بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 66
Berbagai
Peristiwa Besar di Dunia
Berhubungan Erat dengan Masalah Ruhani (Kenabian)
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah
dibahas mengenai nubuatan Nabi Besar
Muhammad saw. tentang kematian Khosrau
II dan kehancuran kerajaan Persia serta
nubuatan kehancuran “Bani Kedar” yakni kekalahan telak pasukan kafir Quraisy
pimpinan Abu Jahal dan kawan-kawan
dalam Perang Badar melawan pasukan Muslim.
Dalam bahasa Persia: خسرو دوم Khosraw II, bahasa Arab: كسرى الثاني Kisra II, bahasa Yunani: Chosroes II, dalam sumber-sumber klasik Persia
kadang-kadang disebut dengan julukan Parvez artinya "Yang
Selalu Berjaya", ia adalah
seorang kaisar Dinasti Sassania kedua puluh dua. Ia memerintah Persia antara tahun 590-628 Masehi. Ia adalah anak dari Hormizd
IV (memerintah
579-590) dan cucu dari Khosrau I (memerintah 531-579).
Khosrau II dalam tradisi Islam dikenal sebagai Kisra
dari Persia, yang kepadanya Nabi Besar Muhammad saw. telah mengutus Abdullah as-Sahmi sebagai pembawa
surat yang berisi seruan agar ia memeluk agama
Islam. Berikut isi surat Nabi Besar Muhammad saw. kepada raja Persia, Kisra Abrawaiz:
“Dengan Nama Allah
yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra
raja Persia. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, yang beriman kepada
Allah dan RasulNya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku
adalah utusan Allah kepada semua umat manusia, untuk memberi peringatan bagi
siapa yang hidup. Masuklah Islam maka engkau akan selamat, dan jika engkau
mengabaikannya maka atas engkau dosa orang orang Majusi.” (Perawi Ibnu ‘Abbas dalam Bukhari
dan oleh Ahmad).
Kebenaran Nubuatan Al-Quran
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. mengirim surat
tersebut kepada Kisra Abrawaiz raja
dari negeri Persia dan menyerunya
kepada Islam, namun ketika surat itu
dibacakan kepada Kisra Abrawaiz -- berbeda dengan sikap hormat yang diperlihatkan oleh Hiraclius, Kaisar Romawi ketika
membaca surat yang dikirim
Nabi Besar Muhammad saw. kepadanya -- Kisra
Persia tersebut ia sangat marah dan merobeknya
sambil berkata, ”Budak rendahan dari
rakyatku menuliskan namanya mendahuluiku”.
Pada saat berita tersebut sampai kepada Nabi
Besar Muhammad saw., beliaupun mengatakan, ”Semoga
Allah mencabik-cabik kerajaannya.” Doa tersebut dikabulkan. Persia akhirnya kalah
dalam perang menghadapi bangsa Romawi dengan kekalahan yang menyakitkan. Kemudian iapun digulingkan oleh anaknya sendiri yakni Syirawaih.
Ia dibunuh dan dirampas kekuasaannya.
Seterusnya kerajaan itu kian tercabik-cabik dan hancur sampai
akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Islam
pada jaman Khalifah Umar bin Khaththab r.a.
hingga tidak bisa lagi berdiri. Bahkan
beberapa waktu sebelumnya, ketika Nabi Besar Muhammad saw. sedang
melakukan hijrah bersama Abu Bakar
Shiddiq r.a. dikejar oleh Suraqah bin
Malik, beliau saw. telah bersabda
kepadanya bahwa ia akan memakai gelang-gelang emas Kisra Persia, dan
Khalifah Umar bin Khaththab r.a. telah memerintahkan
agar Suraqah bin Malik menggenapi nubuatan Nabi Besar Muhammad saw.
tersebut.
Jadi, penggenapan nubuatan dalam ayat غُلِبَتِ
الرُّوۡمُ -- Bangsa Rumawi telah dikalahkan,
فِیۡۤ اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَ ہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ -- di negeri yang dekat dan mereka
sesudah kekalahan mereka segera akan memperoleh kemenangan, فِیۡ بِضۡعِ
سِنِیۡنَ -- dalam beberapa tahun.” (QS.30:3-5)
itu begitu luar biasa dan tak terduga, sehingga para penulis Kristen yang berpurbasangka, merasa sulit mengelakkan
kenyataan itu.
Rodwell mengatakan, bahwa tanda
baca huruf hidup pada ungkapan bahasa
Arab yang dipergunakan dalam ayat ini dibiarkan tidak pasti, sehingga bacaan ayat itu akan berbunyi sayaghlibun,
artinya “mereka menang” atau sayaghlabun
artinya “mereka akan dikalahkan”,
bahkan ia menambahkan bahwa adanya dua mafhum itu dibuat dengan sengaja. Tuan
yang terhormat itu berpura-pura tidak
memahami kenyataan yang sederhana, bahwa huruf
hidup sesuatu ungkapan yang telah dibaca ratusan kali dalam shalat
tiap-tiap hari dan dalam cara lain, sukar dibiarkan tidak pasti.
Tuan Wherry telah maju selangkah lagi. Ia
berkata “Surat-surat kabar harian kita dengan tetap meramalkan kejadian-kejadian
politik semacam ini.” Terhadap usaha
sia-sia dari tuan Wherry yang ingin mengelakkan dan memperkecil pentingnya nubuatan itu, kiranya perkataan Gibbon
yang dinukil di atas memberikan jawaban
yang mematahkan.
Janji Allah Swt.
dalam ayat وَعۡدَ اللّٰہِ -- sesuai
janji Allah, لَا یُخۡلِفُ
اللّٰہُ وَعۡدَہٗ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- Allah
tidak menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. (Ar-Rūm [30]:7) mengenai kemenangan
umat Islam atas pasukan kaum musyrik
Mekkah dalam Perang Badar itu
disinggung dalam QS.8:42-45, yang juga
diluar prediksi akal, seperti juga kemenangan telak bangsa Rumawi atas bangsa Persia setelah mengalami kekalahan yang mengenaskan di babak awal
dalam kurun waktu 9 tahun.
Berlatar-belakang Keruhanian
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai penyebab utama terjadinya
berbagai peristiwa di alam semesta
ini:
یَعۡلَمُوۡنَ ظَاہِرًا مِّنَ الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا ۚۖ وَ ہُمۡ عَنِ الۡاٰخِرَۃِ
ہُمۡ غٰفِلُوۡنَ ﴿﴾ اَوَ لَمۡ
یَتَفَکَّرُوۡا فِیۡۤ
اَنۡفُسِہِمۡ ۟ مَا خَلَقَ اللّٰہُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ مَا بَیۡنَہُمَاۤ اِلَّا بِالۡحَقِّ وَ اَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ وَ
اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ لَکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ اَوَ لَمۡ
یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَیَنۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَانُوۡۤا اَشَدَّ مِنۡہُمۡ قُوَّۃً
وَّ اَثَارُوا الۡاَرۡضَ وَ عَمَرُوۡہَاۤ
اَکۡثَرَ مِمَّا عَمَرُوۡہَا وَ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ ؕ فَمَا کَانَ
اللّٰہُ لِیَظۡلِمَہُمۡ وَ لٰکِنۡ کَانُوۡۤا
اَنۡفُسَہُمۡ یَظۡلِمُوۡنَ ؕ﴿﴾ ثُمَّ کَانَ عَاقِبَۃَ الَّذِیۡنَ
اَسَآءُوا السُّوۡٓاٰۤی اَنۡ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ وَ
کَانُوۡا بِہَا
یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿٪﴾
Mereka hanya
mengetahui bagian zahir kehidupan dunia
ini sedangkan mereka mengenai akhirat
mereka lalai. Apakah mereka itu tidak merenungkan mengenai diri
mereka sendiri, bahwa Allah
tidak menciptakan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq dan untuk masa yang telah ditentukan? Dan sesungguhnya kebanyakan manusia benar-benar kafir (ingkar)
terhadap pertemuan dengan Rabb (Tuhan) mereka. Apakah mereka
itu tidak berjalan di bumi ini maka mereka dapat melihat bagaimana akibatnya
orang-orang sebelum mereka? Mereka itu lebih
unggul dalam kekuatan daripada mereka, mereka itu mengolah tanah dan
menghuninya lebih banyak daripada yang telah mereka huni. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul
mereka dengan Tanda-tanda yang nyata.
Dan Allah tidak akan berbuat zalim terhadap
mereka, melainkan mereka sendirilah
yang telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri. Kemudian sangat
buruk aki-bat orang-orang yang berbuat keburukan karena mereka senantiasa men-dustakan Tanda-tanda
Allah dan mereka memperolokkannya.
(Ar-Rūm
[30]:8-11).
Makna ayat یَعۡلَمُوۡنَ
ظَاہِرًا مِّنَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚۖ وَ ہُمۡ عَنِ الۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ
غٰفِلُوۡنَ -- “Mereka hanya mengetahui bagian zahir kehidupan dunia ini sedangkan mereka mengenai akhirat mereka lalai.”
Ilmu orang-orang kafir terbatas pada pengertian mengenai sebab-sebab lahiriah kejadian-kejadian, namun sebab-sebab kekalahan orang-orang Persia dan kekalahan kaum
Quraisy itu lebih mendalam dan lebih bersifat
keruhanian daripada madiah
(kebendaan atau lahiriah/jasmani).
Sedangkan makna ayat
اَوَ لَمۡ
یَتَفَکَّرُوۡا فِیۡۤ
اَنۡفُسِہِمۡ ۟ مَا خَلَقَ اللّٰہُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ مَا بَیۡنَہُمَاۤ اِلَّا بِالۡحَقِّ وَ اَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ وَ
اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَآیِٔ رَبِّہِمۡ لَکٰفِرُوۡنَ -- “Apakah mereka itu tidak merenungkan mengenai diri
mereka sendiri, bahwa Allah
tidak menciptakan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq dan untuk masa yang telah ditentukan? Dan
sesungguhnya kebanyakan manusia
benar-benar kafir (ingkar) terhadap pertemuan
dengan Rabb (Tuhan) mereka.”
Seandainya orang-orang kafir merenungkan daya-daya dan kemampuan-kemampuan
besar yang telah dianugerahkan kepada manusia, dan juga seandainya amat terbatasnya jangka waktu mereka di
dunia ini, niscaya mereka akan menginsyafi,
bahwasanya kehidupan manusia di muka
bumi ini bukanlah tujuan mutlak dan
bukan pula akhir bagi kejadian manusia, dan bahwa ada kehidupan yang lebih sempurna
dan lebih baik di seberang kubur sesudah mati,
tempat kemajuan ruhani manusia yang
tiada batas dan hingganya, dan mereka akan menyadari
bahwa kehidupan di dunia ini ini
hanya merupakan persiapan belaka bagi
kehidupan di akhirat.
Para “Pencatat
Mulia” & Pemilik “Hari Pembalasan”
Tetapi bagi orang-orang yang memilih “kebutaan ruhani” seperti itu berapa
banyak pun Tanda-tanda keberadaan dan
kekuasaan Allah Swt. ditampilkan di
hadapan mereka akan sia-sia saja
(QS.2:7; QS.6:112-114; QS.26:137;
QS.36:11), firman-Nya:
کَلَّا بَلۡ تُکَذِّبُوۡنَ بِالدِّیۡنِ ۙ﴿﴾ وَ اِنَّ
عَلَیۡکُمۡ لَحٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾ کِرَامًا
کَاتِبِیۡنَ ﴿ۙ﴾ یَعۡلَمُوۡنَ مَا
تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ
﴿ۚ﴾ وَ اِنَّ الۡفُجَّارَ لَفِیۡ جَحِیۡمٍ ﴿ۚۖ﴾ یَّصۡلَوۡنَہَا
یَوۡمَ الدِّیۡنِ﴿﴾ وَ مَا ہُمۡ عَنۡہَا بِغَآئِبِیۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ
الدِّیۡنِ﴿ؕ﴾ یَوۡمَ لَا تَمۡلِکُ
نَفۡسٌ لِّنَفۡسٍ شَیۡئًا ؕ وَ الۡاَمۡرُ
یَوۡمَئِذٍ لِّلّٰہِ ﴿٪﴾
Tidak hanya
itu, bahkan kamu mendustakan
pembalasan. Dan sesungguhnya atas kamu ada pengawas-pengawas, pencatat-pencatat
mulia, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
اِنَّ
الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ ﴿ۚ﴾ وَ اِنَّ
الۡفُجَّارَ لَفِیۡ جَحِیۡمٍ
-- Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan niscaya dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang berdosa niscaya tinggal di dalam Jahannam. یَّصۡلَوۡنَہَا یَوۡمَ الدِّیۡنِ -- Mereka akan
masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. وَ مَا ہُمۡ عَنۡہَا
بِغَآئِبِیۡنَ -- dan
mereka sekali-kali tidak akan lolos
darinya. وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ -- dan
apakah yang engkau tahu apa Hari Pembalasan itu? ﴿ۙ﴾
ثُمَّ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ
-- Kemudian, apakah
yang membuat engkau tahu apa Hari
Pem-balasan itu? یَوۡمَ لَا تَمۡلِکُ
نَفۡسٌ لِّنَفۡسٍ شَیۡئًا -- Pada hari itu tidak ada jiwa
mempunyai kekuatan sedikitpun untuk memberi manfaat bagi jiwa lain! وَ الۡاَمۡرُ یَوۡمَئِذٍ
لِّلّٰہِ -- Dan
segala keputusan pada hari itu kepunyaan Allah. (Al-Infithār [82]:10-20).
Manusia dilahirkan sebagai makhluk bebas dan bertanggung-jawab atas keputusan-keputusan
yang diambilnya dan perbuatan-perbuatan
yang dilakukannya itu dicatat oleh “Pencatat-pencatat mulia” --
yakni para malaikat pencatat
atau perekam amal -- yang harus mereka pertanggungjawabkan di
hadapan Allah Swt., Pemilik Hari
Pembalasan (QS.1:4), dan “Hakim
yang Paling Adil”, firman-Nya:
لَقَدۡ خَلَقۡنَا
الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ
۫﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ
اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ ۙ﴿﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
فَلَہُمۡ اَجۡرٌ غَیۡرُ مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿﴾ فَمَا یُکَذِّبُکَ
بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اَلَیۡسَ
اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ ٪﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah menciptakan insan (manusia) dalam sebaik-baik bentuk.
Kemudian Kami mengembalikannya kepada
tingkat paling rendah, Kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tidak ada putus-putusnya. فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ
-- Maka apakah yang menyebabkan engkau
mendustakan Hari Pembalasan sesudah itu?
اَلَیۡسَ اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ
-- Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di
antara para hakim? (At-Tīn
[95]:5-9).
“Penghakiman” yang dilakukan Allah Swt.
sebagai “Hakim Yang Maha Adil di
antara para hakim” tersebut dimulai dalam kehidupan di dunia ini, karena itu Allah Swt. disebut “Pemilik Hari Pembalasan”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala
puji hanya bagi Allah,
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Rabb
(Tuhan) seluruh alam, الرَّحۡمٰنِ -- Maha
Pemurah, الرَّحِیۡمِ -- Maha
Penyayang, مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ -- Pemilik
Hari Pembalasan. (Al-Fatihah [1]:1-4).
Allah Swt. Menjadi “Orang-orang
Kafir” Sebagai Sarana Penghukuman
Atas “Orang-orang Beriman”
Ada pun yang menakjubkan adalah, bahwa
dalam melakukan “penghakiman” berupa
“penghukuman” kepada orang-orang beriman yang melakukan kedurhakaan kepada Rasul-Nya,
Allah Swt. menggunakan “orang-orang kafir” sebagai sarana penghukuman-Nya tersebut.
Sunnatullah
tersebut terjadi baik kepada Bani Israil
mau pun kepada Bani Isma’il (umat
Islam), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang sangat besar.” فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ -- Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat,
dan mereka menerobos jauh ke dalam
rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan
itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat
ihsan bagi diri kamu sendiri, وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- dan jika
kamu berbuat buruk maka itu untuk diri kamu sendiri. فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ -- Lalu bila datang saat sempurnanya janji
yang kedua itu, لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ -- Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu, dan
supaya mereka memasuki masjid
seperti pernah mereka memasukinya pada
kali pertama, وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا -- dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. (Bani
Israil [17]:5-8)
Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & “Rayap”
Pemakan “Tongkat” Nabi Sulaiman a.s.
Dua
kedurhakaan Bani Israil yang tersebut
dalam kitab Musa a.s. (Ulangan
28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat ini. Mereka, di antara Bani Israi yang tidak beriman telah dua kali dikutuk yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79), dan sebagai akibatnya telah dihukum pula dua kali.
Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani Israil sesudah Nabi Daud a.s. dan
Nabi Sulaiman a.s., dan hukuman yang kedua terjadi sesudah upaya
permbunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban,(QS.4:158-159), firman-Nya:
لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ
ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari
kalangan Bani Israil telah
dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
hal demikian itu karena mereka
senantiasa durhaka dan melampaui
batas. Mereka tidak pernah saling
mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat buruk apa yang
senantiasa mereka kerjakan. Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai
pelindung, لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ
وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- benar-benar sangat buruk apa yang telah
mereka dahulukan bagi diri mereka yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. (Al-Māidah [5]:79-81).
Nampak dari Bible bahwa sesudah Nabi Musa a.s., orang-orang Yahudi telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat,
dan di masa Nabi Daud a.s. mereka meletakkan dasar suatu kerajaan kuat (QS.2:244-253), bahkan setelah
wafatnya pun -- yakni di masa Nabi
Sulaiman a.s. -- untuk beberapa waktu
terus berlanjut kejayaan dan kemuliaan Bani Israil.
Kemudian kerajaan Bani Israil itu
menjadi sasaran kemunduran yang
berangsur-angsur, dan pada sekitar 733 s.M. Samaria ditaklukkan oleh bangsa
Assiria, yang mencaplok seluruh daerah Israil di sebelah utara Yezreel. Pada
tahun 608 s.M., Palestina telah dilanda oleh satu lasykar Mesir di bawah Firaun
Necho, dan Bani Israil takluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish Encyclopaedia
Jilid 6, halaman 665).
Mengisyaratkan kepada hal itulah perumpamaan “rayap pemakan tongkat” Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
فَلَمَّا
قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ الۡمَوۡتَ مَا
دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ اِلَّا
دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ
مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا
یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Maka tatkala
Kami menentukan kematiannya,
sekali-kali tidak ada yang menunjukkan kematiannya kepada
mereka اِلَّا دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ -- selain rayap bumi yang memakan tongkatnya, maka tatkala tatkala
tongkat itu jatuh, jin-jin mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib, mereka sekali-kali
tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan. (Sabā [34]:15).
Putra
yang sia-sia sebagai penerus Nabi Sulaiman a.s., Rehoboam; di bawah
pemerintahannya yang lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang tadinya besar dan berkuasa telah
menjadi berantakan (I Raja-raja, fatsal 12, 13, 14
& Jewish Encyclopaedia di
bawah “Rehoboam”). Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman
a.s. mulai berlaku pada masa
pemerintahan Rehoboam.
Serbuan Bala Tentara Raja
Nebukadnezar dari Babilonia
Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi mereka serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong Bani Israil untuk
memperbaiki cara-cara mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah a.s., memperingatkan mereka
supaya meninggalkan cara-cara buruk mereka,
sebab kemurkaan Allah tidak lama lagi
akan menimpa mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan Nabi Yermiah a.s. .
tersebut.
Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar
dari Babil melancarkan serbuan pertamanya
ke Palestina dan membawa pulang
perkakas rumah peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan. Pada
tahun 597 s.M. pun kota itu dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang
sangat keras.
Tetapi pemberontakan raja Zedekia
membawa akibat adanya serbuan kedua
oleh Nebukadnezar pada tahun 587
s.M., dan sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota Yerusalem itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana
halilintar.
Putra-putra Zedekia dibunuh dan matanya sendiri dicukil,
dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil.
Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia, Jilid 6, hlm. 665 & Jilid
7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).
Peristiwa itulah yang
diisyaratkan dalam ayat فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ -- Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat,
dan mereka menerobos jauh ke dalam
rumah-rumah, وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا -- dan
itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.”
Dan mengisyaratkan kepada peristiwa penghancuran kota Yerusalem
yang pertama itu pulalah firman-Nya berikut ini:
اَوۡ
کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ
اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ اللّٰہُ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ
لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ
مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰی طَعَامِکَ
وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ
اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ
نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Atau seperti
perumpamaan orang yang
melalui suatu kota yang
dinding-dindingnya telah
runtuh atas atap-atapnya, kemudian ia berkata: “Kapankah Allah akan menghidupkan kembali
kota ini sesudah kematian
yakni kehancurannya?” Lalu Allah
mematikannya seratus tahun lama-nya, kemudian Dia membangkitkannya lagi dan berfirman: “Berapa lamakah engkau tinggal dalam
keadaan seperti ini?” Ia berkata: “Aku
tinggal sehari atau sebagian hari.
Dia berfirman: “Tidak, bahkan engkau telah tinggal seratus tahun lamanya.
Tetapi lihatlah makanan engkau
dan minuman engkau, itu sekali-kali tidak membusuk, dan lihat pulalah
keledai engkau, dan Kami melakukan demikian itu supaya Kami menjadikan engkau sebagai Tanda bagi manusia. Dan lihatlah tulang-belulang itu bagaimana Kami
menatanya kembali, kemudian Kami
membalutnya dengan daging.” Maka tatkala kenyataan ini menjadi jelas baginya ia berkata: “Aku mengetahui bahwa sesungguh-nya Allāh berkuasa atas segala
se-suatu.” (Al-Baqarah
[2]:260).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 25 Februari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar