemudian ia tiba di tanah lapang tandus yang berada di dekat Madinah. Lalu pada hari itu keluarlah seorang lelaki yang terbaik di antara manusia atau termasuk manusia terbaik menemuinya dan berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan Rasulullah Saw. kepada kami”. Dajjal berkata: “Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini lalu menghidupkannya lagi, apakah kamu masih meragukan perihalku?” Mereka berkata, “Tidak!” Maka Dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Ketika telah dihidupkan, lelaki itu berkata: “Demi Allah, aku sekarang lebih yakin tentang diri  engkau dari sebelumnya.” Maka Dajjal itu hendak membunuhnya kembali  namun ia tidak kuasa melakukannya. (Hadits riwayat Muslim).
        Mughirah bin Syu`bah r.a.  ia berkata, “Tidak ada seorang yang bertanya kepada Nabi Saw. tentang Dajjal lebih banyak dari apa yang aku tanyakan. Beliau bersabda, “Kenapa engkau bersusah-payah menanyakan hal itu? Sesungguhnya ia tidak akan membahayakan engkau”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mereka mengatakan bahwa Dajjal itu membawa makanan dan sungai?” Beliau menjawab, “Perkaranya lebih ringan di hadapan Allah dari itu.” (Hadits riwayat Muslim).
      Dari Anas bin Malik r.a. dari Nabi Saw. beliau telah bersabda, “Tidak ada satu negeripun melainkan  akan dimasuki Dajjal kecuali Makkah dan Madinah yang setiap pintu gerbangnya ada malaikat-malaikat yang berbaris menjaganya. Kemudian Madinah menggoncang penghuninya tiga kali, sehingga, Allah mengeluarkan seluruh orang kafir dan munafik." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Keganjilan Ibnu Shayyad & Kemunculan 30  Dajjal

         Dari Abu Said Al-Khudri r.a.  ia berkata,  “Aku menemani Ibnu Shaid (Ibnu Shayyad) pergi ke Mekah, ia berkata kepadaku: “Aku telah bertemu dengan beberapa orang yang menganggap bahwa aku adalah seorang Dajjal. Apakah engkau  pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Dajjal itu tidak mempunyai anak.” Aku jawab, “ Ya!” Ia berkata lagi, “Dan aku telah mempunyai anak. Bukankah engkau  telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Dajjal itu tidak akan memasuki Madinah dan Mekkah.” Aku menjawab, “Ya!” Ia berkata lagi, “Dan aku telah dilahirkan di Madinah dan sekarang aku sedang menuju ke Mekah.” Kemudian di akhir pertanyaannya dia berkata kepadaku, “Demi Allah, sesungguhnya aku tahu waktu kelahirannya, tempatnya dan di mana dia”. Ia berkata, “Ia telah mengaburkanku tentang perkara itu”. (Hadits riwayat Muslim).
       Dari Muhammad Al-Munkadir ia berkata: “Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibnu Shaid (Ibnu Shayyad) adalah seorang Dajjal, maka aku bertanya, “Kenapa engkau  bersumpah demi Allah?” Dia menjawab:, “Aku mendengar Umar bersumpah tentang hal itu di hadapan Nabi Saw. dan beliau tidak mengingkarinya”. (Hadits riwayat Muslim).
      Dari Abu Hurairah RA: Dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah.” (Hadits riwayat Muslim).
       Demikianlah beberapa hadits Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan akan munculnya Dajjal  serta  masalah Ibnu Shayyad yang menjadi bahan perdebatan di kalangan para Sahabah beliau saw., apakah Ibnu Shayyad itu   itu benar-benar Dajjal yang dimaksudkan oleh  para Rasul Allah dan Nabi Besar Muhammad saw. ataukah  bukan?

Ibnu Shayyad  dan Dajjal dan Hubungannya dengan   Ilham Syaitan

       Nampaknya tujuan Nabi Besar Muhammad saw.  berkenaan dengan Ibnu Shayyad hanya sekedar  memberikan gambaran mengenai Dajjal  kepada para sahabah beliau saw.  yaitu seperti halnya Ibnu Shayyad  di masa mudanya, demikian juga  Dajjal pun menerima ilham syaitan  sebagaimana diisyaratkan dalam  dialog antara beliau saw. dengan dia:
     Apakah engkau bersaksi bahwa aku ini utusan Allah?” Ibnu Shayyad memandang beliau lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan orang-orang yang buta huruf.” Lalu Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Rasulullah Saw., “Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah?” Beliau menolaknya dan bersabda, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Apa yang engkau lihat?” Ibnu Shayyad berkata, “Aku didatangi orang yang jujur dan pendusta.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Perkara ini telah menjadi kabur bagi engkau.”
     Demikian pula kalimat “Maka Rasulullah Saw. dapat melihat ia sedang berbaring di atas tikar kasar sambil mengeluarkan suara yang tidak dapat dipahami. Tiba-tiba ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah Saw. yang sedang bersembunyi di balik batang pohon kurma lalu menyapa Ibnu Shayyad, “Hai Shaaf, (nama panggilan Ibnu Shayyad), ini ada Muhammad!” Lalu bangunlah Ibnu Shayyad. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Seandainya ibunya membiarkannya, maka akan jelaslah perkara dia, keterangan tersebut  mengisyaratkan kepada  ilham-ilham syaitan  yang turun kepada Ibnu Shayyad, walau pun dalam kenyataannya  setelah    Ibnu Shayyad pun  menjadi seorang Muslim dan meninggal  sebagai seorang   Muslim dan dikuburkan sebagai seorang Muslim.
       Lagi pula dalam kenyataannya Ibnu Shayyad selama hidupnya tidak memenuhi kriteria mengenai  ciri-ciri Dajjal  lainnya yang diterangkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., misalnya matanya buta sebelah, di dahinya ada  tulisan kā fā rā  (kafir) serta  mampu perbuatan-perbuatan luar biasa lainnya sebagaimana dikemukakan hadits-hadits yang lain berkenaan dengan keluarbiasaan perbuatan Dajjal.
      Terlebih lagi Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda  bahwa  dengan membaca serta memahami 10 ayat awal dan 10 ayat terakhir Surah Al-Kahf dapat menyelamatkan  orang-orang Islam dari fitnah Dajjal yang disebarkan oleh  bangsa-bangsa yang disebut Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) --  yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang   mulai   17 Masehi di Akhir Zaman ini --  mereka telah mulai  meraih  kesuksesan duniawi  yang sangat menakjubkan (QS.18:1-9).

Makna “Maidah” (Makanan) yang Turun dari “Langit”

      Menurut Allah Swt. pada hakikatnya  keberhasilan duniawi yang diraih bangsa-bangsa Kristen pada dua masa yang berbeda merupakan pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  atas permintaan  pengikutnya di masa awal (hawari), yang disebut ‘Id  (perayaan yang berulang), firman-Nya:
وَ  اِذۡ  اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِیۡ  وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ  بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ﴿﴾  اِذۡ   قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ یٰعِیۡسَی ابۡنَ  مَرۡیَمَ ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا نُرِیۡدُ اَنۡ  نَّاۡکُلَ  مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ عَلَیۡہَا مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan  ingatlah ketika  Aku mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.”  Ingatlah ketika para hawari berkata: “Hai ‘Isa ibnu Maryam,  ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ  --   mampukah  Rabb (Tuhan) engkau   menurun-kan kepada kami hidangan dari langit?” Ia berkata:  Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.” Mereka berkata: “Kami ingin memakan  dari hidangan itu,   supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang yang  menjadi saksi.  ‘Isa ibnu Maryam berkata:  اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ  -- “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang   berulang  bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang  kami, dan  sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau, berilah kami  rezeki, dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki. قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ  --   Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ   --  maka barangsiapa di antara kamu kafir  sesudah itu,   maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.”   (Al-Maidah [5]:112-116).
       Jadi, menurut ayat terakhir, kalau  kaum-kaum purbakala umumnya mendapat azab Ilahi yang berasal dari kekuatan alam (QS.29:41),  tetapi  azab Ilahi (QS.29:41) yang menimpa Ya’juj (Gog) dan Ma’juj  (Magog) di  Akhir Zaman ini  selain  kekuatan alam”, juga “karya cipta” mereka berupa ledakan-ledakan hebat  sebagai akibat  penggunaan berbagai jenis senjata pemusnah massal yang memanfaatkan “energi api   -- temasuk “energi nuklir” --  akan  menghancur-lulurkan semua kekayaan duniawi yang mereka bangga-banggakan  (QS.18:33-45; QS.36:21-33 & 49-54; II Petrus 3:1-13; Wahyu 20:7-10).
          Dengan demikian jelaslah bahwa   penyebab mengapa fitnah Dajjal tersebut di Akhir Zaman ini merupakan kemusyrikan yang paling berbahaya dari antara seluruh jenis kemusyrikan yang pernah muncul di kalangan umat manusia,  adalah karena didukung oleh kesuksesan duniawi  para penganutnya sebagaimana dikemukakan dalam  hadits-hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya.

 Ke-Muslim-an  Ibnu Shayyad dan  Kemunculan 30  Dajjal:

         Dari Abu Said Al-Khudri r.a.  ia berkata,  “Aku menemani Ibnu Shaid (Ibnu Shayyad) pergi ke Mekah, ia berkata kepadaku: “Aku telah bertemu dengan beberapa orang yang menganggap bahwa aku adalah seorang Dajjal. Apakah engkau  pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Dajjal itu tidak mempunyai anak.” Aku jawab, “ Ya!” Ia berkata lagi, “Dan aku telah mempunyai anak. Bukankah engkau  telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Dajjal itu tidak akan memasuki Madinah dan Mekkah.” Aku menjawab, “Ya!” Ia berkata lagi, “Dan aku telah dilahirkan di Madinah dan sekarang aku sedang menuju ke Mekah.” Kemudian di akhir pertanyaannya dia berkata kepadaku, “Demi Allah, sesungguhnya aku tahu waktu kelahirannya, tempatnya dan di mana dia”. Ia berkata, “Ia telah mengaburkanku tentang perkara itu”. (Hadits riwayat Muslim).
       Dari Muhammad Al-Munkadir ia berkata: “Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah demi Allah bahwa Ibnu Shaid (Ibnu Shayyad) adalah seorang Dajjal, maka aku bertanya, “Kenapa engkau  bersumpah demi Allah?” Dia menjawab:, “Aku mendengar Umar bersumpah tentang hal itu di hadapan Nabi Saw. dan beliau tidak mengingkarinya”. (Hadits riwayat Muslim).
      Dari Abu Hurairah RA: Dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sebelum dibangkitkan dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh, semuanya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah.” (Hadits riwayat Muslim).
       Demikianlah beberapa hadits Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan akan munculnya Dajjal  serta  masalah Ibnu Shayyad yang menjadi bahan perdebatan di kalangan para Sahabah beliau saw., apakah Ibnu Shayyad itu   itu benar-benar Dajjal yang dimaksudkan oleh  para Rasul Allah dan Nabi Besar Muhammad saw. ataukah  bukan?
       Nampaknya tujuan Nabi Besar Muhammad saw.  berkenaan dengan Ibnu Shayyad hanya sekedar  memberikan gambaran mengenai Dajjal  kepada para sahabah beliau saw.  yaitu seperti halnya Ibnu Shayyad  demikian juga  Dajjal pun menerima ilham syaitan  sebagaimana diisyaratkan dalam  dialog antara beliau saw. dengan dia:
     Apakah engkau bersaksi bahwa aku ini utusan Allah?” Ibnu Shayyad memandang beliau lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan orang-orang yang buta huruf.” Lalu Ibnu Shayyad balik bertanya kepada Rasulullah Saw., “Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah?” Beliau menolaknya dan bersabda, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Apa yang engkau lihat?” Ibnu Shayyad berkata, “Aku didatangi orang yang jujur dan pendusta.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Perkara ini telah menjadi kabur bagi engkau.”
     Demikian pula kalimat “Maka Rasulullah Saw. dapat melihat ia sedang berbaring di atas tikar kasar sambil mengeluarkan suara yang tidak dapat dipahami. Tiba-tiba ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah Saw. yang sedang bersembunyi di balik batang pohon kurma lalu menyapa Ibnu Shayyad, “Hai Shāf, (nama panggilan Ibnu Shayyad), ini ada Muhammad!” Lalu bangunlah Ibnu Shayyad. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Seandainya ibunya membiarkannya  maka akan jelaslah perkara dia hal tersebut  mengisyaratkan kepada  ilham-ilham syaitan  yang turun kepada Ibnu Shayyad, walau pun dalam kenyataannya  setelah  itu Ibnu Shayyad pun  menjadi seorang Muslim dan meninggal  sebagai seorang   Muslim dan dikuburkan sebagai seorang Muslim.
         Lagi pula dalam kenyataannya Ibnu Shayyad selama hidupnya tidak memenuhi kriteria mengenai  ciri-ciri Dajjal  lainnya yang diterangkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., misalnya matanya buta sebelah, di dahinya ada  tulisan kā fā rā  (kafir) serta  mampu perbuatan-perbuatan luar biasa lainnya sebagaimana dikemukakan hadits-hadits yang lain berkenaan dengan keluarbiasaan perbuatan Dajjal.
      Terlebih lagi Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda  bahwa  dengan membaca serta memahami 10 ayat awal dan 10 ayat terakhir Surah Al-Kahf dapat menyelamatkan  orang-orang Islam dari fitnah Dajjal yang disebarkan oleh  bangsa-bangsa yang disebut Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat, yang   mulai   17 Masehi di Akhir Zaman ini  mereka   meraih  kesuksesan duniawi  yang sangat menakjubkan (QS.18:1-9), yang pada hakikatnya  merupakan pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  atas permintaan  pengikutnya di masa awal (hawari – QS.5:112-116).

Doa Mohon Perlindungan dari  Keburukan “Fitnah Dajjal”

        Dengan demikian jelaslah bahwa salah satu penyebab mengapa fitnah Dajjal tersebut di Akhir Zaman ini merupakan kemusyrikan yang paling berbahaya dari antara seluruh jenis kemusyrikan yang pernah muncul di kalangan umat manusia,  adalah karena didukung oleh kesuksesan duniawi  para penganutnya sebagaimana dikemukakan dalam  hadits-hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya, yang  telah diartikan secara harfiah padahal merupakan kiasan.
     Berikut beberapa sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai sangat berbahayanya “fitnah Dajjal”, sehingga    -- sebagai peringatan  -- sering dibaca pada akhir bacaan tahiyyat  dalam shalat:      
       “Jika salah seorang diantara kalian duduk dalam tasyahud akhir, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dari empat perkara. Hendaknya dia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati serta jeleknya fitnah Dajjal. (HR. Muslim, no. 588.).  
      Dari Abu Darda’ a bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari surah Al-Kahfi, maka dia akan dijaga dari fitnah Dajjal. (HR. Muslim 809).
       Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: Selain Dajjal lebih menakutkanku atas kalian, seandainya dia keluar dan saya di tengah-tengah kalian, maka sayalah yang akan menghadapinya, tetapi apabila dia keluar sedangkan saya tidak ada di tengah-tengah kalian, maka masing-masing orang mengurus dirinya sendiri, Allah penolong setiap muslim. Dajjal adalah pemuda berambut keriting, matanya buta, seakan diriku memperumpamakannya dengan Abdul Uzza bin Qathn. Barangsiapa d iantara kalian menjumpainya, maka hendaknya membacakan padanya awal-awal surat Al-Kahfi, dia keluar di jalan antara Syam dan Iraq lalu membuat kerusakan di kanan dan kiri. Wahai hamba Allah, tetap kokohlah kalian! Kami bertanya: Hai Rasulullah, berapa lama dia tinggal di bumi? Nabi menjawab: Empat puluh hari, sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan kemudian hari berikutnya seperti hari-hari biasa. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, hari seperti setahun tadi apakah cukup bagi shalat sehari? Jawabnya: Tidak, perkirakanlah waktunya!. Kami bertanya lagi: Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di atas bumi? Beliau menjawab: Seperti hujan yang dihembuskan oleh angin. Kemudian Dajjal mendatangi suatu kaum lalu mereka percaya dan mendukungnya, maka dia memerintahkan langit untuk menurunkan air hujan sehingga turun hujan dan tanah untuk menumbuhkan tanaman dan tumbuh. Dia lalu mendatangi suatu kaum dan mereka menolak kemudian dia berpaling, akhirnya mereka paceklik tidak memiliki harta sedikitpun, dia melewati tempat reruntuhan seraya berkata: Keluarkan perbendaharaanmu, maka keluarlah perbendaharaanya seperti buah kurma. Lalu dia memanggil seorang pemuda dan memukulnya dengan pedang menjadi dua bagian seukuran lemparan panah kemudian memanggilnya lagi dan pemuda tersebut bangun dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.
        Kesuksesan duniawi dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang dimiliki bangsa-bangsa Kristen dari Barat (QS.18:8; QS.21:96-101) di Akhir Zaman ini merupakan tafsir atau makna sebenarnya  dari gambaran kiasan mengenai Dajjal yang disabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. tersebut.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 15 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar