Jumat, 27 Februari 2015

Berbagai Peristiwa Besar di Dunia Berhubungan Erat Dengan Masalah "Ruhani" (Kenabian)




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 66

  
Berbagai Peristiwa Besar  di Dunia  Berhubungan Erat  dengan Masalah Ruhani (Kenabian)

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. tentang  kematian Khosrau II dan kehancuran kerajaan Persia serta nubuatan kehancuran “Bani Kedar yakni kekalahan telak pasukan kafir Quraisy pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawan dalam Perang Badar melawan  pasukan Muslim.
       Dalam bahasa Persia: خسرو دوم Khosraw II, bahasa Arab: كسرى الثاني Kisra II, bahasa Yunani: Chosroes II, dalam sumber-sumber klasik Persia kadang-kadang disebut dengan julukan Parvez artinya  "Yang Selalu Berjaya",  ia adalah seorang kaisar Dinasti Sassania kedua puluh dua. Ia memerintah Persia antara tahun 590-628 Masehi. Ia adalah anak dari Hormizd IV (memerintah 579-590) dan cucu dari Khosrau I (memerintah 531-579).
       Khosrau II dalam tradisi Islam dikenal sebagai  Kisra dari Persia,  yang kepadanya Nabi Besar Muhammad saw. telah mengutus Abdullah as-Sahmi sebagai  pembawa surat yang berisi seruan agar ia  memeluk agama Islam. Berikut isi surat Nabi Besar  Muhammad saw. kepada  raja Persia, Kisra Abrawaiz:
“Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra raja Persia. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah kepada semua umat manusia, untuk memberi peringatan bagi siapa yang hidup. Masuklah Islam maka engkau akan selamat, dan jika engkau mengabaikannya maka atas engkau dosa orang orang Majusi.” (Perawi Ibnu ‘Abbas  dalam  Bukhari dan oleh Ahmad).  
Kebenaran  Nubuatan Al-Quran

       Ketika Nabi Besar Muhammad saw.   mengirim surat tersebut kepada Kisra Abrawaiz raja dari negeri Persia dan menyerunya kepada Islam, namun ketika surat itu dibacakan kepada Kisra Abrawaiz  -- berbeda dengan sikap hormat yang diperlihatkan oleh Hiraclius, Kaisar Romawi ketika  membaca surat yang dikirim Nabi Besar Muhammad saw. kepadanya --   Kisra Persia tersebut ia sangat marah  dan merobeknya sambil berkata, ”Budak rendahan dari rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku”.
      Pada saat berita tersebut sampai kepada Nabi Besar Muhammad saw., beliaupun mengatakan, ”Semoga Allah mencabik-cabik kerajaannya.” Doa tersebut dikabulkan. Persia akhirnya kalah dalam perang menghadapi bangsa Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan. Kemudian iapun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih. Ia dibunuh dan dirampas kekuasaannya.
       Seterusnya kerajaan itu kian tercabik-cabik dan hancur sampai akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Islam pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab r.a. hingga tidak bisa lagi berdiri. Bahkan  beberapa waktu sebelumnya, ketika Nabi Besar Muhammad saw. sedang melakukan hijrah bersama Abu Bakar Shiddiq r.a. dikejar oleh Suraqah bin Malik,  beliau saw. telah bersabda kepadanya bahwa ia akan memakai  gelang-gelang emas Kisra Persia, dan Khalifah Umar bin Khaththab r.a. telah memerintahkan agar Suraqah bin Malik menggenapi nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut.
Jadi, penggenapan nubuatan dalam ayat  غُلِبَتِ  الرُّوۡمُ  -- Bangsa Rumawi telah dikalahkan,  فِیۡۤ  اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَ ہُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ -- di  negeri yang dekat   dan mereka sesudah kekalahan mereka  segera akan memperoleh kemenangan, فِیۡ بِضۡعِ سِنِیۡنَ -- dalam beberapa tahun.” (QS.30:3-5)  itu begitu luar biasa dan tak terduga, sehingga para penulis Kristen yang berpurbasangka, merasa sulit mengelakkan kenyataan itu.
Rodwell mengatakan, bahwa tanda baca huruf hidup pada ungkapan bahasa Arab yang dipergunakan dalam ayat ini dibiarkan tidak pasti, sehingga bacaan ayat itu akan berbunyi sayaghlibun, artinya “mereka menang” atau sayaghlabun artinya “mereka akan dikalahkan”, bahkan ia menambahkan bahwa adanya dua mafhum itu dibuat dengan sengaja. Tuan yang terhormat itu berpura-pura tidak memahami kenyataan yang sederhana, bahwa huruf hidup sesuatu ungkapan yang telah dibaca ratusan kali dalam shalat tiap-tiap hari dan dalam cara lain, sukar dibiarkan tidak pasti.
       Tuan Wherry telah maju selangkah lagi. Ia berkata   Surat-surat kabar harian kita dengan tetap meramalkan kejadian-kejadian politik semacam ini.” Terhadap usaha sia-sia dari tuan Wherry yang ingin mengelakkan dan memperkecil pentingnya nubuatan itu, kiranya perkataan Gibbon yang dinukil di atas memberikan jawaban yang mematahkan.
        Janji  Allah Swt.     dalam ayat وَعۡدَ اللّٰہِ --  sesuai janji Allah,  لَا یُخۡلِفُ اللّٰہُ  وَعۡدَہٗ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ  --  Allah tidak menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rūm [30]:7)  mengenai kemenangan umat Islam atas pasukan kaum musyrik Mekkah dalam Perang Badar   itu disinggung dalam QS.8:42-45,  yang juga diluar prediksi akal, seperti juga kemenangan telak bangsa Rumawi atas bangsa Persia setelah mengalami kekalahan yang mengenaskan di babak awal dalam kurun waktu 9 tahun.

Berlatar-belakang Keruhanian

         Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai penyebab utama terjadinya berbagai peristiwa di alam semesta ini:
یَعۡلَمُوۡنَ ظَاہِرًا مِّنَ  الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا ۚۖ وَ ہُمۡ عَنِ الۡاٰخِرَۃِ   ہُمۡ  غٰفِلُوۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَتَفَکَّرُوۡا فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ ۟ مَا خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ مَا بَیۡنَہُمَاۤ  اِلَّا بِالۡحَقِّ وَ اَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ لَکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَانُوۡۤا  اَشَدَّ مِنۡہُمۡ  قُوَّۃً  وَّ اَثَارُوا الۡاَرۡضَ وَ عَمَرُوۡہَاۤ  اَکۡثَرَ مِمَّا عَمَرُوۡہَا وَ جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ ؕ فَمَا کَانَ اللّٰہُ  لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ  کَانُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  یَظۡلِمُوۡنَ ؕ﴿﴾  ثُمَّ کَانَ عَاقِبَۃَ  الَّذِیۡنَ  اَسَآءُوا السُّوۡٓاٰۤی  اَنۡ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ  وَ  کَانُوۡا بِہَا  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ  ﴿٪﴾
Mereka hanya mengetahui bagian zahir kehidupan dunia ini sedangkan mereka mengenai akhirat mereka lalai.   Apakah   mereka itu tidak merenungkan mengenai diri mereka sendiri, bahwa Allah tidak menciptakan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq dan untuk masa yang telah ditentukan?  Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar kafir (ingkar) terhadap pertemuan dengan Rabb (Tuhan) mereka.     Apakah mereka itu tidak berjalan di bumi ini  maka mereka dapat melihat bagaimana akibatnya orang-orang sebelum mereka? Mereka itu lebih unggul dalam kekuatan daripada mereka, mereka itu mengolah tanah dan menghuninya lebih banyak daripada yang telah mereka huni. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang nyata.  Dan Allah tidak akan berbuat zalim terhadap mereka, melainkan mereka sendirilah yang telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri.   Kemudian sangat buruk aki-bat orang-orang yang berbuat keburukan karena mereka senantiasa men-dustakan Tanda-tanda Allah dan mereka memperolokkannya. (Ar-Rūm [30]:8-11). 
         Makna ayat  یَعۡلَمُوۡنَ ظَاہِرًا مِّنَ  الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا ۚۖ وَ ہُمۡ عَنِ الۡاٰخِرَۃِ   ہُمۡ  غٰفِلُوۡنَ  -- “Mereka hanya mengetahui bagian zahir kehidupan dunia ini sedangkan mereka mengenai akhirat mereka lalai.” Ilmu orang-orang kafir terbatas pada pengertian mengenai sebab-sebab lahiriah kejadian-kejadian, namun sebab-sebab kekalahan orang-orang Persia dan kekalahan kaum Quraisy itu lebih mendalam dan lebih bersifat keruhanian daripada madiah (kebendaan atau lahiriah/jasmani). 
        Sedangkan makna ayat  اَوَ لَمۡ  یَتَفَکَّرُوۡا فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ ۟ مَا خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ مَا بَیۡنَہُمَاۤ  اِلَّا بِالۡحَقِّ وَ اَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ لَکٰفِرُوۡنَ -- “Apakah   mereka itu tidak merenungkan mengenai diri mereka sendiri, bahwa Allah tidak menciptakan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq dan untuk masa yang telah ditentukan? Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar kafir (ingkar) terhadap pertemuan dengan Rabb (Tuhan) mereka.”   
   Seandainya orang-orang kafir  merenungkan daya-daya dan kemampuan-kemampuan besar yang telah dianugerahkan kepada manusia, dan juga seandainya amat terbatasnya jangka waktu mereka di dunia ini, niscaya mereka akan menginsyafi, bahwasanya kehidupan manusia di muka bumi ini bukanlah tujuan mutlak dan bukan pula akhir bagi kejadian manusia,  dan bahwa ada kehidupan yang lebih sempurna dan lebih baik di seberang kubur  sesudah mati, tempat kemajuan ruhani manusia yang tiada batas dan hingganya, dan mereka akan menyadari bahwa kehidupan di dunia ini ini hanya merupakan persiapan belaka bagi kehidupan di akhirat.

Para “Pencatat Mulia” & Pemilik “Hari Pembalasan”

         Tetapi bagi orang-orang yang memilih “kebutaan ruhani” seperti itu berapa banyak pun Tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah Swt. ditampilkan di hadapan mereka akan sia-sia saja (QS.2:7;  QS.6:112-114; QS.26:137; QS.36:11), firman-Nya:
کَلَّا  بَلۡ تُکَذِّبُوۡنَ بِالدِّیۡنِ ۙ﴿﴾  وَ  اِنَّ عَلَیۡکُمۡ  لَحٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾  کِرَامًا  کَاتِبِیۡنَ ﴿ۙ﴾  یَعۡلَمُوۡنَ مَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ ﴿ۚ﴾ وَ  اِنَّ  الۡفُجَّارَ لَفِیۡ جَحِیۡمٍ ﴿ۚۖ﴾ یَّصۡلَوۡنَہَا یَوۡمَ الدِّیۡنِ﴿﴾ وَ مَا ہُمۡ عَنۡہَا بِغَآئِبِیۡنَ ﴿ؕ﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ﴿ؕ﴾  یَوۡمَ لَا تَمۡلِکُ نَفۡسٌ لِّنَفۡسٍ شَیۡئًا ؕ وَ الۡاَمۡرُ  یَوۡمَئِذٍ  لِّلّٰہِ ﴿٪﴾
Tidak hanya itu, bahkan kamu mendustakan pembalasan.    Dan sesungguhnya atas kamu ada pengawas-pengawas, pencatat-pencatat  mulia, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.  اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ ﴿ۚ﴾ وَ  اِنَّ  الۡفُجَّارَ لَفِیۡ جَحِیۡمٍ  --   Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan niscaya  dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang berdosa niscaya tinggal di dalam Jahannam. یَّصۡلَوۡنَہَا یَوۡمَ الدِّیۡنِ   -- Mereka akan masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. وَ مَا ہُمۡ عَنۡہَا بِغَآئِبِیۡنَ  --       dan mereka sekali-kali tidak akan lolos darinya.  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ  -- dan  apakah yang engkau tahu apa Hari Pembalasan itu?  ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ  --  Kemudian,  apakah yang membuat engkau tahu apa Hari Pem-balasan itu?  یَوۡمَ لَا تَمۡلِکُ نَفۡسٌ لِّنَفۡسٍ شَیۡئًا -- Pada hari itu tidak ada jiwa mempunyai kekuatan sedikitpun untuk memberi manfaat bagi jiwa lain!  وَ الۡاَمۡرُ  یَوۡمَئِذٍ  لِّلّٰہِ --  Dan segala keputusan pada hari itu kepunyaan Allah. (Al-Infithār [82]:10-20). 
   Manusia dilahirkan sebagai makhluk bebas dan bertanggung-jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya dan perbuatan-perbuatan yang dilakukannya itu dicatat oleh “Pencatat-pencatat mulia”   -- yakni para malaikat pencatat  atau perekam amal  --  yang harus mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.,  Pemilik Hari Pembalasan  (QS.1:4), dan “Hakim yang Paling Adil”, firman-Nya:
 لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ  اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ ۫﴿﴾  ثُمَّ  رَدَدۡنٰہُ  اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ ۙ﴿﴾  اِلَّا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ  اَجۡرٌ غَیۡرُ  مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿﴾  فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾  اَلَیۡسَ اللّٰہُ  بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ ٪﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan insan  (manusia) dalam sebaik-baik  bentuk. Kemudian Kami mengembalikannya kepada tingkat paling rendah,  Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya. فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ -- Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan Hari Pembalasan sesudah itu?  اَلَیۡسَ اللّٰہُ  بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ -- Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim? (At-Tīn [95]:5-9).
       Penghakiman” yang dilakukan Allah Swt. sebagai “Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim  tersebut dimulai dalam kehidupan di dunia ini, karena itu Allah Swt. disebut “Pemilik Hari Pembalasan”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ    رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾  الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾
Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Segala  puji hanya bagi  Allah,  رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  Rabb (Tuhan) seluruh alam, الرَّحۡمٰنِ   --  Maha Pemurah, الرَّحِیۡمِ  --   Maha Penyayang,     مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ --   Pemilik   Hari   Pembalasan. (Al-Fatihah [1]:1-4).

Allah Swt. Menjadi “Orang-orang Kafir” Sebagai Sarana Penghukuman Atas “Orang-orang Beriman”

        Ada pun yang menakjubkan adalah,  bahwa dalam melakukan “penghakiman  berupa  penghukuman” kepada orang-orang beriman yang melakukan kedurhakaan  kepada Rasul-Nya,  Allah Swt. menggunakan “orang-orang kafir” sebagai sarana penghukuman-Nya tersebut.
      Sunnatullah tersebut terjadi baik kepada Bani Israil mau pun kepada Bani Isma’il (umat Islam), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali,  dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ  --   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا  -- dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya.  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ   --   Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri,  وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  --  Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu,  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ    --  Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu,   dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا  --  dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.  (Bani Israil [17]:5-8)

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi  Isa Ibnu Maryam a.s.  & “Rayap” Pemakan “Tongkat” Nabi Sulaiman a.s.

          Dua kedurhakaan Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat ini. Mereka, di antara Bani Israi  yang tidak beriman  telah dua kali dikutuk  yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.5:79), dan sebagai akibatnya telah dihukum pula dua kali.
         Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani Israil sesudah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s.,  dan hukuman yang kedua terjadi sesudah upaya permbunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban,(QS.4:158-159),  firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil    telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.  Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya,  benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan.  Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ --    benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal. (Al-Māidah [5]:79-81).
       Nampak dari Bible bahwa sesudah Nabi Musa a.s., orang-orang Yahudi telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat, dan di masa Nabi Daud a.s. mereka meletakkan dasar suatu kerajaan kuat (QS.2:244-253), bahkan setelah wafatnya pun   -- yakni di masa Nabi Sulaiman a.s. --  untuk beberapa waktu terus berlanjut kejayaan dan kemuliaan Bani Israil.   
       Kemudian kerajaan Bani Israil itu menjadi sasaran kemunduran yang berangsur-angsur, dan pada sekitar 733 s.M. Samaria ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang mencaplok seluruh daerah Israil di sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M., Palestina telah dilanda oleh satu lasykar Mesir di bawah Firaun Necho, dan Bani Israil takluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish  Encyclopaedia Jilid 6, halaman 665).
        Mengisyaratkan kepada hal itulah perumpamaan “rayap  pemakan tongkat” Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ  الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ  اِلَّا دَآبَّۃُ  الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Maka tatkala Kami menentukan kematiannya, sekali-kali tidak ada  yang menunjukkan kematiannya kepada mereka  اِلَّا دَآبَّۃُ  الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ   -- selain rayap bumi  yang memakan tongkatnya, maka tatkala  tatkala tongkat itu jatuh, jin-jin mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib, mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan.  (Sabā [34]:15).
      Putra yang sia-sia sebagai penerus Nabi Sulaiman a.s., Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s.  yang tadinya besar dan berkuasa telah menjadi berantakan (I  Raja-raja, fatsal 12, 13, 14 & Jewish Encyclopaedia di bawah “Rehoboam”). Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman a.s.  mulai berlaku pada masa pemerintahan Rehoboam.

Serbuan Bala Tentara Raja Nebukadnezar dari Babilonia

        Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi mereka serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong Bani Israil  untuk memperbaiki cara-cara mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah a.s., memperingatkan mereka supaya meninggalkan cara-cara buruk mereka, sebab kemurkaan Allah tidak lama lagi akan menimpa mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan Nabi Yermiah a.s. . tersebut.
      Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar dari Babil melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan membawa pulang perkakas rumah peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan. Pada tahun 597 s.M. pun kota itu dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang sangat keras.
         Tetapi pemberontakan raja Zedekia membawa akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota Yerusalem  itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar.
         Putra-putra  Zedekia dibunuh dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil. Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia, Jilid 6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).
          Peristiwa itulah yang diisyaratkan  dalam ayat  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ  --   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا  -- dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.” 
        Dan mengisyaratkan kepada peristiwa penghancuran kota  Yerusalem yang pertama itu pulalah firman-Nya berikut ini:
اَوۡ کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ  اللّٰہُ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ  اِلٰی طَعَامِکَ وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ  اَنَّ اللّٰہَ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Atau  seperti perumpamaan orang yang melalui suatu kota  yang  dinding-dindingnya telah runtuh    atas atap-atapnya, kemudian ia berkata: “Kapankah Allah akan menghidupkan kembali kota ini sesudah  kematian  yakni kehancurannya?” Lalu Allah mematikannya seratus tahun  lama-nya, kemudian Dia membangkitkannya lagi dan berfirman: “Berapa lamakah engkau tinggal dalam keadaan seperti ini?” Ia berkata: “Aku tinggal sehari atau sebagian hari. Dia berfirman:  “Tidak, bahkan  engkau telah tinggal seratus tahun lamanya. Tetapi lihatlah makanan engkau dan minuman engkau, itu sekali-kali tidak membusuk, dan lihat pulalah keledai engkau,  dan Kami melakukan demikian itu supaya Kami menjadikan engkau sebagai Tanda bagi manusia. Dan  lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami menatanya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala kenyataan ini menjadi jelas baginya ia berkata: “Aku mengetahui bahwa sesungguh-nya Allāh berkuasa atas segala se-suatu.” (Al-Baqarah [2]:260).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 25  Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar