Rabu, 11 Februari 2015

Penyebutan Iblis dan Jin yang Diciptakan dari "Api" Identik dengan "Orang-orang yang Takabbur" Terhadap Allah dan Rasul-Nya





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 54

  
Penyebutan  Iblis dan  Jin  yang Diciptakan  dari “Api” Identik dengan  Orang-orang yang    Takabbur” Terhadap Allah Swt. dan Rasul-Nya


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  “berlepas dirinya” golongan jin atau syaitan dari tanggungjawab  melakukan  provokasi dan penipuan yang dilakukannya  terhadap golongan ins  (Ibrahim [14]:22-23),  sehubungan dengan hal tersebut   dalam Surah berikut ini Allah Swt. berfirman:  
اَفَمَنۡ وَّعَدۡنٰہُ وَعۡدًا حَسَنًا فَہُوَ لَاقِیۡہِ کَمَنۡ مَّتَّعۡنٰہُ مَتَاعَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ثُمَّ ہُوَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ مِنَ الۡمُحۡضَرِیۡنَ ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ  اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تَزۡعُمُوۡنَ﴿﴾  قَالَ الَّذِیۡنَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ  الَّذِیۡنَ اَغۡوَیۡنَا ۚ اَغۡوَیۡنٰہُمۡ کَمَا غَوَیۡنَا ۚ تَبَرَّاۡنَاۤ  اِلَیۡکَ ۫ مَا کَانُوۡۤا اِیَّانَا یَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾  وَ قِیۡلَ ادۡعُوۡا شُرَکَآءَکُمۡ  فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ  یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ رَاَوُا الۡعَذَابَ ۚ لَوۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ  اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾  فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ فَہُمۡ لَا  یَتَسَآءَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah sama orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik  lalu ia memperolehnya,   seperti orang yang Kami berikan kesenangan kehidupan di dunia kemudian pada Hari Kiamat ia akan termasuk  orang-orang yang dihadirkan di hadapan   Tuhan?  وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ    --    dan pada Hari itu Dia akan berseru kepada mereka, lalu akan berfirman:  اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تَزۡعُمُوۡنَ  --  ”Di manakah  yang dahulu kamu anggap sekutu-sekutu-Ku?” قَالَ الَّذِیۡنَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ  --   Berkata orang-orang yang  firman Kami mengenai hukuman telah mustahak atas mereka:  رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ  الَّذِیۡنَ اَغۡوَیۡنَا ۚ اَغۡوَیۡنٰہُمۡ کَمَا غَوَیۡنَا ۚ تَبَرَّاۡنَاۤ  اِلَیۡکَ ۫ مَا کَانُوۡۤا اِیَّانَا یَعۡبُدُوۡنَ  --   ”Ya  Rabb (Tuhan) kami,   mereka itulah  orang-orang yang telah kami sesatkan, kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami sendiri telah sesat. Kini kami  berlepas diri dari mereka dan menghadap kepada Engkau.  Mereka   sekali-kali tidak menyembah  kami.”     وَ قِیۡلَ ادۡعُوۡا شُرَکَآءَکُمۡ  فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ  یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ رَاَوُا الۡعَذَابَ ۚ لَوۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا یَہۡتَدُوۡنَ --  Dan difirmankan: ”Serulah sekutu-sekutu kamu.” Maka mereka menyerunya tetapi mereka itu tidak menjawab mereka,  dan mereka melihat azab, mereka ingin seandainya mereka dahulu mengikuti petunjuk.  وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ  اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ --  Dan pada hari Dia akan memanggil mereka maka Dia berfirman:   Jawaban apakah yang kamu berikan kepada rasul-rasul?” فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ فَہُمۡ لَا  یَتَسَآءَلُوۡنَ  --  Tetapi pada hari   itu   segala dalih  menjadi gelap atas mereka maka mereka tidak akan saling bertanya. (Al-Qashash [28]:62-67).
      Anba’ (dalil-dalil) adalah jamak dari naba’ yang berarti: kabar penting; keterangan; amanat; dalil (Lexicon Lane &  Al-Kulliyat). Pada hari pembalasan orang-orang kafir akan mengalami kekalutan pikiran dan putus asa, dan akan sama sekali kehilangan akal untuk membela diri, karena kerapuhan semua helah dan dalih yang palsu telah menjadi jelas, mereka tidak mendapat kesempatan untuk bermusyawarah antara satu dengan lainnya guna mempersiapkan pembelaan mereka. Ungkapan   ‘Amiya ‘alaihi’l-amru berarti “perkara itu menjadi gelap atau kacau baginya” (Lexicon Lane).

Penggantian Sebutan Jin dengan “Orang takabbur” & “Wajah-wajah” yang “Hitam

      Pendek kata dalih-dalih dan alasan dalam melakukan persekongkolan “makar buruk” antara golongan jin dan ins melawan Rasul Allah  sama sekali akan menjadi gelap, bahkan mereka akan menyesali kejahilan dan kezaliman yang mereka lakukan terhadap Rasul Allah, firman-Nya: 
یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ یَقُوۡلُوۡنَ یٰلَیۡتَنَاۤ  اَطَعۡنَا اللّٰہَ  وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا ﴿﴾ وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا ﴿﴾  رَبَّنَاۤ  اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ  لَعۡنًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Pada hari itu ketika  para pemuka mereka akan dibolak-balikkan  di dalam api dan mereka akan berkata: یٰلَیۡتَنَاۤ  اَطَعۡنَا اللّٰہَ  وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا  -- Alangkah baiknya seandainya kami  mentaati Allah dan menaati Rasul.” وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا  --   Dan mereka akan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami  lalu mereka menyesatkan kami dari jalan lurus. رَبَّنَاۤ  اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ  لَعۡنًا کَبِیۡرًا --   “Wahai Rabb (Tuhan) kami, datangkanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (Al-Ahzāb [33]:67-69).
       Dalam ayat 33 sebelumnya  disinggung tentang para pemimpin kaum kafir, sebagai pengganti sebutan jin,  sebab wujuh (wajah-wajah) berarti juga para pemimpin:  یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ – “Pada hari itu ketika  para pemuka mereka akan dibolak-balikkan  di dalam api.
       Kemudian dDalam ayat 34  disebutkan pemimpin-pemimpin tingkat bawah (saddat dan kubara): وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا  --   Dan mereka akan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami  lalu mereka menyesatkan kami dari jalan lurus”. Merupakan fitrat manusia suka berusaha melemparkan noda perbuatan-perbuatan buruknya sendiri kepada orang lain.
       Dalam  Surah Ali ‘Imran dijelaskan bahwa pada “Hari Keputusan  kalimat  یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ – “Pada hari itu ketika  para pemuka mereka akan dibolak-balikkan  di dalam api,” diterangkan  akibat dari “pembakaran dalam api” yakni wajah  para pemimpin kekafiran tersebut menjadi “hitam”, firman-Nya:
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ      یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿﴾٪
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah belah dan berselisih   sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar. یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ  -- Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam. فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ  --  Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ  --  “Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ  -- Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu."    وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ    -- Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya.   Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq,  dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam.   Dan  milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allāh-lah segala urusan dikembalikan. (Ali ‘Imran [3]:106-110).
          Makna lain “bayyinah” (bukti-bukti yang jelas) adalah Rasul Allah (QS.98:1-6),   dan ayat selanjutnya menerangkan  akibat buruk menentang “bayyinah” atau Rasul Allah tersebut  yaitu wajah menjadi hitam.  Al-Quran telah menerangkan warna-warna “putih” dan “hitam” sebagai lambang, masing-masing untuk “kebahagiaan” dan “kesedihan” (QS.3:107, 108; QS.75:23-25; QS.80:39-41).
         Bila seseorang melakukan perbuatan yang karenanya ia mendapat pujian, orang Arab mengatakan mengenai dia: ibyadhdhaha wajhuhu, yakni “wajahnya telah menjadi putih”. Dan bila ia melakukan suatu pekerjaan yang patut disesali, maka dikatakan  mengenai dia “iswadda wajhuhu, yakni  wajahnya telah menjadi hitam.”

Keadaan Orang-orang “Tak Beragama” Pada “Hari Keputusan

       Kalau dalam Surah-surah sebelumnya yang dimaksud dengan orang-orang kafir yang mendustakan dan menentang para rasul Allah bersifat umum,  yaitu  yang berasal dari kalangan umat beragama dan orang-orang musyrik, tetapi yang dimaksud  orang-orang kafir dalam firman-Nya berikut ini adalah orang-orang yang tidak mempercayai agama, bahkan tidak mempercayai   keberadaaan Tuhan (Atheisme), firman-Nya:   
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ بِہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ وَ لَا بِالَّذِیۡ بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ وَ لَوۡ تَرٰۤی  اِذِ  الظّٰلِمُوۡنَ مَوۡقُوۡفُوۡنَ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚۖ یَرۡجِعُ بَعۡضُہُمۡ  اِلٰی بَعۡضِۣ الۡقَوۡلَ ۚ یَقُوۡلُ الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا لَوۡ لَاۤ اَنۡتُمۡ لَکُنَّا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ  الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا لِلَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡۤا اَنَحۡنُ صَدَدۡنٰکُمۡ عَنِ الۡہُدٰی بَعۡدَ اِذۡ جَآءَکُمۡ بَلۡ کُنۡتُمۡ مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا بَلۡ مَکۡرُ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ اِذۡ  تَاۡمُرُوۡنَنَاۤ  اَنۡ نَّکۡفُرَ  بِاللّٰہِ  وَ  نَجۡعَلَ لَہٗۤ  اَنۡدَادًا ؕ وَ اَسَرُّوا النَّدَامَۃَ  لَمَّا رَاَوُا الۡعَذَابَ ؕ وَ جَعَلۡنَا الۡاَغۡلٰلَ فِیۡۤ  اَعۡنَاقِ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ؕ ہَلۡ  یُجۡزَوۡنَ  اِلَّا مَا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan   orang-orang kafir berkata:  لَنۡ نُّؤۡمِنَ بِہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ وَ لَا بِالَّذِیۡ بَیۡنَ یَدَیۡہِ -- “Kami  tidak akan pernah percaya kepada Al-Quran ini, dan tidak pula kepada yang sebelumnya.”   -- Dan seandainya engkau dapat melihat  ketika orang-orang zalim itu akan disuruh berdiri di hadapan Rabb (Tuhan) mereka, seraya mereka saling melemparkan tuduhan kepada satu sama lain, berkata  orang-orang yang dianggap lemah kepada orang-orang yang menyombongkan diri: لَوۡ لَاۤ اَنۡتُمۡ لَکُنَّا مُؤۡمِنِیۡنَ  -- “Seandainya tidak karena kamu,   niscaya kami   telah menjadi orang-orang yang beriman.”  Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah:  اَنَحۡنُ صَدَدۡنٰکُمۡ عَنِ الۡہُدٰی بَعۡدَ اِذۡ جَآءَکُمۡ --  “Apakah kami telah menghalangi kamu dari petunjuk, setelah petunjuk itu datang kepada kamu? بَلۡ کُنۡتُمۡ مُّجۡرِمِیۡنَ  -- Tidak, bahkan kamu sendirilah   orang-orang  yang berdosa.”   Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: بَلۡ مَکۡرُ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ اِذۡ  تَاۡمُرُوۡنَنَاۤ  اَنۡ نَّکۡفُرَ  بِاللّٰہِ  وَ  نَجۡعَلَ لَہٗۤ  اَنۡدَادًا  --  Tidak, bahkan itu adalah makar buruk kamu malam dan siang, ketika kamu menyuruh kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan  tuhan-tuhan tandingan bagi-Nya. وَ اَسَرُّوا النَّدَامَۃَ  لَمَّا رَاَوُا الۡعَذَابَ  --  dan mereka akan menyembunyikan penyesalan ketika mereka menyaksikan azab itu,  dan Kami akan mengenakan belenggu pada leher  orang-orang kafir itu. Mereka tidak akan dibalas melainkan untuk apa yang telah mereka kerjakan. (As-Saba’ [34]:32-34).
      Dalam  firman Allah Swt. tersebut  jin (pemuka kaum) disebut sebagai “orang-orang yang menyombongkan diri” (الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا), karena sama dengan ketakaburan yang  dilakukan oleh iblis  ketika menolak perintah Allah Swt. untuk  sujud” kepada Adam bersama para malaikat (QS.7:12-13). 

Makna Lain ‘Anaq (Leher) dan Banan (Jari-jari tangan)  &  Syuraqah bin Malik adalah “Syaitan” yang   Menjadi Muslim

      Sudah menjadi fitrat manusia bahwa bila seseorang yang berdosa bertatap berhadapan  dengan hukuman bagi dosanya, ia berusaha mencari helah dengan mencoba memindahkan tanggungjawab kejahatannya itu kepada orang lain. Segi fitrat inilah yang telah diisyaratkan dalam Surah Saba’ ayat 32 dan dua ayat berikutnya: وَ اَسَرُّوا النَّدَامَۃَ  لَمَّا رَاَوُا الۡعَذَابَ  --  dan mereka akan menyembunyikan penyesalan ketika mereka menyaksikan azab itu,  وَ جَعَلۡنَا الۡاَغۡلٰلَ فِیۡۤ  اَعۡنَاقِ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا  --  dan Kami akan mengenakan belenggu pada leher  orang-orang kafir itu.  ہَلۡ  یُجۡزَوۡنَ  اِلَّا مَا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ  -- Mereka tidak akan dibalas melainkan untuk apa yang telah mereka kerjakan.”
        Asarra-hu berarti: ia menyembunyikannya; ia menzahirkannya (Lexicon Lane). Sedangkan makna lain  ’anāq  dalam ayat وَ جَعَلۡنَا الۡاَغۡلٰلَ فِیۡۤ  اَعۡنَاقِ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا  --  “dan Kami akan mengenakan belenggu pada leher  orang-orang kafir itu berarti: leher, pemimpin-pemimpin  atau orang-orang besar” (Lexicon Lane).
       Dengan demikian jelaslah, bahwa sebutan iblis, jin, wajah mau pun ‘anaq (leher) yang digunakan Allah Swt. dalam Al-Quran identik dengan pemimpin kekafiran  sedangkan sebutan ins,   punggung dan banān (jari-jari tangan)  merupakan kiasan dari para pengikut mereka, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam Perang Badar:
اِذۡ یُوۡحِیۡ رَبُّکَ اِلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ اَنِّیۡ مَعَکُمۡ فَثَبِّتُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ سَاُلۡقِیۡ فِیۡ قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوا الرُّعۡبَ فَاضۡرِبُوۡا فَوۡقَ الۡاَعۡنَاقِ وَ اضۡرِبُوۡا مِنۡہُمۡ  کُلَّ  بَنَانٍ ﴿ؕ﴾
Ketika Rabb (Tuhan) engkau mewahyukan kepada malaikat-malaikat:  اَنِّیۡ مَعَکُمۡ فَثَبِّتُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- “Sesungguhnya Aku beserta kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman.  سَاُلۡقِیۡ فِیۡ قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوا الرُّعۡبَ  -- segera Aku akan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir,  فَاضۡرِبُوۡا فَوۡقَ الۡاَعۡنَاقِ وَ اضۡرِبُوۡا مِنۡہُمۡ  کُلَّ  بَنَانٍ -- maka pukullah pada leher  mereka dan pukullah pada tiap ruas jari mereka.” (Al-Anfāl [8]:13).
         Mengenai “rasa takut” yang ditimbulkan Allah Swt. dalam hati orang-orang kafir Quraisy menjelang Perang Badar, dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini tentang Suraqah bin Malik -- yang disebut “syaitan” karena ia  adalah seorang pemimpin kabilah  --  yang memprovokasi para pemimpin kafir Quraisy untuk melawan Nabi Besar Muhammad saw. dan orang-orang Islam, firman-Nya:     
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ بَطَرًا وَّ رِئَآءَ النَّاسِ وَ یَصُدُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ  مُحِیۡطٌ ﴿﴾   وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ ۚ فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ  اِنِّیۡۤ  اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿٪﴾  اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ غَرَّہٰۤؤُ لَآءِ دِیۡنُہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari rumah-rumah mereka dengan sombong dan ingin dilihat orang serta menghalangi manusia  dari jalan Allah, dan  ilmu Allah meliputi  apa yang mereka kerjakan. وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ   --  Dan ingatlah ketika  syai-tan  menampakkan indah kepada mereka amal-amal mereka  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ  -- dan berkata:   Tidak seorang pun di antara manusia yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku pelindung kamu.” فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ   --   tetapi  tatkala kedua pasukan itu berhadapan satu sama lain, ia berbalik  atas tumitnya وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ  اِنِّیۡۤ  اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ  -- sambil berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah  dan siksaan Allah sangat keras. (Anfāl [8]:48-49).

Dipakaikan “Gelang-gelang Emas” Kisra  Persia

        Diriwayatkan bahwa orang yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah  Suraqah bin Malik bin Jusyam, yang menghasut (memprovokasi) orang-orang Mekkah agar melawan orang-orang Islam, tetapi kemudian dia sendiri memeluk agama Islam, dan di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a.  ia diperintah untuk mengenakan gelang-gelang emas Kisra Persia,  guna menggenapi nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. pada saat  Suraqah bin Malik mengejar beliau saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. yang sedang melakukan perjalanan hijrah ke Madinah setelah keduanya bersembunyi di Gua Tsaur, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia berkata kepada temannya:  لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا  -- “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya  dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia men-jadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   (At-Taubah [9]:40).
       Yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke Medinah ketika beliau didampingi oleh   Abubakar Shiddiq r.a.  berlindung di sebuah gua yang disebut Tsaur dari kejaran  para pemburu beliau saw.  karena hari telah mulai siang. 
        Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi  Abubakar Shiddiq r.a.. yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt., dan  Allah Swt. Sendiri meredakan rasa ketakutannya. Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua  Abubakar Shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw.  mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullāh, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 Februari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar