بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 5
Makna “Nuthfah Amsāj” (Nuthfah Campuran) & Akibat
Buruk Tidak Memanfaatkan (Tidak Mensyukuri) Indera-indera Jasmani dan Ruhani
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam
akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai Kata pengganti kum
(kamu) dalam minkum: وَ اِنۡ
مِّنۡکُمۡ اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ
عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا -- “Dan
tidak ada seorang pun dari
antara kamu melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi
kepastian yang telah ditetapkan Rabb
(Tuhan) engkau”, tidak dikenakan kepada semua
orang. Kata pengganti itu
dikenakan seperti nampak dari letaknya kalimat ini hanya kepada orang-orang kafir dan kepada mereka yang meragukan adanya kehidupan
sesudah mati, firman-Nya:
وَ یَقُوۡلُ
الۡاِنۡسَانُ ءَ اِذَا مَا مِتُّ لَسَوۡفَ
اُخۡرَجُ حَیًّا ﴿﴾ اَوَ لَا یَذۡکُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰہُ
مِنۡ قَبۡلُ وَ لَمۡ یَکُ شَیۡئًا ﴿﴾ فَوَ رَبِّکَ لَنَحۡشُرَنَّہُمۡ وَ الشَّیٰطِیۡنَ
ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ حَوۡلَ جَہَنَّمَ
جِثِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ لَنَنۡزِعَنَّ مِنۡ کُلِّ شِیۡعَۃٍ
اَیُّہُمۡ اَشَدُّ عَلَی
الرَّحۡمٰنِ عِتِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ لَنَحۡنُ
اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا ﴿﴾ وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ
اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا ﴿ۚ﴾ ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ
الظّٰلِمِیۡنَ فِیۡہَا جِثِیًّا ﴿﴾
Dan
manusia berkata: ”Apakah jika aku mati aku benar-benar segera akan dibangkitkan hidup kembali?" Ataukah
manusia tidak ingat bahwa Kami
telah menciptakan dia dahulu, padahal
dia tadinya bukanlah sesuatu. Maka demi Rabb
(Tuhan) engkau, niscaya Kami akan
menghimpun mereka dan syaitan-syaitan kemudian Kami
niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut. Kemudian niscaya Kami akan memisahkan
dari tiap-tiap golongan siapa-siapa
di antara mereka yang lebih keras dalam kedurhakaan
terhadap Yang Maha Pemurah. Lalu sesungguhnya Kami benar-benar lebih
mengetahui orang-orang yang lebih layak dimasukkan ke dalamnya. Dan tidak
ada seorang pun dari antara kamu melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan
Rabb (Tuhan) engkau. Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang
zalim itu berlutut di dalamnya. (Maryam
[19]:67-73).
Penjelasan Nabi Besar Muhammad Saw.
Kepada Siti Hafshah r.a.
Semua
golongan manusia ini telah disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya. Menurut
Ibn ‘Abbas r.a. dan Ikrimah
r.a. pengertian yang lain
dari minkum (di antara kamu) adalah minkum (di antara mereka),
sedang Ibn ‘Abbas r.a. biasa
mengatakan, bahwa ungkapan minkum itu ditujukan kepada orang-orang
kafir (Qurthubi).
Jadi kata pengganti kum (kamu) yang telah
disebut dalam ayat-ayat 67-71 itu jelas ditujukan kepada orang-orang kafir. Di pihak lain, Al-Quran dengan nyata sekali dan
secara tegas mendukung pandangan, bahwa orang-orang
beriman yang saleh sekali-kali tidak akan masuk neraka; mereka akan
senantiasa berjemur dalam sinar matahari kecintaan dan rahmat Ilahi (QS.27:90; QS.39:62;
QS.43:69, dan sebagainya), serta akan tetap jauh
dari api neraka dan tidak akan mendengar suaranya, walau pun
hanya sayup-sayup sekalipun (QS.21:102-103).
Tetapi bila kata pengganti kum (kamu) dalam
ayat tersebut dianggap mencakup orang-orang beriman maupun orang-orang
kafir, maka dalam hal orang-orang
kafir, ayat ini akan berarti, bahwa mereka
semuanya akan masuk neraka, sedangkan mengenai orang-orang beriman makna api
neraka yang diisyaratkan dalam ayat ini akan berarti api
percobaan dan penderitaan-penderitaan
yang harus mereka lalui di jalan Allah
dalam kehidupan di dunia ini, dan
yang mereka tanggung dengan sabar dan teguh (QS.3:180; QS.9:16; QS.29:3-4), dan akhirnya dari “api” itu mereka dikeluarkan untuk dimasukkan
ke dalam surga rahmat dan ketenteraman yang datang dari Allah Swt., seperti nampak dari ayat
berikutnya.
Nabi Besar
Muhammad saw. sendiri telah
menjelaskan arti ayat ini. Istri beliau, Siti Hafshah r.a., menurut riwayat
pernah berkata: "Pada sekali
peristiwa, ketika Rasulullah saw. bersabda
bahwa tidak ada seorang pun di antara sahabat-sahabat beliau yang pernah
ikut-serta dalam Perang Badar dan Uhud akan masuk neraka, maka saya menarik perhatian beliau kepada ayat ini,
mendengar itu beliau sedikit gusar kepadaku karena kekeliruan saya dalam mengartikan ayat ini,
serta menyuruh saya membaca ayat berikutnya" (Muslim, seperti dikutip oleh Jami'al Bayan),
firman-Nya: ثُمَّ نُنَجِّی
الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ
فِیۡہَا جِثِیًّا -- “Kemudian Kami pasti
akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim itu berlutut di dalamnya. (Maryam
[19]:67-73).”
Kenyataan
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengisyaratkan Siti Hafshah r.a. kepada ayat berikutnya (ayat 73)
menunjukkan, bahwa beliau saw. sendiri telah memahami kata depan tsumma yang
terdapat dalam ayat ini dalam artian "dan"
serta telah menganggap ayat berikutnya
sebagai kalimat yang berdiri sendiri
dan terpisah, sebab jika tidak
demikian tentu beliau saw. tidak akan gusar kepada Siti Hafshah r.a. oleh karena salah mengartikan ayat yang sedang dibahas ini.
Makna “Nuthfah Campuran”
Kembali
kepada ayat Surah Ad-Dahr ayat 2 setelah mengingatkan
manusia tentang kejadiannya yang berasal dari “bukan sesuatu” ہَلۡ اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ
الدَّہۡرِ لَمۡ یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا -- “Bukankah
telah datang kepada insan (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum menjadi sesuatu yang layak disebut?” selanjutnya Allah Swt.
berfirman firman-Nya:
اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ
نُّطۡفَۃٍ اَمۡشَاجٍ ٭ۖ نَّبۡتَلِیۡہِ
فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾ اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ
السَّبِیۡلَ اِمَّا شَاکِرًا وَّ
اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا
وَّ سَعِیۡرًا ﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari nutfah
campuran supaya Kami dapat mengujinya,
maka Kami telah membuat dia mendengar serta melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur, sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang
kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. (Ad-Dahr
[76]:2-5).
Makna “nuthfah
amsāj” (nutfah campuran) bahwa manusia
diciptakan dari setetes air mani
(nuthfah) yang zatnya sendiri merupakan campuran
dari beberapa zat; hal ini berarti
bahwa ia telah diberi berbagai kekuatan,
kemampuan, dan sifat-sifat fitri yang dimaksudkan guna meraih kemajuan dalam akhlak dan
ruhaninya (QS.82:7-9; QS.87:1-4; QS.91:1-11), karena itu Allah Swt. telah
menyebutkan bahwa insan telah diciptakan-Nya
dengan sebaik-baik pernciptaan, tetapi jika tidak mensyukurinya maka insan akan mengembalikannya sebagai makhluk
yang paling rendah (asfala
sāfilīn - QS. 95:1-9).
Proses penciptaan dalam ayat ini hanya menunjuk kepada peraturan umum mengenai penciptaan manusia secara alami melalui pernikahan antara laki-laki
dan perempuan,
dan bukan tidak mungkin itu terjadi dengan jalan (cara) lain. Contohnya
dengan cara “bayi tabung” walau pun sangat rawan manipulasi data dari pihak “bank
sperma.”
Tujuan
Pengenugerahan Indra-indra Jasmani
dan Ruhani
Setelah mengingatkan manusia kepada asal
kejadiannya berupa “nuthfah campur” -- yang merupakan “sesuatu” yang belum patut disebut -- selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai tujuan penganugerahan berbagai indera:
اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ
نُّطۡفَۃٍ اَمۡشَاجٍ ٭ۖ نَّبۡتَلِیۡہِ
فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾ اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ
السَّبِیۡلَ اِمَّا شَاکِرًا وَّ
اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا
وَّ سَعِیۡرًا ﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari nutfah
campuran, نَّبۡتَلِیۡہِ فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا -- supaya Kami dapat mengujinya, maka Kami
telah membuat dia mendengar serta
melihat. اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ السَّبِیۡلَ اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا -- sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur, اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا وَّ
سَعِیۡرًا -- sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang
kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. (Ad-Dahr
[76]:2-5).
Dalam ayat tersebut
Allah Swt. menyebutkan tentang tujuan penganugerahan indera pendengar dan penglihatan
sebagai sarana bagi manusia
untuk memperoleh berbagai macam pengetahuan, dalam Surah lain Dia firman-Nya:
اللّٰہُ
اَخۡرَجَکُمۡ مِّنۡۢ بُطُوۡنِ
اُمَّہٰتِکُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ شَیۡئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ
الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ۙ لَعَلَّکُمۡ
تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibumu dalam keadaan kamu tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia menjadikan
bagi kamu pendengaran, penglihatan,
dan hati supaya kamu
bersyukur. (Al-Nahl [16]:79).
Kemampuan mendengar,
melihat, dan memahami telah disebut dalam urutan yang tepat untuk menolong
manusia memperoleh ilmu. Pertama-tama
bayi yang baru lahir mempergunakan daya
mendengar. Kemampuan melihat
berkembang kemudian, dan daya memahami
itu menjadi matang paling akhir. Dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman:
وَ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡشَاَ لَکُمُ
السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
Dia-lah Yang telah menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan
dan hati, tetapi sedikit sekali kamu
bersyukur. (Al-Mu’minūn [23]:79).
Firman-Nya
lagi:
قُلۡ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡشَاَکُمۡ
وَ جَعَلَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ
الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang
telah menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu telinga, mata, dan hati, tetapi
sedikit sekali kamu bersyukur.”
(Al-Mulk
[67]:24).
Makna “Bersyukur” & Kelumpuhan
Indera-indera Ruhani
Salah satu arti syukur ialah mempergunakan suatu pemberian dengan setepat-tepatnya,
sebab jika tidak maka manusia sendiri yang akan memperoleh kerugian atau akibat buruk
di dunia mau pun di akhirat, berikut
pernyataan Nabi Musa a.s. dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ
رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ
لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau
mengumumkan: ”Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya akan
Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat keras.” (Ibrahim [14]:8).
Syukr
(syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu
pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2)
Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang
berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan
membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a)
kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur
itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan
terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d)
sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan
cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya.
Itulah syukr dari pihak manusia, ada pun syukr dari pihak
Allah Swt. ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya
atau merasa puas terhadapnya, berkemauan
baik untuknya atau senang (ridha)
kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon
Lane). Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada Allah Swt.
bila manusia mempergunakan
segala pemberian-Nya dengan tepat seuai dengan “Kehendak-Nya” berupa
petunjuk “hukum-humum syariat.”
Berdasarkan
itu, maka ayat-ayat tersebut mengandung arti, bahwa Allah Swt. telah memberi manusia telinga, (pendengaran) mata
(penglihatan) dan hati (pengertian) supaya manusia dapat mempergunakannya dengan
tepat, dan memperoleh faedah jasmani
dan ruhani dari indera itu, yaitu menyaksikan
tanda-tanda-Nya, mendengar amanat
Ilahi dan merenungkannya (QS.3:191-196).
Sebab jika
tidak maka kemampuan ruhani yang
dimiliki oleh indera-indera tersebut --
sekali dari segi jasmani tetap berfungsi dengan baik – tetapi dari segi
ruhani kemampuannya akan lumpuh, yaitu menjadi tuli, buta, dan bodoh serta bisu mengenai
makrifat Ilahi, keadaan mereka
seperti
“binatang ternak” yang sekedar dapat mendengar “seruan” penggembalanya
tetapi tidak pernah memahami arti
serta maknanya, firman-Nya:
مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ
الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا
حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ
بِنُوۡرِہِمۡ وَ
تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka
tatkala api itu telah menyinari
apa yang ada di sekelilingnya, Allah
melenyapkan cahaya mereka dan meninggalkan
mereka dalam kegelapan, mereka
tidak dapat melihat. Mereka
tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali. (Al-Baqarah [2]:18-19).
Firman-Nya
lagi:
مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ
الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا
حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ
بِنُوۡرِہِمۡ وَ
تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka
tatkala api itu telah menyinari
apa yang ada di sekelilingnya, Allah
melenyapkan cahaya mereka dan meninggalkan
mereka dalam kegelapan, mereka
tidak dapat melihat. Mereka
tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali. (Al-Baqarah [2]:18-19).
Lalu berfirman:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ
الَّذِیۡ یَنۡعِقُ
بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً وَّ نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan
perumpamaan keadaan orang-orang
kafir itu seperti seseorang yang berteriak kepada sesuatu
yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.
Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu mereka
tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172). Lihat pula
QS6:40; QS.7:180; QS.8:23; QS.10:43; QS.11:25;QS.17:72 & 98; QS.20:125-129;
QS.21:46; QS.22:46-47; QS.27:81;
QS.30:53-54; QS.43:41).
Nabi Besar Muhammad saw. menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada orang-orang kafir. Beliau saw. itu penyeru
(QS.3:191-195; QS.33:46-48) dan mereka mendengar
suara beliau saw., tetapi tidak berusaha menangkap maknanya.
Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah
sampai kepada telinga orang tuli
dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani
mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf
keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang
hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak
mengerti apa yang dikatakannya.
Akibat Buruk “Tidak bersyukur” & Makna Belenggu
dan Rantai Pengikat Penghuni Neraka
Akibat buruk yang akan dialami oleh
manusia-manusia yang tidak bersyukur
seperti itu dijelaskan oleh ayat selanjutnya, firman-Nya: اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا
وَّ سَعِیۡرًا --
“Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala” (QS.76:5), bahwa tiap-tiap perbuatan yang dilakukan manusia diikuti oleh perbuatan bersangkutan
yang dilakukan oleh Allah Swt..
Terlibatnya orang-orang kafir
di dalam urusan duniawi akan
mengambil wujud rantai-rantai di akhirat; sedangkan hasrat-hasrat duniawi akan mengambil bentuk belenggu leher dari besi,
dan ketamakan serta nafsu rendah akan mengambil bentuk api neraka yang berkobar-kobar, dan seterusnya, sesuai dengan gejolak hawa-nafsu mereka di dunia.
Berulang-ulang telah diterangkan di dalam
Al-Quran bahwa kehidupan sesudah mati di Akhirat bukan kehidupan baru,
melainkan hanya merupakan citra (gambaran)
dan penampilan fakta-fakta kehidupan dunia sekarang. Dalam ayat-ayat ini penderitaan ruhani di dalam kehidupan dunia sekarang telah
ditampilkan sebagai “siksaan jasmani”
di akhirat.
Rantai yang akan dikalungkan sekeliling
leher menampilkan hasrat-hasrat duniawi,
dan hasrat-hasrat itulah yang akan
mengambil bentuk belenggu leher di akhirat. Demikian pula keterikatan
pada kehidupan dunia ini akan nampak sebagai belenggu kaki. Begitu juga terbakarnya hati di dunia pun nampak
seperti lidah api yang menjilat-jilat.
Batas umur manusia pada
umumnya dapat ditetapkan 70 tahun, tanpa mencakup masa kanak-kanak dan
masa tua-renta. Usia 70 tahun itu dibuang percuma oleh orang-orang kafir durjana dalam jerat godaan dunia dan dalam pemuasan
ajakan hawa nafsunya.
Ia tidak berusaha membebaskan diri dari ikatan rantai nafsu, dan karena itu di akhirat,
rantai nafsu yang selama 70 tahun ia bergelimang di dalamnya,
akan diwujudkan rantai sepanjang 70 hasta,
setiap hasta menampilkan satu tahun, yang dengan itu si jahat itu akan dibelenggu, itulah makna firman-Nya berikut ini:
وَ اَمَّا
مَنۡ اُوۡتِیَ کِتٰبَہٗ بِشِمَالِہٖ ۬ۙ
فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ لَمۡ اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ ﴿ۚ﴾ وَ لَمۡ
اَدۡرِ مَا حِسَابِیَہۡ ﴿ۚ﴾ یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ ﴿ۚ﴾ مَاۤ اَغۡنٰی عَنِّیۡ مَالِیَہۡ ﴿ۚ﴾ ہَلَکَ عَنِّیۡ
سُلۡطٰنِیَہۡ ﴿ۚ﴾ خُذُوۡہُ فَغُلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
الۡجَحِیۡمَ صَلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ فِیۡ
سِلۡسِلَۃٍ ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ ذِرَاعًا
فَاسۡلُکُوۡہُ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ کَانَ
لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿ۙ﴾ وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ﴿ؕ﴾ فَلَیۡسَ لَہُ
الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ وَّ لَا طَعَامٌ
اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَاۡکُلُہٗۤ اِلَّا
الۡخَاطِـُٔوۡنَ ﴿٪﴾
Tetapi barangsiapa
diberikan kitabnya di tangan kirinya, maka ia berkata: “Aduhai kiranya aku tidak diberi kitabku,dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku itu. Aduhai kiranya
kematianku mengakhiri hidupku!
Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartaku, hilang lenyap dariku kekuasaanku.” Dia berfirman, خُذُوۡہُ فَغُلُّوۡہُ -- “Tangkaplah dia dan belenggulah
dia ثُمَّ
الۡجَحِیۡمَ صَلُّوۡہُ -- kemudian masukkanlah dia ke dalam Jahannam, ثُمَّ فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ ذِرَاعًا
فَاسۡلُکُوۡہُ -- lalu
ikatlah
dia dengan rantai yang
panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya
ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, dan ia tidak menganjurkan untuk memberi makan
kepada orang miskin. Maka tidak
ada baginya pada hari ini di sana seorang
sahabat karib. Dan tidak ada makanan kecuali bekas cucian luka, tidak
ada yang memakannya kecuali orang-orang berdosa.” (Al-Hāqqah
[69]:26-38).
Seseorang diberikan rekaman amalnya di dalam tangan
kirinya adalah istilah yang dipakai Al-Quran yang menyatakan kegagalan dalam ujian. Makna ayat یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ -- “Aduhai
kiranya kematianku mengakhiri hidupku!” orang-orang
kafir akan mengharapkan bahwa kematian
akan menyudahi segala sesuatu,
sehingga tidak bakal ada kehidupan
lain lagi, dan tidak ada lagi kewajiban
mem-pertanggung-jawabkan perbuatan mereka
di hadapan Allah Swt..
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 18
Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar