Jumat, 13 Februari 2015

Perang Dalam Ajaran Islam (Al-Quran) Adalah "Sarana Penegakkan Hukum" Untuk Menciptakan Perdamaian dan Keamanan di Dunia, Bukan Sarana Untuk Menimbulkan Kerusakan Seperti yang Dilakukan Golongan "Iblis" dan "Golongannya"





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr



Bab 55

Perang Dalam Ajaran Islam (Al-Quran) Adalah Sarana Penegakan Hukum Untuk Menciptakan Perdamaian dan Keamanan di Dunia, Bukan Sarana Untuk Menimbulkan Kerusakan    Seperti yang Dilakukan “Iblis” dan Golongannya


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  Suraqah bin Malik bin Jusyam, yang menghasut (memprovokasi) orang-orang Mekkah agar melawan orang-orang Islam, tetapi kemudian dia sendiri memeluk agama Islam, dan di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a.  ia diperintah untuk mengenakan gelang-gelang emas Kisra Persia,  guna menggenapi nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. pada saat  Suraqah bin Malik mengejar beliau saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. yang sedang melakukan perjalanan hijrah ke Madinah setelah keduanya bersembunyi beberapa hari di Gua Tsaur, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia berkata kepada temannya:  لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا  -- “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya  dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia men-jadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   (At-Taubah [9]:40).
        Yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke Medinah ketika beliau didampingi oleh   Abubakar Shiddiq r.a.  berlindung di sebuah gua yang disebut Tsaur. Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi  Abubakar Shiddiq r.a.. yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt.,  dan  Allah Swt. Sendiri meredakan rasa ketakutannya.
          Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua  Abubakar Shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw.  mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullāh, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).

Penyebab Timbulnya Rasa Takut  Dalam Hati Suraqah bin Malik

       Kembali kepada  firman Allah Swt., yang dalam Surah berikut ini Syuraqah bin Malik disebut sebagai “syaitan” – firman-Nya:  
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ بَطَرًا وَّ رِئَآءَ النَّاسِ وَ یَصُدُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ  مُحِیۡطٌ ﴿﴾   وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ ۚ فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ  اِنِّیۡۤ  اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿٪﴾  اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ غَرَّہٰۤؤُ لَآءِ دِیۡنُہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari rumah-rumah mereka dengan sombong dan ingin dilihat orang serta menghalangi manusia  dari jalan Allah, dan  ilmu Allah meliputi  apa yang mereka kerjakan. وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ   --  Dan ingatlah ketika  syai-tan  menampakkan indah kepada mereka amal-amal mereka  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ  -- dan berkata:   Tidak seorang pun di antara manusia yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku pelindung kamu.” فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ   --   tetapi  tatkala kedua pasukan itu berhadapan satu sama lain, ia berbalik  atas tumitnya وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ  اِنِّیۡۤ  اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ  -- sambil berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah  dan siksaan Allah sangat keras. (Anfāl [8]:48-49).
         Lasykar Mekkah pimpinan Abu Jahal masih di Mekkah tatkala beberapa tokoh kabilah Quraisy menyatakan kekhawatiran bahwa jangan-jangan Banu Bakar, satu cabang Banu Kinanah,  yang bermusuhan dengan kaum Quraisy menyerang Mekkah secara tak terduga di waktu mereka tidak ada di tempat, atau merek a menyerang lasykar Mekkah dari belakang.
       Kekhawatiran mereka diredakan oleh Suraqah, salah seorang pemuka Banu Kinanah, yang meyakinkan mereka bahwa orang-orang dari sukunya tidak akan mendatangkan kemudaratan apa pun kepada mereka (Tafsir Ibnu Jarir, X, 13). Tetapi kletika Suraqah menyaksikan tekad membaja orang-orang Islam di Badar maka rasa takut menguasai dirinya, sebab  setelah melihat mereka ia memperoleh keyakinan bahwa tekad mereka  adalah menang atau mati.
       Persis demikianlah dirasakan oleh Utbah dan Umair pada Hari Badar dan ia memberitahukan kepada orang-orang Mekkah, bahwa orang-orang Islam nampaknya “seperti orang-orang yang mencari kematian” (Thabari). Itulah makna frman-Nya: اِذۡ یُوۡحِیۡ رَبُّکَ اِلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ   -- ketika Rabb (Tuhan) engkau mewahyukan kepada malaikat-malaikat:  اَنِّیۡ مَعَکُمۡ فَثَبِّتُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- “Sesungguhnya Aku beserta kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.  سَاُلۡقِیۡ فِیۡ قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوا الرُّعۡبَ  -- segera Aku akan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir.”

Hakikat “Pelemparan Senggenggam Pasir” Oleh Nabi Besar Muhammad Saw.

        Memang mengisyaratkan kepada kenyataan seperti itu pulalah firman Allah Swt. berikut itu ketika Perang Badar terjadi, walau pun  secara zahiriah keadaan kedua pihak sangat tidak seimbang,  baik dari segi jumlah, perlengkapan perang mau pun  pengalaman berperang -- firman-Nya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾   ذٰلِکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ  مُوۡہِنُ کَیۡدِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ  لَّکُمۡ ۚ وَ اِنۡ تَعُوۡدُوۡا نَعُدۡ ۚ وَ لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَوۡ  کَثُرَتۡ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ مَعَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allāh yang telah membunuh mereka,  وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی -- dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allāh-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا --  dan supaya Dia  menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ  -- sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. 2 Hai orang-orang kafir, jika kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang kepada kamu kemenangan itu.   Dan  jika kamu menahan diri maka lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali berbuat kejahatan, Kami pun akan kembali menghukum, وَ لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَوۡ  کَثُرَتۡ --  dan golongan kamu walau pun banyak, tetapi tidak akan pernah  berguna  sedikit pun, وَ لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَوۡ  کَثُرَتۡ  -- dan ketahuilah bahwa sesungguhnya  Allah beserta orang-orang  yang beriman.  (Al-Anfāl [8]:18-20).
         Kemenangan dalam Perang  Badar itu sebenarnya bukan disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam. Mereka terlalu sedikit, terlalu lemah, dan terlalu buruk persenjataan mereka untuk memperoleh kemenangan terhadap satu lasykar Mekkah yang jauh lebih besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya, lagi pula jauh lebih terlatih.
        Perlemparan segenggam kerikil dan pasir oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat:  وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی -- dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar”  mempunyai kesamaan yang ajaib dengan pemukulan air laut dengan tongkat oleh Nabi Musa a.s.  
          Sebagaimana dalam kejadian “pemukulan laut” dengan tongkat, perbuatan Nabi Musa a.s.  itu seolah-olah merupakan isyarat bagi angin untuk bertiup  serta  mulainya air-pasang surut    dan bagi air-pasang naik kembali, sehingga membawa akibat tenggelamnya Fir’aun serta lasykarnya di laut, demikian pula halnya pelemparan segenggam kerikil oleh Nabi Besar Muhammad saw. merupakan satu isyarat untuk angin bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan Abu Jahal (yang pernah disebut oleh beiau saw.   sebagai Fir’aun kaumnya) dan lasykarnya di padang pasir itu.
        Dalam kedua kejadian tersebut bekerjanya kekuatan-kekuatan alam itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan kedua nabi Allah itu, di bawah takdir khas Allah Swt., serta dapat mengisyaratkan kepada  pelaksanaan  sujudnya” para malaikat kepada Khalifah Allah ketika Allah Swt. memerintahkan kepada mereka.
        Orang-orang kafir menuntut kepada Rasulullāh saw. keputusan dari Allah Swt. berupa kemenangan. Kepada mereka diberitahukan bahwa keputusan Tuhan memang telah datang dalam bentuk serupa dengan apa yang diminta mereka  yaitu kemenangan lasykar Islam dalam Perang Badar:   اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ – “Hai orang-orang kafir,  jika kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang ke-padamu kemenangan itu,”  dan sekali gus pengabulan doa takabbur Abu Jahal (QS.8:33-34).

Cara Meraih Kemenangan yang Cepat Dalam Perang

          Selanjutnya Allah Swt. berfirman:    فَاضۡرِبُوۡا فَوۡقَ الۡاَعۡنَاقِ وَ اضۡرِبُوۡا مِنۡہُمۡ  کُلَّ  بَنَانٍ -- maka pukullah pada leher  mereka dan pukullah pada tiap ruas jari mereka.” (Al-Anfāl [8]:13).  ‘Anaq yakni bagian atas leher yang letaknya persis di bawah kepala dan dianggap tempat paling empuk untuk mendaratkan tebasan pedang dengan telak, sedangkan banan  artinya “jari-jari tangan” yang dipergunakan memegang senjata, sehingga ketika leher ditebas pedang maka otomatis  senjata yang digenggam jari tangan pun akan terlepas, sebab semua gerakan tubuh manusia diatur atas perintah otak yang ada di kepala yang letaknya di atas leher (‘anaq).
       Jadi,  firman Allah Swt. tersebut merupakan cara  meraih kemenangan dalam bertempur   yang diajarkan Allah Swt.  kepada umat Islam, agar peperangan  yang dilakukan  berlangsung cepat sehingga tidak terlalu banyak makan korban jiwa mau pun harta-benda, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاِمَّا تَثۡقَفَنَّہُمۡ فِی الۡحَرۡبِ فَشَرِّدۡ بِہِمۡ مَّنۡ  خَلۡفَہُمۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Lalu  jika engkau menjumpai mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah  orang-orang yang di belakang mereka dengan perantaraan   kekalahan mereka supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Anfāl [8]:57).
        Orang-orang beriman  diperintahkan agar jangan sekali-kali mengangkat senjata (berperang) tanpa alasan yang sah. Tetapi sekali mereka memulai, mereka harus berperang dengan keberanian sedemikian rupa dan memberi pukulan yang begitu hebatnya sehingga menimbulkan ketakutan dan kengerian pada hati musuh.
          Perang yang dihadapi dengan sikap lemah dan lamban, sekali-kali bukan siasat yang bijaksana. Jika peperangan tidak dapat dielakkan, peperangan harus dilancarkan cepat dan mematikan, sehingga   jatuhnya korban yang lebih banyak dapat dihindari.
        Makna kalimat فَشَرِّدۡ بِہِمۡ مَّنۡ  خَلۡفَہُمۡ    -- “maka cerai-beraikanlah   orang-orang yang di belakang mereka” memiliki dua makna:
      (1) Ketika serangan pasukan Muslim  dengan cepat dapat memporak-porandakan dengan cepat    pasukan musuh yang   paling depan,   maka hal itu akan menimbulkan rasa gentar pasukan-pasukan yang ada di belakang mereka.
    (2) Ketika serangan mematikan pasukan Muslim mampu  dengan  cepat mengalahkan pasukan musuh, maka hal tersebut akan membuat gentar pihak-pihak lainnya yang pada saat itu tidak ada di lokasi  yang sebelumnya berencana   menyerang umat Islam.

Makna Penempatan  Ribath di Perbatasan Negara

     Sehubungan dengan  hal tersebut dalam Surah lain Allah Swt. telah memerintahkan mengenai pentingnya menempatkan pasukan tempur  yang berwibawa  di perbatasan negeri,  firman-Nya:
وَ اَعِدُّوۡا لَہُمۡ مَّا اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ قُوَّۃٍ وَّ مِنۡ رِّبَاطِ الۡخَیۡلِ تُرۡہِبُوۡنَ بِہٖ عَدُوَّ اللّٰہِ وَ عَدُوَّکُمۡ  وَ اٰخَرِیۡنَ مِنۡ دُوۡنِہِمۡ ۚ لَا تَعۡلَمُوۡنَہُمۡ ۚ اَللّٰہُ یَعۡلَمُہُمۡ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ شَیۡءٍ  فِیۡ  سَبِیۡلِ  اللّٰہِ  یُوَفَّ اِلَیۡکُمۡ  وَ  اَنۡتُمۡ  لَا  تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَہَا وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan   persiapkanlah untuk menghadapi mereka sejauh kesanggupan kamu berupa kekuatan  dan kuda-kuda yang ditambat  di garis depan untuk berperang, yang dengan itu kamu dapat menggentarkan musuh Allah dan musuh kamu, dan musuh yang lain di samping mereka yang tidak kamu ketahui, tetapi Allah mengetahui mereka.  Dan   apa pun yang kamu belanjakan di jalan Allah  akan dibayar penuh kepadamu dan kamu tidak akan diperlakukan dengan zalim.  وَ اِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَہَا وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ  --  tetapi jika mereka condong kepada perdamaian maka condong pulalah engkau kepadanya dan bertawakallah kepada Allah, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ  -- sesungguhnya  Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:61-62).
       Quwwah dalam ayat  وَ اَعِدُّوۡا لَہُمۡ مَّا اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ قُوَّۃٍ  --  “Dan   persiapkanlah untuk menghadapi mereka sejauh kesanggupan kamu berupa kekuatan” berarti segenap kekuatan yang ada pada orang-orang Islam, termasuk segala macam senjata  dan sebagainya.
        Sedangkan  makna kata  ribāth  dalam ayat selanjutnya  وَّ مِنۡ رِّبَاطِ الۡخَیۡلِ  -- “dan kuda-kuda yang ditambat  di garis depan untuk berperang,” dan juga dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Wahai orang-orang yang  beriman, bersabarlah, dan tingkatkanlah kesabaran, وَ رَابِطُوۡا -- dan  bersiap-siagalah  di perbatasan. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil.  (Ali ‘Imran [3]:201). 
       Rābithū berarti:  gigih dalam menghadapi perlawanan musuh kamu” atau “ikatlah kuda kamu dalam keadaan siap-siaga di tapal batas”; atau “lazimkanlah diri kamu tekun dan rajin dalam menjalankan kewajiban terhadap agamamu”; atau “jagalah waktu shalat” (Lexicon Lane).
     Kelima syarat untuk kemenangan yang disebut dalam ayat ini ialah: (1) memperlihatkan kesabaran dan kegigihan; (2) memperlihatkan kesabaran dan keteguhan hati lebih besar daripada musuh; (3) melazimkan diri dengan senantiasa tekun dan rajin dalam mengkhidmati agama dan masyarakat (4) senantiasa berjaga-jaga dengan waspada di perbatasan untuk tujuan pertahanan dan serangan; dan (5) menempuh kehidupan yang shalih.  
          Ribāth berarti pula hati manusia. Jadi orang-orang beriman diperintahkan untuk senantiasa berada dalam keadaan siap-siaga dan berjaga-jaga untuk memerangi musuh-musuh di dalam dan di luar, yakni musuh-musuh jasmani  mau pun musuh-musuh ruhani, yang akan senantiasa melakukan “penyerangan” sebagaimana yang diancamkan Iblis (QS.7:17:26).

Ajaran Islam Mengutamakan Perdamaian, Bukan Perang

        Jadi,  Surah Ali ‘Imran ayat  201 dan Surah Al-Anfāl   ayat 61-62   ini memberitahu kepada orang-orang Islam bahwa persiapan yang tepatguna merupakan ikhtiar paling baik untuk mencegah perang,  dan memerintahkan mereka supaya jangan hanya puas dengan sejumlah pasukan yang memadai untuk pertahanan di dalam negeri saja, tetapi harus menempatkan lasykar yang cukup besar di perbatasan-perbatasan dan harus menampilkan  diri dengan baik, yakin dan dengan energi sedemikian rupa, sehingga musuh di daerah-daerah yang jauh dari tempat pertempuran akan sangat terkesan, sehingga mengurungkan segala niat untuk memerangi umat Islam.
       Ayat ini mengisyaratkan pula kepada pentingnya membelanjakan harta sebanyak-banyaknya untuk peperangan. Nampaknya  ayat ini mengandung satu nubuatan dan peringatan bagi orang-orang beriman, dan nubuatan itu ialah orang-orang musyrik di Arab bukanlah satu-satunya musuh mereka, masih banyak kaum-kaum lainnya yang akan menyerang mereka di masa akan datang yang dekat. Nubuatan itu menunjuk kepada Kerajaan-kerajaan Kristen Bizantina (Romawi Timur) dan kerajaan Persia penganut agama Majusi, yang harus dihadapi oleh orang-orang Islam, segera sesudah Nabi Besar Muhammad saw.  wafat.
         Ayat    وَ اِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَہَا وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ  --  tetapi jika mereka condong kepada perdamaian maka condong pulalah engkau kepadanya dan bertawakallah kepada Allah, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ  -- sesungguhnya  Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui”  (Al-Anfāl [8]:61-62), ayat ini  selain mengandung suatu asas yang penting mengenai perjanjian-perjanjian damai, juga memberi penjelasan yang menarik mengenai sifat peperangan yang dilancarkan oleh Islam.
       Orang-orang Islam tidak menempuh jalan peperangan untuk memaksa orang memeluk Islam, melainkan untuk mengadakan serta memelihara perdamaian. Jika ada suatu kaum yang setelah melancarkan perang terhadap Islam mengajak berdamai maka orang-orang Islam diperintahkan agar jangan menolak tawaran itu, sekalipun musuh itu mengajak berdamai hanya untuk menipu mereka dan mengulur-ulur waktu.
       Kenyataan ini menunjukkan, sampai berapa jauh Islam  yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. -- sebagai “rahmat untuk seluruh alam” (QS.21:108)  --     berusaha mengadakan perdamaian di antara bangsa-bangsa, sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
فَاِذَا  لَقِیۡتُمُ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَاۤ  اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ وَ  اِمَّا فِدَآءً  حَتّٰی تَضَعَ  الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ﴿﴾
"Dan apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pukullah leher-leher mereka, hingga apabila kamu telah mengalahkan mereka,  maka perkuatlah ikatan mereka, lalu sesudah itu  lepaskanlah mereka sebagai suatu anugerah dan dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya  Allah menghendaki niscaya Dia menuntut  balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ  -- tetapi hal demikian itu supaya Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ   -- Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Dia  tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal mereka. (Muhammad [47]:5).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar