بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 47
Hubungan
Pelepasan Iblis
dari “Pemenjaraan Seribu Tahun” dengan Pengabulan
Permintaan Para “Hawari” (Pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) Mengenai
“Hidangan Dari Langit” yang
Disertai Ancaman Azab Ilahi yang Mengerikan
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dibahas mengenai makna ayat لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ
اِلَّا قَلِیۡلًا -- “niscaya akan aku kuasai semua
anak-keturunannya, kecuali sedikit,” ancaman
iblis tersebut perlu penjelasan
yaitu apakah syaitan telah berhasil atau tidak dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang
penting dan perlu mendapat jawaban,
firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ خَلَقۡتَ
طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ
اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا الَّذِیۡ کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی
یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ اِلَّا
قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada
Adam,” maka mereka sujud kecuali iblis. Ia berkata: “Apakah aku harus sujud kepada orang yang Engkau jadikan dari tanah liat?” Ia berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin bahwa orang
yang telah
Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat, niscaya
akan aku kuasai semua anak-keturunannya,
kecuali sedikit.” (Bani Israil [17]:62-63).
Berbagai Jenis “Ancaman Abadi” Iblis
Kepada Pengikut “Khalifah
Allah”
Mengapa ancaman Iblis tersebut
perlu dicermati? Sebab satu pandangan
yang tergesa-gesa dan tanpa disertai pikiran
yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di dunia ini, dapat membawa kepada kesimpulan yang salah, bahwa seakan-akan
keburukan itu mengungguli kebaikan di dunia ini, padahal hakikat
yang sebenarnya adalah kebalikannya.
Seandainya, sebagai contoh semua ucapan
pendusta-pendusta terbesar diselidiki
secara kritis, maka ucapan-ucapannya
yang mengandung kebenaran jumlahnya akan nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya yang dusta. Demikian pula jumlah orang-orang buruk di dunia ini
jauh di bawah jumlah orang-orang baik.
Kenyataan bahwa keburukan itu mendapat perhatian begitu besar, justru menjadi
bukti bahwa fitrat manusia pada
dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya
dalam bentuk kenyataan.
Menanggapi “ancaman syaitan” tersebut dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ اذۡہَبۡ فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ
جَہَنَّمَ جَزَآؤُکُمۡ جَزَآءً
مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾ وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ
وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ
وَ الۡاَوۡلَادِ وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ اِلَّا
غُرُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّ عِبَادِیۡ
لَیۡسَ لَکَ عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
وَکِیۡلًا ﴿﴾
Dia
berfirman: “Pergilah, lalu barangsiapa akan mengikuti engkau dari
antara mereka maka sesungguhnya Jahannamlah balasan bagi kamu, suatu balasan
yang penuh. وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ -- dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggupi dengan suara
engkau, وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ -- dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda
engkau dan pasukan berjalan-kaki
engkau, وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ -- dan berserikatlah
dengan mereka da-lam harta, dan anak-anak
mereka, وَ عِدۡہُمۡ ؕ -- dan berikanlah
janji-janji kepada mereka,” وَ مَا
یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ اِلَّا غُرُوۡرًا -- dan syaitan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu-daya. Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan atas mereka, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau
sebagai Pelindung. (Bani
Israil [17]:62-66).
Ayat ini menguraikan tiga macam daya-upaya dalam melakukan penghadangan di jalan
Allah yang dilakukan oleh putra-putra
kegelapan pengikut iblis dari kalangan jin, untuk membujuk manusia (ins) supaya menjauhi jalan kebenaran yang diajarkan Rasul Allah yang diutus kepada mereka,
yakni:
(1) mereka berusaha menakut-nakuti orang-orang miskin dan lemah dengan ancaman akan
mempergunakan tindak kekerasan terhadap mereka;
(2) mereka mempergunakan tindakan-tindakan yang lebih
keras lagi terhadap mereka yang tidak dapat ditakut-takuti (diancam) dengan cara “gertak sambal”, yaitu dengan
mengadakan persekutuan-persekutuan yakni
membentuk front perlawanan bersama (ahzab)
untuk tujuan melawan mereka dan
mengadakan serangan bersama terhadap
mereka dengan segala cara;
(3) mereka mencoba membujuk orang-orang kuat
dan yang lebih berpengaruh di kalangan
mereka dengan tawaran akan
menjadikannya pemimpin mereka,
asalkan mereka tidak akan membantu
lagi pihak kebenaran yakni Rasul
Allah dan para pengikutnya.
Hamba-hamba Allah yang Mengalami “Kebangkitan
Ruhani” di Dunia
Manusia
dapat terkena oleh ancaman dan bujukan-bujukan
syaitan
selama dia belum “dibangkitkan”,
yaitu selama keimanannya belum
mencapai taraf yang sempurna, yang disebut tingkat nafs-al-Muthmainnah, firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا
النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی
رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً
﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ
فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) eng-kau, engkau
ridha kepada-Nya dan Dia pun
ridha kepada engkau. Maka masuklah
dalam golong-an hamba-hamba-Ku, dan masuklah
ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:28-31).
Ayat-ayat ini
mengisyaratkan kepada tingkat perkembangan
ruhani tertinggi ketika manusia ridha
kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak karena diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus.
Ia “manunggal”
dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan
sesudah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia
inilah dan bukan di tempat lain jalan
dibukakan baginya untuk masuk ke surge
dari “dua surga” yang dijanjikan Allah Swt., firman-Nya:
وَ لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّہٖ
جَنَّتٰنِ ﴿ۚ ﴾
Dan
bagi orang yang takut akan Keagungan
Rabb-nya (Tuhan-nya) ada dua surga.
(Al-Rahmān [55]:47).
Kata “dua surga”
dapat berarti: (1) ketenteraman pikiran yang merupakan hasil menjalani
kehidupan yang baik, dan (2) kebebasan dari kekhawatiran dan kecemasan yang
mencekam hati akibat menjalani hidup mengejar kesenangan dan kebahagiaan
duniawi.
Kebun surgawi pertama
terdapat di dunia ini dalam hal melepaskan keinginan sendiri karena Allah, dan
kebun surgawi lainnya dalam
memperoleh berkat dan keridhaan Ilahi di akhirat. Seorang mukmin sejati
selama-lamanya berjemur di dalam sinar matahari rahmat Ilahi di dunia ini, yang tidak dapat diusik oleh
pikiran-pikiran susah.
Inilah surga dunia, yang
dianugerahkan kepada hamba Allah yang
bertakwa dan di dalamnya ia akan
tinggal selamanya; surga yang
dijanjikan di akhirat hanyalah suatu bayangan surga di dunia ini, yang
merupakan suatu peragaan rahmat ruhani
yang dinikmati orang serupa itu di
dunia ini (QS.2:26). Kepada keadaan hidup surgawi seorang mukmin
sejati inilah Al-Quran mengisyaratkan di dalam QS.10:65 dan QS.41:32.
Kata “dua surga”
itu mungkin juga dua lembah subur,
yang diairi oleh dua aliran sungai – Jaihan
dan Saihan serta Efrat
dan Nil, yang menurut sebuah hadits
adalah sungai-sungai surgawi (Muslim). Kedua lembah subur yang disebut “jannah” ini jatuh ke tangan orang-orang Islam di masa Khalifah Umar
bin Khaththab r.a..
Dari penjelasan tersebut
dapat diketahui bahwa yang dimaksud “jannah” yang ke dalamnya Allah Swt. memerintahkan Nabi Adam a.s. dan istrinya (jama’ahnya) memasukinya
pun bukanlah “surga” yang dijanjikan
Allah Swt. di akhirat, melainkan sebuah
“wilayah yang sangat subur” di bumi
di kawasan Timur Tengah,
yang dalam Al-Quran disebut “jannah” (QS.2:31-37) dan Bible menyebutnya “Taman Eden” (Kejadian 2:8-17).
Kenyataan ini membantah itikad sesat yang
dibuat-buat yaitu “Trinitas” mau un “Penebusan dosa” karena Nabi Adam a.s. tidak pernah mewariskan dosa kepada anak-keturunan beliau atau kepada umat manusia, sebab Allah Swt.
telah mengampuni “pelanggaran” Nabi Adam a.s. yang tidak
disengaja akibat tipu-daya setan (QS.2:36-40; QS.7:20-26; QS.20:116-123).
Pelepasan Sementara Iblis dan Satan - Naga “si Ular Tua” dari “Pemenjaraan 1000
Tahun” & “Makna Maidah (Hidangan) dari Langit”
Menurut Bible
perwujudan iblis mau pun Satan -- yakni naga
si ular tua -- yang di Akhir
Zaman ini mengambil bentuk penyebaran Gog
(Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) berupa fitnah Dajjal, si pendusta besar yang matanya buta sebelah (Wahyu 20:1-10), yang karena
keberhasilan duniawinya yang luar
biasa mereka telah menyebar luas ke
seluruh peloksok dunia dan berbuat kerusakan di dalamnya termasuk dalam masalah Tauhid Ilahi (QS.18:1-9 & 19-;23 QS.21:96-99). Berikut keterangan Bible dalam Kitab Wahyu
mengenai hal tereebut
Kerajaan seribu tahun
20:1 Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga memegang anak kunci jurang maut dan suatu rantai besar di tangannya; 20:2 ia
menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis
dan Satan. Dan ia
mengikatnya seribu tahun lamanya , 20:3 lalu melemparkannya
ke dalam jurang maut, dan menutup
jurang maut itu dan memeteraikannya
di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa, sebelum berakhir
masa seribu tahun itu; kemudian dari
pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya……..
Iblis dihukum
20:7
Dan setelah masa seribu tahun itu
berakhir, Iblis
akan dilepaskan dari penjaranya,
20:8 dan ia
akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog
dan Magog, dan mengumpulkan
mereka untuk berperang dan jumlah
mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah
mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung
perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis,
yang menyesatkan mereka,
dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka
disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”
Dari Al-Quran diketahui bahwa keberhasilan duniawi bangsa-bangsa
Kristen dari Barat -- yakni Gog (Ya’juj) dan Magog (Maj’uj) -- tidak
lepas dari upaya dan kerja keras mereka dalam masalah duniawi dengan mengikuti
(mentaati) sepenuhnya hukum-hukum alam
yang telah ditetapkan Allah Swt.
(QS.55:34; QS.7:170), tetapi pada hakikatnya keberhasilan duniawi mereka itu merupakan pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Allah Swt. atas “desakan”
para pengikut beliau di masa awal yang disebut hawari berkenaan dengan “māidah (hidangan) dari langit”, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا
بِیۡ وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ قَالُوۡۤا
اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّنَا
مُسۡلِمُوۡنَ﴿﴾ اِذۡ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ہَلۡ
یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ
قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا نُرِیۡدُ اَنۡ نَّاۡکُلَ مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ
قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ عَلَیۡہَا
مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ
تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ اٰیَۃً
مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ
فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ
اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ
الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Aku
mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah
kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”
Mereka berkata: “Kami telah beriman,
dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
berserah diri.” Ingatlah ketika
para hawari berkata: “Hai
‘Isa ibnu Maryam, ہَلۡ
یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ -- mampukah Rabb (Tuhan) engkau menurun-kan
kepada kami hidangan dari
langit?” مُّؤۡمِنِیۡنَ کُنۡتُمۡ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ -- Ia
berkata: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.” Mereka
berkata: “Kami ingin memakan dari hidangan
itu, supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau
sungguh telah berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang
yang menjadi saksi.” ‘Isa ibnu
Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang
berulang bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga
bagi yang datang di belakang kami,
dan sebagai Tanda-tanda kebenaran dari
Engkau, berilah kami rezeki, dan Eng-kau
sebaik-baik Pemberi rezeki. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antaramu kafir sesudah itu,
maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun
di seluruh alam.” (Al-Mā’idah
[5]:112-116).
Dua Masa Kejayaan Duniawi Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) & Ancaman
Terjadinya Perang Dunia dan Perang Nuklir
Bukan
satu kali hidangan saja yang diminta oleh para hawari -- yakni murid Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. -- melainkan
jaminan hidup yang kekal dan dapat
diperoleh tanpa kesukaran atau jerih-payah. Kata-kata “dari langit” menyatakan
suatu hal yang diperoleh tanpa susah-payah
tapi pasti serta kekal.
Sejarah membuktikan bahwa kaum
Kristen -- sesudah mengalami
masa-masa kesulitan di masa awal hampir selama 3 abad, yang dalam Al-Quran
disebut sebagai ashhabul kahf (para penghuni gua QS.18:10-18), sebagai pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atas permintaan para hawari
(pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) mereka telah diberi kekuasaan duniawi pada permulaannya
yaitu di bawah kekuasaan bangsa
Romawi ketika Constantin Kaisar kerajaan
Romawi kemudian memeluk agama Kristen dan menjadikan agama
Kristen sebagai agama kerajaan, dan kejayaan duniawi kedua kali bangsa-bangsa Kristen tersebut terjadi setelah
masa jeda akibat
munculnya kekuasaan umat Islam yang pertama selama beberapa abad.
Kejayaan
duniawi mereka di Akhir Zaman berupa
penguasaan atas kawasan-kawasan luas di bumi ini dalam Bible dan Al-Quran disebut sebagai tersebarnya
kembali Gog (Ya’juj) dan Magog (Ya’juj) setelah masa “pemenjaraan”
mereka selama 1000 tahun yaitu berupa munculnya fitnah Dajjal atau anti Kristus.
Jadi, dari
doa Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. اللّٰہُمَّ
رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ -- “Ya Allah, Rabb (Tuhan)
kami, turunkanlah kepada kami hidangan
dari langit, supaya menjadi suatu perayaan yang berulang
bagi kami, bagi orang-orang yang
awal dari kami, juga bagi yang
datang di belakang kami, dan
sebagai Tanda-tanda kebenaran
dari Engkau, berilah
kami rezeki, dan Engkau
sebaik-baik Pemberi rezeki,” ada dua masa kemakmuran dan kemajuan untuk umat Kristen sebagaimana
ditunjukkan oleh kata ‘Id yang secara harfiah berarti “hari yang berulang.”
Yakni, sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya bahwa umat Kristen telah
dianugerahi kekuasaan duniawi dan harta-benda
duniawi dengan berlimpah-limpah
pada zaman permulaan sesudah Kaisar Romawi, Konstantin,
memeluk agama Kristen dan menjadikannya sebagai “agama kerajaan”, dan
kemudian dalam abad-abad ke-18 dan ke-19, mereka kembali memperoleh kemakmuran dan kekuasaan
politik dalam ukuran yang tak ada tara bandingannya
dalam sejarah bangsa lain mana pun
(QS.7:170).
Hukuman
Ilahi kepada mereka yang dimaksud dalam jawaban
Allah Swt. pada ayat:
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ
مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ
الۡعٰلَمِیۡنَ ٪
“Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada
kamu, maka barangsiapa di antaramu
kafir sesudah itu, maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab
kepada seorang pun di seluruh
alam.” (Al-Mā’idah [5]:116).
Hukuman
Allah Swt. tersebut sama dengan hukuman yang tersebut dalam QS.18:1-6 & 95-102; QS.19:91-96; QS.20:106-110;
QS.21:96-98; QS.55:34-46; QS.70:1-19; QS.104:1-10; QS.111:1-5).
Dua Perang
Dunia yang terakhir dengan akibat-akibat
mengerikan yang ditimbulkannya dapat
merupakan satu tahap penyempurnaan kabar
gaib ini dan hanya Allah Swt. sajalah Yang mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa
Kristen di belahan bumi sebelah barat (Eropa dan Amerika) tersebut, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾ تَبَّتۡ یَدَاۤ اَبِیۡ
لَہَبٍ وَّ تَبَّ ؕ﴿﴾ مَاۤ اَغۡنٰی
عَنۡہُ مَالُہٗ وَ مَا
کَسَبَ ؕ﴿﴾ سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ لَہَبٍ ۚ﴿ۖ﴾ وَّ
امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ
الۡحَطَبِ ۚ﴿﴾ فِیۡ جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
تَبَّتۡ یَدَاۤ اَبِیۡ
لَہَبٍ وَّ تَبَّ -- Binasalah
kedua tangan Abu Lahab dan binasalah
dia! مَاۤ اَغۡنٰی عَنۡہُ مَالُہٗ
وَ مَا کَسَبَ -- Sekali-kali tidak memberi manfaat kepadanya hartanya
dan apa yang dia usahakan. سَیَصۡلٰی نَارًا
ذَاتَ لَہَبٍ
-- segera ia akan masuk Api yang menyala-nyala. وَّ امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ الۡحَطَبِ -- dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ -- di leher istri-nya ada tali yang dipintal. (Al-Lahab
[111):1-6).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik
Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 5 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar