بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 53
Golongan Jin atau Syaitan
“Melepaskan Diri” dari
Tanggungjawab Provokasi dan Penipuan yang Dilakukannya Terhadap
Golongan Ins (Masyarakat)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai tugas
utama kedatangan “Anak Manusia”
yaitu Al-Masih Mau’ud a.s., sebagai “Nafiri
(Sangkakala)” yang menyuarakan “seruan”
Allah Swt. (QS.3:194). Yakni “Anak Manusia” -- bukan “anak Tuhan” -- tersebut datang untuk mengajak umat manusia hanya menyembah satu Tuhan yang sama, yaitu Allah
Swt. (QS.5:117-119; QS.16-36-38).
Mengapa
demikian? Sebab sudah merupakan
Sunnatullāh hanya Allah Swt.
sajalah yang berkuasa melakukan
menciptakan “langit baru dan bumi baru” atau “Yerusalem baru” yang turun dari “surga” melalui pengutusan Rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37),
sedangkan “tuhan Yesus” serta “tuhan-tuhan
palsu” lainnya telah gagal menyelamatkan para penyembahnya
dari
bencana dahsyat Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sekali pun telah
dibentuk Liga Bangsa-bangsa yang
kemudian menjadi PBB (Perserikatan
Bangsa-bangsa), yang pembentukannya disponsori
oleh golongan Jin (penganut sistem Kapitalisme) dan ins
(penganut system Sosialisme),
benarlah firman-Nya:
مَاۤ اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ مُتَّخِذَ الۡمُضِلِّیۡنَ عَضُدًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ
فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّوۡبِقًا ﴿﴾ وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا ﴿٪﴾ وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ جَدَلًا ﴿﴾
Aku sekali-kali tidak
membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi, dan tidak
pula penciptaan mereka sendiri, dan Aku
sama sekali tidak dapat mengambil mereka yang menyesatkan orang-orang
sebagai pembantu. Dan ingatlah hari ketika Dia akan berfirman kepada
mereka: نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ -- "Panggillah
mereka yang kamu anggap sekutu-sekutu-Ku." فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّوۡبِقًا --
Lalu mereka akan memanggil mereka itu tetapi mereka
itu tidak akan menjawabnya dan Kami menjadikan di antara mereka suatu
penghalang." وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا -- Dan
orang-orang yang berdosa akan melihat Api itu, dan meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak akan dapat menemukan tempat berpaling darinya. وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah
menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia setiap
perumpamaan, وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ جَدَلًا
-- tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah.
(Al-Kahf [18]:52-55).
Resiko Berbahaya Melakukan Pendakwaan
Palsu dan Mendustakan Rasul Allah
Resiko mendakwakan sebagai Rasul Allah sangat besar,
demikian juga resiko mendustakan dan menentang Rasul Allah -- yang
merupakan Tanda-tanda Allah yang
paling besar dan nyata -- pun sangat
besar pula, firman-Nya:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ
افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ
کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا
اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ
کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ ادۡخُلُوۡا فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ مِّنَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ فِی النَّارِ ؕ کُلَّمَا دَخَلَتۡ اُمَّۃٌ لَّعَنَتۡ اُخۡتَہَا ؕ حَتّٰۤی اِذَا
ادَّارَکُوۡا فِیۡہَا جَمِیۡعًا ۙ قَالَتۡ اُخۡرٰىہُمۡ لِاُوۡلٰىہُمۡ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ
اَضَلُّوۡنَا فَاٰتِہِمۡ عَذَابًا ضِعۡفًا مِّنَ النَّارِ ۬ؕ قَالَ لِکُلٍّ ضِعۡفٌ
وَّ لٰکِنۡ لَّا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالَتۡ اُوۡلٰىہُمۡ لِاُخۡرٰىہُمۡ فَمَا کَانَ
لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ
﴿﴾
Maka siapakah yang
lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan
terhadap Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka akan
memperoleh bagian mereka sebagaimana telah
ditetapkan, hingga apabila
datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawanya seraya
berkata: اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ
مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ -- ”Di
manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ
شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ
اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ -- Mereka
berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.”
Dan mereka memberi kesaksian terhadap diri
mereka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. قَالَ ادۡخُلُوۡا فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ مِّنَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ فِی النَّارِ -- Dia berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Api bersama
umat-umat jin dan ins (manusia) yang
telah berlalu sebelummu.” کُلَّمَا دَخَلَتۡ اُمَّۃٌ لَّعَنَتۡ اُخۡتَہَا -- Setiap kali suatu umat masuk, umat itu akan mengutuk saudara-saudaranya dari umat lain, حَتّٰۤی اِذَا ادَّارَکُوۡا
فِیۡہَا جَمِیۡعًا ۙ قَالَتۡ اُخۡرٰىہُمۡ
لِاُوۡلٰىہُمۡ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ اَضَلُّوۡنَا فَاٰتِہِمۡ عَذَابًا
ضِعۡفًا مِّنَ النَّارِ -- hingga apabila
mereka semua telah tiba berturut-turut di dalamnya, maka mereka
yang terakhir berkata mengenai mereka yang terdahulu: “Ya Rabb (Tuhan) kami, mereka ini telah menyesatkan kami, karena itu berilah mereka azab
Api berlipat-ganda.” قَالَ لِکُلٍّ ضِعۡفٌ وَّ لٰکِنۡ
لَّا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Bagi masing-masing mendapat azab berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.” وَ قَالَتۡ اُوۡلٰىہُمۡ
لِاُخۡرٰىہُمۡ فَمَا کَانَ لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍ --
Dan mereka yang terdahulu
berkata kepada mereka yang terakhir: “Tidak ada bagi kamu suatu kelebihan atas kami, فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ -- maka rasakanlah azab itu disebabkan oleh apa yang senantiasa kamu lakukan.” (Al-Arāf [7]:38-40).
Berikut ini beberapa Surah Al-Quran yang juga
mengemukakan pertengkaran antara golongahn jin (pemuka kaum) dan ins
(para pengikut mereka) mengenai “kerjasama” mereka dalam melakukan penentang terhadap Rasul Allah yang diutus kepada mereka, firman-Nya:
وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ جَمِیۡعًا
فَقَالَ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا
فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ قَالُوۡا
لَوۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ لَہَدَیۡنٰکُمۡ ؕ
سَوَآءٌ عَلَیۡنَاۤ اَجَزِعۡنَاۤ
اَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِنۡ
مَّحِیۡصٍ ﴿٪﴾ وَ قَالَ
الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ
وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ
سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ
فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ
بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan mereka itu
semua akan tampil di hadapan Allah, maka akan berkata orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang takabur: “Sesungguhnya
kami dahulu pengikut-pengikut kamu,
lalu tidak dapatkah kamu mengelakkan kami dari azab Allah sedikit pun?”
Mereka berkata: “Seandainya Allah
memberi petunjuk kepada kami, pasti kami
pun telah memberi petunjuk kepada kamu. Adalah sama saja bagi kita, apakah kita berkeluh-kesah atau kita bersabar, sekali-kali
tidak ada bagi kita jalan untuk melepaskan diri.” وَ قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ
اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ -- Dan tatkala
perkara itu telah diputuskan syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu
janji yang benar, dan aku pun
menjanjikan kepada kamu tetapi aku
telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ
مِّنۡ سُلۡطٰنٍ --
dan aku sekali-kali tidak memiliki kekuasaan
apa pun atas kamu, اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- melainkan aku telah mengajak kamu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ
لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ -- Karena itu jangan-lah kamu mengecamku tetapi kecamlah diri kamu sendiri. مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ --
Aku sama sekali tidak dapat menolong
kamu dan kamu pun sama sekali tidak
dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ
اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ -- Sesungguhnya aku
telah mengingkari penyekutuan kamu
terhadapku sebelumnya,
اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ
اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya orang-orang
yang zalim itu bagi mereka ada azab
yang pedih.” (Ibrahim [14]:22-23).
Golongan Jin atau Syaitan “Berlepas Diri” dari
Tanggungjawab Provokasi yang
Dilakukannya Terhadap Golongan Ins
Bukan
semata-mata perbuatan buruknya
sendiri, yang mendatangkan kejatuhan
bagi suatu kaum, tetapi yang terutama
mendatangkan kejatuhan itu ialah
terbukanya kelemahan mereka. Setelah kelemahan menjadi nampak maka gengsi
dan nama baik mereka — yang melebihi hasil karya mereka, dan merupakan penolong utama untuk sukses mereka — mendapat pukulan maut dengan jatuhnya mereka di mata kaum-kaum lawan mereka, hal itu diikuti oleh kemunduran dan kemerosotan.
Itulah arti ayat وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ جَمِیۡعًا -- “mereka itu semuanya akan tampil di
hadapan Allah.”
Dalam ayat selanjutnya diketahui, bahwa pada hakikatnya syaitan --
baik itu berupa “makhluk gaib” (QS.7:28) maupun berupa manusia
yakni pemimpin kekafiran (QS.2:15)
-- mereka itu tidak memiliki kekuasaan apa pun jika tidak
mendapat tanggapan dari pihak yang dibujuk atau yang diprovokasinya,
itulah sebabnya syaitan telah berlepas diri dari pihak-pihak yang berhasil ditipunya atau diprovokasinya
untuk melawan Rasul Allah: وَ قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ
اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ -- Dan tatkala
perkara itu telah diputuskan syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu
janji yang benar, dan aku pun
menjanjikan kepada kamu tetapi aku
telah menyalahinya, وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ
مِّنۡ سُلۡطٰنٍ --
dan aku sekali-kali tidak memiliki kekuasaan
apa pun atas kamu, اِلَّاۤ اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- melainkan aku telah mengajak kamu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ
لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ -- Karena itu jangan-lah kamu mengecamku tetapi kecamlah diri kamu sendiri. مَاۤ اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ --
Aku sama sekali tidak dapat menolong
kamu dan kamu pun sama sekali tidak
dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ
اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ -- Sesungguhnya aku
telah mengingkari penyekutuan kamu
terhadapku sebelumnya,
اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ
اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya orang-orang
yang zalim itu bagi mereka ada azab
yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).
Sehubungan dengan “berlepas dirinya” syaitan dari tanggungjawab melakukan
provokasi dan penipuan yang dilakukannya tersebut, dalam Surah berikut ini Allah Swt.
berfirman:
اَفَمَنۡ وَّعَدۡنٰہُ وَعۡدًا
حَسَنًا فَہُوَ لَاقِیۡہِ کَمَنۡ مَّتَّعۡنٰہُ مَتَاعَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا
ثُمَّ ہُوَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ مِنَ الۡمُحۡضَرِیۡنَ ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ کُنۡتُمۡ
تَزۡعُمُوۡنَ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡنَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ رَبَّنَا
ہٰۤؤُلَآءِ الَّذِیۡنَ اَغۡوَیۡنَا ۚ
اَغۡوَیۡنٰہُمۡ کَمَا غَوَیۡنَا ۚ تَبَرَّاۡنَاۤ
اِلَیۡکَ ۫ مَا کَانُوۡۤا اِیَّانَا یَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾ وَ قِیۡلَ ادۡعُوۡا شُرَکَآءَکُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ رَاَوُا الۡعَذَابَ
ۚ لَوۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ
الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ فَہُمۡ لَا
یَتَسَآءَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah sama
orang yang Kami janjikan kepadanya suatu
janji yang baik lalu ia memperolehnya, seperti orang yang Kami berikan kesenangan kehidupan di dunia kemudian pada Hari Kiamat ia akan termasuk orang-orang yang dihadirkan di
hadapan Tuhan? وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ
فَیَقُوۡلُ -- dan pada Hari itu Dia akan berseru kepada
mereka, lalu akan berfirman: اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ
الَّذِیۡنَ کُنۡتُمۡ تَزۡعُمُوۡنَ -- ”Di manakah yang dahulu kamu anggap sekutu-sekutu-Ku?” قَالَ الَّذِیۡنَ حَقَّ
عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ -- Berkata orang-orang yang firman
Kami mengenai hukuman telah mustahak
atas mereka: رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ الَّذِیۡنَ اَغۡوَیۡنَا ۚ اَغۡوَیۡنٰہُمۡ کَمَا
غَوَیۡنَا ۚ تَبَرَّاۡنَاۤ اِلَیۡکَ ۫ مَا
کَانُوۡۤا اِیَّانَا یَعۡبُدُوۡنَ -- ”Ya
Rabb (Tuhan) kami, mereka
itulah orang-orang yang telah kami
sesatkan, kami telah menyesatkan
mereka sebagaimana kami sendiri
telah sesat. Kini kami berlepas diri dari mereka dan menghadap kepada Engkau. Mereka sekali-kali tidak menyembah kami.”
وَ قِیۡلَ ادۡعُوۡا
شُرَکَآءَکُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ رَاَوُا الۡعَذَابَ
ۚ لَوۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا یَہۡتَدُوۡنَ --
Dan difirmankan: ”Serulah
sekutu-sekutu kamu.” Maka mereka
menyerunya tetapi mereka itu tidak
menjawab mereka, dan mereka melihat azab, mereka ingin seandainya mereka dahulu mengikuti petunjuk. وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ
فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ -- Dan pada
hari Dia akan memanggil mereka maka Dia berfirman: ”Jawaban apakah yang kamu berikan kepada rasul-rasul?” فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ
فَہُمۡ لَا یَتَسَآءَلُوۡنَ --
Tetapi pada hari itu
segala dalih menjadi gelap
atas mereka maka mereka tidak
akan saling bertanya. (Al-Qashash [28]:62-67).
Anba’
(dalil-dalil) adalah jamak dari naba’ yang berarti: kabar penting;
keterangan; amanat; dalil (Lexicon
Lane & Al-Kulliyat). Pada hari pembalasan orang-orang kafir akan
mengalami kekalutan pikiran dan putus asa, dan akan sama sekali kehilangan akal untuk membela diri, karena kerapuhan semua helah dan dalih yang palsu telah menjadi jelas, mereka
tidak mendapat kesempatan untuk bermusyawarah
antara satu dengan lainnya guna mempersiapkan pembelaan mereka. ‘Amiya
‘alaihi’l-amru berarti perkara
itu menjadi gelap atau kacau baginya (Lexicon Lane).
Pendek
kata dalih-dalih dan alasan dalam melakukan persekongkolan “makar buruk” antara golongan jin dan ins melawan rasul Allah sama sekali akan menjadi gelap, bahkan mereka akan menyesali kejahilan dan kezaliman
yang mereka lakukan terhadap Rasul Allah,
firman-Nya:
یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ
فِی النَّارِ یَقُوۡلُوۡنَ یٰلَیۡتَنَاۤ
اَطَعۡنَا اللّٰہَ وَ اَطَعۡنَا
الرَّسُوۡلَا ﴿﴾ وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ
اِنَّاۤ اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ
کُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوۡنَا
السَّبِیۡلَا ﴿﴾ رَبَّنَاۤ
اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ لَعۡنًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Pada hari itu ketika
para pemuka mereka akan dibolak-balikkan di
dalam api dan mereka akan berkata: یٰلَیۡتَنَاۤ اَطَعۡنَا اللّٰہَ وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا -- ”Alangkah baiknya seandainya kami mentaati Allah dan menaati Rasul.” وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ
اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا
فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا -- Dan mereka akan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan lurus.
رَبَّنَاۤ اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ
الۡعَنۡہُمۡ لَعۡنًا کَبِیۡرًا -- “Wahai Rabb
(Tuhan) kami, datangkanlah kepada mereka
azab dua kali lipat, dan laknatlah
mereka dengan laknat yang besar.”
(Al-Ahzāb
[33]:67-69).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 10 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar