بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 59
Air Hujan yang Sama Menimbulkan Aneka-ragam Tubuhan yang Berbeda Pada Permukaan Bumi yang
Sama & 'Ulama Hakiki
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
|
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai salah
satu penyebab mengapa fitnah Dajjal
tersebut di Akhir Zaman ini merupakan
kemusyrikan yang paling berbahaya dari antara seluruh jenis kemusyrikan yang pernah muncul di kalangan umat manusia, adalah karena didukung oleh kesuksesan duniawi para penganutnya sebagaimana dikemukakan
dalam hadits-hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya, yang telah diartikan
secara harfiah padahal merupakan kiasan.
Berikut beberapa sabda Nabi Besar Muhammad
saw. mengenai sangat berbahayanya “fitnah Dajjal”, sehingga -- sebagai peringatan -- sering dibaca
pada akhir bacaan tahiyyat dalam shalat:
“Jika salah
seorang diantara kalian duduk dalam tasyahud akhir, maka hendaklah dia
berlindung kepada Allah dari empat perkara. Hendaknya dia berdoa: Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam, siksa kubur,
fitnah hidup dan mati serta jeleknya fitnah
Dajjal. (HR. Muslim, no. 588.).
Dari Abu Darda’ a bahwasanya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari surah Al-Kahfi,
maka dia akan dijaga dari fitnah Dajjal.
(HR. Muslim 809).
“Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu
berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: Selain Dajjal
lebih menakutkanku atas kalian, seandainya dia keluar dan saya di tengah-tengah
kalian, maka sayalah yang akan menghadapinya, tetapi apabila dia keluar
sedangkan saya tidak ada di tengah-tengah kalian, maka masing-masing orang
mengurus dirinya sendiri, Allah penolong setiap muslim. Dajjal adalah pemuda berambut keriting, matanya buta,
seakan diriku memperumpamakannya dengan Abdul Uzza bin Qathn. Barangsiapa d iantara kalian menjumpainya,
maka hendaknya membacakan padanya awal-awal surat Al-Kahfi, dia keluar di jalan antara Syam dan Iraq lalu
membuat kerusakan di kanan dan kiri. Wahai hamba Allah, tetap kokohlah kalian! Kami bertanya:
Hai Rasulullah, berapa lama dia tinggal
di bumi? Nabi menjawab: Empat puluh
hari, sehari seperti setahun,
sehari seperti sebulan, sehari
seperti sepekan kemudian hari
berikutnya seperti hari-hari biasa. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, hari
seperti setahun tadi apakah cukup bagi shalat sehari? Jawabnya: Tidak,
perkirakanlah waktunya!. Kami bertanya lagi: Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di atas bumi?
Beliau menjawab: Seperti hujan yang
dihembuskan oleh angin. Kemudian Dajjal
mendatangi suatu kaum lalu mereka percaya dan mendukungnya, maka dia memerintahkan langit untuk menurunkan
air hujan sehingga turun hujan
dan tanah untuk menumbuhkan tanaman dan
tumbuh. Dia lalu mendatangi suatu
kaum dan mereka menolak kemudian
dia berpaling, akhirnya mereka paceklik tidak
memiliki harta sedikitpun, dia melewati tempat reruntuhan seraya berkata: Keluarkan perbendaharaanmu, maka keluarlah perbendaharaanya seperti buah kurma. Lalu dia memanggil seorang pemuda dan memukulnya
dengan pedang menjadi dua bagian
seukuran lemparan panah kemudian memanggilnya
lagi dan pemuda tersebut bangun dengan
wajah berseri-seri sambil tertawa.”
Kesuksesan Dunia Sementara Bangsa-bangsa
Kristen dari Barat di Akhir Zaman
Kesuksesan duniawi dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang dimiliki bangsa-bangsa Kristen dari Barat
(QS.18:8; QS.21:96-101) di Akhir Zaman ini
merupakan tafsir atau makna sebenarnya dari gambaran
kiasan mengenai keluarbiasaan
berbagai perbuatan Dajjal
yang disabdakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, serta
Allah Swt. telah berfirman kepada
beliau saw. agar umat Islam tidak terpesona dan terpedaya oleh “kesuksesan duniawi” mereka:
لَا یَغُرَّنَّکَ تَقَلُّبُ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِی الۡبِلَادِ
﴿﴾ؕ مَتَاعٌ قَلِیۡلٌ ۟ ثُمَّ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ ﴿﴾
Janganlah sekali-kali
engkau terpedaya oleh lalu-lalang orang-orang kafir di dalam negeri. Itu adalah sedikit kesenangan sementara kemudian
tempat kediaman mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu tempat yang seburuk-buruknya. (Ali ‘Imran [3]:197-198). Lihat pula
QS.40:5.
Ayat ini, di samping
mempunyai hubungan dengan zaman Nabi
Besar Muhammad saw. – karena pada masa
itu ada kekuatan duniawi yang
sama-sama sedang memiliki kekuasaan duniawi yang besar, yakni kerajaan Romawi yang beragama Kristen dan kerajaan Fersia penganut
agama Majusi -- juga kena benar kepada kemajuan secara kebendaan
(materi/duniawi) yang menakjubkan di
tengah bangsa-bangsa Kristen dalam segala
bidang kehidupan di Akhir Zaman ini,
yang disebut “fitnah Dajjal” si “Penipu” besar.
Ayat ini
pun memperingatkan kaum Muslimin agar jangan tertipu atau terpukau oleh kesilauan
kemajuan sementara dan fana
(tidak kekal) tersebut, lalu meniru-niru
kehidupan mereka dan meninggalkan ajaran
Al-Quran sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4; QS.25:31).
Kedustaan Si “Penipu” Mengenai Allah Swt.
Ayat
selanjutnya مَتَاعٌ
قَلِیۡلٌ ۟ ثُمَّ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمِہَادُ -- “Itu adalah sedikit kesenangan sementara kemudian
tempat kediaman mereka adalah Jahannam, dan Jahanam itu tempat yang seburuk-buruknya”
dengan tegas mengemukakan suatu nubuatan mengenai nasib
terakhir yang akan menimpa mereka, yakni sesuai dengan nubuatan Bible mengenai Gog
(Ya’juj) dan Magog (Ma’juj -- Wahyu
20:7-10), bahwa kesejahteraan duniawi bangsa-bangsa Kristen itu hanya untuk sementara saja, dan ayat ini
mengisyaratkan kepada hukuman mengerikan
yang tersedia bagi mereka dan yang kini sungguh-sungguh telah mulai menimpa mereka berupa Perang Dunia I dan II
serta Perang Dunia III -- yang merupakan Perang Nuklir atau Perang
Armagedon -- pun akan terjadi secara tiba-tiba, sehingga akibatnya kedustaan ajaran “penebusan
dosa” yang disebar-luaskannya di dunia ini
akan semakin terbuka, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا
رَبَّکُمۡ وَ اخۡشَوۡا یَوۡمًا لَّا یَجۡزِیۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِہٖ ۫ وَ لَا
مَوۡلُوۡدٌ ہُوَ جَازٍ عَنۡ وَّالِدِہٖ شَیۡئًا ؕ اِنَّ وَعۡدَ
اللّٰہِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ٝ وَ لَا
یَغُرَّنَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb
(Tuhan) kamu dan takutlah akan Hari ketika seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan tidak pula seorang anak dapat menolong ayahnya sedikitpun.
Sesungguhnya janji Allah itu benar, فَلَا
تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا --
maka janganlah sampai kehidupan dunia
memperdayakan kamu, وَ
لَا یَغُرَّنَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ -- dan jangan pula si penipu itu menipu kamu mengenai Allah.” (Luqman
[31]:34).
Dalam ayat
selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai “Hari
Kiamat” yang akan terjadi secara
tiba-tiba:
اِنَّ اللّٰہَ عِنۡدَہٗ عِلۡمُ
السَّاعَۃِ ۚ وَ یُنَزِّلُ
الۡغَیۡثَ ۚ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی الۡاَرۡحَامِ ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌ مَّاذَا
تَکۡسِبُ غَدًا ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌۢ بِاَیِّ اَرۡضٍ تَمُوۡتُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿٪﴾
Sesungguhnya Allah
di sisi-Nya-lah pengetahuan mengenai Hari Kiamat. Dan Dia menurunkan hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan sekali-kali tidak ada satu jiwa pun
yang mengetahui apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan sekali-kali tidak satu jiwa pun yang mengetahui
di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Dzat
Yang memaklumi segala kabar. (Luqman [31]:34-35).
Pengetahuan Tentang “Hari Kiamat” dan Akibatnya
Surah Luqman
berakhir dengan mengulangi lagi pembahasannya yang pokok kemenangan Islam kelak (QS.61:10) --
yang digambarkan sebagai terjadinya “Hari
Kiamat” -- dan menyebut beberapa kenyataan penting mengenai itu:
(1) Hanya pada Allah
Swt. Sendiri adanya pengetahuan
mengenai terjadinya saat keruntuhan terakhir
kekafiran dan kemenangan bagi Islam (As-Sā’ah), sebab proses
Kiamat (Qiyamat/Sā’ah) – yang
maknanya kebangkitan atau pembangunan selalu dimulai dengan
proses penghancuran tatanan (orde) lama yang sudah usang (QS.30:42) lalu membangun “tatanan baru” (QS.14:49), yang dimulai dengan
peristiwa “the Big Bang”
(ledakan besar – QS.21:31), berupa pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
(QS.7:35-37; QS.3:180; QS.22:76; QS.71:27-29).
(2) Hanya Allah Swt. Sendiri Yang mengetahui, kapan keadaan
suatu kaum memerlukan wahyu Ilahi
turun, maka karena itu Dia telah menurunkan Al-Quran
tepat pada waktunya kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:107; QS.5:4;
QS.97:1-6).
(3) Hanya
pada Allah Swt. saja ada pengetahuan
apakah generasi-generasi yang masih belum dilahirkan akan menerima Islam atau akan bertahan dalam kekafiran, yaitu apakah anak cucu para pemimpin kaum kafir -- yang kini memerangi
Islam mati-matian -- akan masuk Islam dan akan secara sukarela menyerahkan hidup mereka untuk
mempertahankan agama Islam dan
melanjutkan perjuangannya itulah
makna ayat: وَ یُنَزِّلُ الۡغَیۡثَ ۚ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی
الۡاَرۡحَامِ ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌ مَّاذَا تَکۡسِبُ غَدًا ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ
نَفۡسٌۢ بِاَیِّ اَرۡضٍ تَمُوۡتُ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- “Dan Dia menurunkan hujan,
dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam
rahim. Dan sekali-kali tidak
ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan diusahakannya
esok hari. Dan sekali-kali tidak satu jiwa pun yang mengetahui
di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Dzat
Yang memaklumi segala kabar.”
(4) Orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa semua
sepak terjang mereka dalam melawan Islam akan menjadi sia-sia dan gagal belaka, karena Islam
dan Nabi Besar Muhammad saw. telah ditakdirkan Allah Swt. akan unggul atas semua kebathilan (kepalsuan dan kedustaan –
QS.17:82; QS.21:19; QS.34:50;
QS.58:21-22; QS.61:10; QS.62:3-5).
(5) Para pemimpin kekafiran yang telah mengusir Nabi Besar Muhammad saw. dan orang-orang Muslim dari kampung halamannya (Mekkah), mereka sendirilah yang
akan menemui ajal mereka (QS.8:31) di
tempat yang jauh dari kampung halaman
mereka, yakni dalam Perang Badar.
Melalui Air Hujan yang
Sama Tetapi Tumbuh-tumbuhan
yang Muncul di Permukaan Bumi Berbeda-beda
Firman Allah
Swt.: وَ یُنَزِّلُ الۡغَیۡثَ ۚ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی
الۡاَرۡحَامِ ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ نَفۡسٌ مَّاذَا تَکۡسِبُ غَدًا ؕ وَ مَا تَدۡرِیۡ
نَفۡسٌۢ بِاَیِّ اَرۡضٍ تَمُوۡتُ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ -- “Dan Dia menurunkan
hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan sekali-kali tidak ada satu jiwa pun
yang mengetahui apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan sekali-kali tidak satu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Dzat Yang memaklumi segala kabar”
(QS.31:35), mengisyaratkan kepada adanya keselarasan
antara terjadinya “kebangkitan” akhlak dan ruhani manusia pada “Hari Kiamat” di dunia ini melalui pengutusan Rasul Allah, dengan pengaruh
yang ditimbulkan air hujan terhadap
berbagai tanah (permukaan bumi) yang disiraminya.
Sehubungan dengan hal tersebut dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ مَدَّ الۡاَرۡضَ
وَ جَعَلَ فِیۡہَا رَوَاسِیَ وَ اَنۡہٰرًا
ؕ وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِیۡہَا زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ یُغۡشِی
الَّیۡلَ النَّہَارَ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّ جَنّٰتٌ
مِّنۡ اَعۡنَابٍ وَّ زَرۡعٌ وَّ نَخِیۡلٌ صِنۡوَانٌ وَّ غَیۡرُ صِنۡوَانٍ یُّسۡقٰی
بِمَآءٍ وَّاحِدٍ ۟ وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ ؕ اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ
یَّعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Dan Dia-lah Yang telah membentangkan bumi
ini dan menjadikan di dalamnya
gunung-gunung dan sungai-sungai, dan dari
setiap macam buah-buahan
Dia menjadikan dua jenis
berpasang-pasangan, Dia menyebabkan malam menutupi siang, sesungguhnya dalam hal itu benar-benar
ada Tanda-tanda bagi kaum yang merenungkan. Dan di bumi ini ada bermacam-macam
bidang tanah yang saling
berdampingan, dan kebun-kebun anggur, ladang-ladang, pohon-pohon
kurma berumpun yang tumbuh dari satu akar dan yang tidak berumpun, یُّسۡقٰی بِمَآءٍ
وَّاحِدٍ
-- semuanya itu disirami
dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ
بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ -- tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya, اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ
یَّعۡقِلُوۡنَ
-- sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar
ada Tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Rā’d
(13):4-5)
Ungkapan یُّسۡقٰی
بِمَآءٍ وَّاحِدٍ -- semuanya
itu disirami dengan air yang sama, وَ
نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ -- tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya” itu mengandung arti,
bahwa bila pohon-pohon yang diairi oleh air yang sama ternyata berbuah sangat berbeda dalam rasa dan warna, demikian juga betapa Nabi Besar
Muhammad saw. — yang
meskipun beliau saw. tinggal di kota
yang sama dan di antara kaum yang sama — pasti dapat melebihi mereka; apalagi mengingat bahwa beliau saw. dipupuk dengan air-kehidupan
berupa wahyu Ilahi yang tersempurna,
sedang musuh-musuh beliau saw. dibesarkan di bawah asuhan syaitan.
Umat Islam di
Zaman Awal Sebagai “Umat yang Terbaik”
Kebangkitan yang sama terjadi pula pada akhlak dan ruhani para pengikut
Nabi Besar Muhammad saw., bahkan mereka menjadi menjadi “umat yang terbaik” (QS.2:144; QS.3:111), firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ
سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ
مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ
اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ
الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ
غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka
warnanya. Dan di gunung-gunung ada
garis-garis putih, merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada
yang sehitam burung gagak? Dan demikian juga di antara manusia, hewan berkaki
empat dan binatang ternak
bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun (Al-Fāthir [35]:28-29).
Ayat 28 bermaksud mengatakan, bahwa bila hujan turun di atas tanah (permukaan bumi) yang kering
dan gersang, maka air hujan itu menimbulkan aneka ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang warna warni serta
aneka cita rasa, dan bentuk serta corak yang berlainan.
Air
hujannya sama tetapi tanam-tanaman,
bunga-bungaan, dan buah-buahan yang dihasilkan
sangat berbeda satu sama lain.
Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali dikarenakan sifat yang dimiliki tanah
dan benih. Demikian pula manakala wahyu Ilahi — yang pada beberapa tempat
dalam Al-Quran telah diibaratkan air —
turun kepada suatu kaum, maka wahyu Ilahi itu menimbulkan berbagai-bagai akibat pada bermacam-macam manusia menurut keadaan “tanah” (hati) mereka dan cara
mereka menerimanya.
Ayat
selanjutnya menjelaskan bahwa keanekaragaman
yang indah sekali dalam bentuk,
warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya
terdapat pada bunga, buah, dan batu karang, akan tetapi juga pada manusia, binatang buas
dan ternak.
Kata an-nās (manusia),
ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak) tersebut
dapat juga melukiskan manusia dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan,
dan kecenderungan alami. Ungkapan اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya
dari antara hamba-hambanya yang takut kepada Allah dari adalah para ‘ulama,” memberikan bobot
arti kepada pandangan bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu – yakni ‘ulama -- saja yang takut kepada Allah Swt.
‘Ulama
Hakiki Tidak Terbatas Orang-orang Bercimpung Dalam Masalah Syariat
Akan tetapi di
sini ilmu
yang dimiliki oleh ‘ulama
itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu-ilmu
agama dan ilmu keruhanian, akan tetapi juga
berkenaan dengan pengetahuan hukum alam. Sebab penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya
niscaya membawa orang kepada makrifat
mengenai kekuasaan Maha Besar Allah
Ta’ala dan sebagai akibatnya
merasa kagum dan takzim terhadap Tuhan,
sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai makrifat
yang diraih “orang-orang yang
mempergunakan akalnya”:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ
اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی
جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا
مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ
النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi
serta pertukaran malam dan siang لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ
-- benar-benar terdapat
Tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil berbaring
atas rusuk mereka, وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ
فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --
dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi
رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا -- seraya berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali
tidaklah Engkau menciptakan semua ini
sia-sia, سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
-- Maha
Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ
اَخۡزَیۡتَہٗ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam
Api maka sungguh Engkau telah
menghinakannya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ
-- dan sekali-kali tidak ada bagi
orang-orang zalim seorang penolong
pun. (Ali ‘Imran [3]:191-193).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 16 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar