بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 56
Kegembiraan
Para Syuhada Mengenai Kembalinya
Umat Islam Sebagai “Umat Terbaik” di Masa Depan & Kesedihan “Rasul Akhir Zaman”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai Surah
Ali ‘Imran ayat 201 dan Surah Al-Anfāl ayat 61-62 ini memberitahu kepada orang-orang Islam bahwa persiapan
yang tepatguna merupakan ikhtiar paling baik untuk mencegah perang, dan memerintahkan mereka supaya jangan hanya
puas dengan sejumlah pasukan yang
memadai untuk pertahanan di dalam negeri
saja, tetapi harus menempatkan lasykar yang
cukup besar di perbatasan-perbatasan
dan harus menampilkan diri dengan baik, yakin dan dengan energi sedemikian
rupa, sehingga musuh di daerah-daerah
yang jauh dari tempat pertempuran
akan sangat terkesan, sehingga mengurungkan segala niat untuk memerangi umat Islam, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟
وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ
تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Wahai
orang-orang yang beriman, bersabarlah, dan tingkatkanlah kesabaran, وَ رَابِطُوۡا -- dan bersiap-siagalah di perbatasan. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil. (Ali
‘Imran [3]:201).
Mengantipasi “Gerakan
Musuh” di Masa Datang
Ayat
Surah Ali ‘Imran ayat 201 dan Surah Al-Anfāl ayat 61-62 itu pun mengisyaratkan pula kepada pentingnya
membelanjakan harta
sebanyak-banyaknya untuk peperangan. Nampaknya
ayat ini mengandung satu nubuatan
dan peringatan bagi orang-orang
beriman, dan nubuatan itu ialah orang-orang musyrik di Arab bukanlah
satu-satunya musuh mereka, masih banyak kaum-kaum
lainnya yang akan menyerang
mereka di masa akan datang yang dekat.
Nubuatan itu menunjuk kepada
Kerajaan-kerajaan Kristen Bizantina (Romawi
Timur) dan kerajaan Persia penganut
agama Majusi, yang harus dihadapi
oleh orang-orang Islam, segera sesudah Nabi Besar Muhammad saw. wafat.
Ayat وَ اِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَہَا وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ -- tetapi jika mereka condong kepada perdamaian maka condong pulalah engkau kepadanya dan bertawakallah kepada Allah, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- sesungguhnya Dia
Maha Mendengar, Maha Mengetahui”
(Al-Anfāl [8]:61-62), ayat ini selain mengandung suatu asas yang penting mengenai perjanjian-perjanjian
damai, juga memberi penjelasan yang menarik mengenai sifat peperangan yang dilancarkan oleh Islam.
Orang-orang Islam tidak menempuh jalan peperangan untuk memaksa orang memeluk Islam,
melainkan untuk mengadakan serta memelihara perdamaian. Jika ada suatu
kaum yang setelah melancarkan perang
terhadap Islam mengajak berdamai maka orang-orang Islam diperintahkan agar jangan menolak tawaran itu, sekalipun musuh itu mengajak berdamai hanya untuk menipu mereka dan mengulur-ulur waktu.
Kenyataan ini menunjukkan, sampai berapa
jauh Islam yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.
-- sebagai “rahmat untuk seluruh alam”
(QS.21:108) -- berusaha mengadakan perdamaian di antara bangsa-bangsa,
sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
فَاِذَا لَقِیۡتُمُ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ
وَ اِمَّا فِدَآءً حَتّٰی تَضَعَ
الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ﴿﴾
"Dan
apabila kamu bertemu dengan orang-orang
kafir maka pukullah leher-leher mereka,
hingga apabila kamu telah
mengalahkan mereka, maka perkuatlah ikatan mereka, lalu sesudah
itu lepaskanlah mereka sebagai suatu anugerah dan dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya Allah menghendaki niscaya Dia menuntut balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ
-- tetapi hal demikian itu supaya
Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ
-- Dan orang-orang yang terbunuh
di jalan Allah Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal
mereka. (Muhammad [47]:5).
Tatakrama
Peperangan dan Aturannya
Ayat
ini secara ringkas menetapkan beberapa hukum
penting mengenai tatakrama peperangan
dan aturannya, dan dengan sekaligus
memberikan pukulan mematikan kepada perbudakan. Ringkasnya, hukum itu yaitu:
(a) Apabila mereka terlibat dalam peperangan sungguh demi mempertahankan kepercayaan, agama,
kehormatan, jiwa atau harta mereka, kaum Muslimin diperintahkan supaya
bertempur dengan gagah berani dan pantang mundur (QS.8:13-17),
(b) Bila sekali peperangan sudah
mulai dilancarkan maka perang itu harus dilanjutkan hingga keamanan tegak
kembali dan kebebasan kata hati terjamin (QS.8:40).
(c) Tawanan-tawanan perang harus
diambil dari musuh hanya sesudah terjadi peperangan sungguh dan sengit, dan
musuh telah dikalahkan secara mutlak dan pasti. Oleh karena itu
peperangan-sungguh dinyatakan sebagai satu-satunya alasan untuk mengambil tawanan
perang, sebab tidak ada alasan lain bagi
orang merdeka kemerdekaannya dapat dirampas.
(d) Apabila peperangan sudah selesai
para tawanan harus dibebaskan, baik sebagai tindak belas kasihan atau dengan
mengambil uang tebusan dari mereka, atau atas dasar persetujuan tukar menukar
tawanan. Mereka hendaknya jangan ditahan sebagai tawanan untuk selama-lamanya
atau diperlakukan sebagai budak. Nabi Besar Muhammad saw. telah memerdekakan kira-kira 100 keluarga dari Banu Mushthaliq dan beberapa
ribu tawanan dari suku Hawazin,
setelah dua kabilah itu secara mutlak
dikalahkan dalam peperangan.
Sesudah Perang Badar, uang tebusan bagi tawanan
perang diterima dan mereka yang tidak dapat membayar tebusan dalam bentuk uang,
akan tetapi pandai baca-tulis,
diminta supaya mengajar orang-orang Muslim membaca dan menulis. Dengan
demikian ayat ini dengan jitu telah berhasil menghapus perbudakan sampai ke akar-akarnya, melenyapkannya sama sekali dan untuk selama-lamanya.
Makna ayat ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ
لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya
Allah menghendaki niscaya Dia
menuntut balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ -- tetapi hal demikian itu supaya Dia menguji sebagian dari
kamu dengan sebagian yang lain.” Allah Swt. menghendaki agar orang-orang beriman melibatkan diri dalam peperangan melawan orang-orang
kafir, agar di satu pihak sifat
dan watak baik mereka akan mendapat peluang memainkan peranan, dan di pihak lain agar sifat-sifat buruk orang-orang kafir akan terbuka kedoknya, firman-Nya:
فَاِذَا لَقِیۡتُمُ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ
وَ اِمَّا فِدَآءً حَتّٰی تَضَعَ
الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ﴿﴾
"Dan
apabila kamu bertemu dengan orang-orang
kafir maka pukullah leher-leher mereka,
hingga apabila kamu telah
mengalahkan mereka, maka perkuatlah ikatan mereka, lalu sesudah
itu lepaskanlah mereka sebagai suatu anugerah dan dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya Allah menghendaki niscaya Dia menuntut balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ
-- tetapi hal demikian itu supaya
Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ
-- Dan orang-orang yang terbunuh
di jalan Allah Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal
mereka. (Muhammad [47]:5).
Bukti Umat Islam Sebagai “Umat Terbaik” & Kegembiraan
Para Syuhada
Barangkali tidak ada di dalam segi kehidupan
lain -- yang di dalamnya keunggulan akhlak para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. begitu
jelas nampak -- seperti di dalam perlakuan baik mereka terhadap musuh-musuh mereka yang telah dikalahkan, sebab harus seperti itulah
keadaan umat Islam sebagai “umat terbaik” yang dijadikan untuk kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
Makna ayat
وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ
یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ -- “Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah
Dia tidak
akan pernah menyia-nyiakan amal-amal mereka”, pengorbanan kaum Muslimin yang mati syahid di medan jihad di
jalan Allah tidak akan sia-sia. Pada hakikatnya, pengorbanan mereka itulah yang justru
telah meletakkan dasar Islam yang
kokoh di tanah Arab, firman-Nya:
وَ لَا
تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ
اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۙ وَ
یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ ۙ اَلَّا
خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ۘ
Dan janganlah kamu menyangka mengenai
orang-orang yang terbunuh527 di jalan Allah bahwa mereka
itu mati, tidak, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya), mereka
diberi rezeki. فَرِحِیۡنَ
بِمَاۤ اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Mereka bergirang
hati dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari
karunia-Nya, وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ
بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ -- dan mereka
bergembira terhadap orang-orang di belakangnya yang belum
pernah bergabung dengan mereka اَلَّا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada ketakutan atas mereka,
dan tidak pula mereka bersedih. (Ali ‘Imran [3]:170-171).
Para syuhada
(orang-orang mati syahīd) merasa gembira
bahwa saudara-saudara mereka yang
ditinggalkan di dunia ini dan akan mengikuti
jejak mereka kemudian akan segera menang
atas musuh-musuh mereka. Maksudnya
adalah bahwa sesudah mati segala hijab
(tabir gaib) diangkat dan para syuhada
diberi makrifat mengenai kemenangan-kemenangan
yang tersedia bagi kaum Muslimin. Mereka mendapat kabar gembira mengenai
saudara-saudaranya, yaitu para malaikat Allah terus-menerus memberitahukan mereka mengenai
sukses dan kemenangan-kemenangan yang dicapai Islam
sepeninggal mereka.
Jadi, firman Allah Swt. dalam Surah Muhammad [47]:5 sebelum ini sehubungan
dengan ‘anaq (leher) dan (jari-jari
tangan), merupakan cara meraih kemenangan
dalam bertempur yang diajarkan Allah Swt. kepada umat
Islam, agar peperangan yang dilakukan berlangsung cepat sehingga tidak terlalu banyak makan korban jiwa mau pun harta-benda, sebab baik
‘anaq (pimpinan) mau pun banān
(pengikut) telah dibuat lumpuh kemampuannya, firman-Nya:
فَاِذَا لَقِیۡتُمُ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ
وَ اِمَّا فِدَآءً حَتّٰی تَضَعَ
الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ﴿﴾
"Dan
apabila kamu bertemu dengan orang-orang
kafir maka pukullah leher-leher mereka,
hingga apabila kamu telah
mengalahkan mereka, maka perkuatlah ikatan mereka, lalu sesudah
itu lepaskanlah mereka sebagai suatu anugerah dan dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ یَشَآءُ اللّٰہُ
لَانۡتَصَرَ مِنۡہُمۡ وَ
لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya Allah menghendaki niscaya Dia menuntut balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ بِبَعۡضٍ
-- tetapi hal demikian itu supaya
Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَلَنۡ یُّضِلَّ اَعۡمَالَہُمۡ
-- Dan orang-orang yang terbunuh
di jalan Allah Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal
mereka. (Muhammad [47]:5).
“Kesedihan”
Rasul Akhir Zaman
Semua bentuk
penyesalan yang terlambat dari berbagai golongan orang-orang kafir dari golongan jin atau ‘anaq
(pemimpin) dan ins atau para pengikut tersebut yang dikemukakan dalam Surah As-Saba’ [34]:32-34) -- yang dikemukakan dalam Bab-bab sebelumnya
-- terangkum dalam firman-Nya berikut ini, mengenai “kesedihan hati” Rasul
Akhir Zaman yang dibangkitkan di
kalangan umat Islam, ketika beliau
menyaksikan umat Islam telah memperlakukan Al-Quran -- Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) -- sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan bagaikan barang
tak berharga, firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ
یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ
عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ
یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ
یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾ یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا
خَلِیۡلًا ﴿﴾ لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ
اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, dan azab
pada hari itu atas orang-orang kafir
sangat keras. Dan
pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata: یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا -- ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا -- “Wahai celakalah
aku, alangkah baiknya seandainya aku
tidak menjadikan si fulan itu sahabat. لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ
بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ -- sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat
kepada Allah sesudah ia datang kepa-daku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- dan syaitan
selalu menelantarkan manusia.
(Al-Furqān [25]:27-30).
Makna ayat اَلۡمُلۡکُ
یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ -- Kerajaan yang haq pada hari itu milik
Yang Maha Pemurah, وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا -- dan azab
pada hari itu atas orang-orang kafir
sangat keras,” bahwa Hari pertempuran Badar sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang penuh dengan kesedihan
bagi orang-orang kafir, sebab Abu
Jahal dan 7 pemimpin kafir Quraisy lainnya
terbunuh secara hina dalam
perang tersebut bersama 70 orang kafir lainnya, sedangkan 70 orang kafir lainnya ditawan
oleh umat Islam. Abu Lahab mati di
Mekkah setelah mendengar kabar buruk
kekalahan dalam Perang Badar, dengan demikian 9 orang pembuat kerusakan
dalam negeri yang dinubuatkan dalam
QS.27:47-53 semuanya mati secara
hina.
Perang Badar Merupakan “Hari Pembeda” yang Haq dan yang Bathil & Bahaya “Fitnah Dajjal”
Pada hari perang Badar itulah dasar-dasar
Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum Quraisy telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita, karena itu Allah Swt. telah
menyebut Perang Badar sebagai “yaumul-furqān” (hari pembeda yang haq dan yang bathil – QS.8:42).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿ ﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang
telah ditinggalkan”. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ
نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang berdosa,
وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31).
Ayat
ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan
diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di
mana Al-Quran demikian rupa diabaikan
dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti
di Akhir Zaman ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar
Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa di Akhir
Zaman inilah saat yang dimaksudkan
itu.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 13 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar