Jumat, 13 Februari 2015

Kegembiaraan "Para Syuhada" Mengenai Kembalinya Umat Islam Sebagai " "Umat Terbaik" di Masa Depan & Kesedihan "Rasul Akhir Zaman"





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 56

Kegembiraan Para Syuhada  Mengenai   Kembalinya Umat Islam Sebagai “Umat Terbaik” di Masa Depan & Kesedihan “Rasul Akhir Zaman”

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai  Surah Ali ‘Imran ayat  201 dan Surah Al-Anfāl   ayat 61-62   ini memberitahu kepada orang-orang Islam bahwa persiapan yang tepatguna merupakan ikhtiar paling baik untuk mencegah perang,  dan memerintahkan mereka supaya jangan hanya puas dengan sejumlah pasukan yang memadai untuk pertahanan di dalam negeri saja, tetapi harus menempatkan lasykar yang cukup besar di perbatasan-perbatasan dan harus menampilkan  diri dengan baik, yakin dan dengan energi sedemikian rupa, sehingga musuh di daerah-daerah yang jauh dari tempat pertempuran akan sangat terkesan, sehingga mengurungkan segala niat untuk memerangi umat Islam, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَ صَابِرُوۡا وَ رَابِطُوۡا ۟ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Wahai orang-orang yang  beriman, bersabarlah, dan tingkatkanlah kesabaran, وَ رَابِطُوۡا -- dan  bersiap-siagalah  di perbatasan. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berhasil.  (Ali ‘Imran [3]:201). 

Mengantipasi “Gerakan  Musuh” di Masa Datang

        Ayat Surah Ali ‘Imran ayat  201 dan Surah Al-Anfāl   ayat 61-62  itu pun mengisyaratkan pula kepada pentingnya membelanjakan harta sebanyak-banyaknya untuk peperangan. Nampaknya  ayat ini mengandung satu nubuatan dan peringatan bagi orang-orang beriman, dan nubuatan itu ialah orang-orang musyrik di Arab bukanlah satu-satunya musuh mereka, masih banyak kaum-kaum lainnya yang akan menyerang mereka di masa akan datang yang dekat.
         Nubuatan itu menunjuk kepada Kerajaan-kerajaan Kristen Bizantina (Romawi Timur) dan kerajaan Persia penganut agama Majusi, yang harus dihadapi oleh orang-orang Islam, segera sesudah Nabi Besar Muhammad saw.  wafat.
         Ayat    وَ اِنۡ جَنَحُوۡا لِلسَّلۡمِ فَاجۡنَحۡ لَہَا وَ تَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ  --  tetapi jika mereka condong kepada perdamaian maka condong pulalah engkau kepadanya dan bertawakallah kepada Allah, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ  -- sesungguhnya  Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui”  (Al-Anfāl [8]:61-62), ayat ini  selain mengandung suatu asas yang penting mengenai perjanjian-perjanjian damai, juga memberi penjelasan yang menarik mengenai sifat peperangan yang dilancarkan oleh Islam.
       Orang-orang Islam tidak menempuh jalan peperangan untuk memaksa orang memeluk Islam, melainkan untuk mengadakan serta memelihara perdamaian. Jika ada suatu kaum yang setelah melancarkan perang terhadap Islam mengajak berdamai maka orang-orang Islam diperintahkan agar jangan menolak tawaran itu, sekalipun musuh itu mengajak berdamai hanya untuk menipu mereka dan mengulur-ulur waktu.
       Kenyataan ini menunjukkan, sampai berapa jauh Islam  yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. -- sebagai “rahmat untuk seluruh alam” (QS.21:108)  --     berusaha mengadakan perdamaian di antara bangsa-bangsa, sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
فَاِذَا  لَقِیۡتُمُ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَاۤ  اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ وَ  اِمَّا فِدَآءً  حَتّٰی تَضَعَ  الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ﴿﴾
"Dan apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pukullah leher-leher mereka, hingga apabila kamu telah mengalahkan mereka,  maka perkuatlah ikatan mereka, lalu sesudah itu  lepaskanlah mereka sebagai suatu anugerah dan dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya  Allah menghendaki niscaya Dia menuntut  balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ  -- tetapi hal demikian itu supaya Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ   -- Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Dia  tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal mereka. (Muhammad [47]:5).

Tatakrama Peperangan dan Aturannya
  
  Ayat ini secara ringkas menetapkan beberapa hukum penting mengenai tatakrama peperangan dan aturannya, dan dengan sekaligus memberikan pukulan mematikan kepada perbudakan. Ringkasnya, hukum itu yaitu:
(a) Apabila mereka terlibat dalam peperangan sungguh demi mempertahankan kepercayaan, agama, kehormatan, jiwa atau harta mereka, kaum Muslimin diperintahkan supaya bertempur dengan gagah berani dan pantang mundur (QS.8:13-17),
(b) Bila sekali peperangan sudah mulai dilancarkan maka perang itu harus dilanjutkan hingga keamanan tegak kembali dan kebebasan kata hati terjamin (QS.8:40).
(c) Tawanan-tawanan perang harus diambil dari musuh hanya sesudah terjadi peperangan sungguh dan sengit, dan musuh telah dikalahkan secara mutlak dan pasti. Oleh karena itu peperangan-sungguh dinyatakan sebagai satu-satunya alasan untuk mengambil tawanan perang,  sebab tidak ada alasan lain bagi orang merdeka kemerdekaannya dapat dirampas.
(d) Apabila peperangan sudah selesai para tawanan harus dibebaskan, baik sebagai tindak belas kasihan atau dengan mengambil uang tebusan dari mereka, atau atas dasar persetujuan tukar menukar tawanan. Mereka hendaknya jangan ditahan sebagai tawanan untuk selama-lamanya atau diperlakukan sebagai budak. Nabi Besar Muhammad saw.  telah memerdekakan kira-kira 100 keluarga dari Banu Mushthaliq dan beberapa ribu tawanan dari suku Hawazin, setelah dua kabilah itu secara mutlak dikalahkan dalam peperangan.
  Sesudah Perang Badar, uang tebusan bagi tawanan perang diterima dan mereka yang tidak dapat membayar tebusan dalam bentuk uang, akan tetapi pandai baca-tulis, diminta supaya mengajar orang-orang Muslim membaca dan menulis. Dengan demikian ayat ini dengan jitu telah berhasil menghapus perbudakan sampai ke akar-akarnya, melenyapkannya sama sekali dan untuk selama-lamanya.
      Makna ayat  ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya  Allah menghendaki niscaya Dia menuntut  balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ  -- tetapi hal demikian itu supaya Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain.”  Allah Swt.  menghendaki agar orang-orang beriman melibatkan diri dalam peperangan melawan orang-orang kafir, agar di satu pihak sifat dan watak baik mereka akan mendapat peluang memainkan peranan,  dan di pihak lain agar sifat-sifat buruk orang-orang kafir akan terbuka kedoknya,    firman-Nya:
فَاِذَا  لَقِیۡتُمُ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَاۤ  اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ وَ  اِمَّا فِدَآءً  حَتّٰی تَضَعَ  الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ﴿﴾
"Dan apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pukullah leher-leher mereka, hingga apabila kamu telah mengalahkan mereka,  maka perkuatlah ikatan mereka, lalu sesudah itu  lepaskanlah mereka sebagai suatu anugerah dan dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya  Allah menghendaki niscaya Dia menuntut  balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ  -- tetapi hal demikian itu supaya Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ   -- Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Dia  tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal mereka. (Muhammad [47]:5).

 Bukti Umat Islam Sebagai “Umat Terbaik” & Kegembiraan  Para Syuhada

  Barangkali tidak ada di dalam segi kehidupan lain  --  yang di dalamnya keunggulan akhlak para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. begitu jelas nampak  -- seperti di dalam perlakuan baik mereka terhadap musuh-musuh mereka yang telah dikalahkan, sebab harus seperti itulah keadaan  umat Islam sebagai “umat terbaik” yang dijadikan untuk kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
 Makna ayat  وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ   -- “Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Dia  tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal mereka”,  pengorbanan kaum Muslimin yang mati syahid di medan jihad di jalan Allah   tidak akan sia-sia. Pada hakikatnya, pengorbanan mereka itulah yang justru telah meletakkan dasar Islam yang kokoh di tanah Arab, firman-Nya:
وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۙ وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ ۙ اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ۘ
Dan janganlah kamu menyangka mengenai orang-orang yang terbunuh527 di jalan Allah bahwa mereka itu mati, tidak, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya (Tuhannya),  mereka diberi rezeki.  فَرِحِیۡنَ بِمَاۤ  اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ   --  Mereka bergirang hati  dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya,  وَ یَسۡتَبۡشِرُوۡنَ بِالَّذِیۡنَ لَمۡ یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ مِّنۡ خَلۡفِہِمۡ  -- dan mereka bergembira terhadap orang-orang  di belakangnya yang  belum pernah bergabung dengan mereka  اَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- bahwa tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak pula mereka  bersedih. (Ali ‘Imran [3]:170-171).
      Para syuhada (orang-orang mati syahīd) merasa gembira bahwa saudara-saudara mereka yang ditinggalkan di dunia ini dan akan mengikuti jejak mereka kemudian akan segera menang atas musuh-musuh mereka. Maksudnya adalah bahwa sesudah mati segala hijab (tabir gaib) diangkat dan para syuhada diberi makrifat  mengenai kemenangan-kemenangan yang tersedia bagi kaum Muslimin. Mereka mendapat kabar gembira  mengenai saudara-saudaranya,  yaitu para malaikat Allah terus-menerus memberitahukan mereka  mengenai  sukses dan kemenangan-kemenangan yang dicapai Islam sepeninggal mereka.
      Jadi,  firman Allah Swt.  dalam Surah Muhammad [47]:5   sebelum ini  sehubungan dengan ‘anaq (leher) dan (jari-jari tangan), merupakan cara  meraih kemenangan dalam bertempur   yang diajarkan Allah Swt.  kepada umat Islam, agar peperangan  yang dilakukan  berlangsung cepat sehingga tidak terlalu banyak makan korban jiwa mau pun harta-benda,  sebab baik  ‘anaq (pimpinan)  mau pun banān (pengikut)  telah dibuat lumpuh kemampuannya, firman-Nya:
فَاِذَا  لَقِیۡتُمُ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَضَرۡبَ الرِّقَابِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَاۤ  اَثۡخَنۡتُمُوۡہُمۡ فَشُدُّوا الۡوَثَاقَ ٭ۙ فَاِمَّا مَنًّۢا بَعۡدُ وَ  اِمَّا فِدَآءً  حَتّٰی تَضَعَ  الۡحَرۡبُ اَوۡزَارَہَا ۬ۚ۟ۛ ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ ؕ وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ﴿﴾
"Dan apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka pukullah leher-leher mereka, hingga apabila kamu telah mengalahkan mereka,  maka perkuatlah ikatan mereka, lalu sesudah itu  lepaskanlah mereka sebagai suatu anugerah dan dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. ذٰؔلِکَ ؕۛ وَ لَوۡ  یَشَآءُ  اللّٰہُ  لَانۡتَصَرَ  مِنۡہُمۡ وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ -- Demikianlah, dan seandainya  Allah menghendaki niscaya Dia menuntut  balasan dari mereka, وَ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَا۠ بَعۡضَکُمۡ  بِبَعۡضٍ  -- tetapi hal demikian itu supaya Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. وَ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ  سَبِیۡلِ اللّٰہِ  فَلَنۡ یُّضِلَّ  اَعۡمَالَہُمۡ   -- Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Dia  tidak akan pernah menyia-nyiakan amal-amal mereka. (Muhammad [47]:5).   

Kesedihan” Rasul Akhir Zaman

       Semua bentuk   penyesalan yang terlambat dari berbagai golongan orang-orang kafir  dari golongan jin atau ‘anaq (pemimpin)  dan ins atau  para pengikut tersebut yang dikemukakan dalam  Surah As-Saba’ [34]:32-34)   -- yang dikemukakan dalam Bab-bab sebelumnya  --    terangkum dalam firman-Nya berikut ini,  mengenai “kesedihan hati”  Rasul Akhir Zaman  yang dibangkitkan   di kalangan umat Islam, ketika beliau menyaksikan umat  Islam telah memperlakukan Al-Quran    -- Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  -- sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan  bagaikan barang tak berharga, firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ  یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی  یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾  یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا ﴿﴾  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah, dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.   Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata: یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا --   ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا  --  “Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ   --    sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepa-daku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا   -- dan syaitan selalu menelantarkan manusia. (Al-Furqān [25]:27-30).
        Makna ayat اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ   --  Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah,  وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا -- dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras,”  bahwa  Hari pertempuran Badar sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang kafir,  sebab Abu Jahal dan 7 pemimpin kafir Quraisy lainnya  terbunuh secara hina dalam perang tersebut bersama 70 orang kafir  lainnya, sedangkan 70 orang kafir lainnya ditawan oleh umat Islam.  Abu Lahab  mati di Mekkah  setelah mendengar kabar buruk kekalahan dalam Perang Badar, dengan demikian 9 orang pembuat kerusakan dalam negeri yang dinubuatkan dalam QS.27:47-53 semuanya mati secara hina.

Perang Badar  Merupakan “Hari Pembeda” yang Haq dan yang Bathil  & Bahaya “Fitnah Dajjal

      Pada hari perang Badar itulah dasar-dasar Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum Quraisy telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita, karena itu Allah Swt. telah menyebut Perang Badar sebagai “yaumul-furqān” (hari pembeda yang haq dan yang bathil  – QS.8:42). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿ ﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan”. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  --     dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا  -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al-Furqān [25]:31).
     Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti di Akhir Zaman  ini.
      Ada sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa  di Akhir Zaman  inilah saat yang dimaksudkan itu.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 13 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar