Jumat, 06 Februari 2015

Hubungan "Pelepasan Iblis" dari "Pemenjaraan Seribu Tahun" dengan Pengabulan Permintaan Para "Hawari" (Pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) Mengenai "Hidangan Dari Langit" yang Disertai Ancaman Azab Ilahi yang Mengerikan





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr


Bab 47

  
Hubungan Pelepasan  Iblis dari “Pemenjaraan Seribu Tahun” dengan Pengabulan Permintaan Para  “Hawari”  (Pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) Mengenai  Hidangan Dari Langit” yang Disertai Ancaman   Azab Ilahi  yang  Mengerikan
     

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai   makna ayat  لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا       -- “niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit,”  ancaman iblis tersebut  perlu penjelasan yaitu apakah syaitan telah berhasil atau tidak  dalam melaksanakan ancamannya untuk menyesatkan sejumlah besar umat manusia, merupakan soal yang penting dan perlu mendapat jawaban, firman-Nya:
  وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ قَالَ ءَاَسۡجُدُ لِمَنۡ  خَلَقۡتَ  طِیۡنًا﴿ۚ﴾ قَالَ  اَرَءَیۡتَکَ ہٰذَا  الَّذِیۡ  کَرَّمۡتَ عَلَیَّ ۫ لَئِنۡ اَخَّرۡتَنِ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ لَاَحۡتَنِکَنَّ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat:  اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ -- “Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam,”  maka mereka sujud kecuali iblis. Ia berkata: “Apakah aku harus sujud kepada orang yang Engkau jadikan dari tanah liat?”    Ia berkata: “Terangkanlah pendapat Engkau bagaimana mungkin  bahwa orang   yang telah Engkau muliakan atasku menjadi majikanku? Jika Engkau memberi tangguh kepadaku hingga Hari Kiamat,  niscaya akan aku kuasai semua anak-keturunannya, kecuali sedikit.” (Bani Israil [17]:62-63).

Berbagai  Jenis  “Ancaman  Abadi” Iblis Kepada   Pengikut  Khalifah Allah

             Mengapa ancaman Iblis tersebut perlu dicermati? Sebab satu pandangan yang tergesa-gesa dan tanpa disertai pikiran yang matang mengenai keadaan baik dan buruk di dunia ini, dapat membawa   kepada kesimpulan yang salah, bahwa seakan-akan keburukan itu mengungguli kebaikan di dunia ini, padahal  hakikat yang sebenarnya adalah kebalikannya.
       Seandainya, sebagai contoh  semua ucapan pendusta-pendusta terbesar diselidiki secara kritis, maka ucapan-ucapannya yang mengandung kebenaran jumlahnya akan nampak jauh melebihi ucapan-ucapannya yang dusta. Demikian pula jumlah orang-orang buruk di dunia ini jauh di bawah jumlah orang-orang baik.
Kenyataan bahwa keburukan itu mendapat perhatian begitu besar, justru menjadi bukti bahwa fitrat manusia pada dasarnya baik dan menjadi cemas menyaksikan keburukan bagaimanapun kecilnya. Oleh sebab itu tidak benar untuk beranggapan bahwa syaitan telah berhasil dalam melaksanakan ancamannya dalam bentuk kenyataan.
         Menanggapi “ancaman syaitan” tersebut  dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman:
  قَالَ اذۡہَبۡ فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ  جَزَآؤُکُمۡ  جَزَآءً  مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾ وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّ عِبَادِیۡ  لَیۡسَ  لَکَ  عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی  بِرَبِّکَ  وَکِیۡلًا  ﴿﴾
Dia berfirman: “Pergilah, lalu barangsiapa akan mengikuti engkau dari antara mereka maka sesungguhnya Jahannamlah balasan bagi kamu,  suatu balasan yang penuh.  وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ    --   dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggupi dengan suara engkau, وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ     -- dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda engkau dan pasukan berjalan-kaki engkau,  وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ  -- dan berserikatlah dengan mereka da-lam harta, dan anak-anak mereka, وَ عِدۡہُمۡ ؕ  -- dan berikanlah janji-janji kepada mereka,”  وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا  --   dan syaitan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu-daya. Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan  atas mereka, dan cukuplah  Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil [17]:62-66). 
      Ayat ini menguraikan tiga macam daya-upaya  dalam melakukan  penghadangan  di jalan Allah yang dilakukan oleh putra-putra kegelapan  pengikut iblis dari kalangan jin,  untuk membujuk manusia (ins) supaya menjauhi jalan kebenaran yang diajarkan Rasul Allah yang diutus kepada mereka, yakni:
     (1) mereka berusaha menakut-nakuti orang-orang miskin dan lemah dengan ancaman akan mempergunakan tindak kekerasan terhadap mereka;
      (2) mereka mempergunakan tindakan-tindakan yang lebih keras lagi terhadap mereka yang tidak dapat ditakut-takuti (diancam) dengan cara “gertak sambal”, yaitu dengan mengadakan persekutuan-persekutuan yakni membentuk  front perlawanan bersama (ahzab)  untuk tujuan melawan mereka dan mengadakan serangan bersama terhadap mereka dengan segala cara;
        (3) mereka mencoba membujuk orang-orang kuat dan yang lebih berpengaruh  di kalangan  mereka dengan tawaran akan menjadikannya pemimpin mereka, asalkan mereka tidak akan membantu lagi pihak kebenaran  yakni Rasul Allah dan para pengikutnya.

Hamba-hamba Allah yang Mengalami “Kebangkitan Ruhani” di Dunia

       Manusia dapat terkena oleh ancaman dan  bujukan-bujukan   syaitan selama dia belum “dibangkitkan”, yaitu selama keimanannya belum mencapai taraf yang sempurna, yang disebut tingkat nafs-al-Muthmainnah, firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾  
Hai jiwa yang tenteram!   Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) eng-kau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golong-an hamba-hamba-Ku,   dan masuklah ke dalam surga-Ku.  (Al-Fajr [89]:28-31).
 Ayat-ayat ini mengisyaratkan kepada tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak  karena diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus.
  Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan sesudah mati  perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surge dari “dua surga” yang dijanjikan Allah Swt., firman-Nya:
وَ  لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ  رَبِّہٖ  جَنَّتٰنِ ﴿ۚ ﴾
Dan bagi orang yang takut akan  Keagungan Rabb-nya (Tuhan-nya) ada dua surga. (Al-Rahmān [55]:47).
    Kata “dua surga” dapat berarti: (1) ketenteraman pikiran yang merupakan hasil menjalani kehidupan yang baik, dan (2) kebebasan dari kekhawatiran dan kecemasan yang mencekam hati akibat menjalani hidup mengejar kesenangan dan kebahagiaan duniawi.
   Kebun surgawi pertama terdapat di dunia ini dalam hal melepaskan keinginan sendiri karena Allah, dan kebun surgawi lainnya dalam memperoleh berkat dan keridhaan Ilahi di akhirat. Seorang mukmin sejati selama-lamanya berjemur di dalam sinar matahari rahmat Ilahi di dunia ini, yang tidak dapat diusik oleh pikiran-pikiran susah.
    Inilah surga dunia, yang dianugerahkan kepada hamba Allah yang bertakwa dan di dalamnya ia akan tinggal selamanya; surga yang dijanjikan di akhirat hanyalah suatu bayangan surga di dunia ini, yang merupakan suatu peragaan rahmat ruhani yang dinikmati orang serupa itu di dunia ini (QS.2:26).    Kepada keadaan hidup surgawi seorang mukmin sejati inilah Al-Quran mengisyaratkan di dalam QS.10:65 dan QS.41:32.
   Kata “dua surga” itu mungkin juga dua lembah subur, yang diairi oleh dua aliran sungai – Jaihan dan Saihan  serta Efrat dan Nil, yang menurut sebuah hadits adalah sungai-sungai surgawi (Muslim). Kedua lembah subur  yang disebut “jannah” ini jatuh ke tangan orang-orang Islam di masa Khalifah Umar bin Khaththab r.a..
   Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa yang dimaksud “jannah  yang ke dalamnya Allah Swt. memerintahkan Nabi Adam a.s. dan istrinya (jama’ahnya) memasukinya pun bukanlah “surga” yang dijanjikan Allah Swt. di akhirat, melainkan  sebuah “wilayah yang sangat subur” di bumi di kawasan Timur  Tengah,  yang dalam Al-Quran disebut “jannah” (QS.2:31-37) dan Bible menyebutnya “Taman Eden” (Kejadian 2:8-17).
    Kenyataan  ini membantah itikad sesat   yang dibuat-buat yaitu “Trinitas” mau un “Penebusan dosa” karena Nabi Adam a.s. tidak pernah mewariskan dosa kepada anak-keturunan beliau  atau kepada umat manusia, sebab Allah Swt.  telah mengampuni “pelanggaran  Nabi Adam a.s.  yang tidak disengaja   akibat tipu-daya setan (QS.2:36-40; QS.7:20-26;  QS.20:116-123).

Pelepasan Sementara Iblis dan  Satan  - Naga “si Ular Tua” dari “Pemenjaraan 1000 Tahun” &  “Makna Maidah (Hidangan) dari Langit”

     Menurut Bible  perwujudan iblis mau  pun Satan   -- yakni naga si ular tua --  yang di Akhir Zaman ini mengambil bentuk   penyebaran Gog (Ya’juj)  dan Magog (Ma’juj) berupa fitnah Dajjal, si pendusta  besar yang matanya buta sebelah  (Wahyu 20:1-10),  yang  karena keberhasilan duniawinya yang luar biasa mereka telah  menyebar luas   ke seluruh  peloksok dunia  dan berbuat kerusakan di dalamnya  termasuk dalam masalah Tauhid Ilahi    (QS.18:1-9 & 19-;23 QS.21:96-99).   Berikut keterangan Bible dalam Kitab Wahyu mengenai hal tereebut

Kerajaan seribu tahun
20:1 Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga  memegang anak kunci   jurang maut    dan suatu rantai besar di tangannya; 20:2 ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan.   Dan ia mengikatnya seribu tahun   lamanya , 20:3 lalu melemparkannya ke dalam jurang maut,   dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya  di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa,  sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya……..
Iblis dihukum
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,   Iblis akan dilepaskan   dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa    pada keempat penjuru bumi,   yaitu Gog dan Magog,   dan mengumpulkan mereka untuk berperang  dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.   20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung   perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi   itu. Tetapi dari langit   turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka,   dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang  yaitu tempat binatang   dan nabi palsu   itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”
          Dari Al-Quran diketahui bahwa keberhasilan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Barat  --  yakni  Gog (Ya’juj) dan Magog (Maj’uj)  -- tidak lepas dari upaya dan kerja keras mereka dalam masalah duniawi dengan mengikuti (mentaati) sepenuhnya hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah Swt. (QS.55:34; QS.7:170), tetapi pada hakikatnya keberhasilan duniawi mereka itu merupakan pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dari  Allah Swt.  atas “desakan” para pengikut beliau di masa awal yang disebut hawari berkenaan dengan “māidah (hidangan) dari langit”, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِیۡ  وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ  بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ﴿﴾  اِذۡ   قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ    یٰعِیۡسَی ابۡنَ  مَرۡیَمَ ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا نُرِیۡدُ اَنۡ  نَّاۡکُلَ  مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ عَلَیۡہَا مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan  ingatlah ketika  Aku mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.”    Ingatlah ketika para hawari berkata:    “Hai ‘Isa ibnu Maryam,  ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ  -- mampukah Rabb (Tuhan) engkau   menurun-kan kepada kami hidangan  dari langit?”  مُّؤۡمِنِیۡنَ  کُنۡتُمۡ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ -- Ia berkata:  Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”     Mereka berkata:  Kami ingin memakan  dari hidangan itu,   supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang yang  menjadi saksi.” ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit    supaya menjadi suatu perayaan yang   berulang  bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang kami, dan  sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau, berilah kami  rezeki,  dan Eng-kau sebaik-baik Pemberi rezeki. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antaramu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Mā’idah [5]:112-116).

Dua Masa Kejayaan Duniawi Gog (Ya’juj) dan Magog (Ma’juj) &  Ancaman Terjadinya Perang   Dunia dan Perang Nuklir

        Bukan satu kali hidangan saja yang diminta oleh para hawari  -- yakni murid Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  -- melainkan jaminan hidup yang kekal dan dapat diperoleh tanpa kesukaran atau jerih-payah.  Kata-kata “dari langit” menyatakan suatu hal yang diperoleh tanpa susah-payah tapi pasti serta kekal. 
      Sejarah membuktikan bahwa  kaum Kristen   -- sesudah mengalami masa-masa kesulitan di masa awal hampir selama 3 abad, yang dalam Al-Quran disebut sebagai ashhabul kahf (para penghuni gua  QS.18:10-18), sebagai pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. atas permintaan  para hawari (pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) mereka telah diberi kekuasaan duniawi pada permulaannya yaitu   di bawah kekuasaan  bangsa Romawi  ketika    Constantin Kaisar kerajaan Romawi    kemudian memeluk agama Kristen dan menjadikan agama Kristen sebagai agama kerajaan, dan kejayaan duniawi kedua kali bangsa-bangsa Kristen tersebut terjadi setelah masa jeda   akibat munculnya kekuasaan umat Islam  yang pertama selama  beberapa abad.
        Kejayaan  duniawi mereka di Akhir Zaman   berupa  penguasaan atas kawasan-kawasan luas di bumi ini dalam Bible dan Al-Quran  disebut sebagai tersebarnya kembali Gog (Ya’juj) dan Magog (Ya’juj) setelah  masa “pemenjaraan” mereka selama 1000 tahun yaitu berupa munculnya fitnah Dajjal  atau anti Kristus.
       Jadi, dari  doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ   --  “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit,  supaya menjadi suatu perayaan yang   berulang  bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang kami, dan  sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau,   berilah kami  rezeki,  dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki,”      ada dua masa kemakmuran dan kemajuan untuk umat Kristen  sebagaimana ditunjukkan oleh kata ‘Id yang secara harfiah berarti “hari yang berulang.”
       Yakni, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa umat Kristen telah dianugerahi kekuasaan duniawi dan  harta-benda duniawi dengan berlimpah-limpah pada zaman permulaan sesudah Kaisar Romawi, Konstantin,  memeluk agama Kristen dan menjadikannya sebagai “agama kerajaan”,  dan kemudian dalam abad-abad ke-18 dan ke-19,  mereka kembali memperoleh kemakmuran dan kekuasaan politik dalam ukuran yang tak ada tara bandingannya dalam sejarah bangsa lain mana pun (QS.7:170).
         Hukuman Ilahi  kepada mereka yang dimaksud    dalam   jawaban Allah Swt. pada ayat:     
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ  ٪
Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antaramu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.  (Al-Mā’idah [5]:116).
       Hukuman Allah Swt. tersebut  sama dengan hukuman yang tersebut dalam QS.18:1-6 & 95-102; QS.19:91-96; QS.20:106-110; QS.21:96-98; QS.55:34-46; QS.70:1-19; QS.104:1-10; QS.111:1-5).
     Dua Perang Dunia yang terakhir dengan akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkannya dapat merupakan satu tahap penyempurnaan kabar gaib ini dan hanya Allah Swt. sajalah Yang  mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa Kristen di belahan bumi sebelah barat  (Eropa dan Amerika) tersebut, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  تَبَّتۡ یَدَاۤ  اَبِیۡ  لَہَبٍ وَّ  تَبَّ ؕ﴿﴾  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنۡہُ  مَالُہٗ  وَ  مَا کَسَبَ ؕ﴿﴾  سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ  لَہَبٍ ۚ﴿ۖ﴾  وَّ  امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ  الۡحَطَبِ ۚ﴿﴾  فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ ٪﴿﴾
Aku baca   dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  تَبَّتۡ یَدَاۤ  اَبِیۡ  لَہَبٍ وَّ  تَبَّ --  Binasalah kedua tangan Abu Lahab  dan binasalah dia!  مَاۤ  اَغۡنٰی عَنۡہُ  مَالُہٗ  وَ  مَا کَسَبَ --  Sekali-kali tidak memberi manfaat kepadanya  hartanya dan apa yang dia usahakan. سَیَصۡلٰی نَارًا ذَاتَ  لَہَبٍ  --   segera  ia akan masuk Api yang menyala-nyala. وَّ  امۡرَاَتُہٗ ؕ حَمَّالَۃَ  الۡحَطَبِ  --  dan juga istrinya pemikul kayu bakar. فِیۡ  جِیۡدِہَا حَبۡلٌ مِّنۡ مَّسَدٍ  --   di leher istri-nya ada tali  yang dipintal.  (Al-Lahab [111):1-6).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 5 Februari      2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar