Jumat, 26 Desember 2014

Golongan "Mayoritas" yang Merasa Sangat Terganggu oleh Golongan "Minoritas" & Tuduhan Sebagai Penyebab Berbagai "Kemalangan"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah Ad-Dahr

Bab 12

Golongan “Mayoritas” yang Merasa Sangat Terganggu Oleh Golongan “Minoritas” & Tuduhan Sebagai Penyebab  Berbagai “Kemalangan


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  golongan  minoritas” yang membuat marah besar  golongan mayoritas”, dan dalam firman-Nya berikut ini Fir’aun memprovokasi kaumnya dengan menuduh  Nabi Musa a.s. dan Bani Israil sebagai “golongan minoritas” di wilayah kerajaan Mesir yang telah membuat gusar “golongan mayoritas” yang sedang berkuasa:
وَ اَوۡحَیۡنَاۤ   اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنۡ اَسۡرِ بِعِبَادِیۡۤ  اِنَّکُمۡ  مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿﴾  فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ  حٰشِرِیۡنَ ﴿ۚ﴾  اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ   لَشِرۡ  ذِمَۃٌ  قَلِیۡلُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  اِنَّہُمۡ  لَنَا  لَغَآئِظُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  اِنَّا  لَجَمِیۡعٌ  حٰذِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  فَاَخۡرَجۡنٰہُمۡ مِّنۡ جَنّٰتٍ  وَّ  عُیُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  وَّ کُنُوۡزٍ وَّ  مَقَامٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾  فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ﴾ قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ ﴿﴾  فَاَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ  الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ فِرۡقٍ  کَالطَّوۡدِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ﴾  وَ  اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ   الۡاٰخَرِیۡنَ﴿ۚ﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ  مَّعَہٗۤ   اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ﴾  ثُمَّ   اَغۡرَقۡنَا  الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ﴾  اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ  اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنَّ  رَبَّکَ لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ  ﴿﴾
Dan Kami mewahyukan kepada Musa: Bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar.” فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ  حٰشِرِیۡنَ  --  Maka Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota untuk mengumpulkan,  اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ   لَشِرۡ  ذِمَۃٌ  قَلِیۡلُوۡنَ --   “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan kecil,   وَ  اِنَّہُمۡ  لَنَا  لَغَآئِظُوۡنَ --  tetapi sesungguhnya mereka  benar-benar telah menimbulkan kemarahan pada kita. وَ  اِنَّا  لَجَمِیۡعٌ  حٰذِرُوۡنَ   --   sedangkan sesungguhnya kita benar-benar  golongan besar yang selalu  bersiaga!”      Kemudian Kami mengeluarkan mereka dari kebun-kebun dan mata air-mata air,    dan dari khazanah-khazanah dan tempat tinggal yang terhormat,  کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --  demikianlah, dan Kami mewariskannya  kepada Bani Israil.   فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ --    Maka lasykar-lasykar Fir’aun menyusul mereka pada waktu matahari terbit.    فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ  --  Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain,   pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ  --  Musa berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) besertaku, segera Dia akan menunjukkan  jalan  keselamatan. فَاَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ  الۡبَحۡ -- maka Kami mewahyukan kepada Musa: “Pukullah laut dengan tongkat engkau,” lalu setiap bagiannya nampak seperti gunung yang besar.  وَ  اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ   الۡاٰخَرِیۡنَ -- dan Kami mendekatkan di sana golongan yang lain, وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ  مَّعَہٗۤ   اَجۡمَعِیۡنَ  --  dan Kami menyelamatkan Musa dan orang-orang beserta dia semuanya,   ثُمَّ   اَغۡرَقۡنَا  الۡاٰخَرِیۡنَ  -- lalu Kami tenggelamkan  golongan yang lain.  اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ  اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ  --  sesungguhnya dalam hal itu ada Tanda yang besar,   tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau beriman. وَ  اِنَّ  رَبَّکَ لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ     --   dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Asy-Syu’ara [26]:53-68).
         Provokasi Fir’aun kepada kaumnya mengenai Nabi Musa a.s. dan Bani Israil:  اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ   لَشِرۡ  ذِمَۃٌ  قَلِیۡلُوۡنَ --   “sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan kecil,   وَ  اِنَّہُمۡ  لَنَا  لَغَآئِظُوۡنَ --  tetapi sesungguhnya mereka  benar-benar telah menimbulkan kemarahan pada kita,    وَ  اِنَّا  لَجَمِیۡعٌ  حٰذِرُوۡنَ   --   dan  sesungguhnya kita  benar-benar  golongan besar yang selalu  bersiaga!”  Ucapan  Fir’aun tersebut merupakan bukti kemarahan besar   yang semakin memuncak  terhadap   Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.  serta Bani Israil di Mesir,  karena itu Fir’aun bertekad untuk menghabisi Nabi Musa a.s. dan Bani Israil ketika  mengetahui bahwa mereka telah pergi meninggalkan Mesir pada malam hari.    

Revolusi Akhlak dan Ruhani  Melalui Pengutusan Rasul Allah  & Politik “Devide et Impera” (Menindas dan Menjajah)

        Kemunculan seorang nabi Allah di tengah-tengah suatu kaum merupakan jaminan yang pasti mengenai masa depan mereka yang besar dan cemerlang, jika mereka mau menerima amanat beliau dan mengikutinya. Nabi Allah itu memberikan kepada mereka suatu kehidupan baru, dan menciptakan di dalam diri mereka suatu harapan dan keyakinan baru, yang mengubah seluruh pandangan hidup mereka.
       Terlebih lagi Fir’aun yang sebelumnya telah mendapat “peringatan  mengenai  akan berakhirnya kekuasaan  dinastinya yang selama itu mereka berbuat kerusakan di  wilayah Mesir  -- termasuk terhadap Bani Israil, yang selama 400 tahun sejak zaman Nabi Yusuf a.s.  mereka berada di Mesir (QS.12:22-103) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ طٰسٓمّٓ ﴿﴾  تِلۡکَ اٰیٰتُ  الۡکِتٰبِ  الۡمُبِیۡنِ ﴿ ﴾  نَتۡلُوۡا عَلَیۡکَ مِنۡ نَّبَاِ مُوۡسٰی وَ فِرۡعَوۡنَ بِالۡحَقِّ  لِقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً  مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً  وَّ  نَجۡعَلَہُمُ  الۡوٰرِثِیۡنَ ۙ﴿﴾  وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.     Maha Suci, Maha Mendengar, Maha Mulia.   Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas.   Kami membacakan kepada engkau berita mengenai  Musa dan Fir’aun dengan  benar untuk kaum yang beriman.    اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً  مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ  --     Sesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi  dan ia menjadikan  penduduknya  bergolongan-golongan, ia berusaha melemahkan se-golongan dari mereka  dengan  menyembelih anak-anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka.   اِنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ   -- sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.  وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً  وَّ  نَجۡعَلَہُمُ  الۡوٰرِثِیۡنَ  -- Dan Kami   hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi  dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris karunia-karunia Kami.  وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ  --  dan Kami  mapankan mereka di bumi  وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami  perlihatkan kepada Fir’aun serta Haman  dan  lasykar keduanya  apa yang mereka khawatirkan dari mereka itu. (Al-Qashash [28]:1-7).
    Politik divide et impera (memecah-belah dan menjajah) dengan akibatnya yang sangat mematikan   --  seperti dijalankan kekuatan-kekuatan kaum kolonial barat di abad kedua puluh ini  -- agaknya di zaman Fir’aun telah dijalankan juga olehnya dengan sukses besar. Ia telah memecah-belah rakyat Mesir ke dalam beberapa partai dan golongan serta dengan busuk hati telah membuat perbedaan kelas di antara mereka. Beberapa di antara mereka dianak-emaskannya dan yang lain diperas dan ditindasnya.
     Kaum Nabi Musa a.s.   termasuk kelas yang tidak beruntung. Kata-kata  menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, kecuali mengandung pengertian yang jelas, bahwa agar supaya orang-orang Bani Israil selamanya tunduk di bawah kekuasaannya, Fir’aun membinasakan kaum pria mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, dapat juga diartikan bahwa dengan politik menjajah dan menindas tanpa belas kasihan itu ia berikhtiar membunuh sifat-sifat kejantanan mereka dan dengan demikian membuat mereka (Bani Israil) jadi pengalah seperti perempuan. Itulah makna ayat  اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً  مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ  --  Sesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi  dan ia menjadikan  penduduknya  bergolongan-golongan, ia berusaha melemahkan segolongan dari mereka  dengan menyembelih anak-anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka.”

Konspirasi Zalim Dinasti Fir’aun Mempertahankan Kekuasaan di Mesir

      Makna ayat selanjutnya  وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً  وَّ  نَجۡعَلَہُمُ  الۡوٰرِثِیۡنَ  -- Dan Kami   hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi  dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris karunia-karunia Kami”, yakni ketika upaya merendahkan derajat orang-orang Bani Israil di Mesir itu mencapai titik yang serendah-rendahnya, dan kezaliman Fir’aun dan bangsanya kian meluap-luap, dan Allah Swt.  --  sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak mungkin keliru   --  memutuskan bahwa penindas-penindas itu harus dihukum dan mereka yang diperbudak dibebaskan, maka Dia mengutus Nabi Musa a.s..   Gejala yang terjadi di masa tiap-tiap utusan (rasul) Allah tersebut  menampakkan perwujudan sepenuhnya dan seindah-indahnya di masa kenabian Nabi Besar Muhammad saw..
     Haman itu gelar pendeta agung dewa Amon; “ham” di dalam bahasa Mesir berarti, pendeta agung. Dewa Amon menguasai semua dewa Mesir lainnya. Haman adalah kepala khazanah dan lumbung negeri, dan juga yang mengepalai lasykar-lasykar dan semua ahli pertukangan di Thebes.
      Namanya adalah Nubunnef, dan ia pendeta agung di bawah Rameses II dan putranya yang bernama Merenptah. Karena menjadi kepala organisasi kependetaan yang sangat kaya, merangkum semua pendeta di seluruh negeri, kekuasaannya dan wibawanya telah meningkat sedemikian rupa, sehingga ia menguasai suatu partai politik yang sangat berpengaruh, dan bahkan mempunyai suatu pasukan pribadi (“A story of Egypt” oleh James Henry Breasted, Ph.D).
       Makna ayat: وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami  perlihatkan kepada Fir’aun serta Haman2 dan  lasykar keduanya  apa yang mereka khawatirkan dari mereka itu.”   Perbudakan dan kezaliman menghasilkan nemesis-nya (pembalasan keadilannya) sendiri; dan kaum penjajah dan penindas tak pernah merasa aman terhadap kemungkinan munculnya pemberontakan terhadap mereka oleh orang-orang yang terjajah, tertindas atau tertekan. Lebih hebat penindasan dari seseorang yang zalim, lebih besar pula ketakutannya akan pemberontakan dari mereka yang dijajah. Fir’aun pun dicekam oleh rasa takut semacam itu.       
        Sunnatullah tersebut akan  kembali terjadi di Akhir Zaman ini melalui “golongan minoritas” Jemaat Muslim Ahmadiyah guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali (QS.61:10) serta terciptanya kembali  bumi baru” dan “langit baru” dalam rangka mewujudkan “kehidupan surgawi” di dunia ini melalui ajaran Islam (Al-Quran) yang “rahmatan lil ‘ālamīn  (QS.14:49-53; QS.39:69-76; QS.21:108).

Kelemahan Iman Bani Israil &  Fir’aun Menganggap Mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.a. Sebagai Sihir

       Sesudah Nabi Musa a.s.    datang, Fir’aun  dan para pembesar kaumnya pasti akan merasakan adanya perubahan besar di kalangan orang-orang Bani Israil dan hal itu pasti menggelisahkannya dan menganggapnya sebagai ancaman bagi kelestarian kekuasaannya di kerajaan Mesir, itulah makna ayat:  فَاَرۡسَلَ فِرۡعَوۡنُ فِی الۡمَدَآئِنِ  حٰشِرِیۡنَ -- maka Fir’aun mengirimkan penyeru-penyeru ke kota-kota untuk mengumpulkan,  اِنَّ  ہٰۤؤُلَآءِ   لَشِرۡ  ذِمَۃٌ  قَلِیۡلُوۡنَ --   “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan kecil,   وَ  اِنَّہُمۡ  لَنَا  لَغَآئِظُوۡنَ --  tetapi sesungguhnya mereka  benar-benar telah menimbulkan kemarahan pada kita. وَ  اِنَّا  لَجَمِیۡعٌ  حٰذِرُوۡنَ   --   sedangkan sesungguhnya kita  benar-benar  golongan besar yang selalu  bersiaga!” (Asy-Syu’ara [26]:53-68).
       Makna firman   Allah Swt.:  کَذٰلِکَ ؕ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --   demikianlah, dan Kami mewariskannya  kepada Bani Israil”   tidak berarti  bahwa beberapa mata air, kebun-kebun dan khazanah-khazanah kekayaan kepunyaan Fir’aun dan orang-orang Mesir telah diserahkan kepada orang-orang Bani Israil, melainkan maknanya adalah bahwa orang-orang Bani Israil telah meninggalkan Mesir  menuju Kanaan  -- “negeri yang dijanjikan  --  tempat “mengalir susu dan madu. Di sanalah mereka akan diberi barang-barang itu. Palestina (Kanaan)  sungguh menyamai Mesir dalam berkelimpahan kebun-kebun dan banyaknya mata air.
        Dari ayat  فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ  --  Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain,   pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ  --   Musa berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) besertaku, segera Dia akan menunjukkan  jalan  keselamatan,  dapat diketahui bahwa para sahabat (pengikut)  Nabi Musa a.s.  nampaknya mempunyai keimanan yang sangat lemah. Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23; QS.7:149; QS.20:87-92.           
        Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan, bahwa dari 9  buah Tanda yang diperlihatkan Nabi Musa a.s. di hadapan Fir’aun dan kaumnya merupakan  mukjizat dari Allah Swt.. Dari semua  mukjizat  tersebut yang paling besar adalah “terbelahnya laut” ketika Nabi Musa a.s. memukulkan tongkat beliau ke laut yang menghadang perjalanan  beliau dan Bani Israil ketika melarikan diri dari Mesir.
         Namun demikian Fir’aun  bersikeras menyebut berbagai  mukjizat Nabi Musa a.s.    tersebut sebagai perbuatan tukang  sihir, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اَخَذۡنَاۤ  اٰلَ فِرۡعَوۡنَ بِالسِّنِیۡنَ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَتۡہُمُ الۡحَسَنَۃُ  قَالُوۡا  لَنَا ہٰذِہٖ ۚ وَ  اِنۡ  تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ  یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ ؕ اَلَاۤ  اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ 
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah menghukum kaum Fir’aun dengan tahun-tahun paceklik  dan kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran. Lalu apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini  karena upaya kami.”  وَ  اِنۡ  تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ  یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ   -- tetapi   jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab  kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. اَلَاۤ  اِنَّمَا طٰٓئِرُہُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا یَعۡلَمُوۡنَ  -- ingatlah, sesungguhnya penyebab kesialan mereka  ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. وَ قَالُوۡا مَہۡمَا تَاۡتِنَا بِہٖ مِنۡ اٰیَۃٍ لِّتَسۡحَرَنَا بِہَا ۙ فَمَا نَحۡنُ لَکَ بِمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan mereka berkata: “Tanda apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami dengannya, tetapi   kami sekali-kali tidak akan beriman kepada engkau.” (Al-‘Arāf [7]:131-136).

Rasul Allah dan Para  Pengikutnya Dituduh Sebagai Penyebab Terjadinya “Kemalangan

        Sanah, mufrad dari kata sinīn maknanya peredaran bumi di sekitar matahari. Kata itu sama artinya dengan ām (dan juga dengan haul), tetapi kalau tiap sanah itu  ām maka tidak tiap-tiap  ām itu sanah. Dikatakan juga bahwa sanah itu lebih panjang dari aam yang dikenakan kepada kedua belas bulan penanggalan Arab secara kolektip, tetapi sanah itu dikenakan juga kepada dua belas peredaran bulan.
         Menurut Imam Raghib, sanah digunakan sebagai menyatakan tahun yang dilanda musim sukar, kekeringan air, atau gersang atau paceklik; dan  ām menyatakan satu tahun yang mendatangkan banyaknya sumber-sumber kehidupan dengan berlimpah-limpahnya sayur-mayur, tumbuh-tumbuhan, dan sebangsanya. Sanah berarti juga kekeringan. Ayat itu menyebut tentang kerugian jiwa dan harta-benda.
       Jadi, menurut Allah Swt. berbagai peristiwa buruk yang menimpa Fir’aun dan  kaumnya di Mesir merupakan hukuman Allah Swt.,  untuk memperingatkan mereka,  tetapi Fir’aun malah menisbahkan penyebab terjadinya berbagai keburukan  atau kesialan tersebut adalah Nabi Musa a.s. dan Bani Israil.:  وَ  اِنۡ  تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ  یَّطَّیَّرُوۡا بِمُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗ   -- tetapi   jika mereka ditimpa kesusahan, mereka menuduhkan penyebab  kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.”  Kata tha’ir  berarti: alamat, pertanda baik atau buruk, nasib malang atau kesialan (Lexicon Lane).
        Dari ayat selanjutnya  diketahui  bahwa hukuman Allah Swt. atau azab Ilahi yang menimpa Fir’aun dan kaumnya di Mesir bermacam-macam bentuknya, namun demikian tidak juga membuat mereka mengambil pelajaran dari   berbagai bentuk hukuman Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
 فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمُ الطُّوۡفَانَ وَ الۡجَرَادَ وَ الۡقُمَّلَ وَ الضَّفَادِعَ وَ الدَّمَ  اٰیٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍ ۟ فَاسۡتَکۡبَرُوۡا وَ کَانُوۡا  قَوۡمًا مُّجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ ۚ  لَئِنۡ کَشَفۡتَ عَنَّا الرِّجۡزَ لَنُؤۡمِنَنَّ  لَکَ  وَ لَنُرۡسِلَنَّ  مَعَکَ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ۚ  فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ  بٰلِغُوۡہُ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ ﴿﴾
Lalu Kami   mengirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai Tanda-tanda yang jelas, tetapi mereka berlaku sombong dan   mereka adalah kaum yang berdosa. وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ --  dan tatkala siksaan menimpa mereka, mereka berkata: “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Rabb (Tuhan) engkau sesuai dengan apa yang Dia  janjikan kepada engkau.  وَ لَمَّا وَقَعَ عَلَیۡہِمُ  الرِّجۡزُ  قَالُوۡا یٰمُوۡسَی ادۡعُ لَنَا رَبَّکَ بِمَا عَہِدَ عِنۡدَکَ  – jika engkau benar-benar  dapat menyingkirkan siksaan ini dari kami, pasti kami akan beriman kepada engkau dan pasti kami akan mengirim-kan Bani Israil pergi bersama engkau.فَلَمَّا کَشَفۡنَا عَنۡہُمُ الرِّجۡزَ اِلٰۤی اَجَلٍ ہُمۡ  بٰلِغُوۡہُ  اِذَا ہُمۡ  یَنۡکُثُوۡنَ – tetapi tatkala Kami telah menyingkirkan siksaan itu dari mereka hingga suatu jangka waktu yang mereka akan sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkari janji. (Al-‘Arāf [7]:134-136).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  24 Desember     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar