بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 48
Hubungan
“Abu Lahab” (Bapak Nyala Api), Iblis
Serta Tersebarnya Gog (Ya’juj)
dan Magog
(Ma’juj) di Akhir Zaman
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas
mengenai kejayaan duniawi bangsa-bangsa Kristen di Akhir Zaman berupa
penguasaan atas kawasan-kawasan
luas di bumi ini dalam Bible dan Al-Quran
disebut sebagai tersebarnya
kembali Gog (Ya’juj) dan Magog (Ya’juj) setelah masa “pemenjaraan” mereka selama 1000 tahun,
yaitu berupa munculnya fitnah Dajjal atau anti
Kristus.
Peristiwa tersebut pada hakikatnya sebagai pengabulan
doa
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas permohonan para hawari (pengikut) beliau: اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ -- “Ya Allah,
Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari
langit, supaya menjadi suatu perayaan yang berulang
bagi kami, bagi orang-orang yang
awal dari kami, juga bagi yang
datang di belakang kami, dan
sebagai Tanda-tanda kebenaran
dari Engkau, berilah
kami rezeki, dan Engkau
sebaik-baik Pemberi rezeki,” ada dua masa kemakmuran dan kemajuan untuk umat Kristen sebagaimana
ditunjukkan oleh kata ‘Id yang secara harfiah berarti “hari yang berulang.”
Yakni, sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya bahwa umat Kristen telah
dianugerahi kekuasaan duniawi dan harta-benda duniawi dengan berlimpah-limpah pada zaman permulaan
sesudah Kaisar Romawi, Constantin, memeluk agama
Kristen dan menjadikannya sebagai “agama
kerajaan”, dan kemudian dalam
abad-abad ke-18 dan ke-19, mereka kembali
memperoleh kemakmuran dan kekuasaan politik dalam ukuran yang tak
ada tara bandingannya dalam sejarah bangsa lain mana pun (QS.7:170).
Hukuman
Ilahi kepada mereka yang dimaksud dalam
jawaban Allah Swt. pada ayat:
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ
مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ
الۡعٰلَمِیۡنَ ٪
“Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada
kamu, maka barangsiapa di antaramu
kafir sesudah itu, maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab
kepada seorang pun di seluruh
alam.” (Al-Mā’idah [5]:116).
Hukuman
Allah Swt. tersebut sama dengan hukuman yang tersebut dalam QS.18:1-6 & 95-102; QS.19:91-96; QS.20:106-110;
QS.21:96-98; QS.55:34-46; QS.70:1-19; QS.104:1-10; QS.111:1-5).
Makna Lain “Abu Lahab”
Dua Perang
Dunia yang terakhir dengan akibat-akibat
mengerikan yang ditimbulkannya dapat
merupakan satu tahap penyempurnaan kabar
gaib ini dan hanya Allah Swt. sajalah Yang mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa
Kristen di belahan bumi sebelah barat (Eropa dan Amerika) tersebut, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ تَبَّتۡ یَدَاۤ اَبِیۡ
لَہَبٍ وَّ تَبَّ ؕ﴿﴾ مَاۤ اَغۡنٰی
عَنۡہُ مَالُہٗ وَ مَا
کَسَبَ ؕ﴿﴾ سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ لَہَبٍ ۚ﴿ۖ﴾ وَّ
امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ
الۡحَطَبِ ۚ﴿﴾ فِیۡ جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
تَبَّتۡ یَدَاۤ اَبِیۡ
لَہَبٍ وَّ تَبَّ -- Binasalah
kedua tangan Abu Lahab dan binasalah
dia! مَاۤ اَغۡنٰی عَنۡہُ مَالُہٗ
وَ مَا کَسَبَ -- Sekali-kali tidak memberi manfaat kepadanya hartanya
dan apa yang dia usahakan. سَیَصۡلٰی نَارًا
ذَاتَ لَہَبٍ
-- segera ia akan masuk Api yang menyala-nyala. وَّ امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ الۡحَطَبِ -- dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ -- di leher istri-nya ada tali yang dipintal. (Al-Lahab
[111):1-6).
Abu
Lahab (Bapak Nyala-Api) adalah julukan yang diberikan kepada ‘Abd-al-’Uzza paman Nabi Besar Muhammad saw. serta musuh bebuyutan dan penindas beliau saw. serta para sahabah beliau saw. di Mekkah. Ia disebut demikian, karena warna muka dan rambutnya kemerah-merahan, atau juga karena ia berda-rah panas.
Surah ini mengingatkan kita kepada suatu peristiwa ketika Nabi Besar Muhammad saw. mula-mula sekali
membuka tabligh kepada kerabatnya di
kalangan kaum Quraisy Mekkah, setelah beliau saw. diperintahkan Allah Swt. untuk mengumpulkan kaum kerabat beliau dan menyampaikan Amanat Ilahi kepada mereka.
Pada suatu hari Nabi Besar Muhammad saw. berdiri di Bukit Shafa dan memanggil berbagai kabilah
Mekkah satu demi satu – kabilah-kabilah Luway,
Murah, Kilāb dan Qushay – dan anggota keluarga-dekat
beliau, dan mengatakan kepada mereka bahwa beliau adalah utusan (rasul) Allah, dan bahwa jika mereka tidak menerima seruan beliau saw. serta tidak meninggalkan
adat kebiasaan jahat mereka, hukuman Allah akan menimpa diri mereka. Belum juga Nabi
Besar Muhammad saw. mengakhiri uraian beliau tiba-tiba Abu Lahab berdiri seraya
berkata: “Binasalah engkau! Untuk inikah engkau memanggil kami berkumpul?” (Bukhari).
Kesuksesan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) Memanfaatkan Energi Api yang Akan “Membakar” Dirinya Sendiri & Politik
“Devide et Impera”
Julukan “Bapak
Nyala Api” boleh jadi ditujukan khusus kepada Abu Lahab atau kepada siapa pun dari musuh-musuh Islam yang berwatak pemarah,
lebih tepat lagi sebutan ini dikenakan kepada bangsa-bangsa Barat di Akhir Zaman,
yang memiliki dan menguasai senjata-senjata
api, atom dan nuklir – suatu kelompok dari mereka sama
sekali menyangkal adanya Tuhan yang
dipimpin oleh Rusia, dan yang satu
lagi menolak Tauhid Ilahi yakni
penganut paham “trinitas” dan “penebusan dosa” namun demikian kedua-duanya
sama-sama memusuhi Islam atau Tauhid Ilahi.
Dalam pengertian ini yang dimaksud dengan “kedua
tangan” Abu Lahab (bapak nyala api) berarti kedua kelompok itu, dan ayat ini mengandung arti bahwa segala upaya dan persekongkolan rahasia musuh-musuh Islam, terutama kedua golongan adikuasa
Barat dengan satelit-satelitnya, akan
gagal sama sekali dan semua rencana jahat mereka akan menjadi bumerang dan menghantam mereka sendiri; hati
mereka akan terbakar oleh amarah demi
dilihatnya Islam terus maju,
sedangkan kekuasaan, kekayaan, dan milik mereka sendiri kian menyusut
dan binasa juga di hadapan mata
kepala mereka sendiri.
Kata “hartanya,”
dapat berarti, kekayaan yang
dihasilkan di negeri-negeri mereka sendiri, dan “apa yang dia usahakan”
dapat diartikan harta kekayaan yang ditimbun mereka dengan memeras bangsa-bangsa yang lebih lemah dan merampas kekayaan SDA (sumber
daya alam) mereka itu, dengan berkedok
melakukan perniagaan (ekonomi - QS.18:20-23), namun kemudian
melakukan melakukan politik devide et impera (mengadu-domba dan menjajah) terhadap penduduk wilayah yang mereka masuki.
Politik
devide et impera (mengadu-domba dan menjajah) itu pulalah yang
dilakukan oleh dinasti Fir’aun ribuan
tahun sebelumnya di Mesir dalam uppaya mempertahankan kekuasaannya (QS.28:1-7).
Dan Politik devide
et impera (mengadu-domba dan
menjajah) itu pulalah yang dilakukan VOC
di Nusantara, sehingga mereka berhasil
menjajah Nusantara selama 350 tahun,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ طٰسٓمّٓ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ الۡکِتٰبِ
الۡمُبِیۡنِ ﴿﴾ نَتۡلُوۡا عَلَیۡکَ
مِنۡ نَّبَاِ مُوۡسٰی وَ فِرۡعَوۡنَ بِالۡحَقِّ
لِقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ
اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً
مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ
اِنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ
اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً وَّ
نَجۡعَلَہُمُ الۡوٰرِثِیۡنَ ۙ﴿﴾ وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ وَ نُرِیَ
فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا
یَحۡذَرُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang. طٰسٓمّٓ -- Maha
Suci, Maha Mendengar, Maha Mulia. Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas. Kami membacakan kepada engkau berita mengenai Musa
dan Fir’aun dengan benar untuk kaum yang beriman. Sesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi
dan ia menjadikan penduduknya
bergolongan-golongan, ia berusaha
melemahkan segolongan dari mereka
dengan menyembelih anak-anak laki-laki mereka,
dan membiarkan hidup perempuan-perempuan
mereka, sesungguhnya ia termasuk
orang-orang yang berbuat kerusakan. وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ
وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً وَّ نَجۡعَلَہُمُ
الۡوٰرِثِیۡنَ -- Dan Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi dan menjadikan
mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan
mereka ahli waris karunia-karunia Kami, وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ -- dan Kami mapankan mereka di bumi وَ نُرِیَ
فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا
یَحۡذَرُوۡنَ -- dan
Kami
perlihatkan kepada Fir’aun serta Haman dan lasykar keduanya apa yang mereka
khawatirkan dari mereka itu. (Al-Qashash [28]:1-7).
Politik divide et impera (memecah-belah
dan menjajah) dengan akibatnya yang
sangat mematikan seperti dijalankan
kekuatan-kekuatan kaum kolonial barat
di abad kedua puluh ini, agaknya di zaman
Fir’aun telah dijalankan juga olehnya dengan sukses besar. Ia telah memecah-belah rakyat Mesir ke dalam beberapa partai
dan golongan serta dengan busuk hati
telah membuat perbedaan kelas di
antara mereka. Beberapa di antara mereka dianak-emaskannya
dan yang lain diperas dan ditindasnya.
Gejala Kejiwaan “Takut Kehilangan
Kekuasaan” yang Menguasai Para Diktator
Kaum Nabi Musa a.s. (Bani Israil) termasuk kelas yang tidak beruntung.
Kata-kata menyembelih anak-anak
laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, kecuali
mengandung pengertian yang jelas, bahwa agar supaya orang-orang Bani Israil selamanya tunduk di bawah kekuasaannya, Fir’aun membinasakan kaum pria mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, dapat juga diartikan bahwa dengan politik menjajah dan menindas tanpa belas kasihan itu ia
berikhtiar membunuh sifat-sifat
kejantanan mereka dan dengan demikian membuat mereka jadi pengalah seperti perempuan.
Ketika
upaya merendahkan derajat orang-orang
Bani Israil di Mesir itu mencapai titik yang serendah-rendahnya, dan kezaliman Fir’aun dan bangsanya kian
meluap-luap, dan Allah Swt., sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak mungkin keliru memutuskan bahwa penindas-penindas itu harus dihukum
dan mereka yang diperbudak
dibebaskan, maka Dia mengutus Nabi Musa a.s..
Gejala
yang terjadi di masa tiap-tiap rasul
Allah seperti itu menampakkan perwujudan sepenuhnya dan seindah-indahnya di masa kenabian Nabi Besar Muhammad saw., yang merupakan misal
Nabi Musa a.s. (QS.46:11), yang juga harus menghadapi kezaliman “Fir’aun” yang berada di Mekkah, yaitu Abu Jahal dan delapan orang pemimpin
kaum kafir Quraisy lainnya, termasuk ‘Abd-al-’Uzza atau Abu Lahab.
Haman
itu gelar pendeta agung dewa Amon; “ham” di dalam bahasa Mesir berarti,
pendeta agung. Dewa Amon menguasai semua dewa Mesir lainnya. Haman adalah
kepala khazanah dan lumbung negeri, dan juga yang mengepalai lasykar-lasykar
dan semua ahli pertukangan di Thebes. Namanya adalah Nubunnef, dan ia pendeta agung di bawah Rameses II dan putranya yang bernama Merenptah.
Karena Haman menjadi
kepala organisasi kependetaan yang
sangat kaya, merangkum semua pendeta
di seluruh negeri, kekuasaannya dan wibawanya telah meningkat sedemikian rupa,
sehingga ia menguasai suatu partai
politik yang sangat berpengaruh, dan bahkan mempunyai suatu pasukan pribadi
(“A story of Egypt” oleh James Henry Breasted, Ph.D).
Makna
ayat وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا
مِنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami perlihatkan kepada Fir’aun serta Haman dan lasykar
keduanya apa yang mereka khawatirkan dari mereka itu.” Perbudakan dan kezaliman menghasilkan nemesisnya (pembalasan keadilannya) sendiri;
dan kaum penjajah dan penindas tak pernah merasa aman terhadap kemungkinan munculnya pemberontakan terhadap mereka oleh orang-orang yang terjajah, tertindas atau tertekan.
Lebih hebat penindasan dari seseorang yang zalim,
lebih besar pula ketakutannya akan pemberontakan dari mereka yang dijajah. Fir’aun pun dicekam oleh rasa takut semacam itu, gejala kejiwaan yang sama senantiasa dialami oleh para penguasa diktator
yang melaksanakan pemerintahannya secara otoriter,
teramsuk di Akhir Zaman ini.
Akibat buruk dari Politik divide
et impera (memecah-belah dan menjajah) yang dilakukan dinasti Fir’aun terhadap Bani Israil selama berabad-abad tersebut
tampak jelas ketika Nabi Musa a.s. mengajak mereka untuk memasuki Kanaan -- “negeri
yang dijanjikan” -- mereka
menolak memasukinya dengan alasan takut
terhadap bangsa-bangsa asing yang
berada di wilayah tersebut, sehingga untuk mengembalikan jiwa kesatria mereka Allah Swt. membiarkan mereka mengembara di padang pasir selama 40
tahun (QS.5:21-27).
Dua Blok Politik di
Akhir Zaman yaitu Jin (Kapitalisme) dan
Ins (Sosialisme)
Jadi, kembali kepada Surah Al-Lahab, ungkapan, Abu Lahab, dapat berarti
pula orang yang menciptakan barang-barang
yang mengeluarkan api serta nyala, atau orang yang dirinya sendiri
termakan nyala api. Dalam pengertian
terakhir, ayat ini dapat ditafsirkan meramalkan kebinasaan dua blok politik
besar di Akhir Zaman --
yakni para penganut paham Kapitalisme
dan Sosialisme -- disebabkan oleh senjata-senjata api mereka sendiri, seperti bom atom dan senjata nuklir
lainnya. Ayat ini menunjukkan bahwa hari
perhitungan bagi bangsa-bangsa
itu, sudah tidak jauh lagi.
Isyarat dalam ayat وَّ
امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ
الۡحَطَبِ -- “dan juga istrinya
pemikul kayu bakar. فِیۡ جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ
مَّسَدٍ -- di leher istri-nya ada tali yang dipintal”, ini rupanya tertuju kepada istri Abu Lahab, Ummi Jamil, yang pernah
menaburi jalan yang dilalui Nabi
Besar Muhammad saw. dengan duri dan biasa jalan kian kemari menabur-naburkan fitnah terhadap beliau;
hathab berarti juga fitnah (Lexicon
Lane).
Ayat ini dapat juga dikenakan kepada
orang-orang yang menabur-naburkan fitnah
dan tuduhan-tuduhan palsu terhadap Islam dan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana yang
berulang kali dilakukan oleh tabloid Charlie Hedbo di Perancis, yang memuat karikatur Nabi Besar Muhammad saw. yang kemudian
menimbulkan reaksi keras dari 2 orang
yang mengaku pengikut Al-Qaidah berupa serangan
mematikan ke kantor majalah
tersebut, 12 orang meninggal dan 4
orang mengalami luka.
Sekalipun
nampaknya merdeka namun bangsa-bangsa ini akan demikian amat
terikatnya pada ideologi-ideologi dan
sistem-sistem politik masing-masing,
sehingga mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari belenggu ideologi dan sistem
mereka itu. Atau, seperti Ummi Jamil,
yang konon telah tercekik lehernya
oleh tali yang justru dengan tali itu pula ia mengikat dan membawa
kayu bakar, bangsa-bangsa itu akan binasa oleh alat-alatnya sendiri yang
dengan alat-alat itu mereka berusaha membinasakan bangsa-bangsa lain.
Hubungan Iblis dengan Jin dan “Abu Lahab” (Bapak Nyala Api)
Sifat “Abu
Lahab” (bapak nyala api) tersebut identik dengan ketakaburan iblis, ketika
menolak perintah Allah Swt.
untuk “sujud” kepada Adam (Khalifah Allah) bersama para malaikat, karena menganggap dirinya –
yang diciptakan dari “api” – lebih mulia
dari Adam yang diciptakan dari “tanah
liat” (QS.7:12-14).
Allah Swt. dalam Al-Quran telah menyatakan
bahwa iblis yang takabbur tersebut
dari golongan jin (QS.18:51) yang
juga diciptakan dari “nyala api”,
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ
﴿ۚ﴾ وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ
السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menciptakan insan (manusia) dari tanah liat kering yang berdenting, dari
lumpur hitam yang telah diberi bentuk. Dan sebelumnya Kami telah menjadikan jin
dari api angin panas. (Al-Hijr [15]:27-28).
Firman-Nya
lagi:
خَلَقَ
الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ کَالۡفَخَّارِ ﴿ۙ﴾ وَ
خَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ
مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾
Dia
menciptakan insan (manusia) dari tanah liat kering seperti
tembikar, dan
Dia menciptakan jin-jin dari nyala api. Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu berdua dustakan? (Al-Rahmān
[55]:15-17).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 6 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar