Selasa, 10 Februari 2015

Golongan Jin atau Syaitan "Melepaskan Diri" dari Tanggungjawab Provokasi dan Penipuan yang Dilakukannya Terhadap Golongan Ins (Masyarakat)




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 53

  
Golongan Jin  atau  Syaitan  “Melepaskan  Diri” dari Tanggungjawab Provokasi dan Penipuan yang Dilakukannya Terhadap Golongan Ins (Masyarakat)


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  tugas utama kedatangan “Anak Manusia” yaitu  Al-Masih Mau’ud a.s., sebagai “Nafiri (Sangkakala)” yang menyuarakan “seruan” Allah Swt. (QS.3:194).  Yakni    “Anak Manusia”    -- bukan “anak Tuhan”   -- tersebut datang untuk mengajak umat manusia  hanya menyembah satu Tuhan yang sama, yaitu Allah Swt. (QS.5:117-119; QS.16-36-38).
      Mengapa demikian? Sebab sudah merupakan Sunnatullāh hanya Allah Swt. sajalah yang berkuasa melakukan menciptakan “langit baru dan bumi baru” atau “Yerusalem baru” yang turun dari “surga  melalui pengutusan Rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37),  sedangkan “tuhan Yesus  serta “tuhan-tuhan palsu” lainnya telah gagal menyelamatkan  para penyembahnya  dari bencana dahsyat Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sekali pun telah dibentuk Liga Bangsa-bangsa yang kemudian menjadi PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa), yang pembentukannya disponsori oleh golongan Jin  (penganut sistem Kapitalisme) dan ins (penganut system Sosialisme), benarlah firman-Nya:
 مَاۤ  اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ مُتَّخِذَ  الۡمُضِلِّیۡنَ  عَضُدًا ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ  الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّوۡبِقًا ﴿﴾  وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ  یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا ﴿٪﴾ وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا ﴿﴾
Aku sekali-kali tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi,   dan tidak pula penciptaan mereka sendiri, dan Aku sama sekali tidak dapat mengambil mereka yang menyesatkan orang-orang sebagai pembantu. Dan ingatlah hari  ketika Dia akan berfirman kepada mereka: نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ  الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ  -- "Panggillah mereka yang kamu anggap sekutu-sekutu-Ku."  فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّوۡبِقًا  -- Lalu mereka  akan memanggil mereka itu  tetapi mereka itu tidak akan men­jawabnya  dan Kami menjadikan di antara mereka suatu penghalang."      وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ  یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا --  Dan orang-orang yang berdosa akan melihat Api itu, dan meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak akan dapat menemukan  tempat berpaling darinya.   وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ    -- Dan  sungguh Kami benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia  setiap perumpamaan, وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا  --   tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah.  (Al-Kahf [18]:52-55).

Resiko Berbahaya  Melakukan Pendakwaan Palsu dan Mendustakan Rasul Allah

        Resiko mendakwakan sebagai Rasul Allah  sangat besar, demikian juga resiko mendustakan dan menentang Rasul Allah    -- yang merupakan Tanda-tanda Allah yang paling besar dan nyata   -- pun sangat besar pula, firman-Nya:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ ادۡخُلُوۡا فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ فِی النَّارِ ؕ کُلَّمَا دَخَلَتۡ اُمَّۃٌ  لَّعَنَتۡ اُخۡتَہَا ؕ حَتّٰۤی اِذَا ادَّارَکُوۡا فِیۡہَا جَمِیۡعًا ۙ قَالَتۡ اُخۡرٰىہُمۡ  لِاُوۡلٰىہُمۡ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ اَضَلُّوۡنَا فَاٰتِہِمۡ عَذَابًا ضِعۡفًا مِّنَ النَّارِ ۬ؕ قَالَ لِکُلٍّ ضِعۡفٌ وَّ لٰکِنۡ  لَّا  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالَتۡ اُوۡلٰىہُمۡ لِاُخۡرٰىہُمۡ فَمَا کَانَ لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾
Maka siapakah yang lebih zalim daripada  orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawanya seraya berkata: اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  --  Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?”  قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ -- Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka   memberi kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir.     قَالَ ادۡخُلُوۡا فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ فِی النَّارِ   -- Dia berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Api bersama umat-umat jin dan ins (manusia) yang telah berlalu sebelummu.” کُلَّمَا دَخَلَتۡ اُمَّۃٌ  لَّعَنَتۡ اُخۡتَہَا -- Setiap kali suatu umat masuk, umat itu akan mengutuk saudara-saudaranya dari umat lain, حَتّٰۤی اِذَا ادَّارَکُوۡا فِیۡہَا جَمِیۡعًا ۙ قَالَتۡ اُخۡرٰىہُمۡ  لِاُوۡلٰىہُمۡ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ اَضَلُّوۡنَا فَاٰتِہِمۡ عَذَابًا ضِعۡفًا مِّنَ النَّارِ -- hingga apabila mereka semua telah tiba berturut-turut di dalamnya, maka  mereka yang terakhir berkata mengenai mereka yang terdahulu: “Ya Rabb (Tuhan) kami, mereka ini telah menyesatkan kami, karena itu berilah mereka  azab Api berlipat-ganda.” قَالَ لِکُلٍّ ضِعۡفٌ وَّ لٰکِنۡ  لَّا  تَعۡلَمُوۡنَ   -- Dia berfirman: “Bagi masing-masing mendapat azab berlipat ganda,  akan tetapi kamu tidak mengetahui.”  وَ قَالَتۡ اُوۡلٰىہُمۡ لِاُخۡرٰىہُمۡ فَمَا کَانَ لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍ --   Dan mereka yang terdahulu berkata kepada mereka yang terakhir:  “Tidak ada bagi kamu suatu kelebihan  atas kami, فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ  -- maka rasakanlah azab itu disebabkan oleh apa yang senantiasa  kamu lakukan.” (Al-Arāf [7]:38-40).
        Berikut ini  beberapa Surah Al-Quran yang juga mengemukakan pertengkaran  antara golongahn jin (pemuka kaum) dan ins (para pengikut mereka) mengenai “kerjasama” mereka dalam melakukan penentang terhadap Rasul Allah yang diutus kepada mereka, firman-Nya:
وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ جَمِیۡعًا فَقَالَ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ قَالُوۡا لَوۡ ہَدٰىنَا اللّٰہُ  لَہَدَیۡنٰکُمۡ ؕ سَوَآءٌ  عَلَیۡنَاۤ  اَجَزِعۡنَاۤ  اَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِنۡ  مَّحِیۡصٍ  ﴿٪﴾ وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan mereka itu semua akan tampil di hadapan Allah,    maka akan berkata orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang takabur: “Sesungguhnya kami dahulu pengikut-pengikut kamu, lalu  tidak dapatkah kamu mengelakkan kami dari azab Allah sedikit pun?” Mereka berkata: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, pasti kami pun telah memberi petunjuk kepada kamu. Adalah sama saja bagi kita, apakah kita  berkeluh-kesah atau kita bersabar, sekali-kali tidak ada bagi kita jalan untuk melepaskan diri.”  وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ   -- Dan tatkala perkara itu telah diputuskan syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya,  وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ     -- dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu,  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- melainkan aku telah mengajak kamu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku.  فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   -- Karena itu jangan-lah kamu mengecamku tetapi kecamlah diri kamu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  -- Aku sama sekali tidak dapat menolong kamu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku.  اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ -- Sesungguhnya aku telah mengingkari penyekutuan  kamu terhadapku   sebelumnya,  اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:22-23).

Golongan Jin atau Syaitan “Berlepas Diri”  dari Tanggungjawab Provokasi yang Dilakukannya Terhadap Golongan Ins

        Bukan semata-mata perbuatan buruknya sendiri, yang mendatangkan kejatuhan bagi suatu kaum, tetapi yang terutama mendatangkan kejatuhan itu ialah terbukanya kelemahan mereka. Setelah kelemahan menjadi nampak  maka gengsi dan nama baik mereka — yang melebihi hasil karya mereka, dan merupakan penolong utama untuk sukses mereka — mendapat pukulan maut dengan jatuhnya mereka di mata kaum-kaum lawan mereka, hal itu diikuti oleh kemunduran dan kemerosotan. Itulah arti ayat  وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ جَمِیۡعًا --  “mereka itu semuanya akan tampil di hadapan Allah.”
       Dalam ayat selanjutnya diketahui, bahwa pada hakikatnya syaitan ­­   -- baik itu berupa “makhluk gaib” (QS.7:28) maupun berupa manusia yakni pemimpin kekafiran (QS.2:15)  -- mereka itu tidak memiliki kekuasaan apa pun jika tidak mendapat  tanggapan  dari pihak yang dibujuk atau yang diprovokasinya, itulah sebabnya syaitan telah berlepas  diri  dari pihak-pihak  yang berhasil ditipunya atau diprovokasinya  untuk melawan Rasul Allah:   وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ   -- Dan tatkala perkara itu telah diputuskan syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya,  وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ     -- dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu,  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ -- melainkan aku telah mengajak kamu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku.  فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   -- Karena itu jangan-lah kamu mengecamku tetapi kecamlah diri kamu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  -- Aku sama sekali tidak dapat menolong kamu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku.  اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ -- Sesungguhnya aku telah mengingkari penyekutuan  kamu terhadapku   sebelumnya,  اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).  
       Sehubungan dengan “berlepas dirinya” syaitan dari tanggungjawab  melakukan  provokasi dan penipuan yang dilakukannya tersebut,   dalam Surah berikut ini Allah Swt. berfirman:  
اَفَمَنۡ وَّعَدۡنٰہُ وَعۡدًا حَسَنًا فَہُوَ لَاقِیۡہِ کَمَنۡ مَّتَّعۡنٰہُ مَتَاعَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ثُمَّ ہُوَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ مِنَ الۡمُحۡضَرِیۡنَ ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ  اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تَزۡعُمُوۡنَ﴿﴾  قَالَ الَّذِیۡنَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ  الَّذِیۡنَ اَغۡوَیۡنَا ۚ اَغۡوَیۡنٰہُمۡ کَمَا غَوَیۡنَا ۚ تَبَرَّاۡنَاۤ  اِلَیۡکَ ۫ مَا کَانُوۡۤا اِیَّانَا یَعۡبُدُوۡنَ ﴿﴾  وَ قِیۡلَ ادۡعُوۡا شُرَکَآءَکُمۡ  فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ  یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ رَاَوُا الۡعَذَابَ ۚ لَوۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ  اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾  فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ فَہُمۡ لَا  یَتَسَآءَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah sama orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik  lalu ia memperolehnya,   seperti orang yang Kami berikan kesenangan kehidupan di dunia kemudian pada Hari Kiamat ia akan termasuk  orang-orang yang dihadirkan di hadapan   Tuhan?  وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ    --    dan pada Hari itu Dia akan berseru kepada mereka, lalu akan berfirman:  اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تَزۡعُمُوۡنَ  --  ”Di manakah  yang dahulu kamu anggap sekutu-sekutu-Ku?” قَالَ الَّذِیۡنَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ الۡقَوۡلُ  --   Berkata orang-orang yang  firman Kami mengenai hukuman telah mustahak atas mereka:  رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ  الَّذِیۡنَ اَغۡوَیۡنَا ۚ اَغۡوَیۡنٰہُمۡ کَمَا غَوَیۡنَا ۚ تَبَرَّاۡنَاۤ  اِلَیۡکَ ۫ مَا کَانُوۡۤا اِیَّانَا یَعۡبُدُوۡنَ  --   ”Ya  Rabb (Tuhan) kami,   mereka itulah  orang-orang yang telah kami sesatkan, kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami sendiri telah sesat. Kini kami  berlepas diri dari mereka dan menghadap kepada Engkau.  Mereka   sekali-kali tidak menyembah  kami.”     وَ قِیۡلَ ادۡعُوۡا شُرَکَآءَکُمۡ  فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ  یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ رَاَوُا الۡعَذَابَ ۚ لَوۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا یَہۡتَدُوۡنَ --  Dan difirmankan: ”Serulah sekutu-sekutu kamu.” Maka mereka menyerunya tetapi mereka itu tidak menjawab mereka,  dan mereka melihat azab, mereka ingin seandainya mereka dahulu mengikuti petunjuk.  وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ  اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ --  Dan pada hari Dia akan memanggil mereka maka Dia berfirman:   Jawaban apakah yang kamu berikan kepada rasul-rasul?” فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ فَہُمۡ لَا  یَتَسَآءَلُوۡنَ  --  Tetapi pada hari   itu   segala dalih  menjadi gelap atas mereka maka mereka tidak akan saling bertanya. (Al-Qashash [28]:62-67).
      Anba’ (dalil-dalil) adalah jamak dari naba’ yang berarti: kabar penting; keterangan; amanat; dalil (Lexicon Lane &  Al-Kulliyat). Pada hari pembalasan orang-orang kafir akan mengalami kekalutan pikiran dan putus asa, dan akan sama sekali kehilangan akal untuk membela diri, karena kerapuhan semua helah dan dalih yang palsu telah menjadi jelas, mereka tidak mendapat kesempatan untuk bermusyawarah antara satu dengan lainnya guna mempersiapkan pembelaan mereka.   ‘Amiya ‘alaihi’l-amru berarti perkara itu menjadi gelap atau kacau baginya (Lexicon Lane).
          Pendek kata dalih-dalih dan alasan dalam melakukan persekongkolan “makar buruk” antara golongan jin dan ins melawan rasul Allah  sama sekali akan menjadi gelap, bahkan mereka akan menyesali kejahilan dan kezaliman yang mereka lakukan terhadap Rasul Allah, firman-Nya: 
یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ یَقُوۡلُوۡنَ یٰلَیۡتَنَاۤ  اَطَعۡنَا اللّٰہَ  وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا ﴿﴾ وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا ﴿﴾  رَبَّنَاۤ  اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ  لَعۡنًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Pada hari itu ketika  para pemuka mereka akan dibolak-balikkan  di dalam api dan mereka akan berkata: یٰلَیۡتَنَاۤ  اَطَعۡنَا اللّٰہَ  وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا  -- Alangkah baiknya seandainya kami  mentaati Allah dan menaati Rasul.” وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا  --   Dan mereka akan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah mentaati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami  lalu mereka menyesatkan kami dari jalan lurus. رَبَّنَاۤ  اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ  لَعۡنًا کَبِیۡرًا --  “Wahai Rabb (Tuhan) kami, datangkanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (Al-Ahzāb [33]:67-69).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 10 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar