Senin, 02 Februari 2015

Keberadaan "Iblis, Jin, Setan" dari Golongan "Makhluk Gaib"





 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 44

  
Keberadaan Iblis, Jin,  Setan dari Golongan “Makhluk Gaib
     

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai  makna huruf lam dalam ayat  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam,”   antara lain berarti “bersama-sama”. Ungkapan li ādama dapat pula berarti “bersama Adam”.  Sujud di sini berarti taat, jadi bukan benar-benar “sujud” kepada Adam  sebab  Allah Swt. melarang manusia bersujud kepada sesame makhluk, firman-Nya:
  وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ  خَلَقۡتَ  طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ  اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا  الَّذِیۡ  کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat:  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam,”  maka mereka bersujud kecuali iblis. Ia berkata: “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau jadikan dari tanah liat?”    Ia berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin  bahwa orang   yang telah Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat,  niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit.” (Bani Israil [17]:62-63).

Makna “Kiamat” (Hari Kebangkitan)

        Ada pun yang dimaksud dengan “Kiamat” dalam ayat  لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ   -- “Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat”,   dimaksudkan kebangkitan ruhani yang dialami oleh tiap orang beriman ketika keimanannya mencapai titik kesempurnaan sehingga syaitan tidak lagi berkuasa atas dia, yang disebut tingkatan  nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang tentram  - QS.89:28-31).
       Makna ayat selanjutnya  لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا       -- “niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit,” perlu penjelasan yaitu apakah syaitan telah berhasil atau tidak  dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang penting dan perlu mendapat jawaban.
        Mengapa demikian? Sebab satu pandangan yang tergesa-gesa dan tanpa disertai pikiran yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di dunia ini, dapat membawa   kepada kesimpulan yang salah, bahwa seakan-akan keburukan itu mengungguli kebaikan di dunia ini, padahal  hakikat yang sebenarnya adalah kebalikannya.
        Seandainya, sebagai contoh  semua ucapan pendusta-pendusta terbesar diselidiki secara kritis, maka ucapan-ucapannya yang mengandung kebenaran jumlahnya akan nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya yang dusta. Demikian pula jumlah orang-orang buruk di dunia ini jauh di bawah jumlah orang-orang baik.
Kenyataan bahwa keburukan itu mendapat perhatian begitu besar, justru menjadi bukti bahwa fitrat manusia pada dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya dalam bentuk kenyataan.
           Namun walau pun demikian, Al-Quran tidak sama sekali menutup  pintu jika ada yang menafsirkan bahwa iblis atau jin  atau syaitan (setan)  dapat tertuju kepada “makhluk halus” yang mendapat “tugas” dari Allah Swt.  yang bertentangan dengan tugas para malaikat, namun tujuan keberadaan  “makhluk halus” tersebut bukan untuk  tujuan yang buruk atau negatif, melainkan untuk  tujuan yang baik atau positif.

Fungsi Keberadaan “Setan” Sebagai “Perintang” di Jalan Allah Swt. & Jihad Hakiki

        Contohnya dalam dunia atletik,  seseorang  yang tidak terlatih    hanya dapat meloncati mistar perintang setinggi 1 meter lebih, tetapi  jika ketinggian mistar  perintang tersebut secara bertahap ditinggikan maka ia akan dapat meningkatkan ketinggian loncatannya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya.
          Jika dalam upayanya untuk  meraih  kedudukan juara  loncat tinggi, berkali-kali calon atlit loncat tinggi tersebut dalam latihannya mengalami kegagalan melampui mistar perintang,   ia tidak selayaknya menyalahkan mistar perintang  -- yang oleh pelatih  terus ditinggikan sehingga mencapai ketinggian maksimal yang mungkin dapat dilakukan oleh calon atlit  tersebut   -- melainkan salahkan dirinya sendiri karena kekurangseriusannya  dalam melakukan latihan loncat tinggi tersebut.
         Begitu juga  dengan fungsi keberadaan “makhluk halus” yang disebut iblis atau jin atau setan, adalah seperti berbagai macam sarana latihan  untuk mencapai suatu prestasi   yang terdapat di dunia olah raga, yang apabila manusia berhasil melampaui “godaan” atau “rintangan”  para perintang  di jalan Allah Swt. tersebut  -- yang disebut jihad   --  maka akan membuat  potensi akhlak dan ruhaninya semakin meningkat pesat, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabūt  [29]:70).
         Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan – sebagaimana yang telah umumnya disalah-tafsirkan di Akhir Zaman ini --  melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi (QS.89:28-31) sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.” Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai insan  (manusia), sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka aengkau akan bertemu dengan-Nya.  (Al-Insyiqaq [84]:7).
         Sebaliknya, jika gagal melalui berbagai “rintangan” (godaan) yang dilakukan oleh “makhluk halus” yang disebut iblis atau jin atau setan tersebut   janganlah menyalahkan mereka melainkan hendaklah menyalahkan diri sendiri  atas keteledorannya, firman-Nya:
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾

Dan tatkala perkara itu telah diputuskan syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepadamu tetapi aku telah menyalahinya, dan aku sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri.  -- Aku sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).

Pentingnya Mohon Perlindungan Kepada Allah Swt. dari Godaan Syaitan

         Berikut firman Allah Swt. mengenai “kegaiban  para perintang di jalan Allah Swt. tersebut:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ  اَبَوَیۡکُمۡ  مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ  لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali membiarkan syaitan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang-tua kamu dari kebun, ia menanggalkan pakaian keduanya itu untuk  menampakkan kepada keduanya  aurat mereka, sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihatmu dari tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.  Sesungguh-nya  Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu  sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman.  (Al-A’rāf [7]:28).
    Ruh jahat atau “makhluk halus” yang disebut syaitan dan mereka yang sebangsanya, pada umumnya tidak nampak oleh mata. Mereka mempergunakan pengaruh secara tidak nampak dan mencari-cari kelemahan-kelemahan tersembunyi pada diri manusia agar dapat membuatnya tetap mengumbar kelakuan jahatnya.
 Allah Swt. telah menciptakan syaitan hanya sebagai ujian bagi manusia. Syaitan berlaku sebagai perintang dalam perlombaan ruhani yang sedang dihadapi manusia. Perintang-perintang itu dimaksudkan tidak sebagai penghambat melainkan untuk menciptakan persaingan dalam perlombaan itu dan melipatgandakan upaya mereka.
 Mereka yang tidak berhati-hati dan lalai, yaitu mereka yang tergelincir karena rintangan-rintangan itu dan kemudian kalah dalam perlombaan harus menyesali diri mereka sendiri dan jangan menyalahkan  orang atau orang-orang yang menempatkan perintang-perintang di jalan mereka untuk mencoba dan menguji ketabahan mereka.
 Keterangan selanjutnya yang mendukung keberadaan “makhluk halus” yang disebut iblis atau jin atau setan  tersebut dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاِذَا  قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ  فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ مِنَ  الشَّیۡطٰنِ  الرَّجِیۡمِ ﴿﴾  اِنَّہٗ  لَیۡسَ لَہٗ  سُلۡطٰنٌ عَلَی الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  وَ عَلٰی  رَبِّہِمۡ  یَتَوَکَّلُوۡنَ﴿﴾  اِنَّمَا سُلۡطٰنُہٗ  عَلَی الَّذِیۡنَ یَتَوَلَّوۡنَہٗ وَ الَّذِیۡنَ  ہُمۡ  بِہٖ  مُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾٪
Maka apabila engkau hendak membaca Al-Quran maka mohonlah perlindungan Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.  Sesungguhnya ia tidak mempunyai kekuasaan atas  orang-orang yang beriman dan yang bertawakkal kepada Rabb (Tuhan) mereka.  Sesungguhnya kekuasaannya hanya atas orang-orang yang ber-sahabat dengannya dan atas orang-orang yang mempersekutukan Dia. (Al-Nahl [16]:99-101). 
Firman-Nya lagi:
وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia  Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Fushshilat [41]:37).
       Demikian juga Nabi Yusuf a.s. – demi menjaga perasaan saudara-saudara beliau seayah  -- telah menyebut penyebab  berpisahnya beliau  dengan  ayah  (Nabi Ya’qub a.s.) serta saudara-saudaranya   tersebut  sebagai perbuatan syaitan (QS.12:101), padahal pada kenyataannya sebagai akibat kedengkian saudara-saudaranya terhadap beliau itulah penyebabnya,  karena mereka menganggap Nabi Ya’qub a.s. telah berlaku tidak adil  karena  menurut mereka beliau lebih mencintai Nabi Yusuf a.s. (QS.12:5-22).

Keburukan Bisikan-bisikan “Khannas 

      Demikian pula dalam   firman-Nya berikut ini Allah Swt. mengisyaratkan keberadaan “makhluk halus” yang termasuk  iblis, jin dan setan  yang disebut khannas, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾  قُلۡ  اَعُوۡذُ  بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾   مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾  اِلٰہِ  النَّاسِ ۙ﴿۳﴾  مِنۡ  شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ  الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) manusia,   Raja manusia,   Sembahan manusia,dari keburukan bisikan-bisikan khannas (syaitan yang tersembunyi),  yang  membisikkan ke dalam hati manusia, dari jin dan manusia.”  (An-Nās [114]:1-7).
   Dalam Surah ini tiga Sifat Ilahi – Rabb (Tuhan manusia), Malik (Raja manusia), dan Ilah (Sembahan manusia), telah diseru sebagai penanding satu sifat, yang disebut dalam Surah Al-Falaq, yakni Rabb al-Falaq (Tuhan Yang Memiliki fajar),sebab Sifat yang satu ini (Al-Falaq) meliputi ketiga sifat tersebut di atas.
    Sementara satu Sifat Ilahi, “Tuhan Yang Memiliki fajar” (Al-Falaq) telah diseru menandingi empat macam kejahatan dalam Surah sebelumnya, maka dalam Surah ini tiga Sifat Ilahi   --  Rabb (Tuhan) manusia,   Raja manusia,   Sembahan manusia    -- telah diseru menandingi satu kejahatan saja, yaitu  bisikan si jahat   yakni  khannas. Hal itu disebabkan ajakan-ajakan atau bisikan-bisikan syaitan  yang disebut khannas    -- terutama fitnah Dajjal  -- meliputi segala kejahatan yang dapat menimpa kalangan jin (orang-orang besar)  dan nās (masyarakat awam).
    Ketiga-tiga Sifat Ilahi --  Rabb (Tuhan) manusia,   Raja manusia,   Sembahan manusia,    -- itu mempunyai  hubungan yang halus sekali (latif) dengan keadaan tabiat alami, akhlak, dan ruhani manusia. Perkembangan jasmani dan akhlak manusia terjadi di bawah sifat Rabb  (Rabbubiyyat) Allah Swt. (QS.1:2); pikiran, perkataan, serta perbuatan disiksa atau diganjar oleh sifat Malik  (QS.1:4),  dan sifat Ilah berarti  Tuhan adalah obyek cinta dan pujaannya; Dia (Allah Swt.) adalah tujuan dan cita-citanya.
    Sebutan ketiga Sifat Ilahi dalam Surah ini mengandung arti, bahwa semua dosa bersumber pada tiga sebab, yaitu jika seseorang memandang orang lain sebagai majikannya, rajanya, atau tuhan-nya, yakni  bila ia menganggap dia penopang dan pendukung utama hidupnya, atau menghambakan diri kepada kekuasaan yang bukan haknya atau menjadikan dia tujuan cinta dan pujaannya.
 Dalam Surah An-Nās  Allah Swt. memerintahkan orang beriman    agar hanya menghadapkan wajah (seluruh perhatian) kepada Tuhan   semata-mata sebagai Penjamin hidupnya yang hakiki, agar hanya kepada-Nya belaka memperlihatkan ketaatan sejati dan tanpa bersyarat,  dan agar hanya Dia-lah Yang dijadikan tujuan sebenarnya bagi cinta dan pemujaannya.
    Atau, ia diperintahkan dalam ayat ini supaya senantiasa memohon perlindungan terhadap tindak perampasan hak oleh kaum kapitalis, penguasa-penguasa zalim dan golongan pemimpin agama yang licik, yakni golongan  jin, yang sambil mengambil keuntungan secara tidak wajar dari rakyat jelata yang polos dan berpikiran sederhana  -- yakni an-nās atau ins -- dengan memeras mereka tanpa belas kasihan.
    Si Jahat khannas membisikkan pikiran-pikiran jahat ke dalam hati golongan jin (orang-orang besar) maupun golongan nās (orang-orang awam), tanpa seorang pun terkecuali. Atau, ayat ini dapat juga berarti bahwa si pembisik pikiran jahat (khannas) itu terdapat di antara golongan jin (orang-orang besar) dan  golongan   ins  atau nās yakni orang-orang awam.

