بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 44
Keberadaan Iblis, Jin, Setan dari Golongan “Makhluk
Gaib”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab
sebelumnya telah dibahas mengenai makna huruf lam dalam ayat اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada
Adam,” antara lain berarti
“bersama-sama”. Ungkapan li ādama dapat pula berarti “bersama
Adam”. Sujud di sini berarti taat, jadi bukan benar-benar “sujud”
kepada Adam sebab
Allah Swt. melarang manusia bersujud kepada sesame makhluk, firman-Nya:
وَ اِذۡ
قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ
قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ خَلَقۡتَ طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا الَّذِیۡ
کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ
لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ
اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada Adam,” maka mereka
bersujud kecuali iblis. Ia
berkata: “Apakah aku harus bersujud
kepada orang yang Engkau jadikan dari
tanah liat?” Ia berkata:
“Terangkanlah pendapat Engkau
bagaimana mungkin bahwa orang yang telah
Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat, niscaya
akan aku kuasai semua anak-keturunannya,
kecuali sedikit.” (Bani Israil [17]:62-63).
Makna “Kiamat”
(Hari Kebangkitan)
Ada pun yang dimaksud dengan “Kiamat”
dalam ayat لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ -- “Jika Engkau
memberi tangguh kepadaku hingga Hari
Kiamat”, dimaksudkan kebangkitan ruhani yang dialami oleh
tiap orang beriman ketika keimanannya mencapai titik kesempurnaan sehingga syaitan tidak lagi berkuasa atas dia,
yang disebut tingkatan nafs-al-Muthmainnah (jiwa yang
tentram - QS.89:28-31).
Makna ayat selanjutnya لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ
اِلَّا قَلِیۡلًا -- “niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit,” perlu penjelasan yaitu apakah
syaitan telah berhasil atau tidak dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan
sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang penting dan perlu mendapat jawaban.
Mengapa demikian? Sebab satu pandangan yang tergesa-gesa dan tanpa
disertai pikiran yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di
dunia ini, dapat membawa kepada kesimpulan yang salah, bahwa seakan-akan
keburukan itu mengungguli kebaikan di dunia ini, padahal hakikat
yang sebenarnya adalah kebalikannya.
Seandainya, sebagai contoh semua ucapan pendusta-pendusta terbesar
diselidiki secara kritis, maka ucapan-ucapannya
yang mengandung kebenaran jumlahnya akan nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya yang dusta. Demikian pula jumlah orang-orang buruk di dunia ini
jauh di bawah jumlah orang-orang baik.
Kenyataan bahwa keburukan itu mendapat perhatian begitu besar, justru menjadi
bukti bahwa fitrat manusia pada
dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya
dalam bentuk kenyataan.
Namun walau pun demikian, Al-Quran
tidak sama sekali menutup pintu jika ada
yang menafsirkan bahwa iblis atau jin atau syaitan (setan) dapat tertuju kepada “makhluk halus” yang mendapat “tugas” dari Allah Swt. yang bertentangan
dengan tugas para malaikat, namun tujuan keberadaan “makhluk halus” tersebut bukan untuk tujuan yang buruk atau negatif,
melainkan untuk tujuan yang baik atau positif.
Fungsi Keberadaan “Setan”
Sebagai “Perintang” di Jalan Allah
Swt. & Jihad Hakiki
Contohnya dalam dunia atletik, seseorang
yang tidak terlatih hanya dapat meloncati mistar perintang setinggi
1 meter lebih, tetapi jika ketinggian mistar
perintang tersebut secara bertahap ditinggikan maka ia akan dapat meningkatkan ketinggian loncatannya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya.
Jika dalam upayanya untuk meraih kedudukan juara loncat
tinggi, berkali-kali calon atlit loncat tinggi tersebut dalam latihannya
mengalami kegagalan melampui mistar perintang, ia tidak selayaknya menyalahkan mistar perintang -- yang oleh pelatih terus ditinggikan sehingga mencapai ketinggian maksimal yang mungkin dapat
dilakukan oleh calon atlit tersebut
-- melainkan salahkan dirinya
sendiri karena kekurangseriusannya dalam melakukan latihan loncat tinggi tersebut.
Begitu juga dengan fungsi
keberadaan “makhluk halus” yang
disebut iblis atau jin atau setan, adalah seperti berbagai macam sarana latihan untuk
mencapai suatu prestasi yang terdapat di dunia olah raga, yang apabila manusia berhasil
melampaui “godaan” atau “rintangan” para
perintang di jalan
Allah Swt. tersebut -- yang disebut jihad
-- maka akan membuat potensi
akhlak dan ruhaninya semakin
meningkat pesat, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ
اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk
Kami niscaya Kami akan memberi
petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan
Kami, dan sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabūt [29]:70).
Jihad
sebagaimana diperintahkan oleh Islam,
tidak berarti harus membunuh atau
menjadi kurban pembunuhan –
sebagaimana yang telah umumnya disalah-tafsirkan
di Akhir Zaman ini -- melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan
Ilahi (QS.89:28-31) sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.” Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ
کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai insan
(manusia), sesungguhnya engkau
bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka aengkau akan bertemu
dengan-Nya. (Al-Insyiqaq [84]:7).
Sebaliknya, jika gagal melalui
berbagai “rintangan” (godaan) yang
dilakukan oleh “makhluk halus” yang
disebut iblis atau jin atau setan tersebut janganlah menyalahkan mereka melainkan hendaklah menyalahkan diri sendiri atas keteledorannya,
firman-Nya:
وَ قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ
الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ
فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ
اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ
لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ اَنَا
بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ
بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ
الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan
syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah
telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepadamu tetapi aku
telah menyalahinya, dan aku
sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku.
Karena itu janganlah kamu mengecamku
tetapi kecamlah dirimu sendiri. -- Aku
sama sekali tidak dapat menolongmu dan kamu
pun sama sekali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya,
sesungguhnya orang-orang yang zalim itu
bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).
Pentingnya Mohon
Perlindungan Kepada Allah Swt. dari Godaan Syaitan
Berikut firman Allah Swt. mengenai “kegaiban” para perintang
di jalan Allah Swt. tersebut:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ لَا یَفۡتِنَنَّکُمُ الشَّیۡطٰنُ کَمَاۤ اَخۡرَجَ اَبَوَیۡکُمۡ
مِّنَ الۡجَنَّۃِ یَنۡزِعُ عَنۡہُمَا لِبَاسَہُمَا لِیُرِیَہُمَا
سَوۡاٰتِہِمَا ؕ اِنَّہٗ یَرٰىکُمۡ ہُوَ وَ قَبِیۡلُہٗ مِنۡ حَیۡثُ لَا
تَرَوۡنَہُمۡ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ لِلَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, janganlah sekali-kali
membiarkan syaitan menggoda kamu
sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua
orang-tua kamu dari kebun, ia menanggalkan
pakaian keduanya itu untuk menampakkan kepada keduanya aurat mereka, sesungguhnya ia dan suku bangsanya melihatmu dari tempat
yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguh-nya Kami
telah menjadikan syaitan-syaitan itu
sahabat-sahabat bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-A’rāf [7]:28).
Ruh jahat atau “makhluk halus” yang disebut syaitan
dan mereka yang sebangsanya, pada umumnya tidak
nampak oleh mata. Mereka mempergunakan pengaruh
secara tidak nampak dan mencari-cari kelemahan-kelemahan tersembunyi pada
diri manusia agar dapat membuatnya tetap mengumbar
kelakuan jahatnya.
Allah Swt. telah menciptakan syaitan hanya sebagai ujian bagi manusia. Syaitan berlaku sebagai perintang
dalam perlombaan ruhani yang sedang
dihadapi manusia. Perintang-perintang
itu dimaksudkan tidak sebagai penghambat
melainkan untuk menciptakan persaingan
dalam perlombaan itu dan melipatgandakan upaya mereka.
Mereka yang tidak berhati-hati dan lalai,
yaitu mereka yang tergelincir karena rintangan-rintangan itu dan kemudian kalah dalam perlombaan harus menyesali
diri mereka sendiri dan jangan
menyalahkan orang atau orang-orang yang menempatkan perintang-perintang di jalan mereka untuk mencoba
dan menguji ketabahan mereka.
Keterangan selanjutnya yang mendukung
keberadaan “makhluk halus” yang
disebut iblis atau jin atau setan tersebut dijelaskan
dalam firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاِذَا قَرَاۡتَ
الۡقُرۡاٰنَ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ مِنَ الشَّیۡطٰنِ الرَّجِیۡمِ ﴿﴾ اِنَّہٗ لَیۡسَ لَہٗ سُلۡطٰنٌ عَلَی الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَلٰی رَبِّہِمۡ یَتَوَکَّلُوۡنَ﴿﴾ اِنَّمَا سُلۡطٰنُہٗ عَلَی
الَّذِیۡنَ یَتَوَلَّوۡنَہٗ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ بِہٖ مُشۡرِکُوۡنَ
﴿﴾٪
Maka apabila engkau hendak membaca Al-Quran
maka mohonlah perlindungan Allah dari
godaan syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya ia tidak mempunyai kekuasaan atas
orang-orang yang beriman dan yang bertawakkal kepada Rabb (Tuhan)
mereka. Sesungguhnya
kekuasaannya hanya atas orang-orang yang
ber-sahabat dengannya dan atas
orang-orang yang mempersekutukan Dia. (Al-Nahl [16]:99-101).
Firman-Nya lagi:
وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ
اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau
maka mohonlah perlindungan kepada Allah,
sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Fushshilat [41]:37).
Demikian juga
Nabi Yusuf a.s. – demi menjaga perasaan saudara-saudara beliau seayah -- telah menyebut penyebab berpisahnya
beliau dengan ayah
(Nabi Ya’qub a.s.) serta saudara-saudaranya tersebut
sebagai perbuatan syaitan
(QS.12:101), padahal pada kenyataannya sebagai akibat kedengkian saudara-saudaranya terhadap beliau itulah penyebabnya, karena mereka menganggap Nabi Ya’qub a.s.
telah berlaku tidak adil karena
menurut mereka beliau lebih mencintai
Nabi Yusuf a.s. (QS.12:5-22).
Keburukan Bisikan-bisikan “Khannas”
Demikian pula dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt.
mengisyaratkan keberadaan “makhluk halus”
yang termasuk “iblis, jin dan setan”
yang disebut khannas,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ قُلۡ اَعُوۡذُ
بِرَبِّ النَّاسِ ۙ﴿﴾ مَلِکِ النَّاسِ ۙ﴿﴾ اِلٰہِ النَّاسِ ۙ﴿۳﴾ مِنۡ شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۬ۙ الۡخَنَّاسِ ۪ۙ﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Katakanlah: “Aku berlindung
kepada Rabb (Tuhan) manusia, Raja
manusia, Sembahan manusia,dari keburukan bisikan-bisikan khannas (syaitan yang
tersembunyi), yang membisikkan
ke dalam hati manusia, dari jin dan manusia.” (An-Nās [114]:1-7).
Dalam Surah ini tiga Sifat Ilahi – Rabb (Tuhan manusia), Malik
(Raja manusia), dan Ilah (Sembahan manusia), telah diseru sebagai
penanding satu sifat, yang disebut dalam Surah Al-Falaq, yakni Rabb al-Falaq (Tuhan Yang Memiliki
fajar),sebab Sifat yang satu ini (Al-Falaq) meliputi ketiga sifat tersebut di atas.
Sementara satu Sifat Ilahi, “Tuhan Yang Memiliki fajar” (Al-Falaq) telah diseru menandingi empat macam kejahatan
dalam Surah sebelumnya, maka dalam Surah ini tiga Sifat Ilahi -- Rabb (Tuhan) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia -- telah diseru menandingi satu kejahatan saja, yaitu bisikan
si jahat yakni khannas. Hal itu disebabkan ajakan-ajakan atau bisikan-bisikan syaitan yang
disebut khannas -- terutama fitnah Dajjal -- meliputi segala kejahatan yang dapat menimpa
kalangan jin (orang-orang besar) dan nās
(masyarakat awam).
Ketiga-tiga Sifat Ilahi -- Rabb (Tuhan) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, -- itu mempunyai hubungan
yang halus sekali (latif) dengan
keadaan tabiat alami, akhlak, dan ruhani manusia. Perkembangan jasmani
dan akhlak manusia terjadi di bawah
sifat Rabb (Rabbubiyyat) Allah Swt. (QS.1:2); pikiran, perkataan, serta perbuatan
disiksa atau diganjar oleh sifat Malik (QS.1:4), dan sifat Ilah berarti Tuhan
adalah obyek cinta dan pujaannya; Dia (Allah Swt.) adalah tujuan dan cita-citanya.
Sebutan ketiga Sifat Ilahi dalam Surah ini mengandung arti, bahwa semua dosa bersumber pada tiga sebab, yaitu jika seseorang memandang orang lain sebagai majikannya,
rajanya, atau tuhan-nya, yakni bila ia
menganggap dia penopang dan pendukung utama hidupnya, atau menghambakan diri kepada kekuasaan yang bukan haknya atau menjadikan dia tujuan cinta dan pujaannya.
Dalam Surah An-Nās Allah Swt. memerintahkan orang beriman agar hanya
menghadapkan wajah (seluruh
perhatian) kepada Tuhan semata-mata sebagai Penjamin hidupnya yang hakiki, agar hanya kepada-Nya belaka memperlihatkan ketaatan sejati dan tanpa bersyarat,
dan agar hanya Dia-lah Yang dijadikan tujuan
sebenarnya bagi cinta dan pemujaannya.
Atau, ia diperintahkan dalam ayat ini supaya senantiasa memohon perlindungan terhadap tindak
perampasan hak oleh kaum kapitalis,
penguasa-penguasa zalim dan golongan pemimpin agama yang licik,
yakni golongan jin, yang sambil mengambil keuntungan
secara tidak wajar dari rakyat jelata yang polos dan berpikiran
sederhana -- yakni an-nās atau ins -- dengan
memeras mereka tanpa belas kasihan.
Si Jahat khannas membisikkan pikiran-pikiran
jahat ke dalam hati golongan jin (orang-orang besar) maupun golongan
nās (orang-orang awam), tanpa seorang pun terkecuali. Atau, ayat ini
dapat juga berarti bahwa si pembisik
pikiran jahat (khannas) itu terdapat di antara golongan jin (orang-orang
besar) dan golongan ins atau nās
yakni orang-orang awam.
Sifat-sifat Buruk Iblis dan Syaitan
Jadi, kembali kepada kisah monumental
“Adam – Malaikat dan Iblis” yang dikemukakan berbagai Surah dalam
Al-Quran, bahwa yang dimaksud dengan iblis dan setan yang bertekad melakukan penghadangan
di jalan Allah Swt. dengan segala
cara terhadap Adam dan para
pengikutnya (QS.7:12-26; QS.17:62-66),
sebutan tersebut dapat merujuk kepada manusia dan dapat pula mengisyaratkan
kepada “makhluk halus” yang memiliki sifat-sifat buruk sesuai dengan arti dari sebutan
mereka.
Kata iblis berasal dari ablasa,
yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan
harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah semangat; (4) telah bingung
dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis
itu adalah suatu wujud yang sedikit
sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.
oleh sikap pembangkangannya
sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan
lagi pula tidak mampu melihat
jalannya.
Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal setan berlainan dari iblis.
Harus dipahami bahwa iblis itu bukan
salah seorang dari para malaikat,
sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak
patuh atau membangkang kepada
Allah Swt., sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh”
(QS.66:7), yang senantiasa bertasbih
(mensucikan) dan bertaqdis
(mengkuduskan) Allah Swt. (QS.2:31).
Allah Swt. telah “murka” kepada iblis karena
ia pun diperintahkan mengkhidmati
Adam a.s. tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis tetapi perintah kepada para malaikat
harus dianggap meliputi semua wujud,
sebab perintah kepada para malaikat —
sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya
mencakup juga semua wujud.
Seperti dinyatakan di atas, iblis sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)
kepada ruh jahat yang bertolak
belakang dari sifat malaikat. Diberi
nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat
buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan
dalam langkahnya dan hilang harapan
akan kasih-sayang Allah Swt..
Kata
setan atau syaitan atau syaithan ada yang memahami
berasal dari kata syā tha
artinya “terbakar”, atau dari kata
syayatha, salah satu artinya
adalah “ia akan binasa” atau ada yang menerangkan berasal dari kata syuthun artinya “jauh” yakni “jauh dari rahmat Ilahi.”
Berdasarkan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits-hadist shahih makna syaitan lebih luas daripada makna iblis, sebab sebutan syaitan meliputi segala sesuatu
yang membahayakan, termasuk penyakit,
binatang berbisa dan para pemimpin kekafiran (QS.2:15).
Beliau saw. pun telah bersabda bahwa “syaitan mengalir dalam tubuh manusia
bersama aliran darah”, berikut hadits mengenai hal tersebut:
Dari
Shafiyah binti Huyay (salah seorang istri Rasulullah saw./umul-mukminin) ia
berkata, “Pernah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf,
lalu aku mendatangi beliau. Aku mengunjunginya di malam hari. Aku pun
bercakap-cakap dengannya. Kemudian aku ingin pulang dan beliau berdiri lalu
mengantarku.” -- Kala itu rumah
Shafiyah di tempat Usamah bin Zaid --
“Tiba-tiba ada dua orang Anshar lewat. Ketika keduanya melihat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempercepat langkah kakinya. Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Pelan-pelanlah, sesungguhnya
perempuan itu adalah Shafiyah binti
Huyay.” Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan menyusup dalam
diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan
kejelekan dalam hati kalian berdua.”
(Muttafaqun ‘alaih.
HR. Bukhari
no. 3281 dan Muslim no. 2175).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 2 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar