Rabu, 24 Desember 2014

Sunnatullah Pengulangan "Ketakaburan Iblis" Dalam Kisah Monumental "Adam - Malaika t- Iblis" di Setiap Zaman Pengutusan Rasul Allah




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 11

Sunnatullah Pengulangan Ketakaburan Iblis Dalam Kisah Monumental "Adam - Malaikat - Iblis"  di Setiap Zaman Pengutusan Rasul Allah 


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai     sembilan   Tanda  yang diperlihatkan Nabi Musa a.s. di hadapan Fir’aun dan para pembesarnya sebagai  mukjizat (QS.7:118; QS.17:102-105; QS.26:33  QS.27:9-15; QS.28:32), yakni 1657.
        Kesembilan Tanda  atau mukjizat  Nabi Musa a.s. itu   telah tersebut di tempat lain dalam Al-Quran yaitu: (a) tongkat (QS.7:108); (b) tangan putih (QS.7:109); (c) musim kering dan kekurangan buah-buahan (QS.7:131); (d) badai; (e) belalang; (f) kutu; (g) katak; dan (h) azab darah (QS.7:134), akan tetapi Fir’aun menyebut mukjizat-mukjizat  tersebut sebagai sihir: وَ قَالُوۡا یٰۤاَیُّہَ السّٰحِرُ  ادۡعُ  لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ اِنَّنَا  لَمُہۡتَدُوۡنَ -- dan mereka berkata: "Hai ahli sihir,  berdoalah bagi kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sebagaimana janji-Nya kepada engkau sesungguhnya kami benar-benar akan menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk." (Az-Zukhruf [43]:49-51).

Mukjizat Pamungkas Nabi Musa a.s. Memaksa  Fir’aun Menyatakan “Beriman kepada Tuhan  Bani Israil

        Namun   ketika pemintaan Fir’aun kepada Nabi Musa a.s. tersebut dikabulkan Allah Swt. mereka mengingkari janji: فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ  الۡعَذَابَ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ  --  tetapi  tatkala Kami menjauhkan azab dari mereka   tiba-tiba mereka melanggar janji mereka.” Oleh karena itu ketika mukjizat Nabi Musa a.s. yang kesembilan terjadi maka Fir’aun dan para pembesarnya tidak dapat lagi mengingkari janji:
وَ قَالَ مُوۡسٰی رَبَّنَاۤ اِنَّکَ اٰتَیۡتَ فِرۡعَوۡنَ وَ مَلَاَہٗ  زِیۡنَۃً  وَّ اَمۡوَالًا فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۙ رَبَّنَا لِیُضِلُّوۡا عَنۡ سَبِیۡلِکَ ۚ رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰۤی اَمۡوَالِہِمۡ وَ اشۡدُدۡ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡا حَتّٰی  یَرَوُا  الۡعَذَابَ  الۡاَلِیۡمَ ﴿﴾  قَالَ قَدۡ اُجِیۡبَتۡ دَّعۡوَتُکُمَا فَاسۡتَقِیۡمَا وَ لَا تَتَّبِعٰٓنِّ سَبِیۡلَ  الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا ؕ حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  فَالۡیَوۡمَ نُنَجِّیۡکَ بِبَدَنِکَ  لِتَکُوۡنَ لِمَنۡ خَلۡفَکَ اٰیَۃً ؕ وَ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ عَنۡ  اٰیٰتِنَا  لَغٰفِلُوۡنَ﴿٪﴾
Dan Musa berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir’aun dan para pembesarnya perhiasan dan kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Rabb (Tuhan) kami, dengan akibat bahwa mereka menyesatkan orang dari jalan Engkau. رَبَّنَا اطۡمِسۡ عَلٰۤی اَمۡوَالِہِمۡ وَ اشۡدُدۡ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡا حَتّٰی  یَرَوُا  الۡعَذَابَ  الۡاَلِیۡمَ  --  Ya Rabb (Tuhan) kami, musnahkanlah kekayaan mereka dan keraskanlah  hati mereka maka  mereka tidak akan beriman  hingga mereka melihat azab yang pedih.”   Dia berfirman: “Sungguh doa kamu berdua telah dikabulkan, maka bersikap teguhlah kamu berdua dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” وَ جٰوَزۡنَا بِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡبَحۡرَ فَاَتۡبَعَہُمۡ فِرۡعَوۡنُ وَ جُنُوۡدُہٗ  بَغۡیًا وَّ عَدۡوًا  --   Dan  Kami telah membuat Bani Israil menyeberangi laut, lalu  Fir’aun dan lasykar-lasykarnya mengejar mereka secara durhaka dan aniaya, حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”  آٰلۡـٰٔنَ وَ قَدۡ عَصَیۡتَ قَبۡلُ وَ کُنۡتَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ  --    ”Apa, sekarang baru beriman!? Padahal engkau  telah membangkang sebelum ini, dan  engkau  termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.   Maka pada hari ini Kami akan menyelamatkan engkau hanya  badan engkau, supaya engkau menjadi suatu Tanda  bagi orang-orang  sesudah engkau, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar  lengah terhadap Tanda-tanda Kami.” (Yunus [10]:89-93).
      Kata-kata Fir’aun  ketika akan mati tenggelam  melukiskan kedalaman lembah kehinaan yang si congkak Fir’aun telah terjerumus ke dalamnya:  حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.” 
       Sangat menarik perhatian kita, bahwa hanya Al-Quran sajalah dari semua kitab keagamaan dan buku-buku sejarah, yang menceritakan kenyataan yang disinggung oleh ayat ini. Bible tak menyebutkannya dan tidak pula kitab sejarah mana pun. Tetapi dengan cara yang alangkah ajaibnya firman Allah Swt.  itu telah terbukti kebenarannya.
     Setelah lewat lebih dari 3000 tahun, mayat Fir’aun itu telah ditemukan orang kembali dan sekarang tersimpan dalam keadaan terpelihara di museum di Kairo. Nampak dari mayat itu, bahwa Fir’aun itu orangnya kurus dan pendek dengan wajah yang mencerminkan kebengisan campur kebodohan.
      Nabi Musa a.s. dilahirkan di zaman Ramses II dan dibesarkan olehnya (Keluaran 2:2-10), tetapi pada pemerintahan putranya, ialah Merneptah (Meneptah), beliau diserahi tugas kenabian (Jewish Encyclopaedia, jilid 9 hlm. 500 & Encyclopardia Biblica, pada kata “Pharaoh” & pada “Egypt”).

Fir’aun Mencemooh Nabi Musa a.s. dan Memprovokasi  Kaumnya & Pengulangan Ketakaburan Iblis

       Sebelum tenggelam, dengan sangat takabbur Fir’aun memprovokasi kaumnya serta menghina Nabi Musa a.s. dan Bani Israil, firman-Nya:
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ  قَوۡمِہٖ  قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ  الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ  مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ ﴿﴾ فَلَوۡ لَاۤ  اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ  اَسۡوِرَۃٌ  مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ  مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿﴾  فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ  فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّاۤ  اٰسَفُوۡنَا انۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾  فَجَعَلۡنٰہُمۡ  سَلَفًا وَّ  مَثَلًا  لِّلۡاٰخِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya dengan berkata: یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ  الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا  تُبۡصِرُوۡنَ -- "Hai kaumku,  bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah kekuasanku? Maka apakah kamu tidak melihat?    اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ  مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ  یُبِیۡنُ  -- Atau tidakkah aku lebih baik daripada orang   yang hina ini  dan ia tidak dapat menjelaskan?  فَلَوۡ لَاۤ  اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ  اَسۡوِرَۃٌ  مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ  مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  مُقۡتَرِنِیۡنَ  --   Mengapakah tidak dianugerahkan kepadanya gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang berkumpul di sekelilingnya?"  Demikianlah ia memperbodoh kaumnya lalu mereka patuh kepadanya, sesungguhnya mereka adalah ka-um durhaka.  فَلَمَّاۤ  اٰسَفُوۡنَا انۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ -- Maka ketika mereka membuat Kami murka,  Kami menuntut balas dari mereka dan Kami menenggelamkan mereka semua,   فَجَعَلۡنٰہُمۡ  سَلَفًا وَّ  مَثَلًا  لِّلۡاٰخِرِیۡنَ -- maka Kami menjadikan mereka kisah yang lalu dan misal bagi kaum yang akan datang. (Az-Zukhruf [43]:52-57).
      Ketakaburan Fir’aun tersebut merupakan pengulangan ketakaburan Iblis terhadap Adam  dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis” ketika ditanya Allah Swt., apa alasannya sehingga  ia tidak mau “sujud” (patuh-taat) kepada Adam – Khalifah Allah – ketika Dia memerintahkan para malaikat untuk “sujud” kepadanya, iblis beralasan bahwa dirinya yang diciptakan dari “api”  lebih baik  daripada Adam  yang diciptakan Allah Swt. dari “tanah liat” (QS.17:12-14).
        Fir’aun yang sebelumnya  dengan takabbur meminta kepada Haman agar membuat sebuah bangunan (menara) yang tinggi agar ia  dapat melihat keberadaan “Tuhan” Nabi Musa a.s. (QS.28:39-43), tetapi dalam kenyataannya ia  menyaksikan  kekuasaan Tuhan  yang disembah   Nabi Musa a.s. di dalam lautan ketika akan mati tenggelam, firman-Nya: حَتّٰۤی اِذَاۤ  اَدۡرَکَہُ الۡغَرَقُ ۙ قَالَ اٰمَنۡتُ اَنَّہٗ  لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا الَّذِیۡۤ اٰمَنَتۡ بِہٖ بَنُوۡۤا اِسۡرَآءِیۡلَ وَ اَنَا مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sehingga apabila ia menjelang tenggelam ia berkata: “Aku percaya, sesungguhnya Dia tidak ada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada-Nya.”  (Yunus [10]:91-93).

Golongan  Minoritas” yang Membuat Marah Besar  Golongan Mayoritas

         Dalam firman-Nya berikut ini Fir’aun memprovokasi kaumnya dengan menuduh  Nabi Musa a.s. dan Bani Israil sebagai “golongan minoritas” di wilayah kerajaan Mesir yang telah membuat gusar “golongan mayoritas” yang sedang berkuasa:
وَ اَوۡحَیۡنَاۤ   اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنۡ اَسۡرِ بِعِبَادِیۡۤ  اِنَّکُمۡ  مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿﴾  فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ  حٰشِرِیۡنَ ﴿ۚ﴾  اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ   لَشِرۡ  ذِمَۃٌ  قَلِیۡلُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  اِنَّہُمۡ  لَنَا  لَغَآئِظُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  اِنَّا  لَجَمِیۡعٌ  حٰذِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  فَاَخۡرَجۡنٰہُمۡ مِّنۡ جَنّٰتٍ  وَّ  عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  وَّ کُنُوۡزٍ وَّ  مَقَامٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾  فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ﴾ قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ ﴿﴾  فَاَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ  الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ فِرۡقٍ  کَالطَّوۡدِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ﴾  وَ  اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ   الۡاٰخَرِیۡنَ﴿ۚ﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ  مَّعَہٗۤ   اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ﴾  ثُمَّ   اَغۡرَقۡنَا  الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ﴾  اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ  اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنَّ  رَبَّکَ لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ  ﴿﴾
Dan Kami mewahyukan kepada Musa: Bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.” فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ  حٰشِرِیۡنَ  --  Maka Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota untuk mengumpulkan,  اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ   لَشِرۡ  ذِمَۃٌ  قَلِیۡلُوۡنَ --   “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan kecil,   وَ  اِنَّہُمۡ  لَنَا  لَغَآئِظُوۡنَ --  tetapi sesungguhnya mereka  benar-benar telah menimbulkan kemarahan pada kita. وَ  اِنَّا  لَجَمِیۡعٌ  حٰذِرُوۡنَ   --   sedangkan sesungguhnya kita  benar-benar  golongan besar yang selalu  bersiaga!”  Kemudian Kami mengeluarkan mereka dari kebun-kebun dan mata air-mata air,    dan dari khazanah-khazanah dan tempat tinggal yang terhormat,  کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --   demikianlah, dan Kami mewariskannya  kepada Bani Israil.   فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ --    Maka lasykar-lasykar Fir’aun  menyusul mereka pada waktu matahari terbit.    فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ  --  Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain,   pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ  --   Musa berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) besertaku, segera Dia akan menunjukkan  jalan  keselamatan. فَاَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ  الۡبَحۡ -- maka Kami mewahyukan kepada Musa: “Pukullah laut dengan tongkat engkau,”  lalu setiap bagiannya nampak seperti gunung yang besar.  وَ  اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ   الۡاٰخَرِیۡنَ -- dan Kami mendekatkan di sana golongan yang lain, وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ  مَّعَہٗۤ   اَجۡمَعِیۡنَ  --  dan Kami menyelamatkan Musa dan orang-orang beserta dia semuanya,   ثُمَّ   اَغۡرَقۡنَا  الۡاٰخَرِیۡنَ  -- lalu Kami tenggelamkan  golongan yang lain.  اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ  اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ  --  sesungguhnya dalam hal itu ada Tanda yang besar,   tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau beriman. وَ  اِنَّ  رَبَّکَ لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ     --   dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Asy-Syuara [26]:53-68).  
     Kemunculan seorang nabi Allah di tengah-tengah suatu kaum merupakan jaminan yang pasti mengenai masa depan mereka yang besar dan cemerlang, jika mereka mau menerima amanat beliau dan mengikutinya. Nabi itu memberikan kepada mereka suatu kehidupan baru, dan menciptakan di dalam diri mereka suatu harapan dan keyakinan baru, yang mengubah seluruh pandangan hidup mereka.
       Sunnatullah tersebut akan  kembali terjadi di Akhir Zaman ini melalui “golongan minoritas” Jemaat Muslim Ahmadiyah guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali (QS.61:10) serta terciptanya kembali  bumi baru” dan “langit baru” dalam rangka mewujudkan “kehidupan surgawi” di dunia ini melalui ajaran Islam (Al-Quran) yang “rahmatan lil ‘ālamīn  (QS.14:49-53; QS.39:69-76; QS.21:108).
       Sesudah Nabi Musa a.s.    datang, Fir’aun  dan para pembesar kaumnya pasti akan merasakan adanya perubahan besar di kalangan orang-orang Bani Israil dan hal itu pasti menggelisahkannya dan menganggapnya sebagai ancaman bagi kelestarian kekuasaannya di kerajaan Mesir, itulah makna ayat:  فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ  حٰشِرِیۡنَ   -- maka Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota untuk mengumpulkan,  اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ   لَشِرۡ  ذِمَۃٌ  قَلِیۡلُوۡنَ --   “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan kecil,   وَ  اِنَّہُمۡ  لَنَا  لَغَآئِظُوۡنَ --  tetapi sesungguhnya mereka  benar-benar telah menimbulkan kemarahan pada kita. وَ  اِنَّا  لَجَمِیۡعٌ  حٰذِرُوۡنَ   --   sedangkan sesungguhnya kita  benar-benar  golongan besar yang selalu  bersiaga!”

Kelemahan Iman Bani Israil

       Ayat  کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --   demikianlah, dan Kami mewariskannya  kepada Bani Israil”   tidak berarti  bahwa beberapa mata air, kebun-kebun dan khazanah-khazanah kekayaan kepunyaan Fir’aun dan orang-orang Mesir telah diserahkan kepada orang-orang Bani Israil, melainkan maknanya adalah bahwa orang-orang Bani Israil telah meninggalkan Mesir  menuju Kanaan  -- “negeri yang dijanjikan”  --  tempat “mengalir susu dan madu”. Di sanalah mereka akan diberi barang-barang itu. Palestina (Kanaan)  sungguh menyamai Mesir dalam berkelimpahan kebun-kebun dan banyaknya mata air.
       Dari ayat  فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ  --  Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain,   pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ  --   Musa berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) besertaku, segera Dia akan menunjukkan jalan  keselamatan,  dapat diketahui bahwa para sahabat (pengikut)  Nabi Musa a.s.  nampaknya mempunyai keimanan yang sangat lemah. Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23; QS.7:149; QS.20:87-92.           

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  23 Desember     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar