Senin, 16 Februari 2015

"Air Hujan" yang Sama Menimbulkan Aneka-ragam Tumbuhan Pada Permukaan Bumi yang Sama & 'Ulama Hakiki




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 59

  
Air Hujan yang Sama Menimbulkan Aneka-ragam Tubuhan yang Berbeda Pada Permukaan Bumi yang Sama  & 'Ulama Hakiki


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma



D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai salah satu penyebab mengapa fitnah Dajjal tersebut di Akhir Zaman ini merupakan kemusyrikan yang paling berbahaya dari antara seluruh jenis kemusyrikan yang pernah muncul di kalangan umat manusia,  adalah karena didukung oleh kesuksesan duniawi  para penganutnya sebagaimana dikemukakan dalam  hadits-hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya, yang  telah diartikan secara harfiah padahal merupakan kiasan.
     Berikut beberapa sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai sangat berbahayanya “fitnah Dajjal”, sehingga    -- sebagai peringatan  -- sering dibaca pada akhir bacaan tahiyyat  dalam shalat:      
       “Jika salah seorang diantara kalian duduk dalam tasyahud akhir, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dari empat perkara. Hendaknya dia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati serta jeleknya fitnah Dajjal. (HR. Muslim, no. 588.).  
       Dari Abu Darda’ a bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari surah Al-Kahfi, maka dia akan dijaga dari fitnah Dajjal. (HR. Muslim 809).
       Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: Selain Dajjal lebih menakutkanku atas kalian, seandainya dia keluar dan saya di tengah-tengah kalian, maka sayalah yang akan menghadapinya, tetapi apabila dia keluar sedangkan saya tidak ada di tengah-tengah kalian, maka masing-masing orang mengurus dirinya sendiri, Allah penolong setiap muslim. Dajjal adalah pemuda berambut keriting, matanya buta, seakan diriku memperumpamakannya dengan Abdul Uzza bin Qathn. Barangsiapa d iantara kalian menjumpainya, maka hendaknya membacakan padanya awal-awal surat Al-Kahfi, dia keluar di jalan antara Syam dan Iraq lalu membuat kerusakan di kanan dan kiri. Wahai hamba Allah, tetap kokohlah kalian! Kami bertanya: Hai Rasulullah, berapa lama dia tinggal di bumi? Nabi menjawab: Empat puluh hari, sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan kemudian hari berikutnya seperti hari-hari biasa. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, hari seperti setahun tadi apakah cukup bagi shalat sehari? Jawabnya: Tidak, perkirakanlah waktunya!. Kami bertanya lagi: Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di atas bumi? Beliau menjawab: Seperti hujan yang dihembuskan oleh angin. Kemudian Dajjal mendatangi suatu kaum lalu mereka percaya dan mendukungnya, maka dia memerintahkan langit untuk menurunkan air hujan sehingga turun hujan dan tanah untuk menumbuhkan tanaman dan tumbuh. Dia lalu mendatangi suatu kaum dan mereka menolak kemudian dia berpaling, akhirnya mereka paceklik tidak memiliki harta sedikitpun, dia melewati tempat reruntuhan seraya berkata: Keluarkan perbendaharaanmu, maka keluarlah perbendaharaanya seperti buah kurma. Lalu dia memanggil seorang pemuda dan memukulnya dengan pedang menjadi dua bagian seukuran lemparan panah kemudian memanggilnya lagi dan pemuda tersebut bangun dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.

 Kesuksesan Dunia  Sementara Bangsa-bangsa Kristen dari Barat di Akhir Zaman
 
        Kesuksesan duniawi dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang dimiliki bangsa-bangsa Kristen dari Barat (QS.18:8; QS.21:96-101) di Akhir Zaman ini merupakan tafsir atau makna sebenarnya  dari gambaran kiasan mengenai keluarbiasaan berbagai perbuatan Dajjal yang disabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. tersebut,  serta  Allah Swt. telah berfirman  kepada beliau saw. agar umat Islam  tidak terpesona dan terpedaya  oleh “kesuksesan duniawi” mereka:
لَا یَغُرَّنَّکَ تَقَلُّبُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِی الۡبِلَادِ  ﴿﴾ؕ مَتَاعٌ قَلِیۡلٌ ۟ ثُمَّ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ ﴿﴾
Janganlah sekali-kali engkau terpedaya  oleh lalu-lalang orang-orang kafir di dalam negeri.   Itu adalah sedikit kesenangan  sementara  kemudian tempat kediaman mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu tempat yang seburuk-buruknya.  (Ali ‘Imran [3]:197-198). Lihat pula QS.40:5.
       Ayat ini, di samping mempunyai hubungan dengan zaman Nabi Besar Muhammad saw.  – karena pada masa itu ada kekuatan duniawi yang sama-sama sedang memiliki  kekuasaan duniawi yang besar, yakni kerajaan Romawi yang beragama Kristen dan kerajaan Fersia  penganut agama Majusi --   juga kena benar kepada kemajuan secara kebendaan (materi/duniawi) yang menakjubkan di tengah bangsa-bangsa Kristen dalam segala bidang kehidupan di Akhir Zaman  ini,  yang disebut  fitnah Dajjal” si “Penipu” besar. 
         Ayat ini pun memperingatkan kaum Muslimin agar jangan tertipu atau terpukau oleh kesilauan kemajuan sementara dan fana (tidak kekal) tersebut, lalu meniru-niru kehidupan mereka dan meninggalkan ajaran Al-Quran sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.25:31).

 Kedustaan Si “Penipu” Mengenai Allah Swt.

        Ayat selanjutnya  مَتَاعٌ قَلِیۡلٌ ۟ ثُمَّ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ  -- “Itu adalah sedikit kesenangan  sementara  kemudian tempat kediaman mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu tempat yang seburuk-buruknya” dengan tegas mengemukakan suatu nubuatan  mengenai nasib terakhir yang akan menimpa mereka, yakni sesuai dengan nubuatan  Bible  mengenai Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj -- Wahyu 20:7-10), bahwa  kesejahteraan duniawi bangsa-bangsa Kristen itu hanya untuk sementara saja, dan ayat ini mengisyaratkan kepada hukuman mengerikan yang tersedia bagi mereka dan yang kini sungguh-sungguh telah mulai menimpa mereka berupa Perang Dunia I dan II serta Perang Dunia III    -- yang merupakan Perang Nuklir atau Perang Armagedon  -- pun  akan terjadi secara  tiba-tiba,  sehingga akibatnya kedustaan ajaran “penebusan dosa” yang disebar-luaskannya di dunia ini  akan semakin terbuka, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمۡ  وَ اخۡشَوۡا یَوۡمًا  لَّا یَجۡزِیۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِہٖ ۫ وَ لَا مَوۡلُوۡدٌ  ہُوَ  جَازٍ عَنۡ وَّالِدِہٖ شَیۡئًا ؕ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ٝ وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Hai  manusia, bertakwalah kepada Rabb (Tuhan) kamu dan takutlah akan  Hari  ketika seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan tidak pula seorang anak dapat menolong ayahnya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah itu benar,  فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا -- maka janganlah sampai kehidupan dunia memperdayakan kamu,  وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ  -- dan jangan pula si penipu itu  menipu kamu mengenai Allah.” (Luqman [31]:34). 
       Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman   mengenai   Hari Kiamat” yang akan terjadi  secara tiba-tiba:
اِنَّ اللّٰہَ عِنۡدَہٗ  عِلۡمُ  السَّاعَۃِ ۚ وَ  یُنَزِّلُ الۡغَیۡثَ ۚ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی الۡاَرۡحَامِ ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌ مَّاذَا تَکۡسِبُ غَدًا ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌۢ بِاَیِّ  اَرۡضٍ تَمُوۡتُ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿٪﴾ 
Sesungguhnya Allah di sisi-Nya-lah pengetahuan mengenai Hari Kiamat.  Dan Dia menurunkan hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan sekali-kali tidak ada satu  jiwa pun  yang mengetahui apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan  sekali-kali tidak satu jiwa pun yang   mengetahui  di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Dzat Yang memaklumi segala kabar.  (Luqman [31]:34-35). 

Pengetahuan Tentang “Hari Kiamat” dan Akibatnya
 
       Surah Luqman  berakhir dengan mengulangi lagi pembahasannya yang pokok  kemenangan Islam kelak (QS.61:10)  --  yang digambarkan sebagai terjadinya “Hari Kiamat” -- dan menyebut beberapa kenyataan penting mengenai itu:
       (1) Hanya pada  Allah Swt. Sendiri adanya pengetahuan mengenai terjadinya  saat keruntuhan terakhir kekafiran dan kemenangan bagi Islam (As-Sā’ah), sebab  proses  Kiamat (Qiyamat/Sā’ah) – yang maknanya kebangkitan atau pembangunan selalu dimulai dengan proses  penghancuran tatanan (orde) lama yang sudah usang (QS.30:42) lalu membangun “tatanan baru” (QS.14:49), yang dimulai  dengan  peristiwa “the Big Bang” (ledakan besar – QS.21:31), berupa pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37; QS.3:180; QS.22:76; QS.71:27-29).
       (2) Hanya Allah Swt.  Sendiri Yang mengetahui, kapan keadaan suatu kaum memerlukan wahyu Ilahi turun, maka karena itu Dia telah menurunkan Al-Quran tepat pada waktunya kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:107; QS.5:4; QS.97:1-6).
         (3) Hanya pada Allah Swt.  saja ada pengetahuan apakah generasi-generasi yang masih belum dilahirkan akan menerima Islam atau akan bertahan dalam kekafiran, yaitu apakah anak cucu para pemimpin kaum kafir  --  yang kini memerangi Islam mati-matian --  akan masuk Islam dan akan secara sukarela menyerahkan hidup mereka untuk mempertahankan agama Islam dan melanjutkan perjuangannya itulah makna ayat:  وَ  یُنَزِّلُ الۡغَیۡثَ ۚ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی الۡاَرۡحَامِ ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌ مَّاذَا تَکۡسِبُ غَدًا ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌۢ بِاَیِّ  اَرۡضٍ تَمُوۡتُ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- “Dan Dia menurunkan hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan sekali-kali tidak ada satu  jiwa pun  yang mengetahui apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan  sekali-kali tidak satu jiwa pun yang   mengetahui  di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Dzat Yang memaklumi segala kabar.”
        (4) Orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa semua sepak terjang mereka dalam melawan Islam akan menjadi sia-sia dan gagal belaka, karena Islam dan Nabi Besar Muhammad saw. telah ditakdirkan  Allah Swt. akan unggul atas  semua kebathilan (kepalsuan dan kedustaan – QS.17:82; QS.21:19;  QS.34:50; QS.58:21-22; QS.61:10; QS.62:3-5).
        (5) Para pemimpin kekafiran  yang telah mengusir Nabi Besar Muhammad saw.  dan orang-orang Muslim dari kampung halamannya (Mekkah), mereka sendirilah yang akan menemui ajal mereka (QS.8:31) di tempat yang jauh dari kampung halaman mereka, yakni dalam Perang Badar.

Melalui Air Hujan  yang  Sama Tetapi Tumbuh-tumbuhan yang Muncul di Permukaan Bumi   Berbeda-beda
 
       Firman Allah Swt.:    وَ  یُنَزِّلُ الۡغَیۡثَ ۚ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی الۡاَرۡحَامِ ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌ مَّاذَا تَکۡسِبُ غَدًا ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌۢ بِاَیِّ  اَرۡضٍ تَمُوۡتُ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- “Dan Dia menurunkan hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan sekali-kali tidak ada satu  jiwa pun  yang mengetahui apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan  sekali-kali tidak satu jiwa pun yang  mengetahui  di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Dzat Yang memaklumi segala kabar” (QS.31:35), mengisyaratkan kepada adanya keselarasan antara terjadinya “kebangkitanakhlak dan ruhani manusia  pada “Hari Kiamat   di dunia ini melalui pengutusan Rasul Allah,  dengan pengaruh yang ditimbulkan air hujan terhadap berbagai tanah (permukaan bumi) yang disiraminya.    Sehubungan dengan hal tersebut dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ مَدَّ الۡاَرۡضَ وَ جَعَلَ  فِیۡہَا رَوَاسِیَ وَ اَنۡہٰرًا ؕ وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِیۡہَا زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ یُغۡشِی الَّیۡلَ النَّہَارَ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّ جَنّٰتٌ مِّنۡ اَعۡنَابٍ وَّ زَرۡعٌ وَّ نَخِیۡلٌ صِنۡوَانٌ وَّ غَیۡرُ صِنۡوَانٍ یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ ۟ وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Dan  Dia-lah Yang telah membentangkan bumi ini dan menjadikan di dalamnya gunung-gunung dan sungai-sungai,  dan dari setiap macam  buah-buahan Dia menjadikan dua jenis berpasang-pasangan,  Dia menyebabkan malam menutupi siang, sesungguhnya dalam hal itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi kaum yang merenungkan.     Dan di bumi ini ada bermacam-macam bidang tanah yang saling berdampingan, dan kebun-kebun anggur,  ladang-ladang,   pohon-pohon kurma berumpun yang tumbuh dari satu akar dan yang tidak berumpun, یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  -- semuanya itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ  --   tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya,  اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ --   sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Rā’d (13):4-5)
        Ungkapan یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  --  semuanya itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ  --   tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya itu mengandung arti,  bahwa bila pohon-pohon yang diairi oleh air yang sama ternyata berbuah sangat berbeda dalam rasa dan warna, demikian juga betapa Nabi Besar Muhammad saw.   — yang meskipun beliau  saw. tinggal di kota yang sama dan di antara kaum yang sama — pasti dapat melebihi mereka; apalagi mengingat bahwa beliau saw. dipupuk dengan air-kehidupan berupa wahyu Ilahi yang tersempurna,  sedang musuh-musuh beliau saw. dibesarkan di bawah asuhan syaitan.

Umat Islam di Zaman Awal Sebagai “Umat yang Terbaik”   
 
       Kebangkitan yang sama terjadi pula pada akhlak dan ruhani  para pengikut Nabi Besar Muhammad saw., bahkan mereka menjadi menjadi “umat yang terbaik” (QS.2:144; QS.3:111), firman-Nya:
اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّ اللّٰہَ  اَنۡزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ  مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ  مُّخۡتَلِفًا  اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ  بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ  مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih,   merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak?  Dan demikian juga di antara manusia,  hewan berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya.  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ  -- Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama.  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun (Al-Fāthir [35]:28-29).
      Ayat 28  bermaksud mengatakan, bahwa bila hujan turun di atas tanah (permukaan bumi) yang kering dan gersang, maka air hujan itu menimbulkan aneka ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang warna warni serta aneka cita rasa, dan bentuk serta corak yang berlainan.
        Air hujannya sama tetapi tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang dihasilkan sangat berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali dikarenakan sifat yang dimiliki tanah dan benih. Demikian pula manakala wahyu Ilahi — yang pada beberapa tempat dalam Al-Quran telah diibaratkan air — turun kepada suatu kaum, maka wahyu Ilahi  itu menimbulkan berbagai-bagai akibat pada bermacam-macam manusia menurut keadaan “tanah” (hati) mereka dan cara mereka menerimanya.
         Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa keanekaragaman yang indah sekali dalam bentuk, warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya terdapat pada bunga, buah, dan batu karang, akan tetapi juga pada manusia, binatang buas dan ternak.
       Kata an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak) tersebut dapat juga melukiskan manusia dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan, dan kecenderungan alami. Ungkapan  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya dari antara hamba-hambanya yang takut kepada Allah dari  adalah para ‘ulama,” memberikan bobot arti kepada pandangan bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu – yakni ‘ulama -- saja yang takut kepada Allah Swt. 

Ulama Hakiki Tidak Terbatas  Orang-orang  Bercimpung Dalam Masalah Syariat

       Akan tetapi di sini  ilmu  yang dimiliki  oleh  ‘ulama itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu-ilmu agama dan  ilmu keruhanian, akan tetapi juga  berkenaan dengan pengetahuan  hukum alam. Sebab penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya niscaya membawa orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Allah Ta’ala dan sebagai akibatnya merasa kagum dan takzim terhadap Tuhan, sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai makrifat yang diraih “orang-orang yang mempergunakan akalnya”:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ  -- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.     Yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka,  وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا  --  seraya berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  --       Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ --  Wahai  Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ  -- dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Ali ‘Imran [3]:191-193).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

***

Pajajaran Anyar, 16 Februari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar