Selasa, 03 Februari 2015

Syuraqah bin Malik Salah Seorang "Manusia Syaitan" yang Menjadi Muslim



 


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 45

  
Syuraqah bin Malik  Salah Seorang  Manusia Syaitan” yang Menjadi Muslim 
     

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dibahas  mengenai  kisah monumentalAdamMalaikat dan Iblis” yang dikemukakan berbagai Surah dalam Al-Quran,  bahwa yang dimaksud dengan iblis dan setan yang bertekad melakukan penghadangan di jalan Allah Swt. dengan segala cara terhadap Adam (khalifah Allah) dan para pengikutnya  (QS.7:12-26; QS.17:62-66), sebutan tersebut dapat merujuk kepada  manusia dan dapat pula mengisyaratkan kepada “makhluk halus” yang memperagakan sifat-sifat buruk yang dikandung dalam sebutan mereka.
    Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang      Allah Swt.   (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
   Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.   oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
        Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal setan berlainan dari iblis. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh atau membangkang kepada Allah Swt.,   sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7), yang senantiasa bertasbih (mensucikan) dan bertaqdis (mengkuduskan) Allah Swt. (QS.2:31).
       Allah Swt.   telah “murka” kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s.   tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis tetapi perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
        Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..  

Provokasi Suraqah bin Malik bin Jusyam

      Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s.  dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti kepada Adam a.s.   maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s.  diperintahkan harus keluar (hijrah)    dari “kebun” maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan. 
       Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis   berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s.  dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah Swt.   (QS.7:12, 13).
         Contohnya adalah Suraqah bin Malik bin Jusyam, sebelum beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. dalam Al-Quran telah menyebutnya setan  yang memprokasi  Abu Jahal dan para pemimpin kaum kafir Mekkah lainnya yang akan akan berangkat ke Badar, firman-Nya:
  وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ ۚ فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ  اِنِّیۡۤ  اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿٪ ﴾
Dan ingatlah ketika  syaitan  menampakkan indah kepada mereka amal-amal mereka dan berkata:  Tidak seorang pun di antara ma-nusia yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku pelindungmu.” Tetapi  tatkala kedua pasukan itu berhadapan satu sama lain, ia berbalik  atas tumitnya sambil berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku meli-hat apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allāh dan siksaan Allah sangat keras. (Al-Anfāl [8]:49).        
       Diriwayatkan bahwa orang yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah  Suraqah bin Malik bin Jusyam, yang menghasut orang-orang Mekkah agar melawan orang-orang Islam, tetapi kemudian dia sendiri memeluk agama Islam. Lasykar Mekkah masih di Mekkah tatkala beberapa tokoh kabilah Quraisy menyatakan kekhawatiran bahwa jangan-jangan Banu Bakar, satu cabang Banu Kinanah,  yang bermusuhan dengan kaum Quraisy menyerang Mekkah secara tak terduga di waktu mereka tidak ada di tempat atau menyerang lasykar Mekkah dari belakang. Kekhawatiran mereka diredakan oleh Suraqah, salah seorang pemuka Banu Kinanah, yang meyakinkan mereka bahwa orang-orang dari sukunya tidak akan mendatangkan kemudaratan apa pun kepada mereka (Tafsir Ibnu Jarir, X, 13).

Syuraqah bin Malik Salah Satu “Manusia Syaitan” yang   Menjadi Muslim   &  Rintangan yang Diletakkan “Manusia-manusia  Syaitan”

     Tetapi Ketika Suraqah menyaksikan tekad membaja orang-orang Islam dalam menghadapi Perang Badar  maka rasa takut menguasai dirinya, sebab  setelah melihat mereka ia memperoleh keyakinan bahwa tekad mereka  adalah menang atau mati.
       Persis demikianlah dirasakan oleh Utbah dan Umair pada Hari Badar     dan ia memberitahukan kepada orang-orang Mekkah, bahwa orang-orang Islam nampaknya “seperti orang-orang yang mencari kematian” (Thabari).     Utbah bin Rabi’ah adalah salah seorang dari delapan pemimpin kaum kafir Mekkah yang bersama Abu Jahal mati terbunuh dalam perang Badar.
       Mengenai syaitan dari kalangan manusia (jin dan ins) yang melakukan provokasi seperti  Suraqah bin Malik bin Jusyam tersebut  lihat pula QS.6:44; QS.6:44; QS.16; 64;  QS.27:25;  QS.29:44, demikian pula makna syaitan (setan)  dalam  firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.: 
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ وَّ لَا نَبِیٍّ  اِلَّاۤ  اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ وَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ  قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿ۙ﴾   وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اِلٰی  صِرَاطٍ  مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Dan Kami tidak pernah mengirim seorang rasul dan tidak pula seorang nabi melainkan apabila ia menginginkan sesuatu maka syaitan meletakkan hambatan pada keinginannya, tetapi Allah melenyapkan hambatan yang diletakkan oleh syaitan, dan Allah  Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ  قُلُوۡبُہُمۡ   --  Supaya Dia menjadikan rintangan yang diletakkan oleh syaitan sebagai ujian bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit  dan mereka yang hatinya keras,  وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ  -- dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat. وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُم  --  Dan supaya  diketahui oleh orang-orang yang diberi ilmu  sesungguhnya Al-Quran itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau lalu  mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya, وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اِلٰی  صِرَاطٍ  مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan sesungguhnya Allah pasti memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.  (Al-Hajj [22]:53-55).
      Ayat 53   dengan sengaja telah disalah-tafsirkan dan artinya sengaja diputar-balikkan oleh para  kritikus Kristen yang berprasangka. Mereka berkata bahwa pada suatu hari di Mekkah ketika  Nabi Besar Muhammad saw. membaca ayat ke-20 dan 21 Surah Al-Najm: “Kini katakanlah kepadaku tentang Lat dan Uzza, dan Manat, yang ketiga, berhala betina yang lain ” maka syaitan meletakkan dalam mulut beliau kata-kata  “tilkal gharaniq al-’ulā , wa inna syafa’atuhunna laturtaja,” artinya  ini adalah dewi-dewi yang mulia dan syafaat mereka diharap-harapkan.”
        Mereka menyebut hal tersebut  Kealpaan Muhammad,” atau “Kompromi beliau dengan kemusyrikan.  Padahal Nabi Besar Muhammad saw. idak pernah berkompromi dengan kemusyrikan, begitu pula tidak pernah ada kekhilafan atau kelengahan dari beliau saw..

Tafsir Sesat  Karya “Manusia-manusia Syaitan

        Tuduhan dusta atau fitnah  ini menunjukkan keinginan mereka, bahwa beliau saw. mempunyai buah pikiran ke arah itu. Para kritisi ini selamanya mencari-cari kesempatan untuk menemukan suatu kelengahan dalam wujud Nabi Besar Muhammad saw.,  tetapi jika mereka tidak dapat menemukan sesuatu mereka sendiri mengada-adakan sesuatu lalu  menuduhkannya kepada beliau saw.. Mereka berkata  bahwa ayat ini menunjuk kepada kejadian khayali yang direkayasa tersebut di atas.
         Cukuplah dikatakan di sini bahwa seluruh kisah ini didustakan secara kenyataan, bahwa Surah ke-53 (An-Najm) itu menurut kesepakatan para ahli telah diturunkan pada tahun ke-5 Nabawi (kenabian) di Mekkah, sedang Surah A-Hajj yang sekarang ini diwahyukan di Medinah, atau di Mekkah menjelang keberangkatan Nabi Besar Muhammad saw.   ke Medinah pada tahun ke-13 Nabawi.
        Jadi mustahil bahwa Allah Swt.  harus menunggu-nunggu 8 tahun lamanya untuk menunjuk kepada kejadian tersebut dalam ayat ini. Lebih-lebih lagi kisah rekayasa  “ahli tafsir yang cendekia”  ini telah ditolak sebagai hal yang sama sekali tidak mempunyai dasar.  Di samping itu  tidak ada sesuatu kata dalam ayat Surah Al-Hajj ayat 53 ini, membenarkan pengada-adaan dusta yang begitu menyolok mata.
      Arti ayat ini amat jelas, ayat ini bermaksud mengemukakan, bahwa apabila seorang nabi Allah atau rasul Allah  ingin mencapai tujuannya, yaitu bila ia menyampaikan amanat kebenaran dan menginginkan supaya ke-Esa-an Ilahi dapat ditegakkan di muka bumi (QS.16:37), maka orang-orang yang bersifat syaitan, berusaha menghambat majunya kebenaran, dengan meletakkan segala macam rintangan pada jalannya. Mereka ingin melihat misinya mengalami kegagalan. Tetapi mereka tidak dapat menghancurkan rencana Ilahi, dan  Allah Swt. menghilangkan semua hambatan yang diletakkan “manusia-manusia syaitan” tersebut dan membuat tujuan kebenaran itu memperoleh keunggulan dan kemenangan (QS.58:21-22).
       Ayat ini mempunyai pengertian umum. Tidak ada alasan untuk menyatakan  bahwa ayat ini khusus ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad asw.  Tambahan pula tidak mungkin syaitan merusak kemurnian wahyu Al-Quran karena Allah Swt. menyatakan wajib atas diri-Nya Sendiri melindungi Al-Quran terhadap semua campur-tangan dan penyisipan (QS.15:10; QS.7:27-29), bahkan pendapat ilmiah para cendekiawan Kristen pun telah mempertahankan kebenaran pendakwaan Al-Quran tersebut.
       Ayat  54:      لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ  قُلُوۡبُہُمۡ   --  Supaya Dia menjadikan rintangan yang diletakkan oleh syaitan sebagai ujian bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit  dan mereka yang hatinya keras”,  mendukung penafsiran yang telah kami berikan mengenai ayat yang sebelumnya. Tidak ada alasan untuk membenarkan kisah rekayasa  yang tidak mempunyai dasar  yang diada-adakan oleh sementara para ahli tafsir yang kurang paham  sehubungan dengan ayat ini.
     Ayat ini bermaksud mengemukakan bahwa orang-orang berwatak syaitan berusaha meletakkan segala macam rintangan guna menggagalkan tersiar-luasnya amanat seorang nabi Allah, supaya kemajuannya dapat dicegah dan “orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit” dapat disesatkan. Tetapi Allah Swt. menghilangkan segala rintangan semacam itu, yang walau pun sebellumnya nampak seakan-akan mengalami kegagalan-kegagalan sementara maka kemudian kebenaran itu terus berderap maju mencapai kemajuan yang merata serta menyeluruh (QS.110:1-4).

Kedegilan Hati “Manusia-manusia Syaitan” dari Kalangan Jin dan Ins

      Firman Allah Swt. berikut ini memperkuat keberadaan “manusia-manusia syiatan” di setiap zaman pengutusan Rasul Allah yang  kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37), yang muncul dari dua golongan manusia yang berbeda status sosialnya yang disebut golongan jin dan ins, firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ  یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا  مَا  ہُمۡ  مُّقۡتَرِفُوۡنَ﴿﴾
Dan seandainya pun  Kami benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan  orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan  di depan mereka, mereka sekali-kali tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyak-an mereka  berlaku jahil.  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ     -- Dan dengan cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syai-tan di antara manusia dan jin,  یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا  -- sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui,  وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ  -- dan jika Rabb (Tuhan) engkau menghendaki mere-ka tidak akan mengerjakannya,   maka biarkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan,  وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ -- dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka menyukainya وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا  مَا  ہُمۡ  مُّقۡتَرِفُوۡنَ  -- dan supaya mereka mengusahakan apa yang sedang me-reka usahakan.  (Al-An’ām [6]:112-114).
   Menurut ayat 112, salah satu tugas malaikat-malaikat  adalah membisikkan kepada manusia pikiran-pikiran baik untuk mengajak mereka kepada kebenaran (QS.41:32, 33). Kadangkala mereka melaksanakan tugas-tugas ini melalui mimpi-mimpi dan kasyaf-kasyaf. Itulah makna ayat  وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ  -- “Dan seandainya pun  Kami benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka.”
  Ada pun makna ayat selanjutnya وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی  -- “dan  orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka,” bahwa orang-orang bertakwa yang sudah meninggal dunia nampak kepada manusia dalam mimpi atau kasyaf untuk membenarkan pendakwaan nabi-nabi.
  Ada satu cara lain   makna “orang-orang yang sudah mati bercakap-cakap kepada manusia”, yaitu jika suatu umat yang secara ruhani sudah mati, mereka dihidupkan kembali untuk memperoleh kehidupan ruhani baru oleh ajaran nabi Allah yang datang kepada mereka, kelahiran-baru ruhani mereka itu seakan-akan berbicara kepada orang-orang kafir dan memberikan persaksian terhadap kebenaran pendakwaannya  itu.
       Kata-kata selanjutnya وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا -- “dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan  di depan mereka,” hal  itu menunjuk kepada kesaksian dari berbagai-bagai benda alam yang memberi kesaksian terhadap kebenaran seorang nabi dalam bentuk gempa, wabah, kelaparan, peperangan, dan azab-azab Ilahi  lainnya. Dengan demikian alam sendiri nampaknya gusar terhadap orang-orang yang ingkar; yakni unsur-unsur alam itu sendiri memerangi mereka, sebagai salah satu makna dari “sujudnya” para malaikat kepada Adam (Khalifah Allah), sesuai dengan arti kata malaikat. 
       Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya  ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka atas perintah Allah Swt. mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada para rasul  Allah dan pembaharu-pembaharu samawi (mushlih rabbani).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 3  Februari       2015




Tidak ada komentar:

Posting Komentar