Sifat-sifat Buruk Iblis  dan Syaitan

     Jadi, kembali kepada kisah monumentalAdamMalaikat dan Iblis” yang dikemukakan berbagai Surah dalam Al-Quran,  bahwa yang dimaksud dengan iblis dan setan yang bertekad melakukan penghadangan di jalan Allah Swt. dengan segala cara terhadap Adam dan para pengikutnya  (QS.7:12-26; QS.17:62-66), sebutan tersebut dapat merujuk kepada  manusia dan dapat pula mengisyaratkan kepada “makhluk halus” yang memiliki sifat-sifat buruk  sesuai dengan arti dari  sebutan mereka.
  Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang      Allah Swt.   (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
   Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.   oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
       Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal setan berlainan dari iblis. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh atau membangkang kepada Allah Swt.,   sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7), yang senantiasa bertasbih (mensucikan) dan bertaqdis (mengkuduskan) Allah Swt. (QS.2:31).
       Allah Swt.   telah “murka” kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s.   tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis tetapi perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
       Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..
       Kata  setan atau syaitan atau syaithan ada yang memahami  berasal dari kata  syā tha  artinya “terbakar”, atau dari kata  syayatha, salah satu artinya adalah “ia akan binasa” atau  ada yang menerangkan berasal dari kata syuthun artinya “jauh” yakni “jauh dari rahmat Ilahi.”
     Berdasarkan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits-hadist shahih makna syaitan lebih luas daripada makna iblis,  sebab sebutan syaitan meliputi segala sesuatu  yang membahayakan, termasuk penyakit, binatang berbisa dan  para pemimpin kekafiran (QS.2:15).
       Beliau saw. pun telah bersabda bahwa “syaitan mengalir dalam tubuh manusia bersama aliran darah”, berikut hadits mengenai hal  tersebut:
Dari Shafiyah binti Huyay (salah seorang istri Rasulullah saw./umul-mukminin) ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf, lalu aku mendatangi beliau. Aku mengunjunginya di malam hari. Aku pun bercakap-cakap dengannya. Kemudian aku ingin pulang dan beliau berdiri lalu mengantarku.”   -- Kala itu rumah Shafiyah di tempat Usamah bin Zaid    -- “Tiba-tiba ada dua orang Anshar lewat. Ketika keduanya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempercepat langkah kakinya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Pelan-pelanlah, sesungguhnya perempuan  itu adalah Shafiyah binti Huyay.” Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 2  Februari       2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar