بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab
45
Syuraqah bin Malik Salah Seorang
“Manusia Syaitan” yang Menjadi
Muslim
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas mengenai
kisah monumental “Adam – Malaikat dan Iblis” yang dikemukakan berbagai Surah dalam
Al-Quran, bahwa yang dimaksud dengan iblis dan setan yang bertekad melakukan penghadangan
di jalan Allah Swt. dengan segala
cara terhadap Adam (khalifah Allah)
dan para pengikutnya (QS.7:12-26;
QS.17:62-66), sebutan tersebut dapat merujuk kepada manusia
dan dapat pula mengisyaratkan kepada “makhluk
halus” yang memperagakan sifat-sifat
buruk yang dikandung dalam sebutan
mereka.
Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan
dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa
akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah semangat; (4) telah bingung
dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.
oleh sikap pembangkangannya
sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan
lagi pula tidak mampu melihat
jalannya.
Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal setan berlainan dari iblis. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan
sebagai tidak patuh atau membangkang kepada Allah Swt., sedangkan
para malaikat dilukiskan sebagai
senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7), yang senantiasa bertasbih (mensucikan) dan bertaqdis
(mengkuduskan) Allah Swt. (QS.2:31).
Allah Swt. telah “murka” kepada iblis
karena ia pun diperintahkan mengkhidmati
Adam a.s. tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis tetapi perintah kepada para malaikat
harus dianggap meliputi semua wujud,
sebab perintah kepada para malaikat —
sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya
mencakup juga semua wujud.
Seperti
dinyatakan di atas, iblis sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)
kepada ruh jahat yang bertolak
belakang dari sifat malaikat. Diberi
nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat
buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan
dalam langkahnya dan hilang harapan
akan kasih-sayang Allah Swt..
Provokasi
Suraqah bin Malik bin Jusyam
Bahwa iblis
bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan
bahwa Al-Quran menyebut kedua nama
itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana
dilakukan pemisahan yang cermat
antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti
kepada Adam a.s. maka
senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran
membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s. diperintahkan harus keluar (hijrah) dari “kebun” maka Al-Quran menyebutnya dengan
nama syaitan.
Perbedaan ini — yang
sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada
sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117,
121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran
mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang
Allah Swt. (QS.7:12, 13).
Contohnya
adalah Suraqah bin Malik bin Jusyam,
sebelum beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. dalam Al-Quran telah
menyebutnya setan yang memprokasi
Abu
Jahal dan para pemimpin kaum kafir
Mekkah lainnya yang akan akan berangkat ke Badar,
firman-Nya:
وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ
الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ
الۡیَوۡمَ
مِنَ النَّاسِ وَ اِنِّیۡ جَارٌ
لَّکُمۡ ۚ
فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ اِنِّیۡۤ اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿٪ ﴾
Dan ingatlah ketika syaitan
menampakkan indah kepada
mereka amal-amal mereka dan berkata:
”Tidak seorang pun di antara ma-nusia yang dapat mengalahkan kamu pada
hari ini, dan sesungguhnya aku
pelindungmu.” Tetapi tatkala kedua pasukan itu berhadapan satu
sama lain, ia berbalik atas tumitnya sambil berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu,
sesungguhnya aku meli-hat apa yang tidak
kamu lihat, sesungguhnya aku takut
kepada Allāh dan siksaan
Allah sangat keras. (Al-Anfāl [8]:49).
Diriwayatkan bahwa orang yang dimaksudkan dalam ayat ini
adalah Suraqah bin Malik bin Jusyam, yang menghasut orang-orang Mekkah agar melawan orang-orang
Islam, tetapi kemudian dia sendiri memeluk
agama Islam. Lasykar Mekkah masih di Mekkah tatkala beberapa tokoh kabilah
Quraisy menyatakan kekhawatiran bahwa
jangan-jangan Banu Bakar, satu cabang
Banu Kinanah, yang bermusuhan dengan kaum Quraisy menyerang Mekkah secara tak terduga di
waktu mereka tidak ada di tempat atau menyerang lasykar Mekkah dari belakang. Kekhawatiran mereka diredakan oleh Suraqah, salah seorang pemuka Banu Kinanah, yang meyakinkan mereka bahwa orang-orang dari
sukunya tidak akan mendatangkan kemudaratan apa pun kepada mereka (Tafsir Ibnu Jarir, X, 13).
Syuraqah bin Malik
Salah Satu “Manusia Syaitan” yang
Menjadi Muslim & Rintangan yang Diletakkan
“Manusia-manusia Syaitan”
Tetapi Ketika Suraqah
menyaksikan tekad membaja orang-orang Islam dalam
menghadapi Perang Badar maka rasa
takut menguasai dirinya, sebab
setelah melihat mereka ia memperoleh keyakinan
bahwa tekad mereka adalah menang
atau mati.
Persis
demikianlah dirasakan oleh Utbah dan Umair pada Hari Badar dan ia memberitahukan kepada orang-orang Mekkah, bahwa orang-orang
Islam nampaknya “seperti orang-orang yang
mencari kematian” (Thabari). Utbah
bin Rabi’ah adalah salah seorang dari delapan
pemimpin kaum kafir Mekkah yang bersama Abu
Jahal mati terbunuh dalam perang Badar.
Mengenai syaitan dari kalangan manusia (jin dan ins) yang melakukan provokasi seperti Suraqah
bin Malik bin Jusyam tersebut lihat
pula QS.6:44; QS.6:44; QS.16; 64;
QS.27:25; QS.29:44, demikian pula
makna syaitan (setan) dalam
firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ
مِنۡ رَّسُوۡلٍ وَّ لَا نَبِیٍّ
اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی
الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ
ثُمَّ یُحۡکِمُ اللّٰہُ
اٰیٰتِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ
فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ
شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿ۙ﴾ وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ
رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ
لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِلٰی صِرَاطٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Dan Kami tidak
pernah mengirim seorang rasul dan tidak
pula seorang nabi melainkan apabila
ia menginginkan sesuatu maka syaitan
meletakkan hambatan pada
keinginannya, tetapi Allah
melenyapkan hambatan yang diletakkan oleh syaitan, dan Allah
Maha Mengetahui, Maha
Bijaksana. لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی
الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ
الۡقَاسِیَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ --
Supaya Dia menjadikan rintangan
yang diletakkan oleh syaitan sebagai ujian bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit dan mereka
yang hatinya keras, وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ --
dan sesungguhnya orang-orang yang zalim
itu benar-benar dalam permusuhan yang
sangat. وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ
قُلُوۡبُہُم -- Dan supaya diketahui
oleh orang-orang yang diberi ilmu
sesungguhnya Al-Quran itu
adalah haq dari Rabb (Tuhan)
engkau lalu mereka beriman kepadanya dan hati
mereka tunduk kepadanya, وَ اِنَّ اللّٰہَ
لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِلٰی صِرَاطٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan sesungguhnya Allah
pasti memberi petunjuk kepada orang-orang
yang beriman ke jalan yang lurus. (Al-Hajj
[22]:53-55).
Ayat 53 dengan sengaja telah disalah-tafsirkan dan artinya
sengaja diputar-balikkan oleh
para kritikus
Kristen yang berprasangka. Mereka berkata bahwa pada suatu hari di Mekkah
ketika Nabi Besar Muhammad saw. membaca
ayat ke-20 dan 21 Surah Al-Najm: “Kini katakanlah kepadaku tentang Lat dan
Uzza, dan Manat, yang ketiga, berhala betina yang lain ” maka syaitan meletakkan dalam mulut beliau kata-kata “tilkal gharaniq al-’ulā , wa inna
syafa’atuhunna laturtaja,” artinya “ini adalah dewi-dewi yang mulia dan syafaat
mereka diharap-harapkan.”
Mereka
menyebut hal tersebut “Kealpaan Muhammad,” atau “Kompromi beliau dengan kemusyrikan.” Padahal Nabi Besar Muhammad saw. idak pernah berkompromi dengan kemusyrikan, begitu pula tidak pernah ada kekhilafan atau kelengahan
dari beliau saw..
“Tafsir Sesat” Karya “Manusia-manusia Syaitan”
Tuduhan dusta atau fitnah ini menunjukkan keinginan mereka, bahwa beliau saw.
mempunyai buah pikiran ke arah itu.
Para kritisi ini selamanya mencari-cari kesempatan untuk menemukan suatu kelengahan dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw., tetapi jika mereka tidak dapat menemukan sesuatu
mereka sendiri mengada-adakan sesuatu
lalu menuduhkannya
kepada beliau saw.. Mereka berkata bahwa
ayat ini menunjuk kepada kejadian khayali
yang direkayasa tersebut di atas.
Cukuplah
dikatakan di sini bahwa seluruh kisah
ini didustakan secara kenyataan,
bahwa Surah ke-53 (An-Najm) itu menurut kesepakatan para ahli telah diturunkan
pada tahun ke-5 Nabawi (kenabian) di Mekkah, sedang Surah A-Hajj yang sekarang ini diwahyukan di Medinah, atau di Mekkah menjelang keberangkatan Nabi Besar Muhammad saw. ke Medinah
pada tahun ke-13 Nabawi.
Jadi mustahil bahwa
Allah Swt. harus
menunggu-nunggu 8 tahun lamanya untuk
menunjuk kepada kejadian tersebut
dalam ayat ini. Lebih-lebih lagi kisah
rekayasa “ahli tafsir yang cendekia”
ini telah ditolak sebagai hal
yang sama sekali tidak mempunyai dasar.
Di samping itu tidak ada sesuatu
kata dalam ayat Surah Al-Hajj ayat 53
ini, membenarkan pengada-adaan dusta
yang begitu menyolok mata.
Arti ayat ini amat jelas,
ayat ini bermaksud mengemukakan, bahwa apabila seorang nabi Allah atau rasul Allah ingin mencapai tujuannya, yaitu bila ia menyampaikan amanat kebenaran dan menginginkan supaya ke-Esa-an Ilahi dapat ditegakkan
di muka bumi (QS.16:37), maka orang-orang
yang bersifat syaitan, berusaha menghambat majunya kebenaran, dengan meletakkan
segala macam rintangan pada jalannya.
Mereka ingin melihat misinya mengalami
kegagalan. Tetapi mereka tidak dapat menghancurkan
rencana Ilahi, dan Allah Swt. menghilangkan semua hambatan
yang diletakkan “manusia-manusia syaitan”
tersebut dan membuat tujuan kebenaran
itu memperoleh keunggulan dan kemenangan (QS.58:21-22).
Ayat ini mempunyai
pengertian umum. Tidak ada alasan
untuk menyatakan bahwa ayat ini khusus ditujukan kepada Nabi Besar
Muhammad asw. Tambahan pula
tidak mungkin syaitan merusak kemurnian wahyu Al-Quran karena Allah Swt.
menyatakan wajib atas diri-Nya
Sendiri melindungi Al-Quran terhadap
semua campur-tangan dan penyisipan (QS.15:10; QS.7:27-29),
bahkan pendapat ilmiah para cendekiawan Kristen pun telah
mempertahankan kebenaran pendakwaan
Al-Quran tersebut.
Ayat 54:
لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی
الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ
الۡقَاسِیَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ --
Supaya Dia menjadikan rintangan
yang diletakkan oleh syaitan sebagai ujian bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit dan mereka
yang hatinya keras”, mendukung penafsiran yang telah kami berikan
mengenai ayat yang sebelumnya. Tidak ada alasan
untuk membenarkan kisah rekayasa yang tidak mempunyai dasar yang diada-adakan oleh sementara para ahli tafsir yang kurang paham sehubungan dengan ayat ini.
Ayat ini bermaksud mengemukakan
bahwa orang-orang berwatak syaitan
berusaha meletakkan segala macam rintangan guna menggagalkan tersiar-luasnya amanat seorang nabi Allah, supaya kemajuannya dapat dicegah dan “orang-orang
yang dalam hatinya ada penyakit” dapat disesatkan.
Tetapi Allah Swt. menghilangkan
segala rintangan semacam itu, yang
walau pun sebellumnya nampak seakan-akan mengalami kegagalan-kegagalan sementara maka kemudian kebenaran itu
terus berderap maju mencapai kemajuan yang merata serta menyeluruh (QS.110:1-4).
Kedegilan Hati “Manusia-manusia Syaitan” dari Kalangan Jin dan Ins
Firman Allah Swt. berikut
ini memperkuat keberadaan “manusia-manusia
syiatan” di setiap zaman pengutusan
Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37), yang muncul
dari dua golongan manusia yang
berbeda status sosialnya yang disebut
golongan jin dan ins, firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ
اِلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ
حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا
کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی
بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ
لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ﴿﴾
Dan seandainya
pun Kami
benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan orang-orang
yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu
berhadap-hadapan di depan
mereka, mereka sekali-kali tidak
akan beriman, kecuali jika Allah
menghendaki, tetapi kebanyak-an
mereka berlaku jahil. وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ -- Dan dengan
cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syai-tan
di antara manusia dan jin, یُوۡحِیۡ
بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا --
sebagian mereka membisikkan kepada
sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui, وَ لَوۡ
شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ -- dan jika Rabb (Tuhan) engkau menghendaki mere-ka tidak
akan mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan, وَ
لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ -- dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada
akhirat cenderung kepada bisikan itu,
mereka menyukainya وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ --
dan supaya mereka mengusahakan apa
yang sedang me-reka usahakan. (Al-An’ām
[6]:112-114).
Menurut
ayat 112, salah satu tugas malaikat-malaikat adalah membisikkan
kepada manusia pikiran-pikiran baik
untuk mengajak mereka kepada kebenaran (QS.41:32, 33). Kadangkala
mereka melaksanakan tugas-tugas ini melalui mimpi-mimpi
dan kasyaf-kasyaf. Itulah makna
ayat وَ لَوۡ اَنَّنَا
نَزَّلۡنَاۤ اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ -- “Dan seandainya
pun Kami
benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka.”
Ada
pun makna ayat selanjutnya وَ کَلَّمَہُمُ
الۡمَوۡتٰی -- “dan orang-orang
yang telah mati berbicara dengan mereka,” bahwa orang-orang bertakwa yang sudah meninggal dunia nampak kepada manusia
dalam mimpi atau kasyaf untuk membenarkan
pendakwaan nabi-nabi.
Ada
satu cara lain makna “orang-orang yang sudah mati bercakap-cakap
kepada manusia”, yaitu jika suatu umat
yang secara ruhani sudah mati, mereka dihidupkan kembali untuk memperoleh kehidupan ruhani baru oleh ajaran
nabi Allah yang datang kepada mereka,
kelahiran-baru ruhani mereka itu
seakan-akan berbicara kepada orang-orang kafir dan memberikan persaksian terhadap kebenaran pendakwaannya itu.
Kata-kata
selanjutnya وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ
کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا -- “dan Kami
mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan di depan mereka,” hal itu menunjuk kepada kesaksian dari berbagai-bagai benda
alam yang memberi kesaksian
terhadap kebenaran seorang nabi dalam
bentuk gempa, wabah, kelaparan, peperangan, dan azab-azab Ilahi lainnya.
Dengan demikian alam sendiri
nampaknya gusar terhadap orang-orang yang ingkar; yakni unsur-unsur alam itu sendiri memerangi mereka, sebagai salah satu makna dari “sujudnya” para malaikat
kepada Adam (Khalifah Allah), sesuai
dengan arti kata malaikat.
Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang
adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka atas perintah Allah Swt. mengendalikan
kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada para
rasul Allah dan pembaharu-pembaharu samawi (mushlih rabbani).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor:
Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran
Anyar, 3 Februari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar