بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 55
Perang Dalam Ajaran Islam (Al-Quran) Adalah Sarana
Penegakan Hukum Untuk Menciptakan Perdamaian dan Keamanan di Dunia, Bukan Sarana Untuk Menimbulkan Kerusakan Seperti yang
Dilakukan “Iblis” dan Golongannya
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai Suraqah bin Malik bin Jusyam, yang menghasut (memprovokasi) orang-orang Mekkah agar melawan orang-orang Islam, tetapi kemudian dia
sendiri memeluk agama Islam, dan di
masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a.
ia diperintah untuk mengenakan gelang-gelang emas Kisra Persia, guna menggenapi nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. pada saat Suraqah
bin Malik mengejar beliau saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. yang sedang
melakukan perjalanan hijrah ke Madinah
setelah keduanya bersembunyi beberapa hari di Gua Tsaur, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ
فَقَدۡ نَصَرَہُ اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی
الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ
لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ
اِنَّ اللّٰہَ
مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ
اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ
اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka sungguh
Allah telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia
berkata kepada temannya: لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا -- “Janganlah
engkau sedih sesungguhnya Allah
beserta kita”, lalu Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya
dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya, dan Dia
men-jadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi,
dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (At-Taubah [9]:40).
Yang
dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi
Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke Medinah ketika beliau didampingi oleh
Abubakar Shiddiq r.a. berlindung
di sebuah gua yang disebut Tsaur.
Ayat ini menjelaskan martabat ruhani
amat tinggi Abubakar Shiddiq r.a.. yang
telah disebut sebagai “salah satu di
antara dua orang” dengan disertai
Allah Swt., dan Allah Swt. Sendiri meredakan rasa
ketakutannya.
Telah tercatat dalam sejarah bahwa
ketika berada dalam gua Abubakar Shiddiq
r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad
saw. mengapa beliau menangis,
beliau menjawab: “Saya tidak menangis
untuk hidupku, ya Rasulullāh, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu
jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan
kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).
Penyebab Timbulnya Rasa Takut
Dalam Hati Suraqah bin Malik
Kembali kepada firman Allah Swt., yang dalam Surah berikut
ini Syuraqah bin Malik disebut
sebagai “syaitan” – firman-Nya:
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ بَطَرًا وَّ رِئَآءَ النَّاسِ
وَ یَصُدُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ
بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ ﴿﴾ وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ وَ قَالَ لَا غَالِبَ
لَکُمُ الۡیَوۡمَ مِنَ
النَّاسِ وَ اِنِّیۡ جَارٌ
لَّکُمۡ ۚ فَلَمَّا
تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ
عَلٰی عَقِبَیۡہِ وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ اِنِّیۡۤ اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ
الۡعِقَابِ ﴿٪﴾ اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ
غَرَّہٰۤؤُ لَآءِ دِیۡنُہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ
عَلَی اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang
keluar dari rumah-rumah mereka dengan sombong
dan ingin dilihat orang serta menghalangi manusia dari
jalan Allah, dan ilmu Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ الۡیَوۡمَ مِنَ
النَّاسِ وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ -- Dan ingatlah ketika syai-tan
menampakkan indah kepada mereka amal-amal mereka وَ قَالَ لَا غَالِبَ
لَکُمُ الۡیَوۡمَ مِنَ
النَّاسِ وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ -- dan
berkata: ”Tidak seorang pun di antara manusia yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku pelindung kamu.” فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ -- tetapi tatkala kedua
pasukan itu berhadapan satu sama lain, ia
berbalik atas tumitnya وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ اِنِّیۡۤ اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ -- sambil berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat,
sesungguhnya aku takut kepada Allah
dan siksaan Allah sangat keras. (Anfāl [8]:48-49).
Lasykar Mekkah pimpinan Abu Jahal
masih di Mekkah tatkala beberapa tokoh kabilah Quraisy menyatakan kekhawatiran bahwa jangan-jangan Banu Bakar, satu cabang Banu Kinanah, yang bermusuhan dengan kaum Quraisy menyerang Mekkah secara tak terduga di
waktu mereka tidak ada di tempat, atau merek a menyerang lasykar Mekkah dari
belakang.
Kekhawatiran mereka diredakan oleh Suraqah,
salah seorang pemuka Banu Kinanah,
yang meyakinkan mereka bahwa orang-orang dari sukunya tidak akan mendatangkan
kemudaratan apa pun kepada mereka (Tafsir Ibnu Jarir, X, 13). Tetapi kletika Suraqah menyaksikan tekad
membaja orang-orang Islam di Badar maka rasa
takut menguasai dirinya, sebab setelah
melihat mereka ia memperoleh keyakinan
bahwa tekad mereka adalah menang
atau mati.
Persis demikianlah dirasakan oleh
Utbah dan Umair pada Hari Badar dan
ia memberitahukan kepada orang-orang Mekkah, bahwa orang-orang Islam nampaknya “seperti
orang-orang yang mencari kematian” (Thabari).
Itulah makna frman-Nya: اِذۡ یُوۡحِیۡ رَبُّکَ اِلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ -- ketika Rabb (Tuhan) engkau mewahyukan
kepada malaikat-malaikat: اَنِّیۡ مَعَکُمۡ
فَثَبِّتُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا --
“Sesungguhnya Aku beserta kamu, maka teguhkanlah
orang-orang yang beriman. سَاُلۡقِیۡ فِیۡ
قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا الرُّعۡبَ -- segera Aku akan memasukkan rasa takut ke dalam
hati orang-orang kafir.”
Hakikat “Pelemparan
Senggenggam Pasir” Oleh Nabi Besar Muhammad Saw.
Memang mengisyaratkan kepada
kenyataan seperti itu pulalah firman Allah Swt. berikut itu ketika Perang Badar terjadi, walau pun secara zahiriah
keadaan kedua pihak sangat tidak seimbang, baik dari segi jumlah, perlengkapan perang
mau pun pengalaman berperang -- firman-Nya:
فَلَمۡ
تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ
لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ ذٰلِکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ مُوۡہِنُ کَیۡدِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ اِنۡ تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ ۚ
وَ اِنۡ تَنۡتَہُوۡا فَہُوَ خَیۡرٌ
لَّکُمۡ ۚ وَ اِنۡ تَعُوۡدُوۡا نَعُدۡ ۚ وَ لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ
فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَوۡ کَثُرَتۡ ۙ
وَ اَنَّ اللّٰہَ مَعَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿٪﴾
Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allāh yang telah membunuh mereka, وَ مَا
رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی -- dan bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allāh-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا -- dan supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, اِنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. 2 Hai orang-orang kafir, jika
kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang kepada kamu kemenangan itu. Dan jika kamu menahan diri maka lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali berbuat kejahatan,
Kami pun akan kembali menghukum,
وَ لَنۡ تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ
لَوۡ کَثُرَتۡ -- dan golongan kamu walau pun banyak, tetapi tidak akan pernah berguna sedikit pun, وَ لَنۡ
تُغۡنِیَ عَنۡکُمۡ فِئَتُکُمۡ شَیۡئًا وَّ لَوۡ
کَثُرَتۡ -- dan
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman. (Al-Anfāl [8]:18-20).
Kemenangan dalam Perang Badar itu sebenarnya
bukan disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam. Mereka terlalu sedikit, terlalu lemah,
dan terlalu buruk persenjataan mereka
untuk memperoleh kemenangan terhadap
satu lasykar Mekkah yang jauh lebih
besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya, lagi pula jauh lebih
terlatih.
Perlemparan segenggam kerikil dan
pasir oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat:
وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
رَمٰی -- dan bukan
engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah
yang telah melempar” mempunyai kesamaan yang ajaib dengan pemukulan air laut dengan tongkat oleh Nabi Musa a.s.
Sebagaimana dalam kejadian “pemukulan
laut” dengan tongkat, perbuatan Nabi
Musa a.s. itu seolah-olah
merupakan isyarat bagi angin untuk bertiup serta mulainya air-pasang
surut dan bagi air-pasang naik kembali, sehingga membawa
akibat tenggelamnya Fir’aun serta lasykarnya di laut, demikian pula halnya
pelemparan segenggam kerikil oleh
Nabi Besar Muhammad saw. merupakan satu
isyarat untuk angin bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan Abu Jahal (yang pernah disebut oleh beiau saw. sebagai Fir’aun kaumnya) dan lasykarnya
di padang pasir itu.
Dalam
kedua kejadian tersebut bekerjanya kekuatan-kekuatan
alam itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan
kedua nabi Allah itu, di bawah takdir khas Allah Swt., serta dapat
mengisyaratkan kepada pelaksanaan “sujudnya”
para malaikat kepada Khalifah Allah ketika Allah Swt. memerintahkan kepada mereka.
Orang-orang kafir menuntut kepada Rasulullāh
saw. keputusan dari Allah Swt. berupa kemenangan.
Kepada mereka diberitahukan bahwa keputusan
Tuhan memang telah datang dalam bentuk serupa
dengan apa yang diminta mereka yaitu kemenangan
lasykar Islam dalam Perang Badar: اِنۡ
تَسۡتَفۡتِحُوۡا فَقَدۡ جَآءَکُمُ الۡفَتۡحُ – “Hai
orang-orang kafir, jika
kamu meminta tanda kemenangan maka sesungguhnya telah datang ke-padamu
kemenangan itu,” dan sekali gus
pengabulan doa takabbur Abu Jahal
(QS.8:33-34).
Cara Meraih Kemenangan
yang Cepat Dalam Perang
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَاضۡرِبُوۡا فَوۡقَ
الۡاَعۡنَاقِ وَ اضۡرِبُوۡا مِنۡہُمۡ
کُلَّ بَنَانٍ -- maka pukullah pada
leher mereka dan pukullah pada tiap ruas jari mereka.”
(Al-Anfāl
[8]:13). ‘Anaq yakni bagian atas leher yang
letaknya persis di bawah kepala dan
dianggap tempat paling empuk untuk mendaratkan tebasan pedang dengan telak, sedangkan banan artinya “jari-jari tangan” yang dipergunakan memegang senjata, sehingga ketika leher ditebas pedang maka otomatis senjata
yang digenggam jari tangan pun akan
terlepas, sebab semua gerakan tubuh
manusia diatur atas perintah otak yang ada di kepala yang letaknya di atas leher (‘anaq).
Jadi, firman Allah Swt. tersebut merupakan cara meraih kemenangan
dalam bertempur yang
diajarkan Allah Swt. kepada umat Islam, agar peperangan yang
dilakukan berlangsung cepat sehingga tidak terlalu banyak
makan korban jiwa mau pun harta-benda, berikut firman-Nya kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاِمَّا
تَثۡقَفَنَّہُمۡ فِی
الۡحَرۡبِ فَشَرِّدۡ بِہِمۡ مَّنۡ خَلۡفَہُمۡ
لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Lalu jika
engkau menjumpai mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka
dengan perantaraan kekalahan mereka supaya mereka
mengambil pelajaran. (Al-Anfāl [8]:57).
Orang-orang beriman diperintahkan agar jangan sekali-kali mengangkat senjata (berperang) tanpa alasan yang sah. Tetapi sekali mereka
memulai, mereka harus berperang
dengan keberanian sedemikian rupa dan
memberi pukulan yang begitu hebatnya
sehingga menimbulkan ketakutan dan kengerian pada hati musuh.
Perang yang dihadapi dengan sikap
lemah dan lamban, sekali-kali bukan siasat
yang bijaksana. Jika peperangan tidak dapat dielakkan, peperangan harus dilancarkan cepat dan mematikan, sehingga jatuhnya korban yang lebih banyak dapat
dihindari.
Makna kalimat فَشَرِّدۡ
بِہِمۡ مَّنۡ خَلۡفَہُمۡ -- “maka cerai-beraikanlah
orang-orang yang di belakang
mereka” memiliki dua makna:
(1) Ketika serangan pasukan Muslim
dengan cepat dapat memporak-porandakan
dengan cepat pasukan musuh yang paling
depan, maka hal itu akan
menimbulkan rasa gentar
pasukan-pasukan yang ada di belakang mereka.
(2) Ketika serangan mematikan pasukan Muslim mampu dengan
cepat mengalahkan pasukan musuh, maka hal tersebut akan membuat gentar pihak-pihak lainnya yang pada saat itu
tidak ada di lokasi yang sebelumnya berencana menyerang
umat Islam.
Makna Penempatan Ribath di Perbatasan Negara
Sehubungan dengan hal tersebut
dalam Surah lain Allah Swt. telah memerintahkan
mengenai pentingnya menempatkan pasukan
tempur yang berwibawa di perbatasan
negeri, firman-Nya:
وَ اَعِدُّوۡا لَہُمۡ مَّا
اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ قُوَّۃٍ وَّ مِنۡ رِّبَاطِ
الۡخَیۡلِ تُرۡہِبُوۡنَ بِہٖ عَدُوَّ اللّٰہِ
وَ عَدُوَّکُمۡ وَ اٰخَرِیۡنَ مِنۡ دُوۡنِہِمۡ ۚ لَا تَعۡلَمُوۡنَہُمۡ ۚ اَللّٰہُ یَعۡلَمُہُمۡ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ شَیۡءٍ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ یُوَفَّ اِلَیۡکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ لَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنۡ جَنَحُوۡا
لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَہَا وَ تَوَکَّلۡ عَلَی
اللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan persiapkanlah untuk menghadapi
mereka sejauh kesanggupan kamu
berupa kekuatan dan kuda-kuda
yang ditambat di garis depan untuk berperang, yang dengan itu kamu dapat menggentarkan musuh
Allah dan musuh kamu, dan musuh
yang lain di samping mereka yang tidak kamu ketahui, tetapi Allah mengetahui mereka. Dan
apa pun yang kamu belanjakan di jalan Allah akan dibayar penuh kepadamu dan kamu tidak akan diperlakukan dengan zalim.
وَ اِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَہَا وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ -- tetapi jika mereka condong kepada perdamaian maka condong pulalah engkau kepadanya dan bertawakallah kepada Allah, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- sesungguhnya Dia
Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
(Al-Anfāl
[8]:61-62).
Quwwah dalam ayat وَ اَعِدُّوۡا لَہُمۡ مَّا اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ قُوَّۃٍ
-- “Dan persiapkanlah untuk menghadapi
mereka sejauh kesanggupan kamu
berupa kekuatan” berarti segenap kekuatan yang ada pada orang-orang
Islam, termasuk segala macam senjata dan sebagainya.
Sedangkan
makna kata ribāth dalam ayat selanjutnya وَّ مِنۡ رِّبَاطِ الۡخَیۡلِ -- “dan kuda-kuda
yang ditambat di garis depan untuk berperang,” dan
juga dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟
وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ
تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Wahai
orang-orang yang beriman, bersabarlah, dan tingkatkanlah kesabaran, وَ رَابِطُوۡا -- dan bersiap-siagalah di perbatasan. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil. (Ali
‘Imran [3]:201).
Rābithū
berarti: “gigih dalam menghadapi perlawanan musuh kamu” atau “ikatlah kuda kamu dalam keadaan siap-siaga
di tapal batas”; atau “lazimkanlah
diri kamu tekun dan rajin dalam menjalankan kewajiban terhadap agamamu”;
atau “jagalah waktu shalat” (Lexicon Lane).
Kelima syarat untuk kemenangan yang disebut dalam ayat ini ialah: (1) memperlihatkan
kesabaran dan kegigihan; (2) memperlihatkan kesabaran dan keteguhan hati lebih
besar daripada musuh; (3) melazimkan diri dengan senantiasa tekun dan rajin
dalam mengkhidmati agama dan masyarakat (4) senantiasa berjaga-jaga dengan
waspada di perbatasan untuk tujuan pertahanan dan serangan; dan (5) menempuh
kehidupan yang shalih.
Ribāth berarti pula hati manusia. Jadi orang-orang beriman diperintahkan untuk senantiasa
berada dalam keadaan siap-siaga dan berjaga-jaga untuk memerangi musuh-musuh di dalam dan di luar, yakni
musuh-musuh jasmani mau pun musuh-musuh ruhani, yang akan senantiasa melakukan “penyerangan” sebagaimana
yang diancamkan Iblis (QS.7:17:26).
Ajaran Islam Mengutamakan Perdamaian,
Bukan Perang
Jadi,
Surah Ali ‘Imran ayat 201 dan Surah Al-Anfāl ayat 61-62 ini memberitahu kepada orang-orang Islam bahwa persiapan
yang tepatguna merupakan ikhtiar paling baik untuk mencegah perang, dan memerintahkan mereka supaya jangan hanya
puas dengan sejumlah pasukan yang
memadai untuk pertahanan di dalam negeri
saja, tetapi harus menempatkan lasykar
yang cukup besar di perbatasan-perbatasan
dan harus menampilkan diri dengan baik, yakin dan dengan energi sedemikian
rupa, sehingga musuh di daerah-daerah
yang jauh dari tempat pertempuran
akan sangat terkesan, sehingga mengurungkan segala niat untuk memerangi umat Islam.
Ayat ini mengisyaratkan pula
kepada pentingnya membelanjakan harta
sebanyak-banyaknya untuk peperangan. Nampaknya
ayat ini mengandung satu nubuatan
dan peringatan bagi orang-orang
beriman, dan nubuatan itu ialah orang-orang musyrik di Arab bukanlah
satu-satunya musuh mereka, masih banyak kaum-kaum
lainnya yang akan menyerang
mereka di masa akan datang yang dekat. Nubuatan
itu menunjuk kepada Kerajaan-kerajaan Kristen Bizantina (Romawi Timur) dan kerajaan Persia penganut agama Majusi,
yang harus dihadapi oleh orang-orang Islam, segera sesudah Nabi Besar Muhammad
saw. wafat.
Ayat وَ اِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَہَا وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ -- tetapi jika mereka condong kepada perdamaian maka condong pulalah engkau kepadanya dan bertawakallah kepada Allah, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- sesungguhnya Dia
Maha Mendengar, Maha Mengetahui”
(Al-Anfāl [8]:61-62), ayat ini selain mengandung suatu asas yang penting mengenai perjanjian-perjanjian
damai, juga memberi penjelasan yang menarik mengenai sifat peperangan yang dilancarkan oleh Islam.
Orang-orang Islam tidak menempuh jalan peperangan untuk memaksa orang memeluk Islam,
melainkan untuk mengadakan serta memelihara perdamaian. Jika ada suatu
kaum yang setelah melancarkan perang
terhadap Islam mengajak berdamai maka orang-orang Islam diperintahkan agar jangan menolak tawaran itu, sekalipun musuh itu mengajak berdamai hanya untuk menipu mereka dan mengulur-ulur waktu.
Kenyataan ini menunjukkan, sampai berapa
jauh Islam yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.
-- sebagai “rahmat untuk seluruh alam”
(QS.21:108) -- berusaha mengadakan perdamaian di antara bangsa-bangsa,
sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
فَاِذَا لَقِیۡتُمُ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ
وَ اِمَّا فِدَآءً حَتّٰی تَضَعَ
الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ﴿﴾
"Dan
apabila kamu bertemu dengan orang-orang
kafir maka pukullah leher-leher mereka,
hingga apabila kamu telah
mengalahkan mereka, maka perkuatlah ikatan mereka, lalu sesudah
itu lepaskanlah mereka sebagai suatu anugerah dan dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya Allah menghendaki niscaya Dia menuntut balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ
-- tetapi hal demikian itu supaya
Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ
-- Dan orang-orang yang terbunuh
di jalan Allah Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal
mereka. (Muhammad [47]:5).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar