بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 54
Penyebutan Iblis
dan Jin yang Diciptakan dari “Api” Identik dengan Orang-orang
yang “Takabbur” Terhadap Allah Swt.
dan Rasul-Nya
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai “berlepas dirinya” golongan jin atau syaitan
dari tanggungjawab melakukan provokasi dan penipuan yang
dilakukannya terhadap golongan ins
(Ibrahim [14]:22-23), sehubungan dengan hal tersebut dalam Surah berikut ini Allah Swt. berfirman:
اَفَمَنۡ
وَّعَدۡنٰہُ وَعۡدًا حَسَنًا فَہُوَ لَاقِیۡہِ کَمَنۡ مَّتَّعۡنٰہُ مَتَاعَ
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ثُمَّ ہُوَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ مِنَ الۡمُحۡضَرِیۡنَ ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ کُنۡتُمۡ
تَزۡعُمُوۡنَ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡنَ
حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ
الَّذِیۡنَ اَغۡوَیۡنَا ۚ اَغۡوَیۡنٰہُمۡ کَمَا غَوَیۡنَا ۚ
تَبَرَّاۡنَاۤ اِلَیۡکَ ۫ مَا کَانُوۡۤا
اِیَّانَا یَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾ وَ قِیۡلَ ادۡعُوۡا
شُرَکَآءَکُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ رَاَوُا الۡعَذَابَ
ۚ لَوۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ
فَہُمۡ لَا یَتَسَآءَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah sama orang yang Kami janjikan kepadanya
suatu janji yang baik lalu ia
memperolehnya, seperti orang yang Kami berikan kesenangan kehidupan di dunia kemudian pada Hari Kiamat ia akan termasuk orang-orang yang dihadirkan di
hadapan Tuhan? وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ -- dan pada Hari itu Dia akan berseru kepada mereka, lalu akan
berfirman: اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ
الَّذِیۡنَ کُنۡتُمۡ تَزۡعُمُوۡنَ -- ”Di manakah yang dahulu kamu anggap sekutu-sekutu-Ku?” قَالَ
الَّذِیۡنَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ -- Berkata orang-orang yang firman
Kami mengenai hukuman telah mustahak
atas mereka: رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ الَّذِیۡنَ
اَغۡوَیۡنَا ۚ اَغۡوَیۡنٰہُمۡ کَمَا غَوَیۡنَا ۚ تَبَرَّاۡنَاۤ اِلَیۡکَ ۫ مَا کَانُوۡۤا اِیَّانَا
یَعۡبُدُوۡنَ -- ”Ya Rabb
(Tuhan) kami, mereka itulah orang-orang yang
telah kami sesatkan, kami telah
menyesatkan mereka sebagaimana kami
sendiri telah sesat. Kini kami berlepas diri dari mereka dan menghadap kepada Engkau. Mereka sekali-kali tidak menyembah kami.” وَ قِیۡلَ
ادۡعُوۡا شُرَکَآءَکُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ
فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ رَاَوُا
الۡعَذَابَ ۚ لَوۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا یَہۡتَدُوۡنَ -- Dan difirmankan: ”Serulah sekutu-sekutu kamu.” Maka mereka menyerunya tetapi mereka
itu tidak menjawab mereka, dan mereka melihat azab, mereka ingin seandainya mereka dahulu mengikuti petunjuk.
وَ یَوۡمَ
یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ
اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ -- Dan pada
hari Dia akan memanggil mereka maka Dia berfirman: ”Jawaban apakah yang kamu berikan kepada rasul-rasul?” فَعَمِیَتۡ
عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ فَہُمۡ لَا
یَتَسَآءَلُوۡنَ -- Tetapi pada
hari itu segala dalih menjadi gelap atas mereka maka mereka tidak akan saling bertanya. (Al-Qashash
[28]:62-67).
Anba’ (dalil-dalil) adalah jamak dari naba’
yang berarti: kabar penting; keterangan; amanat; dalil (Lexicon Lane & Al-Kulliyat). Pada hari pembalasan orang-orang kafir akan
mengalami kekalutan pikiran dan putus asa, dan akan sama sekali kehilangan akal untuk membela diri, karena kerapuhan semua helah dan dalih yang palsu telah menjadi jelas, mereka
tidak mendapat kesempatan untuk bermusyawarah antara satu dengan lainnya
guna mempersiapkan pembelaan mereka. Ungkapan
‘Amiya
‘alaihi’l-amru berarti “perkara
itu menjadi gelap atau kacau baginya” (Lexicon Lane).
Penggantian Sebutan Jin
dengan “Orang takabbur” & “Wajah-wajah” yang “Hitam”
Pendek kata dalih-dalih dan alasan
dalam melakukan persekongkolan “makar
buruk” antara golongan jin dan ins melawan Rasul Allah sama sekali akan
menjadi gelap, bahkan mereka akan
menyesali kejahilan dan kezaliman yang mereka lakukan terhadap Rasul Allah, firman-Nya:
یَوۡمَ
تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ یَقُوۡلُوۡنَ یٰلَیۡتَنَاۤ اَطَعۡنَا اللّٰہَ وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا ﴿﴾ وَ قَالُوۡا
رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا ﴿﴾ رَبَّنَاۤ
اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ لَعۡنًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Pada hari itu ketika para pemuka mereka akan
dibolak-balikkan di dalam api dan mereka akan
berkata: یٰلَیۡتَنَاۤ اَطَعۡنَا
اللّٰہَ وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا -- ”Alangkah baiknya seandainya kami
mentaati Allah dan menaati
Rasul.” وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا -- Dan mereka akan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan lurus.
رَبَّنَاۤ اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ
الۡعَنۡہُمۡ لَعۡنًا کَبِیۡرًا -- “Wahai Rabb (Tuhan) kami, datangkanlah
kepada mereka azab dua kali lipat, dan laknatlah
mereka dengan laknat yang besar.”
(Al-Ahzāb
[33]:67-69).
Dalam ayat 33 sebelumnya disinggung tentang para pemimpin kaum kafir, sebagai pengganti sebutan jin, sebab wujuh (wajah-wajah)
berarti juga para pemimpin: یَوۡمَ
تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ – “Pada hari itu ketika para pemuka mereka akan
dibolak-balikkan di dalam api.”
Kemudian dDalam ayat 34 disebutkan pemimpin-pemimpin tingkat bawah (saddat dan kubara): وَ قَالُوۡا
رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا -- Dan mereka akan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan lurus”. Merupakan fitrat
manusia suka berusaha melemparkan noda perbuatan-perbuatan
buruknya sendiri kepada orang lain.
Dalam Surah Ali
‘Imran dijelaskan bahwa pada “Hari
Keputusan” kalimat یَوۡمَ
تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ – “Pada hari itu ketika para pemuka mereka akan
dibolak-balikkan di dalam api,” diterangkan akibat dari “pembakaran dalam api” yakni wajah
para pemimpin kekafiran tersebut menjadi “hitam”, firman-Nya:
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ
تَفَرَّقُوۡا وَ
اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ
بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ
فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ
ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ مَا فِی
السَّمٰوٰتِ وَ مَا
فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ
الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang
kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang yang baginya
ada azab yang besar. یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ -- Pada hari
ketika wajah-wajah
menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi
hitam. فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ -- Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka:
اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ -- “Apakah kamu
kafir sesudah beriman? فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ -- Karena
itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu." وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ -- Dan ada pun orang-orang yang wajahnya putih, فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya. Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya
kepada engkau dengan haq, dan Allah
sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman atas seluruh
alam. Dan milik
Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allāh-lah
segala urusan dikembalikan. (Ali ‘Imran [3]:106-110).
Makna
lain “bayyinah” (bukti-bukti yang jelas) adalah Rasul Allah (QS.98:1-6), dan ayat selanjutnya menerangkan akibat buruk menentang “bayyinah”
atau Rasul Allah tersebut yaitu wajah
menjadi hitam. Al-Quran telah menerangkan warna-warna “putih” dan “hitam” sebagai lambang,
masing-masing untuk “kebahagiaan” dan
“kesedihan” (QS.3:107, 108;
QS.75:23-25; QS.80:39-41).
Bila seseorang melakukan perbuatan yang karenanya ia mendapat pujian, orang Arab mengatakan mengenai
dia: ibyadhdhaha wajhuhu, yakni “wajahnya
telah menjadi putih”. Dan bila ia melakukan suatu pekerjaan yang patut disesali,
maka dikatakan mengenai dia “iswadda
wajhuhu”, yakni “wajahnya
telah menjadi hitam.”
Keadaan Orang-orang “Tak
Beragama” Pada “Hari Keputusan”
Kalau dalam Surah-surah sebelumnya yang
dimaksud dengan orang-orang kafir yang mendustakan
dan menentang para rasul Allah bersifat umum, yaitu
yang berasal dari kalangan umat
beragama dan orang-orang musyrik,
tetapi yang dimaksud orang-orang kafir dalam firman-Nya
berikut ini adalah orang-orang yang tidak
mempercayai agama, bahkan tidak mempercayai
keberadaaan
Tuhan (Atheisme), firman-Nya:
وَ قَالَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ بِہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ وَ لَا بِالَّذِیۡ
بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ وَ لَوۡ تَرٰۤی
اِذِ الظّٰلِمُوۡنَ مَوۡقُوۡفُوۡنَ
عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚۖ یَرۡجِعُ بَعۡضُہُمۡ
اِلٰی بَعۡضِۣ الۡقَوۡلَ ۚ یَقُوۡلُ الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا لِلَّذِیۡنَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا لَوۡ لَاۤ اَنۡتُمۡ لَکُنَّا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا لِلَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡۤا اَنَحۡنُ
صَدَدۡنٰکُمۡ عَنِ الۡہُدٰی بَعۡدَ اِذۡ جَآءَکُمۡ بَلۡ کُنۡتُمۡ مُّجۡرِمِیۡنَ
﴿﴾ وَ قَالَ الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
بَلۡ مَکۡرُ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ اِذۡ
تَاۡمُرُوۡنَنَاۤ اَنۡ
نَّکۡفُرَ بِاللّٰہِ وَ
نَجۡعَلَ لَہٗۤ اَنۡدَادًا ؕ وَ
اَسَرُّوا النَّدَامَۃَ لَمَّا رَاَوُا
الۡعَذَابَ ؕ وَ جَعَلۡنَا الۡاَغۡلٰلَ فِیۡۤ
اَعۡنَاقِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ
ہَلۡ یُجۡزَوۡنَ اِلَّا مَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
kafir berkata: لَنۡ نُّؤۡمِنَ
بِہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ وَ لَا بِالَّذِیۡ بَیۡنَ یَدَیۡہِ -- “Kami tidak
akan pernah percaya kepada Al-Quran ini, dan tidak pula kepada yang sebelumnya.” -- Dan seandainya
engkau dapat melihat ketika
orang-orang zalim itu akan disuruh
berdiri di hadapan Rabb (Tuhan) mereka, seraya mereka saling melemparkan tuduhan kepada satu sama lain,
berkata orang-orang yang dianggap lemah kepada orang-orang yang menyombongkan diri: لَوۡ لَاۤ اَنۡتُمۡ لَکُنَّا مُؤۡمِنِیۡنَ -- “Seandainya tidak karena kamu, niscaya kami telah
menjadi orang-orang yang beriman.” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah:
اَنَحۡنُ صَدَدۡنٰکُمۡ عَنِ الۡہُدٰی بَعۡدَ اِذۡ
جَآءَکُمۡ -- “Apakah kami
telah menghalangi kamu dari petunjuk, setelah petunjuk itu datang kepada kamu? بَلۡ کُنۡتُمۡ مُّجۡرِمِیۡنَ -- Tidak,
bahkan kamu sendirilah orang-orang
yang berdosa.” Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: بَلۡ مَکۡرُ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ اِذۡ
تَاۡمُرُوۡنَنَاۤ اَنۡ
نَّکۡفُرَ بِاللّٰہِ وَ
نَجۡعَلَ لَہٗۤ اَنۡدَادًا -- “Tidak,
bahkan itu adalah makar buruk kamu malam dan siang, ketika kamu menyuruh
kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan tuhan-tuhan tandingan
bagi-Nya.” وَ اَسَرُّوا النَّدَامَۃَ لَمَّا
رَاَوُا الۡعَذَابَ -- dan mereka akan menyembunyikan penyesalan ketika mereka menyaksikan azab itu,
dan Kami akan mengenakan belenggu
pada leher orang-orang kafir
itu. Mereka tidak akan dibalas
melainkan untuk apa yang telah mereka
kerjakan. (As-Saba’ [34]:32-34).
Dalam
firman Allah Swt. tersebut jin
(pemuka kaum) disebut sebagai “orang-orang yang menyombongkan diri” (الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡا), karena
sama dengan ketakaburan yang dilakukan oleh iblis ketika menolak perintah Allah Swt. untuk “sujud”
kepada Adam bersama para malaikat (QS.7:12-13).
Makna Lain ‘Anaq (Leher) dan Banan
(Jari-jari tangan) & Syuraqah
bin Malik adalah “Syaitan” yang Menjadi
Muslim
Sudah
menjadi fitrat manusia bahwa bila
seseorang yang berdosa bertatap berhadapan
dengan hukuman bagi dosanya, ia berusaha mencari helah dengan mencoba memindahkan tanggungjawab kejahatannya itu kepada orang lain. Segi
fitrat inilah yang telah diisyaratkan
dalam Surah Saba’ ayat 32 dan dua
ayat berikutnya: وَ اَسَرُّوا النَّدَامَۃَ لَمَّا رَاَوُا الۡعَذَابَ -- dan mereka akan menyembunyikan penyesalan ketika mereka menyaksikan azab itu,
وَ جَعَلۡنَا الۡاَغۡلٰلَ فِیۡۤ اَعۡنَاقِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- dan
Kami akan mengenakan belenggu pada leher
orang-orang kafir itu. ہَلۡ یُجۡزَوۡنَ
اِلَّا مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ -- Mereka tidak akan dibalas melainkan untuk apa yang telah mereka kerjakan.”
Asarra-hu berarti: ia
menyembunyikannya; ia menzahirkannya (Lexicon
Lane). Sedangkan makna lain ’anāq
dalam ayat وَ جَعَلۡنَا الۡاَغۡلٰلَ فِیۡۤ
اَعۡنَاقِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- “dan Kami
akan mengenakan belenggu pada leher orang-orang kafir itu berarti: leher, pemimpin-pemimpin atau orang-orang
besar” (Lexicon Lane).
Dengan demikian jelaslah, bahwa
sebutan iblis, jin, wajah mau pun ‘anaq (leher) yang digunakan Allah Swt.
dalam Al-Quran identik dengan pemimpin kekafiran
sedangkan sebutan ins,
punggung dan banān (jari-jari tangan) merupakan kiasan
dari para pengikut mereka, firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam Perang
Badar:
اِذۡ
یُوۡحِیۡ رَبُّکَ اِلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ اَنِّیۡ مَعَکُمۡ فَثَبِّتُوا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا ؕ سَاُلۡقِیۡ فِیۡ قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوا الرُّعۡبَ فَاضۡرِبُوۡا فَوۡقَ الۡاَعۡنَاقِ وَ اضۡرِبُوۡا
مِنۡہُمۡ کُلَّ بَنَانٍ ﴿ؕ﴾
Ketika Rabb (Tuhan) engkau mewahyukan kepada malaikat-malaikat: اَنِّیۡ مَعَکُمۡ فَثَبِّتُوا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا -- “Sesungguhnya Aku beserta kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang beriman. سَاُلۡقِیۡ فِیۡ قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا الرُّعۡبَ -- segera Aku akan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, فَاضۡرِبُوۡا فَوۡقَ الۡاَعۡنَاقِ وَ
اضۡرِبُوۡا مِنۡہُمۡ کُلَّ بَنَانٍ -- maka pukullah pada leher mereka dan pukullah pada tiap ruas jari mereka.” (Al-Anfāl [8]:13).
Mengenai
“rasa takut” yang ditimbulkan Allah
Swt. dalam hati orang-orang kafir
Quraisy menjelang Perang Badar,
dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini tentang Suraqah bin Malik -- yang disebut “syaitan” karena ia adalah
seorang pemimpin kabilah -- yang memprovokasi
para pemimpin kafir Quraisy untuk melawan Nabi Besar Muhammad saw. dan orang-orang Islam, firman-Nya:
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ بَطَرًا وَّ رِئَآءَ النَّاسِ
وَ یَصُدُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ
بِمَا یَعۡمَلُوۡنَ مُحِیۡطٌ ﴿﴾ وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ وَ قَالَ لَا غَالِبَ
لَکُمُ الۡیَوۡمَ مِنَ
النَّاسِ وَ اِنِّیۡ جَارٌ
لَّکُمۡ ۚ فَلَمَّا
تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ
عَلٰی عَقِبَیۡہِ وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ اِنِّیۡۤ اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿٪﴾ اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ
غَرَّہٰۤؤُ لَآءِ دِیۡنُہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ
عَلَی اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang
keluar dari rumah-rumah mereka dengan sombong
dan ingin dilihat orang serta menghalangi manusia dari
jalan Allah, dan ilmu Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ وَ قَالَ لَا غَالِبَ
لَکُمُ الۡیَوۡمَ مِنَ
النَّاسِ وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ -- Dan ingatlah ketika syai-tan
menampakkan indah kepada mereka amal-amal mereka وَ قَالَ لَا غَالِبَ
لَکُمُ الۡیَوۡمَ مِنَ
النَّاسِ وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ -- dan
berkata: ”Tidak seorang pun di antara manusia yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku pelindung kamu.” فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ -- tetapi tatkala kedua
pasukan itu berhadapan satu sama lain, ia
berbalik atas tumitnya وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ اِنِّیۡۤ اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ -- sambil berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat,
sesungguhnya aku takut kepada Allah
dan siksaan Allah sangat keras. (Anfāl [8]:48-49).
Dipakaikan “Gelang-gelang Emas” Kisra
Persia
Diriwayatkan
bahwa orang yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Suraqah
bin Malik bin Jusyam, yang menghasut
(memprovokasi) orang-orang Mekkah
agar melawan orang-orang Islam,
tetapi kemudian dia sendiri memeluk agama
Islam, dan di masa Khalifah Umar bin
Khaththab r.a. ia diperintah untuk
mengenakan gelang-gelang emas Kisra
Persia, guna menggenapi nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. pada
saat Suraqah
bin Malik mengejar beliau saw. dan Abu Bakar Shiddiq r.a. yang sedang
melakukan perjalanan hijrah ke
Madinah setelah keduanya bersembunyi di Gua
Tsaur, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ
فَقَدۡ نَصَرَہُ اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی
الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ
لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ
اِنَّ اللّٰہَ
مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ
اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ
اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka sungguh
Allah telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia
berkata kepada temannya: لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا -- “Janganlah
engkau sedih sesungguhnya Allah
beserta kita”, lalu Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya
dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya, dan Dia
men-jadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi,
dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (At-Taubah [9]:40).
Yang
dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke
Medinah ketika beliau didampingi oleh
Abubakar Shiddiq r.a. berlindung
di sebuah gua yang disebut Tsaur dari kejaran para pemburu beliau saw. karena hari telah mulai siang.
Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi Abubakar Shiddiq r.a.. yang telah
disebut sebagai “salah satu di antara dua
orang” dengan disertai Allah
Swt., dan Allah
Swt. Sendiri meredakan rasa ketakutannya. Telah tercatat dalam sejarah
bahwa ketika berada dalam gua Abubakar
Shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar
Muhammad saw. mengapa beliau
menangis, beliau menjawab: “Saya tidak
menangis untuk hidupku, ya Rasulullāh,
sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda
mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 12 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar