Jumat, 06 Februari 2015

Hubungan "Abu Lahab" (Bapak Nyala Api) dan "Iblis" serta Tersebarnya Gog (Ya'juj) dan Magog (Ma'juj) di Akhir Zaman





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 48

  
Hubungan “Abu Lahab” (Bapak Nyala Api), Iblis  Serta Tersebarnya Gog (Ya’juj) dan   Magog (Ma’juj) di Akhir Zaman
     

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai  kejayaan  duniawi bangsa-bangsa Kristen    di Akhir Zaman   berupa  penguasaan atas kawasan-kawasan luas di bumi ini dalam Bible dan Al-Quran  disebut sebagai tersebarnya kembali Gog (Ya’juj) dan Magog (Ya’juj) setelah  masa “pemenjaraan” mereka selama 1000 tahun, yaitu berupa munculnya fitnah Dajjal  atau anti Kristus.
      Peristiwa tersebut pada hakikatnya  sebagai pengabulan    doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas permohonan para hawari (pengikut) beliau:  اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ   --  “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit,  supaya menjadi suatu perayaan yang   berulang  bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang kami, dan  sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau,   berilah kami  rezeki,  dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki,”   ada dua masa kemakmuran dan kemajuan untuk umat Kristen  sebagaimana ditunjukkan oleh kata ‘Id yang secara harfiah berarti “hari yang berulang.”
    Yakni, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa umat Kristen telah dianugerahi kekuasaan duniawi dan harta-benda duniawi dengan berlimpah-limpah pada zaman permulaan sesudah Kaisar Romawi, Constantin,  memeluk agama Kristen dan menjadikannya sebagai “agama kerajaan”,  dan kemudian dalam abad-abad ke-18 dan ke-19,  mereka kembali memperoleh kemakmuran dan kekuasaan politik dalam ukuran yang tak ada tara bandingannya dalam sejarah bangsa lain mana pun (QS.7:170).
       Hukuman Ilahi  kepada mereka yang dimaksud    dalam   jawaban Allah Swt. pada ayat:     
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ  ٪
Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antaramu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.  (Al-Mā’idah [5]:116).
       Hukuman Allah Swt. tersebut  sama dengan hukuman yang tersebut dalam QS.18:1-6 & 95-102; QS.19:91-96; QS.20:106-110; QS.21:96-98; QS.55:34-46; QS.70:1-19; QS.104:1-10; QS.111:1-5).

Makna Lain  Abu Lahab

    Dua Perang Dunia yang terakhir dengan akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkannya dapat merupakan satu tahap penyempurnaan kabar gaib ini dan hanya Allah Swt. sajalah Yang  mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa Kristen di belahan bumi sebelah barat  (Eropa dan Amerika) tersebut, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  تَبَّتۡ یَدَاۤ  اَبِیۡ  لَہَبٍ وَّ  تَبَّ ؕ﴿﴾  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنۡہُ  مَالُہٗ  وَ  مَا کَسَبَ ؕ﴿﴾  سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ  لَہَبٍ ۚ﴿ۖ﴾  وَّ  امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ  الۡحَطَبِ ۚ﴿﴾  فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ ٪﴿﴾
Aku baca   dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  تَبَّتۡ یَدَاۤ  اَبِیۡ  لَہَبٍ وَّ  تَبَّ --  Binasalah kedua tangan Abu Lahab  dan binasalah dia!  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنۡہُ  مَالُہٗ  وَ  مَا کَسَبَ --  Sekali-kali tidak memberi manfaat kepadanya  hartanya dan apa yang dia usahakan. سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ  لَہَبٍ  --   segera  ia akan masuk Api yang menyala-nyala. وَّ  امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ  الۡحَطَبِ  --  dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ  --   di leher istri-nya ada tali  yang dipintal.  (Al-Lahab [111):1-6).
  Abu Lahab (Bapak Nyala-Api) adalah julukan yang diberikan kepada ‘Abd-al-’Uzza paman Nabi Besar Muhammad saw. serta musuh bebuyutan dan penindas beliau saw. serta para sahabah beliau saw. di Mekkah.  Ia disebut demikian, karena warna muka dan rambutnya kemerah-merahan, atau juga karena ia berda-rah panas.
   Surah ini mengingatkan kita kepada suatu peristiwa ketika  Nabi Besar Muhammad saw. mula-mula sekali membuka tabligh kepada kerabatnya di kalangan kaum Quraisy Mekkah, setelah beliau saw. diperintahkan Allah Swt.  untuk mengumpulkan kaum kerabat beliau dan menyampaikan Amanat Ilahi kepada mereka.
  Pada suatu hari  Nabi Besar Muhammad saw.   berdiri di Bukit Shafa dan memanggil berbagai kabilah Mekkah satu demi satu – kabilah-kabilah Luway, Murah, Kilāb dan Qushay – dan anggota keluarga-dekat beliau, dan mengatakan kepada mereka bahwa beliau adalah utusan (rasul) Allah, dan bahwa jika mereka tidak menerima seruan beliau saw. serta tidak meninggalkan adat kebiasaan jahat mereka, hukuman Allah  akan menimpa diri mereka. Belum juga Nabi Besar Muhammad saw. mengakhiri uraian beliau tiba-tiba Abu Lahab berdiri    seraya berkata: “Binasalah engkau! Untuk inikah engkau memanggil kami berkumpul?” (Bukhari).

Kesuksesan Ya’juj  (Gog) dan Ma’juj  (Magog) Memanfaatkan Energi Api  yang Akan “Membakar” Dirinya Sendiri & Politik “Devide et Impera

  Julukan   “Bapak Nyala Api” boleh jadi ditujukan khusus kepada Abu Lahab atau kepada siapa pun dari musuh-musuh Islam yang berwatak  pemarah, lebih tepat lagi sebutan ini dikenakan kepada bangsa-bangsa Barat di Akhir Zaman, yang memiliki dan menguasai senjata-senjata api, atom dan nuklir – suatu kelompok dari mereka sama sekali menyangkal adanya Tuhan yang dipimpin oleh Rusia, dan yang satu lagi menolak Tauhid Ilahi yakni penganut paham “trinitas” dan “penebusan dosa” namun demikian  kedua-duanya sama-sama memusuhi Islam atau Tauhid Ilahi.
     Dalam pengertian ini yang dimaksud dengan  “kedua tangan” Abu Lahab (bapak nyala api) berarti kedua kelompok itu, dan ayat ini mengandung arti bahwa segala upaya dan persekongkolan rahasia musuh-musuh Islam, terutama kedua golongan adikuasa Barat dengan satelit-satelitnya, akan gagal sama sekali dan semua rencana jahat mereka akan menjadi bumerang dan menghantam mereka sendiri; hati mereka akan terbakar oleh amarah demi dilihatnya Islam terus maju, sedangkan kekuasaan, kekayaan, dan milik mereka sendiri kian menyusut dan binasa juga di hadapan mata kepala mereka sendiri.
    Kata “hartanya,” dapat berarti, kekayaan yang dihasilkan di negeri-negeri mereka sendiri, dan “apa yang dia usahakan” dapat diartikan harta kekayaan yang ditimbun mereka dengan memeras bangsa-bangsa yang lebih lemah dan merampas kekayaan SDA (sumber  daya alam) mereka itu, dengan berkedok  melakukan perniagaan (ekonomi - QS.18:20-23), namun kemudian melakukan   melakukan politik devide et impera  (mengadu-domba dan menjajah) terhadap penduduk wilayah yang mereka masuki.
  Politik devide et impera  (mengadu-domba dan menjajah) itu pulalah yang dilakukan oleh dinasti Fir’aun ribuan tahun sebelumnya di Mesir dalam uppaya mempertahankan kekuasaannya  (QS.28:1-7). Dan  Politik  devide et impera (mengadu-domba dan menjajah)  itu pulalah yang dilakukan VOC di Nusantara, sehingga mereka berhasil menjajah Nusantara selama 350 tahun, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  طٰسٓمّٓ ﴿﴾   تِلۡکَ اٰیٰتُ  الۡکِتٰبِ  الۡمُبِیۡنِ ﴿﴾  نَتۡلُوۡا عَلَیۡکَ مِنۡ نَّبَاِ مُوۡسٰی وَ فِرۡعَوۡنَ بِالۡحَقِّ  لِقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً  مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً  وَّ  نَجۡعَلَہُمُ  الۡوٰرِثِیۡنَ ۙ﴿﴾  وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  طٰسٓمّٓ   --   Maha Suci, Maha Mendengar, Maha Mulia.    Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas.   Kami membacakan kepada engkau berita mengenai  Musa dan Fir’aun dengan  benar untuk kaum yang beriman.   Sesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi  dan ia menjadikan  penduduknya  bergolongan-golongan, ia berusaha melemahkan segolongan dari mereka  dengan  menyembelih anak-anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.  وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً  وَّ  نَجۡعَلَہُمُ  الۡوٰرِثِیۡنَ  --  Dan Kami   hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi  dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris karunia-karunia Kami, وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ --  dan Kami  mapankan mereka di bumi  وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ  -- dan Kami  perlihatkan kepada Fir’aun serta Haman dan  lasykar keduanya  apa yang mereka khawatirkan dari mereka itu. (Al-Qashash [28]:1-7).
       Politik divide et impera (memecah-belah dan menjajah) dengan akibatnya yang sangat mematikan seperti dijalankan kekuatan-kekuatan kaum kolonial barat di abad kedua puluh ini, agaknya di zaman Fir’aun telah dijalankan juga olehnya dengan sukses besar. Ia telah memecah-belah rakyat Mesir ke dalam beberapa partai dan golongan serta dengan busuk hati telah membuat perbedaan kelas di antara mereka. Beberapa di antara mereka dianak-emaskannya dan yang lain diperas dan ditindasnya.

Gejala  Kejiwaan    “Takut Kehilangan Kekuasaan” yang Menguasai Para Diktator

          Kaum Nabi Musa  a.s. (Bani Israil)     termasuk kelas yang tidak beruntung. Kata-kata  menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, kecuali mengandung pengertian yang jelas, bahwa agar supaya orang-orang Bani Israil selamanya tunduk di bawah kekuasaannya, Fir’aun membinasakan kaum pria mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, dapat juga diartikan bahwa dengan politik menjajah dan menindas tanpa belas kasihan itu ia berikhtiar membunuh sifat-sifat kejantanan mereka dan dengan demikian membuat mereka jadi pengalah seperti perempuan.  
         Ketika upaya merendahkan derajat orang-orang Bani Israil di Mesir itu mencapai titik yang serendah-rendahnya, dan kezaliman Fir’aun dan bangsanya kian meluap-luap, dan Allah Swt.,  sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak mungkin keliru  memutuskan bahwa penindas-penindas itu harus dihukum dan mereka yang diperbudak dibebaskan, maka Dia mengutus Nabi Musa a.s..
 Gejala yang terjadi di masa tiap-tiap rasul Allah  seperti itu menampakkan perwujudan sepenuhnya dan seindah-indahnya di masa kenabian  Nabi Besar Muhammad saw., yang merupakan  misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11), yang juga harus menghadapi kezaliman  Fir’aun   yang berada di Mekkah, yaitu Abu Jahal dan delapan orang  pemimpin kaum kafir Quraisy lainnya, termasuk  ‘Abd-al-’Uzza atau Abu Lahab.
       Haman itu gelar pendeta agung dewa Amon; “ham” di dalam bahasa Mesir berarti, pendeta agung. Dewa Amon menguasai semua dewa Mesir lainnya. Haman adalah kepala khazanah dan lumbung negeri, dan juga yang mengepalai lasykar-lasykar dan semua ahli pertukangan di Thebes. Namanya adalah Nubunnef, dan ia pendeta agung di bawah Rameses II dan putranya yang bernama Merenptah.
     Karena Haman menjadi kepala organisasi kependetaan yang sangat kaya, merangkum semua pendeta di seluruh negeri, kekuasaannya dan wibawanya telah meningkat sedemikian rupa, sehingga ia menguasai suatu partai politik yang sangat berpengaruh, dan bahkan mempunyai suatu pasukan pribadi (“A story of Egypt” oleh James Henry Breasted, Ph.D).
       Makna ayat وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ  -- dan Kami  perlihatkan kepada Fir’aun serta Haman dan  lasykar keduanya  apa yang mereka khawatirkan dari mereka itu.”   Perbudakan dan kezaliman menghasilkan nemesisnya (pembalasan keadilannya) sendiri; dan kaum penjajah dan penindas tak pernah merasa aman terhadap kemungkinan munculnya pemberontakan terhadap mereka oleh orang-orang yang terjajah, tertindas atau tertekan.
Lebih hebat penindasan dari seseorang yang zalim, lebih besar pula ketakutannya akan pemberontakan dari mereka yang dijajah. Fir’aun pun dicekam oleh rasa takut semacam itu, gejala kejiwaan yang sama  senantiasa dialami oleh para penguasa  diktator  yang melaksanakan pemerintahannya secara  otoriter, teramsuk di Akhir Zaman ini.
      Akibat buruk dari Politik divide et impera (memecah-belah dan menjajah) yang dilakukan dinasti Fir’aun  terhadap Bani Israil selama berabad-abad tersebut tampak jelas  ketika Nabi Musa a.s. mengajak mereka untuk memasuki Kanaan --  negeri yang dijanjikan  --  mereka  menolak memasukinya dengan alasan takut terhadap bangsa-bangsa asing yang berada di wilayah tersebut, sehingga untuk mengembalikan jiwa kesatria mereka Allah Swt. membiarkan mereka mengembara di padang pasir selama 40 tahun (QS.5:21-27).

Dua Blok Politik di Akhir Zaman yaitu Jin (Kapitalisme) dan Ins (Sosialisme)

      Jadi, kembali kepada Surah Al-Lahab,  ungkapan, Abu Lahab, dapat berarti pula orang yang menciptakan barang-barang yang mengeluarkan api serta nyala, atau orang yang dirinya sendiri termakan nyala api. Dalam pengertian terakhir, ayat ini dapat ditafsirkan meramalkan kebinasaan dua blok politik besar di Akhir Zaman    --  yakni para penganut paham Kapitalisme dan Sosialisme --  disebabkan oleh senjata-senjata api mereka sendiri, seperti bom atom dan senjata nuklir lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa hari perhitungan bagi bangsa-bangsa itu, sudah tidak jauh lagi.
    Isyarat dalam ayat  وَّ  امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ  الۡحَطَبِ  --  “dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ  --   di leher istri-nya ada tali  yang dipintal”,  ini rupanya tertuju kepada istri Abu Lahab, Ummi Jamil, yang pernah menaburi jalan yang dilalui Nabi Besar Muhammad saw.  dengan duri dan biasa jalan kian kemari menabur-naburkan fitnah terhadap beliau; hathab berarti juga fitnah (Lexicon  Lane).
   Ayat ini dapat juga dikenakan kepada orang-orang yang menabur-naburkan fitnah dan tuduhan-tuduhan palsu terhadap Islam dan terhadap  Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana yang berulang kali dilakukan oleh tabloid  Charlie Hedbo   di Perancis, yang memuat  karikatur  Nabi Besar Muhammad saw. yang kemudian menimbulkan reaksi keras dari 2 orang yang mengaku   pengikut Al-Qaidah  berupa serangan mematikan ke kantor majalah tersebut, 12 orang meninggal dan 4 orang mengalami luka.
     Sekalipun nampaknya merdeka namun bangsa-bangsa ini akan demikian amat terikatnya pada ideologi-ideologi dan sistem-sistem politik masing-masing, sehingga mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari belenggu ideologi dan sistem mereka itu. Atau, seperti Ummi Jamil, yang konon telah tercekik lehernya oleh tali yang justru dengan tali itu pula ia mengikat dan membawa kayu bakar, bangsa-bangsa itu akan binasa oleh alat-alatnya sendiri yang dengan alat-alat itu mereka berusaha membinasakan bangsa-bangsa lain.

Hubungan Iblis dengan Jin dan “Abu Lahab” (Bapak Nyala Api)

   Sifat “Abu Lahab” (bapak nyala api) tersebut identik dengan ketakaburan iblis, ketika menolak perintah Allah Swt. untuk  “sujud” kepada Adam (Khalifah Allah) bersama para malaikat, karena menganggap dirinya – yang diciptakan dari “api” – lebih mulia dari Adam yang diciptakan dari “tanah liat” (QS.7:12-14).
 Allah Swt. dalam Al-Quran telah menyatakan bahwa iblis yang takabbur tersebut dari golongan jin (QS.18:51) yang juga diciptakan dari “nyala api”, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾  وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan insan (manusia) dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk.  Dan sebelumnya Kami telah menjadikan  jin dari api angin panas.   (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya lagi:
خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾  وَ  خَلَقَ  الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ  مِّنۡ نَّارٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Dia menciptakan insan  (manusia) dari tanah liat kering  seperti tembikar,    dan Dia menciptakan jin-jin dari nyala api. Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? (Al-Rahmān [55]:15-17).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 6 Februari      2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar