بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr
Bab 12
Golongan “Mayoritas” yang Merasa Sangat Terganggu Oleh Golongan “Minoritas” & Tuduhan Sebagai Penyebab Berbagai “Kemalangan”
Oleh
Ki Langlang Buana
Kusuma
|
D
|
alam akhir
Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai “golongan minoritas”
yang membuat marah besar “golongan
mayoritas”, dan dalam firman-Nya
berikut ini Fir’aun memprovokasi
kaumnya dengan menuduh Nabi Musa a.s. dan Bani Israil sebagai “golongan
minoritas” di wilayah kerajaan Mesir
yang telah membuat gusar “golongan mayoritas”
yang sedang berkuasa:
وَ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنۡ اَسۡرِ
بِعِبَادِیۡۤ اِنَّکُمۡ مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿﴾ فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ حٰشِرِیۡنَ ﴿ۚ﴾ اِنَّ
ہٰۤؤُلَآءِ لَشِرۡ ذِمَۃٌ
قَلِیۡلُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ اِنَّہُمۡ
لَنَا لَغَآئِظُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
اِنَّا لَجَمِیۡعٌ حٰذِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ فَاَخۡرَجۡنٰہُمۡ مِّنۡ جَنّٰتٍ وَّ
عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ وَّ کُنُوۡزٍ
وَّ مَقَامٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾ فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا تَرَآءَ
الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی
اِنَّا لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ﴾ قَالَ کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ
رَبِّیۡ سَیَہۡدِیۡنِ ﴿﴾ فَاَوۡحَیۡنَاۤ
اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ
الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ فِرۡقٍ کَالطَّوۡدِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ﴾ وَ اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ الۡاٰخَرِیۡنَ﴿ۚ﴾ وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗۤ
اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ﴾ ثُمَّ اَغۡرَقۡنَا
الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ﴾ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّ رَبَّکَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Dan Kami mewahyukan kepada Musa: “Bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam
hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.”
فَاَرۡسَلَ
فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ حٰشِرِیۡنَ -- Maka Fir’aun
mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota untuk mengumpulkan, اِنَّ
ہٰۤؤُلَآءِ لَشِرۡ ذِمَۃٌ
قَلِیۡلُوۡنَ -- “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan
kecil, وَ
اِنَّہُمۡ لَنَا لَغَآئِظُوۡنَ -- tetapi sesungguhnya mereka benar-benar telah
menimbulkan kemarahan pada kita. وَ اِنَّا
لَجَمِیۡعٌ حٰذِرُوۡنَ -- sedangkan
sesungguhnya kita benar-benar
golongan besar yang selalu
bersiaga!” Kemudian Kami mengeluarkan mereka dari kebun-kebun dan mata air-mata air, dan dari khazanah-khazanah dan tempat
tinggal yang terhormat, کَذٰلِکَ ؕ وَ
اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- demikianlah, dan Kami mewariskannya kepada Bani
Israil. فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ
مُّشۡرِقِیۡنَ -- Maka lasykar-lasykar Fir’aun menyusul
mereka pada waktu matahari terbit. فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی اِنَّا
لَمُدۡرَکُوۡنَ -- Lalu
tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu
sama lain, pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ
کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ رَبِّیۡ
سَیَہۡدِیۡنِ -- Musa
berkata: “Sekali-kali tidak,
sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) besertaku, segera Dia akan menunjukkan jalan
keselamatan.” فَاَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ الۡبَحۡ -- maka Kami mewahyukan kepada Musa: “Pukullah laut dengan tongkat engkau,” lalu setiap bagiannya nampak seperti
gunung yang besar. وَ اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ الۡاٰخَرِیۡنَ -- dan Kami mendekatkan di sana golongan yang lain, وَ اَنۡجَیۡنَا
مُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗۤ اَجۡمَعِیۡنَ -- dan
Kami menyelamatkan Musa dan orang-orang beserta dia semuanya, ثُمَّ اَغۡرَقۡنَا
الۡاٰخَرِیۡنَ -- lalu
Kami tenggelamkan golongan yang lain.
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- sesungguhnya
dalam hal itu ada Tanda yang besar, tetapi kebanyakan
dari mereka tidak mau beriman. وَ
اِنَّ رَبَّکَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الرَّحِیۡمُ -- dan
sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Asy-Syu’ara [26]:53-68).
Provokasi Fir’aun kepada kaumnya mengenai Nabi
Musa a.s. dan Bani Israil: اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ
لَشِرۡ ذِمَۃٌ قَلِیۡلُوۡنَ -- “sesungguhnya
mereka itu hanyalah segolongan kecil, وَ اِنَّہُمۡ
لَنَا لَغَآئِظُوۡنَ -- tetapi sesungguhnya mereka
benar-benar telah menimbulkan kemarahan pada kita, وَ اِنَّا
لَجَمِیۡعٌ حٰذِرُوۡنَ -- dan
sesungguhnya
kita benar-benar golongan
besar yang selalu bersiaga!” Ucapan
Fir’aun tersebut merupakan bukti kemarahan
besar yang semakin memuncak
terhadap Nabi Musa a.s. dan Nabi
Harun a.s. serta Bani Israil di Mesir, karena
itu Fir’aun bertekad untuk menghabisi
Nabi Musa a.s. dan Bani Israil ketika mengetahui bahwa mereka telah pergi
meninggalkan Mesir pada malam hari.
Revolusi
Akhlak dan Ruhani Melalui Pengutusan Rasul Allah & Politik “Devide et Impera” (Menindas dan Menjajah)
Kemunculan seorang nabi Allah di tengah-tengah suatu kaum merupakan jaminan
yang pasti mengenai masa depan mereka
yang besar dan cemerlang, jika mereka mau menerima amanat beliau dan mengikutinya.
Nabi Allah itu memberikan kepada mereka suatu kehidupan baru, dan menciptakan di dalam diri mereka suatu harapan dan keyakinan baru, yang mengubah seluruh pandangan hidup mereka.
Terlebih lagi Fir’aun yang sebelumnya telah mendapat “peringatan” mengenai akan berakhirnya kekuasaan dinastinya
yang selama itu mereka berbuat kerusakan
di wilayah Mesir -- termasuk terhadap Bani Israil, yang selama 400 tahun sejak zaman Nabi Yusuf a.s. mereka
berada di Mesir (QS.12:22-103) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ طٰسٓمّٓ
﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ
الۡکِتٰبِ الۡمُبِیۡنِ ﴿ ﴾ نَتۡلُوۡا عَلَیۡکَ مِنۡ نَّبَاِ مُوۡسٰی وَ
فِرۡعَوۡنَ بِالۡحَقِّ لِقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ
اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً
مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ
اِنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ
اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً وَّ
نَجۡعَلَہُمُ الۡوٰرِثِیۡنَ ۙ﴿﴾ وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ وَ نُرِیَ
فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا
یَحۡذَرُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Maha Suci, Maha Mendengar, Maha
Mulia. Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas. Kami membacakan kepada engkau berita
mengenai Musa dan Fir’aun
dengan benar untuk kaum yang beriman. اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ
جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ
یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ -- Sesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi
dan ia menjadikan penduduknya
bergolongan-golongan, ia berusaha melemahkan se-golongan dari mereka
dengan menyembelih anak-anak laki-laki mereka,
dan membiarkan hidup perempuan-perempuan
mereka. اِنَّہٗ
کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی
الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً وَّ
نَجۡعَلَہُمُ الۡوٰرِثِیۡنَ -- Dan Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi dan menjadikan
mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan
mereka ahli waris karunia-karunia Kami. وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ -- dan Kami mapankan mereka di bumi وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ
جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami perlihatkan kepada Fir’aun serta Haman dan
lasykar keduanya apa yang mereka
khawatirkan dari mereka itu. (Al-Qashash [28]:1-7).
Politik divide et impera (memecah-belah
dan menjajah) dengan akibatnya yang sangat mematikan -- seperti dijalankan kekuatan-kekuatan kaum kolonial barat di abad kedua puluh
ini -- agaknya di zaman Fir’aun telah dijalankan juga olehnya dengan sukses besar. Ia
telah memecah-belah rakyat Mesir ke
dalam beberapa partai dan golongan serta dengan busuk hati telah
membuat perbedaan kelas di antara
mereka. Beberapa di antara mereka dianak-emaskannya
dan yang lain diperas dan ditindasnya.
Kaum Nabi Musa a.s. termasuk kelas yang tidak beruntung.
Kata-kata menyembelih anak-anak
laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, kecuali
mengandung pengertian yang jelas, bahwa agar supaya orang-orang Bani Israil selamanya tunduk di bawah
kekuasaannya, Fir’aun membinasakan kaum
pria mereka dan membiarkan hidup
perempuan-perempuan mereka, dapat juga diartikan bahwa dengan politik menjajah dan menindas tanpa belas kasihan itu ia
berikhtiar membunuh sifat-sifat
kejantanan mereka dan dengan demikian membuat mereka (Bani Israil) jadi pengalah seperti perempuan. Itulah makna ayat
اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا
یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً مِّنۡہُمۡ
یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ -- Sesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi
dan ia menjadikan penduduknya
bergolongan-golongan, ia berusaha melemahkan segolongan dari mereka
dengan menyembelih anak-anak laki-laki mereka,
dan membiarkan hidup perempuan-perempuan
mereka.”
Konspirasi Zalim Dinasti
Fir’aun Mempertahankan Kekuasaan di Mesir
Makna
ayat selanjutnya وَ نُرِیۡدُ اَنۡ
نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ
اَئِمَّۃً وَّ نَجۡعَلَہُمُ
الۡوٰرِثِیۡنَ -- Dan Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi dan menjadikan
mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan
mereka ahli waris karunia-karunia Kami”, yakni ketika upaya
merendahkan derajat orang-orang Bani
Israil di Mesir itu mencapai titik
yang serendah-rendahnya, dan kezaliman
Fir’aun dan bangsanya kian
meluap-luap, dan Allah Swt. -- sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak mungkin keliru -- memutuskan bahwa penindas-penindas itu harus
dihukum dan mereka yang diperbudak
dibebaskan, maka Dia mengutus Nabi Musa a.s.. Gejala yang terjadi di masa tiap-tiap utusan (rasul) Allah tersebut menampakkan perwujudan sepenuhnya dan seindah-indahnya di masa kenabian Nabi Besar Muhammad saw..
Haman
itu gelar pendeta agung dewa Amon; “ham”
di dalam bahasa Mesir berarti, pendeta agung. Dewa Amon menguasai semua dewa Mesir lainnya. Haman adalah kepala khazanah
dan lumbung negeri, dan juga yang mengepalai
lasykar-lasykar dan semua ahli
pertukangan di Thebes.
Namanya adalah Nubunnef, dan ia pendeta
agung di bawah Rameses II dan
putranya yang bernama Merenptah.
Karena menjadi kepala organisasi
kependetaan yang sangat kaya, merangkum semua
pendeta di seluruh negeri, kekuasaannya dan wibawanya telah meningkat
sedemikian rupa, sehingga ia menguasai suatu partai politik yang sangat berpengaruh, dan bahkan mempunyai suatu
pasukan pribadi (“A story of Egypt”
oleh James Henry Breasted, Ph.D).
Makna ayat: وَ نُرِیَ
فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا کَانُوۡا
یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami perlihatkan kepada Fir’aun serta Haman2 dan lasykar
keduanya apa yang mereka khawatirkan dari mereka itu.” Perbudakan
dan kezaliman menghasilkan nemesis-nya (pembalasan keadilannya)
sendiri; dan kaum penjajah dan penindas tak pernah merasa aman terhadap kemungkinan munculnya pemberontakan terhadap mereka oleh orang-orang yang terjajah, tertindas
atau tertekan. Lebih hebat penindasan dari seseorang yang zalim, lebih besar pula ketakutannya akan pemberontakan dari mereka yang dijajah.
Fir’aun pun dicekam oleh rasa takut
semacam itu.
Sunnatullah tersebut akan kembali terjadi di Akhir Zaman ini melalui “golongan minoritas” Jemaat Muslim
Ahmadiyah guna mewujudkan kejayaan Islam yang
kedua kali (QS.61:10) serta terciptanya kembali
“bumi baru” dan “langit baru” dalam rangka mewujudkan “kehidupan surgawi” di dunia ini melalui ajaran Islam (Al-Quran) yang “rahmatan lil ‘ālamīn“ (QS.14:49-53; QS.39:69-76; QS.21:108).
Kelemahan Iman Bani Israil & Fir’aun Menganggap Mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.a. Sebagai Sihir
Sesudah Nabi Musa a.s. datang, Fir’aun dan para pembesar kaumnya pasti akan merasakan
adanya perubahan besar di kalangan orang-orang Bani Israil dan hal itu
pasti menggelisahkannya dan
menganggapnya sebagai ancaman bagi
kelestarian kekuasaannya di kerajaan
Mesir, itulah makna ayat: فَاَرۡسَلَ
فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ حٰشِرِیۡنَ -- maka Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke
kota-kota untuk mengumpulkan, اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ
لَشِرۡ ذِمَۃٌ قَلِیۡلُوۡنَ -- “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan
kecil, وَ
اِنَّہُمۡ لَنَا لَغَآئِظُوۡنَ -- tetapi sesungguhnya mereka benar-benar telah
menimbulkan kemarahan pada kita. وَ اِنَّا
لَجَمِیۡعٌ حٰذِرُوۡنَ -- sedangkan
sesungguhnya kita benar-benar
golongan besar yang selalu
bersiaga!” (Asy-Syu’ara [26]:53-68).
Makna firman
Allah Swt.: کَذٰلِکَ ؕ وَ
اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- “demikianlah, dan Kami
mewariskannya kepada Bani Israil” tidak berarti
bahwa beberapa mata air, kebun-kebun dan khazanah-khazanah kekayaan
kepunyaan Fir’aun dan orang-orang Mesir telah diserahkan kepada orang-orang Bani
Israil, melainkan maknanya adalah bahwa orang-orang Bani Israil telah meninggalkan Mesir menuju Kanaan -- “negeri
yang dijanjikan” -- tempat “mengalir
susu dan madu.” Di sanalah mereka
akan diberi barang-barang itu. Palestina
(Kanaan) sungguh menyamai Mesir dalam berkelimpahan kebun-kebun dan banyaknya mata
air.
Dari ayat
فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ
قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی اِنَّا لَمُدۡرَکُوۡنَ -- Lalu
tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu
sama lain, pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ
کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ رَبِّیۡ
سَیَہۡدِیۡنِ -- Musa
berkata: “Sekali-kali tidak,
sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) besertaku, segera Dia akan menunjukkan jalan
keselamatan,” dapat diketahui bahwa para sahabat (pengikut) Nabi Musa a.s. nampaknya mempunyai keimanan yang sangat lemah.
Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23; QS.7:149; QS.20:87-92.
Dalam Bab sebelumnya
telah dikemukakan, bahwa dari 9 buah Tanda
yang diperlihatkan Nabi Musa a.s. di hadapan Fir’aun dan kaumnya merupakan mukjizat dari Allah Swt.. Dari semua mukjizat tersebut yang paling besar adalah “terbelahnya laut” ketika Nabi Musa a.s.
memukulkan tongkat beliau ke laut yang menghadang perjalanan beliau
dan Bani Israil ketika melarikan diri
dari Mesir.
Namun demikian Fir’aun bersikeras menyebut berbagai mukjizat
Nabi Musa a.s. tersebut sebagai perbuatan
tukang sihir,
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
اَخَذۡنَاۤ اٰلَ فِرۡعَوۡنَ
بِالسِّنِیۡنَ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَتۡہُمُ الۡحَسَنَۃُ قَالُوۡا
لَنَا ہٰذِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ ؕ
اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ
اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ
لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menghukum kaum Fir’aun dengan tahun-tahun paceklik dan
kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran. Lalu
apabila datang kepada mereka kemakmuran,
mereka berkata: “Ini karena upaya kami.” وَ اِنۡ
تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ
یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ -- tetapi
jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab kesialan itu kepada
Musa dan orang-orang yang besertanya. اَلَاۤ اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ
لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- ingatlah, sesungguhnya penyebab kesialan mereka ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ
فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan mereka berkata: “Tanda apa pun yang engkau
bawa kepada kami untuk menyihir kami
dengannya, tetapi kami
sekali-kali tidak akan beriman kepada engkau.” (Al-‘Arāf [7]:131-136).
Rasul Allah dan Para Pengikutnya
Dituduh Sebagai Penyebab Terjadinya “Kemalangan”
Sanah, mufrad dari kata sinīn
maknanya peredaran bumi di sekitar matahari. Kata itu sama artinya dengan ām
(dan juga dengan haul), tetapi kalau tiap sanah itu ām maka tidak tiap-tiap ām itu sanah. Dikatakan juga bahwa sanah
itu lebih panjang dari aam yang dikenakan kepada kedua belas bulan
penanggalan Arab secara kolektip, tetapi sanah itu dikenakan juga kepada
dua belas peredaran bulan.
Menurut Imam Raghib, sanah digunakan sebagai menyatakan tahun yang dilanda musim sukar,
kekeringan air, atau gersang atau paceklik; dan ām menyatakan satu tahun yang mendatangkan
banyaknya sumber-sumber kehidupan
dengan berlimpah-limpahnya sayur-mayur, tumbuh-tumbuhan, dan sebangsanya. Sanah
berarti juga kekeringan. Ayat itu
menyebut tentang kerugian jiwa dan harta-benda.
Jadi, menurut Allah Swt. berbagai peristiwa buruk yang menimpa Fir’aun dan kaumnya di Mesir
merupakan hukuman Allah Swt., untuk memperingatkan
mereka, tetapi Fir’aun malah menisbahkan
penyebab terjadinya berbagai keburukan atau kesialan
tersebut adalah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil.: وَ اِنۡ
تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ
یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ --
tetapi jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab kesialan itu kepada
Musa dan orang-orang yang besertanya.” Kata tha’ir berarti: alamat, pertanda baik atau buruk,
nasib malang atau kesialan (Lexicon
Lane).
Dari ayat selanjutnya
diketahui bahwa hukuman Allah Swt. atau azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan kaumnya di Mesir
bermacam-macam bentuknya, namun demikian tidak juga membuat mereka mengambil pelajaran dari berbagai bentuk hukuman Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمُ الطُّوۡفَانَ وَ الۡجَرَادَ
وَ الۡقُمَّلَ وَ الضَّفَادِعَ وَ الدَّمَ
اٰیٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍ ۟ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ الرِّجۡزُ
قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ لَئِنۡ کَشَفۡتَ عَنَّا الرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ لَکَ وَ
لَنُرۡسِلَنَّ مَعَکَ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ۚ فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ
ہُمۡ بٰلِغُوۡہُ اِذَا ہُمۡ
یَنۡکُثُوۡنَ ﴿﴾
Lalu
Kami mengirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai Tanda-tanda yang jelas,
tetapi mereka berlaku sombong
dan mereka adalah kaum yang berdosa. وَ لَمَّا
وَقَعَ عَلَیۡہِمُ الرِّجۡزُ قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا
عَہِدَ عِنۡدَکَ -- dan tatkala siksaan menimpa mereka, mereka berkata:
“Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sesuai dengan apa yang Dia janjikan kepada engkau. وَ لَمَّا
وَقَعَ عَلَیۡہِمُ الرِّجۡزُ قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا
عَہِدَ عِنۡدَکَ –
jika engkau benar-benar dapat menyingkirkan siksaan ini dari kami,
pasti kami akan beriman kepada engkau
dan pasti kami akan mengirim-kan Bani
Israil pergi bersama engkau.” فَلَمَّا
کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ
بٰلِغُوۡہُ اِذَا ہُمۡ یَنۡکُثُوۡنَ – tetapi tatkala Kami telah menyingkirkan siksaan
itu dari mereka hingga suatu jangka
waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji. (Al-‘Arāf [7]:134-136).
(Bersambung)
Rujukan:
The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar, 24 Desember
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar