Rabu, 17 Desember 2014

Makna "Nuthfah Amsyaaj" (Nuthfah Campuran) & Akibat Buruk Tidak Memanfaatkan (Tidak Mensyukuri) Indera-indera Jasmani dan Ruhani




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 5

Makna “Nuthfah Amsāj” (Nuthfah Campuran) &  Akibat Buruk Tidak Memanfaatkan   (Tidak Mensyukuri) Indera-indera Jasmani dan Ruhani


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai Kata pengganti kum (kamu) dalam minkum: وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ  اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا  -- “Dan  tidak ada seorang  pun dari antara kamu  melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan  Rabb (Tuhan) engkau”, tidak dikenakan kepada semua orang. Kata pengganti itu dikenakan seperti nampak dari letaknya kalimat ini  hanya kepada orang-orang kafir dan kepada mereka yang meragukan adanya kehidupan sesudah mati, firman-Nya:
وَ یَقُوۡلُ الۡاِنۡسَانُ ءَ اِذَا مَا مِتُّ  لَسَوۡفَ اُخۡرَجُ  حَیًّا ﴿﴾  اَوَ لَا یَذۡکُرُ الۡاِنۡسَانُ اَنَّا خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ  وَ لَمۡ  یَکُ شَیۡئًا ﴿﴾  فَوَ رَبِّکَ لَنَحۡشُرَنَّہُمۡ وَ الشَّیٰطِیۡنَ ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّہُمۡ  حَوۡلَ  جَہَنَّمَ  جِثِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ  لَنَنۡزِعَنَّ مِنۡ کُلِّ  شِیۡعَۃٍ  اَیُّہُمۡ  اَشَدُّ عَلَی الرَّحۡمٰنِ عِتِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ لَنَحۡنُ اَعۡلَمُ بِالَّذِیۡنَ ہُمۡ اَوۡلٰی بِہَا صِلِیًّا ﴿﴾  وَ اِنۡ مِّنۡکُمۡ  اِلَّا وَارِدُہَا ۚ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ حَتۡمًا مَّقۡضِیًّا ﴿ۚ﴾  ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ  فِیۡہَا جِثِیًّا ﴿﴾ 
Dan manusia berkata: ”Apakah jika aku mati  aku benar-benar segera akan dibangkitkan hidup kembali?"   Ataukah  manusia tidak ingat   bahwa Kami telah menciptakan dia dahulu, padahal  dia tadinya bukanlah sesuatu.  Maka demi Rabb (Tuhan) engkau, niscaya Kami akan menghimpun mereka dan syaitan-syaitan kemudian Kami niscaya akan menghadirkan mereka di sekeliling Jahannam dalam keadaan berlutut.   Kemudian niscaya Kami  akan memisahkan dari tiap-tiap golongan siapa-siapa di antara mereka yang lebih keras dalam kedurhakaan terhadap Yang Maha Pemurah.   Lalu  sesungguhnya Kami benar-benar  lebih mengetahui orang-orang yang lebih layak  dimasukkan ke dalamnya.   Dan  tidak ada seorang  pun dari antara kamu  melainkan akan mendatanginya, hal ini menjadi kepastian yang telah ditetapkan  Rabb (Tuhan) engkau.   Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang ber­takwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim  itu berlutut di dalamnya. (Maryam [19]:67-73).

Penjelasan Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada  Siti Hafshah r.a.

   Semua golongan manusia ini telah disebut dalam ayat-­ayat yang mendahuluinya. Menurut Ibn ‘Abbas r.a.  dan Ikrimah r.a.  pengertian yang lain dari minkum (di antara kamu) adalah minkum (di antara mereka), sedang Ibn ‘Abbas r.a.  biasa mengatakan, bahwa ungkapan minkum itu ditujukan kepada orang­-orang kafir (Qurthubi).
   Jadi kata pengganti kum (kamu) yang telah disebut dalam ayat-ayat 67-71 itu jelas ditujukan kepada orang-orang kafir. Di pihak lain, Al-Quran dengan nyata sekali dan secara tegas mendukung pandangan, bahwa orang-orang beriman yang saleh sekali-kali tidak akan masuk neraka; mereka akan senantiasa berjemur dalam sinar matahari kecintaan dan rahmat Ilahi (QS.27:90; QS.39:62; QS.43:69, dan sebagainya), serta akan tetap jauh dari api neraka dan tidak akan mendengar suaranya, walau pun hanya sayup-sayup sekalipun (QS.21:102-103).
   Tetapi bila kata pengganti kum (kamu) dalam ayat tersebut  dianggap mencakup orang-orang beriman  maupun orang-orang kafir, maka dalam hal orang-orang kafir, ayat ini akan berarti, bahwa mereka semuanya akan masuk neraka, sedangkan mengenai orang­-orang beriman makna api neraka yang diisyaratkan dalam ayat ini akan berarti  api percobaan dan penderitaan-penderitaan yang harus mereka lalui di jalan Allah dalam kehidupan di dunia ini, dan yang mereka tanggung dengan sabar dan teguh (QS.3:180; QS.9:16; QS.29:3-4), dan akhirnya dari “api” itu mereka dikeluarkan untuk dimasukkan ke dalam surga rahmat dan ketenteraman yang datang dari Allah Swt., seperti nampak dari ayat berikutnya.
  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri telah menjelaskan arti ayat ini. Istri beliau, Siti Hafshah r.a., menurut riwayat pernah berkata: "Pada sekali peristiwa, ketika Rasulullah saw.  bersabda bahwa tidak ada seorang pun di antara sahabat-sahabat beliau yang pernah ikut-serta dalam Perang Badar dan Uhud akan masuk neraka, maka saya  menarik perhatian beliau kepada ayat ini, mendengar itu beliau sedikit gusar kepadaku karena  kekeliruan saya dalam mengartikan ayat ini, serta menyuruh saya membaca ayat berikutnya" (Muslim, seperti dikutip oleh Jami'al Bayan), firman-Nya:  ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا وَّ نَذَرُ الظّٰلِمِیۡنَ  فِیۡہَا جِثِیًّا -- “Kemudian Kami pasti akan menyelamatkan orang-orang yang ber­takwa, dan akan Kami biarkan orang-orang yang zalim  itu berlutut di dalamnya. (Maryam [19]:67-73).”
   Kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mengisyaratkan Siti Hafshah r.a.  kepada ayat berikutnya (ayat 73) menunjukkan, bahwa beliau saw. sendiri telah memahami kata depan tsumma yang terdapat dalam ayat ini dalam artian "dan" serta  telah menganggap ayat berikutnya sebagai kalimat yang berdiri sendiri dan terpisah, sebab jika tidak demikian  tentu beliau saw. tidak akan gusar kepada Siti Hafshah r.a.  oleh karena salah mengartikan ayat yang sedang dibahas ini.

Makna “Nuthfah Campuran

    Kembali kepada ayat Surah Ad-Dahr ayat 2  setelah mengingatkan manusia tentang  kejadiannya yang berasal dari “bukan sesuatuہَلۡ  اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ  لَمۡ  یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا  --  “Bukankah telah  datang kepada insan  (manusia) suatu waktu dari masa ketika ia belum menjadi  sesuatu yang layak disebut?” selanjutnya Allah Swt. berfirman firman-Nya:
اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  اَمۡشَاجٍ ٭ۖ  نَّبۡتَلِیۡہِ  فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾  اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ  السَّبِیۡلَ  اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا ﴿﴾       
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah campuran supaya Kami dapat mengujinya, maka Kami telah membuat dia mendengar serta melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur,  sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. (Ad-Dahr [76]:2-5).
   Makna “nuthfah amsāj” (nutfah campuran)  bahwa manusia diciptakan dari setetes air mani (nuthfah)  yang zatnya sendiri merupakan campuran dari beberapa zat; hal ini berarti bahwa ia telah diberi berbagai kekuatan, kemampuan, dan sifat-sifat fitri yang dimaksudkan guna meraih kemajuan dalam akhlak dan ruhaninya  (QS.82:7-9; QS.87:1-4;  QS.91:1-11), karena itu Allah Swt. telah menyebutkan  bahwa insan  telah diciptakan-Nya dengan sebaik-baik pernciptaan,  tetapi jika tidak mensyukurinya  maka insan  akan  mengembalikannya  sebagai makhluk yang paling rendah  (asfala sāfilīn - QS. 95:1-9).
    Proses penciptaan dalam ayat ini hanya menunjuk kepada peraturan umum mengenai penciptaan manusia secara alami melalui pernikahan antara laki-laki dan  perempuan, dan bukan tidak mungkin itu terjadi dengan jalan (cara) lain. Contohnya dengan  cara “bayi tabung” walau pun sangat rawan manipulasi data  dari  pihak “bank sperma.”   

Tujuan Pengenugerahan Indra-indra Jasmani dan Ruhani

   Setelah mengingatkan manusia kepada asal kejadiannya  berupa “nuthfah campur -- yang merupakan “sesuatu” yang belum patut   disebut -- selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai  tujuan penganugerahan berbagai indera:
اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  اَمۡشَاجٍ ٭ۖ  نَّبۡتَلِیۡہِ  فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا﴿﴾  اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ  السَّبِیۡلَ  اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا ﴿﴾       
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nutfah campuran, نَّبۡتَلِیۡہِ  فَجَعَلۡنٰہُ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا -- supaya Kami dapat mengujinya, maka Kami telah membuat dia mendengar serta melihat. اِنَّا ہَدَیۡنٰہُ  السَّبِیۡلَ  اِمَّا شَاکِرًا وَّ اِمَّا کَفُوۡرًا  -- sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan, apakah ia bersyukur atau pun tidak bersyukur, اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا  --  sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala. (Ad-Dahr [76]:2-5).
       Dalam ayat tersebut Allah Swt. menyebutkan tentang tujuan  penganugerahan indera pendengar dan penglihatan sebagai sarana bagi manusia untuk  memperoleh  berbagai macam pengetahuan, dalam Surah lain Dia firman-Nya:
اللّٰہُ اَخۡرَجَکُمۡ  مِّنۡۢ بُطُوۡنِ اُمَّہٰتِکُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ شَیۡئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ۙ لَعَلَّکُمۡ  تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan  Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibumu dalam keadaan kamu tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia  menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati  supaya kamu bersyukur. (Al-Nahl [16]:79).  
       Kemampuan mendengar, melihat, dan memahami telah disebut dalam urutan yang tepat untuk menolong manusia memperoleh ilmu. Pertama-tama bayi yang baru lahir mempergunakan daya mendengar. Kemampuan melihat berkembang kemudian, dan daya memahami itu menjadi matang paling akhir. Dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman: 
وَ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَنۡشَاَ لَکُمُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Dia-lah Yang telah  menjadikan bagi kamu pendengaran,  penglihatan dan hati, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. (Al-Mu’minūn [23]:79).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَنۡشَاَکُمۡ وَ جَعَلَ  لَکُمُ السَّمۡعَ وَ الۡاَبۡصَارَ وَ الۡاَفۡـِٕدَۃَ ؕ قَلِیۡلًا مَّا  تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang telah menciptakan  kamu dan  menjadikan bagi kamu telinga, mata, dan hati, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.” (Al-Mulk [67]:24).

Makna “Bersyukur” &  Kelumpuhan Indera-indera Ruhani

   Salah satu arti syukur ialah mempergunakan suatu pemberian dengan setepat-tepatnya, sebab jika tidak maka manusia sendiri yang akan memperoleh kerugian atau akibat buruk di dunia mau pun di akhirat, berikut pernyataan Nabi Musa a.s. dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.  (Ibrahim [14]:8).
      Syukr (syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
     Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya.
         Itulah syukr dari pihak manusia, ada pun syukr dari pihak Allah Swt.    ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas terhadapnya,  berkemauan baik untuknya atau senang (ridha) kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane). Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt. bila manusia mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat seuai dengan “Kehendak-Nya” berupa  petunjuk “hukum-humum syariat.”
     Berdasarkan itu, maka  ayat-ayat   tersebut  mengandung arti,  bahwa Allah Swt.  telah memberi manusia telinga, (pendengaran) mata (penglihatan)  dan hati (pengertian) supaya manusia dapat mempergunakannya dengan tepat, dan memperoleh faedah jasmani dan ruhani dari indera itu, yaitu menyaksikan tanda-tanda-Nya, mendengar amanat Ilahi  dan merenungkannya (QS.3:191-196).
   Sebab jika tidak maka kemampuan ruhani yang dimiliki  oleh indera-indera tersebut   -- sekali dari segi jasmani tetap berfungsi dengan baik – tetapi dari segi ruhani kemampuannya akan lumpuh, yaitu menjadi tuli, buta, dan bodoh serta bisu   mengenai  makrifat Ilahi, keadaan mereka  seperti   “binatang ternak”  yang sekedar dapat mendengar “seruan” penggembalanya tetapi tidak pernah memahami arti serta maknanya, firman-Nya:
مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ  فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka tatkala api itu telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan  meninggalkan mereka dalam kegelapan,  mereka tidak dapat melihatMereka  tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali.  (Al-Baqarah [2]:18-19).
Firman-Nya lagi:
مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ  فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka tatkala api itu telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan  meninggalkan mereka dalam kegelapan,  mereka tidak dapat melihat.  Mereka  tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali.  (Al-Baqarah [2]:18-19).
Lalu berfirman:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً  وَّ  نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ  فَہُمۡ  لَا  یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan  keadaan orang-orang kafir itu seperti  seseorang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.   Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu  mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172). Lihat pula QS6:40; QS.7:180; QS.8:23; QS.10:43; QS.11:25;QS.17:72 & 98; QS.20:125-129; QS.21:46; QS.22:46-47;  QS.27:81; QS.30:53-54; QS.43:41).

   Nabi Besar Muhammad saw. menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada orang-orang kafir. Beliau saw. itu penyeru (QS.3:191-195; QS.33:46-48) dan mereka mendengar suara beliau saw., tetapi tidak berusaha menangkap maknanya.
      Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya.

Akibat Buruk “Tidak bersyukur” & Makna Belenggu dan Rantai Pengikat  Penghuni Neraka

    Akibat buruk yang akan dialami oleh manusia-manusia yang tidak bersyukur seperti itu dijelaskan oleh ayat selanjutnya, firman-Nya:   اِنَّاۤ  اَعۡتَدۡنَا  لِلۡکٰفِرِیۡنَ سَلٰسِلَا۠ وَ اَغۡلٰلًا  وَّ  سَعِیۡرًا -- “Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan Api yang menyala-nyala” (QS.76:5), bahwa tiap-tiap perbuatan yang dilakukan manusia diikuti oleh perbuatan bersangkutan yang dilakukan oleh Allah Swt..
  Terlibatnya orang-orang kafir di dalam urusan duniawi akan mengambil wujud rantai-rantai di akhirat; sedangkan hasrat-hasrat duniawi akan mengambil bentuk belenggu leher dari besi, dan ketamakan serta nafsu rendah akan mengambil bentuk api neraka yang berkobar-kobar,  dan seterusnya,  sesuai dengan gejolak hawa-nafsu mereka di dunia.
    Berulang-ulang telah diterangkan di dalam Al-Quran bahwa kehidupan sesudah mati di Akhirat bukan kehidupan baru, melainkan hanya merupakan citra (gambaran) dan penampilan fakta-fakta kehidupan dunia sekarang. Dalam ayat-ayat ini penderitaan ruhani di dalam kehidupan dunia sekarang telah ditampilkan sebagai “siksaan jasmani” di akhirat.
Rantai yang akan dikalungkan sekeliling leher menampilkan hasrat-hasrat duniawi, dan hasrat-hasrat itulah yang akan mengambil bentuk belenggu leher di akhirat. Demikian pula keterikatan pada kehidupan  dunia ini akan nampak sebagai belenggu kaki. Begitu juga terbakarnya hati di dunia pun nampak seperti lidah api yang menjilat-jilat.
  Batas umur manusia pada umumnya  dapat ditetapkan 70  tahun, tanpa mencakup masa kanak-kanak dan masa tua-renta. Usia 70 tahun itu dibuang percuma oleh orang-orang kafir durjana dalam jerat godaan dunia dan dalam pemuasan ajakan hawa nafsunya.
 Ia tidak berusaha membebaskan diri dari ikatan rantai nafsu, dan karena itu di akhirat, rantai nafsu yang selama 70 tahun ia bergelimang di dalamnya, akan diwujudkan rantai sepanjang 70 hasta, setiap hasta menampilkan satu tahun, yang dengan itu si jahat itu akan dibelenggu, itulah makna firman-Nya berikut ini:
وَ اَمَّا مَنۡ  اُوۡتِیَ کِتٰبَہٗ بِشِمَالِہٖ ۬ۙ فَیَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِیۡ  لَمۡ  اُوۡتَ کِتٰبِیَہۡ  ﴿ۚ﴾ وَ  لَمۡ  اَدۡرِ  مَا حِسَابِیَہۡ ﴿ۚ﴾  یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ ﴿ۚ﴾ مَاۤ  اَغۡنٰی عَنِّیۡ  مَالِیَہۡ ﴿ۚ﴾  ہَلَکَ عَنِّیۡ  سُلۡطٰنِیَہۡ ﴿ۚ﴾  خُذُوۡہُ  فَغُلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  الۡجَحِیۡمَ  صَلُّوۡہُ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ  ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ  ذِرَاعًا  فَاسۡلُکُوۡہُ ﴿ؕ﴾  اِنَّہٗ  کَانَ  لَا  یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ۙ﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ﴿ؕ﴾  فَلَیۡسَ لَہُ  الۡیَوۡمَ ہٰہُنَا حَمِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  وَّ لَا طَعَامٌ   اِلَّا مِنۡ غِسۡلِیۡنٍ ﴿ۙ﴾  لَّا  یَاۡکُلُہٗۤ  اِلَّا الۡخَاطِـُٔوۡنَ ﴿٪﴾
Tetapi barangsiapa diberikan kitabnya di tangan kirinya,  maka ia berkata: “Aduhai kiranya aku tidak diberi kitabku,dan aku tidak mengetahui apa perhitunganku itu. Aduhai  kiranya kematianku mengakhiri hidupku!  Sekali-kali tidak bermanfaat bagiku hartaku, hilang lenyap dariku kekuasaanku.” Dia berfirman, خُذُوۡہُ  فَغُلُّوۡہُ  --  Tangkaplah dia dan belenggulah dia ثُمَّ  الۡجَحِیۡمَ  صَلُّوۡہُ --  kemudian masukkanlah dia ke dalam Jahannam, ثُمَّ  فِیۡ سِلۡسِلَۃٍ  ذَرۡعُہَا سَبۡعُوۡنَ  ذِرَاعًا  فَاسۡلُکُوۡہُ  -- lalu  ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya ia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar, dan   ia tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin.    Maka tidak ada baginya pada hari ini di sana seorang sahabat karib.   Dan tidak ada makanan kecuali bekas  cucian luka,    tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang berdosa.” (Al-Hāqqah [69]:26-38).
   Seseorang diberikan rekaman amalnya  di dalam tangan kirinya adalah istilah yang dipakai Al-Quran yang menyatakan kegagalan dalam ujian.  Makna ayat    یٰلَیۡتَہَا کَانَتِ الۡقَاضِیَۃَ  -- “Aduhai  kiranya kematianku mengakhiri hidupku!” orang-orang kafir akan mengharapkan bahwa kematian akan menyudahi segala sesuatu, sehingga tidak bakal ada kehidupan lain lagi, dan tidak ada lagi kewajiban mem-pertanggung-jawabkan perbuatan mereka di hadapan Allah Swt..

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  18 Desember     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar