بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 11
Sunnatullah Pengulangan Ketakaburan Iblis Dalam Kisah Monumental "Adam - Malaikat - Iblis" di Setiap Zaman Pengutusan Rasul Allah
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai
sembilan
Tanda yang diperlihatkan Nabi Musa a.s. di hadapan Fir’aun dan para pembesarnya sebagai mukjizat (QS.7:118; QS.17:102-105;
QS.26:33 QS.27:9-15; QS.28:32), yakni
1657.
Kesembilan Tanda
atau mukjizat
Nabi Musa a.s. itu telah
tersebut di tempat lain dalam Al-Quran yaitu: (a) tongkat (QS.7:108); (b)
tangan putih (QS.7:109); (c) musim kering dan kekurangan buah-buahan
(QS.7:131); (d) badai; (e) belalang; (f) kutu; (g)
katak; dan (h) azab darah (QS.7:134), akan tetapi Fir’aun menyebut mukjizat-mukjizat tersebut sebagai sihir: وَ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَ السّٰحِرُ
ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ
عِنۡدَکَ ۚ اِنَّنَا لَمُہۡتَدُوۡنَ -- dan mereka berkata: "Hai ahli sihir, berdoalah bagi kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sebagaimana janji-Nya kepada engkau
sesungguhnya kami benar-benar akan
menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk." (Az-Zukhruf [43]:49-51).
Mukjizat Pamungkas Nabi Musa a.s. Memaksa Fir’aun Menyatakan “Beriman kepada Tuhan” Bani
Israil
Namun
ketika pemintaan Fir’aun
kepada Nabi Musa a.s. tersebut dikabulkan
Allah Swt. mereka mengingkari janji:
فَلَمَّا کَشَفۡنَا
عَنۡہُمُ الۡعَذَابَ اِذَا ہُمۡ
یَنۡکُثُوۡنَ -- tetapi tatkala
Kami menjauhkan azab dari mereka tiba-tiba mereka
melanggar janji mereka.” Oleh karena itu ketika mukjizat Nabi Musa a.s. yang kesembilan
terjadi maka Fir’aun dan para pembesarnya tidak dapat lagi mengingkari janji:
وَ قَالَ
مُوۡسٰی رَبَّنَاۤ اِنَّکَ اٰتَیۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَاَہٗ زِیۡنَۃً
وَّ اَمۡوَالًا فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۙ رَبَّنَا لِیُضِلُّوۡا عَنۡ
سَبِیۡلِکَ ۚ رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰۤی اَمۡوَالِہِمۡ وَ اشۡدُدۡ عَلٰی
قُلُوۡبِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡا حَتّٰی
یَرَوُا الۡعَذَابَ الۡاَلِیۡمَ ﴿﴾ قَالَ قَدۡ اُجِیۡبَتۡ دَّعۡوَتُکُمَا فَاسۡتَقِیۡمَا
وَ لَا تَتَّبِعٰٓنِّ سَبِیۡلَ الَّذِیۡنَ
لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ جٰوَزۡنَا
بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ
فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ
بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ
عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ
کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ
اٰیٰتِنَا لَغٰفِلُوۡنَ﴿٪﴾
Dan Musa
berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami,
sesungguhnya Engkau telah memberikan
kepada Fir’aun dan para pembesarnya
perhiasan dan kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Rabb (Tuhan) kami, dengan akibat
bahwa mereka menyesatkan orang
dari jalan Engkau. رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰۤی اَمۡوَالِہِمۡ وَ اشۡدُدۡ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ فَلَا
یُؤۡمِنُوۡا حَتّٰی یَرَوُا الۡعَذَابَ
الۡاَلِیۡمَ -- Ya Rabb (Tuhan)
kami, musnahkanlah kekayaan mereka dan keraskanlah hati mereka maka mereka
tidak akan beriman hingga mereka melihat azab yang pedih.” Dia
berfirman: “Sungguh doa kamu berdua
telah dikabulkan, maka bersikap
teguhlah kamu berdua dan janganlah
kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” وَ جٰوَزۡنَا
بِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ
فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ
بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا -- Dan Kami
telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu Fir’aun
dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga
apabila ia menjelang tenggelam ia
berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia
tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri
kepada-Nya.” آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ
کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau telah membangkang sebelum
ini, dan engkau termasuk orang-orang yang
berbuat kerusakan. Maka pada
hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya badan
engkau, supaya engkau menjadi suatu
Tanda bagi orang-orang sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus
[10]:89-93).
Kata-kata Fir’aun
ketika akan mati tenggelam melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si
congkak Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya: حَتّٰۤی اِذَاۤ اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ
اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا
اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga
apabila ia menjelang tenggelam ia
berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia
tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri
kepada-Nya.”
Sangat
menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran
sajalah dari semua kitab keagamaan dan buku-buku sejarah, yang menceritakan
kenyataan yang disinggung oleh ayat ini. Bible
tak menyebutkannya dan tidak pula kitab
sejarah mana pun. Tetapi dengan cara yang alangkah ajaibnya firman Allah
Swt. itu telah terbukti
kebenarannya.
Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat
Fir’aun itu telah ditemukan orang kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo. Nampak
dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek
dengan wajah yang mencerminkan kebengisan
campur kebodohan.
Nabi Musa a.s. dilahirkan di
zaman Ramses II dan dibesarkan
olehnya (Keluaran 2:2-10),
tetapi pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah
(Meneptah), beliau diserahi tugas kenabian (Jewish Encyclopaedia, jilid 9 hlm. 500 & Encyclopardia Biblica,
pada kata “Pharaoh” & pada “Egypt”).
Fir’aun Mencemooh Nabi
Musa a.s. dan Memprovokasi Kaumnya & Pengulangan Ketakaburan Iblis
Sebelum
tenggelam, dengan sangat takabbur Fir’aun memprovokasi kaumnya serta menghina
Nabi Musa a.s. dan Bani Israil, firman-Nya:
وَ نَادٰی
فِرۡعَوۡنُ فِیۡ قَوۡمِہٖ قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ
ہٰذِہِ الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ
مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ
یُبِیۡنُ ﴿﴾ فَلَوۡ لَاۤ
اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ اَسۡوِرَۃٌ مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾ فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا
فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ اٰسَفُوۡنَا انۡتَقَمۡنَا
مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ
﴿ۙ﴾ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
سَلَفًا وَّ مَثَلًا لِّلۡاٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya
dengan berkata: یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ
مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ -- "Hai
kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah
kamu tidak melihat? اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ مِّنۡ ہٰذَا
الَّذِیۡ ہُوَ مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا
یَکَادُ یُبِیۡنُ -- Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan ia
tidak dapat menjelaskan? فَلَوۡ لَاۤ اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ اَسۡوِرَۃٌ
مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ مَعَہُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ مُقۡتَرِنِیۡنَ -- Mengapakah
tidak dianugerahkan kepadanya
gelang-gelang dari emas, atau datang
bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul
di sekelilingnya?" Demikianlah ia memperbodoh kaumnya lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka adalah ka-um durhaka. فَلَمَّاۤ اٰسَفُوۡنَا انۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ
فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- Maka
ketika mereka membuat Kami murka, Kami
menuntut balas dari mereka dan Kami
menenggelamkan mereka semua, فَجَعَلۡنٰہُمۡ سَلَفًا وَّ مَثَلًا
لِّلۡاٰخِرِیۡنَ -- maka Kami
menjadikan mereka kisah yang lalu dan misal
bagi kaum yang akan datang. (Az-Zukhruf
[43]:52-57).
Ketakaburan Fir’aun tersebut merupakan pengulangan ketakaburan Iblis terhadap Adam dalam kisah
monumental “Adam – Malaikat – Iblis” ketika ditanya Allah Swt., apa alasannya sehingga ia tidak mau “sujud” (patuh-taat) kepada Adam
– Khalifah Allah – ketika Dia
memerintahkan para malaikat untuk
“sujud” kepadanya, iblis beralasan
bahwa dirinya yang diciptakan dari “api” lebih baik daripada Adam
yang diciptakan Allah Swt. dari “tanah
liat” (QS.17:12-14).
Fir’aun
yang sebelumnya dengan takabbur meminta kepada Haman agar membuat sebuah bangunan (menara) yang tinggi agar ia dapat melihat keberadaan “Tuhan” Nabi Musa a.s. (QS.28:39-43), tetapi dalam
kenyataannya ia menyaksikan “kekuasaan
Tuhan” yang disembah Nabi Musa a.s. di dalam lautan ketika akan mati
tenggelam, firman-Nya: حَتّٰۤی اِذَاۤ
اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga apabila ia
menjelang tenggelam ia berkata: “Aku
percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil,
dan aku termasuk orang-orang yang
berserah diri kepada-Nya.” (Yunus [10]:91-93).
“Golongan Minoritas” yang Membuat Marah Besar “Golongan
Mayoritas”
Dalam firman-Nya berikut ini Fir’aun memprovokasi kaumnya dengan menuduh Nabi
Musa a.s. dan Bani Israil sebagai
“golongan minoritas” di wilayah
kerajaan Mesir yang telah membuat gusar “golongan
mayoritas” yang sedang berkuasa:
وَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنۡ اَسۡرِ
بِعِبَادِیۡۤ اِنَّکُمۡ مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿﴾ فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ حٰشِرِیۡنَ ﴿ۚ﴾ اِنَّ
ہٰۤؤُلَآءِ لَشِرۡ ذِمَۃٌ
قَلِیۡلُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ اِنَّہُمۡ لَنَا
لَغَآئِظُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ اِنَّا
لَجَمِیۡعٌ حٰذِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ فَاَخۡرَجۡنٰہُمۡ مِّنۡ جَنّٰتٍ وَّ
عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ وَّ کُنُوۡزٍ
وَّ مَقَامٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾ فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا تَرَآءَ
الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی
اِنَّا لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ﴾ قَالَ کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ
رَبِّیۡ سَیَہۡدِیۡنِ ﴿﴾ فَاَوۡحَیۡنَاۤ
اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ
الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ فِرۡقٍ کَالطَّوۡدِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ﴾ وَ اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ الۡاٰخَرِیۡنَ﴿ۚ﴾ وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗۤ
اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ﴾ ثُمَّ اَغۡرَقۡنَا
الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ﴾ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّ رَبَّکَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Dan Kami mewahyukan kepada Musa: “Bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam
hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.”
فَاَرۡسَلَ
فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ حٰشِرِیۡنَ -- Maka
Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota
untuk mengumpulkan, اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ
لَشِرۡ ذِمَۃٌ قَلِیۡلُوۡنَ -- “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan
kecil, وَ
اِنَّہُمۡ لَنَا لَغَآئِظُوۡنَ -- tetapi sesungguhnya mereka benar-benar telah
menimbulkan kemarahan pada kita. وَ اِنَّا
لَجَمِیۡعٌ حٰذِرُوۡنَ -- sedangkan
sesungguhnya kita benar-benar
golongan besar yang selalu
bersiaga!” Kemudian Kami mengeluarkan mereka dari kebun-kebun dan mata air-mata air, dan dari khazanah-khazanah dan tempat
tinggal yang terhormat, کَذٰلِکَ ؕ وَ
اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- demikianlah, dan Kami mewariskannya kepada Bani
Israil. فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ
مُّشۡرِقِیۡنَ -- Maka lasykar-lasykar Fir’aun menyusul
mereka pada waktu matahari terbit. فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی اِنَّا
لَمُدۡرَکُوۡنَ -- Lalu
tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu
sama lain, pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ
کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ رَبِّیۡ
سَیَہۡدِیۡنِ -- Musa
berkata: “Sekali-kali tidak,
sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) besertaku, segera Dia akan menunjukkan jalan
keselamatan.” فَاَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ الۡبَحۡ -- maka Kami mewahyukan kepada Musa: “Pukullah laut dengan tongkat engkau,”
lalu setiap bagiannya nampak seperti
gunung yang besar. وَ اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ الۡاٰخَرِیۡنَ -- dan Kami mendekatkan di sana golongan yang lain, وَ اَنۡجَیۡنَا
مُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗۤ اَجۡمَعِیۡنَ -- dan
Kami menyelamatkan Musa dan orang-orang beserta dia semuanya, ثُمَّ اَغۡرَقۡنَا
الۡاٰخَرِیۡنَ -- lalu
Kami tenggelamkan golongan yang lain.
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- sesungguhnya
dalam hal itu ada Tanda yang besar, tetapi kebanyakan
dari mereka tidak mau beriman. وَ
اِنَّ رَبَّکَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الرَّحِیۡمُ -- dan
sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Asy-Syuara [26]:53-68).
Kemunculan seorang nabi Allah di tengah-tengah suatu kaum merupakan jaminan
yang pasti mengenai masa depan mereka
yang besar dan cemerlang, jika mereka mau menerima amanat beliau dan mengikutinya.
Nabi itu memberikan kepada mereka suatu kehidupan
baru, dan menciptakan di dalam diri mereka suatu harapan dan keyakinan baru,
yang mengubah seluruh pandangan hidup
mereka.
Sunnatullah tersebut akan kembali terjadi di Akhir Zaman ini melalui “golongan minoritas” Jemaat Muslim
Ahmadiyah guna mewujudkan kejayaan Islam yang
kedua kali (QS.61:10) serta terciptanya kembali
“bumi baru” dan “langit baru” dalam rangka mewujudkan “kehidupan surgawi” di dunia ini melalui ajaran Islam (Al-Quran) yang “rahmatan lil ‘ālamīn“ (QS.14:49-53; QS.39:69-76; QS.21:108).
Sesudah Nabi Musa a.s. datang, Fir’aun dan para pembesar kaumnya pasti akan merasakan
adanya perubahan besar di kalangan orang-orang Bani Israil dan hal itu
pasti menggelisahkannya dan
menganggapnya sebagai ancaman bagi
kelestarian kekuasaannya di kerajaan
Mesir, itulah makna ayat: فَاَرۡسَلَ
فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ حٰشِرِیۡنَ -- maka Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke
kota-kota untuk mengumpulkan, اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ
لَشِرۡ ذِمَۃٌ قَلِیۡلُوۡنَ -- “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan
kecil, وَ
اِنَّہُمۡ لَنَا لَغَآئِظُوۡنَ -- tetapi sesungguhnya mereka benar-benar telah
menimbulkan kemarahan pada kita. وَ اِنَّا
لَجَمِیۡعٌ حٰذِرُوۡنَ -- sedangkan
sesungguhnya kita benar-benar
golongan besar yang selalu
bersiaga!”
Kelemahan Iman Bani
Israil
Ayat کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- “demikianlah, dan Kami
mewariskannya kepada Bani Israil” tidak berarti
bahwa beberapa mata air, kebun-kebun dan khazanah-khazanah kekayaan
kepunyaan Fir’aun dan orang-orang Mesir telah diserahkan kepada orang-orang Bani Israil, melainkan maknanya
adalah bahwa orang-orang Bani Israil
telah meninggalkan Mesir menuju Kanaan
-- “negeri yang dijanjikan” -- tempat “mengalir susu dan madu”. Di sanalah
mereka akan diberi barang-barang itu. Palestina (Kanaan) sungguh menyamai
Mesir dalam berkelimpahan kebun-kebun
dan banyaknya mata air.
Dari ayat
فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ
قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی اِنَّا لَمُدۡرَکُوۡنَ -- Lalu
tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu
sama lain, pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ
کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ رَبِّیۡ
سَیَہۡدِیۡنِ -- Musa
berkata: “Sekali-kali tidak,
sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) besertaku, segera Dia akan menunjukkan jalan
keselamatan,” dapat diketahui bahwa para sahabat (pengikut) Nabi Musa a.s. nampaknya mempunyai keimanan yang sangat lemah.
Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23; QS.7:149; QS.20:87-92.
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 23 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar